Hello Bung Chan CT. 

Memang agaklama kita takjumpa di GELORA45, itu bukan berarti saya "menghilang" 
atau bertapa di Gunung Kidul untuk memperoleh wahyu-wahyu animisme bermacam 
bentuk Kesaktian, di Abad ke-XXI, seperti Kesaktian Pancasila yang 
dibual-bualkan oleh pada Jendral TNI untuk menutupi pengkhianatan para Jendral 
TNI terhadap Republik Indonesia dan terhadap Bangsa Indonesia, untuk menutupi 
Pembunuhan Massal yang dilakukan oleh TNI semenjak setengah Abad ini.

Beberapa waktu yang lalu saya banyak "berkeliaran" di Regional ASEAN dan di 
Regional Central Asia ( di Kazakhstan, Kyyrgyzstan, Uzbekhistan, Tajikistan. 
Turkmenistan (dan di daerah Masel e Syarif, perbatasan Tajiskistan,Uzbekistan, 
dengan Afghanistan, sekitar 80 s/d 100 KM dari Kabul), dan di Azerbaisan (Laut 
kaspia), perbatasan dengan Turki dan Armenia, dan di regional ini saya 
mempelari dari dekat/di Lapangan "Impact of the Barbarism of the Global Empire 
USA" yang menghancurkan seluruh khazanah Kehidupan normal Manusia dii Timur 
Dekat dan di Timur Tengah dan kini berhadapan langsung dengan kekuatan Militer 
Russia, yang membela Pemerintahan Nasional Suryah, dengan Presiden Assad.

Negeri-Negeri ex-Uni Sowyet tsb. diatas dikenal sebagai negeri-negeri dengan 
Pengaruh Islam yang kuat, sampai dengan pertengahan Abad ke-XIX, sampai dengan 
mereka berada dalam system Sowyet Union.
Kini, Masyarakat Central Asia, baik Pemerintahan, pun Partai-Partai Politik, 
pun Ormas-Ormas, sampi kepada kesimpulan mengenai aktivitas ISIS sebagai 
"Fiasco of the Renaisance of the Islam", pertama-tama, karena ISIS didirikan 
oleh USA untuk kepentingan Politik Kekuasaan USA di Timur Dekat dan Timur 
Tengah.
 Selanjutnya,  mengenai Kehidupan Politik, Ekonomi,Hubungan Sosial dan 
Keamanan, akan disambung nanti,  harus disusun secara systematis.

Dan kini, kita hangati "kevakumen"beberapa waktu ini, dengan membahas Thema 
yang Bung paparkan disini "Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa", sebuah 
Thema yang kelihatannya sederhana, kalau dilihat jauh kedalam, maka akan 
terlihat masalah yang sangat prinsipil dalam kehidupan Umatmanusia dari 
beberapa ratus Tahun kebelakang, terutama semenjak Abad  ke-XV s/d hari ini, 
yang bernama GLOBALISASI pertama, yaitu ketika Inggeris, Portugal, Spanyol, 
Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, dengan kekuatan Militer/Armada Laut yang 
kuat melakukan annexi Territorium, Perampokan Hakmilk, Pembunuhan Manusia, 
termasuk Pembunuhan Massal terhadap Pribumi/Bangsa Indian,Perbudakan,Perampokan 
dan Penjualan Manusia, untuk kepentingan pertumbuhan Perekonomian Europa, yang 
berlangsung lebih dari Tiga Ratus Tahun,GLOBALISASI pertama.

Di Nusantara, terutama ketika VOC, untuk kepentingan GLOBALISASI-Perekonomian 
Belanda,merangkul Etnis China sebagai petugas-petugas dari kekuasaan Militer 
Kolonialisme Belanda di Perkebunan-Perkebunan,dibagian-bagian produksi 
pertanian lainnya, untuk kepentingan Pasar Europa,ditempat-tempat pekerjaan, 
seperti Daendel yang membuat Jalan sepanjang Pulau Jawa, etc. dan pada proses 
pekerjaan terjadi konflikt antara Pribumi dengan Etnis China, yang bekerja 
sebagai para Petugas kekuasaan Belanda, Kekuasaan Kolonialisme Belanda 
membutuhkan konflikt tsb. dan para Pribumi mulai adanya prejudis anti-etnis 
China. Also,  Kebencian Terhadap Etnis China adalah produk dari GLOBALISASI 
kekuasaan Kolonialisme di Nusantara/Indonesia, itu bukan natur dari  penduduk 
di Nusantara, yang kemudian bernama Bangsa Indonesia.

Phenomenal seperti itu juga terlihat di Asia, Afrika,  Latin-Amerika, konflik 
Etnis, sebagai peninggalan dari system GLOBALISASI-pertama, kekuasaan Militer 
dan Perekonomian Europa, yang kini dipergunakan sedemikian rupa oleh Global 
Empire USA, untuk kepentingan GLOBALISASI kekuasaan Militer dan Perekonomian 
USA di arena Internasional.

Perbedaannya,pada GLOBALISASI pertama kekuasaan Militer dan Perekonomian 
Europa,yaitu  Negara-Negara Europa berjalan sendiri-sendiri, tanpa Persatuan 
kekuatan Europa, dan di Europa sendiri terjadi beberakali Perang GLOBALISASI 
Europa, perubahan-perubahan batas-batas Negara, yang lebih terkenal Perang 
Dunia Pertama dan Perang Dunia kedua.

Dengan dihancurkannya Fasisme Jerman Hitler oleh Uni Sowyet, system Kolonial 
GLOBALISASI pertama juga hancur dan Uni Sowyet membantu Rakyat-Rakyat yang 
berjuang untuk membangun Pemerintahan Nasional, yang terlepas dari GLOBALISASI 
kekuasaan Kolonial, termasuk membantu Republik Indonesia, dan Uni Sowyet adalah 
Negara pertama di Dunia yang mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia.

