Pada Sabtu, 1 Oktober 2016 9:53, "Yoseph T Taher [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

      Terima kasih bung Chan, maklumlah computer saya mati (tidak bias buka 
internet) dari May sampai Agustus 2016, jadi susah untuk menulis artikel. 
Terima kasih atas bantuan bung. Salam.




------ Original Message ------
From: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To: "GELORA_In" <[email protected]>
Sent: Saturday, 1 Oct, 2016 At 5:13 PM
Subject: [GELORA45] Fw: GENOSIDA 1965

                                        Kiriman tulisan bung Taher ini entah 
mengapa terjadi kerukan  format, agar lebih mantap dibaca saya benahi dan kirim 
ulang, ... Selamat membaca, ...   Salam, ChanCT     From: Yoseph T Taher   
Sent: Saturday, October 1, 2016 2:21 PM 

 GENOSIDA 1965 —  APAKAH AKAN DILUPAKAN BEGITU  SAJA?   OKTOBER 1965 - Setelah 
lebih dari  dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan  organisasi kiri lain 
berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan  mencapai 
puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut sebagai  golongan 
manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir, dst., yang darahnya halal,  maka 
situasi telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan pembasmian dalam  bentuk 
pembunuhan massal.    Dan itulah yang terjadi di Jawa  Tengah setelah 
kedatangan pasukan RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo  sesudah minggu 
ketiga Oktober 1965, selanjutnya di Jawa Timur pada minggu  berikutnya, dan 
Bali pada Desember 1965—Januari 1966. Sudah sangat dikenal  pengakuan Jenderal 
Sarwo Edhie yang membanggakan telah membasmi 3  juta jiwa manusia.    
Pembunuhan di Daerah-Daerah   “KELOMPOK-KELOMPOK  paramiliter pemuda didorong 
untuk melakukan pembunuhan terhadap sejumlah orang  dan diberi dukungan moral 
dan logistik oleh Angkatan Darat.[1]   Di Jawa Timur, Gerakan Pemuda  Ansor 
yang berafiliasi ke NU merupakan tulang punggung utama Angkatan Darat,  
sementara di Medan adalah Pemuda Pancasila, dan di Bali adalah gerakan Pemuda  
Ansor dan kelompok-kelompok pengamanan masyarakat anti-PKI yang didukung oleh  
Partai Nasional Indonesia.”[2]   Aceh dan Sumatra Utara   PENDUDUK Muslim di 
Aceh sangat  gairah dalam menghabiskan kaum komunis. Mereka memotong leher 
orang-orang PKI  dan menancapkan kepalanya di sepanjang jalan buat tontonan. 
Pimpinan organisasi  Pemuda Pancasila mengatakan kepada pejabat Konsulat 
Amerika di Medan bahwa  organisasi mereka (Pemuda Pancasila) akan membunuh 
setiap anggota PKI yang dapat  mereka tangkap. Organisasi itu tidak akan 
menyerahkan orang PKI itu kepada  penguasa/pemerintah, sebelum mereka mati atau 
hampir mati. Kantor-kantor PKI,  toko, dan rumah-rumah dibakar. Ratusan dan 
mungkin ribuan kader dan aktivis  PKI[3] ditahan di penjara atau di  
tempat-tempat yang dijadikan tempat tahanan.[4]   American Free Press menulis:
“In Aceh, for example, the civilian were  ‘decapitated and their heads were  
placed on stakes along the road’. The  bodies often repeatedly slashed with 
knifes or sword. Then thrown into the river  that they would not ‘contaminate 
Aceh soil’.”[5]   Sehingga berhari-hari, berminggu-minggu dan bulan,  rakyat 
tidak berani memakan ikan sungai, karena banyaknya mayat-mayat tak  berkepala 
yang mengambang memenuhi sungai-sungai di Aceh dan Sumatra  Utara.   Korban 
buruh perkebunan di Sumatra Utara sedikitnya 100.000  tewas. Sedang di 
Tapanuli, Utara, Selatan, dan Simalungun, tatanan adat  terjungkal setelah 
milisi Komando Aksi Penumpasan G30S mulai bergerak  mengganyang elemen-elemen 
komunis. Mereka tidak peduli apakah korban adalah  paman, satu marga, atau 
keluarga istrinya. 
