Kiriman tulisan bung Taher ini entah mengapa terjadi kerukan format, agar lebih 
mantap dibaca saya benahi dan kirim ulang, ...
Selamat membaca, ...

Salam,
ChanCT

From: Yoseph T Taher 
Sent: Saturday, October 1, 2016 2:21 PM



GENOSIDA 1965

—  APAKAH AKAN DILUPAKAN BEGITU SAJA?



OKTOBER 1965 - Setelah lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan 
organisasi kiri lain berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat 
bangkit dan mencapai puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang 
disebut sebagai golongan manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir, dst., yang 
darahnya halal, maka situasi telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan 
pembasmian dalam bentuk pembunuhan massal. 



Dan itulah yang terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan pasukan RPKAD di 
bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga Oktober 1965, 
selanjutnya di Jawa Timur pada minggu berikutnya, dan Bali pada Desember 
1965—Januari 1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie yang 
membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia. 



Pembunuhan di Daerah-Daerah



“KELOMPOK-KELOMPOK paramiliter pemuda didorong untuk melakukan pembunuhan 
terhadap sejumlah orang dan diberi dukungan moral dan logistik oleh Angkatan 
Darat.[1]



Di Jawa Timur, Gerakan Pemuda Ansor yang berafiliasi ke NU merupakan tulang 
punggung utama Angkatan Darat, sementara di Medan adalah Pemuda Pancasila, dan 
di Bali adalah gerakan Pemuda Ansor dan kelompok-kelompok pengamanan masyarakat 
anti-PKI yang didukung oleh Partai Nasional Indonesia.”[2]



Aceh dan Sumatra Utara



PENDUDUK Muslim di Aceh sangat gairah dalam menghabiskan kaum komunis. Mereka 
memotong leher orang-orang PKI dan menancapkan kepalanya di sepanjang jalan 
buat tontonan. Pimpinan organisasi Pemuda Pancasila mengatakan kepada pejabat 
Konsulat Amerika di Medan bahwa organisasi mereka (Pemuda Pancasila) akan 
membunuh setiap anggota PKI yang dapat mereka tangkap. Organisasi itu tidak 
akan menyerahkan orang PKI itu kepada penguasa/pemerintah, sebelum mereka mati 
atau hampir mati. Kantor-kantor PKI, toko, dan rumah-rumah dibakar. Ratusan dan 
mungkin ribuan kader dan aktivis PKI[3] ditahan di penjara atau di 
tempat-tempat yang dijadikan tempat tahanan.[4]



American Free Press menulis:
“In Aceh, for example, the civilian were ‘decapitated and their heads were 
placed on stakes along the road’. The bodies often repeatedly slashed with 
knifes or sword. Then thrown into the river that they would not ‘contaminate 
Aceh soil’.”[5]



Sehingga berhari-hari, berminggu-minggu dan bulan, rakyat tidak berani memakan 
ikan sungai, karena banyaknya mayat-mayat tak berkepala yang mengambang 
memenuhi sungai-sungai di Aceh dan Sumatra Utara.



Korban buruh perkebunan di Sumatra Utara sedikitnya 100.000 tewas. Sedang di 
Tapanuli, Utara, Selatan, dan Simalungun, tatanan adat terjungkal setelah 
milisi Komando Aksi Penumpasan G30S mulai bergerak mengganyang elemen-elemen 
komunis. Mereka tidak peduli apakah korban adalah paman, satu marga, atau 
keluarga istrinya.


Mereka tidak peduli kendatipun hubungan yang dibentuk hierarki adat itu adalah 
simpul keutuhan sosial.



