Written byJ61Monday, September 12, 2022 17:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pssi-dan-prabowo-tak-suka-anies/
PSSI dan Prabowo Tak Suka Anies?
Pertandingan uji coba Timnas Indonesia vs Curacao yang batal digelar di Jakarta 
International Stadium (JIS) merembet ke isu Pemilu 2024. Dalam dinamika isu 
yang mengemuka, Ketum PSSI Iwan Bule hingga Prabowo Subianto-Gerindra sekilas 
mendapat keuntungan politik, berbanding terbalik dengan Gubernur DKI Jakarta 
Anies Baswedan. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Lagi, langkah Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) menimbulkan 
polemik. Keputusan mengurungkan pertandingan Timnas Indonesia vs Curacao pada 
akhir September mendatang di Jakarta International Stadium (JIS) merembet 
hingga ke isu politik dan Pemilu 2024.

Nama Ketua Umum (Ketum) PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule menjadi sorotan. 
Itu dikarenakan, keputusan memindahkan lokasi pertandingan ke Jawa Barat 
(Jabar) dianggap memiliki kepentingan beraroma politis.

Sebelumnya, dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi X DPR RI pada 1 September 
lalu, Iwan Bule mengatakan bahwa laga tersebut akan dilangsungkan di Stadion 
Pakansari, Bogor dan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, bukan 
di JIS.

Laga pertama sendiri akan digelar pada 24 September 2022, di GBLA dan 
pertandingan kedua akan berlangsung tiga hari berselang di Pakansari.

Setelah publik dan pecinta sepak bola tanah air mempertanyakannya, PSSI 
beralasan infrastruktur JIS belum layak menggelar pertandingan berlabel FIFA.

Bukan mereda, isu justru membesar saat Jakpro sebagai stakeholder JIS menampik 
alasan PSSI. Mereka menilai bahwa sejak awal infrastruktur JIS telah sangat 
siap untuk menghelat laga berstandar internasional.

  
Bola liar semakin menggelinding liar kala komentar di lini masa menyebut 
pengalihan venue itu dinilai menghambat citra positif Gubernur DKI Jakarta 
Anies Baswedan secara tidak langsung.

Bagaikan dua kepentingan yang saling berbenturan, intrik politik pun muncul. 
Ending manis Anies yang akan angkat koper dari Balai Kota pada Oktober 
mendatang dianggap akan tertutup dengan batalnya gelaran laga di JIS.

Di sisi berbeda, pengalihan laga ke Pakansari dan GBLA juga dinilai menjadi 
semacam “alat politik” bagi Iwan Bule. Sebelumnya, dia santer disebut sudah 
siap untuk maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar pada 2024 mendatang.

Saat ditelaah lebih mendalam, terdapat satu pihak juga yang kiranya diuntungkan 
dari intrik bernuansa politis ini, yakni Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. 
Mengapa demikian?

PSSI Alat Gerindra?
Menanggapi polemik yang berkembang terkait keputusan PSSI terkait JIS, Anies 
melempar komentar yang kiranya agak satir sambil menyarankan media agar 
melakukan investigasi mengenai hal itu.

“Jawaban saya cuma senyum aja,” begitu kata Anies di Kawasan Kota Tua, Jakarta 
pada Sabtu, 10 September kemarin lusa.

Akan tetapi, jika melihat riwayat historisnya, konteks sepak bola dan PSSI 
sejak awal memang lekat dengan tendensi politis. Ini dianalisis, misalnya, oleh 
antropolog dan sejarawan asal Belanda, Freek Colombijn dalam The Politics of 
Indonesian Football.

Colombijn menyebut, asosiasi sepak bola, diperkenalkan di Indonesia seabad yang 
lalu dan telah menarik banyak pengikut baik peserta aktif maupun pasif, tak 
terkecuali aktor-aktor politik. Itu disebabkan oleh tajuk awal sepak bola 
sebagai representasi politik penguasa dan aspek sosio-kultural masyarakat.

 
Bermacam aktor dan entitas politik disebut silih berganti menduduki PSSI demi 
kepentingannya. Setidaknya, sejak era Orde Baru, penyelenggaraan liga atau 
piala nasional yang berpuncak pada semifinal dan final di Jakarta 
mengindikasikan hal itu.

Di era setelah Soeharto tumbang, konteks kepentingan politik lokal dikatakan 
juga mulai merambah sepak bola Indonesia. Konklusi Colomijn menyebutnya sebagai 
manipulation of the game for political agendas atau manipulasi permainan untuk 
agenda politik.

Analisis Colombijn yang dipublikasikan pada tahun 2000 itu kiranya cukup tepat. 
Dalam periode setelahnya, intrik politik kerap membayangi PSSI dan puncaknya 
terjadi kala dualisme dan sanksi FIFA menghantam PSSI pada 2015 silam.

Khusus dalam polemik JIS dan PSSI, terdapat sejumlah aktor politik yang kiranya 
mendapat keuntungan dan hal sebaliknya. Jika diuraikan benang merahnya, Iwan 
Bule dan Prabowo Subianto-Partai Gerindra menjadi pihak yang mendapat 
keuntungan.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Ambisi Iwan Bule untuk maju di Pilgub Jabar 2024 telah terendus sejak lama. 
Sosok yang juga mantan Kapolda Jabar itu pun pernah menjadi pelaksana tugas 
(Plt.) Gubernur Jabar pada 18 Juni hingga 5 September 2018 silam.

Saat ditanya awak media pada 25 Agustus lalu, Iwan Bule bahkan telah 
menyiratkan kesiapannya, meski masih berstatus Ketum PSSI. Ambisi ini dapat 
dibaca sebagai sebuah egoisme etis sebagaimana dijelaskan James Rachels dalam 
Egoism and Moral Skepticism.