Mereka tidak peduli kendatipun hubungan yang dibentuk  hierarki adat itu adalah 
simpul keutuhan sosial.   Riau   “SEORANG staf Kedutaan  Besar Amerika di 
Jakarta melaporkan  tentang teror militer-muslim yang langsung ditujukan 
melawan kaum buruh dalam perusahaan  minyak vital Caltex: “Muslim dengan  
sepengetahuan  dan pesetujuan pihak militer menjarah rumah-rumah komunis di 
dalam kota dan menutup  gedung-gedungnya di daerah-daerah. Pihak militer 
menggerebek rumah-rumah  pimpinan PKI dan memberitahukan pihak pimpinan 
perusahaan minyak Caltex pada 29  Oktober 65, akan rencana militer, yang bakal 
menangkapi anggota-anggota dan  pimpinan buruh komunis Perbum, yang menjadi 
tulang punggung dan kekuatan PKI di  Provinsi Riau.”[6]   Pada tanggal 18 
November 1965 (20 hari setelah  pemberitahuan pihak militer kepada Manajer 
Caltex), maka pihak militer, dengan  dibantu oleh organisasi- organisasi buruh 
muslim dan lokal, melakukan operasi  penangkapan atas anggota dan pimpinan 
organisasi buruh minyak Perbum (Persatuan  Buruh Minyak), di seluruh daerah 
perusahaan Caltex. Ratusan buruh, baik staf  maupun non staf, ditangkap dan 
dikumpulkan dalam satu tempat tahanan yang  bernama RTM, Rumah Tahanan Militer, 
di ibukota provinsi,  Pekanbaru. 
Bagi perusahaan minyak asing Caltex, bukan hal yang sulit  untuk mengetahui 
siapa yang menjadi anggota Perbum, karena semenjak 1 Mei 1964,  telah 
ditandatangani suatu Persetujuan Bersama antara kaum buruh dan majikan,  yang 
disebut CLA (Colective Labour  Agreement), di mana kaum buruh diwajibkan 
memberi surat pernyataan yang  ditandatangani kepada majikan untuk memotong 
gajinya Rp100/bulan guna diserahkan  kepada organisasi yang dipilih oleh buruh. 
   Dengan demikian, seluruh buruh minyak yang menjadi anggota  Perbum, yang 
merupakan 75% dari jumlah semua buruh, terdaftar namanya pada  perusahaan 
minyak Caltex! Dan ketika tiba saat militer yang dibantu organisasi  buruh 
muslim dan lokal (PPC, Persatuan Pegawai Caltex), dengan mudah menangkapi  
anggota-anggota Perbum yang dituduh sebagai organisasi buruh  komunis.   Di 
seluruh pelosok daerah,  pihak militer menangkapi orang-orang yang  yang diduga 
PKI, dan menjadi anggota atau simpatisan organisasi Pemuda  Rakyat, Gerwani, 
Sobsi, BTI, Lekra, dan sebagainya. Rumah Tahanan Militer menjadi  penuh sesak, 
namun penangkapan terus berlangsung. Dari daerah-daerah kabupaten  atau 
kecamatan, penangkapan berjalan terus, dan para tahanan tersebut,  dikatakan, 
dikirim ke Pekanbaru, ke Rumah Tahanan Militer, namun kenyataannya  tidak 
pernah sampai, hilang lenyap dalam perjalanan, tak tahu kabar  beritanya.   
