Mungkin yang bung lihat di padang adalah persaingan bisnis antara tionghoa vs. 
minang. Ditempat lain di Indonesia tentunya berbeda. Di Bangka Belitung itu 
kedua etnis itu sama2 miskin makanya tidak ada rasialisme seperti di jawa. 
Tidak ada persaingan bisnis. Banyak tionghoa yang pekerjaannya adalah nelayan 
dan petani dari menangkap ikan dilaut, jualan kerupuk s/d menanam lada.

 

Begitu juga ditempat2 lain diluar jawa relative tidak ada rasialisme antara 
tionghoa vs non tionghoa misalnya ditanah Dayak, papua timur jaman dulu dll.

 

Diluar negeri seperti yg bung katakan bahwa etnis tionghoa saling bantu dalam 
capital itu konteksnya apa? Jaman dulu perbankan belum maju dan orang tionghoa 
itu biasanya kurang berpendidikan tinggi dan kurang mengerti artinya keuangan 
dan perbankan. Dijaman modern dimana seluruh bangsa dan negara didunia sudah 
melek keuangan dan perbankan tentunya lebih menekankan ke arti keuangan dan 
perbankan itu sendiri tetapi bukan ke etnisnya. Duit itu tidak mengenal etnis, 
agama, ras, hobi dll.

 

Di Indonesia kalau bung mengenal pasar pagi di kota dimana banyak etnis 
tionghoa yang berusaha. Kios2 kecil 2x3, 3x4 meter itu omzetnya luar biasa 
karena disitulah pusat jalur distribusi keseluruh Indonesia. Bisnisnya 
didasarkan ke kepercayaan bukan duit apalagi bank. Hanya berdasarkan 1 surat 
atau 1 telpon, transaksi yg besar bisa dilakukan tanpa birokrasi yg berarti. 
Sampai sekarangpun masih ada sisa2 kepercayaan ini dilaksanakan di Indonesia yg 
walaupun lambat laun akan pudar. Ini namanya: personal guarantee. System ini 
tidak masuk akal krn tidak sesuai dengan kaidah perbankan yg azasnya: 
prudential.

Lambat laun berubah dimana Surabaya juga menjadi pusat distribusi ke Indonesia 
timur  dan medan utk sumatera terutama utara. Padang tidak terlalu kuat dan 
Palembang begitu juga. Tetapi sekarang sudah menyeluruh setelah ada otonomi 
daerah ekonomi bergerak dengan sendirinya berdasarkan supply and demand law.

 

Ketika bung menyebut nama soeharto, disinilah variable penentunya dimana 
sebetulnya politik rasialisme itu dibentuk utk mengamankan suatu rejim. Ini yg 
dilakukan Orba yg mengikuti jejak penjajah yg dulu sejak kumpeni sdh menguasai 
perekonomian nusantara. Jadi rasialisme itu tidak ada. Yang ada hanyalah likes 
and dislikes antar suku bangsa diindonesia. Ini normal. Wong sekeluarga saja 
bisa berantem karena memang kita semua berbeda. 

 

Tetapi ketika kita berbicara ttg rasialisme, ini adalah politik. Apalagi ketika 
politik rasialisme itu dikumandangkan oleh suatu rejim, ini sudah tidak benar 
dan harus dilawan. Ini yang sebetulnya terjadi di Indonesia.

 

Rakyat Indonesia mesti tahu sejarah nya. Tanpa mengetahui ini akan susah 
melihat rasialisme dari kaca mata ini. kebanyakan hanya melihat dari segi kaya 
vs miskin, iri dan dengki, bisnis besar vs pekerja. Ini kelihatannya benar 
dipermukaannya tetapi ketika kita menyimak lebih lanjut, akan kelihatan politik 
rasialisme yang dijalankan oleh Orba dalam mempertahankan kekuasaannya.

 

Setelah trikora sukses, RI menjadi lebih dekat dengan blok timur (Soviet dan 
RRT). Untuk menjauhkan RI dengan RRT terjadi rasialisme
di jabar pada tahun 1962/63. Toko-toko tionghoa di bogor, bandung, sukabumi, 
dll diserbu dan dirusak. Warga tionghoa dianiaya.
Beberapa kelompok mahasiswa dibandung menjadi penggerak (mereka kemudian 
diadili) tapi dibalik kampanye ini ada kelompok AD yang ingin menjauhkan 
hubungan RI-RRT. Tapi akibat rasialisme awal 1960an ini sebagian warga tionghoa 
mengungsi, balik lagi ke RRT, dan terjadi modal terbang dalam skala besar. 
Dampaknya ke ekonomi terasa sekali. Setelah modal asing disita, dan kemudian 
dikelola oleh militer yang tidak paham ekonomi, lalu sebagian modal domestik 
terbang akibat rasialisme, inflasi melonjak.

 

Kalau lihat pengalaman bangsa-bangsa lain ya memang mesti ada perobahan cara 
berpikir dan sekaligus pergantian generasi. Restorasi Meiji mulainya 1866, dan 
setelah satu generasi Jepang berhasil mengejar ketinggalannya dalam industri. 
Generasi berikutnya sudah mengalahkan Rusia di darat maupun lautan (1904 dan 
1905). Bangsa Tionghoa mulai terlepas dari cengkaraman kekuasaan ekonomi, 
politik dan militer Barat itu tahun 1949 dengan diproklamirkannya RRT. Sejak 
itu mereka mulai mengejar ketinggalan dalam ilmu, pendidikan, industri, dsb. 
Sekarang bangsa Tionghoa sudah mulai bangun kembali.

YS: Kalau kita ingat kata-kata sejenis ini: (1) sekitar 300 tahun y.l. Belanda 
bilang orang Jawa malas malas; (2) sekarang orang Jawa banyak yg bilang orang 
Irian malas malas; (3) orang bule amerika banyak bilang orang Indian nggak 
punya motivasi, malas malas; (4) Orang Exxon bilang orang Aceh nggak tahu 
terima kasih, malas malas. Masalahnya bukan malas nya itu, tetapi kenapa sampai 
orang bisa dikatakan malas? Apa penyebabnya? 