Riau



“SEORANG staf Kedutaan Besar Amerika di Jakarta melaporkan tentang teror 
militer-muslim yang langsung ditujukan melawan kaum buruh dalam perusahaan 
minyak vital Caltex: “Muslim dengan sepengetahuan dan pesetujuan pihak militer 
menjarah rumah-rumah komunis di dalam kota dan menutup gedung-gedungnya di 
daerah-daerah. Pihak militer menggerebek rumah-rumah pimpinan PKI dan 
memberitahukan pihak pimpinan perusahaan minyak Caltex pada 29 Oktober 65, akan 
rencana militer, yang bakal menangkapi anggota-anggota dan pimpinan buruh 
komunis Perbum, yang menjadi tulang punggung dan kekuatan PKI di Provinsi 
Riau.”[6]



Pada tanggal 18 November 1965 (20 hari setelah pemberitahuan pihak militer 
kepada Manajer Caltex), maka pihak militer, dengan dibantu oleh organisasi- 
organisasi buruh muslim dan lokal, melakukan operasi penangkapan atas anggota 
dan pimpinan organisasi buruh minyak Perbum (Persatuan Buruh Minyak), di 
seluruh daerah perusahaan Caltex. Ratusan buruh, baik staf maupun non staf, 
ditangkap dan dikumpulkan dalam satu tempat tahanan yang bernama RTM, Rumah 
Tahanan Militer, di ibukota provinsi, Pekanbaru.


Bagi perusahaan minyak asing Caltex, bukan hal yang sulit untuk mengetahui 
siapa yang menjadi anggota Perbum, karena semenjak 1 Mei 1964, telah 
ditandatangani suatu Persetujuan Bersama antara kaum buruh dan majikan, yang 
disebut CLA (Colective Labour Agreement), di mana kaum buruh diwajibkan memberi 
surat pernyataan yang ditandatangani kepada majikan untuk memotong gajinya 
Rp100/bulan guna diserahkan kepada organisasi yang dipilih oleh buruh. 



Dengan demikian, seluruh buruh minyak yang menjadi anggota Perbum, yang 
merupakan 75% dari jumlah semua buruh, terdaftar namanya pada perusahaan minyak 
Caltex! Dan ketika tiba saat militer yang dibantu organisasi buruh muslim dan 
lokal (PPC, Persatuan Pegawai Caltex), dengan mudah menangkapi anggota-anggota 
Perbum yang dituduh sebagai organisasi buruh komunis.



Di seluruh pelosok daerah, pihak militer menangkapi orang-orang yang yang 
diduga PKI, dan menjadi anggota atau simpatisan organisasi Pemuda Rakyat, 
Gerwani, Sobsi, BTI, Lekra, dan sebagainya. Rumah Tahanan Militer menjadi penuh 
sesak, namun penangkapan terus berlangsung. Dari daerah-daerah kabupaten atau 
kecamatan, penangkapan berjalan terus, dan para tahanan tersebut, dikatakan, 
dikirim ke Pekanbaru, ke Rumah Tahanan Militer, namun kenyataannya tidak pernah 
sampai, hilang lenyap dalam perjalanan, tak tahu kabar beritanya.



Sebagai bukti, dapat dijelaskan, dari Kabupaten Bengkalis, 50 orang ditangkap 
dan dibawa dengan kapal motor menuju Pekanbaru, namun tidak seorang pun yang 
sampai dan tidak diketahui kabar beritanya; dari Bagan Siapi-api, 40 orang 
ditangkap dan dibawa dengan kapal motor, namun hanya seorang yang sampai dan 
dimasukkan ke Rumah Tahanan Militer Pekanbaru; dari Selatpanjang, 30 orang 
ditangkap dan dibawa dengan kapal motor, dan tak seorang pun yang sampai; dari 
Rengat, 50 orang yang ditangkap dan dibawa dengan truk, dan tak seorang pun 
yang sampai ke Pekanbaru; dari Tembilahan, 30 orang ditangkap dan dibawa dengan 
truk, juga tidak ada yang sampai ke Pekanbaru; di Pasir Pengaraian, 50 orang 
langsung dibunuh tanpa melalui proses. Dari dalam Rumah Tahanan Militer di 
Pekanbaru sendiri, dalam periode 15 Februari 1966 sampai 16 September 1968, 40 
orang tahanan diambil malam dan hilang, dibunuh! Di antara mereka yang diambil 
dan dibunuh ini banyak yang sebelumnya menjadi pegawai tinggi pada perusahaan 
minyak asing Caltex, bahkan seorang yang sedang dikirim oleh Caltex belajar di 
Amerika, dipanggil pulang, dijebloskan ke dalam tahanan, kemudian diambil malam 
dan dibunuh! Menurut berita yang tersiar di dalam tahanan, seseorang yang 
berhasil membunuh seorang tahanan komunis ketika itu, mendapat imbalan “uang 
jasa” sebanyak Rp50.- (lima puluh rupiah) dari “organisasi”. Apakah ini 
merupakan pembagian “dana” yang diberikan oleh Amerika Serikat melalui 
perantaraan Adam Malik, yaitu “bantuan” sebanyak $50 juta(?)—seperti yang 
diberitakan kepada KAP (Kesatuan Aksi Pengganyangan) Gestapu, yang dipimpin 
oleh Subchan Z.E. dari NU dan Harry Tjan Silalahi dari Katolik untuk 
pembantaian komunis?



