Mungkin yang bung lihat di padang adalah persaingan bisnis antara tionghoa vs. minang. Ditempat lain di Indonesia tentunya berbeda. Di Bangka Belitung itu kedua etnis itu sama2 miskin makanya tidak ada rasialisme seperti di jawa. Tidak ada persaingan bisnis. Banyak tionghoa yang pekerjaannya adalah nelayan dan petani dari menangkap ikan dilaut, jualan kerupuk s/d menanam lada.
Begitu juga ditempat2 lain diluar jawa relative tidak ada rasialisme antara tionghoa vs non tionghoa misalnya ditanah Dayak, papua timur jaman dulu dll. Diluar negeri seperti yg bung katakan bahwa etnis tionghoa saling bantu dalam capital itu konteksnya apa? Jaman dulu perbankan belum maju dan orang tionghoa itu biasanya kurang berpendidikan tinggi dan kurang mengerti artinya keuangan dan perbankan. Dijaman modern dimana seluruh bangsa dan negara didunia sudah melek keuangan dan perbankan tentunya lebih menekankan ke arti keuangan dan perbankan itu sendiri tetapi bukan ke etnisnya. Duit itu tidak mengenal etnis, agama, ras, hobi dll. Di Indonesia kalau bung mengenal pasar pagi di kota dimana banyak etnis tionghoa yang berusaha. Kios2 kecil 2x3, 3x4 meter itu omzetnya luar biasa karena disitulah pusat jalur distribusi keseluruh Indonesia. Bisnisnya didasarkan ke kepercayaan bukan duit apalagi bank. Hanya berdasarkan 1 surat atau 1 telpon, transaksi yg besar bisa dilakukan tanpa birokrasi yg berarti. Sampai sekarangpun masih ada sisa2 kepercayaan ini dilaksanakan di Indonesia yg walaupun lambat laun akan pudar. Ini namanya: personal guarantee. System ini tidak masuk akal krn tidak sesuai dengan kaidah perbankan yg azasnya: prudential. Lambat laun berubah dimana Surabaya juga menjadi pusat distribusi ke Indonesia timur dan medan utk sumatera terutama utara. Padang tidak terlalu kuat dan Palembang begitu juga. Tetapi sekarang sudah menyeluruh setelah ada otonomi daerah ekonomi bergerak dengan sendirinya berdasarkan supply and demand law. Ketika bung menyebut nama soeharto, disinilah variable penentunya dimana sebetulnya politik rasialisme itu dibentuk utk mengamankan suatu rejim. Ini yg dilakukan Orba yg mengikuti jejak penjajah yg dulu sejak kumpeni sdh menguasai perekonomian nusantara. Jadi rasialisme itu tidak ada. Yang ada hanyalah likes and dislikes antar suku bangsa diindonesia. Ini normal. Wong sekeluarga saja bisa berantem karena memang kita semua berbeda. Tetapi ketika kita berbicara ttg rasialisme, ini adalah politik. Apalagi ketika politik rasialisme itu dikumandangkan oleh suatu rejim, ini sudah tidak benar dan harus dilawan. Ini yang sebetulnya terjadi di Indonesia. Rakyat Indonesia mesti tahu sejarah nya. Tanpa mengetahui ini akan susah melihat rasialisme dari kaca mata ini. kebanyakan hanya melihat dari segi kaya vs miskin, iri dan dengki, bisnis besar vs pekerja. Ini kelihatannya benar dipermukaannya tetapi ketika kita menyimak lebih lanjut, akan kelihatan politik rasialisme yang dijalankan oleh Orba dalam mempertahankan kekuasaannya. Setelah trikora sukses, RI menjadi lebih dekat dengan blok timur (Soviet dan RRT). Untuk menjauhkan RI dengan RRT terjadi rasialisme di jabar pada tahun 1962/63. Toko-toko tionghoa di bogor, bandung, sukabumi, dll diserbu dan dirusak. Warga tionghoa dianiaya. Beberapa kelompok mahasiswa dibandung menjadi penggerak (mereka kemudian diadili) tapi dibalik kampanye ini ada kelompok AD yang ingin menjauhkan hubungan RI-RRT. Tapi akibat rasialisme awal 1960an ini sebagian warga tionghoa mengungsi, balik lagi ke RRT, dan terjadi modal terbang dalam skala besar. Dampaknya ke ekonomi terasa sekali. Setelah modal asing disita, dan kemudian dikelola oleh militer yang tidak paham ekonomi, lalu sebagian modal domestik terbang akibat rasialisme, inflasi melonjak. Kalau lihat pengalaman bangsa-bangsa lain ya memang mesti ada perobahan cara berpikir dan sekaligus pergantian generasi. Restorasi Meiji mulainya 1866, dan setelah satu generasi Jepang berhasil mengejar ketinggalannya dalam industri. Generasi berikutnya sudah mengalahkan Rusia di darat maupun lautan (1904 dan 1905). Bangsa Tionghoa mulai terlepas dari cengkaraman kekuasaan ekonomi, politik dan militer Barat itu tahun 1949 dengan diproklamirkannya RRT. Sejak itu mereka mulai mengejar ketinggalan dalam ilmu, pendidikan, industri, dsb. Sekarang bangsa Tionghoa sudah mulai bangun kembali. YS: Kalau kita ingat kata-kata sejenis ini: (1) sekitar 300 tahun y.l. Belanda bilang orang Jawa malas malas; (2) sekarang orang Jawa banyak yg bilang orang Irian malas malas; (3) orang bule amerika banyak bilang orang Indian nggak punya motivasi, malas malas; (4) Orang Exxon bilang orang Aceh nggak tahu terima kasih, malas malas. Masalahnya bukan malas nya itu, tetapi kenapa sampai orang bisa dikatakan malas? Apa penyebabnya? Tuduhan2 seperti orang tionghoa di indonesia kikir, kaya, hanya ngerti bisnis dll itu nggak ada dasar pengetahuan sejarahnya tapi sangat berguna untuk menjustifikasi penjajahan. Bangsa tionghoa, india, iraq, dll juga pernah dituduh seperti itu. Padahal bangsa-bangsa itu adalah sumbernya peradaban. Julukan Iraq dalam sejarah itu kan “craddle of civilization.” Dalam periode sejarah lain, bangsa-bangsa itu peradabannya paling modern, militernya paling kuat, ekonominya paling besar, pengetahuannya paling maju, dst. Kalau boleh sedikit melenceng dari tionghoa, sebetulnya sama juga terjadi dalam masalah agama diindonesia. Memang benar, "pada jaman revolusi sampai pertengahan 1960-an hubungan antar agama di Indonesia (termasuk Islam-Kristen) tidak merupakan masalah." Tapi bibit-bibit sentimen sudah ditanam lama dalam politik agama kolonial. Ini bagian dari rancang global. Bahwa umat kristen/katolik mendapat perlakuan khusus, dalam sektor pendidikan misalnya, itu bibit-bibit yang kemudian muncul sebagai kecurigaan. Politik agama kolonial juga yang mempengaruhi politik