http://nasional.kompas.com/read/2016/09/26/06585541/pertarungan.politikus.tua
Pertarungan Politikus Tua
Senin, 26 September 2016 | 06:58 WIB
* <javascript:void(0);>
* <javascript:void(0);>
* <javascript:void(0);>
*
<http://nasional.kompas.com/read/2016/09/26/06585541/pertarungan.politikus.tua#komentar>
*
<http://nasional.kompas.com/read/2016/09/26/06585541/pertarungan.politikus.tua#>
4525
Shares
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum PDI-P
Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
*Oleh: M SUBHAN SD*
Pilkada DKI Jakarta
<http://nasional.kompas.com/tag/Pilkada%20DKI%20Jakarta> barangkali
perhelatan politik lokal paling gaduh dan heboh. Pada detik-detik
terakhir pendaftaran bakal calon gubernur/wakil gubernur, Jumat (23/9),
akhirnya Jakarta memiliki tiga kandidat, yang tiga-tiganya diusung
partai politik.
Dua hari lalu deklarasi pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama
<http://nasional.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama>-Djarot
Saiful Hidayat
<http://nasional.kompas.com/tag/Djarot%20Saiful%20Hidayat> yang diusung
PDI-P <http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P>, Nasdem
<http://nasional.kompas.com/tag/Nasdem>, Hanura
<http://nasional.kompas.com/tag/Hanura>, Golkar
<http://nasional.kompas.com/tag/Golkar> bikin heboh.
Kemarin muncul dua bakal pasangan calon. Pasangan Agus Harimurti
<http://nasional.kompas.com/tag/Agus%20Harimurti> Yudhoyono-Sylviana
Murni <http://nasional.kompas.com/tag/Sylviana%20Murni> diusung Partai
Demokrat <http://nasional.kompas.com/tag/Demokrat>, PAN, PPP, dan PKB.
Pasangan lainnya adalah Anies Baswedan
<http://nasional.kompas.com/tag/Anies%20Baswedan>-Sandiaga Uno
<http://nasional.kompas.com/tag/Sandiaga%20Uno> yang diusung Partai
Gerindra <http://nasional.kompas.com/tag/Gerindra> dan PKS.
Selama ini, Pilkada DKI Jakarta
<http://nasional.kompas.com/tag/Pilkada%20DKI%20Jakarta> selalu
berputar-putar di sekitar gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama
<http://nasional.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama> alias Ahok.
Berbulan-bulan ia menjadi buah bibir. Sosoknya paling kontroversial.
Mulutnya dianggap tidak terkontrol, blak-blakan, dan suka marah-marah.
Kelakukannya dinilai kurang santun. Dan, kebijakannya sebagai gubernur
dipandang keras, misalnya suka gusur-menggusur.
Maka, ia banyak ditolak oleh berbagai kalangan. Sampai-sampai muncul isu
SARA.
Namun, selama ini modal politiknya sangat bagus karena memiliki
elektabilitas paling tinggi. Karena itu, banyak orang yang mendukungnya
sampai mampu mengumpulkan 1 juta KTP saat persiapan menapaki jalur
perseorangan.
Sampai-sampai orang parpol pun ikut marah dan menuding Ahok melakukan
deparpolisasi.
Setelah tarik-ulur dan bikin heboh, akhirnya Ahok berlabuh ke parpol
juga. Setelah cukup lama diusung Nasdem
<http://nasional.kompas.com/tag/Nasdem>, Hanura
<http://nasional.kompas.com/tag/Hanura>, Golkar
<http://nasional.kompas.com/tag/Golkar>, akhirnya PDI-P
<http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P> mengumumkan pasangan Ahok-Djarot
<http://nasional.kompas.com/tag/Ahok-Djarot> juga pada Selasa (20/9) lalu.
Hubungan Ahok dan PDI-P <http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P> memang
unik, seperti orang pacaran: panas-dingin, benci-rindu, putus-sambung.
Bukan main komunikasi politik antara Ahok dan politikus PDI-P
<http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P>. Pelaksana Tugas Ketua DPD PDI-P
<http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P> DKI Jakarta Bambang DH bahkan
terlihat bersemangat membangun Koalisi Kekeluargaan
<http://nasional.kompas.com/tag/Koalisi%20Kekeluargaan> dengan
partai-partai lain.
Memperlihatkan sinyal tak akan mengusung Ahok. Seolah-olah hubungan
benar-benar retak.
Namun, Ahok rupanya punya kartu truf, yaitu hubungannya dengan Megawati
Soekarnoputri <http://nasional.kompas.com/tag/Megawati%20Soekarnoputri>,
Ketua Umum PDI-P <http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P>. Belakangan
malah Bambang yang digeser.
PDI-P <http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P> memang memutuskan mengusung
Ahok, tetapi tidak sedikit politikus PDI-P
<http://nasional.kompas.com/tag/PDI-P> yang tampaknya memendam rasa tak
setuju.