Trumen, Presiden USA, mengumpulkan semua pelaku GLOBALISASI pertama, yang 
bertekuklutut pada Hitler Tahun-tahun 1939-1940an dan memasukkan mereka pada 
Club yang bernama NATO, untuk kentingan GLOBALISASI kedua, yaitu GLOBALISASI 
kekuasaan USA di Europa dan sebagai batuloncatan  dari kekuasaan Militer USA ke 
Regional lainnya. Trumen memberi mereka BOGEYMAN, yaitu musuh utama mereka Uni 
Sowyet.
Dan anti-Etnis China atau anti-China secara keseluruhan, kini ditiupkan bukan 
lagi oleh Penduduk atau bagian-bagian dari Suku Bangsa di Indonesia, atau oleh 
Bangsa Indonesia secara keseluruhan, melainkann oleh kekuasaan Negara yang kuat 
di Dunia yaitu USA dan Europa Union,
"Bahaya China atau Bahaya expansi China" bisa ditemukan dalam Media di USA", 
dan Washington-Administration berusaha "membantu" Vietnam, Tailand, Birma, 
untuk berkonrontasi dengan RRT GLOBALISASI kini mengambil wajah baru yaitu 
Perdagangan Bebas Asia & Pacific Regions artinya, siapa yang mempunyai 
kekuasaan Militer yang kuat, akan bisa merampok semua, apasaja yang dia 
inginkan.
Di Jakarta dibangun seizin Jendral USA Bambang Susilo Yudoyono, Presiden R-.I., 
Panglima Tertinggi TNI, "PENTAGON kedua" yang luas dengan tehnik Modern, untuk 
menginfiltrais China/RRT, Russia, India, dan sekitar dan inilah GLOBALISASI dan 
PERDAGANGAN BEBAS Asia & Pacific.
Nasib R.I. dan Bangsa Indonesia?
Dengan Kebencian terhadap Etnis-China" atau Kebencian terhadap RRT secara 
keseluruhan, keberadaan Republik Indonesia dimasa depan yang dekat sangat 
dipertanyakan; atau Kepulauan Indonesia akan berobah menjadi aircraft carrier 
Militer USA dan Penduduk Indonesia boleh tinggal mendiami prairie, seperti 
nasib Bangsa Indian di USA.

Inilah sedikit ulasan untuk Thema yang Bung ajukan, dan  dalam Bahasa Jerman 
dibilang "Du bist schlau" atau "you are clever", Bung letaklkan Thema yang 
kelihatannya sederhana,sesungguhnya, Thema yang menyangkut kehidupan normal 
Manusia, dahulu, empat ratus Tahun yang lalu, hari ini dan massa depan yang 
panjang - Rasialisme,  yang berkar dari Sumber dan cara pembangun Kehidupan. 
Apakah akan bisa dicapai:

"Leben einzelner wie ein Baum; kammeradlich wie ein Wald, ist unsere Sehnzucht.
"Kehidupan setiap Orang seperti Beringin yang rindang; bersaudara seperti Hutan 
lebat; Inilah kerinduan kita".

Salam hangat Bung Chan CT,

  Tjaniago

--------------------------------------------
Pada Jum, 30/9/16, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 Judul: Re: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa
 Kepada: "DR. Alexander Tjaniago" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected]
 Tanggal: Jumat, 30 September, 2016, 5:47 PM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
       
 
 
 
 Bung Tjaniago yb,
  
 Kemana bung menghilang selama ini, kok
 baru sekarang mulai 
 bersuara. Beberapa hari yl. mengaduk-aduk tulisan lama
 mengenai “Kapitalisme 
 Negara” yang diajukan Lenin, ternyata bung yang nulis, ...
 kalau berdeasarkan 
 bhs. Rusia mestinya “Perusahaan Negara”? Kok ternyata
 jauh benar 
 bedanya?
  
 Dahulu kala, seringkali terdengar etnis
 Tionghoa, dinyatakan 
 suku yang rajin, hemat, bahkan koloni Belanda khusus
 mendatangkan kuli Tionghoa 
 untuk kerjakan tambang timah di Bangka-Belitung. Kuli-kuli
 yang dianggap lebih 
 tangguh mengerjakan tambang dengan susah payah. Barangkali
 ini disebabkan karena 
 KONDISI kehidupan di Tiongkok daratan selama ribuan tahun
 yang memang jauh lebih 
 BERAT dibanding negara lain, khususnya Indonesia. Tanah
 kurang subur bahkan 
 tandus, melewati 43 musim bahkan bertubi-tubi dilanda
 bencana alam, tidak 
 banjir, ya kering, taifoon dan gempa-bumi, ... itulah yang
 membuat bangsa 
 TIonghoa tergembleng menjadi lebih KERAS, kalau tidak begitu
 mati.
  
 Lalu, ada penulis dibidang pendidik
 menyatakan, ciri-ciri 
 bangsa Tionghoa yang dikenal dahulu itu bisa dikatakan pudar
 pada generasi muda 
 yg lahir ditahun 70-an, ... Mengapa? Itu akibat pembatasan
 hanya boleh anak 
 tunggal berkepanjangan, akibatnya si anak dirumah terlalu
 dimanja, bukan saja 
 oleh 2 orang-tuanya saja, tapi juga oleh 4 kakek-neneknya yg
 hanya ada 1 cucu 
 itu! Jadi lebih parah, kesejahteraan juga sudah meningkat
 banyak. Itu anak yang 
 dimanja 6 orang tua, sejak kecil bukan saja tidak mengalami
 kekurangan, mau apa, 
 minta apa PASTI dapat dengan mudah! Mana tidak ada kebiasaan
 harus bertoleransi, 
 ngalah pada sesama saudara, setelah dewasa, juga jadi
 seperti rajaperang mau 
 menang sendiri, tidak ada lagi usaha dan kerja keras untuk
 mendapatkan yang 
 diinginkan. Minta dilayani saja! Dan sudah tidak ada
 sedikitpun rasa harus 
 berhemat-hemat lagi, ... Jadi, tugas GURU disekolah harus
 kembali menekankan 
 ciri-ciri suku TIonghoa yang membuat bangsa ini unggul harus
 tetap dipelihara 
 dan terus terbawa oleh generasi muda, ... lalu, dihimbau
 orang-tua dirumah juga 
 harus ikut memperhatikan dalam mengasuh anaknya. Menarik
 juga, ya! Jiwa, 
 karakter manusia bukan lahiriah, tapi diciptakan dalam
 kondisi hidup yang 
 dilewati! Waaah, kalau begitu pertahankan kondisi tetap
 dalam kemiskinan lebih 
 baik??? Hehehee, ...
  
