Bung Tjaniago yb, Hahaa, ... terimakasih atas ulasan yang diberikan setelah menjelajah dibeberapa negeri ex.Sovyet dan sekarang sedang menghadapi kemelut tersendiri yang sulit diselesaikan akibat dasar Agama Islam yang dianut masyarakat disana dan kena pengaruh ISIS pula. Mudah-mudahan tokoh-tokoh politik disana lebih bijaksana dan bisa menemukan jalan keluar yang lebih baik dan damai. Dan, ... kalau berkenan dan berluang, sekali-kali bung utarakan lah apa yang sudah bung lihat dan ketahui dibeberapa negeri itu, ... biar kita semua bisa ikut mengetahuinya. Terimakasih sebelumnya.
Mengenai Kebencian terhadap “Etnis Tionghoa” yang selama ini terjadi di Indonesia, saya setuju banget dengan penegasan bung, POLITIK! Ada kekuatan penguasa, sejak jaman VOC itu sampai sekarang, menggunakan sentimen rasial, dalam hal ini terhadap minoritas etnis Tionghoa untuk mencapai tujuan POLITIK mereka. Begitulah seperti apa yang bung nyatakan, “Ancaman dan Bahaya Tiongkok” didengungkan AS yang hendak memperkuat cengkramannya kembali di Asia dan dunia, setelah melihat pengaruh Tiongkok makin meluas kemana-mana. Termasuk di Indonesia tentunya. Tidak segan-segan menggunakan begundal-begundalnya mengangkat isu Tionghoa dan Tiongkok, untuk bangkitkan KEBENCIAN terhadap etnis Tionghoa yang dikaitkan dengan negeri leluhurnya Tiongkok Komunis. Begitulah mereka menyerang dan menghujat Ahok, bukan hanya menyerang pribadi Ahok yang kebetulan etnis Tionghoa saja, tapi lebih jauh menarik Ahok begitu ngotot meneruskan rekalamasi pulau G itu mempersiapkan Tiongkok Komunis menguasai Indonesia. Nyaris semua perumahan mewah disitu akan menjadi milik Tionghoa! Bahkan mereka sudah meneriakkan pemerintah Jokowi sekarang sudah dikuasai Tiongkok, Tiongkok Bisa menjadi Investor terbesar di Indonesia! Sejak tahun yl. kantor berita Reuter yang disiarkan VOA. (http://www.voaindonesia.com/a/china-bisa-jadi-investor-terbesar-untuk-indonesia-jika-presiden-pangkas-birokrasi/2824212.html ), kemudian BKPM sendiri juga menandaskan, Invesatasi Modal Tiongkok, meroket naik 400% dikwartal pertama tahun 2016 ini! (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/25/123500826/Investasi.China.ke.Indonesia.Meroket.Naik.400.Persen.di.Kuartal.I.2016) Jadi nampak jelas, memang makin membesar investor Tiongkok masuk Indonesia, tentu akan mendesak dan mengancam pemasukan komisi yg didapatkan sementara pejabat yang selama ini menjadi agen modal AS, Jepang, Singapore, ...! Dan, ada sementara pejabat yang dirugikan, merasa terancam berat dan berusaha TETAP mempertahankan Indonesia tetap dikangkangi AS-Jepang! Salam, ChanCT -----原始郵件----- From: DR. Alexander Tjaniago Sent: Wednesday, October 5, 2016 1:32 AM To: DR. Alexander Tjaniago ; [email protected] ; Chan CT ; [email protected] Subject: Re: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Hello Bung Chan CT. Memang agaklama kita takjumpa di GELORA45, itu bukan berarti saya "menghilang" atau bertapa di Gunung Kidul untuk memperoleh wahyu-wahyu animisme bermacam bentuk Kesaktian, di Abad ke-XXI, seperti Kesaktian Pancasila yang dibual-bualkan oleh pada Jendral TNI untuk menutupi pengkhianatan para Jendral TNI terhadap Republik Indonesia dan terhadap Bangsa Indonesia, untuk menutupi Pembunuhan Massal yang dilakukan oleh TNI semenjak setengah Abad ini. Beberapa waktu yang lalu saya banyak "berkeliaran" di Regional ASEAN dan di Regional Central Asia ( di Kazakhstan, Kyyrgyzstan, Uzbekhistan, Tajikistan. Turkmenistan (dan di daerah Masel e Syarif, perbatasan Tajiskistan,Uzbekistan, dengan Afghanistan, sekitar 80 s/d 100 KM dari Kabul), dan di Azerbaisan (Laut kaspia), perbatasan dengan Turki dan Armenia, dan di regional ini saya mempelari dari dekat/di Lapangan "Impact of the Barbarism of the Global Empire USA" yang menghancurkan seluruh khazanah Kehidupan normal Manusia dii Timur Dekat dan di Timur Tengah dan kini berhadapan langsung dengan kekuatan Militer Russia, yang membela Pemerintahan Nasional Suryah, dengan Presiden Assad. Negeri-Negeri ex-Uni Sowyet tsb. diatas dikenal sebagai negeri-negeri dengan Pengaruh Islam yang kuat, sampai dengan pertengahan Abad ke-XIX, sampai dengan mereka berada dalam system Sowyet Union. Kini, Masyarakat Central Asia, baik Pemerintahan, pun Partai-Partai Politik, pun Ormas-Ormas, sampi kepada kesimpulan mengenai aktivitas ISIS sebagai "Fiasco of the Renaisance of the Islam", pertama-tama, karena ISIS didirikan oleh USA untuk kepentingan Politik Kekuasaan USA di Timur Dekat dan Timur Tengah. Selanjutnya, mengenai Kehidupan Politik, Ekonomi,Hubungan Sosial dan Keamanan, akan disambung nanti, harus disusun secara systematis. Dan kini, kita hangati "kevakumen"beberapa waktu ini, dengan membahas Thema yang Bung paparkan disini "Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa", sebuah Thema yang kelihatannya sederhana, kalau dilihat jauh kedalam, maka akan terlihat masalah yang sangat prinsipil dalam kehidupan Umatmanusia dari beberapa ratus Tahun kebelakang, terutama semenjak Abad ke-XV s/d hari ini, yang bernama GLOBALISASI pertama, yaitu ketika Inggeris, Portugal, Spanyol, Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, dengan kekuatan Militer/Armada Laut yang kuat melakukan annexi Territorium, Perampokan Hakmilk, Pembunuhan Manusia, termasuk Pembunuhan Massal terhadap Pribumi/Bangsa Indian,Perbudakan,Perampokan dan Penjualan Manusia, untuk kepentingan pertumbuhan Perekonomian Europa, yang berlangsung lebih dari Tiga Ratus Tahun,GLOBALISASI pertama. Di Nusantara, terutama ketika VOC, untuk kepentingan GLOBALISASI-Perekonomian Belanda,merangkul Etnis China sebagai