Sebagai bukti, dapat dijelaskan, dari  Kabupaten Bengkalis, 50 orang ditangkap 
dan dibawa dengan kapal motor menuju  Pekanbaru, namun tidak seorang pun yang 
sampai dan tidak diketahui kabar  beritanya; dari Bagan Siapi-api, 40 orang 
ditangkap dan dibawa dengan kapal motor,  namun hanya seorang yang sampai dan 
dimasukkan ke Rumah Tahanan Militer Pekanbaru;  dari Selatpanjang, 30 orang 
ditangkap dan dibawa dengan kapal motor, dan tak  seorang pun yang sampai; dari 
Rengat, 50 orang yang ditangkap dan dibawa  dengan truk, dan tak seorang pun 
yang sampai ke Pekanbaru; dari Tembilahan, 30  orang ditangkap dan dibawa 
dengan truk, juga tidak ada yang sampai ke Pekanbaru;  di Pasir Pengaraian, 50 
orang langsung dibunuh tanpa melalui proses.  Dari  dalam Rumah Tahanan Militer 
di Pekanbaru sendiri, dalam periode 15 Februari 1966  sampai 16 September 1968, 
40 orang tahanan diambil malam dan hilang, dibunuh! Di  antara mereka yang 
diambil dan dibunuh ini banyak yang sebelumnya menjadi  pegawai tinggi pada 
perusahaan minyak asing Caltex, bahkan seorang yang sedang  dikirim oleh Caltex 
belajar di Amerika, dipanggil pulang, dijebloskan ke dalam  tahanan, kemudian 
diambil malam dan dibunuh! Menurut berita yang tersiar di  dalam tahanan, 
seseorang yang berhasil membunuh seorang tahanan komunis ketika  itu, mendapat 
imbalan “uang jasa” sebanyak Rp50.- (lima puluh rupiah) dari  “organisasi”. 
Apakah ini merupakan pembagian “dana” yang diberikan oleh Amerika  Serikat 
melalui perantaraan Adam Malik, yaitu “bantuan” sebanyak $50  juta(?)—seperti 
yang diberitakan kepada KAP (Kesatuan Aksi Pengganyangan)  Gestapu, yang 
dipimpin oleh Subchan Z.E. dari NU dan Harry Tjan Silalahi dari  Katolik untuk 
pembantaian komunis?   Sumatra  Barat   Di Sumatra Barat, negeri yang punya 
budaya “berat  sama dipikul, ringan sama dijinjing” juga tak urung melakukan  
kekejaman-kekejaman pembunuhan terhadap rakyat yang tidak melakukan kesalahan,  
kecuali dianggap sebagai anggota atau simpatisan PKI. Keadaannya, sama seperti  
ketika tahun 1958, di mana PRRI menangkapi semua orang yang dianggap komunis,  
sehingga tak salah kalau dikatakan bahwa orde baru/Soeharto sebenarnya adalah  
penerusan PRRI dalam skala global, dari Sabang sampai Merauke.     Di setiap 
kampung dan negeri terjadi pembunuhan-pembunuhan  terhadap kaum komunis. 
Bahkan, kaum alim ulama Minangkabau yang berpikiran maju,  dari partai Islam 
Perti, PSII misalnya, juga dibunuh, kemudian difitnahkan bahwa  mereka dibunuh 
oleh PKI, sehingga menambah kebencian dan kemarahan yang membara  dari 
masyarakat yang menelan bulat-bulat fitnah dan rekayasa pihak militer.  Pihak 
militer orde baru, bersama para milisi dari segala macam organisasi  komando 
aksi, mengharubirukan negeri Minangkabau. 
Seperti contoh, dapat diceritakan keadaan yang terjadi di  satu kampung dan
kota, Salido dan Painan di pesisir selatan Sumatra Barat:   “Setelah kejadian 
peristiwa awal Oktober  1965 di Jakarta, dalam menanti dan menunggu pidato dari 
Presiden Soekarno, yang  kiranya dapat menjelaskan apa yang  sebenarnya  
terjadi, rakyat yang dalam ketidaktahuan, tiba-tiba saja dikejutkan oleh 
kehadiran Komandan Kodim  Painan, Letkol. Purnomo Sipur, yang meneror  
masyarakat di kota Painan dan sekitarnya. Pasukan Kodim itu dengan kejam dan  
brutal melakukan penangkapan atas beratus-ratus pemuka masyarakat, rakyat dan  
ninik mamak di pesisir selatan Kerinci.    Beliau-beliau yang ditangkap itu, 
digiring seperti  menggiring hewan ternak, dimasukkan ke dalam penjara-penjara 
dan digunduli.  Sebagian disuntik oleh dokter, yang adalah seorang wamilda 
(wajib militer  darurat) dan dimuat ke sebuah dump truk yang biasa digunakan 
buat mengangkut  sampah, tanah, atau pecahan batu, dan dibawa ke Bukit Pulai, 
sekitar 10 km di  luar kota Painan. Di sana, para pemuka rakyat yang dijubelkan 
dalam dump truk  itu, dituangkan dari dump truk seperti menuangkan sampah.    
