Bung Tjaniago yb,

Hahaa, ... terimakasih atas ulasan yang diberikan setelah menjelajah dibeberapa 
negeri ex.Sovyet dan sekarang sedang menghadapi kemelut tersendiri yang sulit 
diselesaikan akibat dasar Agama Islam yang dianut masyarakat disana dan kena 
pengaruh ISIS pula. Mudah-mudahan tokoh-tokoh politik disana lebih bijaksana 
dan bisa menemukan jalan keluar yang lebih baik dan damai. Dan, ... kalau 
berkenan dan berluang, sekali-kali bung utarakan lah apa yang sudah bung lihat 
dan ketahui dibeberapa negeri itu, ... biar kita semua bisa ikut mengetahuinya. 
Terimakasih sebelumnya.

Mengenai Kebencian terhadap “Etnis Tionghoa” yang selama ini terjadi di 
Indonesia, saya setuju banget dengan penegasan bung, POLITIK! Ada kekuatan 
penguasa, sejak jaman VOC itu sampai sekarang, menggunakan sentimen rasial, 
dalam hal ini terhadap minoritas etnis Tionghoa untuk mencapai tujuan POLITIK 
mereka. 

Begitulah seperti apa yang bung nyatakan, “Ancaman dan Bahaya Tiongkok” 
didengungkan AS yang hendak memperkuat cengkramannya kembali di Asia dan dunia, 
setelah melihat pengaruh Tiongkok makin meluas kemana-mana. Termasuk di 
Indonesia tentunya. Tidak segan-segan menggunakan begundal-begundalnya 
mengangkat isu Tionghoa dan Tiongkok, untuk bangkitkan KEBENCIAN terhadap etnis 
Tionghoa yang dikaitkan dengan negeri leluhurnya Tiongkok Komunis. Begitulah 
mereka menyerang dan menghujat Ahok, bukan hanya menyerang pribadi Ahok yang 
kebetulan etnis Tionghoa saja, tapi lebih jauh menarik Ahok begitu ngotot 
meneruskan rekalamasi pulau G itu mempersiapkan Tiongkok Komunis menguasai 
Indonesia. Nyaris semua perumahan mewah disitu akan menjadi milik Tionghoa! 
Bahkan mereka sudah meneriakkan pemerintah Jokowi sekarang sudah dikuasai 
Tiongkok, Tiongkok Bisa menjadi Investor terbesar di Indonesia! Sejak tahun yl. 
kantor berita Reuter yang disiarkan VOA. 
(http://www.voaindonesia.com/a/china-bisa-jadi-investor-terbesar-untuk-indonesia-jika-presiden-pangkas-birokrasi/2824212.html
 ), kemudian BKPM sendiri juga menandaskan, Invesatasi Modal Tiongkok, meroket 
naik 400% dikwartal pertama tahun 2016 ini! 
(http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/25/123500826/Investasi.China.ke.Indonesia.Meroket.Naik.400.Persen.di.Kuartal.I.2016)
  Jadi nampak jelas, memang makin membesar investor Tiongkok masuk Indonesia, 
tentu akan mendesak dan mengancam pemasukan komisi yg didapatkan sementara 
pejabat yang selama ini menjadi agen modal AS, Jepang, Singapore, ...! Dan, ada 
sementara pejabat yang dirugikan, merasa terancam berat dan berusaha TETAP 
mempertahankan Indonesia tetap dikangkangi AS-Jepang! 

Salam,
ChanCT


-----原始郵件----- 
From: DR. Alexander Tjaniago 
Sent: Wednesday, October 5, 2016 1:32 AM 
To: DR. Alexander Tjaniago ; [email protected] ; Chan CT ; 
[email protected] 
Subject: Re: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa 

Hello Bung Chan CT. 

Memang agaklama kita takjumpa di GELORA45, itu bukan berarti saya "menghilang" 
atau bertapa di Gunung Kidul untuk memperoleh wahyu-wahyu animisme bermacam 
bentuk Kesaktian, di Abad ke-XXI, seperti Kesaktian Pancasila yang 
dibual-bualkan oleh pada Jendral TNI untuk menutupi pengkhianatan para Jendral 
TNI terhadap Republik Indonesia dan terhadap Bangsa Indonesia, untuk menutupi 
Pembunuhan Massal yang dilakukan oleh TNI semenjak setengah Abad ini.

Beberapa waktu yang lalu saya banyak "berkeliaran" di Regional ASEAN dan di 
Regional Central Asia ( di Kazakhstan, Kyyrgyzstan, Uzbekhistan, Tajikistan. 
Turkmenistan (dan di daerah Masel e Syarif, perbatasan Tajiskistan,Uzbekistan, 
dengan Afghanistan, sekitar 80 s/d 100 KM dari Kabul), dan di Azerbaisan (Laut 
kaspia), perbatasan dengan Turki dan Armenia, dan di regional ini saya 
mempelari dari dekat/di Lapangan "Impact of the Barbarism of the Global Empire 
USA" yang menghancurkan seluruh khazanah Kehidupan normal Manusia dii Timur 
Dekat dan di Timur Tengah dan kini berhadapan langsung dengan kekuatan Militer 
Russia, yang membela Pemerintahan Nasional Suryah, dengan Presiden Assad.

Negeri-Negeri ex-Uni Sowyet tsb. diatas dikenal sebagai negeri-negeri dengan 
Pengaruh Islam yang kuat, sampai dengan pertengahan Abad ke-XIX, sampai dengan 
mereka berada dalam system Sowyet Union.
Kini, Masyarakat Central Asia, baik Pemerintahan, pun Partai-Partai Politik, 
pun Ormas-Ormas, sampi kepada kesimpulan mengenai aktivitas ISIS sebagai 
"Fiasco of the Renaisance of the Islam", pertama-tama, karena ISIS didirikan 
oleh USA untuk kepentingan Politik Kekuasaan USA di Timur Dekat dan Timur 
Tengah.
Selanjutnya,  mengenai Kehidupan Politik, Ekonomi,Hubungan Sosial dan Keamanan, 
akan disambung nanti,  harus disusun secara systematis.

Dan kini, kita hangati "kevakumen"beberapa waktu ini, dengan membahas Thema 
yang Bung paparkan disini "Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa", sebuah 
Thema yang kelihatannya sederhana, kalau dilihat jauh kedalam, maka akan 
terlihat masalah yang sangat prinsipil dalam kehidupan Umatmanusia dari 
beberapa ratus Tahun kebelakang, terutama semenjak Abad  ke-XV s/d hari ini, 
yang bernama GLOBALISASI pertama, yaitu ketika Inggeris, Portugal, Spanyol, 
Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, dengan kekuatan Militer/Armada Laut yang 
kuat melakukan annexi Territorium, Perampokan Hakmilk, Pembunuhan Manusia, 
termasuk Pembunuhan Massal terhadap Pribumi/Bangsa Indian,Perbudakan,Perampokan 
dan Penjualan Manusia, untuk kepentingan pertumbuhan Perekonomian Europa, yang 
berlangsung lebih dari Tiga Ratus Tahun,GLOBALISASI pertama.

Di Nusantara, terutama ketika VOC, untuk kepentingan GLOBALISASI-Perekonomian 
Belanda,merangkul Etnis China sebagai petugas-petugas dari kekuasaan Militer 
Kolonialisme Belanda di Perkebunan-Perkebunan,dibagian-bagian produksi 
pertanian lainnya, untuk kepentingan Pasar Europa,ditempat-tempat pekerjaan, 
seperti Daendel yang membuat Jalan sepanjang Pulau Jawa, etc. dan pada proses 
pekerjaan terjadi konflikt antara Pribumi dengan Etnis China, yang bekerja 
sebagai para Petugas kekuasaan Belanda, Kekuasaan Kolonialisme Belanda 
membutuhkan konflikt tsb. dan para Pribumi mulai adanya prejudis anti-etnis 
China. Also,  Kebencian Terhadap Etnis China adalah produk dari GLOBALISASI 
kekuasaan Kolonialisme di Nusantara/Indonesia, itu bukan natur dari  penduduk 
di Nusantara, yang kemudian bernama Bangsa Indonesia.

Phenomenal seperti itu juga terlihat di Asia, Afrika,  Latin-Amerika, konflik 
Etnis, sebagai peninggalan dari system GLOBALISASI-pertama, kekuasaan Militer 
dan Perekonomian Europa, yang kini dipergunakan sedemikian rupa oleh Global 
Empire USA, untuk kepentingan GLOBALISASI kekuasaan Militer dan Perekonomian 
USA di arena Internasional.

Perbedaannya,pada GLOBALISASI pertama kekuasaan Militer dan Perekonomian 
Europa,yaitu  Negara-Negara Europa berjalan sendiri-sendiri, tanpa Persatuan 
kekuatan Europa, dan di Europa sendiri terjadi beberakali Perang GLOBALISASI 
Europa, perubahan-perubahan batas-batas Negara, yang lebih terkenal Perang 
Dunia Pertama dan Perang Dunia kedua.

Dengan dihancurkannya Fasisme Jerman Hitler oleh Uni Sowyet, system Kolonial 
GLOBALISASI pertama juga hancur dan Uni Sowyet membantu Rakyat-Rakyat yang 
berjuang untuk membangun Pemerintahan Nasional, yang terlepas dari GLOBALISASI 
kekuasaan Kolonial, termasuk membantu Republik Indonesia, dan Uni Sowyet adalah 
Negara pertama di Dunia yang mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia.

Trumen, Presiden USA, mengumpulkan semua pelaku GLOBALISASI pertama, yang 
bertekuklutut pada Hitler Tahun-tahun 1939-1940an dan memasukkan mereka pada 
Club yang bernama NATO, untuk kentingan GLOBALISASI kedua, yaitu GLOBALISASI 
kekuasaan USA di Europa dan sebagai batuloncatan  dari kekuasaan Militer USA ke 
Regional lainnya. Trumen memberi mereka BOGEYMAN, yaitu musuh utama mereka Uni 
Sowyet.
Dan anti-Etnis China atau anti-China secara keseluruhan, kini ditiupkan bukan 
lagi oleh Penduduk atau bagian-bagian dari Suku Bangsa di Indonesia, atau oleh 
Bangsa Indonesia secara keseluruhan, melainkann oleh kekuasaan Negara yang kuat 
di Dunia yaitu USA dan Europa Union,
"Bahaya China atau Bahaya expansi China" bisa ditemukan dalam Media di USA", 
dan Washington-Administration berusaha "membantu" Vietnam, Tailand, Birma, 
untuk berkonfrontasi dengan RRT GLOBALISASI kini mengambil wajah baru yaitu 
Perdagangan Bebas Asia & Pacific Regions artinya, siapa yang mempunyai 
kekuasaan Militer yang kuat, akan bisa merampok semua, apasaja yang dia 
inginkan.
Di Jakarta dibangun seizin Jendral USA Bambang Susilo Yudoyono, Presiden R-.I., 
Panglima Tertinggi TNI, "PENTAGON kedua" yang luas dengan tehnik Modern, untuk 
menginfiltrais China/RRT, Russia, India, dan sekitar dan inilah GLOBALISASI dan 
PERDAGANGAN BEBAS Asia & Pacific.
Nasib R.I. dan Bangsa Indonesia?
Dengan Kebencian terhadap “Etnis-China" atau Kebencian terhadap RRT secara 
keseluruhan, keberadaan Republik Indonesia dimasa depan yang dekat sangat 
dipertanyakan; atau Kepulauan Indonesia akan berobah menjadi aircraft carrier 
Militer USA dan Penduduk Indonesia boleh tinggal mendiami prairie, seperti 
nasib Bangsa Indian di USA.

Inilah sedikit ulasan untuk Thema yang Bung ajukan, dan  dalam Bahasa Jerman 
dibilang "Du bist schlau" atau "you are clever", Bung letaklkan Thema yang 
kelihatannya sederhana,sesungguhnya, Thema yang menyangkut kehidupan normal 
Manusia, dahulu, empat ratus Tahun yang lalu, hari ini dan massa depan yang 
panjang - Rasialisme,  yang berkar dari Sumber dan cara pembangun Kehidupan. 
Apakah akan bisa dicapai:

"Leben einzelner wie ein Baum; kammeradlich wie ein Wald, ist unsere Sehnzucht.
"Kehidupan setiap Orang seperti Beringin yang rindang; bersaudara seperti Hutan 
lebat; Inilah kerinduan kita".

Salam hangat Bung Chan CT,

  Tjaniago

--------------------------------------------
Pada Jum, 30/9/16, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

Judul: Re: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa
Kepada: "DR. Alexander Tjaniago" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected]
Tanggal: Jumat, 30 September, 2016, 5:47 PM


 



   


     
       
       
       



Bung Tjaniago yb,
 
Kemana bung menghilang selama ini, kok
baru sekarang mulai 
bersuara. Beberapa hari yl. mengaduk-aduk tulisan lama
mengenai “Kapitalisme 
Negara” yang diajukan Lenin, ternyata bung yang nulis, ...
kalau berdeasarkan 
bhs. Rusia mestinya “Perusahaan Negara”? Kok ternyata
jauh benar 
bedanya?
 
Dahulu kala, seringkali terdengar etnis
Tionghoa, dinyatakan 
suku yang rajin, hemat, bahkan koloni Belanda khusus
mendatangkan kuli Tionghoa 
untuk kerjakan tambang timah di Bangka-Belitung. Kuli-kuli
yang dianggap lebih 
tangguh mengerjakan tambang dengan susah payah. Barangkali
ini disebabkan karena 
KONDISI kehidupan di Tiongkok daratan selama ribuan tahun
yang memang jauh lebih 
BERAT dibanding negara lain, khususnya Indonesia. Tanah
kurang subur bahkan 
tandus, melewati 43 musim bahkan bertubi-tubi dilanda
bencana alam, tidak 
banjir, ya kering, taifoon dan gempa-bumi, ... itulah yang
membuat bangsa 
TIonghoa tergembleng menjadi lebih KERAS, kalau tidak begitu
mati.
 
Lalu, ada penulis dibidang pendidik
menyatakan, ciri-ciri 
bangsa Tionghoa yang dikenal dahulu itu bisa dikatakan pudar
pada generasi muda 
yg lahir ditahun 70-an, ... Mengapa? Itu akibat pembatasan
hanya boleh anak 
tunggal berkepanjangan, akibatnya si anak dirumah terlalu
dimanja, bukan saja 
oleh 2 orang-tuanya saja, tapi juga oleh 4 kakek-neneknya yg
hanya ada 1 cucu 
itu! Jadi lebih parah, kesejahteraan juga sudah meningkat
banyak. Itu anak yang 
dimanja 6 orang tua, sejak kecil bukan saja tidak mengalami
kekurangan, mau apa, 
minta apa PASTI dapat dengan mudah! Mana tidak ada kebiasaan
harus bertoleransi, 
ngalah pada sesama saudara, setelah dewasa, juga jadi
seperti rajaperang mau 
menang sendiri, tidak ada lagi usaha dan kerja keras untuk
mendapatkan yang 
diinginkan. Minta dilayani saja! Dan sudah tidak ada
sedikitpun rasa harus 
berhemat-hemat lagi, ... Jadi, tugas GURU disekolah harus
kembali menekankan 
ciri-ciri suku TIonghoa yang membuat bangsa ini unggul harus
tetap dipelihara 
dan terus terbawa oleh generasi muda, ... lalu, dihimbau
orang-tua dirumah juga 
harus ikut memperhatikan dalam mengasuh anaknya. Menarik
juga, ya! Jiwa, 
karakter manusia bukan lahiriah, tapi diciptakan dalam
kondisi hidup yang 
dilewati! Waaah, kalau begitu pertahankan kondisi tetap
dalam kemiskinan lebih 
baik??? Hehehee, ...
 
Salam,
ChanCT
 


 

From: 'DR. Alexander
Tjaniago' [email protected] 
[GELORA45] 
Sent: Friday, September 30, 2016 11:02 PM
To: [email protected]
; 
Chan CT ; [email protected]

Subject: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian
Terhadap Etnis 
Tionghoa
 
 


Hello Bung Chan CT, saya mempunyai Sahabat yang banyak
dari Ethnis Tionghoa, 
yang pada umunya, atau sebagian besar, aktif dalam urusan
business atau urusan 
Perekonomian: seperti urusan transport ( Guan Chun transport
Padang - Sungai 
Penuh di akhir Tahun 1950an), urusan Apothek, urusan
Kebudayaan seperti 
perFilm-an, Sport -Badminton, Baskettball, etc. dan saya
tidak pernah merasa 
adanya kebencian timbalbalik, melainkan persahabatan
Kemanusiaan yang normal. 
"Kebencian yang Bung konstatasi, itu berjalan diatas
hubungan Perekonomian, 
diantaranya perebutan Pasaran barang dagangan. Kebanyakan,
diantara pemBusiness 
Etnis Tionghoa adanya salingbantu dalam Kapital, dan mereka
mampu 
merebut/menguasai Pasaran. Ini terjadi diseluruh Dunia,
dimana saya, dan apapun 
nama Bangsanya,Kapital menentukan hubungan dalam urusan
Perkonomian ( c+v+m), 
m-tersebut kebanyakan dari yang tidak mempunyai Kapital atau
Buruh yang menjual 
Tenagakerjanya.Justru itu, Kebencian terhadap Etnis Tionghoa
tidak beraalsan 
rasialisme. Keluarga Jendral ORBA Suharto dan SBY menguasai
banyak Cabang-Cabang 
Perekonomian di Indonesia, malah sampai ke Perbanken,juga
dibenci oleh Etnis 
Jawa yang miskin.

Dari
persahabatan saya dengan Etnis asal Tionghoa, 
terutama di BAPERKI, satu yang saya peroleh dengan baik:
pada umumnya mereka 
rajin bekerja dan 
belajar!!!
--------------------------------------------
Pada Jum, 16/9/16, 
'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> 
menulis:

Judul: [GELORA45]
Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa
Kepada: "GELORA_In"
<[email protected]>, 
[email protected]
Tanggal: Jumat, 16
September, 2016, 10:16 
AM


 













 


 

From: 
Saafroedin
Bahar 
Sent:
Friday, September 16, 2016 3:31 PM
To: Chan 
CT

Subject: Re: Sejarah
Kebencian Terhadap Etnis 

Tionghoa
 
Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu
thesis saya 
tersebut. 
Saya lulus Program S3 UGM th
1996. Berbagai pertanyaan 
Bung
tersebut sudah saya 
teliti dan saya jawab dalam disertasi saya 
itu.  
Salam.

Kamis, 15 September 2016, Chan 
CT 
<[email protected]>

menulis:





 


 

From: 
mailto:GELORA45@yahoogroups.
com 
Sent: Thursday, September 15, 2016 
7:07
PM
To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');


Subject: RE: 
[GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian
Terhadap
Etnis 

Tionghoa
 
 





Bagus 
dan sori 
memang saya menulis integritas tetapi bukan itu
maksud 
saya.
Saya mau 

dan seharusnya menulsi: integrasi bukan 
integritas.
Dari 
kacamata 
umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah
integrasi nasional 
itu 
melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya
keliru? Disini 

kebingungan saya. Kalau ada waktu dan
kesempatan saya mau
baca thesis 
bung. 
Saya tidak tahu apakah itu disertasi
S3 atau S2. Tetapi
ketika saya 

menggunakan kata thesis, saya refer ke
artinya saja:
hipotesa. Saya tidak 

refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi
saya itu tidak
penting. 



