Bung Awind, Kutipan bagian akhir dari Mochtar Riyadi : *Ada pepatah Tiongkok, kaya tidak pernah melewati tiga generasi. Itu benar menurut saya, karena perusahan atau keluarga, tidak sensitif pada perubahan teknologi, politik, dan ekonomi,” jelas Mochtar Riyadi.* Yang menarik adalah Mochtar Riyadi dulu belajar filsafat, karena itu bisa cepat dan sensitif melihat pentingnya dapat menyesuaikan diri dengan perubahan . Kehebatannya tidak hanya dalam menganalisa tetapi juga dalam cepat bertindak. Sebenarnya kalau teori Darwin Survival of the Fittest, Organismen yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan akan lenyap, diperluas tidak hanya di bidang biologi, tetapi juga lingkungan umum, negara, pemerintahan dll. akan banyak kegunaannya. Ada kesalahan terjemahan di beberapa buku bahasa Belanda, yang menterjemahkan jadi yang kuat, yang akan menang. Herannya Mochtar Riyadi sama sekali tidak menghubungkannya dengan teori Darwin. Apa karena di Indonesia, kalau bicara teori Darwin takut dituduh yang bukan2 ? Teman saya pernah mengajar privat di rumah pada anak2 keluarga Riyadi yang dari sekolah Tionghoa yang ditutup, mau ikut ujian Indonesia. Teman ini mengajar sungguh2, bisa memotivir, sehingga anak2 ini lulus. ibunya bukan main berterimakasihnya, tanya teman saya itu punya cita2 apa. Teman saya bilang, dia kepingin belajar lebih lanjut ke Jerman Barat, karena tidak bisa kuliah lagi di ITB. Dikeluarkan karena dia activist GERMINDO. Eh, diberi ticket one way ke Jerman. Teman ini dengan kerja di restaurant Indonesia, kemudian jadi pemelihara tikus laboratorium, diberi kerjaan Prof.nya, akhirnya bisa jadi Doctor Habil, berhak mengajar. Adik teman, diberi kerja di banknya Riyadi dari level rendah, naik2 sampai jadi manager. Belajar kerjanya ya di bank, tadinya tidak tahu apa2 seperti Mochtar Riyadi dulu. Pokoknya pertama jujur, kerja keras, berinisiatif yang biasanya dicari. Apa tidak ada yang tetap jaya 7 turunan ? Ada, tetapi keluarga ini sangat mementingkan pendidikan, dari Tiongkoknya, hingga di Indonesia. Ikut mendirikan sekolah Patekoan Tionghoa Hwee Koan ( Pa Hoa ) Jakarta di tahun 1901, dan cucu buyutnya mendirikan kembali dengan teman2nya Sekolah PaHoa integrated dari Taman Kanak2 hingga SMA di Serpong. Dulu sekolah Pa Hoa disita di jaman Suharto. Muridnya sekarang total 4000 orang. Salam, KH
2016-09-26 20:53 GMT+02:00 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar- > riady-dunia-alami-revolusi-industri-ke-4/116935 > > > *Mochtar Riady: Dunia Alami Revolusi Industri ke-4* > > > Kamis, 22 September 2016 | 12:20 > [image: Chairman Lippo Group Mochtar Riady [merdeka]] Chairman Lippo > Group Mochtar Riady [merdeka] > > Berita Terkait > > - Mochtar Riady: Perusahaan Keluarga Maju bila Ikuti Perubahan Zaman > > <http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-perusahaan-keluarga-maju-bila-ikuti-perubahan-zaman/116607> > - Mochtar Riady Ingin Malang Lebih Maju > > <http://sp.beritasatu.com/home/mochtar-riady-ingin-malang-lebih-maju/115606> > - Mochtar Riady: E-Wallet Akan Gantikan Uang Kontan > > <http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-e-wallet-akan-gantikan-uang-kontan/115586> > - Mochtar Riady: RI Masuki Era Ekonomi Digital > > <http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-ri-masuki-era-ekonomi-digital/115236> > - 'Saya Dilahirkan di Batu, Malang, Tapi Nasib Saya Tidak Malang' > > <http://sp.beritasatu.com/home/saya-dilahirkan-di-batu-malang-tapi-nasib-saya-tidak-malang/107243> > > [JAKARTA] Berkembangnya era teknologi informasi (TI) harus disikapi secara > cepat dan tepat oleh Pemerintah maupun dunia usaha. Pertumbuhan TI yang tak > bisa ditahan ini, dikatakan Chairman Lippo Group Mochtar Riady mampu > menjadi stimulan bagi suatu negara untuk terus maju. Ambil contoh Tiongkok > yang kini telah menyalip negara adidaya Amerika Serikat, oleh karena > kemampuannya di bidang teknologi. > > Dalam sambutannya di kantor BeritaSatu Media Holdings, Kamis (22/9), > Mochtar menyatakan, Pemerintah dan dunia usaha harus responsif terhadap > perubahan teknologi. Adapun, kemajuan suatu negara tergantung erat dengan > langkah-langkah yang diambil pemerintah. Begitupun dengan perusahaan > keluarga yang akan bisa terus maju generasi dari generasi asalkan mau > mengikuti perubahan zaman. Pasalnya, saat ini dunia ini sedang mengalami > industri revolusi yang ke-4, yakni nano technology, digital technology, dan > biotechnology. > > Hal ini melukiskan bahwa sebuah negara ataupun perusahaan kalau tidak > mengikuti perubahan tersebut maka secara otomatis, alami akan hilang di > dalam kompetisi dunia ini. Apalagi, Indonesia saat ini sedang mengalami > persaingan bebas dan ketatnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan > demikian, artinya untuk membangun infrastruktur dari sebuah negara dan > perusahaan dibutuhkan sensitifitas terhadap perubahan zaman khususnya > teknologi dan keinginan pasar. > > “Kalau Pemerintah dan dunia bisnis tidak alert pada perubahan teknologi, > politik dunia, dan ekonomi dunia maka dia akan tergeser. Kita sedang > menghadapi perubahan industri yang ke-4 yakni informasi teknologi atau > digital teknologi, nano teknologi, bioteknologi. Perubahan dari ketiga ini > sangat dahsyat,” tegasnya. > > Lebih lanjut, menurutnya, bisnis yang mengikuti zaman tidak akan masuk > kategori sunset industry. Namun, sunset factory tidak bisa terhindari > karena perkembangan teknologi. “Saya pernah ditanya oleh pimpinan Sritex, > ia bertanya bisnis apa yang harus dilakukan?. Oleh karena bisnisnya > tekstil, maka saya tanya apakah ada orang yang tidak pakai baju. Saya > berusia 88 tahun dan saya masih terus butuh pakaian yang bagus. Maka, > tekstil industri bukan sunset industry, tapi sunrise tergantung > pengusahanya bisa melihat kebutuhan masyarakat dan perubahan dalam > teknologi ini apa tidak,” jelasnya. > > Mochtar yang dijuluki Manusia Ide karena ide-idenya yang revolusioner > inipun mengambil contoh di industri keuangan, dalam hal ini alat > pembayaran, yakni e-Payment. Dimulai dari sistem barter, penemuan alat > pembayaran tunai dan kini digital merupakan penemuan terhebat manusia. > Bahkan, ia memprediksi di masa depan, mesin ATM akan menjadi barang > rongsokan dan kantor cabang akan menjadi beban dari bank. “Perubahan yang > drastis ini menjelaskan kalau perusahaan tidak sadar akan perubahan > teknologi, maka (bisnis, Red) tidak mungkin bisa berkesinambungan,” katanya. > > Selain itu, di masa depan, mobil juga diprediksinya tidak akan membutuhkan > bahan bakar minyak lagi, melainkan baterai seiring kemajuan teknologi. Hal > tersebut kini kilas balik bisa dilihat bahwa 150 tahun yang lalu segala > industri tidak bisa terlepas dari dinamo motor, sekarang semuanya > bergantung dengan chip. > > Di bidang elektronik, sambung Mochtar juga sudah terjadi perubahan besar. > Di mana, empat perusahaan teknologi besar Jepang diambil alih oleh Tiongkok > lima bulan terakhir. “Pertanyaan saya kenapa perusahaan yang canggih dan > kuat hanya dalam 20 tahun ini dijual ke perusahaan asing khususnya > Tiongkok. Pada tahun 1991, cadangan devisa Tiongkok US$ 200 juta, tidak ada > jalanan yang baik, listrik tidak terang, kotanya jorok. Tapi dalam waktu 25 > tahun ini Tiongkok berubah, bahkan infrastruktur modern kini ada di > Tiongkok, sampai akhirnya perusahan Tiongkok bisa take over perusahaan > raksasa Jepang. Pertanyaan kedua, bagaimana perusahan Tiongkok bisa > menghidupkan perusahaan Jepang yang sudah collapse. Saya ingat waktu saya > kecil, ada 10 keluarga yang terkaya di Malang, namun keturunan dari > keluarga ini saya tidak tahu. Di Jakarta ada 20 keluarga terkaya sekarang > pun tidak ada, keluarga demikian, perusahaan demikian. Ada pepatah > Tiongkok, kaya tidak pernah melewati tiga generasi. Itu benar menurut saya, > karena perusahan atau keluarga, tidak sensitif pada perubahan teknologi, > politik, dan ekonomi,” jelas Mochtar. [O-2] > > > > > > > > >