petugas-petugas dari kekuasaan Militer Kolonialisme Belanda di Perkebunan-Perkebunan,dibagian-bagian produksi pertanian lainnya, untuk kepentingan Pasar Europa,ditempat-tempat pekerjaan, seperti Daendel yang membuat Jalan sepanjang Pulau Jawa, etc. dan pada proses pekerjaan terjadi konflikt antara Pribumi dengan Etnis China, yang bekerja sebagai para Petugas kekuasaan Belanda, Kekuasaan Kolonialisme Belanda membutuhkan konflikt tsb. dan para Pribumi mulai adanya prejudis anti-etnis China. Also, Kebencian Terhadap Etnis China adalah produk dari GLOBALISASI kekuasaan Kolonialisme di Nusantara/Indonesia, itu bukan natur dari penduduk di Nusantara, yang kemudian bernama Bangsa Indonesia. Phenomenal seperti itu juga terlihat di Asia, Afrika, Latin-Amerika, konflik Etnis, sebagai peninggalan dari system GLOBALISASI-pertama, kekuasaan Militer dan Perekonomian Europa, yang kini dipergunakan sedemikian rupa oleh Global Empire USA, untuk kepentingan GLOBALISASI kekuasaan Militer dan Perekonomian USA di arena Internasional. Perbedaannya,pada GLOBALISASI pertama kekuasaan Militer dan Perekonomian Europa,yaitu Negara-Negara Europa berjalan sendiri-sendiri, tanpa Persatuan kekuatan Europa, dan di Europa sendiri terjadi beberakali Perang GLOBALISASI Europa, perubahan-perubahan batas-batas Negara, yang lebih terkenal Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia kedua. Dengan dihancurkannya Fasisme Jerman Hitler oleh Uni Sowyet, system Kolonial GLOBALISASI pertama juga hancur dan Uni Sowyet membantu Rakyat-Rakyat yang berjuang untuk membangun Pemerintahan Nasional, yang terlepas dari GLOBALISASI kekuasaan Kolonial, termasuk membantu Republik Indonesia, dan Uni Sowyet adalah Negara pertama di Dunia yang mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia. Trumen, Presiden USA, mengumpulkan semua pelaku GLOBALISASI pertama, yang bertekuklutut pada Hitler Tahun-tahun 1939-1940an dan memasukkan mereka pada Club yang bernama NATO, untuk kentingan GLOBALISASI kedua, yaitu GLOBALISASI kekuasaan USA di Europa dan sebagai batuloncatan dari kekuasaan Militer USA ke Regional lainnya. Trumen memberi mereka BOGEYMAN, yaitu musuh utama mereka Uni Sowyet. Dan anti-Etnis China atau anti-China secara keseluruhan, kini ditiupkan bukan lagi oleh Penduduk atau bagian-bagian dari Suku Bangsa di Indonesia, atau oleh Bangsa Indonesia secara keseluruhan, melainkann oleh kekuasaan Negara yang kuat di Dunia yaitu USA dan Europa Union, "Bahaya China atau Bahaya expansi China" bisa ditemukan dalam Media di USA", dan Washington-Administration berusaha "membantu" Vietnam, Tailand, Birma, untuk berkonfrontasi dengan RRT GLOBALISASI kini mengambil wajah baru yaitu Perdagangan Bebas Asia & Pacific Regions artinya, siapa yang mempunyai kekuasaan Militer yang kuat, akan bisa merampok semua, apasaja yang dia inginkan. Di Jakarta dibangun seizin Jendral USA Bambang Susilo Yudoyono, Presiden R-.I., Panglima Tertinggi TNI, "PENTAGON kedua" yang luas dengan tehnik Modern, untuk menginfiltrais China/RRT, Russia, India, dan sekitar dan inilah GLOBALISASI dan PERDAGANGAN BEBAS Asia & Pacific. Nasib R.I. dan Bangsa Indonesia? Dengan Kebencian terhadap “Etnis-China" atau Kebencian terhadap RRT secara keseluruhan, keberadaan Republik Indonesia dimasa depan yang dekat sangat dipertanyakan; atau Kepulauan Indonesia akan berobah menjadi aircraft carrier Militer USA dan Penduduk Indonesia boleh tinggal mendiami prairie, seperti nasib Bangsa Indian di USA. Inilah sedikit ulasan untuk Thema yang Bung ajukan, dan dalam Bahasa Jerman dibilang "Du bist schlau" atau "you are clever", Bung letaklkan Thema yang kelihatannya sederhana,sesungguhnya, Thema yang menyangkut kehidupan normal Manusia, dahulu, empat ratus Tahun yang lalu, hari ini dan massa depan yang panjang - Rasialisme, yang berkar dari Sumber dan cara pembangun Kehidupan. Apakah akan bisa dicapai: "Leben einzelner wie ein Baum; kammeradlich wie ein Wald, ist unsere Sehnzucht. "Kehidupan setiap Orang seperti Beringin yang rindang; bersaudara seperti Hutan lebat; Inilah kerinduan kita". Salam hangat Bung Chan CT, Tjaniago -------------------------------------------- Pada Jum, 30/9/16, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: Judul: Re: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Kepada: "DR. Alexander Tjaniago" <[email protected]>, [email protected], [email protected] Tanggal: Jumat, 30 September, 2016, 5:47 PM Bung Tjaniago yb, Kemana bung menghilang selama ini, kok baru sekarang mulai bersuara. Beberapa hari yl. mengaduk-aduk tulisan lama mengenai “Kapitalisme Negara” yang diajukan Lenin, ternyata bung yang nulis, ... kalau berdeasarkan bhs. Rusia mestinya “Perusahaan Negara”? Kok ternyata jauh benar bedanya? Dahulu kala, seringkali terdengar etnis Tionghoa, dinyatakan suku yang rajin, hemat, bahkan koloni Belanda khusus mendatangkan kuli Tionghoa untuk kerjakan tambang timah di Bangka-Belitung. Kuli-kuli yang dianggap lebih tangguh mengerjakan tambang dengan susah payah. Barangkali ini disebabkan karena KONDISI kehidupan di Tiongkok daratan selama ribuan tahun yang memang jauh lebih BERAT dibanding negara lain, khususnya Indonesia. Tanah kurang subur bahkan tandus, melewati 43 musim bahkan bertubi-tubi dilanda bencana alam, tidak banjir, ya kering, taifoon dan gempa-bumi, ... itulah yang membuat bangsa TIonghoa tergembleng menjadi lebih KERAS, kalau tidak begitu mati. Lalu, ada penulis dibidang pendidik menyatakan, ciri-ciri bangsa Tionghoa yang dikenal dahulu itu bisa dikatakan pudar pada generasi muda yg lahir ditahun 70-an, ... Mengapa? Itu akibat pembatasan hanya boleh anak tunggal