Rachels menjelaskan apa yang disebut sebagai egoisme etis memiliki makna bahwa 
semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest).

Ketika egoisme etis muncul, etika seketika tidak berguna. Begitupun dengan 
altruisme yang tak menemui relevansinya. Meski ironis karena tendensi erat 
dengan penyalahgunaan wewenang, kecenderungan semacam itu acapkali lumrah dalam 
politik.

Bahkan, terkait polemik JIS, media Vietnam Soha.vn turut menyoroti hal serupa. 
Mereka memberi judul artikel yang dalam bahasa Indonesia berbunyi “Presiden 
Federasi Sepak Bola Indonesia dituduh menggunakan tim nasional untuk 
kepentingan pribadi”.

Disebutkan, perpindahan venue pertandingan Timnas vs Curacao ke Jawa Barat, 
kental dengan atmosfer kepentingan tertentu, yakni provinsi di mana Iwan Bule 
dinilai berambisi mencalonkan diri sebagai gubernur.

Selain itu, disebutkan pula presumsi tujuan digelarnya pertandingan tersebut di 
Pakansari dan GBLA adalah untuk memenangkan hati orang-orang di Jawa Barat.

Menariknya, kepentingan Iwan Bule sekilas beririsan atau memiliki benang merah 
dengan intensi Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.

Publik kiranya memahami bahwa dalam elektabilitas capres 2024 sementara, Anies 
Baswedan selalu membayangi Prabowo yang telah resmi siap kembali bertarung.

Oleh karena itu, sentimen negatif sekecil apapun yang menimpa Anies, agaknya 
akan sangat bermanfaat bagi Prabowo dan Partai Gerindra. Tidak terkecuali 
impresi ketidaksiapan JIS – yang notabene adalah salah satu proyek andalan 
Anies – untuk menggelar ajang internasional.

Selain itu, posisi Ketum PSSI dan Prabowo-Partai Gerindra kiranya juga memiliki 
romansa politik tersendiri. Itu agaknya terlihat saat eks Ketum PSSI Edy 
Rahmayadi disokong langsung oleh Prabowo untuk menjadi Gubernur di Pilgub 
Sumatera Utara (Sumut) 2018.
Lalu, bagaimana skenario relasi antara Prabowo, Gerindra dan Iwan Bule di 
kontestasi elektoral 2024 mendatang?

 
Iwan Bule-Gerindra Barter?
Manuver PSSI via Iwan Bule yang membuyarkan laga resmi FIFA perdana yang 
dijalani Timnas Indonesia di JIS, kiranya disambut gembira oleh para aktor 
politik yang menjadikan Anies sebagai ancaman di 2024.

Di antara semua aktor politik, Partai Gerindra kiranya mendapatkan benefit yang 
cukup relevan dari sekelumit intrik yang mengemuka. Dalam teori perilaku 
sosial, Partai Gerindra agaknya cukup ideal untuk menjadi pivot dalam dimensi 
exchange theory atau teori pertukaran.

Teori itu dikemukakan oleh sosiolog Amerika Serikat (AS) George C. Homas, yang 
menjelaskan bahwa manusia tidak mencari keuntungan maksimal, tetapi selalu 
ingin mendapat keuntungan dari interaksinya dengan aktor lain.

Dia mengatakan, interaksi sosial di masyarakat terjadi karena sebuah pertukaran 
sosial. Prinsip pertukaran ini serupa seperti manusia zaman purba ketika 
melakukan barter.  Hanya saja objek yang saling ditukar tidak selalu dalam 
bentuk barang yang bisa disentuh, dilihat dan dirasa, melainkan mencakup 
hal-hal yang tidak terlihat seperti jasa, rasa bahagia, kepuasaan batin, dan 
lainya.

Dalam dimensi politik, prinsip “barter” kiranya bukan hal yang asing. Frasa 
daya tawar aktor politik, logistik politik, hingga modal elektabilitas kerap 
menjadi komoditas tukar di antara para aktor, terlebih dalam ekosistem 
multipartai seperti Indonesia.

Di titik ini, Partai Gerindra agaknya cukup ideal untuk menginisiasi barter 
politik itu dengan Iwan Bule. Tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai Ketum PSSI 
dengan manuver JIS, tetapi juga dalam konteks Pilgub Jabar 2024.

Preseden Edy Rahmayadi dan Partai Gerindra di Pilgub Sumut 2018 bisa saja 
berulang. Hal itu dikarenakan Partai Gerindra tampak memiliki kepentingan lebih 
di Jawa Barat.

Ya, Partai Gerindra merupakan jawara di pemilihan legislatif (Pileg) Provinsi 
Jawa Barat 2019. Bukan tidak mungkin, partai besutan Prabowo berambisi kembali 
berkuasa di provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia itu.

Manuver Iwan Bule yang secara tidak langsung menahan impresi positif Anies 
lewat JIS, boleh jadi akan menjadi barter menarik dengan Partai Gerindra. 
Setidaknya ada dua tujuan politik bersama di antara keduanya, yaitu 
mempertahankan prestasi legislatif 2019 dan simbiosis merengkuh eksekutif di 
Pilgub Jabar 2024.

Akan tetapi, rangkaian penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. 
Satu yang diharapkan adalah, dinamika politik apapun yang terjadi menjelang 
2024 jangan sampai mengganggu aspek lain, khususnya sepak bola yang menjadi 
salah satu olahraga terfavorit di tanah air. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4398DC6163544E1692E1382E710419E9%40A10Live.

Reply via email to