Pada Senin, 3 Oktober 2016 9:04, May Swan <[email protected]> menulis:
SURAT DARI SINGAPUR== FRUSTRASI==By MAY SWAN Sekalipunbelum pernah
menjadi penerbit / editor, tapi sadar bahwa satu dari banyakmasalah yang
dihadapi seorang editor adalah ketika menghadapi permintaanpenulis berkali kali
ingin merubah sesuatu dalam naskah yang sudah selesai diedit.Misalnya, “Minta
dikoreksi bagian atas paragraf kedua halaman 117, kata pemimpinmasyarakat
pegunungan tolong diganti dengan bermaksud memimpin anak sekolahatau kalimat
Hujan deras tiba tiba berhenti di baris keempat paragraph kelima halaman 87,
diganti dengan tibatiba sebuah mobil sedan merah berhenti di depan rumah.” Ini
hanya segelintir contoh kecil dari permintaan penulis yang tidak pernahputus
ingin mengganti / merubah kalimat ataupun sebagian paragraph dari naskahyang
sudah diserahkan. Permintaan yang membuat para editor cukup frustrasi.
Sebenarnyajauh lebih baik jika penulis minta sebuah halaman tertentu seluruhnya
digantidengan halaman baru, misalnya halaman 151 diganti seluruhnya dengan
halamanyang baru, bukan sebagian dari sebuah kalimat diganti dengan kalimat
lain.Tentunya lebih baik lagi jika sebelum mengirim naskah ke penerbit yang
jugaberperan sebagai editor, penulis sendiri sudah memperhatikan dan
mengambilkeputusan kalimat mana yang ingin dipakai. Tidak bulak balik naik
turun sepertidi escalator stasion MRT mencari train yang dimaksud, sedangkan
papan directionboard sudah terpajang di depan mata. Ini akan mengurangi rasa
frustrasi paraeditor. Dalammasalah hubungan penulis dengan editor,
pernah diceritakan oleh Jusuf Isak seorangpenerbit yang ketika itu berperan
juga sebagai editor. Pengalaman editor inilain dari pengalaman editor lainnya.
Penulis sama sekali tidak minta diadakankoreksi apapun, malah sebaliknya
menyerahkan seluruh naskah kepadanya untukdikelola sekehendaknya. Pada waktu
menangani karya Pramudya, penulis besar ini menyerahkanseluruh naskahnya kepada
editor. Naskah yang diserahkan berupa hasil karya utuhseluruhnya langsung dari
konsep pikiran penulis. Demi dekatnya hubungan kerja keduanya,penulis langsung
menyerahkan seluruh naskah kepada editor tanpa melihat sekalilagi apa ada yang
perlu dikoreksi. Ini sebaliknya menjadi masalah bagi editor.Misalnya pada babak
pertama sang karakter A dikatakan sudah meninggal sepuluhtahun yang lalu, tapi
pada babak ketiga tiba tiba A muncul lagi berkeliaran dalam cerita. Kabarnya
kesalahanblunder demikian seringkali terjadi. Ini tentunya cukup membuat editor
frustrasi,karena bukan hanya perlu mengkoreksi ejaan atau merubah sebuah
kalimat, tapiperlu turun tangan mengatur merubah perkembangan isi buku agar
cerita berjalanmulus. Bagipengendara mobil umumnya, masalah yang
paling membuat frustrasi sebenarnyabukan kemacetan di jalan raya. Karena
masalah kemacetan sudah dapatdiperhitungkan, yakni yang biasa disebut sebagai
peak hours, yaitu waktu jammasuk kerja dan jam pulang kerja. Jadi sudah dapat
diperhitungkan, bukansesuatu kejadian yang tiba tiba mengejutkan dan tidak
tersangka. Sedikitnya inisituasi lalu lintas yang berjalan di Singapura.
Umumnya apa saja yang sudahmenjadi masalah harian lebih mudah diterima oleh
masyarakat, karena sudahterbiasa. Manusia adalah umat yang gayahidupnya
cendrung pada kebiasaanpengalaman hidupnya. Kalau sudah terbiasa, ya no
problem. Ketika orangmelihat sepasang suami isteri lansia berjalan
sambil bergandengan tangan, banyak yang berkesan alangkah indah dan
abadihubungan keduanya. Kita umumnya berpikir bahwa hubungan pasangan itu
bertahankarena hidup bersama sudah menjadi kebiasaan. Seribu satu frustasi
kehidupan seharihari yang mereka hadapi bersama bertahun tahun telah lewat
bagaikan airmeluncur dari punggung. Selanjutnya dengan bertambahnya usia,
masing masingtidak banyak pilihan lain lagi. Kalau tidak bersama, mau apa lagi?
Tentunyaakan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini, menganggapnya sebuah
pandanganyang sangat sinis, tidak humanis. Namun sebaliknya apa ada yang pernah
melihat,hubungan mereka tampak sangat mesra bahagia bagaikan sedang berbulan
madu karena“They are married, but not to each other.” Ini agaknya lebih masuk
akal. Padapermulaan tahun 60an, Singapuramengalami krisis perumahan.
Kediaman masyarakat pada masa itu sangat kumuh,tidak memenuhi standard hygiene.
Di sebagian tempat masyarakat masih bergantungpada sumur untuk air minum.
Dimana mana masih banyak terdapat daerahperkampungan, misalnya di Ponggol,
Thompson, Lim Chu Kang, Chua Chu Kang, NeeSun, Yee Sun dll.
Berhadapandengan masalah kekurangan perumahan, pemerintah bertekad mengambil
keputusanmemperbaiki situasi. Pada 1 Pebruari 1960 didirikan Housing
Development Board yangbiasa disingkat HDB untuk mengisi permintaan perumahan
bagi masyarakat. Dalamwaktu kurang dari 3 tahun, HDB telah membangun 21,000
unit flat. 2 tahunkemudian menambah 54,000 unit. Selanjutnya dalam rangka 10
tahun HDB telahberhasil membangun lebih dari 1 juta unit. Pada hari ini
tercatat 80% penduduk Singapuratinggal di HDB. Padapermulaan program
pemindahan/ penggusuran dari daerah perkampungan ke perumahanHDB juga tidak
selalu mulus. Bukan semua rela meninggalkan tempat kediamanmereka. Di daerah
perkampungan mereka dapat beternak ayam, itik, babi dan berkebunmenanam sayur
mayur yang dapat menjadi masukan bagi beaya hidup keluarga.Masalah hygiene
tidak hygiene, kumuh tidak kumuh sudah menjadi soal biasa bagimereka. Yang
hanya mereka perhatikan adalah kehilangan masukan bagi keluarga. Tentunyaini
berupa satu halangan yang membuat petugas cukup frustrasi dalam
melakukantugasnya. Tapi pemerintah mengambil keputusan tegas demi kepentingan
jangkapanjang bagi seluruh masyarakat. Bertekun menyediakan suasana lingkungan
yangterbaik dimana masyarakat dapat hidup dengan wajar, dan berkembang maju,
mampu berkompetisi dalamdunia modern. Sebagaitambahan, karena adanya
subsidi tinggi dari pemerintah, masyarakat dapatmembeli HDB flat dengan harga
jauh lebih murah dibanding dengan harga perumahanprivate lainnya. Dan
lingkungan hidup di sekitar HDB saban tahun bertambahbaik, sehingga tidak
banyak beda dengan private real estate. Perlu diketahui,ketika membeli HDB flat
yang baru, tidak disediakan alat rumahtangga apapun;tidak ada kulkas, tidak ada
alat dapur, tidak ada alat pendingin hawaairconditioner, tidak ada kursi meja,
tidak ada ranjang. Yang ada hanya ruangkosong, selanjutnya terserah penghuni
sendiri yang mengisi alat yangdiperlukan. Dengan keadaan beginipun permintaan
membeli HDB flat tetapbertambah.