 Salam,
 ChanCT
  
 
 
  
 
 From: 'DR. Alexander
 Tjaniago' [email protected] 
 [GELORA45] 
 Sent: Friday, September 30, 2016 11:02 PM
 To: [email protected]
 ; 
 Chan CT ; [email protected]
 
 Subject: Bls: [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian
 Terhadap Etnis 
 Tionghoa
  
  
 
 
 Hello Bung Chan CT, saya mempunyai Sahabat yang banyak
 dari Ethnis Tionghoa, 
 yang pada umunya, atau sebagian besar, aktif dalam urusan
 business atau urusan 
 Perekonomian: seperti urusan transport ( Guan Chun transport
 Padang - Sungai 
 Penuh di akhir Tahun 1950an), urusan Apothek, urusan
 Kebudayaan seperti 
 perFilm-an, Sport -Badminton, Baskettball, etc. dan saya
 tidak pernah merasa 
 adanya kebencian timbalbalik, melainkan persahabatan
 Kemanusiaan yang normal. 
 "Kebencian yang Bung konstatasi, itu berjalan diatas
 hubungan Perekonomian, 
 diantaranya perebutan Pasaran barang dagangan. Kebanyakan,
 diantara pemBusiness 
 Etnis Tionghoa adanya salingbantu dalam Kapital, dan mereka
 mampu 
 merebut/menguasai Pasaran. Ini terjadi diseluruh Dunia,
 dimana saya, dan apapun 
 nama Bangsanya,Kapital menentukan hubungan dalam urusan
 Perkonomian ( c+v+m), 
 m-tersebut kebanyakan dari yang tidak mempunyai Kapital atau
 Buruh yang menjual 
 Tenagakerjanya.Justru itu, Kebencian terhadap Etnis Tionghoa
 tidak beraalsan 
 rasialisme. Keluarga Jendral ORBA Suharto dan SBY menguasai
 banyak Cabang-Cabang 
 Perekonomian di Indonesia, malah sampai ke Perbanken,juga
 dibenci oleh Etnis 
 Jawa yang miskin.
 
 Dari
 persahabatan saya dengan Etnis asal Tionghoa, 
 terutama di BAPERKI, satu yang saya peroleh dengan baik:
 pada umumnya mereka 
 rajin bekerja dan 
 belajar!!!
 --------------------------------------------
 Pada Jum, 16/9/16, 
 'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
 <[email protected]> 
 menulis:
 
 Judul: [GELORA45]
 Fw: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
 Tionghoa
 Kepada: "GELORA_In"
 <[email protected]>, 
 [email protected]
 Tanggal: Jumat, 16
 September, 2016, 10:16 
 AM
 
 
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  
 
 
  
 
 From: 
 Saafroedin
 Bahar 
 Sent:
 Friday, September 16, 2016 3:31 PM
 To: Chan 
 CT
 
 Subject: Re: Sejarah
 Kebencian Terhadap Etnis 
 
 Tionghoa
  
 Sebaiknya Bung Nesare membaca dahulu
 thesis saya 
 tersebut. 
 Saya lulus Program S3 UGM th
 1996. Berbagai pertanyaan 
 Bung
 tersebut sudah saya 
 teliti dan saya jawab dalam disertasi saya 
 itu.  
 Salam.
 
 Kamis, 15 September 2016, Chan 
 CT 
 <[email protected]>
 
 menulis:
 
 
 
 
 
  
 
 
  
 
 From: 
 mailto:GELORA45@yahoogroups.
 com 
 Sent: Thursday, September 15, 2016 
 7:07
 PM
 To: 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
 
 
 Subject: RE: 
 [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian
 Terhadap
 Etnis 
 
 Tionghoa
  
  
 
 
 
 
 
 Bagus 
 dan sori 
 memang saya menulis integritas tetapi bukan itu
 maksud 
 saya.
 Saya mau 
 
 dan seharusnya menulsi: integrasi bukan 
 integritas.
 Dari 
 kacamata 
 umum saya, thesis bung dengan penekanan istilah
 integrasi nasional 
 itu 
 melihat integrase Minangkabau ke RI. Mungkin saya
 keliru? Disini 
 
 kebingungan saya. Kalau ada waktu dan
 kesempatan saya mau
 baca thesis 
 bung. 
 Saya tidak tahu apakah itu disertasi
 S3 atau S2. Tetapi
 ketika saya 
 
 menggunakan kata thesis, saya refer ke
 artinya saja:
 hipotesa. Saya tidak 
 
 refer ke tesis S2 atau disertasi S3. Bagi
 saya itu tidak
 penting. 
 
 
 
 Yang 
 saya pertanyakan adalah kenapa integrasinya
 harus 
 dilihat
 dari kacamata minang 
 ke RI kalau ini benar. Kenapa tidak melihat 
 bagaimana
 terjadinya RI itu 
 sendiri dan terlibatnya orang2 minang dalam 
 pembentukan
 RI. Bagi saya ini 2 
 hal yang berbeda. Malahan sangat berbeda. 
 Kenapa? Karena
 penekanannya yg 
 berbeda.  Yang satu ke “begitu 
 pentingnya” RI, yang
 lain melihat 
 terbentuknya suatu republic karena 
 adanya tujuan bersama
 dari bangsa2 yang 
 sudah ada dinusantara itu 
 termasuk bangsa 
 minang.
 
 Salam
 Nesare
 
 
 
 
 From: 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
 
 [mailto:GELORA45@yahoogroups. 
 com] 
 Sent: Wednesday, 
 September 14, 2016 7:36 PM
 To:
 GELORA_In 
 <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>;
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
 Subject: 
 
 [GELORA45] Fw: Sejarah Kebencian Terhadap
 Etnis 
 Tionghoa
 
   
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 From: Saafroedin 
 Bahar
 
 
 Sent: 
 Wednesday, September 14,
 2016 11:45
 PM
 
 To: 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');
 
 
 
 Subject: 
 Re: 
 Sejarah Kebencian Terhadap Etnis 
 Tionghoa
 
 
 
 Bung 
 
 Nesare, tak usah bingung, dan jangan 
 mencampuraduk
 " integrasi " 
 dengan 
 " integritas ". Integrasi
 Nasional adalah proses
 menyatukan tiga 
 unsur negara, 
 yaitu Rakyat, Wilayah, dan
 Pemerintah, menjadi 
 satu
 kesatuan yg utuh. Etnik 
 adalah bagian dari Rakyat. Saya meneliti 
 proses integrasi
 etnik Minangkabau ke 
 dalam NKRI, sebagai salah satu 
 etnik dari demikian banyak
 etnik di 
 Indonesia.  
 
 Terima 
 
 kasih atas perhatian Bung thd tesis saya.
 Jika Bung
 berminat, bisa 
 membacanya 
 di Perpustakaan Pascasarjana
 UGM
 Yogyakarta.
 
 Salam. 
 
 
 
 On
 Wednesday, 14
 September 2016, Chan CT 
 <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','[email protected]');>
 
 wrote:
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 From: 
 mailto:GELORA45@yahoogroups. com 
 
 
 Sent: 
 Wednesday, September 14, 
 2016 6:01
 PM
 
 To: 
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
 [email protected]'); 
 
 
 
 Subject:
 RE: 
 [GELORA45] Re: Sejarah Kebencian
 Terhadap Etnis 
 
 Tionghoa
 
 
 
   
 
 
 
 
 
 Saafroedin:
 
 Pak 
 Chan, kebetulan minat pribadi saya adalah penelitian
 ttg Integrasi 
 
 Nasional ini. Saya mempertahanan tesis
 saya  ttg etnik
 Minangkabau 
 di 
 UGM th 1996. Rasanya kajian Integrasi
 Nasional dari
 etnik Tionghoa ini 
 belum 
 ada. 
 