berkepanjangan, akibatnya si anak dirumah terlalu dimanja, bukan saja oleh 2 orang-tuanya saja, tapi juga oleh 4 kakek-neneknya yg hanya ada 1 cucu itu! Jadi lebih parah, kesejahteraan juga sudah meningkat banyak. Itu anak yang dimanja 6 orang tua, sejak kecil bukan saja tidak mengalami kekurangan, mau apa, minta apa PASTI dapat dengan mudah! Mana tidak ada kebiasaan harus bertoleransi, ngalah pada sesama saudara, setelah dewasa, juga jadi seperti rajaperang mau menang sendiri, tidak ada lagi usaha dan kerja keras untuk mendapatkan yang diinginkan. Minta dilayani saja! Dan sudah tidak ada sedikitpun rasa harus berhemat-hemat lagi, ... Jadi, tugas GURU disekolah harus kembali menekankan ciri-ciri suku TIonghoa yang membuat bangsa ini unggul harus tetap dipelihara dan terus terbawa oleh generasi muda, ... lalu, dihimbau orang-tua dirumah juga harus ikut memperhatikan dalam mengasuh anaknya. Menarik juga, ya! Jiwa, karakter manusia bukan lahiriah, tapi diciptakan dalam kondisi hidup yang dilewati! Waaah, kalau begitu pertahankan kondisi tetap dalam kemiskinan lebih baik??? Hehehee, ... Salam, ChanCT From: 'DR. Alexander Tjaniago' [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, September 30, 2016 11:02 PM To: [email protected] ; Chan CT ; [email protected] Subject: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Hello Bung Chan CT, saya mempunyai Sahabat yang banyak dari Ethnis Tionghoa, yang pada umunya, atau sebagian besar, aktif dalam urusan business atau urusan Perekonomian: seperti urusan transport ( Guan Chun transport Padang - Sungai Penuh di akhir Tahun 1950an), urusan Apothek, urusan Kebudayaan seperti perFilm-an, Sport -Badminton, Baskettball, etc. dan saya tidak pernah merasa adanya kebencian timbalbalik, melainkan persahabatan Kemanusiaan yang normal. "Kebencian yang Bung konstatasi, itu berjalan diatas hubungan Perekonomian, diantaranya perebutan Pasaran barang dagangan. Kebanyakan, diantara pemBusiness Etnis Tionghoa adanya salingbantu dalam Kapital, dan mereka mampu merebut/menguasai Pasaran. Ini terjadi diseluruh Dunia, dimana saya, dan apapun nama Bangsanya,Kapital menentukan hubungan dalam urusan Perkonomian ( c+v+m), m-tersebut kebanyakan dari yang tidak mempunyai Kapital atau Buruh yang menjual Tenagakerjanya.Justru itu, Kebencian terhadap Etnis Tionghoa tidak beraalsan rasialisme. Keluarga Jendral ORBA Suharto dan SBY menguasai banyak Cabang-Cabang Perekonomian di Indonesia, malah sampai ke Perbanken,juga dibenci oleh Etnis Jawa yang miskin. Dari persahabatan saya dengan Etnis asal Tionghoa, terutama di BAPERKI, satu yang saya peroleh dengan baik: pada umumnya mereka rajin bekerja dan belajar!!! -------------------------------------------- Pada Jum, 16/9/16, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: Judul: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Kepada: "GELORA_In" <[email protected]>, [email protected] Tanggal: Jumat, 16 September, 2016, 10:16 AM From: Saafroedin Bahar Sent: Friday, September 16, 2016 3:31 PM To: Chan CT Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu thesis saya tersebut. Saya lulus Program S3 UGM th 1996. Berbagai pertanyaan Bung tersebut sudah saya teliti dan saya jawab dalam disertasi saya itu. Salam. Kamis, 15 September 2016, Chan CT <[email protected]> menulis: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Thursday, September 15, 2016 7:07 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: RE: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bagus dan sori memang saya menulis integritas tetapi bukan itu maksud saya. Saya mau dan seharusnya menulsi: integrasi bukan integritas. Dari kacamata umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah integrasi nasional itu melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya keliru? Disini kebingungan saya. Kalau ada waktu dan kesempatan saya mau baca thesis bung. Saya tidak tahu apakah itu disertasi S3 atau S2. Tetapi ketika saya menggunakan kata thesis, saya refer ke artinya saja: hipotesa. Saya tidak refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi saya itu tidak penting. Yang saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya harus dilihat dari kacamata minang ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat bagaimana terjadinya RI itu sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam pembentukan RI. Bagi saya ini 2 hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. Kenapa? Karena penekanannya yg berbeda. Yang satu ke “begitu pentingnya” RI, yang lain melihat terbentuknya suatu republic karena adanya tujuan bersama dari bangsa2 yang sudah ada dinusantara itu termasuk bangsa minang. Salam Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com] Sent: Wednesday, September 14, 2016 7:36 PM To: GELORA_In <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>; javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 11:45 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]'); Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Bung Nesare, tak usah bingung, dan jangan mencampuraduk " integrasi " dengan " integritas ". Integrasi Nasional adalah proses menyatukan tiga unsur negara, yaitu Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, menjadi satu kesatuan yg utuh. Etnik adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti proses integrasi etnik Minangkabau ke dalam NKRI, sebagai salah satu etnik dari demikian banyak etnik di Indonesia. Terima kasih atas perhatian Bung thd tesis saya. Jika Bung berminat, bisa membacanya di Perpustakaan Pascasarjana UGM Yogyakarta. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');> wrote: From: mailto:GELORA45@yahoogroups. com Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 PM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected]'); Subject: RE: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Saafroedin: Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Nesare: saya jadi bingung baca kalimat ini. koq bisa ya tesisnya mempertanyakan integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di Indonesia ke republic muda yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah peleburan dari suku2 bangsa itu. Koq kenapa harus dipertanyakan integritas suku2 bangsa itu? Seharusnya yang dipertanyakan itu adalah kenapa RI yang muda itu menyepelehkan komitmen suku2 bangsa yang dulunya sudah selesai dalam membentuk yang namanya NKRI yang berazaskan Pancasila. Seharusnya ini tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana isi tesis saafroedin di UGM ini? apa yang mau dibuktikan dengan tesisnya ini? Nesare From: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G [email protected]'); [mailto:GELORA45@yahoogroups. com] Sent: Wednesday, September 14, 2016 5:11 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected]') ; Subject: [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Saafroedin yb, Sebenarnya saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah terjadi perdebatan sengit dalam masalah penyelesaian Tionghoa di Indonesia, pihak BAPERKI mengajukan konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang menekankan Tionghoa harus mengintegrasikan dirinya dalam masyarakat Indonesia, dengan tetap diperkenankan mempertahakan budaya-adat istiadat dan agama yang dianut. Cukup BERSATU, hidup bersama, bekerja dan berjuang bersama dengan RAKYAT disegala bidang saja. Sedang pihak LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan konsep “ASIMILASI” atau pembauran yang menekankan dan berusaha menghilangkan identitas ke-Tionghoa-an. Diawali dengan gerakan Ganti-nama, menggantikan nama Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu, dengan nama-nama yang bisa dikatakan Indonesia, lalu menganjurkan kawin-silang dengan suku-suku lain untuk menghilangkan ciri biologis Tionghoanya, bahkan, ... sementara tokoh LPKB itu lebih radikal lagi, juga ganti Agama, menjadi ISLAM! Sekalipun diawal mula tokoh-tokoh LPKB itu menandaskan usaha asimilasi yang diserukan sepenuhnya dan sedikitpun TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN, tapi kemudian dalam praktek, setelah disodorkan pada jenderal Soeharto dan diambil oper oleh Pemerintah masa ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan Pemerintah, tidak bisa tidak mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani tidak ikut gerakan ganti nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak “SETIA pada RI”! Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan pelarangan peneggunaan aksara bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan merayakan Imlek dan beribadah secara terbuka, ... Itulah TEKANAN atau derita yang menimpa mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia selama lebih 32 tahun dibawah kekuasaan Soeharto. Dipihak lain, jenderal Soeharto justru menggunakan dan bersekongkol dengan segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya dirinya, ... dalam waktu singkat muncullah konglomerat-konglomerat Tionghoa yg mendapatkan fasilitas istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto yang memberikan hak MONOPOLI dan MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat Tionghoa ini dengan makin meluaskan cakar mereka bersama anak-anak Soeharto, justru membuat makin RUSAK membusuknya birokrasi pemerintah. Jadi, begitu dilanda krismon akhir tahun 97, meledaklah semua gelembung balon itu satu persatu, ... Keadaan menjadi lebih celaka, karena begitu BLBI dikucurkan justru digondol lari keluar dari Indonesia oleh kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang membuat KEBENCIAN rakyat pada Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di Indonesia yang tidak bersalah dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan! Padahal nasib mayoritas mutlak TIonghoa di Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah juga KORBAN dari persekongkolan yang terjadi antara penguasa dan pengusaha, khususnya konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu! Tapi, kenyataan mayoritas mutlak TIonghoa yang kena getahnya, sedang yang konglomerat TIonghoa, yang bersalah dan berdosa itu justru aman-aman menikmati harta kekayaan yang digondol sampai sekarang ini. Nah, dari kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yang berulangkali terjadi di Nusantara ini, sayapun melihat ada satu penyakit dalam masyarakat, berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja dengan mudah mengkaitkan kesalahan dan dosa seseorang dengan suku, etnis atau Agama yang dianutnya. Masih belum bisa memperlakukan kesalahan/dosa seseorang SEPENUHNYA adalah tanggungjawab orang bersangkutan, yang tidak seharusnya menyeret orang lain yang tidak ada hubungan dengan kasusnya. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected]') ; Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian ttg Integrasi Nasional ini. Saya mempertahanan tesis saya ttg etnik Minangkabau di UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi Nasional dari etnik Tionghoa ini belum ada. Salam. On Wednesday, 14 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' [email protected]');> wrote: Pak Saafroedin yb, Terimakasih atas respon yang diberikan. Sayapun bergembira dan sangat SETUJUUUU dengan istilah “INTEGRASI NASIONAL” sehubungan dengan masalah etnis Tionghoa yang masih terjadi di negeri ini. Satu pemikiran dan semangat kebersatuan BANGSA INDONESIA saat mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928 yl! Satu semangat Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha mempertahankan kehidupan HARMONIS dalam bermasyarakat majemuk di Nusantara ini, ... Jadi yang diangkat bukan berusaha “MENGHILANGKAN” segala perbedaan diantara suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan “PEMBAURAN/ASIMILASI” yang terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan paksaan administrasi dikeluarkannya ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi berusaha keras dengan penuh kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA dan MENGHORMATI” setiap umat manusia yang hidup didunia ini! Agar setiap kita bisa menerima dan menghormati setiap umat manusia yang hidup didunia dengan segala perbedaan yang ada, ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda Agama, beda budaya bahkan beda pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha menuntut orang lain agar sama dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan kekerasan, ...! Syukurlah kalau bung Salim dengan Institut Peradaban bisa membahas masalah kebencian terhadap etnis Tionghoa ini. Salam, ChanCT From: Saafroedin Bahar Sent: Wednesday, September 14, 2016 6:01 AM To: javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d [email protected]') ; Subject: Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Pak Chan, sudah saya baca. Masalah ini memang salah satu masalah integrasi nasional kita yg belum selesai dan perlu dicarikan alternatif solusinya yang lebih baik. Saya mendukung rencana bung Salim dari Institut Peradaban utk membahas masalah ini. On Thursday, 8 September 2016, Chan CT <javascript:_e(%7B%7D,'cvml',' [email protected]');> wrote: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa Reporter: Arman Dhani 01 September, 2016dibaca normal 4:30 menit https://tirto.id/20160901-39/ sejarah-kebencian-terhadap- etnis-tionghoa-315429?utm_ content=buffer95c12&utm_ medium=social&utm_source= facebook.com&utm_campaign= buffer Sejumlah anak etnis Tionghoa mengikuti lomba bola terong di halaman Klenteng Kwan Kong, Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono share foto INTI BERITA · Kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. · Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa dilacak hingga empat ratus tahun yang lalu · Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas Kebencian rasialis dan penindasan terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Kelompok Tionghoa kerapkali distigma pelit, kaya dengan cara culas, dan menindas pribumi. Padahal masyarakat Tionghoa sudah turun temurun hidup di Indonesia selama ratusan tahun. tirto.id - Di sebuah halte TransJakarta Senayan JCC, Jumat malam, 26 Agustus 2016 seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew Budikusuma, mengaku dipukuli oleh sejumlah pria. Tidak hanya dipukuli, Andrew diteriaki dan dihina dengan kata-kata merendahkan yang menunjukkan sebuah gejala kebencian rasialis. Ia juga dituduh sebagai Ahok, panggilan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan keturunan Tionghoa. Akar kebencian rasialis terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia rupanya masih ada. Sejarah mengulang dirinya sendiri. Pertama sebagai tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon. Sebelum tragedi pemukulan ini, kelompok Tionghoa di Indonesia sudah mengalami banyak diskriminasi. Mei 2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan protes terhadap Jokowi dan JK yang dituduh membela kelompok Asing dan Aseng. Asing merujuk kepada negara/pemerintahan asing yang melakukan intervensi ekonomi di Indonesia, sementara Aseng merujuk kepada kelompok minoritas Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan besar dalam bidang ekonomi di Indonesia. Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia? Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia, Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi. Sebagian kecil etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto menikmati berbagai fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya. Sekelompok kecil ini akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan dengan cara yang culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998 membuat pembedaan ini menjadi semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di berbagai kota di Indonesia menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran kebencian. Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa dilacak hingga empat ratus tahun yang lalu. Dalam Jakarta: Sejarah 400 tahun karya Susan Blackburn dituliskan, masyarakat Tionghoa sudah ada sebelum kedatangan Belanda. Relasi antara masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat saat itu setara sebagai rekan pedagang. Ketika VOC masuk, kondisi berubah. Masyarakat Tionghoa dimanfaatkan VOC sebagai rekan bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa ketimbang kebanyakan masyarakat setempat. Hubungan mesra antara masyarakat Tionghoa dan VOC tidak berlangsung lama. Pada Oktober 1740 seperti yang ditulis Blackburn, wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Cina. Sambil membawa senjata buatan sendiri para kuli Cina berbaris menuju kota, tempat ratusan kawan sebangsanya tinggal di dalam dinding kota. Meskipun orang Cina yang tinggal di kota sedikit sekali atau sama sekali tak berhubungan dengan orang Cina di luar dinding kota, beredar isu bahwa mereka berencana membantu para pemberontak. Kecurigaan dan paranoia orang Eropa serta pribumi membuat kondisi memburuk. Mereka secara spontan menyerang balik para Tionghoa ini. Tidak hanya membunuh mereka juga menjarah dan membakar sekitar 6.000-7.000 rumah orang Tionghoa. Adrian Volckanier Gubenur Jenderal saat itu mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Tionghoa. Sebanyak 500 orang Cina yang dipenjara di Balai Kota satu per satu dikeluarkan lalu dibunuh dengan keji. Selama seminggu, kota terbakar hebat dan kanal-kanal menjadi merah karena darah dan korban mencapai 10.000 orang. Peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal dengan Geger Pecinan. Tapi Geger Pecinan bukan satu-satunya momen berdarah bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik karya Benny G Setiono disebutkan, pembantaian etnis Tionghoa juga terjadi pada masa Perang Jawa (1825-1830). September 1825, pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku Buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo. Dalam perjalanan itu banyak orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli anak-anak atau perempuan. Mereka dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong dibiarkan di jalanan. Kebencian terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik Belanda maupun Jawa. Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga Tionghoa di majalah Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Mulai Chinezenmoord 1740 sampai Mei 1998. Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu membenci orang Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut pajak. Orang-orang Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan bandar-bandar pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di sungai-sungai dan pasar. Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa memungut pajak, Belanda dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah yang telah dikuasainya. Tragedi pembantaian Perang Jawa membuat kebencian antara Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang Tionghoa menjadi takut terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa menganggap Tionghoa sebagai mata duitan dan pemeras. Kebencian ini mendarah daging, menyebar luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau penjelasan. Kebencian menahun ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Hendri F. Isnaeni menulis bahwa pada awal abad ke-20, kembali tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912 dan kerusuhan di Kudus pada 1918. Pada masa revolusi, kembali terjadi gerakan anti etnis Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang pada Mei-Juli 1946, Bagan Siapi-api pada September 1946, dan Palembang pada Januari 1947. Tragedi terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi pada saat 1965. Cina yang menjadi negara komunis besar saat itu dianggap punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Banyak masyarakat Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena dianggap komunis atau mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak berhenti sampai situ saja, orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras harta masyarakat lokal. Di sini ide primordial pribumi melawan pendatang menjadi legitimasi untuk melakukan kejahatan. share foto Dalam konteks yang lebih modern ada dua peristiwa diskriminasi dan kekerasan yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tionghoa. Pertama adalah pembantaian terhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU. Elsam menyebut terjadi pembersihan etnis dalam peristiwa ini, sementara dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan setidaknya ada 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak. Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala Xenofobia ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa. Saat peristiwa ini terjadi banyak perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya dibakar dan usaha milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai sampai hari ini dan pelakunya tak pernah diusut. Negara juga berperan menjadi aktor dalam penyulut kebencian terhadap etnis Tionghoa. Melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967, negara berperan melakukan identifikasi rasial dan segregasi identitas. Surat itu adalah upaya penyeragaman penyebutkan kelompok etnis “Tionghoa” yang dianggap mengandung nilai-nilai yang memberi asosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia, menjadi “Cina” yang dianggap lebih “dikehendaki untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.” Indarwati Aminuddin, seorang penulis, pernah menyusun laporan menarik tentang Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa pada 2002. Laporan itu dengan bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh mana pencantuman identitas rasial seseorang relevan dalam laporan/karya jurnalistik. Profiling atau penyosokan menjadi relevan untuk menjelaskan konteks identitas seseorang dalam pemberitaan. Maka Indarwati mengatakan bahwa atribusi yang relevan membantu publik memahami persoalan dengan lengkap. Namun, atribusi yang tak relevan justru menciptakan kesan bahwa kesalahan seseorang terkait dengan identitasnya, entah itu suku, agama, ras atau bahasa. Indarwati lantas memberikan sebuah contoh dari berbagai media di Indonesia yang melakukan profiling terhadap etnis Tionghoa dalam framing berita. Frasa seperti “warga keturunan”dan “pribumi” kerap disandingkan untuk menjelaskan posisi korban dan pelaku. Dalam tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa media sekelas Tempo pernah melakukan profiling dengan tendensi rasis. Berita yang berjudul “Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 25 Februari-03 Maret 2002, Tempo menuliskan tentang Bank Central Asia yang memiliki akronim BCA. BCA dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, asli kelahiran Fujian. Atribusi ini dianggap bermasalah karena melalui pemberitaannya itu Tempo menggiring pembacanya untuk berpikir “bahwa BCA adalah bank yang menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati menuduh bahwa Tempo melakukan framing karena istilah “Bank Cina Asli” itu bukan sebuah istilah yang bisa didengar di mana-mana hingga Tempo membaptisnya jadi plesetan umum. Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas. Bahwa orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi. Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang. ______________ Baca juga artikel Tirto.id terkait berikut ini: Kebencian yang Menular dan Mematikan (dan/nqm) -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+unsubscribe@ googlegroups.com. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/ optout. -- Dr.Saafroedin Bahar Male, 80 yrs, Jakarta #yiv3407634367 #yiv3407634367 -- #yiv3407634367ygrp-mkp { border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp hr { border:1px solid #d8d8d8;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367hd { color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367ads { margin-bottom:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad { padding:0 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad p { margin:0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp .yiv3407634367ad a { color:#0000ff;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc { font-family:Arial;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc #yiv3407634367hd { margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ygrp-lc .yiv3407634367ad { margin-bottom:10px;padding:0 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367actions { font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity { background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span { font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span:first-child { text-transform:uppercase;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span a { color:#5085b6;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span span { color:#ff7900;} #yiv3407634367 #yiv3407634367activity span .yiv3407634367underline { text-decoration:underline;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach { clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach div a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach img { border:none;padding-right:5px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach label { display:block;margin-bottom:5px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367attach label a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 blockquote { margin:0 0 0 4px;} #yiv3407634367 .yiv3407634367bold { font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;} #yiv3407634367 .yiv3407634367bold a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p a { font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv3407634367 dd.yiv3407634367last p span.yiv3407634367yshortcuts { margin-right:0;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table div div a { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table { width:400px;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:active, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:hover, #yiv3407634367 div.yiv3407634367file-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:active, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:hover, #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv3407634367 div#yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367ygrp-msg p a span.yiv3407634367yshortcuts { font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;} #yiv3407634367 .yiv3407634367green { color:#628c2a;} #yiv3407634367 .yiv3407634367MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #yiv3407634367 o { font-size:0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div { float:left;width:72px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div div { border:1px solid #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div label { color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367reco-category { font-size:77%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367reco-desc { font-size:77%;} #yiv3407634367 .yiv3407634367replbq { margin:4px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-actbar div a:first-child { margin-right:2px;padding-right:5px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg { font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg table { font-size:inherit;font:100%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg select, #yiv3407634367 input, #yiv3407634367 textarea { font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg pre, #yiv3407634367 code { font:115% monospace;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg * { line-height:1.22em;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367logo { padding-bottom:10px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg p a { font-family:Verdana;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-msg p#yiv3407634367attach-count span { color:#1E66AE;font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco #yiv3407634367reco-head { color:#ff7900;font-weight:700;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov li a { font-size:130%;text-decoration:none;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov li { font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov ul { margin:0;padding:0 0 0 8px;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text { font-family:Georgia;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text p { margin:0 0 1em 0;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text tt { font-size:120%;} #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-vital ul li:last-child { border-right:none !important; } #yiv3407634367 #yiv8378090281 #yiv8378090281 -- #yiv8378090281ygrp-mkp { border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp hr { border:1px solid #d8d8d8;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281hd { color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281ads { margin-bottom:10px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad { padding:0 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad p { margin:0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad a { color:#0000ff;text-decoration:none;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ygrp-lc { font-family:Arial;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ygrp-lc #yiv8378090281hd { margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ygrp-lc .yiv8378090281ad { margin-bottom:10px;padding:0 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281actions { font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity { background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span { font-weight:700;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span:first-child { text-transform:uppercase;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span a { color:#5085b6;text-decoration:none;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span span { color:#ff7900;} #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span .yiv8378090281underline { text-decoration:underline;} #yiv8378090281 .yiv8378090281attach { clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;} #yiv8378090281 .yiv8378090281attach div a { text-decoration:none;} #yiv8378090281 .yiv8378090281attach img { border:none;padding-right:5px;} #yiv8378090281 .yiv8378090281attach label { display:block;margin-bottom:5px;} #yiv8378090281 .yiv8378090281attach label a { text-decoration:none;} #yiv8378090281 blockquote { margin:0 0 0 4px;} #yiv8378090281 .yiv8378090281bold { font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;} #yiv8378090281 .yiv8378090281bold a { text-decoration:none;} #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p a { font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;} #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p span.yiv8378090281yshortcuts { margin-right:0;} #yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table div div a { text-decoration:none;} #yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table { width:400px;} #yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a, #yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a:active, #yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a:hover, #yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a, #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:active, #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:hover, #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:visited { text-decoration:none;} #yiv8378090281 div#yiv8378090281ygrp-mlmsg #yiv8378090281ygrp-msg p a span.yiv8378090281yshortcuts { font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;} #yiv8378090281 .yiv8378090281green { color:#628c2a;} #yiv8378090281 .yiv8378090281MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #yiv8378090281 o { font-size:0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div { float:left;width:72px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div div { border:1px solid #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div label { color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281reco-category { font-size:77%;} #yiv8378090281 #yiv8378090281reco-desc { font-size:77%;} #yiv8378090281 .yiv8378090281replbq { margin:4px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-actbar div a:first-child { margin-right:2px;padding-right:5px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg { font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg table { font-size:inherit;font:100%;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg select, #yiv8378090281 input, #yiv8378090281 textarea { font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg pre, #yiv8378090281 code { font:115% monospace;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg * { line-height:1.22em;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg #yiv8378090281logo { padding-bottom:10px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg p a { font-family:Verdana;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg p#yiv8378090281attach-count span { color:#1E66AE;font-weight:700;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco #yiv8378090281reco-head { color:#ff7900;font-weight:700;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov li a { font-size:130%;text-decoration:none;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov li { font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov ul { margin:0;padding:0 0 0 8px;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text { font-family:Georgia;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text p { margin:0 0 1em 0;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text tt { font-size:120%;} #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-vital ul li:last-child { border-right:none !important; } #yiv8378090281