Yang 
saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya
harus 
dilihat
dari kacamata minang 
ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat 
bagaimana
terjadinya RI itu 
sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam 
pembentukan
RI. Bagi saya ini 2 
hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. 
Kenapa? Karena
penekanannya yg 
berbeda.  Yang satu ke “begitu 
pentingnya” RI, yang
lain melihat 
terbentuknya suatu republic karena 
adanya tujuan bersama
dari bangsa2 yang 
sudah ada dinusantara itu 
termasuk bangsa 
minang.

Salam
Nesare




From: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');

[mailto:GELORA45@yahoogroups. 
com] 
Sent: Wednesday, 
September 14, 2016 7:36 PM
To:
GELORA_In 
<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>;

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
Subject: 

[GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap
Etnis 
Tionghoa

   














From: Saafroedin 
Bahar


Sent: 
Wednesday, September 14,
2016 11:45
PM

To: 
javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');



Subject: 
Re: 
Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
Tionghoa



Bung 

Nesare, tak usah bingung, dan jangan 
mencampuraduk
" integrasi " 
dengan 
" integritas ". Integrasi
Nasional adalah proses
menyatukan tiga 
unsur negara, 
yaitu Rakyat, Wilayah, dan
Pemerintah, menjadi 
satu
kesatuan yg utuh. Etnik 
adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti 
proses integrasi
etnik Minangkabau ke 
dalam NKRI, sebagai salah satu 
etnik dari demikian banyak
etnik di 
Indonesia.  

Terima 

kasih atas perhatian Bung thd tesis saya.
Jika Bung
berminat, bisa 
membacanya 
di Perpustakaan Pascasarjana
UGM
Yogyakarta.

Salam. 



On
Wednesday, 14
September 2016, Chan CT 
<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>

wrote:












From: 
mailto:GELORA45@yahoogroups. com 


Sent: 
Wednesday, September 14, 
2016 6:01
PM

To: 

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
[email protected]'); 



Subject:
RE: 
[GELORA45] Re: Sejarah Kebencian
Terhadap Etnis 

Tionghoa



   





Saafroedin:

Pak 
Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian
ttg Integrasi 

Nasional ini. Saya mempertahanan tesis
saya  ttg etnik
Minangkabau 
di 
UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi
Nasional dari
etnik Tionghoa ini 
belum 
ada. 

Nesare: 
saya jadi bingung baca
kalimat ini. koq bisa 
ya tesisnya
mempertanyakan 
integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di 
Indonesia
ke republic muda 
yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah 
peleburan
dari suku2 bangsa itu. 
Koq kenapa harus dipertanyakan 
integritas suku2 bangsa
itu? 

Seharusnya 
yang dipertanyakan itu 
adalah kenapa RI yang muda itu
menyepelehkan
komitmen 
suku2 bangsa yang 
dulunya sudah selesai dalam membentuk
yang
namanya NKRI 
yang berazaskan 
Pancasila.
Seharusnya 
ini
tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana 
isi
tesis saafroedin di 
UGM
ini? apa yang mau dibuktikan dengan 
tesisnya
ini?
Nesare


From: 

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
[email protected]'); 
[mailto:GELORA45@yahoogroups. com] 
Sent:

Wednesday, September 14, 2016 
5:11 AM
To: 

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected]') 
;
Subject: 
[GELORA45] Re:
Sejarah Kebencian Terhadap 
Etnis
Tionghoa
   







Pak 
Saafroedin 
yb,

Sebenarnya 
saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah

terjadi
perdebatan sengit 
dalam masalah penyelesaian Tionghoa di 
Indonesia, pihak
BAPERKI mengajukan 
konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang 
menekankan Tionghoa
harus mengintegrasikan

dirinya dalam masyarakat 
Indonesia, dengan tetap
diperkenankan
mempertahakan 
budaya-adat istiadat 
dan agama yang dianut. Cukup
BERSATU, hidup
bersama, 
bekerja dan berjuang 
bersama dengan RAKYAT disegala
bidang saja.
Sedang 
pihak LPKB, Lembaga 
Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan
konsep
“ASIMILASI” 
atau pembauran 
yang menekankan dan berusaha
menghilangkan
identitas 

ke-Tionghoa-an.  Diawali dengan gerakan
Ganti-nama,
menggantikan 
nama 
Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu,
dengan nama-nama
yang bisa 
dikatakan 
Indonesia, lalu menganjurkan
kawin-silang dengan
suku-suku lain 
untuk 
menghilangkan ciri biologis
Tionghoanya, bahkan, ...
sementara 
tokoh LPKB 
itu lebih radikal lagi, juga
ganti Agama, 
menjadi
ISLAM!

Sekalipun 
diawal mula
tokoh-tokoh LPKB itu 
menandaskan usaha
asimilasi yang diserukan

sepenuhnya dan sedikitpun 
TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN,
tapi kemudian
dalam 
praktek, setelah 
disodorkan pada jenderal Soeharto dan
diambil oper oleh 
Pemerintah
masa 
ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan
Pemerintah, tidak 
bisa tidak 
mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani
tidak ikut gerakan 
ganti 
nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak
“SETIA pada RI”! 

Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan
pelarangan
peneggunaan aksara 

bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan
merayakan Imlek
dan beribadah 
secara 
terbuka, ... Itulah TEKANAN atau
derita yang menimpa
mayoritas 
mutlak 
Tionghoa di Indonesia selama lebih
32 tahun dibawah
kekuasaan 

Soeharto.