rekruitment militer jaman kolonial. Dalam KNIL suku ambon dan menado itu jauh lebih banyak dibandingkan prosentasenya. Ini dikutip oleh pak kahin dalam disertasinya. Sekali lagi, "Pakai minoritas." Mereka akan setia karena secara politik mereka lemah. Ini bagian dari rancang global yang harus diungkap. Rancangan ini dipakai perancis di vietnam, inggris di india, dsb. Di vietnam minoritas yang dipakai adalah tionghoa dan katolik). Pemerintah kolonial maupun Orba menjadikan tionghoa sebagai sapi perah sekaligus kambing hitam. Untuk itu mereka memisahkan masyarakat Tionghoa dari mainstream masyarakat Indonesia. Yang harus “menghindari terjadinya lagi hal semacam begini” itu para aktifis Tionghoa sendiri. Jangan mengandalkan pemerintah. Semakin banyak yang aktif, dan semakin menyebar – ada di PAN, PKB, PKB, PDIP, PRD, ada di serikat buruh, aktifis di gereja, gerakan perempuan, pers, gerakan budaya, perfilman, pesantren, kelompok profesi, dst – semakin baik. Tapi sebaiknya jangan bikin organisasi sejenis BAPERKI lagi. Karena kalau mereka berorganisasi secara eksklusif, memencilkan diri, akan lebih mudah diarah. Masyarakat Tionghoa di Asia tenggara juga terpecah. Sebagian masuk gerakan kiri, sebagian masuk ke kanan, ada yang cuma ngurusin bisnis, ada yang sibuk di gereja saja, dsb. Perasaan “curiga terhadap tionghoa” itu sebagian rekayasa sejak jaman kolonial sampai Orba. Politik kolonial belanda – membagi warga jadi 3 kelompok: Barat, Timur Asing dan pribumi – itu ampuh sekali dan dampaknya terasa sampai sekarang. Hal yang mirip juga terjadi di vietnam. Politik kolonial perancis terhadap tionghoa itu mirip dengan Belanda. Di Vietnam, kelompok etnis tionghoa itu yang paling setia terhadap penjajahnya, Perancis, dan kemudian terhadap AS. Ketika terjadi pengungsian besar-besaran dari Vietnam, "boat people" itu, yang lari sebenarnya warga Tionghoa dari Vietnam. Di Thailand hampir tidak ada “masalah tionghoa.” Tidak pernah ada ratusan tahun politik kolonial yang memisahkan warga tionghoa dari pribumi. Begitu juga di Pilipina. Corry itu turunan tionghoa, Kardinal Sim juga. Tetapi nggak ada yang peduli. Pilipina juga nggak punya “masalah tionghoa.” Kebangkitan RRT sekarang ini dasarnya sudah meluas dan mendalam sekali. Yang kelihatan di luar itu adalah menyelesaikan soal Korut, merangkul australia, new zealand, memperbaiki hubungan dengan india, mendekat dengan ASEAN, mendekat dengan iran, kirim pesawat ke ruang angkasa, dsb. Ini semua cuma yang kasat mata. Kemajuan di dalamnya (modernisasi ilmu, industri, pertanian, pertahanan, hukum, dsb) itu sudah meluas sekali. Tapi tantangan yang mereka hadapi juga jelas sekali. Antara lain bagaimana menanggulangi melebarnya jurang kaya-miskin, elitisme (munculnya elite yang terpisah dari rakyat), dan korupsi. Semua itu pasti akan dialami kalau mereka terlalu mengandalkan jalan kapitalis. Jadi masalah kaya miskin ini bukan milik tionghoa diindonesia saja, di RRT sana juga terjadi. Kenapa? Karena itu adalah masalah social dan bisa terjadi dimana saja. Kelompok etnis tionghoa itu sudah begitu lama didiskriminasi, jaman senang dijadikan sapi perah, jaman susah dijadikan kambing hitam, dsb. Tokoh yang muncul selama Orba ya sejenisnya Harry Tjan, Bob Hasan, Liem, Prayogo, Tommy Winata, dkk itu. Dalam konteks ini saya lihat pentingnya kita menelusuri kembali jejak langkah Pak Siauw, Pak Yap, Pak Oey, Pak Kwee (penulis Cambuk Berduri), dkk. Mereka ini lain sama sekali. Yang mereka perjuangkan seumur hidupnya, itu lain sama sekali. Pengorbanan yang sudah mereka berikan untuk cita-cita itu juga luar biasa. Mereka yang seharusnya jadi acuan para aktifis muda tionghoa, dan aktifis muda etnis apapun juga, sekarang ini. inilah PR yang besar buat bangsa Indonesia. Salam Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Friday, September 30, 2016 11:03 AM To: [email protected]; Chan CT <[email protected]>; [email protected] Subject: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Hello Bung Chan CT, saya mempunyai Sahabat yang banyak dari Ethnis Tionghoa, yang pada umunya, atau sebagian besar, aktif dalam urusan business atau urusan Perekonomian: seperti urusan transport ( Guan Chun transport Padang - Sungai Penuh di akhir Tahun 1950an), urusan Apothek, urusan Kebudayaan seperti perFilm-an, Sport -Badminton, Baskettball, etc. dan saya tidak pernah merasa adanya kebencian timbalbalik, melainkan persahabatan Kemanusiaan yang normal. "Kebencian yang Bung konstatasi, itu berjalan diatas hubungan Perekonomian, diantaranya perebutan Pasaran barang dagangan. Kebanyakan, diantara pemBusiness Etnis Tionghoa adanya salingbantu dalam Kapital, dan mereka mampu merebut/menguasai Pasaran. Ini terjadi diseluruh Dunia, dimana saya, dan apapun nama Bangsanya,Kapital menentukan hubungan dalam urusan Perkonomian ( c+v+m), m-tersebut kebanyakan dari yang tidak mempunyai Kapital atau Buruh yang menjual Tenagakerjanya.Justru itu, Kebencian terhadap Etnis Tionghoa tidak beraalsan rasialisme. Keluarga Jendral ORBA Suharto dan SBY menguasai banyak Cabang-Cabang Perekonomian di Indonesia, malah sampai ke Perbanken,juga dibenci oleh Etnis Jawa yang miskin. Dari persahabatan saya dengan Etnis asal Tionghoa, terutama di BAPERKI, satu yang saya peroleh dengan baik: pada umumnya mereka rajin bekerja dan belajar!!! -------------------------------------------- Saya lebih berminat membaca tulisan/buku yg membahas kedengkian (ketimbang kebencian) terhadap suku Tionghoa, kendatipun saya -- menurut anggapan masyarakat sekitar -- bukanlah individu berasal dari suku ini. Sejak saya masih kanak-kanak hingga hari ini, sudah terlalu banyak saya membaca, mendengar perihal "kejelekan" suku Tionghoa. Seakan segala macam mentalitas dan perbuatan jelek hanya ada di kalangan sk Tionghoa saja, tidak ada pada suku lain. Bagi saya suku Tionghoa, sebagaimana wujudnya