*BARANG SIAP TIDAK PEDULI dengan SIKON KESEHATAN  berarti lebih
mendahulukan BERKENCAN dengan WABAH PENYAKIT DAN  HANTU KEMATIAN ...... *

http://sp.beritasatu.com/home/fortisikasi-minyak-goreng-
sudah-sangat-mendesak/117040

2016-10-02 20:13 GMT+02:00 'j.gedearka' [email protected] [temu_eropa] <
[email protected]>:

>
>
>
> http://sp.beritasatu.com/home/fortisikasi-minyak-goreng-
> sudah-sangat-mendesak/117040
>
>
> *Fortisikasi Minyak Goreng Sudah Sangat Mendesak*
>
>
> *U-5* | Sabtu, 1 Oktober 2016 | 12:31
> [image: Prof (em) Soerkiman. SP/Unggul Wirawan] Prof (em) Soerkiman.
> SP/Unggul Wirawan
>
> Berita Terkait
>
>    - Demi Indonesia Sejahtera, Prof Soekirman Ingin Wariskan Ilmu Gizi
>    
> <http://sp.beritasatu.com/kiprah/demi-indonesia-sejahtera-prof-soekirman-ingin-wariskan-ilmu-gizi/117039>
>
> [JAKARTA] Program fortisikasi minyak masih ditunda hingga Desember 2018.
> Padahal jika pemerintah benar-benar serius mengejar pembangunan yang
> menyejahterakan seluruh rakyat, program ini seharusnya dapat
> direalisasikan. Fortikasi minyak goreng akan dapat memperbaiki kondisi
> kesehatan masyarakat.
>
> “Saat ini, fortisikasi minyak goreng masih tertunda. Padahal SNI dari
> kementerian perindustrian sudah dinyatakan berlaku Maret 2016. Tetapi
> tiba-tiba muncul deregulasi hingga Desember 2018. Itu yang membuat saya
> kecewa. Jika fortisikasi itu diundur, berarti penderitaan anak-anak miskin
> semakin diperpanjang,” ujar Prof (em) Soekirman, di sela-sela peluncuran
> buku “Gizi Pembangunan: Kumpulan Tulisan Prof. Soekirman 1962-2015 di ANZ
> Tower, Jakarta, Sabtu (1/10).
>
> Fortifikasi merupakan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan
> tertentu seperti garam, beras, tepung terigu, tepung jagung, minyak goreng,
> dan gula. Fortisikasi dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih vitamin
> dan mineral dalam bahan makanan tersebut. Sebagai contoh sejak tahun 1994
> garam dapur difortifikasi dengan zat yodium, suatu jenis mineral yang
> sangat dibutuhkan oleh tubuh sejak janin sampai dewasa dan manula.
>
> “Salah satu syarat fortifikasi dari WHO adalah tidak boleh mahal. Misalnya
> minya goreng, yang ditambahkan vitamin A, hanya butuh Rp 50, dari harga
> jual Rp 12.000 per liter. Sementara tepung terigu dengan fortisikasi zat
> besi dan lain-lain hanya butuh tambahan Rp 25, per kilogram,” paparnya.
>
> Sejak tahun 2002, tepung terigu difortifikasi dengan zat besi serta 4
> vitamin dan minerial lainnya. Mulai tahun 2016, seharusnya sudah
> diberlakukan fortifikasi wajib minyak goreng sawit dengan Vitamin A. Tetapi
> tanpa diketahui alasan yang jelas, kewajiban tersebut ditangguhkan
> pelaksanaannya sampai tahun 2018. Dalam salah satu tulisan, Soekirman
> menyebut penundaan itu disayangkan oleh karena merugikan kesehatan
> masyarakat miskin terutama anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.
>
> “Dengan fortisikasi, pemerintah tidak mengeluarkan uang. Biayanya
> ditanggung produsen atau pabrik. Oleh karena itu, fortisikasi dinilai kecil
> dari segi biaya, tetap sangat besar manfaatnya. Ini bahkan menjadi senjata
> pembangunan bangsa,” tambahnya.
>
> Menurut Soekirman, fortisikasi menjadi sempat isu yang negatif pada 2008
> Bahkan pada waktu itu, Fortisikasi dianggap tidak berguna dan membebani
> harga tepung terigu. Sejumlah pihak bahkan mengklaim kebijakan fortisikasi
> telah mengganggu aktivitas perdagangan terigu.
>
> “Hampir semua negara sudah melakukan fortifikasi. Di Asia, Indonesia
> sebenarnya tidak tertinggal. Bahkan untuk terigu, Indonesia yang pertama.
> Beras sudah ada di beberapa negara, tapi Indonesia baru mulai,” tambahnya.
> [U-5]
>
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke