Tampilkan pesan asli     Pada Senin, 3 Oktober 2016 13:02, "'Tsasando' 
[email protected] [wahana-news]" <[email protected]> menulis:
 

     
http://daerah.sindonews.com/read/988395/29/menyingkap-rahasia-pembantaian-massal-1965-1966-1428837384
    
CeritaPagi
 
MenyingkapRahasia Pembantaian Massal 1965-1966
 Hasan Kurniawan Senin,  13 April 2015  −  05:05 WIB    PERISTIWA pembunuhan 
massalterhadap anggota, dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) 
sejak1965-1966, merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang terjadi 
didunia, pada abad ke-20.

Korban pembunuhan massal ini jauh lebih besar dari jumlah penduduk Hiroshimadan 
Nagasaki yang tewas terkena serangan bom atom Amerika Serikat (AS), danperang 
Vietnam yang terjadi bertahun-tahun.

Hingga kini, tidak ada kepastian berapa jumlah korban pembunuhan itu. Mulaidari 
yang paling kecil 78.000 jiwa, hingga yang sedang antara 500.000-600.000jiwa, 
dan yang tertinggi mencapai angka tiga juta jiwa.

Menurut Hermawan Sulistyo, dalam bukunya Palu Arit di Ladang Tebu, 
SejarahPembantaian Massal yang Terlupakan kasus Jombang-Kediri 1965-1966, 
perkiraanjumlah korban memiliki muatan politiknya sendiri.

Keterangan ini diperkuat dengan tidak adanya statistik jumlah penduduk 
ditingkat lokal maupun nasional, sebelum dan sesudah terjadinya 
pembunuhantersebut. Sehingga, tidak ada data yang dapat dipercaya.

Anak Marhaen (AM) Hanafi dalam bukunya AM Hanafi Menggugat, Kudeta 
JenderalSoeharto dari Gestapu ke Supersemar, membenarkan muatan politik dalam 
penentuanjumlah korban pembunuhan itu. Menurutnya, sejak awal jumlah korban 
pembunuhanmassal itu telah dimanipulasi.

Data resmi pemerintah yang menyebut angka korban 78.000 jiwa, 
sebenarnyamerupakan hasil manipulasi rezim Orde Lama. Angka itu, sengaja 
dipolitisi untukmenyelamatkan nama baik Presiden Soekarno, di mata para 
pemimpin dunia.Manipulasi data ini, kemudian dibongkar setelah 30 tahun lebih 
dipendamrapat-rapat oleh Hanafi.

Dia menjelaskan, saat terjadi kudeta Letnan Kolonel Untung terhadap 
kelompokDewan Jenderal yang menewaskan tujuh orang pimpinan Angkatan Darat 
(AD), diamenjabat Duta Besar Indonesia untuk Kuba.    PeranHanafi dalam 
menjalin kerja sama dengan negara-negara Amerika Latin dianggapsangat penting. 
Puncak keberhasilan dari kerja sama itu adalah dilangsungkannyaKonfrensi 
Asia-Afrika-Amerika Latin, di Kuba.

Tiga bulan sebelum konferensi itu digelar, pada 1 Januari 1966, dua 
orangpimpinan Komisi Peneliti Korban Gestapu Mayor Jenderal Sumarno dan 
MenteriNegara Oei Tjoe Tat, bertemu dengan Soekarno.

Mereka ingin melaporkan temuan tim di lapangan terkait jumlah korban 
pembunuhanmassal selama tiga bulan pertama, di Sumatera, Jawa, dan Bali. Angka 
yangberhasil didapatkan saat itu adalah satu juta jiwa lebih.

Mendengar laporan tim, Soekarno dan sejumlah menteri yang ada saat itu 
sangatkaget. Mereka tidak pernah menyangka dan membayangkan, korban pembunuhan 
massalitu mencapai angka jutaan lebih.

Saat laporan tim berlangsung, Hanafi yang merangkap jabatan Menteri 
Peterasedang bersama Soekarno. Dia menegaskan, laporan tim belum final. Sebab, 
timbaru tiga bulan bekerja, sejak Oktober-Desember 1965.

Sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kuba yang diminta mengikuti 
KonfrensiAsia-Afrika-Amerika Latin, pada 1 Januari 1966, dirinya tidak bisa 
menerimaangka itu. Dia lalu mengusulkan angka 78.000 jiwa.

"Kasihkan saja jumlah 78.000 orang akibat Gestapu," kata Hanafi,dalam bukunya, 
halaman 113. Usul Hanafi itu langsung disetujui PresidenSoekarno, yang 
dilanjutkan dengan perintah segera disebar ke media.

"Silakan Menteri Oei temui wartawan-wartawan itu dan berikan jumlah 78.000itu 
saja. Bilang juga, Presiden tidak bisa menjumpai wartawan, karena sibuksekali," 
sambung Soekarno, masih di halaman yang sama.    Berdasarkankesepakatan politis 
itu lah, hingga kini total korban tewas dalam peristiwapembunuhan massal 
tercatat 78.000 jiwa. Padahal, jumlah korban yang sebenarnyamencapai satu juta 
jiwa lebih.

Setelah tiga bulan penelitian itu, aksi pembunuhan massal terhadap anggota, 
dansimpatisan PKI masih terus dilakukan di daerah. Bahkan tak terkendali 
lagi.Korban tewas pun semakin banyak berjatuhan.

Dalam pidatonya, pada 18 Desember 1966, dengan getir Soekarno 
menggambarkankekejaman pembunuhan massal tersebut. 

"Jenazah-jenazah Pemuda Rakyat, BTI, dan orang-orang PKI, atau parasimpatisan 
PKI yang disembelih, dibiarkan saja di pinggir jalan, di bawahpohon, dan 
dihancurkan. Tidak ada yang mengurusnya," katanya.

Operasi pembunuhan massal, pertama dilakukan di Jawa Tengah, yang saat 
itumenjadi basis massa PKI. Menyusul kemudian Jawa Timur, Jawa Barat, 
Bali,Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya.

Pembunuhan oleh tentara di Jawa Tengah, tertulis dalam "MemorandumIntelijen 
CIA, Indonesian Army Attitudes Toward Cummunism". Dalam dokumenitu disebut, 
tentara menembaki anggota, dan simpatisan PKI.

"Anggota dan simpatisan PKI dikumpulkan dan ditawan oleh tentara. Di 
JawaTengah, pengikut PKI dilaporkan ditembak di tempat. Tentara 
sangatmempertaruhkan prestise dan masa depan politiknya," tulisnya.

Selain melakukan pembunuhan-pembunuhan secara langsung, tentara 
jugamenggerakan, dan mengkoordinir kelompok sipil untuk 
melakukanpembunuhan-pembunuhan terhadap anggota dan simpatisan PKI.     
Namun,keterlibatan tentara secara langsung dalam tragedi itu dibantah oleh 
Soeharto.Dalam pidatonya tahun 1971, Soeharto mengatakan, aksi pembunuhan 
massal itudilakukan massa rakyat secara sporadis.

"Ribuan rakyat jatuh di daerah-daerah, karena rakyat bertindaksendiri-sendiri. 
Juga karena prasangka buruk antar golongan yang selamabertahun-tahun ditanamkan 
oleh praktik politik yang sempit," jelasnya.

Sebaliknya, John Roosa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 
30September dan Kudeta Suharto menyatakan, rakyat yang melakukan 
pembunuhanmassal tersebut sudah dilatih tentara.

"Orang-orang sipil yang terlibat dalam pembunuhan, apakah di Jawa Tengah,Jawa 
Timur, Bali, dan daerah lainnya, pada umumnya anggota milisi yang sudahdilatih 
oleh militer," ungkapnya, pada halaman 37.

Para rakyat ini, mendapatkan senjata, kendaraan, dan jaminan kebal 
terhadaphukum. Dengan demikian, orang-orang sipil itu bukan sekedar orang-orang 
biasayang bertindak sendiri, seperti kata Soeharto.