Dipihak 
lain, jenderal
Soeharto justru menggunakan 
dan
bersekongkol dengan 
segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya 
dirinya,
... dalam waktu 
singkat muncullah konglomerat-konglomerat 
Tionghoa yg
mendapatkan fasilitas 
istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto 
yang memberikan
hak MONOPOLI dan 
MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat 
Tionghoa ini
dengan makin meluaskan 
cakar mereka bersama anak-anak 
Soeharto, justru membuat
makin RUSAK 
membusuknya birokrasi pemerintah. 
Jadi, begitu dilanda
krismon akhir tahun 
97, meledaklah semua gelembung 
balon itu satu persatu,
... Keadaan menjadi

lebih celaka, karena begitu 
BLBI dikucurkan justru
digondol lari keluar
dari 
Indonesia oleh 
kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang
membuat KEBENCIAN 
rakyat pada 
Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di
Indonesia yang tidak 
bersalah 
dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA
mendapatkan 
perlindungan 
dari aparat keamanan! Padahal nasib
mayoritas mutlak TIonghoa 
di 
Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah
juga KORBAN dari 

persekongkolan yang terjadi antara penguasa
dan
pengusaha, khususnya 

konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu!
Tapi,
kenyataan mayoritas 
mutlak 
TIonghoa yang kena getahnya, sedang
yang konglomerat
TIonghoa, 
yang bersalah 
dan berdosa itu justru
aman-aman menikmati harta
kekayaan 
yang digondol 
sampai sekarang ini.

Nah, 
dari
kerusuhan-kerusuhan 
anti-Tionghoa yang berulangkali
terjadi di

Nusantara ini, sayapun melihat 
ada satu penyakit dalam
masyarakat, 
berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja 
dengan mudah
mengkaitkan kesalahan dan 
dosa seseorang dengan suku, etnis 
atau Agama yang
dianutnya. Masih belum 
bisa memperlakukan kesalahan/dosa 
seseorang SEPENUHNYA
adalah tanggungjawab

orang bersangkutan, yang tidak 
seharusnya menyeret orang
lain yang tidak
ada 
hubungan dengan kasusnya. 


Salam,

ChanCT




From: 
Saafroedin Bahar 


Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM

To: 

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected]') ; 


Subject: Re: 
Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa

Pak 
Chan, kebetulan

minat
pribadi saya adalah penelitian ttg 
Integrasi
Nasional ini. Saya 
mempertahanan tesis saya  ttg etnik 
Minangkabau di UGM
th 1996. Rasanya 
kajian Integrasi Nasional dari etnik 
Tionghoa ini belum
ada. 


Salam.  


On Wednesday, 
14
September 2016, Chan CT 

<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
[email protected]');> 

wrote:





Pak 
Saafroedin yb,

Terimakasih 

atas respon yang diberikan. Sayapun
bergembira dan
sangat SETUJUUUU 
dengan 
istilah “INTEGRASI NASIONAL”
sehubungan dengan
masalah etnis 
Tionghoa yang 
masih terjadi di negeri ini.
Satu pemikiran dan
semangat 
kebersatuan 
BANGSA INDONESIA saat
mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928
yl! Satu 
semangat 
Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha
mempertahankan
kehidupan 
HARMONIS dalam 
bermasyarakat majemuk di
Nusantara ini,
...

Jadi 

yang diangkat bukan berusaha
“MENGHILANGKAN”
segala perbedaan
diantara 

suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan
“PEMBAURAN/ASIMILASI” yang 

terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan
paksaan
administrasi dikeluarkannya 

ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi
berusaha keras
dengan penuh 

kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA
dan
MENGHORMATI” setiap umat 
manusia 
yang hidup didunia ini! Agar setiap
kita bisa menerima
dan 
menghormati 
setiap umat manusia yang hidup
didunia dengan 
segala
perbedaan yang ada, 
ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda 
Agama,
beda budaya bahkan beda 
pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha 
menuntut
orang lain agar sama 
dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan 
kekerasan,
...!

Syukurlah 
kalau bung Salim
dengan Institut 
Peradaban bisa
membahas masalah kebencian

terhadap etnis Tionghoa 
ini.

Salam,

ChanCT




From: 
Saafroedin Bahar 


Sent: 
Wednesday, September 14, 2016 6:01 AM

To: 

javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
[email protected]') ; 


Subject: 
Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis
Tionghoa

Pak 
Chan, sudah 
saya baca. Masalah ini memang
salah satu masalah
integrasi 
nasional kita 
yg belum selesai dan perlu
dicarikan alternatif
solusinya 
yang lebih baik. 
Saya mendukung rencana
bung Salim dari 
Institut
Peradaban utk membahas 
masalah ini.  


On
Thursday, 8 September 2016, Chan CT 

<javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
[email protected]');> 

wrote:




Sejarah
Kebencian 
Terhadap Etnis 
Tionghoa
Reporter:

Arman 
Dhani
01
September, 
2016dibaca 
normal 4:30 
menit
https://tirto.id/20160901-39/
sejarah-kebencian-terhadap- 
etnis-tionghoa-315429?utm_
content=buffer95c12&utm_ 
medium=social&utm_source=
facebook.com&utm_campaign= buffer 

Sejumlah anak etnis 
Tionghoa mengikuti lomba bola terong di 
halaman
Klenteng Kwan Kong, 
Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Adwit 
B
Pramono
share 
foto    
INTI

BERITA 



·         
Kebencian 
terhadap etnis 
Tionghoa merupakan hasil
dari politik pecah belah 

Soeharto.
·         
Kebencian 
terhadap kelompok 
Tionghoa bisa dilacak
hingga empat ratus tahun yang 

lalu
·         
Kebencian 
rasialis yang 
akhir-akhir ini coba
dikobarkan sebenarnya bermula
dari 
politik 
pemisahan identitas
Kebencian 
rasialis dan
penindasan 
terhadap kelompok minoritas
Tionghoa di 
Indonesia semakin hari semakin 
mengkhawatirkan.
Kelompok Tionghoa 
kerapkali distigma pelit, kaya dengan 
cara culas,
dan menindas pribumi. 
Padahal masyarakat Tionghoa sudah turun 
temurun
hidup di Indonesia 
selama ratusan tahun.
tirto.id

- Di 

sebuah halte TransJakarta Senayan JCC,
Jumat malam,
26 Agustus 2016 

seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew
Budikusuma,
mengaku dipukuli 

oleh sejumlah pria. Tidak hanya dipukuli,
Andrew
diteriaki dan dihina 

dengan kata-kata merendahkan yang
menunjukkan sebuah
gejala kebencian 

rasialis. Ia juga dituduh sebagai Ahok,
panggilan
Gubernur DKI Jakarta 

Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan
keturunan
Tionghoa. Akar kebencian 

rasialis terhadap kelompok minoritas
Tionghoa di
Indonesia rupanya masih 

ada.