Sumatra Barat



Di Sumatra Barat, negeri yang punya budaya “berat sama dipikul, ringan sama 
dijinjing” juga tak urung melakukan kekejaman-kekejaman pembunuhan terhadap 
rakyat yang tidak melakukan kesalahan, kecuali dianggap sebagai anggota atau 
simpatisan PKI. Keadaannya, sama seperti ketika tahun 1958, di mana PRRI 
menangkapi semua orang yang dianggap komunis, sehingga tak salah kalau 
dikatakan bahwa orde baru/Soeharto sebenarnya adalah penerusan PRRI dalam skala 
global, dari Sabang sampai Merauke. 



Di setiap kampung dan negeri terjadi pembunuhan-pembunuhan terhadap kaum 
komunis. Bahkan, kaum alim ulama Minangkabau yang berpikiran maju, dari partai 
Islam Perti, PSII misalnya, juga dibunuh, kemudian difitnahkan bahwa mereka 
dibunuh oleh PKI, sehingga menambah kebencian dan kemarahan yang membara dari 
masyarakat yang menelan bulat-bulat fitnah dan rekayasa pihak militer. Pihak 
militer orde baru, bersama para milisi dari segala macam organisasi komando 
aksi, mengharubirukan negeri Minangkabau.


Seperti contoh, dapat diceritakan keadaan yang terjadi di satu kampung dan
kota, Salido dan Painan di pesisir selatan Sumatra Barat: 

“Setelah kejadian peristiwa awal Oktober 1965 di Jakarta, dalam menanti dan 
menunggu pidato dari Presiden Soekarno, yang kiranya dapat menjelaskan apa yang 
sebenarnya terjadi, rakyat yang dalam ketidaktahuan, tiba-tiba saja dikejutkan 
oleh kehadiran Komandan Kodim Painan, Letkol. Purnomo Sipur, yang meneror 
masyarakat di kota Painan dan sekitarnya. Pasukan Kodim itu dengan kejam dan 
brutal melakukan penangkapan atas beratus-ratus pemuka masyarakat, rakyat dan 
ninik mamak di pesisir selatan Kerinci. 



Beliau-beliau yang ditangkap itu, digiring seperti menggiring hewan ternak, 
dimasukkan ke dalam penjara-penjara dan digunduli. Sebagian disuntik oleh 
dokter, yang adalah seorang wamilda (wajib militer darurat) dan dimuat ke 
sebuah dump truk yang biasa digunakan buat mengangkut sampah, tanah, atau 
pecahan batu, dan dibawa ke Bukit Pulai, sekitar 10 km di luar kota Painan. Di 
sana, para pemuka rakyat yang dijubelkan dalam dump truk itu, dituangkan dari 
dump truk seperti menuangkan sampah. 



Dan manusia-manusia yang berjatuhan di belakang truk yang bak bagian depannya 
dinaikkan itu, atas perintah dan komando Letkol. Purnomo Sipur, diberondong 
dengan tembakan senjata api. Jerit, pekik dan lolong manusia- manusia tak 
berdosa, menyebut nama Allah, menggema di Bukit Pulai pada tanggal 9 November 
1965 itu. Tubuh-tubuh korban yang secara paksa dihabisi nyawanya itu, 
bergelimpangan bermandi darah, diiringi dengan sorak-sorai dan tawa ria 
serdadu-serdadu brutal dan biadab pengikut Jenderal Soeharto, di bawah komando 
Letkol. Purnomo Sipur. Tidak terhitung jumlahnya anak-anak bangsa, yang di 
antaranya adalah pejuang Perintis Kemerdekaan RI, ninik mamak dan alim ulama 
Minangkabau, direnggut secara paksa hak hidupnya oleh rezim biadab orde 
baru/Soeharto. 