Dan manusia-manusia yang berjatuhan di belakang truk yang  bak bagian depannya 
dinaikkan itu, atas perintah dan komando Letkol. Purnomo  Sipur, diberondong 
dengan tembakan senjata api. Jerit, pekik dan lolong manusia-  manusia tak 
berdosa, menyebut nama Allah, menggema di Bukit Pulai pada tanggal 9  November 
1965 itu. Tubuh-tubuh korban yang secara paksa dihabisi nyawanya itu,  
bergelimpangan bermandi darah, diiringi dengan sorak-sorai dan tawa ria  
serdadu-serdadu brutal dan biadab pengikut Jenderal Soeharto, di bawah komando  
Letkol. Purnomo Sipur. Tidak terhitung jumlahnya anak-anak bangsa, yang di  
antaranya adalah pejuang Perintis Kemerdekaan RI, ninik mamak dan alim ulama  
Minangkabau, direnggut secara paksa hak hidupnya oleh rezim biadab orde  
baru/Soeharto.    Syamsudin, seorang bekas anggota Mobrig (Mobile  
Brigade—TNI), ditangkap oleh militer rezim Soeharto. Tangan dan kakinya diikat  
pada dua buah pedati yang kemudian ditarik oleh dua ekor kerbau dengan arah 
yang  berlawanan. Tubuh Syamsudin hancur berkecai. Potongan tubuh bertebaran 
dengan  darah yang berserakan membasah bumi Minangkabau! “Pesta” militer yang 
brutal dan  biadab ini mereka lakukan di depan anak dan istri Syamsudin, yang 
dipaksa untuk  menyaksikan “kebudayaan AD/orde baru Jenderal Soeharto!    
Nurhayani, seorang gadis remaja yang baru saja tamat SMP,  ditangkap, karena 
dia menghalang-halangi Letkol. Purnomo Sipur yang akan  menangkap ayah si 
gadis. Perwira ABRI/Jenderal Soeharto yang gagah perkasa ini,  memasukkan 
Nurhayani ke dalam karung dan mengikatnya, dan melemparkannya ke  Batang 
(Sungai) Nilam di Air Hadji. Para militer yang hebat dan perkasa itu,  tertawa 
terbahak-bahak, sambil minum air kelapa muda, melihat karung yang berisi  tubuh 
Nurhayani menggelepar-gelapar dibawa arus air. 
Setelah pahlawan-pahlawan rezim Soeharto itu berlalu,  keluarga dan sanak 
saudara Nurhayani, dengan raung dan tangis, mengambil  mayatnya dari Sungai 
Nilam dan mengebumikannya sesuai dengan adat istiadat  Minangkabau.”   