 

Tuduhan2 seperti orang tionghoa di indonesia kikir, kaya, hanya ngerti bisnis 
dll itu nggak ada dasar pengetahuan sejarahnya tapi sangat berguna untuk 
menjustifikasi penjajahan. Bangsa tionghoa, india, iraq, dll juga pernah 
dituduh seperti itu. Padahal bangsa-bangsa itu adalah sumbernya peradaban. 
Julukan Iraq dalam sejarah itu kan “craddle of civilization.” Dalam periode 
sejarah lain, bangsa-bangsa itu peradabannya paling modern, militernya paling 
kuat, ekonominya paling besar, pengetahuannya paling maju, dst.

 

Kalau boleh sedikit melenceng dari tionghoa, sebetulnya sama juga terjadi dalam 
masalah agama diindonesia. Memang benar, "pada jaman revolusi sampai 
pertengahan 1960-an hubungan antar agama di Indonesia (termasuk Islam-Kristen) 
tidak merupakan masalah." Tapi bibit-bibit sentimen sudah ditanam lama dalam 
politik agama kolonial. Ini bagian dari rancang global. Bahwa umat 
kristen/katolik mendapat perlakuan khusus, dalam sektor pendidikan misalnya, 
itu bibit-bibit yang kemudian muncul sebagai kecurigaan. 

 

Politik agama kolonial juga yang mempengaruhi politik rekruitment militer jaman 
kolonial. Dalam KNIL suku ambon dan menado itu jauh lebih banyak dibandingkan 
prosentasenya. Ini dikutip oleh pak kahin dalam disertasinya. Sekali lagi, 
"Pakai minoritas." Mereka akan setia karena secara politik mereka lemah. Ini 
bagian dari rancang global yang harus diungkap. Rancangan ini dipakai perancis 
di vietnam, inggris di india, dsb. Di vietnam minoritas yang dipakai adalah 
tionghoa dan katolik).

 

Pemerintah kolonial maupun Orba menjadikan tionghoa sebagai sapi perah 
sekaligus kambing hitam. Untuk itu mereka memisahkan masyarakat Tionghoa dari 
mainstream masyarakat Indonesia. Yang harus “menghindari terjadinya lagi hal 
semacam begini” itu para aktifis Tionghoa sendiri. Jangan mengandalkan 
pemerintah. Semakin banyak yang aktif, dan semakin menyebar – ada di PAN, PKB, 
PKB, PDIP, PRD, ada di serikat buruh, aktifis di gereja, gerakan perempuan, 
pers, gerakan budaya, perfilman, pesantren, kelompok profesi, dst – semakin 
baik. Tapi sebaiknya jangan bikin organisasi sejenis BAPERKI lagi. Karena kalau 
mereka berorganisasi secara  eksklusif, memencilkan diri, akan lebih mudah 
diarah.

 

Masyarakat Tionghoa di Asia tenggara juga terpecah. Sebagian masuk gerakan 
kiri, sebagian masuk ke kanan, ada yang cuma ngurusin bisnis, ada yang sibuk di 
gereja saja, dsb. Perasaan “curiga terhadap tionghoa” itu sebagian rekayasa 
sejak jaman kolonial sampai Orba. Politik kolonial belanda – membagi warga jadi 
3 kelompok: Barat, Timur Asing dan pribumi – itu ampuh sekali dan dampaknya 
terasa sampai sekarang. 

 

Hal yang mirip juga terjadi di vietnam. Politik kolonial perancis terhadap 
tionghoa itu mirip dengan Belanda. Di Vietnam, kelompok etnis tionghoa itu yang 
paling setia terhadap penjajahnya, Perancis, dan kemudian terhadap AS. Ketika 
terjadi pengungsian besar-besaran dari Vietnam, "boat people" itu, yang lari 
sebenarnya warga Tionghoa dari Vietnam. Di Thailand hampir tidak ada “masalah 
tionghoa.” Tidak pernah ada ratusan tahun politik kolonial yang memisahkan 
warga tionghoa dari pribumi. Begitu juga di Pilipina. Corry itu turunan 
tionghoa, Kardinal Sim juga. Tetapi nggak ada yang peduli. Pilipina juga nggak 
punya “masalah tionghoa.”

 

Kebangkitan RRT sekarang ini dasarnya sudah meluas dan mendalam sekali. Yang 
kelihatan di luar itu adalah menyelesaikan soal Korut, merangkul australia, new 
zealand, memperbaiki hubungan dengan india, mendekat dengan ASEAN, mendekat 
dengan iran, kirim pesawat ke ruang angkasa, dsb. Ini semua cuma yang kasat 
mata. Kemajuan di dalamnya (modernisasi ilmu, industri, pertanian, pertahanan, 
hukum, dsb) itu sudah meluas sekali.

 

Tapi tantangan yang mereka hadapi juga jelas sekali. Antara lain bagaimana 
menanggulangi melebarnya jurang kaya-miskin, elitisme (munculnya elite yang 
terpisah dari rakyat), dan korupsi. Semua itu pasti akan dialami kalau mereka 
terlalu mengandalkan jalan kapitalis. Jadi masalah kaya miskin ini bukan milik 
tionghoa diindonesia saja, di RRT sana juga terjadi. Kenapa? Karena itu adalah 
masalah social dan bisa terjadi dimana saja.

 

Kelompok etnis tionghoa itu sudah begitu lama didiskriminasi, jaman senang 
dijadikan sapi perah, jaman susah dijadikan kambing hitam, dsb. Tokoh yang 
muncul selama Orba ya sejenisnya Harry Tjan, Bob Hasan, Liem, Prayogo, Tommy 
Winata, dkk itu. 

 

Dalam konteks ini saya lihat pentingnya kita menelusuri kembali jejak langkah 
Pak Siauw, Pak Yap, Pak Oey, Pak Kwee (penulis Cambuk Berduri), dkk. Mereka ini 
lain sama sekali. Yang mereka perjuangkan seumur hidupnya, itu lain sama 
sekali. Pengorbanan yang sudah mereka berikan untuk cita-cita itu juga luar 
biasa. Mereka yang seharusnya jadi acuan para aktifis muda tionghoa, dan 
aktifis muda etnis apapun juga, sekarang ini. inilah PR yang besar buat bangsa 
Indonesia.