Syamsudin, seorang bekas anggota Mobrig (Mobile Brigade—TNI), ditangkap oleh 
militer rezim Soeharto. Tangan dan kakinya diikat pada dua buah pedati yang 
kemudian ditarik oleh dua ekor kerbau dengan arah yang berlawanan. Tubuh 
Syamsudin hancur berkecai. Potongan tubuh bertebaran dengan darah yang 
berserakan membasah bumi Minangkabau! “Pesta” militer yang brutal dan biadab 
ini mereka lakukan di depan anak dan istri Syamsudin, yang dipaksa untuk 
menyaksikan “kebudayaan AD/orde baru Jenderal Soeharto! 



Nurhayani, seorang gadis remaja yang baru saja tamat SMP, ditangkap, karena dia 
menghalang-halangi Letkol. Purnomo Sipur yang akan menangkap ayah si gadis. 
Perwira ABRI/Jenderal Soeharto yang gagah perkasa ini, memasukkan Nurhayani ke 
dalam karung dan mengikatnya, dan melemparkannya ke Batang (Sungai) Nilam di 
Air Hadji. Para militer yang hebat dan perkasa itu, tertawa terbahak-bahak, 
sambil minum air kelapa muda, melihat karung yang berisi tubuh Nurhayani 
menggelepar-gelapar dibawa arus air.


Setelah pahlawan-pahlawan rezim Soeharto itu berlalu, keluarga dan sanak 
saudara Nurhayani, dengan raung dan tangis, mengambil mayatnya dari Sungai 
Nilam dan mengebumikannya sesuai dengan adat istiadat Minangkabau.”



Pengungkapan di atas hanya dari satu daerah kecil Salido dan Painan di pesisir 
barat Sumatera Barat. Bagaimana dengan daerah, kota dan kabupaten-kabupaten 
lain seperti Agam, Limapuluhkota, Pasaman, Kerinci, Pesisir Selatan. Dan Padang 
Pariaman, dll.?[7]



Jawa Barat



Di Jawa Barat, pembunuhan massal juga terjadi, tetapi dalam skala yang jauh 
lebih kecil karena militer di Jawa Barat cukup patuh pada perintah Presiden 
Soekarno untuk tidak saling membunuh. Tapi basis-basis PKI di Subang, 
Indramayu, dan Cirebon tetap diluluhlantakkan, dibumi-hanguskan, dan 
dihancurkan. Puluhan ribu orang mati dibunuh hanya dalam tempo dua bulanan. 



Kenapa pembunuhan di Jabar tidak “sehebat” di Jateng atau Bali misalnya? Dalam 
hal ini, Prof. Ben Anderson sempat berwawancara dengan Pangdam Siliwangi, 
Jenderal Ibrahim Ajie, dan bertanya: “Kenapa tidak ada pembunuhan besar-besaran 
di Jawa Barat?” Jenderal Ajie menjawab: “Sebenarnya memang ada, umpamanya di 
Indramayu, tetapi tidak meluas. Itu sebabnya karena saya tidak ingin ada 
pembantaian di Jawa Barat. Karena merasa bagaimanapun ini sebagian besar orang 
biasa, orang-orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka itu dibunuh. Saya sudah 
kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang ini ditangkap, 
diamankan. Tapi jangan sampai ada macem-macem.” 