Pengungkapan di atas hanya dari  satu daerah kecil Salido dan Painan di pesisir 
barat Sumatera Barat. Bagaimana  dengan daerah, kota dan kabupaten-kabupaten 
lain seperti Agam, Limapuluhkota,  Pasaman, Kerinci, Pesisir Selatan. Dan 
Padang Pariaman, dll.?[7]   Jawa Barat   Di Jawa Barat, pembunuhan massal  juga 
terjadi, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil karena militer di Jawa  Barat 
cukup patuh pada perintah Presiden Soekarno untuk tidak saling membunuh.  Tapi  
basis-basis PKI di Subang, Indramayu, dan Cirebon tetap diluluhlantakkan,  
dibumi-hanguskan, dan dihancurkan. Puluhan ribu orang mati dibunuh hanya dalam  
tempo dua bulanan.    Kenapa pembunuhan di Jabar tidak “sehebat” di Jateng atau 
 Bali misalnya? Dalam hal ini, Prof. Ben Anderson sempat berwawancara dengan  
Pangdam Siliwangi, Jenderal Ibrahim Ajie, dan bertanya: “Kenapa tidak ada  
pembunuhan besar-besaran di Jawa Barat?” Jenderal Ajie menjawab: “Sebenarnya  
memang ada, umpamanya di Indramayu, tetapi tidak meluas. Itu sebabnya karena  
saya tidak ingin ada pembantaian di Jawa Barat. Karena merasa bagaimanapun ini  
sebagian besar orang biasa, orang-orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka itu 
 dibunuh. Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang  
ini ditangkap, diamankan. Tapi jangan sampai ada macem-macem.”     Ternyata 
kewibawaan si Adjie  yang terkenal jenderal kanan, yang dekat dengan Amerika, 
itu berlaku penuh,  namun pada waktu itu dia dianggap sebagai saingannya 
Soeharto, lalu dibuang ke  London jadi dubes di sana.[8]   Pasukan RPKAD Sarwo 
Edhi Wibowo, setelah  mengharubirukan Jakarta, setelah membunuh dan menangkapi 
orang-orang kiri  terutama komunis, mulai bergerak masuk Jawa Tengah pada bulan 
Oktober itu, lalu  menyebar ke Jawa Timur di bulan November dan kemudian 
menyebar ke Bali untuk  melakukan pembunuhan di bulan Desember 1965.    Jawa 
Tengah   MENURUT yang diceritakan dalan film dokumen Shadow Play, pasukan Sarwo 
Edhi Wibowo,  pertama-tama ke Jawa Tengah, membersihkan, menghilangkan para 
perwira dalam  Divisi Diponegoro yang bersimpati kepada G30S.   Prof. Ben 
Anderson dalam satu wawancara mengatakan, bahwa  kelompok pimpinan Kodam 
Diponegoro yang mendukung G30S, Kolonel Suherman —  asisten satu, Kolonel 
Maryono — asisten tiga, Letkol. Usman — asisten empat,  dsb, untuk selama 
kira-kira 48 jam, menguasai hampir seluruh Jawa Tengah,  kemudian mereka juga 
hilang.   Tidak pernah di antara mereka  ada yang diadili, diajukan ke 
pengadilan, dsb. Mereka hilang tanpa bekas, dan  itu tidak pernah diisukan. 
Malah kalau membaca laporan dari Buku Putih apa yang terjadi di Jawa  Tengah 
sama sekali tidak menjadi masalah. Jadi semua perhatian dengan sengaja  
dipusatkan pada apa yang terjadi di Jakarta. Dan, siapa yang tahu tentang 
mereka  yang hilang ini? Kita harus tanyakan kepada pemerintah Indonesia, 
Suherman di  mana? Maryono, Usman di mana? Dan sebagainya. Banyak sekali 
tokoh-tokoh dari  G30S hilang tanpa bekas. Yang tahu bagaimana nasibnya, ya 
tentara sendiri.[9]   Di Boyolali, 21 Oktober 1965, menjadi awal pembantaian  
massal, ribuan orang ditembaki dan digorok secara biadab. Kuburan massal hasil  
galian paksa para korban tercipta mendadak.   Orang-orang yang menolak membunuh 
atau menggali kuburan,  diancam akan ikut dibunuh. Tubuh-tubuh tanpa kepala 
bergelimpangan di desa dan  kampung perkotaan sekitar Solo, Blora, dan 
Prambanan. Di Blora sendiri tak  kurang 5.000 orang dibantai dengan sadis. 
Sungai Bengawan Solo, Kali Wedi  Klaten, dan Sungai Brantas di Jawa Timur penuh 
dengan mayat bertubuh tak utuh.  Kali jadi merah. Orang ketakutan. Tak jelas 
siapa kawan, siapa  lawan.   Jawa Timur   LAPORAN dari misionaris Katolik di 
Kediri menyebut 3 ribu  orang tewas dibantai pada November 1965.   Jenderal 
Soemitro, Pangdam  Brawijaya mengatakan bahwa “1 orang nyawa  jenderal harus 
ditebus 100 ribu nyawa  PKI.” Ia pun mengiringi pembantaian massal di berbagai 
wilayah di Indonesia.  Dia pulalah yang memimpin penangkapan, penggorokan, 
penembakan ratusan massa  sekaligus dan membuang mayat mereka ke dalam lubang 
yang digali oleh para korban  itu sendiri. Diperkirakan 250.000 korban mati 
atau hilang di Jawa  Timur.[10]   Peristiwa pembantaian di Jawa  Timur 
diungkapkan Soekarno dalam pidato di depan HMI di Bogor 18 Desember 1965.  