 

Salam

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, September 30, 2016 11:03 AM
To: [email protected]; Chan CT <[email protected]>; [email protected]
Subject: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

 

  

Hello Bung Chan CT, saya mempunyai Sahabat yang banyak dari Ethnis Tionghoa, 
yang pada umunya, atau sebagian besar, aktif dalam urusan business atau urusan 
Perekonomian: seperti urusan transport ( Guan Chun transport Padang - Sungai 
Penuh di akhir Tahun 1950an), urusan Apothek, urusan Kebudayaan seperti 
perFilm-an, Sport -Badminton, Baskettball, etc. dan saya tidak pernah merasa 
adanya kebencian timbalbalik, melainkan persahabatan Kemanusiaan yang normal. 
"Kebencian yang Bung konstatasi, itu berjalan diatas hubungan Perekonomian, 
diantaranya perebutan Pasaran barang dagangan. Kebanyakan, diantara pemBusiness 
Etnis Tionghoa adanya salingbantu dalam Kapital, dan mereka mampu 
merebut/menguasai Pasaran. Ini terjadi diseluruh Dunia, dimana saya, dan apapun 
nama Bangsanya,Kapital menentukan hubungan dalam urusan Perkonomian ( c+v+m), 
m-tersebut kebanyakan dari yang tidak mempunyai Kapital atau Buruh yang menjual 
Tenagakerjanya.Justru itu, Kebencian terhadap Etnis Tionghoa tidak beraalsan 
rasialisme. Keluarga Jendral ORBA Suharto dan SBY menguasai banyak 
Cabang-Cabang Perekonomian di Indonesia, malah sampai ke Perbanken,juga dibenci 
oleh Etnis Jawa yang miskin.

Dari persahabatan saya dengan Etnis asal Tionghoa, terutama di BAPERKI, satu 
yang saya peroleh dengan baik: pada umumnya mereka rajin bekerja dan belajar!!!
--------------------------------------------

Saya lebih berminat membaca tulisan/buku yg membahas kedengkian (ketimbang 
kebencian) terhadap suku Tionghoa, kendatipun saya -- menurut anggapan 
masyarakat sekitar -- bukanlah individu berasal dari suku ini. Sejak saya masih 
kanak-kanak hingga hari ini, sudah terlalu banyak saya membaca, mendengar 
perihal "kejelekan" suku Tionghoa. Seakan segala macam mentalitas dan perbuatan 
jelek hanya ada di kalangan sk Tionghoa saja, tidak ada pada suku lain. Bagi 
saya suku Tionghoa, sebagaimana wujudnya yg kita lihat sekarang ini, adalah 
produk sejarah Indonesia. Dia terbentuk seiring dengan terbentuknya nasion 
Indonesia. Dan karena itu, sebagaimana halnya suku-suku yg lain, dia merupakan 
salah satu unsur nasion Indonesia. Penyangkalan terhadap hal ini adalah 
penyangkalan thd realitas sejarah; adalah pemalsuan sejarah.  

 

Menurut pandangan saya, sasaran konkret dari integrasi nasional adalah 
menciptakan suatu masyarakat di mana berbagai suku, pemeluk agama dan 
kepercayaan hidup berdampingan dalam suasana rukun dan damai, dengan hak dan 
kewajiban yg sama: Membangun Indonesia yg adil, kuat dan makmur.

 

Salam hangat,

JULIUS GUNAWAN   

 

 

 

On Friday, September 16, 2016 10:16 AM, "'Chan CT' [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45]" <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

 

 

From: Saafroedin Bahar <mailto:[email protected]>  

Sent: Friday, September 16, 2016 3:31 PM

To: Chan CT <mailto:[email protected]>  

Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

 

Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu thesis saya tersebut. Saya lulus Program 
S3 UGM th 1996. Berbagai pertanyaan Bung tersebut sudah saya teliti dan saya 
jawab dalam disertasi saya itu.  

Salam.

Kamis, 15 September 2016, Chan CT <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > menulis:

 

 

From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com 

Sent: Thursday, September 15, 2016 7:07 PM

To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); 

Subject: RE: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

 

  

Bagus dan sori memang saya menulis integritas tetapi bukan itu maksud saya.

Saya mau dan seharusnya menulsi: integrasi bukan integritas.

Dari kacamata umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah integrasi 
nasional itu melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya keliru? Disini 
kebingungan saya. Kalau ada waktu dan kesempatan saya mau baca thesis bung. 
Saya tidak tahu apakah itu disertasi S3 atau S2. Tetapi ketika saya menggunakan 
kata thesis, saya refer ke artinya saja: hipotesa. Saya tidak refer ke tesis S2 
atau disertasi S3. Bagi saya itu tidak penting. 

Yang saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya harus dilihat dari kacamata 
minang ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat bagaimana terjadinya RI itu 
sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam pembentukan RI. Bagi saya ini 2 hal 
yang berbeda. Malahan sangat berbeda. Kenapa? Karena penekanannya yg berbeda.  
Yang satu ke “begitu pentingnya” RI, yang lain melihat terbentuknya suatu 
republic karena adanya tujuan bersama dari bangsa2 yang sudah ada dinusantara 
itu termasuk bangsa minang.

Salam

Nesare

From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); 
[mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] 
Sent: Wednesday, September 14, 2016 7:36 PM
To: GELORA_In <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>; 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
Subject: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

  

From: Saafroedin Bahar 

Sent: Wednesday, September 14, 2016 11:45 PM

To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); 

Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

Bung Nesare, tak usah bingung, dan jangan  mencampuraduk " integrasi " dengan " 
integritas ". Integrasi Nasional adalah proses menyatukan tiga unsur negara, 
yaitu Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, menjadi satu kesatuan yg utuh. Etnik 
adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti proses integrasi etnik Minangkabau ke 
dalam NKRI, sebagai salah satu etnik dari demikian banyak etnik di Indonesia.  

Terima kasih atas perhatian Bung thd tesis saya. Jika Bung berminat, bisa 
membacanya di Perpustakaan Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Salam. 

On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT 
<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');> wrote:

From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com 

Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 PM

To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] 
<mailto:[email protected]> '); 

Subject: RE: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

  

Saafroedin: Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg 
Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya  ttg etnik Minangkabau di 
UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum 
ada. 

Nesare: saya jadi bingung baca kalimat ini. koq bisa ya tesisnya mempertanyakan 
integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di Indonesia ke republic muda yang 
namanya Indonesia. RI itu adalah wadah peleburan dari suku2 bangsa itu. Koq 
kenapa harus dipertanyakan integritas suku2 bangsa itu? 

Seharusnya yang dipertanyakan itu adalah kenapa RI yang muda itu menyepelehkan 
komitmen suku2 bangsa yang dulunya sudah selesai dalam membentuk yang namanya 
NKRI yang berazaskan Pancasila.

Seharusnya ini tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana isi tesis 
saafroedin di UGM ini? apa yang mau dibuktikan dengan tesisnya ini?

Nesare

From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] 
<mailto:[email protected]> '); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com 
<mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] 
Sent: Wednesday, September 14, 2016 5:11 AM
To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] 
<mailto:[email protected]> ') ;
Subject: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

  

Pak Saafroedin yb,

Sebenarnya saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah terjadi perdebatan 
sengit dalam masalah penyelesaian Tionghoa di Indonesia, pihak BAPERKI 
mengajukan konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang menekankan Tionghoa harus 
mengintegrasikan dirinya dalam masyarakat Indonesia, dengan tetap diperkenankan 
mempertahakan budaya-adat istiadat dan agama yang dianut. Cukup BERSATU, hidup 
bersama, bekerja dan berjuang bersama dengan RAKYAT disegala bidang saja. 
Sedang pihak LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan konsep 
“ASIMILASI” atau pembauran yang menekankan dan berusaha menghilangkan identitas 
ke-Tionghoa-an.  Diawali dengan gerakan Ganti-nama, menggantikan nama Tionghoa 
yang biasa 3 suku kata itu, dengan nama-nama yang bisa dikatakan Indonesia, 
lalu menganjurkan kawin-silang dengan suku-suku lain untuk menghilangkan ciri 
biologis Tionghoanya, bahkan, ... sementara tokoh LPKB itu lebih radikal lagi, 
juga ganti Agama, menjadi ISLAM!

Sekalipun diawal mula tokoh-tokoh LPKB itu menandaskan usaha asimilasi yang 
diserukan sepenuhnya dan sedikitpun TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN, tapi 
kemudian dalam praktek, setelah disodorkan pada jenderal Soeharto dan diambil 
oper oleh Pemerintah masa ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan Pemerintah, 
tidak bisa tidak mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani tidak ikut 
gerakan ganti nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak “SETIA pada RI”! 
Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan pelarangan peneggunaan aksara bhs. 
Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan merayakan Imlek dan beribadah secara terbuka, 
... Itulah TEKANAN atau derita yang menimpa mayoritas mutlak Tionghoa di 
Indonesia selama lebih 32 tahun dibawah kekuasaan Soeharto.

Dipihak lain, jenderal Soeharto justru menggunakan dan bersekongkol dengan 
segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya dirinya, ... dalam waktu singkat 
muncullah konglomerat-konglomerat Tionghoa yg mendapatkan fasilitas istimewa 
dari Cendana. Sikap Soeharto yang memberikan hak MONOPOLI dan MENGISTIMEWAKAN 
segelintir konglomerat Tionghoa ini dengan makin meluaskan cakar mereka bersama 
anak-anak Soeharto, justru membuat makin RUSAK membusuknya birokrasi 
pemerintah. Jadi, begitu dilanda krismon akhir tahun 97, meledaklah semua 
gelembung balon itu satu persatu, ... Keadaan menjadi lebih celaka, karena 
begitu BLBI dikucurkan justru digondol lari keluar dari Indonesia oleh 
kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang membuat KEBENCIAN rakyat pada 
Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia yang tidak bersalah dan 
berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA mendapatkan perlindungan dari aparat 
keamanan! Padahal nasib mayoritas mutlak TIonghoa di Indonesia tidak beda 
dengan rakyat banyak, adalah juga KORBAN dari persekongkolan yang terjadi 
antara penguasa dan pengusaha, khususnya konglomerat Tionghoa disekitar Suharto 
itu! Tapi, kenyataan mayoritas mutlak TIonghoa yang kena getahnya, sedang yang 
konglomerat TIonghoa, yang bersalah dan berdosa itu justru aman-aman menikmati 
harta kekayaan yang digondol sampai sekarang ini.

Nah, dari kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yang berulangkali terjadi di 
Nusantara ini, sayapun melihat ada satu penyakit dalam masyarakat, berlakukan 
“DOSA-TURUNAN”, masih saja dengan mudah mengkaitkan kesalahan dan dosa 
seseorang dengan suku, etnis atau Agama yang dianutnya. Masih belum bisa 
memperlakukan kesalahan/dosa seseorang SEPENUHNYA adalah tanggungjawab orang 
bersangkutan, yang tidak seharusnya menyeret orang lain yang tidak ada hubungan 
dengan kasusnya. 

Salam,

ChanCT

From: Saafroedin Bahar 

Sent: Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM

To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] 
<mailto:[email protected]> ') ; 

Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional 
ini. Saya mempertahanan tesis saya  ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. 
Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. 

Salam.  

On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' 
[email protected] <mailto:[email protected]> ');> wrote:

Pak Saafroedin yb,

Terimakasih atas respon yang diberikan. Sayapun bergembira dan sangat SETUJUUUU 
dengan istilah “INTEGRASI NASIONAL” sehubungan dengan masalah etnis Tionghoa 
yang masih terjadi di negeri ini. Satu pemikiran dan semangat kebersatuan 
BANGSA INDONESIA saat mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928 yl! Satu semangat Bhineka 
Tunggal Ika sebagai usaha mempertahankan kehidupan HARMONIS dalam bermasyarakat 
majemuk di Nusantara ini, ...

Jadi yang diangkat bukan berusaha “MENGHILANGKAN” segala perbedaan diantara 
suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan “PEMBAURAN/ASIMILASI” yang terjadi 
dimasa ORBA, bahkan dengan paksaan administrasi dikeluarkannya ketentuan UU 
yang berbau SARA itu, tapi berusaha keras dengan penuh kesadaran setiap warga 
bisa “MENERIMA dan MENGHORMATI” setiap umat manusia yang hidup didunia ini! 
Agar setiap kita bisa menerima dan menghormati setiap umat manusia yang hidup 
didunia dengan segala perbedaan yang ada, ya beda bangsa, beda suku, beda 
etnis, beda Agama, beda budaya bahkan beda pandangan ideologi/politik! TIDAK 
berusaha menuntut orang lain agar sama dengan dirinya sendiri, apalagi 
menggunakan kekerasan, ...!