Ternyata kewibawaan si Adjie yang terkenal jenderal kanan, yang dekat dengan 
Amerika, itu berlaku penuh, namun pada waktu itu dia dianggap sebagai 
saingannya Soeharto, lalu dibuang ke London jadi dubes di sana.[8]



Pasukan RPKAD Sarwo Edhi Wibowo, setelah mengharubirukan Jakarta, setelah 
membunuh dan menangkapi orang-orang kiri terutama komunis, mulai bergerak masuk 
Jawa Tengah pada bulan Oktober itu, lalu menyebar ke Jawa Timur di bulan 
November dan kemudian menyebar ke Bali untuk melakukan pembunuhan di bulan 
Desember 1965. 



Jawa Tengah



MENURUT yang diceritakan dalan film dokumen Shadow Play, pasukan Sarwo Edhi 
Wibowo, pertama-tama ke Jawa Tengah, membersihkan, menghilangkan para perwira 
dalam Divisi Diponegoro yang bersimpati kepada G30S.



Prof. Ben Anderson dalam satu wawancara mengatakan, bahwa kelompok pimpinan 
Kodam Diponegoro yang mendukung G30S, Kolonel Suherman — asisten satu, Kolonel 
Maryono — asisten tiga, Letkol. Usman — asisten empat, dsb, untuk selama 
kira-kira 48 jam, menguasai hampir seluruh Jawa Tengah, kemudian mereka juga 
hilang.



Tidak pernah di antara mereka ada yang diadili, diajukan ke pengadilan, dsb. 
Mereka hilang tanpa bekas, dan itu tidak pernah diisukan. Malah kalau membaca 
laporan dari Buku Putih apa yang terjadi di Jawa Tengah sama sekali tidak 
menjadi masalah. Jadi semua perhatian dengan sengaja dipusatkan pada apa yang 
terjadi di Jakarta. Dan, siapa yang tahu tentang mereka yang hilang ini? Kita 
harus tanyakan kepada pemerintah Indonesia, Suherman di mana? Maryono, Usman di 
mana? Dan sebagainya. Banyak sekali tokoh-tokoh dari G30S hilang tanpa bekas. 
Yang tahu bagaimana nasibnya, ya tentara sendiri.[9]



Di Boyolali, 21 Oktober 1965, menjadi awal pembantaian massal, ribuan orang 
ditembaki dan digorok secara biadab. Kuburan massal hasil galian paksa para 
korban tercipta mendadak.



Orang-orang yang menolak membunuh atau menggali kuburan, diancam akan ikut 
dibunuh. Tubuh-tubuh tanpa kepala bergelimpangan di desa dan kampung perkotaan 
sekitar Solo, Blora, dan Prambanan. Di Blora sendiri tak kurang 5.000 orang 
dibantai dengan sadis. Sungai Bengawan Solo, Kali Wedi Klaten, dan Sungai 
Brantas di Jawa Timur penuh dengan mayat bertubuh tak utuh. Kali jadi merah. 
Orang ketakutan. Tak jelas siapa kawan, siapa lawan.



Jawa Timur



LAPORAN dari misionaris Katolik di Kediri menyebut 3 ribu orang tewas dibantai 
pada November 1965.



Jenderal Soemitro, Pangdam Brawijaya mengatakan bahwa “1 orang nyawa jenderal 
harus ditebus 100 ribu nyawa PKI.” Ia pun mengiringi pembantaian massal di 
berbagai wilayah di Indonesia. Dia pulalah yang memimpin penangkapan, 
penggorokan, penembakan ratusan massa sekaligus dan membuang mayat mereka ke 
dalam lubang yang digali oleh para korban itu sendiri. Diperkirakan 250.000 
korban mati atau hilang di Jawa Timur.[10]



Peristiwa pembantaian di Jawa Timur diungkapkan Soekarno dalam pidato di depan 
HMI di Bogor 18 Desember 1965. Soekarno mengatakan pembunuhan itu dilakukan 
dengan sadis, orang bahkan tidak berani menguburkan korban. “Awas kalau kau 
berani ngrumat jenazah, engkau akan dibunuh. Jenazah itu diklelerkan saja di 
bawah pohon, di pinggir sungai, dilempar bagai bangkai anjing yang sudah 
mati.”[11]