Soekarno mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan sadis, orang bahkan tidak  
berani menguburkan korban. “Awas kalau  kau berani ngrumat jenazah, engkau akan 
dibunuh. Jenazah itu diklelerkan saja di  bawah pohon, di pinggir sungai, 
dilempar bagai bangkai anjing yang sudah  mati.”[11]   Bali   Di Bali, 
pembantaian massal dimulai setelah RPKAD mendarat  pada awal Desember 1965. 
Mereka menggalang milisi-milisi binaan PNI yang disebut  Tameng. Mereka juga 
datang bersama segerombolan milisi Jawa—Madura yang berasal  dari Banyuwangi. 
Pola pembantaian pun kurang lebih sama biadab dengan di Jawa,  bahkan mungkin 
lebih menggila karena ketegangan antara PNI dengan PKI merasuk  sampai ke 
ranah-ranah pribadi di dalam keluarga-keluarga besar. Dengan  memanfaatkan adat 
dan ritual, di beberapa tempat terjadi pembantaian seluruh  garis keluarga 
dengan anggapan akan menghilangkan dendam turunan. Laki-laki  berusia 17 tahun 
ke atas, apalagi kalau ia pandai, tak bakal  selamat.   Bali  harus  
dibersihkan dari malapetaka, diupacarai dengan banjir darah agar Pulau Dewata  
suci kembali. Mayat-mayat pun dipotong, dipisahkan tangan, kaki dan kepala dari 
 badan dan dibuang di berbagai tempat supaya unsur-unsur jahat tak  bersatu.   
Rumah demi rumah di suatu desa dibakar, kadang-kadang  dengan penghuninya 
secara hidup-hidup. Kuburan massal yang berisi ratusan mayat  bertebaran hampir 
di seluruh bagian pulau cantik ini. Terkirakan sekitar  80.000—100.000 jadi 
korban pembantaian.   Tim Pencari Fakta yang dibentuk  oleh Bung Karno mencatat 
laporan resmi para penguasa, antara 80.000—100.000 jiwa  telah menjadi korban 
di Jawa dan Bali. Tetapi di balik itu, para penguasa  sendiri menduga korbannya 
10 kali lebih besar dari yang mereka  laporkan.[12] Pembunuhan di Bali  ini 
diperkirakan 5% dari jumlah penduduk Bali sendiri.[13]   Dr. Robert Cribb, 
dosen sejarah  pada Australian National University Melbourne, mengatakan: 
“Kadang-kadang tentara sendiri masuk ke desa  membunuh orang, tapi biasanya 
orang ditangkap, ditahan, dan dikeluarkan di  tangan milisia, di tangan 
organisasi-organsasi yang diadakan oleh tentara untuk  dibunuh. Sarwo Edhi yang 
memimpin RPKAD mengatakan bahwa di Jawa rakyat harus  dihasut untuk membunuh 
orang komunis. Dari saksi, jelas, bahwa di Bali juga  RPKAD punya peranan besar 
menghasut rakyat….”[14]   “Ditangkap di satu desa dan dibawa ke desa  lain dan 
dibunuh, supaya orang yang ditangkap tidak kenal dengan si pelaku….  Untuk ini 
perlu kordinasi. Nah, saya ingin tahu siapa kordinator ini?” tanya  Prof.Dr. 