Kini Ahok menghadapi lawan yang tangguh. Pasangan Anies Baswedan
<http://nasional.kompas.com/tag/Anies%20Baswedan>-Sandiaga Uno
<http://nasional.kompas.com/tag/Sandiaga%20Uno> mungkin utak-atik
pasangan paling akhir, meskipun nama Anies sudah terdengar beberapa
waktu lalu sesaat setelah dicopot dari kursi Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan saat Presiden Joko Widodo
<http://nasional.kompas.com/tag/Jokowi> melakukan perombakan kabinet,
pada akhir Juli 2016.
Tidak sedikit warga kecewa saat Anies dicopot. Memang, Anies dikenal
sebagai pemimpin muda yang santun, baik, dan bicaranya teratur.
Anies mungkin antitesis dari Ahok. Isu- isu yang berkembang, Anies
dianggap sosok yang paling bisa menjadi kuda hitam untuk menantang Ahok
karena sosok-sosok yang muncul dalam bursa pilkada sebelumnya dianggap
tak mampu menandingi Ahok.
Tak heran, Anies pun dijadikan sebagai calon gubernur, menggeser posisi
Sandiaga Uno <http://nasional.kompas.com/tag/Sandiaga%20Uno> yang cukup
lama digadang-gadang. Sandiaga pun harus legawa untuk ”turun posisi”
menjadi kandidat wakil gubernur.
Nama politikus PKS, Mardani Ali Sera, yang coba diembuskan sebagai
kandidat wagub, langsung menguap. Semua itu tentu tak lepas dari restu
Prabowo Subianto <http://nasional.kompas.com/tag/Prabowo%20Subianto>,
Ketua Umum Gerindra <http://nasional.kompas.com/tag/Gerindra>.
Di seberang lain, ada pasangan Agus Harimurti
<http://nasional.kompas.com/tag/Agus%20Harimurti> Yudhoyono dan Sylviana
Murni <http://nasional.kompas.com/tag/Sylviana%20Murni> yang diusung
Demokrat <http://nasional.kompas.com/tag/Demokrat>, PAN, PPP, PKB;
setelah beberapa hari rapat maraton di kediaman Ketua Umum Partai
Demokrat <http://nasional.kompas.com/tag/Demokrat> Susilo Bambang
Yudhoyono di Cikeas.
Ini cukup mengagetkan mengingat Agus selama ini tidak memiliki jejak
politik. Ia adalah perwira menengah TNI
<http://nasional.kompas.com/tag/TNI>, peraih Adhi Makayasa 2000,
berpangkat mayor dan Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning.
Pasangannya, Sylviana, adalah birokrat yang kini menjabat Deputi
Gubernur bidang Kebudayaan dan Pariwisata di Pemprov DKI Jakarta.
Kedua-duanya langsung berhenti dari posisinya saat ini.
Hanya pencalonan Agus dipandang dingin. Tidak sedikit yang meragukan
pasangan ini unggul di pilkada. Para netizen menyayangkan pencalonan Agus.
Dia dianggap perwira militer yang memiliki karier bersinar di TNI
<http://nasional.kompas.com/tag/TNI>. Sangat disayangkan kalau karier
Agus terpotong.
Para netizen malah menuduh SBY dinilai memaksakan mencalonkan Agus.
Namun, jika dihitung-hitung, karier di TNI
<http://nasional.kompas.com/tag/TNI> juga masih terlalu panjang.
Tentu saja SBY memiliki prediksi dan kalkulasi politik yang jitu
mengingat pengalamannya sebagai politikus senior sekaligus presiden dua
periode.
Akhirnya, Pilkada DKI yang digelar pada 15 Februari 2017 memang menjadi
pertarungan pasangan Ahok-Djarot
<http://nasional.kompas.com/tag/Ahok-Djarot>, Anies-Sandiaga, Agus-
Sylviana.
Mereka akan adu strategi, adu teknik, adu program, adu figur, adu dana.
Namun, Pilkada DKI yang heboh ini tidak lepas dari pertarungan para
politikus tua.
Ada tiga poros, yaitu Megawati (Teuku Umar), Prabowo (Kertanegara),
Susilo Bambang Yudhoyono (Cikeas).
Kontestasi politik di antara mereka memang menarik. Poros-poros itulah
yang tampaknya akan bertindak sebagai remote control.
Namun, siapa pun yang bertarung, pilkada bukan zero sum game, seperti
Pilpres 2014. Pilkada adalah alat, bukan tujuan. Pilkada adalah gerbang
pertama untuk mengabdi pada rakyat
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
* Pilkada DKI 2017
<http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3754/1/pilkada.dki.2017>
* Pilkada Serentak 2017
<http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/4006/1/pilkada.serentak.2017>
Editor : Sandro Gatra
Sumber : Harian Kompas <http://kiosk.kompas.com>,