Bali



Di Bali, pembantaian massal dimulai setelah RPKAD mendarat pada awal Desember 
1965. Mereka menggalang milisi-milisi binaan PNI yang disebut Tameng. Mereka 
juga datang bersama segerombolan milisi Jawa—Madura yang berasal dari 
Banyuwangi. Pola pembantaian pun kurang lebih sama biadab dengan di Jawa, 
bahkan mungkin lebih menggila karena ketegangan antara PNI dengan PKI merasuk 
sampai ke ranah-ranah pribadi di dalam keluarga-keluarga besar. Dengan 
memanfaatkan adat dan ritual, di beberapa tempat terjadi pembantaian seluruh 
garis keluarga dengan anggapan akan menghilangkan dendam turunan. Laki-laki 
berusia 17 tahun ke atas, apalagi kalau ia pandai, tak bakal selamat.



Bali harus dibersihkan dari malapetaka, diupacarai dengan banjir darah agar 
Pulau Dewata suci kembali. Mayat-mayat pun dipotong, dipisahkan tangan, kaki 
dan kepala dari badan dan dibuang di berbagai tempat supaya unsur-unsur jahat 
tak bersatu.



Rumah demi rumah di suatu desa dibakar, kadang-kadang dengan penghuninya secara 
hidup-hidup. Kuburan massal yang berisi ratusan mayat bertebaran hampir di 
seluruh bagian pulau cantik ini. Terkirakan sekitar 80.000—100.000 jadi korban 
pembantaian.



Tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Bung Karno mencatat laporan resmi para 
penguasa, antara 80.000—100.000 jiwa telah menjadi korban di Jawa dan Bali. 
Tetapi di balik itu, para penguasa sendiri menduga korbannya 10 kali lebih 
besar dari yang mereka laporkan.[12] Pembunuhan di Bali ini diperkirakan 5% 
dari jumlah penduduk Bali sendiri.[13]



Dr. Robert Cribb, dosen sejarah pada Australian National University Melbourne, 
mengatakan: “Kadang-kadang tentara sendiri masuk ke desa membunuh orang, tapi 
biasanya orang ditangkap, ditahan, dan dikeluarkan di tangan milisia, di tangan 
organisasi-organsasi yang diadakan oleh tentara untuk dibunuh. Sarwo Edhi yang 
memimpin RPKAD mengatakan bahwa di Jawa rakyat harus dihasut untuk membunuh 
orang komunis. Dari saksi, jelas, bahwa di Bali juga RPKAD punya peranan besar 
menghasut rakyat….”[14]



“Ditangkap di satu desa dan dibawa ke desa lain dan dibunuh, supaya orang yang 
ditangkap tidak kenal dengan si pelaku…. Untuk ini perlu kordinasi. Nah, saya 
ingin tahu siapa kordinator ini?” tanya Prof.Dr. Henk Schulte Merdbolt, 
sejarawan Amsterdam University, Netherland.[15]



Dalam penyelidikan rakyat Bali sendiri, diketahui beberapa tempat yang menjadi 
lokasi kuburan massal di Pulau Bali, seperti: di Desa Sangsit, Kabupaten 
Buleleng, di Desa Rendang dan Nongan Kabupaten Karangasem, di Pantai Masceti 
Kabupaten Gianyar, di Desa Kapal Kabupaten Badung. Umumnya mereka yang dibantai 
di Desa Kapal, adalah orang-orang yang ditahan, diambil, dan dikeluarkan dari 
kamar tahanan dan dibunuh. 



Di antara mereka adalah Ketut Kandel, Anom Dede, Ir. Sataya Bandem Wirka, 
Bandem Pageh, I Gede Puger, Anak Agung Kencana, Wayan Duma, Anak Agung Tiaga, 
Ida Bagus Dupem, Ida Bagus Warjana, Ketut Nadi, Harto Setiadi. Di antara 
mereka, ada yang ditembak, belum mati lantas dibuang ke lubang dan ditimbun, 
bahkan ada yang tubuhnya dicincang dan dipotong-potong, leher, kaki dan tangan 
dicerai-beraikan seperti yang mereka lakukan atas I Gede Puger, tokoh veteran 
pejuang Bali. 