 Nesare: 
 saya jadi bingung baca
 kalimat ini. koq bisa 
 ya tesisnya
 mempertanyakan 
 integritas suku bangsa suku bangsa yang ada di 
 Indonesia
 ke republic muda 
 yang namanya Indonesia. RI itu adalah wadah 
 peleburan
 dari suku2 bangsa itu. 
 Koq kenapa harus dipertanyakan 
 integritas suku2 bangsa
 itu? 
 
 Seharusnya 
 yang dipertanyakan itu 
 adalah kenapa RI yang muda itu
 menyepelehkan
 komitmen 
 suku2 bangsa yang 
 dulunya sudah selesai dalam membentuk
 yang
 namanya NKRI 
 yang berazaskan 
 Pancasila.
 Seharusnya 
 ini
 tesisnya bukan sebaliknya! Jadi menarik gimana 
 isi
 tesis saafroedin di 
 UGM
 ini? apa yang mau dibuktikan dengan 
 tesisnya
 ini?
 Nesare
 
 
 From: 
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','G
 [email protected]'); 
 [mailto:GELORA45@yahoogroups. com] 
 Sent:
 
 Wednesday, September 14, 2016 
 5:11 AM
 To: 
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
 [email protected]') 
 ;
 Subject: 
 [GELORA45] Re:
 Sejarah Kebencian Terhadap 
 Etnis
 Tionghoa
   
 
 
 
 
 
 
 
 Pak 
 Saafroedin 
 yb,
 
 Sebenarnya 
 saja diakhir tahun 50-an awal tahun 60-an sudah
 
 terjadi
 perdebatan sengit 
 dalam masalah penyelesaian Tionghoa di 
 Indonesia, pihak
 BAPERKI mengajukan 
 konsep “INTEGRASI-WAJAR”, yang 
 menekankan Tionghoa
 harus mengintegrasikan
 
 dirinya dalam masyarakat 
 Indonesia, dengan tetap
 diperkenankan
 mempertahakan 
 budaya-adat istiadat 
 dan agama yang dianut. Cukup
 BERSATU, hidup
 bersama, 
 bekerja dan berjuang 
 bersama dengan RAKYAT disegala
 bidang saja.
 Sedang 
 pihak LPKB, Lembaga 
 Pembina Kesatuan Bangsa, mengajukan
 konsep
 “ASIMILASI” 
 atau pembauran 
 yang menekankan dan berusaha
 menghilangkan
 identitas 
 
 ke-Tionghoa-an.  Diawali dengan gerakan
 Ganti-nama,
 menggantikan 
 nama 
 Tionghoa yang biasa 3 suku kata itu,
 dengan nama-nama
 yang bisa 
 dikatakan 
 Indonesia, lalu menganjurkan
 kawin-silang dengan
 suku-suku lain 
 untuk 
 menghilangkan ciri biologis
 Tionghoanya, bahkan, ...
 sementara 
 tokoh LPKB 
 itu lebih radikal lagi, juga
 ganti Agama, 
 menjadi
 ISLAM!
 
 Sekalipun 
 diawal mula
 tokoh-tokoh LPKB itu 
 menandaskan usaha
 asimilasi yang diserukan
 
 sepenuhnya dan sedikitpun 
 TIDAK boleh ada unsur PAKSAAN,
 tapi kemudian
 dalam 
 praktek, setelah 
 disodorkan pada jenderal Soeharto dan
 diambil oper oleh 
 Pemerintah
 masa 
 ORBA, dengan adanya ketentuan kebijakan
 Pemerintah, tidak 
 bisa tidak 
 mengandung unsur PAKSAAN, orang tidak berani
 tidak ikut gerakan 
 ganti 
 nama. Takut kalau tidak ganti-nama dituduh tidak
 “SETIA pada RI”! 
 
 Kemudian disusul dengan kebijakan ketentuan
 pelarangan
 peneggunaan aksara 
 
 bhs. Tionghoa, sekolah TIonghoa bahkan
 merayakan Imlek
 dan beribadah 
 secara 
 terbuka, ... Itulah TEKANAN atau
 derita yang menimpa
 mayoritas 
 mutlak 
 Tionghoa di Indonesia selama lebih
 32 tahun dibawah
 kekuasaan 
 
 Soeharto.
 
 Dipihak 
 lain, jenderal
 Soeharto justru menggunakan 
 dan
 bersekongkol dengan 
 segelintir pengusaha Tionghoa untuk memperkaya 
 dirinya,
 ... dalam waktu 
 singkat muncullah konglomerat-konglomerat 
 Tionghoa yg
 mendapatkan fasilitas 
 istimewa dari Cendana. Sikap Soeharto 
 yang memberikan
 hak MONOPOLI dan 
 MENGISTIMEWAKAN segelintir konglomerat 
 Tionghoa ini
 dengan makin meluaskan 
 cakar mereka bersama anak-anak 
 Soeharto, justru membuat
 makin RUSAK 
 membusuknya birokrasi pemerintah. 
 Jadi, begitu dilanda
 krismon akhir tahun 
 97, meledaklah semua gelembung 
 balon itu satu persatu,
 ... Keadaan menjadi
 
 lebih celaka, karena begitu 
 BLBI dikucurkan justru
 digondol lari keluar
 dari 
 Indonesia oleh 
 kebanyakan konglomerat Tionghoa itu! Yang
 membuat KEBENCIAN 
 rakyat pada 
 Tionghoa, ... mayoritas mutlak Tionghoa di
 Indonesia yang tidak 
 bersalah 
 dan berdosa menjadi SASARAN amuk massa, TANPA
 mendapatkan 
 perlindungan 
 dari aparat keamanan! Padahal nasib
 mayoritas mutlak TIonghoa 
 di 
 Indonesia tidak beda dengan rakyat banyak, adalah
 juga KORBAN dari 
 
 persekongkolan yang terjadi antara penguasa
 dan
 pengusaha, khususnya 
 
 konglomerat Tionghoa disekitar Suharto itu!
 Tapi,
 kenyataan mayoritas 
 mutlak 
 TIonghoa yang kena getahnya, sedang
 yang konglomerat
 TIonghoa, 
 yang bersalah 
 dan berdosa itu justru
 aman-aman menikmati harta
 kekayaan 
 yang digondol 
 sampai sekarang ini.
 
 Nah, 
 dari
 kerusuhan-kerusuhan 
 anti-Tionghoa yang berulangkali
 terjadi di
 
 Nusantara ini, sayapun melihat 
 ada satu penyakit dalam
 masyarakat, 
 berlakukan “DOSA-TURUNAN”, masih saja 
 dengan mudah
 mengkaitkan kesalahan dan 
 dosa seseorang dengan suku, etnis 
 atau Agama yang
 dianutnya. Masih belum 
 bisa memperlakukan kesalahan/dosa 
 seseorang SEPENUHNYA
 adalah tanggungjawab
 
 orang bersangkutan, yang tidak 
 seharusnya menyeret orang
 lain yang tidak
 ada 
 hubungan dengan kasusnya. 
 
 
 Salam,
 
 ChanCT
 
 
 
 
 From: 
 Saafroedin Bahar 
 
 
 Sent: 
 Wednesday, September 14, 2016 9:36 AM
 
 To: 
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
 [email protected]') ; 
 
 
 Subject: Re: 
 Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa
 
 Pak 
 Chan, kebetulan
 
 minat
 pribadi saya adalah penelitian ttg 
 Integrasi
 Nasional ini. Saya 
 mempertahanan tesis saya  ttg etnik 
 Minangkabau di UGM
 th 1996. Rasanya 
 kajian Integrasi Nasional dari etnik 
 Tionghoa ini belum
 ada. 
 
 
 Salam.  
 
 
 On Wednesday, 
 14
 September 2016, Chan CT 
 
 <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
 [email protected]');> 
 
 wrote:
 
 
 
 
 
 Pak 
 Saafroedin yb,
 
 Terimakasih 
 
 atas respon yang diberikan. Sayapun
 bergembira dan
 sangat SETUJUUUU 
 dengan 
 istilah “INTEGRASI NASIONAL”
 sehubungan dengan
 masalah etnis 
 Tionghoa yang 
 masih terjadi di negeri ini.
 Satu pemikiran dan
 semangat 
 kebersatuan 
 BANGSA INDONESIA saat
 mencetuskan SUMPAH PEMUDA 1928
 yl! Satu 
 semangat 
 Bhineka Tunggal Ika sebagai usaha
 mempertahankan
 kehidupan 
 HARMONIS dalam 
 bermasyarakat majemuk di
 Nusantara ini,
 ...
 
 Jadi 
 
 yang diangkat bukan berusaha
 “MENGHILANGKAN”
 segala perbedaan
 diantara 
 
 suku, etnis yasng ada, dengan menyerukan
 “PEMBAURAN/ASIMILASI” yang 
 
 terjadi dimasa ORBA, bahkan dengan
 paksaan
 administrasi dikeluarkannya 
 
 ketentuan UU yang berbau SARA itu, tapi
 berusaha keras
 dengan penuh 
 
 kesadaran setiap warga bisa “MENERIMA
 dan
 MENGHORMATI” setiap umat 
 manusia 
 yang hidup didunia ini! Agar setiap
 kita bisa menerima
 dan 
 menghormati 
 setiap umat manusia yang hidup
 didunia dengan 
 segala
 perbedaan yang ada, 
 ya beda bangsa, beda suku, beda etnis, beda 
 Agama,
 beda budaya bahkan beda 
 pandangan ideologi/politik! TIDAK berusaha 
 menuntut
 orang lain agar sama 
 dengan dirinya sendiri, apalagi menggunakan 
 kekerasan,
 ...!
 
 Syukurlah 
 kalau bung Salim
 dengan Institut 
 Peradaban bisa
 membahas masalah kebencian
 
 terhadap etnis Tionghoa 
 ini.
 
 Salam,
 
 ChanCT
 
 
 
 
 From: 
 Saafroedin Bahar 
 
 
 Sent: 
 Wednesday, September 14, 2016 6:01 AM
 
 To: 
 
 javascript:_e(%7B%7D,'cvml','d
 [email protected]') ; 
 
 
 Subject: 
 Re: Sejarah Kebencian Terhadap Etnis
 Tionghoa
 
 Pak 
 Chan, sudah 
 saya baca. Masalah ini memang
 salah satu masalah
 integrasi 
 nasional kita 
 yg belum selesai dan perlu
 dicarikan alternatif
 solusinya 
 yang lebih baik. 
 Saya mendukung rencana
 bung Salim dari 
 Institut
 Peradaban utk membahas 
 masalah ini.  
 
 
 On
 Thursday, 8 September 2016, Chan CT 
 
 <javascript:_e(%7B%7D,'cvml','
 [email protected]');> 
 
 wrote:
 
 
 
 
 Sejarah
 Kebencian 
 Terhadap Etnis 
 Tionghoa
 Reporter:
 
 Arman 
 Dhani
 01
 September, 
 2016dibaca 
 normal 4:30 
 menit
 https://tirto.id/20160901-39/
 sejarah-kebencian-terhadap- 
 etnis-tionghoa-315429?utm_
 content=buffer95c12&utm_ 
 medium=social&utm_source=
 facebook.com&utm_campaign= buffer 
 
 Sejumlah anak etnis 
 Tionghoa mengikuti lomba bola terong di 
 halaman
 Klenteng Kwan Kong, 
 Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Adwit 
 B
 Pramono
 share 
 foto    
 INTI
 
 BERITA 
 
 
 
 ·         
 Kebencian 
 terhadap etnis 
 Tionghoa merupakan hasil
 dari politik pecah belah 
 
 Soeharto.
 ·         
 Kebencian 
 terhadap kelompok 
 Tionghoa bisa dilacak
 hingga empat ratus tahun yang 
 
 lalu
 ·         
 Kebencian 
 rasialis yang 
 akhir-akhir ini coba
 dikobarkan sebenarnya bermula
 dari 
 politik 
 pemisahan identitas
 Kebencian 
 rasialis dan
 penindasan 
 terhadap kelompok minoritas
 Tionghoa di 
 Indonesia semakin hari semakin 
 mengkhawatirkan.
 Kelompok Tionghoa 
 kerapkali distigma pelit, kaya dengan 
 cara culas,
 dan menindas pribumi. 
 Padahal masyarakat Tionghoa sudah turun 
 temurun
 hidup di Indonesia 
 selama ratusan tahun.
 tirto.id
 
 - Di 
 
 sebuah halte TransJakarta Senayan JCC,
 Jumat malam,
 26 Agustus 2016 
 
 seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew
 Budikusuma,
 mengaku dipukuli 
 
 oleh sejumlah pria. Tidak hanya dipukuli,
 Andrew
 diteriaki dan dihina 
 
 dengan kata-kata merendahkan yang
 menunjukkan sebuah
 gejala kebencian 
 
 rasialis. Ia juga dituduh sebagai Ahok,
 panggilan
 Gubernur DKI Jakarta 
 
 Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan
 keturunan
 Tionghoa. Akar kebencian 
 
 rasialis terhadap kelompok minoritas
 Tionghoa di
 Indonesia rupanya masih 
 
 ada.
 