Syukurlah kalau bung Salim dengan Institut Peradaban bisa membahas masalah 
kebencian terhadap etnis Tionghoa ini.

Salam,

ChanCT


 













 


 

From: Saafroedin
Bahar 
Sent: Friday, September 16, 2016 3:31 PM
To: Chan CT

Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa
 
Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu
thesis saya tersebut. 
Saya lulus Program S3 UGM th 1996. Berbagai pertanyaan Bung
tersebut sudah saya 
teliti dan saya jawab dalam disertasi saya itu.  
Salam.

Kamis, 15 September 2016, Chan 
CT <[email protected] <mailto:[email protected]> >

menulis:





 


 

From: mailto:GELORA45@yahoogroups.
com 
Sent: Thursday, September 15, 2016 7:07
PM
To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');


Subject: RE: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian
Terhadap Etnis 
Tionghoa
 
 





Bagus 
dan sori memang saya menulis integritas tetapi bukan itu
maksud 
saya.
Saya mau 
dan seharusnya menulsi: integrasi bukan 
integritas.
Dari 
kacamata umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah
integrasi nasional 
itu melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya
keliru? Disini 
kebingungan saya. Kalau ada waktu dan kesempatan saya mau
baca thesis bung. 
Saya tidak tahu apakah itu disertasi S3 atau S2. Tetapi
ketika saya 
menggunakan kata thesis, saya refer ke artinya saja:
hipotesa. Saya tidak 
refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi saya itu tidak
penting. 


Yang 
saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya harus dilihat
dari kacamata minang 
ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat bagaimana
terjadinya RI itu 
sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam pembentukan
RI. Bagi saya ini 2 
hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. Kenapa? Karena
penekanannya yg 
berbeda.  Yang satu ke “begitu pentingnya” RI, yang
lain melihat 
terbentuknya suatu republic karena adanya tujuan bersama
dari bangsa2 yang 
sudah ada dinusantara itu termasuk bangsa 
minang.

Salam
Nesare




From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');

[mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] 
Sent: Wednesday, 
September 14, 2016 7:36 PM
To:
GELORA_In <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>;

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
Subject: 
[GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa

  













From: Saafroedin Bahar


Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 11:45
PM

To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');



Subject: Re: 
Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa



Bung 
Nesare, tak usah bingung, dan jangan  mencampuraduk
" integrasi " dengan 
" integritas ". Integrasi Nasional adalah proses
menyatukan tiga unsur negara, 
yaitu Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, menjadi satu
kesatuan yg utuh. Etnik 
adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti proses integrasi
etnik Minangkabau ke 
dalam NKRI, sebagai salah satu etnik dari demikian banyak
etnik di 
Indonesia.  

Terima 
kasih atas perhatian Bung thd tesis saya. Jika Bung
berminat, bisa membacanya 
di Perpustakaan Pascasarjana UGM
Yogyakarta.

Salam. 


On Wednesday, 14
September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>

wrote:












From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com 


Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 6:01
PM

To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
[email protected] <mailto:[email protected]> '); 


Subject: RE: 
[GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa



  





Saafroedin: 
Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian
ttg Integrasi 
Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya  ttg etnik
Minangkabau di 
UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari
etnik Tionghoa ini belum 
ada. 

Nesare: 
saya jadi bingung baca kalimat ini. koq bisa ya tesisnya
mempertanyakan 
integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di Indonesia
ke republic muda 
yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah peleburan
dari suku2 bangsa itu. 
Koq kenapa harus dipertanyakan integritas suku2 bangsa
itu? 

Seharusnya 
yang dipertanyakan itu adalah kenapa RI yang muda itu
menyepelehkan komitmen 
suku2 bangsa yang dulunya sudah selesai dalam membentuk
yang namanya NKRI 
yang berazaskan Pancasila.
Seharusnya 
ini tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana isi
tesis saafroedin di 
UGM ini? apa yang mau dibuktikan dengan tesisnya
ini?
Nesare


From: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
[email protected] <mailto:[email protected]> '); 
[mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] 
Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 5:11 AM
To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected] <mailto:[email protected]> ') ;
Subject: 
[GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis
Tionghoa
  







Pak 
Saafroedin yb,

Sebenarnya 
saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah terjadi
perdebatan sengit 
dalam masalah penyelesaian Tionghoa di Indonesia, pihak
BAPERKI mengajukan 
konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang menekankan Tionghoa
harus mengintegrasikan 
dirinya dalam masyarakat Indonesia, dengan tetap
diperkenankan mempertahakan 
budaya-adat istiadat dan agama yang dianut. Cukup
BERSATU, hidup bersama, 
bekerja dan berjuang bersama dengan RAKYAT disegala
bidang saja. Sedang 
pihak LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan
konsep “ASIMILASI” 
atau pembauran yang menekankan dan berusaha
menghilangkan identitas 
ke-Tionghoa-an.  Diawali dengan gerakan Ganti-nama,
menggantikan nama 
Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu, dengan nama-nama
yang bisa dikatakan 
Indonesia, lalu menganjurkan kawin-silang dengan
suku-suku lain untuk 
menghilangkan ciri biologis Tionghoanya, bahkan, ...
sementara tokoh LPKB 
itu lebih radikal lagi, juga ganti Agama, menjadi
ISLAM!

Sekalipun 
diawal mula tokoh-tokoh LPKB itu menandaskan usaha
asimilasi yang diserukan 
sepenuhnya dan sedikitpun TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN,
tapi kemudian dalam 
praktek, setelah disodorkan pada jenderal Soeharto dan
diambil oper oleh 
Pemerintah masa ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan
Pemerintah, tidak 
bisa tidak mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani
tidak ikut gerakan 
ganti nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak
“SETIA pada RI”! 
Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan pelarangan
peneggunaan aksara 
bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan merayakan Imlek
dan beribadah secara 
terbuka, ... Itulah TEKANAN atau derita yang menimpa
mayoritas mutlak 
Tionghoa di Indonesia selama lebih 32 tahun dibawah
kekuasaan 
Soeharto.