Dalam kasus Indonesia, pola demikian bukan hal baru. Jauh setelah itu, pola 
inikembali dilakukan terhadap Timor Leste tahun 1999. Milisi-milisi 
tentarabergerak, melakukan pembunuhan terhadap ratusan orang.

Aksi jagal-jagal terhadap anggota, dan simpatisan PKI mulai mereda saat 
akandilangsungkannya Pemilihan Umum (Pemilu) 1971. Setelah pemilu usai, 
pemerintahOrde Baru melakukan kontrol yang ketat.

Berbagai penulisan dan penelitian tentang Gestapu, mulai dilarang. 
Pengendalianwacana secara kolektif pun mulai dilakukan. Baru setelah Reformasi 
1998, wacanaperistiwa nahas itu kembali dibuka.    Peristiwapembunuhan massal 
1965-1966 pun menjadi lembaran kelam sejarah panjangIndonesia yang telah 
dilupakan. Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagidiakhiri, semoga memberikan 
manfaat.   #yiv8595349049 #yiv8595349049 -- #yiv8595349049ygrp-mkp {border:1px 
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-mkp #yiv8595349049hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mkp #yiv8595349049ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mkp .yiv8595349049ad 
{padding:0 0;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mkp .yiv8595349049ad p 
{margin:0;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mkp .yiv8595349049ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-sponsor 
#yiv8595349049ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-sponsor #yiv8595349049ygrp-lc #yiv8595349049hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-sponsor #yiv8595349049ygrp-lc .yiv8595349049ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8595349049 #yiv8595349049actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8595349049
 #yiv8595349049activity span {font-weight:700;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv8595349049 #yiv8595349049activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8595349049 #yiv8595349049activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv8595349049 #yiv8595349049activity span 
.yiv8595349049underline {text-decoration:underline;}#yiv8595349049 
.yiv8595349049attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv8595349049 .yiv8595349049attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv8595349049 .yiv8595349049attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8595349049 .yiv8595349049attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8595349049 .yiv8595349049attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv8595349049 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv8595349049 .yiv8595349049bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8595349049 
.yiv8595349049bold a {text-decoration:none;}#yiv8595349049 dd.yiv8595349049last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8595349049 dd.yiv8595349049last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8595349049 
dd.yiv8595349049last p span.yiv8595349049yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv8595349049 div.yiv8595349049attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv8595349049 div.yiv8595349049attach-table 
{width:400px;}#yiv8595349049 div.yiv8595349049file-title a, #yiv8595349049 
div.yiv8595349049file-title a:active, #yiv8595349049 
div.yiv8595349049file-title a:hover, #yiv8595349049 div.yiv8595349049file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8595349049 div.yiv8595349049photo-title a, 
#yiv8595349049 div.yiv8595349049photo-title a:active, #yiv8595349049 
div.yiv8595349049photo-title a:hover, #yiv8595349049 
div.yiv8595349049photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8595349049 
div#yiv8595349049ygrp-mlmsg #yiv8595349049ygrp-msg p a 
span.yiv8595349049yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8595349049 
.yiv8595349049green {color:#628c2a;}#yiv8595349049 .yiv8595349049MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv8595349049 o {font-size:0;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049photos div {float:left;width:72px;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8595349049
 #yiv8595349049reco-category {font-size:77%;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049reco-desc {font-size:77%;}#yiv8595349049 .yiv8595349049replbq 
{margin:4px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-mlmsg select, #yiv8595349049 input, #yiv8595349049 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-mlmsg pre, #yiv8595349049 code {font:115% 
monospace;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-mlmsg #yiv8595349049logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-msg 
p#yiv8595349049attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-reco #yiv8595349049reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-sponsor 
#yiv8595349049ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-sponsor #yiv8595349049ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-sponsor #yiv8595349049ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv8595349049 #yiv8595349049ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8595349049 
#yiv8595349049ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv8595349049 

   

Kirim email ke