 Sejarah
 mengulang dirinya
 sendiri.  Pertama sebagai 
 
 tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon.
 Sebelum
 tragedi pemukulan ini, 
 
 kelompok Tionghoa di Indonesia sudah
 mengalami
 banyak diskriminasi. Mei 
 
 2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
 Indonesia
 (KAMMI) melakukan protes 
 
 terhadap Jokowi dan JK yang dituduh membela
 kelompok
 Asing dan Aseng. 
 
 Asing merujuk kepada negara/pemerintahan
 asing yang
 melakukan intervensi 
 
 ekonomi di Indonesia, sementara Aseng
 merujuk kepada
 kelompok minoritas 
 
 Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan
 besar
 dalam bidang ekonomi di 
 
 Indonesia.
 
 Apa
 sebenarnya yang menjadi
 akar dari sentimen rasial 
 
 terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?
 Penelitian Amy
 Freedman dari 
 
 Franklin and Marshall College, Amerika
 Serikat,
 menyebutkan bahwa 
 
 kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan
 hasil
 dari politik pecah 
 
 belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian
 berjudul
 Political Institutions 
 
 and Ethnic Chinese Identity in Indonesia,
 Freedman
 menyebut Soeharto 
 
 memaksa masyarakat Tionghoa untuk
 melakukan
 asimilasi sembari 
 
 mengidentifikasi mereka sebagai bukan
 pribumi.
 
 Sebagian kecil 
 
 etnis Tionghoa di Indonesia pada masa
 Soeharto
 menikmati berbagai 
 
 fasilitas investasi sehingga menjadi sangat
 kaya.
 Sekelompok kecil ini 
 
 akhirnya dianggap sebagai representasi
 seluruh etnis
 Tionghoa, sebagai 
 
 kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya
 kekayaan
 dengan cara yang 
 
 culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998
 membuat
 pembedaan ini menjadi 
 
 semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di
 berbagai
 kota di Indonesia 
 
 menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai
 sasaran 
 
 kebencian.
 
 Kebencian terhadap kelompok Tionghoa bisa
 dilacak 
 
 hingga empat ratus tahun yang lalu. Dalam
 Jakarta: Sejarah 400 
 tahun 
 karya Susan Blackburn dituliskan, masyarakat
 Tionghoa sudah ada 
 sebelum 
 kedatangan Belanda. Relasi antara masyarakat
 Tionghoa dan 
 penduduk 
 setempat saat itu setara sebagai rekan
 pedagang. Ketika VOC 
 masuk, 
 kondisi berubah. Masyarakat Tionghoa
 dimanfaatkan VOC sebagai 
 rekan
 
 bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa
 ketimbang kebanyakan 
 masyarakat 
 setempat.
 
 Hubungan mesra
 antara masyarakat Tionghoa 
 dan VOC tidak 
 berlangsung lama. Pada Oktober 1740
 seperti
 yang ditulis 
 Blackburn, 
 wilayah sekitar Batavia menjadi saksi
 pemberontakan petani 
 Cina.
 Sambil 
 membawa senjata buatan sendiri para
 kuli
 Cina berbaris 
 menuju kota, 
 tempat ratusan kawan sebangsanya
 tinggal di
 dalam dinding 
 kota. Meskipun 
 orang Cina yang tinggal di kota
 sedikit
 sekali atau sama 
 sekali tak 
 berhubungan dengan orang Cina di luar
 dinding kota, beredar 
 isu
 bahwa 
 mereka berencana membantu para
 pemberontak.
 
 Kecurigaan 
 dan 
 paranoia orang Eropa serta pribumi membuat
 kondisi memburuk. Mereka 
 
 secara spontan menyerang balik para
 Tionghoa ini.
 Tidak hanya membunuh 
 
 mereka juga menjarah dan membakar
 sekitar
 6.000-7.000 rumah orang 
 
 Tionghoa. Adrian Volckanier Gubenur
 Jenderal saat
 itu mengeluarkan surat 
 
 perintah: bunuh dan bantai orang-orang
 Tionghoa.
 Sebanyak 500 orang Cina 
 
 yang dipenjara di Balai Kota satu per
 satu
 dikeluarkan lalu dibunuh 
 
 dengan keji. Selama seminggu, kota terbakar
 hebat
 dan kanal-kanal 
 
 menjadi merah karena darah dan korban
 mencapai
 10.000 orang. Peristiwa 
 
 pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini
 dikenal
 dengan Geger 
 
 Pecinan.
 
 Tapi Geger
 Pecinan bukan
 satu-satunya momen berdarah 
 
 bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
 Dalam buku
 Tionghoa dalam Pusaran 
 
 Politik karya Benny G Setiono
 disebutkan, pembantaian etnis 
 Tionghoa 
 juga terjadi pada masa Perang Jawa
 (1825-1830). September 1825, 
 pasukan 
 berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku
 Buwono I, Raden Ayu 
 
 Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di
 perbatasan
 Jawa Tengah-Jawa 
 
 Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo.
 Dalam
 perjalanan itu banyak 
 
 orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli
 anak-anak
 atau perempuan. Mereka 
 
 dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong
 dibiarkan di 
 
 jalanan.
 
 Kebencian
 terhadap etnis
 Tionghoa sebenarnya merupakan 
 
 konstruksi sosial yang dibikin oleh
 penguasa, baik
 Belanda maupun Jawa. 
 
 Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga
 Tionghoa
 di majalah 
 
 Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah,
 beberapa
 kali etnis Tionghoa 
 
 menjadi sasaran amuk massa. Mulai
 Chinezenmoord 1740
 sampai Mei 1998. 
 
 Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa
 saat itu
 membenci orang 
 
 Tionghoa karena menjadi bandar-bandar
 pemungut
 pajak.
 
 Orang-orang 
 
 Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan
 bandar-bandar pemungut pajak di 
 
 jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan,
 pangkalan di
 sungai-sungai dan 
 
 pasar. Melihat efektifnya orang-orang
 Tionghoa
 memungut pajak, Belanda 
 
 dan Inggris melakukan hal yang sama di
 daerah-daerah
 yang telah 
 
 dikuasainya. Tragedi pembantaian Perang
 Jawa membuat
 kebencian antara 
 
 Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang
 Tionghoa
 menjadi takut 
 
 terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa
 menganggap
 Tionghoa sebagai 
 
 mata duitan dan pemeras.
 