Dipihak 
lain, jenderal Soeharto justru menggunakan dan
bersekongkol dengan 
segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya dirinya,
... dalam waktu 
singkat muncullah konglomerat-konglomerat Tionghoa yg
mendapatkan fasilitas 
istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto yang memberikan
hak MONOPOLI dan 
MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat Tionghoa ini
dengan makin meluaskan 
cakar mereka bersama anak-anak Soeharto, justru membuat
makin RUSAK 
membusuknya birokrasi pemerintah. Jadi, begitu dilanda
krismon akhir tahun 
97, meledaklah semua gelembung balon itu satu persatu,
... Keadaan menjadi 
lebih celaka, karena begitu BLBI dikucurkan justru
digondol lari keluar dari 
Indonesia oleh kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang
membuat KEBENCIAN 
rakyat pada Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di
Indonesia yang tidak 
bersalah dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA
mendapatkan 
perlindungan dari aparat keamanan! Padahal nasib
mayoritas mutlak TIonghoa 
di Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah
juga KORBAN dari 
persekongkolan yang terjadi antara penguasa dan
pengusaha, khususnya 
konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu! Tapi,
kenyataan mayoritas mutlak 
TIonghoa yang kena getahnya, sedang yang konglomerat
TIonghoa, yang bersalah 
dan berdosa itu justru aman-aman menikmati harta
kekayaan yang digondol 
sampai sekarang ini.

Nah, 
dari kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yang berulangkali
terjadi di 
Nusantara ini, sayapun melihat ada satu penyakit dalam
masyarakat, 
berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja dengan mudah
mengkaitkan kesalahan dan 
dosa seseorang dengan suku, etnis atau Agama yang
dianutnya. Masih belum 
bisa memperlakukan kesalahan/dosa seseorang SEPENUHNYA
adalah tanggungjawab 
orang bersangkutan, yang tidak seharusnya menyeret orang
lain yang tidak ada 
hubungan dengan kasusnya. 

Salam,

ChanCT




From: 
Saafroedin Bahar 

Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM

To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected] <mailto:[email protected]> ') ; 

Subject: Re: 
Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

Pak Chan, kebetulan

minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi
Nasional ini. Saya 
mempertahanan tesis saya  ttg etnik Minangkabau di UGM
th 1996. Rasanya 
kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum
ada. 


Salam.  


On Wednesday, 14
September 2016, Chan CT 
<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
[email protected] <mailto:[email protected]> ');> 
wrote:





Pak 
Saafroedin yb,

Terimakasih 
atas respon yang diberikan. Sayapun bergembira dan
sangat SETUJUUUU dengan 
istilah “INTEGRASI NASIONAL” sehubungan dengan
masalah etnis Tionghoa yang 
masih terjadi di negeri ini. Satu pemikiran dan
semangat kebersatuan 
BANGSA INDONESIA saat mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928
yl! Satu semangat 
Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha mempertahankan
kehidupan HARMONIS dalam 
bermasyarakat majemuk di Nusantara ini,
...

Jadi 
yang diangkat bukan berusaha “MENGHILANGKAN”
segala perbedaan diantara 
suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan
“PEMBAURAN/ASIMILASI” yang 
terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan paksaan
administrasi dikeluarkannya 
ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi berusaha keras
dengan penuh 
kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA dan
MENGHORMATI” setiap umat manusia 
yang hidup didunia ini! Agar setiap kita bisa menerima
dan menghormati 
setiap umat manusia yang hidup didunia dengan segala
perbedaan yang ada, 
ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda Agama,
beda budaya bahkan beda 
pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha menuntut
orang lain agar sama 
dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan kekerasan,
...!

Syukurlah 
kalau bung Salim dengan Institut Peradaban bisa
membahas masalah kebencian 
terhadap etnis Tionghoa ini.

Salam,

ChanCT




From: 
Saafroedin Bahar 

Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 6:01 AM

To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected] <mailto:[email protected]> ') ; 

Subject: 
Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis
Tionghoa

Pak Chan, sudah 
saya baca. Masalah ini memang salah satu masalah
integrasi nasional kita 
yg belum selesai dan perlu dicarikan alternatif
solusinya yang lebih baik. 
Saya mendukung rencana bung Salim dari Institut
Peradaban utk membahas 
masalah ini.  

On
Thursday, 8 September 2016, Chan CT 
<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
[email protected] <mailto:[email protected]> ');> 
wrote:




Sejarah Kebencian 
Terhadap Etnis Tionghoa
Reporter:

Arman 
Dhani
01
September, 
2016dibaca normal 4:30 menit
https://tirto.id/20160901-39/
sejarah-kebencian-terhadap- etnis-tionghoa-315429?utm_
content=buffer95c12&utm_ medium=social&utm_source=
facebook.com&utm_campaign= buffer 
Sejumlah anak etnis 
Tionghoa mengikuti lomba bola terong di halaman
Klenteng Kwan Kong, 
Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Adwit B
Pramono
share 
foto    
INTI

BERITA 


·         
Kebencian terhadap etnis 
Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah 
Soeharto.
·         
Kebencian terhadap kelompok 
Tionghoa bisa dilacak hingga empat ratus tahun yang 
lalu
·         
Kebencian rasialis yang 
akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula
dari politik 
pemisahan identitas
Kebencian 
rasialis dan penindasan terhadap kelompok minoritas
Tionghoa di 
Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan.
Kelompok Tionghoa 
kerapkali distigma pelit, kaya dengan cara culas,
dan menindas pribumi. 
Padahal masyarakat Tionghoa sudah turun temurun
hidup di Indonesia 
selama ratusan tahun.
tirto.id 
- Di 
sebuah halte TransJakarta Senayan JCC, Jumat malam,
26 Agustus 2016 
seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew Budikusuma,
mengaku dipukuli 
oleh sejumlah pria. Tidak hanya dipukuli, Andrew
diteriaki dan dihina 
dengan kata-kata merendahkan yang menunjukkan sebuah
gejala kebencian 
rasialis. Ia juga dituduh sebagai Ahok, panggilan
Gubernur DKI Jakarta 
Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan keturunan
Tionghoa. Akar kebencian 
rasialis terhadap kelompok minoritas Tionghoa di
Indonesia rupanya masih 
ada.

Sejarah
mengulang dirinya sendiri.  Pertama sebagai 
tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon. Sebelum
tragedi pemukulan ini, 
kelompok Tionghoa di Indonesia sudah mengalami
banyak diskriminasi. Mei 
2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI) melakukan protes 
terhadap Jokowi dan JK yang dituduh membela kelompok
Asing dan Aseng. 
Asing merujuk kepada negara/pemerintahan asing yang
melakukan intervensi 
ekonomi di Indonesia, sementara Aseng merujuk kepada
kelompok minoritas 
Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan besar
dalam bidang ekonomi di 
Indonesia.

Apa
sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial 
terhadap etnis Tionghoa di Indonesia? Penelitian Amy
Freedman dari 
Franklin and Marshall College, Amerika Serikat,
menyebutkan bahwa 
kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil
dari politik pecah 
belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul
Political Institutions 
and Ethnic Chinese Identity in Indonesia, Freedman
menyebut Soeharto 
memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan
asimilasi sembari 
mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi.

Sebagian kecil 
etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto
menikmati berbagai 
fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya.
Sekelompok kecil ini 
akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis
Tionghoa, sebagai 
kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan
dengan cara yang 
culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998 membuat
pembedaan ini menjadi 
semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di berbagai
kota di Indonesia 
menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran 
kebencian.

Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa
dilacak 
hingga empat ratus tahun yang lalu. Dalam Jakarta: Sejarah 400 
tahun karya Susan Blackburn dituliskan, masyarakat
Tionghoa sudah ada 
sebelum kedatangan Belanda. Relasi antara masyarakat
Tionghoa dan 
penduduk setempat saat itu setara sebagai rekan
pedagang. Ketika VOC 
masuk, kondisi berubah. Masyarakat Tionghoa
dimanfaatkan VOC sebagai 
rekan bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa
ketimbang kebanyakan 
masyarakat setempat.

Hubungan mesra antara masyarakat Tionghoa 
dan VOC tidak berlangsung lama. Pada Oktober 1740
seperti yang ditulis 
Blackburn, wilayah sekitar Batavia menjadi saksi
pemberontakan petani 
Cina. Sambil membawa senjata buatan sendiri para
kuli Cina berbaris 
menuju kota, tempat ratusan kawan sebangsanya
tinggal di dalam dinding 
kota. Meskipun orang Cina yang tinggal di kota
sedikit sekali atau sama 
sekali tak berhubungan dengan orang Cina di luar
dinding kota, beredar 
isu bahwa mereka berencana membantu para
pemberontak.

Kecurigaan 
dan paranoia orang Eropa serta pribumi membuat
kondisi memburuk. Mereka 
secara spontan menyerang balik para Tionghoa ini.
Tidak hanya membunuh 
mereka juga menjarah dan membakar sekitar
6.000-7.000 rumah orang 
Tionghoa. Adrian Volckanier Gubenur Jenderal saat
itu mengeluarkan surat 
perintah: bunuh dan bantai orang-orang Tionghoa.
Sebanyak 500 orang Cina 
yang dipenjara di Balai Kota satu per satu
dikeluarkan lalu dibunuh 
dengan keji. Selama seminggu, kota terbakar hebat
dan kanal-kanal 
menjadi merah karena darah dan korban mencapai
10.000 orang. Peristiwa 
pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal
dengan Geger 
Pecinan.

Tapi Geger
Pecinan bukan satu-satunya momen berdarah 
bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dalam buku
Tionghoa dalam Pusaran 
Politik karya Benny G Setiono
disebutkan, pembantaian etnis 
Tionghoa juga terjadi pada masa Perang Jawa
(1825-1830). September 1825, 
pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku
Buwono I, Raden Ayu 
Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di perbatasan
Jawa Tengah-Jawa 
Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo. Dalam
perjalanan itu banyak 
orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli anak-anak
atau perempuan. Mereka 
dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong dibiarkan di 
jalanan.

Kebencian
terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan 
konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik
Belanda maupun Jawa. 
Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga Tionghoa
di majalah 
Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah, beberapa
kali etnis Tionghoa 
menjadi sasaran amuk massa. Mulai Chinezenmoord 1740
sampai Mei 1998. 
Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu
membenci orang 
Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut
pajak.

Orang-orang 
Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan
bandar-bandar pemungut pajak di 
jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di
sungai-sungai dan 
pasar. Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa
memungut pajak, Belanda 
dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah
yang telah 
dikuasainya. Tragedi pembantaian Perang Jawa membuat
kebencian antara 
Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang Tionghoa
menjadi takut 
terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa menganggap
Tionghoa sebagai 
mata duitan dan pemeras.

Kebencian ini mendarah daging, menyebar 
luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau penjelasan.
Kebencian menahun 
ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Hendri F.
Isnaeni menulis 
bahwa pada awal abad ke-20, kembali tercatat
peristiwa rasial terhadap 
etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912
dan kerusuhan di Kudus 
pada 1918. Pada masa revolusi, kembali terjadi
gerakan anti etnis 
Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang pada
Mei-Juli 1946, Bagan 
Siapi-api pada September 1946, dan Palembang pada
Januari 
1947.

Tragedi
terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi 
pada saat 1965. Cina yang menjadi negara komunis
besar saat itu dianggap 
punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S).
Banyak masyarakat 
Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena
dianggap komunis atau 
mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak berhenti
sampai situ saja, 
orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras
harta masyarakat 
lokal. Di sini ide primordial pribumi melawan
pendatang menjadi 
legitimasi untuk melakukan kejahatan.


share 
foto


Dalam 
konteks yang lebih modern ada dua peristiwa
diskriminasi dan kekerasan 
yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tionghoa.
Pertama adalah 
pembantaian terhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di
Provinsi Kalimantan 
Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU.  Elsam
menyebut terjadi 
pembersihan etnis dalam peristiwa ini, sementara
dalam buku 
Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan
setidaknya ada 27.000 orang 
mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak
dan 43.425 orang di 
antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak.

Selanjutnya tentu 
saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis
Tionghoa menjadi korban 
kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala
Xenofobia ini 
merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan
kebencian berdasar 
prasangka kepada etnis Tionghoa. Saat peristiwa ini
terjadi banyak 
perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya
dibakar dan usaha 
milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai
sampai hari ini dan 
pelakunya tak pernah diusut.

Negara juga berperan menjadi aktor 
dalam penyulut kebencian terhadap etnis Tionghoa.
Melalui Surat Edaran 
Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967, negara
berperan melakukan 
identifikasi rasial dan segregasi identitas. Surat
itu adalah upaya 
penyeragaman penyebutkan kelompok etnis
“Tionghoa” yang dianggap 
mengandung nilai-nilai yang memberi
asosiasi-psykopolitis yang negatif 
bagi rakyat Indonesia, menjadi “Cina” yang
dianggap lebih “dikehendaki 
untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat
Indonesia.”

Indarwati 
Aminuddin, seorang penulis, pernah menyusun laporan
menarik tentang 
Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa pada 2002.
Laporan itu dengan 
bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh mana
pencantuman identitas 
rasial seseorang relevan dalam laporan/karya
jurnalistik. Profiling atau 
penyosokan menjadi relevan untuk menjelaskan konteks
identitas seseorang 
dalam pemberitaan. Maka Indarwati mengatakan bahwa
atribusi yang relevan 
membantu publik memahami persoalan dengan lengkap.
Namun, atribusi yang 
tak relevan justru menciptakan kesan bahwa kesalahan
seseorang terkait 
dengan identitasnya, entah itu suku, agama, ras atau

bahasa.

Indarwati
lantas memberikan sebuah contoh dari berbagai 
media di Indonesia yang melakukan profiling terhadap
etnis Tionghoa 
dalam framing berita. Frasa seperti “warga
keturunan”dan “pribumi” kerap 
disandingkan untuk menjelaskan posisi korban dan
pelaku. Dalam 
tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa media
sekelas Tempo pernah 
melakukan profiling dengan tendensi rasis.

Berita yang berjudul 
“Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 25
Februari-03 Maret 2002, Tempo 
menuliskan tentang Bank Central Asia yang memiliki
akronim BCA. BCA 
dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, asli
kelahiran Fujian. 
Atribusi ini dianggap bermasalah karena melalui
pemberitaannya itu Tempo 
menggiring pembacanya untuk berpikir “bahwa BCA
adalah bank yang 
menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati menuduh
bahwa Tempo melakukan 
framing karena istilah “Bank Cina Asli” itu
bukan sebuah istilah yang 
bisa didengar di mana-mana hingga Tempo membaptisnya
jadi plesetan 
umum.

Kebencian
rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan 
sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas.
Bahwa orang 
Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang,
mereka kerap menjadi 
kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah
sosial. Media dalam hal 
ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya
rekonsiliasi. 
Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis
Tionghoa adalah bagian 
dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang
ia 
sandang.
______________

Baca juga artikel Tirto.id
terkait 
berikut ini:
Kebencian 
yang Menular dan Mematikan 

(dan/nqm)
-- 
Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan
dan berhenti menerima email dari 
grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 







Dr.Saafroedin 
Bahar

Male, 80 yrs, 

Jakarta

--

Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.
-- 
Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 







Dr.Saafroedin 
Bahar

Male, 80 yrs, 

Jakarta

--

Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.
-- 
Anda menerima 
pesan ini karena berlangganan grup "diskusi
kita" di Google Grup.
Untuk 
berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari
grup ini, kirim email 
ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 







Dr.Saafroedin 
Bahar

Male, 80
yrs, 

Jakarta

-- 
Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi
kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.




-- 







Dr.Saafroedin Bahar
Male, 80 yrs,
Jakarta
 










#yiv3407634367 #yiv3407634367 --
#yiv3407634367ygrp-mkp {
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp hr {
border:1px solid #d8d8d8;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367hd {
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367ads {
margin-bottom:10px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad {
padding:0 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad p {
margin:0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad a {
color:#0000ff;text-decoration:none;}
#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc {
font-family:Arial;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc #yiv3407634367hd {
margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc .yiv3407634367ad {
margin-bottom:10px;padding:0 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity {
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity span {
font-weight:700;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity span:first-child {
text-transform:uppercase;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity span span {
color:#ff7900;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367activity span
.yiv3407634367underline {
text-decoration:underline;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367attach {
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367attach div a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367attach img {
border:none;padding-right:5px;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367attach label {
display:block;margin-bottom:5px;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367attach label a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 blockquote {
margin:0 0 0 4px;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367bold {
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367bold a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p a {
font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p span {
margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p
span.yiv3407634367yshortcuts {
margin-right:0;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table div div a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table {
width:400px;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a, #yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title a:active, #yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title a:hover, #yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title a:visited {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a,
#yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:active,
#yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:hover,
#yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:visited {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 div#yiv3407634367ygrp-mlmsg
#yiv3407634367ygrp-msg p a span.yiv3407634367yshortcuts {
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367green {
color:#628c2a;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}

#yiv3407634367 o {
font-size:0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367photos div {
float:left;width:72px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367photos div div {
border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367photos div label {
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367reco-category {
font-size:77%;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367reco-desc {
font-size:77%;}

#yiv3407634367 .yiv3407634367replbq {
margin:4px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-actbar div a:first-child {
margin-right:2px;padding-right:5px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
sans-serif;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg table {
font-size:inherit;font:100%;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg select,
#yiv3407634367 input, #yiv3407634367 textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg pre, #yiv3407634367
code {
font:115% monospace;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg * {
line-height:1.22em;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367logo {
padding-bottom:10px;}


#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg p a {
font-family:Verdana;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg
p#yiv3407634367attach-count span {
color:#1E66AE;font-weight:700;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco
#yiv3407634367reco-head {
color:#ff7900;font-weight:700;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco {
margin-bottom:20px;padding:0px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
li a {
font-size:130%;text-decoration:none;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
li {
font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
ul {
margin:0;padding:0 0 0 8px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text {
font-family:Georgia;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text p {
margin:0 0 1em 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text tt {
font-size:120%;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-vital ul li:last-child {
border-right:none !important;
}
#yiv3407634367 



Kirim email ke