Henk Schulte Merdbolt, sejarawan Amsterdam University,  Netherland.[15]   Dalam 
penyelidikan rakyat Bali  sendiri, diketahui beberapa tempat yang menjadi 
lokasi kuburan massal di Pulau  Bali, seperti: di Desa Sangsit, Kabupaten 
Buleleng, di Desa Rendang dan Nongan  Kabupaten Karangasem, di Pantai Masceti 
Kabupaten Gianyar, di Desa Kapal  Kabupaten Badung. Umumnya mereka yang 
dibantai di  Desa Kapal, adalah orang-orang yang ditahan, diambil, dan 
dikeluarkan dari kamar  tahanan dan dibunuh.    Di antara mereka adalah Ketut 
Kandel, Anom Dede, Ir. Sataya  Bandem Wirka, Bandem Pageh, I Gede Puger, Anak 
Agung Kencana, Wayan Duma, Anak  Agung Tiaga, Ida Bagus Dupem, Ida Bagus 
Warjana, Ketut Nadi, Harto Setiadi. Di  antara mereka, ada yang ditembak, belum 
mati lantas dibuang ke lubang dan  ditimbun, bahkan ada yang tubuhnya dicincang 
dan dipotong-potong, leher, kaki  dan tangan dicerai-beraikan seperti yang 
mereka lakukan atas I Gede Puger, tokoh  veteran pejuang Bali.    Pulau Bali 
benar-benar bersimbah  darah! Hanya dalam beberapa minggu di bulan Desember 
1965, antara 80—100 ribu  orang mati dalam pembantaian, merupakan 5% dari 
jumlah penduduk Pulau  Bali.[16]   
Di seluruh Indonesia, dalam waktu beberapa  bulan dari mulai Oktober 1965 
sampai 3 bulan pertama 1966, menurut perkiraan  umum ada sekitar 800 ribu 
sampai sejuta orang dibunuh dengan berbagai cara.  Digorok, disiksa, dipenggali 
dan kepalanya ditancapkan di pagar rumah korban,  dibantai dan ditembaki secara 
massal, dibakar hidup-hidup bersama rumah dan  kampungnya, dibuang ke jurang, 
sungai dan lautan. 
 
 
 
Tanah dan harta para anggota PKI atau golongan kiri  pun dijarah dan dikuasai 
oleh tentara dan milisi-milisi ciptaannya macam KAMI,  KAPI, KAPPI, dst. 
Kebencian rasial pun dikobarkan. Kantor, sekolah, rumah, tanah dan daerah  
pertokoan yang dimiliki kaum etnis Tionghoa, baik yang tergabung dalam Baperki  
atau tidak, direbut kemudian diduduki sebagai markas tentara, rumah jenderal,  
kantor Golkar atau markas milisi orba, sampai sekarang. Puluhan ribu  orang 
dipekerjakan di Pulau Buru dan Nusakambangan,  memenuhi kebutuhan hidup mereka 
sebagai orang buangan, dan  kebutuhan para perampok kehidupan mereka.[17]
   Hampir di setiap kota provinsi dan kabupaten didirikan  tempat-tempat 
tahanan orang-orang yang ditangkap dengan tuduhan “ada indikasi”  terlibat 
langsung maupun tak langsung dengan G30S.   Ratusan ribu tahanan ditempatkan di 
dalam kamp-kamp yang  sangat tidak memadai dan di bawah standar kemanusian. 
Tempat, kesehatan,  makanan, dan lain-lain yang sangat minim yang semuanya itu 
hanya bertujuan untuk  melenyapkan secara pelan dan bertahap, mengikut apa yang 
diucapkan Soeharto: “Kalau ditahan terus, siapa yang memberi  makan?” Karena 
kenyataannya, di samping para tahanan yang mati karena sakit,  kurang makan dan 
tekanan batin, dsb., banyak di antaranya yang diambil malam  dari tempat 
tahanannya dan dibunuh. Inilah praktik kekejaman kemanusiaan,  kebiadaban, yang 
dilakukan oleh rezim orba/Soeharto.    ------------- [1] baca: RPKAD yang 
kemudian menjadi Kopassus—Pen. [2]  Elizabeth Fuller Collins, “Indonesia:  
Sebuah Budaya Kekerasan?” [3] yang belum sempat dibunuh—Pen. [4]  Marian 
Wilkinson, Sydney Morning  Herald, 10 Juli 1999 [5]  
http://www.americanfreepress.net [6]  Mike Head/Marian Wilkinson, Sydney  
Morning Herald, 20 Juli 1999 [7]  Silakan baca: “Kebiadaban Rezim Soeharto  di 
Sumatra Barat”, www.kabarindonesia.com tanggal 14/2/08 [8] Prof. Ben Anderson, 
Tentang  Pembunuhan Massal 65 dan Tentang Matinya Para  Jenderal. [9] Prof. Ben 
Anderson, Tentang  Pembunuhan Massal 65 dan Tentang Matinya Para  Jenderal. 