 Kebencian ini mendarah daging,
 menyebar 
 
 luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau
 penjelasan.
 Kebencian menahun 
 
 ini yang kemudian berkembang di Indonesia.
 Hendri F.
 Isnaeni menulis 
 
 bahwa pada awal abad ke-20, kembali
 tercatat
 peristiwa rasial terhadap 
 
 etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo
 pada 1912
 dan kerusuhan di Kudus 
 
 pada 1918. Pada masa revolusi, kembali
 terjadi
 gerakan anti etnis 
 
 Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang
 pada
 Mei-Juli 1946, Bagan 
 
 Siapi-api pada September 1946, dan
 Palembang pada
 Januari 
 
 1947.
 
 Tragedi
 terhadap masyarakat
 Tionghoa berikutnya terjadi 
 
 pada saat 1965. Cina yang menjadi negara
 komunis
 besar saat itu dianggap 
 
 punya peran dalam Gerakan 30 September 1965
 (G30S).
 Banyak masyarakat 
 
 Tionghoa saat itu yang menjadi korban
 karena
 dianggap komunis atau 
 
 mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak
 berhenti
 sampai situ saja, 
 
 orang-orang Cina dianggap sebagai cukong
 dan pemeras
 harta masyarakat 
 
 lokal. Di sini ide primordial pribumi
 melawan
 pendatang menjadi 
 
 legitimasi untuk melakukan kejahatan.
 
 
 share 
 
 foto
 
 
 Dalam 
 konteks yang lebih
 modern ada dua 
 peristiwa
 diskriminasi dan kekerasan 
 yang sangat keji terjadi terhadap 
 tenis Tionghoa.
 Pertama adalah 
 pembantaian terhadap 30.000 orang etnis 
 Tionghoa di
 Provinsi Kalimantan 
 Barat pada 1967 atas nama 
 PGRS/PARAKU.  Elsam
 menyebut terjadi 
 pembersihan etnis dalam 
 peristiwa ini, sementara
 dalam buku 
 Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, 
 disebutkan
 setidaknya ada 27.000 orang 
 mati dibunuh, 101.700 warga 
 mengungsi di Pontianak
 dan 43.425 orang di
 
 antaranya direlokasi di 
 Kabupaten Pontianak.
 
 Selanjutnya tentu 
 saja
 peristiwa kerusuhan 1998. 
 Saat itu etnis
 Tionghoa menjadi korban 
 kekerasan, penjarahan dan 
 diskriminasi hebat. Gejala
 Xenofobia ini 
 merupakan buntut dari 
 kesenjangan ekonomi dan
 kebencian berdasar
 
 prasangka kepada etnis 
 Tionghoa. Saat peristiwa ini
 terjadi banyak
 
 perempuan-perempuan Tionghoa 
 yang diperkosa, tokonya
 dibakar dan usaha
 
 milik mereka dirusak. Kasus ini 
 tak pernah selesai
 sampai hari ini dan 
 pelakunya tak pernah 
 diusut.
 
 Negara juga
 berperan menjadi aktor 
 dalam penyulut
 kebencian 
 terhadap etnis Tionghoa.
 Melalui Surat
 Edaran 
 Presidium Kabinet Ampera 
 Nomor 06 Tahun 1967, negara
 berperan
 melakukan 
 identifikasi rasial dan 
 segregasi identitas. Surat
 itu adalah upaya
 
 penyeragaman penyebutkan 
 kelompok etnis
 “Tionghoa” yang dianggap
 
 mengandung nilai-nilai yang 
 memberi
 asosiasi-psykopolitis yang negatif
 
 bagi rakyat Indonesia, menjadi 
 “Cina” yang
 dianggap lebih
 “dikehendaki 
 untuk dipergunakan oleh
 umumnya 
 Rakyat
 Indonesia.”
 
 Indarwati 
 Aminuddin, seorang
 penulis, pernah 
 menyusun laporan
 menarik tentang 
 Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa 
 pada 2002.
 Laporan itu dengan 
 bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh 
 mana
 pencantuman identitas 
 rasial seseorang relevan dalam 
 laporan/karya
 jurnalistik. Profiling atau
 
 penyosokan menjadi relevan 
 untuk menjelaskan konteks
 identitas
 seseorang 
 dalam pemberitaan. Maka 
 Indarwati mengatakan bahwa
 atribusi yang
 relevan 
 membantu publik memahami 
 persoalan dengan lengkap.
 Namun, atribusi
 yang 
 tak relevan justru 
 menciptakan kesan bahwa kesalahan
 seseorang
 terkait 
 dengan identitasnya, 
 entah itu suku, agama, ras atau
 
 bahasa.
 
 Indarwati
 lantas 
 memberikan sebuah contoh dari berbagai 
 media di Indonesia yang melakukan 
 profiling terhadap
 etnis Tionghoa 
 dalam framing berita. Frasa seperti 
 “warga
 keturunan”dan “pribumi” kerap
 
 disandingkan untuk menjelaskan 
 posisi korban dan
 pelaku. Dalam 
 tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa 
 media
 sekelas Tempo pernah 
 melakukan profiling dengan tendensi 
 rasis.
 
 Berita yang berjudul
 
 “Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 
 25
 Februari-03 Maret 2002, Tempo 
 menuliskan tentang Bank Central Asia 
 yang memiliki
 akronim BCA. BCA 
 dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, 
 asli
 kelahiran Fujian. 
 Atribusi ini dianggap bermasalah karena 
 melalui
 pemberitaannya itu Tempo 
 menggiring pembacanya untuk berpikir 
 “bahwa BCA
 adalah bank yang 
 menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati 
 menuduh
 bahwa Tempo melakukan 
 framing karena istilah “Bank Cina Asli” 
 itu
 bukan sebuah istilah yang 
 bisa didengar di mana-mana hingga Tempo 
 membaptisnya
 jadi plesetan 
 umum.
 