Pulau Bali benar-benar bersimbah darah! Hanya dalam beberapa minggu di bulan 
Desember 1965, antara 80—100 ribu orang mati dalam pembantaian, merupakan 5% 
dari jumlah penduduk Pulau Bali.[16]



Di seluruh Indonesia, dalam waktu beberapa bulan dari mulai Oktober 1965 sampai 
3 bulan pertama 1966, menurut perkiraan umum ada sekitar 800 ribu sampai sejuta 
orang dibunuh dengan berbagai cara. Digorok, disiksa, dipenggali dan kepalanya 
ditancapkan di pagar rumah korban, dibantai dan ditembaki secara massal, 
dibakar hidup-hidup bersama rumah dan kampungnya, dibuang ke jurang, sungai dan 
lautan. 

Tanah dan harta para anggota PKI atau golongan kiri pun dijarah dan dikuasai 
oleh tentara dan milisi-milisi ciptaannya macam KAMI, KAPI, KAPPI, dst. 
Kebencian rasial pun dikobarkan. Kantor, sekolah, rumah, tanah dan daerah 
pertokoan yang dimiliki kaum etnis Tionghoa, baik yang tergabung dalam Baperki 
atau tidak, direbut kemudian diduduki sebagai markas tentara, rumah jenderal, 
kantor Golkar atau markas milisi orba, sampai sekarang. Puluhan ribu orang 
dipekerjakan di Pulau Buru dan Nusakambangan, memenuhi kebutuhan hidup mereka 
sebagai orang buangan, dan kebutuhan para perampok kehidupan mereka.[17]


Hampir di setiap kota provinsi dan kabupaten didirikan tempat-tempat tahanan 
orang-orang yang ditangkap dengan tuduhan “ada indikasi” terlibat langsung 
maupun tak langsung dengan G30S.



Ratusan ribu tahanan ditempatkan di dalam kamp-kamp yang sangat tidak memadai 
dan di bawah standar kemanusian. Tempat, kesehatan, makanan, dan lain-lain yang 
sangat minim yang semuanya itu hanya bertujuan untuk melenyapkan secara pelan 
dan bertahap, mengikut apa yang diucapkan Soeharto: “Kalau ditahan terus, siapa 
yang memberi makan?” Karena kenyataannya, di samping para tahanan yang mati 
karena sakit, kurang makan dan tekanan batin, dsb., banyak di antaranya yang 
diambil malam dari tempat tahanannya dan dibunuh. Inilah praktik kekejaman 
kemanusiaan, kebiadaban, yang dilakukan oleh rezim orba/Soeharto. 



-------------

[1] baca: RPKAD yang kemudian menjadi Kopassus—Pen.

[2] Elizabeth Fuller Collins, “Indonesia: Sebuah Budaya Kekerasan?”

[3] yang belum sempat dibunuh—Pen.

[4] Marian Wilkinson, Sydney Morning Herald, 10 Juli 1999

[5] http://www.americanfreepress.net

[6] Mike Head/Marian Wilkinson, Sydney Morning Herald, 20 Juli 1999

[7] Silakan baca: “Kebiadaban Rezim Soeharto di Sumatra Barat”,

www.kabarindonesia.com tanggal 14/2/08

[8] Prof. Ben Anderson, Tentang Pembunuhan Massal 65 dan Tentang Matinya Para 
Jenderal.

[9] Prof. Ben Anderson, Tentang Pembunuhan Massal 65 dan Tentang Matinya Para 
Jenderal.

[10] [Indymedia-jakarta] Mass Grave in Indonesia

[11] Soekarno Menggugat oleh Asvi Warman Adam, Harian Kompas, 6/6/03

[12] Memoar Oey Tjoe Tat

[13] [Indymedia-jakarta] Mass Grave in Indonesia

[14] film dokumen: “Kawan Tiba Senja”, LPKP 65 Bali & JK 6

[15] film dokumen: “Kawan Tiba Senja”, LPKP 65 Bali & JK 6

[16] film dokumen: “Kawan Tiba Senja”, LPKP 65 Bali & JK 6

[17] [Indymedia-jakarta] Mass Grave in Indonesia


Kirim email ke