Sejarah
mengulang dirinya
sendiri.  Pertama sebagai 

tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon.
Sebelum
tragedi pemukulan ini, 

kelompok Tionghoa di Indonesia sudah
mengalami
banyak diskriminasi. Mei 

2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia
(KAMMI) melakukan protes 

terhadap Jokowi dan JK yang dituduh membela
kelompok
Asing dan Aseng. 

Asing merujuk kepada negara/pemerintahan
asing yang
melakukan intervensi 

ekonomi di Indonesia, sementara Aseng
merujuk kepada
kelompok minoritas 

Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan
besar
dalam bidang ekonomi di 

Indonesia.

Apa
sebenarnya yang menjadi
akar dari sentimen rasial 

terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?
Penelitian Amy
Freedman dari 

Franklin and Marshall College, Amerika
Serikat,
menyebutkan bahwa 

kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan
hasil
dari politik pecah 

belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian
berjudul
Political Institutions 

and Ethnic Chinese Identity in Indonesia,
Freedman
menyebut Soeharto 

memaksa masyarakat Tionghoa untuk
melakukan
asimilasi sembari 

mengidentifikasi mereka sebagai bukan
pribumi.

Sebagian kecil 

etnis Tionghoa di Indonesia pada masa
Soeharto
menikmati berbagai 

fasilitas investasi sehingga menjadi sangat
kaya.
Sekelompok kecil ini 

akhirnya dianggap sebagai representasi
seluruh etnis
Tionghoa, sebagai 

kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya
kekayaan
dengan cara yang 

culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998
membuat
pembedaan ini menjadi 

semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di
berbagai
kota di Indonesia 

menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai
sasaran 

kebencian.

Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa
dilacak 

hingga empat ratus tahun yang lalu. Dalam
Jakarta: Sejarah 400 
tahun 
karya Susan Blackburn dituliskan, masyarakat
Tionghoa sudah ada 
sebelum 
kedatangan Belanda. Relasi antara masyarakat
Tionghoa dan 
penduduk 
setempat saat itu setara sebagai rekan
pedagang. Ketika VOC 
masuk, 
kondisi berubah. Masyarakat Tionghoa
dimanfaatkan VOC sebagai 
rekan

bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa
ketimbang kebanyakan 
masyarakat 
setempat.

Hubungan mesra
antara masyarakat Tionghoa 
dan VOC tidak 
berlangsung lama. Pada Oktober 1740
seperti
yang ditulis 
Blackburn, 
wilayah sekitar Batavia menjadi saksi
pemberontakan petani 
Cina.
Sambil 
membawa senjata buatan sendiri para
kuli
Cina berbaris 
menuju kota, 
tempat ratusan kawan sebangsanya
tinggal di
dalam dinding 
kota. Meskipun 
orang Cina yang tinggal di kota
sedikit
sekali atau sama 
sekali tak 
berhubungan dengan orang Cina di luar
dinding kota, beredar 
isu
bahwa 
mereka berencana membantu para
pemberontak.

Kecurigaan 
dan 
paranoia orang Eropa serta pribumi membuat
kondisi memburuk. Mereka 

secara spontan menyerang balik para
Tionghoa ini.
Tidak hanya membunuh 

mereka juga menjarah dan membakar
sekitar
6.000-7.000 rumah orang 

Tionghoa. Adrian Volckanier Gubenur
Jenderal saat
itu mengeluarkan surat 

perintah: bunuh dan bantai orang-orang
Tionghoa.
Sebanyak 500 orang Cina 

yang dipenjara di Balai Kota satu per
satu
dikeluarkan lalu dibunuh 

dengan keji. Selama seminggu, kota terbakar
hebat
dan kanal-kanal 

menjadi merah karena darah dan korban
mencapai
10.000 orang. Peristiwa 

pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini
dikenal
dengan Geger 

Pecinan.

Tapi Geger
Pecinan bukan
satu-satunya momen berdarah 

bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Dalam buku
Tionghoa dalam Pusaran 

Politik karya Benny G Setiono
disebutkan, pembantaian etnis 
Tionghoa 
juga terjadi pada masa Perang Jawa
(1825-1830). September 1825, 
pasukan 
berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku
Buwono I, Raden Ayu 

Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di
perbatasan
Jawa Tengah-Jawa 

Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo.
Dalam
perjalanan itu banyak 

orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli
anak-anak
atau perempuan. Mereka 

dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong
dibiarkan di 

jalanan.

Kebencian
terhadap etnis
Tionghoa sebenarnya merupakan 

konstruksi sosial yang dibikin oleh
penguasa, baik
Belanda maupun Jawa. 

Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga
Tionghoa
di majalah 

Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah,
beberapa
kali etnis Tionghoa 

menjadi sasaran amuk massa. Mulai
Chinezenmoord 1740
sampai Mei 1998. 

Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa
saat itu
membenci orang 

Tionghoa karena menjadi bandar-bandar
pemungut
pajak.

Orang-orang 

Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan
bandar-bandar pemungut pajak di 

jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan,
pangkalan di
sungai-sungai dan 

pasar. Melihat efektifnya orang-orang
Tionghoa
memungut pajak, Belanda 

dan Inggris melakukan hal yang sama di
daerah-daerah
yang telah 

dikuasainya. Tragedi pembantaian Perang
Jawa membuat
kebencian antara 

Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang
Tionghoa
menjadi takut 

terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa
menganggap
Tionghoa sebagai 

mata duitan dan pemeras.

Kebencian ini mendarah daging,
menyebar 

luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau
penjelasan.
Kebencian menahun 

ini yang kemudian berkembang di Indonesia.
Hendri F.
Isnaeni menulis 

bahwa pada awal abad ke-20, kembali
tercatat
peristiwa rasial terhadap 

etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo
pada 1912
dan kerusuhan di Kudus 

pada 1918. Pada masa revolusi, kembali
terjadi
gerakan anti etnis 

Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang
pada
Mei-Juli 1946, Bagan 

Siapi-api pada September 1946, dan
Palembang pada
Januari 

1947.

