Bagus produk sembako, garam, gula, tepung, beras, air kemasan dll perlu 
ditambahin vitamin dan minderal agar bisa hidup sehat, karena kalau kita 
membeli supplemet tambahan malas.
Kalau umpamanya harga naik lagi rp. 100 tau rp. 200 gak terasa
Mengingat cadangan vitamin  dan mineral dalam produk alami sangat terbatas


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Monday, October 03, 2016 2:21 AM
To: '[email protected]' [email protected] [temu_eropa]; RKB; 
Chalik Hammid; Sunny; Roeslan; Awind; Jakarta Globe; Nasional-List; Sheila 
Kartika [email protected] [PERS-Indonesia]; Lusi.D; Basuki Tjahaja 
Purnama; Ir.Joko Widodo
Cc: GELORA_In; [email protected]
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Re: [temu_eropa] Fortisikasi Minyak Goreng 
Sudah Sangat Mendesak


BARANG SIAP TIDAK PEDULI dengan SIKON KESEHATAN  berarti lebih mendahulukan 
BERKENCAN dengan WABAH PENYAKIT DAN  HANTU KEMATIAN ......

http://sp.beritasatu.com/home/fortisikasi-minyak-goreng-sudah-sangat-mendesak/117040

2016-10-02 20:13 GMT+02:00 'j.gedearka' 
[email protected]<mailto:[email protected]> [temu_eropa] 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>:




http://sp.beritasatu.com/home/fortisikasi-minyak-goreng-sudah-sangat-mendesak/117040



Fortisikasi Minyak Goreng Sudah Sangat Mendesak

U-5 | Sabtu, 1 Oktober 2016 | 12:31
[Prof (em)            Soerkiman. SP/Unggul Wirawan]Prof (em) Soerkiman. 
SP/Unggul Wirawan

Berita Terkait

  *   Demi Indonesia Sejahtera, Prof Soekirman Ingin Wariskan Ilmu 
Gizi<http://sp.beritasatu.com/kiprah/demi-indonesia-sejahtera-prof-soekirman-ingin-wariskan-ilmu-gizi/117039>

[JAKARTA] Program fortisikasi minyak masih ditunda hingga Desember 2018. 
Padahal jika pemerintah benar-benar serius mengejar pembangunan yang 
menyejahterakan seluruh rakyat, program ini seharusnya dapat direalisasikan. 
Fortikasi minyak goreng akan dapat memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.

“Saat ini, fortisikasi minyak goreng masih tertunda. Padahal SNI dari 
kementerian perindustrian sudah dinyatakan berlaku Maret 2016. Tetapi tiba-tiba 
muncul deregulasi hingga Desember 2018. Itu yang membuat saya kecewa. Jika 
fortisikasi itu diundur, berarti penderitaan anak-anak miskin semakin 
diperpanjang,” ujar Prof (em) Soekirman, di sela-sela peluncuran buku “Gizi 
Pembangunan: Kumpulan Tulisan Prof. Soekirman 1962-2015 di ANZ Tower, Jakarta, 
Sabtu (1/10).

Fortifikasi merupakan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan 
tertentu seperti garam, beras, tepung terigu, tepung jagung, minyak goreng, dan 
gula. Fortisikasi dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih vitamin dan 
mineral dalam bahan makanan tersebut. Sebagai contoh sejak tahun 1994 garam 
dapur difortifikasi dengan zat yodium, suatu jenis mineral yang sangat 
dibutuhkan oleh tubuh sejak janin sampai dewasa dan manula.

“Salah satu syarat fortifikasi dari WHO adalah tidak boleh mahal. Misalnya 
minya goreng, yang ditambahkan vitamin A, hanya butuh Rp 50, dari harga jual Rp 
12.000 per liter. Sementara tepung terigu dengan fortisikasi zat besi dan 
lain-lain hanya butuh tambahan Rp 25, per kilogram,” paparnya.

Sejak tahun 2002, tepung terigu difortifikasi dengan zat besi serta 4 vitamin 
dan minerial lainnya. Mulai tahun 2016, seharusnya sudah diberlakukan 
fortifikasi wajib minyak goreng sawit dengan Vitamin A. Tetapi tanpa diketahui 
alasan yang jelas, kewajiban tersebut ditangguhkan pelaksanaannya sampai tahun 
2018. Dalam salah satu tulisan, Soekirman menyebut penundaan itu disayangkan 
oleh karena merugikan kesehatan masyarakat miskin terutama anak-anak, ibu hamil 
dan ibu menyusui.

“Dengan fortisikasi, pemerintah tidak mengeluarkan uang. Biayanya ditanggung 
produsen atau pabrik. Oleh karena itu, fortisikasi dinilai kecil dari segi 
biaya, tetap sangat besar manfaatnya. Ini bahkan menjadi senjata pembangunan 
bangsa,” tambahnya.

Menurut Soekirman, fortisikasi menjadi sempat isu yang negatif pada 2008 Bahkan 
pada waktu itu, Fortisikasi dianggap tidak berguna dan membebani harga tepung 
terigu. Sejumlah pihak bahkan mengklaim kebijakan fortisikasi telah mengganggu 
aktivitas perdagangan terigu.

“Hampir semua negara sudah melakukan fortifikasi. Di Asia, Indonesia sebenarnya 
tidak tertinggal. Bahkan untuk terigu, Indonesia yang pertama. Beras sudah ada 
di beberapa negara, tapi Indonesia baru mulai,” tambahnya. [U-5]












Kirim email ke