yg kita lihat sekarang ini, adalah produk sejarah Indonesia. Dia terbentuk seiring dengan terbentuknya nasion Indonesia. Dan karena itu, sebagaimana halnya suku-suku yg lain, dia merupakan salah satu unsur nasion Indonesia. Penyangkalan terhadap hal ini adalah penyangkalan thd realitas sejarah; adalah pemalsuan sejarah. Menurut pandangan saya, sasaran konkret dari integrasi nasional adalah menciptakan suatu masyarakat di mana berbagai suku, pemeluk agama dan kepercayaan hidup berdampingan dalam suasana rukun dan damai, dengan hak dan kewajiban yg sama: Membangun Indonesia yg adil, kuat dan makmur. Salam hangat, JULIUS GUNAWAN On Friday, September 16, 2016 10:16 AM, "'Chan CT' [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: From: Saafroedin Bahar <mailto:[email protected]> Sent: Friday, September 16, 2016 3:31 PM To: Chan CT <mailto:[email protected]> Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu thesis saya tersebut. Saya lulus Program S3 UGM th 1996. Berbagai pertanyaan Bung tersebut sudah saya teliti dan saya jawab dalam disertasi saya itu. Salam. Kamis, 15 September 2016, Chan CT <[email protected] <mailto:[email protected]> > menulis: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Thursday, September 15, 2016 7:07 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: RE: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bagus dan sori memang saya menulis integritas tetapi bukan itu maksud saya. Saya mau dan seharusnya menulsi: integrasi bukan integritas. Dari kacamata umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah integrasi nasional itu melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya keliru? Disini kebingungan saya. Kalau ada waktu dan kesempatan saya mau baca thesis bung. Saya tidak tahu apakah itu disertasi S3 atau S2. Tetapi ketika saya menggunakan kata thesis, saya refer ke artinya saja: hipotesa. Saya tidak refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi saya itu tidak penting. Yang saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya harus dilihat dari kacamata minang ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat bagaimana terjadinya RI itu sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam pembentukan RI. Bagi saya ini 2 hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. Kenapa? Karena penekanannya yg berbeda. Yang satu ke “begitu pentingnya” RI, yang lain melihat terbentuknya suatu republic karena adanya tujuan bersama dari bangsa2 yang sudah ada dinusantara itu termasuk bangsa minang. Salam Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] Sent: Wednesday, September 14, 2016 7:36 PM To: GELORA_In <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>; javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 11:45 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bung Nesare, tak usah bingung, dan jangan mencampuraduk " integrasi " dengan " integritas ". Integrasi Nasional adalah proses menyatukan tiga unsur negara, yaitu Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, menjadi satu kesatuan yg utuh. Etnik adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti proses integrasi etnik Minangkabau ke dalam NKRI, sebagai salah satu etnik dari demikian banyak etnik di Indonesia. Terima kasih atas perhatian Bung thd tesis saya. Jika Bung berminat, bisa membacanya di Perpustakaan Pascasarjana UGM Yogyakarta. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');> wrote: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] <mailto:[email protected]> '); Subject: RE: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Saafroedin: Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Nesare: saya jadi bingung baca kalimat ini. koq bisa ya tesisnya mempertanyakan integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di Indonesia ke republic muda yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah peleburan dari suku2 bangsa itu. Koq kenapa harus dipertanyakan integritas suku2 bangsa itu? Seharusnya yang dipertanyakan itu adalah kenapa RI yang muda itu menyepelehkan komitmen suku2 bangsa yang dulunya sudah selesai dalam membentuk yang namanya NKRI yang berazaskan Pancasila. Seharusnya ini tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana isi tesis saafroedin di UGM ini? apa yang mau dibuktikan dengan tesisnya ini? Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] <mailto:[email protected]> '); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] Sent: Wednesday, September 14, 2016 5:11 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] <mailto:[email protected]> ') ; Subject: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Saafroedin yb, Sebenarnya saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah terjadi perdebatan sengit dalam masalah penyelesaian Tionghoa di Indonesia, pihak BAPERKI mengajukan konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang menekankan Tionghoa harus mengintegrasikan dirinya dalam masyarakat Indonesia, dengan tetap diperkenankan mempertahakan budaya-adat istiadat dan agama yang dianut. Cukup BERSATU, hidup bersama, bekerja dan berjuang bersama dengan RAKYAT disegala bidang saja. Sedang pihak LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan konsep “ASIMILASI” atau pembauran yang menekankan dan berusaha menghilangkan identitas ke-Tionghoa-an. Diawali dengan gerakan Ganti-nama, menggantikan nama Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu, dengan nama-nama yang bisa dikatakan Indonesia, lalu menganjurkan kawin-silang dengan suku-suku lain untuk menghilangkan ciri biologis Tionghoanya, bahkan, ... sementara tokoh LPKB itu lebih radikal lagi, juga ganti Agama, menjadi ISLAM! Sekalipun diawal mula tokoh-tokoh LPKB itu menandaskan usaha asimilasi yang diserukan sepenuhnya dan sedikitpun TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN, tapi kemudian dalam praktek, setelah disodorkan pada jenderal Soeharto dan diambil oper oleh Pemerintah masa ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan Pemerintah, tidak bisa tidak mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani tidak ikut gerakan ganti nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak “SETIA pada RI”! Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan pelarangan peneggunaan aksara bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan merayakan Imlek dan beribadah secara terbuka, ... Itulah TEKANAN atau derita yang menimpa mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia selama lebih 32 tahun dibawah kekuasaan Soeharto. Dipihak lain, jenderal Soeharto justru menggunakan dan bersekongkol dengan segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya dirinya, ... dalam waktu singkat muncullah konglomerat-konglomerat Tionghoa yg mendapatkan fasilitas istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto yang memberikan hak MONOPOLI dan MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat Tionghoa ini dengan makin meluaskan cakar mereka bersama anak-anak Soeharto, justru membuat makin RUSAK membusuknya birokrasi pemerintah. Jadi, begitu dilanda krismon akhir tahun 97, meledaklah semua gelembung balon itu satu persatu, ... Keadaan menjadi lebih celaka, karena begitu BLBI dikucurkan justru digondol lari keluar dari Indonesia oleh kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang membuat KEBENCIAN rakyat pada Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia yang tidak bersalah dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan! Padahal nasib mayoritas mutlak TIonghoa di Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah juga KORBAN dari persekongkolan yang terjadi antara penguasa dan pengusaha, khususnya konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu! Tapi, kenyataan mayoritas mutlak TIonghoa yang kena getahnya, sedang yang konglomerat TIonghoa, yang bersalah dan berdosa itu justru aman-aman menikmati harta kekayaan yang digondol sampai sekarang ini. Nah, dari kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yang berulangkali terjadi di Nusantara ini, sayapun melihat ada satu penyakit dalam masyarakat, berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja dengan mudah mengkaitkan kesalahan dan dosa seseorang dengan suku, etnis atau Agama yang dianutnya. Masih belum bisa memperlakukan kesalahan/dosa seseorang SEPENUHNYA adalah tanggungjawab orang bersangkutan, yang tidak seharusnya menyeret orang lain yang tidak ada hubungan dengan kasusnya. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] <mailto:[email protected]> ') ; Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' [email protected] <mailto:[email protected]> ');> wrote: Pak Saafroedin yb, Terimakasih atas respon yang diberikan. Sayapun bergembira dan sangat SETUJUUUU dengan istilah “INTEGRASI NASIONAL” sehubungan dengan masalah etnis Tionghoa yang masih terjadi di negeri ini. Satu pemikiran dan semangat kebersatuan BANGSA INDONESIA saat mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928 yl! Satu semangat Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha mempertahankan kehidupan HARMONIS dalam bermasyarakat majemuk di Nusantara ini, ... Jadi yang diangkat bukan berusaha “MENGHILANGKAN” segala perbedaan diantara suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan “PEMBAURAN/ASIMILASI” yang terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan paksaan administrasi dikeluarkannya ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi berusaha keras dengan penuh kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA dan MENGHORMATI” setiap umat manusia yang hidup didunia ini! Agar setiap kita bisa menerima dan menghormati setiap umat manusia yang hidup didunia dengan segala perbedaan yang ada, ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda Agama, beda budaya bahkan beda pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha menuntut orang lain agar sama dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan kekerasan, ...! Syukurlah kalau bung Salim dengan Institut Peradaban bisa membahas masalah kebencian terhadap etnis Tionghoa ini. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Friday, September 16, 2016 3:31 PM To: Chan CT Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu thesis saya tersebut. Saya lulus Program S3 UGM th 1996. Berbagai pertanyaan Bung tersebut sudah saya teliti dan saya jawab dalam disertasi saya itu. Salam. Kamis, 15 September 2016, Chan CT <[email protected] <mailto:[email protected]> > menulis: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Thursday, September 15, 2016 7:07 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: RE: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bagus dan sori memang saya menulis integritas tetapi bukan itu maksud saya. Saya mau dan seharusnya menulsi: integrasi bukan integritas. Dari kacamata umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah integrasi nasional itu melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya keliru? Disini kebingungan saya. Kalau ada waktu dan kesempatan saya mau baca thesis bung. Saya tidak tahu apakah itu disertasi S3 atau S2. Tetapi ketika saya menggunakan kata thesis, saya refer ke artinya saja: hipotesa. Saya tidak refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi saya itu tidak penting. Yang saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya harus dilihat dari kacamata minang ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat bagaimana terjadinya RI itu sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam pembentukan RI. Bagi saya ini 2 hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. Kenapa? Karena penekanannya yg berbeda. Yang satu ke “begitu pentingnya” RI, yang lain melihat terbentuknya suatu republic karena adanya tujuan bersama dari bangsa2 yang sudah ada dinusantara itu termasuk bangsa minang. Salam Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] Sent: Wednesday, September 14, 2016 7:36 PM To: GELORA_In <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>; javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 11:45 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bung Nesare, tak usah bingung, dan jangan mencampuraduk " integrasi " dengan " integritas ". Integrasi Nasional adalah proses menyatukan tiga unsur negara, yaitu Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, menjadi satu kesatuan yg utuh. Etnik adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti proses integrasi etnik Minangkabau ke dalam NKRI, sebagai salah satu etnik dari demikian banyak etnik di Indonesia. Terima kasih atas perhatian Bung thd tesis saya. Jika Bung berminat, bisa membacanya di Perpustakaan Pascasarjana UGM Yogyakarta. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');> wrote: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] <mailto:[email protected]> '); Subject: RE: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Saafroedin: Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Nesare: saya jadi bingung baca kalimat ini. koq bisa ya tesisnya mempertanyakan integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di Indonesia ke republic muda yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah peleburan dari suku2 bangsa itu. Koq kenapa harus dipertanyakan integritas suku2 bangsa itu? Seharusnya yang dipertanyakan itu adalah kenapa RI yang muda itu menyepelehkan komitmen suku2 bangsa yang dulunya sudah selesai dalam membentuk yang namanya NKRI yang berazaskan Pancasila. Seharusnya ini tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana isi tesis saafroedin di UGM ini? apa yang mau dibuktikan dengan tesisnya ini? Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected] <mailto:[email protected]> '); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com <mailto:GELORA45@yahoogroups.%20com> ] Sent: Wednesday, September 14, 2016 5:11 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] <mailto:[email protected]> ') ; Subject: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Saafroedin yb, Sebenarnya saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah terjadi perdebatan sengit dalam masalah penyelesaian Tionghoa di Indonesia, pihak BAPERKI mengajukan konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang menekankan Tionghoa harus mengintegrasikan dirinya dalam masyarakat Indonesia, dengan tetap diperkenankan mempertahakan budaya-adat istiadat dan agama yang dianut. Cukup BERSATU, hidup bersama, bekerja dan berjuang bersama dengan RAKYAT disegala bidang saja. Sedang pihak LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan konsep “ASIMILASI” atau pembauran yang menekankan dan berusaha menghilangkan identitas ke-Tionghoa-an. Diawali dengan gerakan Ganti-nama, menggantikan nama Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu, dengan nama-nama yang bisa dikatakan Indonesia, lalu menganjurkan kawin-silang dengan suku-suku lain untuk menghilangkan ciri biologis Tionghoanya, bahkan, ... sementara tokoh LPKB itu lebih radikal lagi, juga ganti Agama, menjadi ISLAM! Sekalipun diawal mula tokoh-tokoh LPKB itu menandaskan usaha asimilasi yang diserukan sepenuhnya dan sedikitpun TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN, tapi kemudian dalam praktek, setelah disodorkan pada jenderal Soeharto dan diambil oper oleh Pemerintah masa ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan Pemerintah, tidak bisa tidak mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani tidak ikut gerakan ganti nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak “SETIA pada RI”! Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan pelarangan peneggunaan aksara bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan merayakan Imlek dan beribadah secara terbuka, ... Itulah TEKANAN atau derita yang menimpa mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia selama lebih 32 tahun dibawah kekuasaan Soeharto. Dipihak lain, jenderal Soeharto justru menggunakan dan bersekongkol dengan segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya dirinya, ... dalam waktu singkat muncullah konglomerat-konglomerat Tionghoa yg mendapatkan fasilitas istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto yang memberikan hak MONOPOLI dan MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat Tionghoa ini dengan makin meluaskan cakar mereka bersama anak-anak Soeharto, justru membuat makin RUSAK membusuknya birokrasi pemerintah. Jadi, begitu dilanda krismon akhir tahun 97, meledaklah semua gelembung balon itu satu persatu, ... Keadaan menjadi lebih celaka, karena begitu BLBI dikucurkan justru digondol lari keluar dari Indonesia oleh kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang membuat KEBENCIAN rakyat pada Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia yang tidak bersalah dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan! Padahal nasib mayoritas mutlak TIonghoa di Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah juga KORBAN dari persekongkolan yang terjadi antara penguasa dan pengusaha, khususnya konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu! Tapi, kenyataan mayoritas mutlak TIonghoa yang kena getahnya, sedang yang konglomerat TIonghoa, yang bersalah dan berdosa itu justru aman-aman menikmati harta kekayaan yang digondol sampai sekarang ini. Nah, dari kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yang berulangkali terjadi di Nusantara ini, sayapun melihat ada satu penyakit dalam masyarakat, berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja dengan mudah mengkaitkan kesalahan dan dosa seseorang dengan suku, etnis atau Agama yang dianutnya. Masih belum bisa memperlakukan kesalahan/dosa seseorang SEPENUHNYA adalah tanggungjawab orang bersangkutan, yang tidak seharusnya menyeret orang lain yang tidak ada hubungan dengan kasusnya. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] <mailto:[email protected]> ') ; Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' [email protected] <mailto:[email protected]> ');> wrote: Pak Saafroedin yb, Terimakasih atas respon yang diberikan. Sayapun bergembira dan sangat SETUJUUUU dengan istilah “INTEGRASI NASIONAL” sehubungan dengan masalah etnis Tionghoa yang masih terjadi di negeri ini. Satu pemikiran dan semangat kebersatuan BANGSA INDONESIA saat mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928 yl! Satu semangat Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha mempertahankan kehidupan HARMONIS dalam bermasyarakat majemuk di Nusantara ini, ... Jadi yang diangkat bukan berusaha “MENGHILANGKAN” segala perbedaan diantara suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan “PEMBAURAN/ASIMILASI” yang terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan paksaan administrasi dikeluarkannya ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi berusaha keras dengan penuh kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA dan MENGHORMATI” setiap umat manusia yang hidup didunia ini! Agar setiap kita bisa menerima dan menghormati setiap umat manusia yang hidup didunia dengan segala perbedaan yang ada, ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda Agama, beda budaya bahkan beda pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha menuntut orang lain agar sama dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan kekerasan, ...! Syukurlah kalau bung Salim dengan Institut Peradaban bisa membahas masalah kebencian terhadap etnis Tionghoa ini. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected] <mailto:[email protected]> ') ; Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Chan, sudah saya baca. Masalah ini memang salah satu masalah integrasi nasional kita yg belum selesai dan perlu dicarikan alternatif solusinya yang lebih baik. Saya mendukung rencana bung Salim dari Institut Peradaban utk membahas masalah ini. On Thursday, 8 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' [email protected] <mailto:[email protected]> ');> wrote: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Reporter: Arman Dhani 01 September, 2016dibaca normal 4:30 menit https://tirto.id/20160901-39/ sejarah-kebencian-terhadap- etnis-tionghoa-315429?utm_ content=buffer95c12&utm_ medium=social&utm_source= facebook.com&utm_campaign= buffer Sejumlah anak etnis Tionghoa mengikuti lomba bola terong di halaman Klenteng Kwan Kong, Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono share foto INTI BERITA · Kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. · Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa dilacak hingga empat ratus tahun yang lalu · Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas Kebencian rasialis dan penindasan terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Kelompok Tionghoa kerapkali distigma pelit, kaya dengan cara culas, dan menindas pribumi. Padahal masyarakat Tionghoa sudah turun temurun hidup di Indonesia selama ratusan tahun. tirto.id - Di sebuah halte TransJakarta Senayan JCC, Jumat malam, 26 Agustus 2016 seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew Budikusuma, mengaku dipukuli oleh sejumlah pria. Tidak hanya dipukuli, Andrew diteriaki dan dihina dengan kata-kata merendahkan yang menunjukkan sebuah gejala kebencian rasialis. Ia juga dituduh sebagai Ahok, panggilan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan keturunan Tionghoa. Akar kebencian rasialis terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia rupanya masih ada. Sejarah mengulang dirinya sendiri. Pertama sebagai tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon. Sebelum tragedi pemukulan ini, kelompok Tionghoa di Indonesia sudah mengalami banyak diskriminasi. Mei 2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan protes terhadap Jokowi dan JK yang dituduh membela kelompok Asing dan Aseng. Asing merujuk kepada negara/pemerintahan asing yang melakukan intervensi ekonomi di Indonesia, sementara Aseng merujuk kepada kelompok minoritas Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan besar dalam bidang ekonomi di Indonesia. Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia? Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia, Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi. Sebagian kecil etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto menikmati berbagai fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya. Sekelompok kecil ini akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan dengan cara yang culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998 membuat pembedaan ini menjadi semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di berbagai kota di Indonesia menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran kebencian. Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa dilacak hingga empat ratus tahun yang lalu. Dalam Jakarta: Sejarah 400 tahun karya Susan Blackburn dituliskan, masyarakat Tionghoa sudah ada sebelum kedatangan Belanda. Relasi antara masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat saat itu setara sebagai rekan pedagang. Ketika VOC masuk, kondisi berubah. Masyarakat Tionghoa dimanfaatkan VOC sebagai rekan bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa ketimbang kebanyakan masyarakat setempat. Hubungan mesra antara masyarakat Tionghoa dan VOC tidak berlangsung lama. Pada Oktober 1740 seperti yang ditulis Blackburn, wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Cina. Sambil membawa senjata buatan sendiri para kuli Cina berbaris menuju kota, tempat ratusan kawan sebangsanya tinggal di dalam dinding kota. Meskipun orang Cina yang tinggal di kota sedikit sekali atau sama sekali tak berhubungan dengan orang Cina di luar dinding kota, beredar isu bahwa mereka berencana membantu para pemberontak. Kecurigaan dan paranoia orang Eropa serta pribumi membuat kondisi memburuk. Mereka secara spontan menyerang balik para Tionghoa ini. Tidak hanya membunuh mereka juga menjarah dan membakar sekitar 6.000-7.000 rumah orang Tionghoa. Adrian Volckanier Gubenur Jenderal saat itu mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Tionghoa. Sebanyak 500 orang Cina yang dipenjara di Balai Kota satu per satu dikeluarkan lalu dibunuh dengan keji. Selama seminggu, kota terbakar hebat dan kanal-kanal menjadi merah karena darah dan korban mencapai 10.000 orang. Peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal dengan Geger Pecinan. Tapi Geger Pecinan bukan satu-satunya momen berdarah bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik karya Benny G Setiono disebutkan, pembantaian etnis Tionghoa juga terjadi pada masa Perang Jawa (1825-1830). September 1825, pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku Buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo. Dalam perjalanan itu banyak orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli anak-anak atau perempuan. Mereka dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong dibiarkan di jalanan. Kebencian terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik Belanda maupun Jawa. Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga Tionghoa di majalah Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Mulai Chinezenmoord 1740 sampai Mei 1998. Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu membenci orang Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut pajak. Orang-orang Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan bandar-bandar pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di sungai-sungai dan pasar. Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa memungut pajak, Belanda dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah yang telah dikuasainya. Tragedi pembantaian Perang Jawa membuat kebencian antara Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang Tionghoa menjadi takut terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa menganggap Tionghoa sebagai mata duitan dan pemeras. Kebencian ini mendarah daging, menyebar luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau penjelasan. Kebencian menahun ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Hendri F. Isnaeni menulis bahwa pada awal abad ke-20, kembali tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912 dan kerusuhan di Kudus pada 1918. Pada masa revolusi, kembali terjadi gerakan anti etnis Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang pada Mei-Juli 1946, Bagan Siapi-api pada September 1946, dan Palembang pada Januari 1947. Tragedi terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi pada saat 1965. Cina yang menjadi negara komunis besar saat itu dianggap punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Banyak masyarakat Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena dianggap komunis atau mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak berhenti sampai situ saja, orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras harta masyarakat lokal. Di sini ide primordial pribumi melawan pendatang menjadi legitimasi untuk melakukan kejahatan. share foto Dalam konteks yang lebih modern ada dua peristiwa diskriminasi dan kekerasan yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tionghoa. Pertama adalah pembantaian terhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU. Elsam menyebut terjadi pembersihan etnis dalam peristiwa ini, sementara dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan setidaknya ada 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak. Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala Xenofobia ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa. Saat peristiwa ini terjadi banyak perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya dibakar dan usaha milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai sampai hari ini dan pelakunya tak pernah diusut. Negara juga berperan menjadi aktor dalam penyulut kebencian terhadap etnis Tionghoa. Melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967, negara berperan melakukan identifikasi rasial dan segregasi identitas. Surat itu adalah upaya penyeragaman penyebutkan kelompok etnis “Tionghoa” yang dianggap mengandung nilai-nilai yang memberi asosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia, menjadi “Cina” yang dianggap lebih “dikehendaki untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.” Indarwati Aminuddin, seorang penulis, pernah menyusun laporan menarik tentang Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa pada 2002. Laporan itu dengan bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh mana pencantuman identitas rasial seseorang relevan dalam laporan/karya jurnalistik. Profiling atau penyosokan menjadi relevan untuk menjelaskan konteks identitas seseorang dalam pemberitaan. Maka Indarwati mengatakan bahwa atribusi yang relevan membantu publik memahami persoalan dengan lengkap. Namun, atribusi yang tak relevan justru menciptakan kesan bahwa kesalahan seseorang terkait dengan identitasnya, entah itu suku, agama, ras atau bahasa. Indarwati lantas memberikan sebuah contoh dari berbagai media di Indonesia yang melakukan profiling terhadap etnis Tionghoa dalam framing berita. Frasa seperti “warga keturunan”dan “pribumi” kerap disandingkan untuk menjelaskan posisi korban dan pelaku. Dalam tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa media sekelas Tempo pernah melakukan profiling dengan tendensi rasis. Berita yang berjudul “Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 25 Februari-03 Maret 2002, Tempo menuliskan tentang Bank Central Asia yang memiliki akronim BCA. BCA dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, asli kelahiran Fujian. Atribusi ini dianggap bermasalah karena melalui pemberitaannya itu Tempo menggiring pembacanya untuk berpikir “bahwa BCA adalah bank yang menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati menuduh bahwa Tempo melakukan framing karena istilah “Bank Cina Asli” itu bukan sebuah istilah yang bisa didengar di mana-mana hingga Tempo membaptisnya jadi plesetan umum. Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas. Bahwa orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi. Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang. ______________ Baca juga artikel Tirto.id terkait berikut ini: Kebencian yang Menular dan Mematikan (dan/nqm) -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta #yiv3407634367 #yiv3407634367 -- #yiv3407634367ygrp-mkp { border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp hr { border:1px solid #d8d8d8;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367hd { color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367ads { margin-bottom:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad { padding:0 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad p { margin:0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad a { color:#0000ff;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc { font-family:Arial;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc #yiv3407634367hd { margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc .yiv3407634367ad { margin-bottom:10px;padding:0 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367actions { font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity { background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span { font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span:first-child { text-transform:uppercase;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span a { color:#5085b6;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span span { color:#ff7900;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span .yiv3407634367underline { text-decoration:underline;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach { clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach div a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach img { border:none;padding-right:5px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach label { display:block;margin-bottom:5px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach label a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 blockquote { margin:0 0 0 4px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367bold { font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;} #yiv3407634367 .yiv3407634367bold a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p a { font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p span.yiv3407634367yshortcuts { margin-right:0;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table div div a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table { width:400px;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:active, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:hover, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:active, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:hover, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div#yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367ygrp-msg p a span.yiv3407634367yshortcuts { font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;} #yiv3407634367 .yiv3407634367green { color:#628c2a;} #yiv3407634367 .yiv3407634367MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #yiv3407634367 o { font-size:0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div { float:left;width:72px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div div { border:1px solid #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div label { color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367reco-category { font-size:77%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367reco-desc { font-size:77%;} #yiv3407634367 .yiv3407634367replbq { margin:4px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-actbar div a:first-child { margin-right:2px;padding-right:5px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg { font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg table { font-size:inherit;font:100%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg select, #yiv3407634367 input, #yiv3407634367 textarea { font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg pre, #yiv3407634367 code { font:115% monospace;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg * { line-height:1.22em;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367logo { padding-bottom:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg p a { font-family:Verdana;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg p#yiv3407634367attach-count span { color:#1E66AE;font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco #yiv3407634367reco-head { color:#ff7900;font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov li a { font-size:130%;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov li { font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov ul { margin:0;padding:0 0 0 8px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text { font-family:Georgia;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text p { margin:0 0 1em 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text tt { font-size:120%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-vital ul li:last-child { border-right:none !important; } #yiv3407634367