 Kebencian
 rasialis yang 
 akhir-akhir ini coba dikobarkan 
 sebenarnya
 bermula dari politik pemisahan 
 identitas.
 Bahwa orang 
 Tionghoa di Indonesia selamanya adalah 
 pendatang,
 mereka kerap menjadi 
 kambing hitam dari banyak kekerasan dan 
 masalah
 sosial. Media dalam hal 
 ini semakin memupuk prasangka itu tanpa 
 ada upaya
 rekonsiliasi. 
 Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa 
 etnis
 Tionghoa adalah bagian 
 dari warga negara Indonesia, terlepas dari 
 ras yang
 ia 
 sandang.
 ______________
 
 Baca juga artikel 
 Tirto.id
 terkait 
 berikut
 ini:
 Kebencian 
 yang Menular
 dan Mematikan 
 
 
 (dan/nqm)
 -- 
 Anda 
 menerima pesan ini karena berlangganan 
 grup
 "diskusi kita" di Google 
 Grup.
 Untuk berhenti
 berlangganan
 dan 
 berhenti menerima email dari 
 grup ini,
 kirim email ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 
 
 -- 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Dr.Saafroedin 
 Bahar
 
 Male, 80
 yrs, 
 
 
 Jakarta
 
 --
 
 Anda 
 menerima pesan ini karena
 berlangganan 
 grup
 "diskusi kita" di Google 
 Grup.
 Untuk berhenti
 berlangganan 
 dan
 berhenti menerima email dari grup 
 ini, kirim email ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 -- 
 Anda 
 menerima 
 pesan ini karena berlangganan grup
 "diskusi kita" di Google 
 
 Grup.
 Untuk berhenti
 berlangganan dan
 berhenti menerima email
 dari 
 grup 
 ini, kirim email ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 
 
 -- 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Dr.Saafroedin 
 Bahar
 
 Male, 80
 yrs, 
 
 
 Jakarta
 
 --
 
 Anda 
 menerima pesan ini karena
 berlangganan 
 grup
 "diskusi kita" di Google 
 Grup.
 Untuk berhenti
 berlangganan 
 dan
 berhenti menerima email dari grup 
 ini, kirim email ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 -- 
 Anda menerima 
 
 pesan ini karena berlangganan grup
 "diskusi
 kita" di Google 
 Grup.
 Untuk 
 berhenti
 berlangganan dan berhenti menerima email 
 dari
 grup ini, kirim email 
 ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 
 
 -- 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Dr.Saafroedin 
 Bahar
 
 Male,
 80
 yrs, 
 
 
 Jakarta
 
 -- 
 Anda 
 menerima pesan ini karena berlangganan 
 grup "diskusi
 kita" di Google 
 Grup.
 Untuk berhenti
 berlangganan 
 dan
 berhenti menerima email dari grup 
 ini, kirim email ke 
 diskusi-kita+unsubscribe@
 googlegroups.com.
 Untuk 
 opsi lebih lanjut, 
 kunjungi https://groups.google.com/d/
 optout.
 
 
 
 
 -- 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Dr.Saafroedin Bahar
 Male, 80 
 yrs,
 Jakarta
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367 --
 #yiv3407634367ygrp-mkp
 {
 border:1px solid 
 #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 
 10px;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-mkp hr {
 border:1px solid
 
 #d8d8d8;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367hd 
 {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-mkp #yiv3407634367ads 
 {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mkp 
 .yiv3407634367ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-mkp 
 .yiv3407634367ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-mkp 
 .yiv3407634367ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor
 #yiv3407634367ygrp-lc 
 {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor
 #yiv3407634367ygrp-lc #yiv3407634367hd 
 {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor
 #yiv3407634367ygrp-lc .yiv3407634367ad 
 {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px
 
 0;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367activity 
 {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367activity span:first-child 
 {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367activity 
 span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367activity span
 .yiv3407634367underline 
 {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv3407634367
 .yiv3407634367attach 
 {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367attach img 
 {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv3407634367
 .yiv3407634367attach 
 label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv3407634367
 .yiv3407634367bold 
 {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 dd.yiv3407634367last p a 
 {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 dd.yiv3407634367last p span 
 {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 dd.yiv3407634367last p
 span.yiv3407634367yshortcuts 
 {
 margin-right:0;}
 
 #yiv3407634367 div.yiv3407634367attach-table
 div 
 div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 div.yiv3407634367attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv3407634367 
 div.yiv3407634367file-title a, #yiv3407634367
 div.yiv3407634367file-title 
 a:active, #yiv3407634367
 div.yiv3407634367file-title a:hover, 
 #yiv3407634367
 div.yiv3407634367file-title
 a:visited 
 {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 div.yiv3407634367photo-title 
 a,
 #yiv3407634367
 div.yiv3407634367photo-title a:active,
 #yiv3407634367 
 div.yiv3407634367photo-title a:hover,
 #yiv3407634367 
 div.yiv3407634367photo-title a:visited 
 {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 div#yiv3407634367ygrp-mlmsg
 #yiv3407634367ygrp-msg p a 
 span.yiv3407634367yshortcuts 
 {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367MsoNormal {
 margin:0 0 0
 0;}
 
 #yiv3407634367 o 
 {
 font-size:0;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367photos div 
 {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367photos div div 
 {
 border:1px 
 solid
 #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367photos div label 
 {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv3407634367 
 .yiv3407634367replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-actbar div a:first-child 
 {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, 
 clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-mlmsg table 
 {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-mlmsg select,
 #yiv3407634367 input, #yiv3407634367 
 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean,
 
 sans-serif;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-mlmsg pre, 
 #yiv3407634367
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-mlmsg #yiv3407634367logo 
 {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-msg p a 
 {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-msg
 p#yiv3407634367attach-count span 
 {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-reco
 #yiv3407634367reco-head 
 {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-reco 
 {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
 li a 
 {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
 li 
 {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px
 0;}
 
 #yiv3407634367 
 #yiv3407634367ygrp-sponsor #yiv3407634367ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 
 8px;}
 
 #yiv3407634367
 #yiv3407634367ygrp-text 
 {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text p 
 {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-text tt 
 {
 font-size:120%;}
 
 #yiv3407634367 #yiv3407634367ygrp-vital ul 
 li:last-child {
 border-right:none
 !important;
 }
 #yiv3407634367
 
 
 
 
 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281 --
   #yiv8378090281ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp #yiv8378090281ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mkp .yiv8378090281ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
 #yiv8378090281ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
 #yiv8378090281ygrp-lc #yiv8378090281hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor
 #yiv8378090281ygrp-lc .yiv8378090281ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281activity span
 .yiv8378090281underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 dd.yiv8378090281last p
 span.yiv8378090281yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281file-title a, #yiv8378090281
 div.yiv8378090281file-title a:active, #yiv8378090281
 div.yiv8378090281file-title a:hover, #yiv8378090281
 div.yiv8378090281file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a,
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:active,
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:hover,
 #yiv8378090281 div.yiv8378090281photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 div#yiv8378090281ygrp-mlmsg
 #yiv8378090281ygrp-msg p a span.yiv8378090281yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv8378090281 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div div {
 border:1px solid
 #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv8378090281 .yiv8378090281replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg select,
 #yiv8378090281 input, #yiv8378090281 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg pre, #yiv8378090281
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-mlmsg #yiv8378090281logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-msg
 p#yiv8378090281attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco
 #yiv8378090281reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-sponsor #yiv8378090281ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv8378090281 #yiv8378090281ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv8378090281 
 

Kirim email ke