Tragedi
terhadap masyarakat
Tionghoa berikutnya terjadi 

pada saat 1965. Cina yang menjadi negara
komunis
besar saat itu dianggap 

punya peran dalam Gerakan 30 September 1965
(G30S).
Banyak masyarakat 

Tionghoa saat itu yang menjadi korban
karena
dianggap komunis atau 

mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak
berhenti
sampai situ saja, 

orang-orang Cina dianggap sebagai cukong
dan pemeras
harta masyarakat 

lokal. Di sini ide primordial pribumi
melawan
pendatang menjadi 

legitimasi untuk melakukan kejahatan.


share 

foto


Dalam 
konteks yang lebih
modern ada dua 
peristiwa
diskriminasi dan kekerasan 
yang sangat keji terjadi terhadap 
tenis Tionghoa.
Pertama adalah 
pembantaian terhadap 30.000 orang etnis 
Tionghoa di
Provinsi Kalimantan 
Barat pada 1967 atas nama 
PGRS/PARAKU.  Elsam
menyebut terjadi 
pembersihan etnis dalam 
peristiwa ini, sementara
dalam buku 
Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, 
disebutkan
setidaknya ada 27.000 orang 
mati dibunuh, 101.700 warga 
mengungsi di Pontianak
dan 43.425 orang di

antaranya direlokasi di 
Kabupaten Pontianak.

Selanjutnya tentu 
saja
peristiwa kerusuhan 1998. 
Saat itu etnis
Tionghoa menjadi korban 
kekerasan, penjarahan dan 
diskriminasi hebat. Gejala
Xenofobia ini 
merupakan buntut dari 
kesenjangan ekonomi dan
kebencian berdasar

prasangka kepada etnis 
Tionghoa. Saat peristiwa ini
terjadi banyak

perempuan-perempuan Tionghoa 
yang diperkosa, tokonya
dibakar dan usaha

milik mereka dirusak. Kasus ini 
tak pernah selesai
sampai hari ini dan 
pelakunya tak pernah 
diusut.

Negara juga
berperan menjadi aktor 
dalam penyulut
kebencian 
terhadap etnis Tionghoa.
Melalui Surat
Edaran 
Presidium Kabinet Ampera 
Nomor 06 Tahun 1967, negara
berperan
melakukan 
identifikasi rasial dan 
segregasi identitas. Surat
itu adalah upaya

penyeragaman penyebutkan 
kelompok etnis
“Tionghoa” yang dianggap

mengandung nilai-nilai yang 
memberi
asosiasi-psykopolitis yang negatif

bagi rakyat Indonesia, menjadi 
“Cina” yang
dianggap lebih
“dikehendaki 
untuk dipergunakan oleh
umumnya 
Rakyat
Indonesia.”

Indarwati 
Aminuddin, seorang
penulis, pernah 
menyusun laporan
menarik tentang 
Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa 
pada 2002.
Laporan itu dengan 
bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh 
mana
pencantuman identitas 
rasial seseorang relevan dalam 
laporan/karya
jurnalistik. Profiling atau

penyosokan menjadi relevan 
untuk menjelaskan konteks
identitas
seseorang 
dalam pemberitaan. Maka 
Indarwati mengatakan bahwa
atribusi yang
relevan 
membantu publik memahami 
persoalan dengan lengkap.
Namun, atribusi
yang 
tak relevan justru 
menciptakan kesan bahwa kesalahan
seseorang
terkait 
dengan identitasnya, 
entah itu suku, agama, ras atau

bahasa.

Indarwati
lantas 
memberikan sebuah contoh dari berbagai 
media di Indonesia yang melakukan 
profiling terhadap
etnis Tionghoa 
dalam framing berita. Frasa seperti 
“warga
keturunan”dan “pribumi” kerap

disandingkan untuk menjelaskan 
posisi korban dan
pelaku. Dalam 
tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa 
media
sekelas Tempo pernah 
melakukan profiling dengan tendensi 
rasis.

Berita yang berjudul

“Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 
25
Februari-03 Maret 2002, Tempo 
menuliskan tentang Bank Central Asia 
yang memiliki
akronim BCA. BCA 
dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, 
asli
kelahiran Fujian. 
Atribusi ini dianggap bermasalah karena 
melalui
pemberitaannya itu Tempo 
menggiring pembacanya untuk berpikir 
“bahwa BCA
adalah bank yang 
menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati 
menuduh
bahwa Tempo melakukan 
framing karena istilah “Bank Cina Asli” 
itu
bukan sebuah istilah yang 
bisa didengar di mana-mana hingga Tempo 
membaptisnya
jadi plesetan 
umum.

Kebencian
rasialis yang 
akhir-akhir ini coba dikobarkan 
sebenarnya
bermula dari politik pemisahan 
identitas.
Bahwa orang 
Tionghoa di Indonesia selamanya adalah 
pendatang,
mereka kerap menjadi 
kambing hitam dari banyak kekerasan dan 
masalah
sosial. Media dalam hal 
ini semakin memupuk prasangka itu tanpa 
ada upaya
rekonsiliasi. 
Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa 
etnis
Tionghoa adalah bagian 
dari warga negara Indonesia, terlepas dari 
ras yang
ia 
sandang.
______________

Baca juga artikel 
Tirto.id
terkait 
berikut
ini:
Kebencian 
yang Menular
dan Mematikan 


(dan/nqm)
-- 
Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan 
grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti
berlangganan
dan 
berhenti menerima email dari 
grup ini,
kirim email ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 








Dr.Saafroedin 
Bahar

Male, 80
yrs, 


Jakarta

--

Anda 
menerima pesan ini karena
berlangganan 
grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti
berlangganan 
dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.
-- 
Anda 
menerima 
pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi kita" di Google 

Grup.
Untuk berhenti
berlangganan dan
berhenti menerima email
dari 
grup 
ini, kirim email ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 








Dr.Saafroedin 
Bahar

Male, 80
yrs, 


Jakarta

--

Anda 
menerima pesan ini karena
berlangganan 
grup
"diskusi kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti
berlangganan 
dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.
-- 
Anda menerima 

pesan ini karena berlangganan grup
"diskusi
kita" di Google 
Grup.
Untuk 
berhenti
berlangganan dan berhenti menerima email 
dari
grup ini, kirim email 
ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.


-- 








Dr.Saafroedin 
Bahar

Male,
80
yrs, 


Jakarta

-- 
Anda 
menerima pesan ini karena berlangganan 
grup "diskusi
kita" di Google 
Grup.
Untuk berhenti
berlangganan 
dan
berhenti menerima email dari grup 
ini, kirim email ke 
diskusi-kita+unsubscribe@
googlegroups.com.
Untuk 
opsi lebih lanjut, 
kunjungi https://groups.google.com/d/
optout.




-- 








Dr.Saafroedin Bahar
Male, 80 
yrs,
Jakarta
 










#yiv3407634367 
#yiv3407634367 --
#yiv3407634367ygrp-mkp
{
border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 
10px;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-mkp hr {
border:1px solid

#d8d8d8;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367hd 
{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367ads 
{
margin-bottom:10px;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp 
.yiv3407634367ad {
padding:0 0;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-mkp 
.yiv3407634367ad p {
margin:0;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-mkp 
.yiv3407634367ad a {
color:#0000ff;text-decoration:none;}
#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc 
{
font-family:Arial;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc #yiv3407634367hd 
{
margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor
#yiv3407634367ygrp-lc .yiv3407634367ad 
{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px

0;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367activity 
{
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367activity span {
font-weight:700;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367activity span:first-child 
{
text-transform:uppercase;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367activity 
span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367activity span span {
color:#ff7900;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367activity span
.yiv3407634367underline 
{
text-decoration:underline;}

#yiv3407634367
.yiv3407634367attach 
{
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367attach div a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367attach img 
{
border:none;padding-right:5px;}

#yiv3407634367
.yiv3407634367attach 
label {
display:block;margin-bottom:5px;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367attach label a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
blockquote {
margin:0 0 0 4px;}

#yiv3407634367
.yiv3407634367bold 
{
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367bold a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
dd.yiv3407634367last p a 
{
font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv3407634367 
dd.yiv3407634367last p span 
{
margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv3407634367 
dd.yiv3407634367last p
span.yiv3407634367yshortcuts 
{
margin-right:0;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table
div 
div a {
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
div.yiv3407634367attach-table {
width:400px;}

#yiv3407634367 
div.yiv3407634367file-title a, #yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title 
a:active, #yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title a:hover, 
#yiv3407634367
div.yiv3407634367file-title
a:visited 
{
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title 
a,
#yiv3407634367
div.yiv3407634367photo-title a:active,
#yiv3407634367 
div.yiv3407634367photo-title a:hover,
#yiv3407634367 
div.yiv3407634367photo-title a:visited 
{
text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
div#yiv3407634367ygrp-mlmsg
#yiv3407634367ygrp-msg p a 
span.yiv3407634367yshortcuts 
{
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367green {
color:#628c2a;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367MsoNormal {
margin:0 0 0
0;}

#yiv3407634367 o 
{
font-size:0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367photos div 
{
float:left;width:72px;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367photos div div 
{
border:1px 
solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367photos div label 
{
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367reco-category {
font-size:77%;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367reco-desc {
font-size:77%;}

#yiv3407634367 
.yiv3407634367replbq {
margin:4px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-actbar div a:first-child 
{
margin-right:2px;padding-right:5px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, 
clean,
sans-serif;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg table 
{
font-size:inherit;font:100%;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-mlmsg select,
#yiv3407634367 input, #yiv3407634367 
textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean,

sans-serif;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-mlmsg pre, 
#yiv3407634367
code {
font:115% monospace;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-mlmsg * {
line-height:1.22em;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367logo 
{
padding-bottom:10px;}


#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-msg p a 
{
font-family:Verdana;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-msg
p#yiv3407634367attach-count span 
{
color:#1E66AE;font-weight:700;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-reco
#yiv3407634367reco-head 
{
color:#ff7900;font-weight:700;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-reco 
{
margin-bottom:20px;padding:0px;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
li a 
{
font-size:130%;text-decoration:none;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
li 
{
font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px
0;}

#yiv3407634367 
#yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
ul {
margin:0;padding:0 0 0 
8px;}

#yiv3407634367
#yiv3407634367ygrp-text 
{
font-family:Georgia;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text p 
{
margin:0 0 1em 0;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text tt 
{
font-size:120%;}

#yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-vital ul 
li:last-child {
border-right:none
!important;
}
#yiv3407634367






     
      

     
     



#yiv8378090281 #yiv8378090281 --
   #yiv8378090281ygrp-mkp {
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp hr {
border:1px solid #d8d8d8;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281hd {
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281ads {
margin-bottom:10px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad {
padding:0 0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad p {
margin:0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad a {
color:#0000ff;text-decoration:none;}
#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
#yiv8378090281ygrp-lc {
font-family:Arial;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
#yiv8378090281ygrp-lc #yiv8378090281hd {
margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
#yiv8378090281ygrp-lc .yiv8378090281ad {
margin-bottom:10px;padding:0 0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity {
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity span {
font-weight:700;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity span:first-child {
text-transform:uppercase;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity span span {
color:#ff7900;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281activity span
.yiv8378090281underline {
text-decoration:underline;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281attach {
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281attach div a {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281attach img {
border:none;padding-right:5px;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281attach label {
display:block;margin-bottom:5px;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281attach label a {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 blockquote {
margin:0 0 0 4px;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281bold {
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281bold a {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p a {
font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p span {
margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}

#yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p
span.yiv8378090281yshortcuts {
margin-right:0;}

#yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table div div a {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table {
width:400px;}

#yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a, #yiv8378090281
div.yiv8378090281file-title a:active, #yiv8378090281
div.yiv8378090281file-title a:hover, #yiv8378090281
div.yiv8378090281file-title a:visited {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a,
#yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:active,
#yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:hover,
#yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:visited {
text-decoration:none;}

#yiv8378090281 div#yiv8378090281ygrp-mlmsg
#yiv8378090281ygrp-msg p a span.yiv8378090281yshortcuts {
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281green {
color:#628c2a;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}

#yiv8378090281 o {
font-size:0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281photos div {
float:left;width:72px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281photos div div {
border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281photos div label {
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281reco-category {
font-size:77%;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281reco-desc {
font-size:77%;}

#yiv8378090281 .yiv8378090281replbq {
margin:4px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-actbar div a:first-child {
margin-right:2px;padding-right:5px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
sans-serif;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg table {
font-size:inherit;font:100%;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg select,
#yiv8378090281 input, #yiv8378090281 textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg pre, #yiv8378090281
code {
font:115% monospace;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg * {
line-height:1.22em;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg #yiv8378090281logo {
padding-bottom:10px;}


#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg p a {
font-family:Verdana;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg
p#yiv8378090281attach-count span {
color:#1E66AE;font-weight:700;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco
#yiv8378090281reco-head {
color:#ff7900;font-weight:700;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco {
margin-bottom:20px;padding:0px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
li a {
font-size:130%;text-decoration:none;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
li {
font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
ul {
margin:0;padding:0 0 0 8px;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text {
font-family:Georgia;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text p {
margin:0 0 1em 0;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text tt {
font-size:120%;}

#yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-vital ul li:last-child {
border-right:none !important;
}
#yiv8378090281 

Kirim email ke