http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-dunia-alami-revolusi-industri-ke-4/116935
*Mochtar Riady: Dunia Alami Revolusi Industri ke-4*
**
Kamis, 22 September 2016 | 12:20
Chairman Lippo Group Mochtar Riady [merdeka] Chairman Lippo Group
Mochtar Riady [merdeka]
Berita Terkait
* Mochtar Riady: Perusahaan Keluarga Maju bila Ikuti Perubahan Zaman
<http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-perusahaan-keluarga-maju-bila-ikuti-perubahan-zaman/116607>
* Mochtar Riady Ingin Malang Lebih Maju
<http://sp.beritasatu.com/home/mochtar-riady-ingin-malang-lebih-maju/115606>
* Mochtar Riady: E-Wallet Akan Gantikan Uang Kontan
<http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-e-wallet-akan-gantikan-uang-kontan/115586>
* Mochtar Riady: RI Masuki Era Ekonomi Digital
<http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-ri-masuki-era-ekonomi-digital/115236>
* 'Saya Dilahirkan di Batu, Malang, Tapi Nasib Saya Tidak Malang'
<http://sp.beritasatu.com/home/saya-dilahirkan-di-batu-malang-tapi-nasib-saya-tidak-malang/107243>
[JAKARTA] Berkembangnya era teknologi informasi (TI) harus disikapi
secara cepat dan tepat oleh Pemerintah maupun dunia usaha. Pertumbuhan
TI yang tak bisa ditahan ini, dikatakan Chairman Lippo Group Mochtar
Riady mampu menjadi stimulan bagi suatu negara untuk terus maju. Ambil
contoh Tiongkok yang kini telah menyalip negara adidaya Amerika Serikat,
oleh karena kemampuannya di bidang teknologi.
Dalam sambutannya di kantor BeritaSatu Media Holdings, Kamis (22/9),
Mochtar menyatakan, Pemerintah dan dunia usaha harus responsif terhadap
perubahan teknologi. Adapun, kemajuan suatu negara tergantung erat
dengan langkah-langkah yang diambil pemerintah. Begitupun dengan
perusahaan keluarga yang akan bisa terus maju generasi dari generasi
asalkan mau mengikuti perubahan zaman. Pasalnya, saat ini dunia ini
sedang mengalami industri revolusi yang ke-4, yakni nano technology,
digital technology, dan biotechnology.
Hal ini melukiskan bahwa sebuah negara ataupun perusahaan kalau tidak
mengikuti perubahan tersebut maka secara otomatis, alami akan hilang di
dalam kompetisi dunia ini. Apalagi, Indonesia saat ini sedang mengalami
persaingan bebas dan ketatnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Dengan demikian, artinya untuk membangun infrastruktur dari sebuah
negara dan perusahaan dibutuhkan sensitifitas terhadap perubahan zaman
khususnya teknologi dan keinginan pasar.
“Kalau Pemerintah dan dunia bisnis tidak alert pada perubahan teknologi,
politik dunia, dan ekonomi dunia maka dia akan tergeser. Kita sedang
menghadapi perubahan industri yang ke-4 yakni informasi teknologi atau
digital teknologi, nano teknologi, bioteknologi. Perubahan dari ketiga
ini sangat dahsyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, menurutnya, bisnis yang mengikuti zaman tidak akan masuk
kategori sunset industry. Namun, sunset factory tidak bisa terhindari
karena perkembangan teknologi. “Saya pernah ditanya oleh pimpinan
Sritex, ia bertanya bisnis apa yang harus dilakukan?. Oleh karena
bisnisnya tekstil, maka saya tanya apakah ada orang yang tidak pakai
baju. Saya berusia 88 tahun dan saya masih terus butuh pakaian yang
bagus. Maka, tekstil industri bukan sunset industry, tapi sunrise
tergantung pengusahanya bisa melihat kebutuhan masyarakat dan perubahan
dalam teknologi ini apa tidak,” jelasnya.
Mochtar yang dijuluki Manusia Ide karena ide-idenya yang revolusioner
inipun mengambil contoh di industri keuangan, dalam hal ini alat
pembayaran, yakni e-Payment. Dimulai dari sistem barter, penemuan alat
pembayaran tunai dan kini digital merupakan penemuan terhebat manusia.
Bahkan, ia memprediksi di masa depan, mesin ATM akan menjadi barang
rongsokan dan kantor cabang akan menjadi beban dari bank. “Perubahan
yang drastis ini menjelaskan kalau perusahaan tidak sadar akan perubahan
teknologi, maka (bisnis, Red) tidak mungkin bisa berkesinambungan,” katanya.
Selain itu, di masa depan, mobil juga diprediksinya tidak akan
membutuhkan bahan bakar minyak lagi, melainkan baterai seiring kemajuan
teknologi. Hal tersebut kini kilas balik bisa dilihat bahwa 150 tahun
yang lalu segala industri tidak bisa terlepas dari dinamo motor,
sekarang semuanya bergantung dengan chip.
Di bidang elektronik, sambung Mochtar juga sudah terjadi perubahan
besar. Di mana, empat perusahaan teknologi besar Jepang diambil alih
oleh Tiongkok lima bulan terakhir. “Pertanyaan saya kenapa perusahaan
yang canggih dan kuat hanya dalam 20 tahun ini dijual ke perusahaan
asing khususnya Tiongkok. Pada tahun 1991, cadangan devisa Tiongkok US$
200 juta, tidak ada jalanan yang baik, listrik tidak terang, kotanya
jorok. Tapi dalam waktu 25 tahun ini Tiongkok berubah, bahkan
infrastruktur modern kini ada di Tiongkok, sampai akhirnya perusahan
Tiongkok bisa take over perusahaan raksasa Jepang. Pertanyaan kedua,
bagaimana perusahan Tiongkok bisa menghidupkan perusahaan Jepang yang
sudah collapse. Saya ingat waktu saya kecil, ada 10 keluarga yang
terkaya di Malang, namun keturunan dari keluarga ini saya tidak tahu. Di
Jakarta ada 20 keluarga terkaya sekarang pun tidak ada, keluarga
demikian, perusahaan demikian. Ada pepatah Tiongkok, kaya tidak pernah
melewati tiga generasi. Itu benar menurut saya, karena perusahan atau
keluarga, tidak sensitif pada perubahan teknologi, politik, dan
ekonomi,” jelas Mochtar. [O-2]