[10] [Indymedia-jakarta] Mass Grave in  Indonesia [11] Soekarno Menggugat oleh 
Asvi Warman  Adam, Harian Kompas,  6/6/03 [12] Memoar Oey Tjoe  Tat [13] 
[Indymedia-jakarta] Mass Grave in  Indonesia [14]  film dokumen: “Kawan Tiba 
Senja”,  LPKP 65 Bali & JK 6 [15]  film dokumen: “Kawan Tiba Senja”,  LPKP 65 
Bali & JK 6 [16]  film dokumen: “Kawan Tiba Senja”,  LPKP 65 Bali & JK 6 [17] 
[Indymedia-jakarta] Mass Grave in  Indonesia                                    
      
  #yiv1934632861 #yiv1934632861 -- #yiv1934632861ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-mkp #yiv1934632861hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mkp #yiv1934632861ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mkp .yiv1934632861ad 
{padding:0 0;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mkp .yiv1934632861ad p 
{margin:0;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mkp .yiv1934632861ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-sponsor 
#yiv1934632861ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-sponsor #yiv1934632861ygrp-lc #yiv1934632861hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-sponsor #yiv1934632861ygrp-lc .yiv1934632861ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1934632861 #yiv1934632861actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1934632861
 #yiv1934632861activity span {font-weight:700;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1934632861 #yiv1934632861activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1934632861 #yiv1934632861activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1934632861 #yiv1934632861activity span 
.yiv1934632861underline {text-decoration:underline;}#yiv1934632861 
.yiv1934632861attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1934632861 .yiv1934632861attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1934632861 .yiv1934632861attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1934632861 .yiv1934632861attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1934632861 .yiv1934632861attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1934632861 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1934632861 .yiv1934632861bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1934632861 
.yiv1934632861bold a {text-decoration:none;}#yiv1934632861 dd.yiv1934632861last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1934632861 dd.yiv1934632861last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1934632861 
dd.yiv1934632861last p span.yiv1934632861yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1934632861 div.yiv1934632861attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1934632861 div.yiv1934632861attach-table 
{width:400px;}#yiv1934632861 div.yiv1934632861file-title a, #yiv1934632861 
div.yiv1934632861file-title a:active, #yiv1934632861 
div.yiv1934632861file-title a:hover, #yiv1934632861 div.yiv1934632861file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1934632861 div.yiv1934632861photo-title a, 
#yiv1934632861 div.yiv1934632861photo-title a:active, #yiv1934632861 
div.yiv1934632861photo-title a:hover, #yiv1934632861 
div.yiv1934632861photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1934632861 
div#yiv1934632861ygrp-mlmsg #yiv1934632861ygrp-msg p a 
span.yiv1934632861yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1934632861 
.yiv1934632861green {color:#628c2a;}#yiv1934632861 .yiv1934632861MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1934632861 o {font-size:0;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861photos div {float:left;width:72px;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1934632861
 #yiv1934632861reco-category {font-size:77%;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861reco-desc {font-size:77%;}#yiv1934632861 .yiv1934632861replbq 
{margin:4px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-mlmsg select, #yiv1934632861 input, #yiv1934632861 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-mlmsg pre, #yiv1934632861 code {font:115% 
monospace;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-mlmsg #yiv1934632861logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-msg 
p#yiv1934632861attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-reco #yiv1934632861reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-sponsor 
#yiv1934632861ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-sponsor #yiv1934632861ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-sponsor #yiv1934632861ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1934632861 #yiv1934632861ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1934632861 
#yiv1934632861ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1934632861 

   

Kirim email ke