Habis Gelap Tak Kunjung Terang

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Habis Gelap Tak Kunjung Terang
 By Tirto.id Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang 
berhasil dituntaskan pemerintah. Para keluarg...  |   |

  |

  |

 

Habis Gelap Tak Kunjung Terang
Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang berhasil 
dituntaskan pemerintah. Para keluarga korban pelanggaran HAM masih konsisten 
menolak lupa atas tindakan pelecehan HAM yang dilakukan oleh negara. 
Masing-masing dari mereka merupakan pasien yang saling mengobati pasien lainnya 
untuk saling menguatkan.
tirto.id - “Jaga diri ya Wan, situasinya kan seperti ini. Di kantor ibu dijaga 
ketat. Banyak sniper yang bertugas per lantai dan nanti akan ada tembakan 
bebas. Wawan menurut, tidak keluar kampus,” kata Maria Catarina Sumarsih kepada 
anaknya, Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan melalui sambungan telepon.

Sumarsih, PNS di Gedung DPR RI, pada 13 November 1998 sempat menelepon Wawan. 
Sumarsih melihat Gedung DPR dikelilingi pasukan sipil Pasukan Pengamanan 
Swakarsa  atau Pam Swakarsa. Pada siang harinya, Sumarsih bergegas pulang 
lantaran ada imbauan dari Menkopolhukam Wiranto yang kala itu menjadi Panglima 
ABRI.

Sementara itu di Atma Jaya, kampus Wawan, aparat keamanan sudah merangsek masuk 
ke dalam kampus. Desingan peluru sesekali terdengar. Wawan menghampiri salah 
satu aparat, meminta izin untuk membopong seorang korban tembakan yang terkapar 
di halaman kampus. Setelah mendapat izin, Wawan mengeluarkan kain berwarna 
putih sebagai tanda tim medis.

Namun, saat akan membawa korban, peluru tajam justru menghantam dadanya. Wawan 
pun tersungkur. “Dari pagi dia memakai id card tim relawan kemanusiaan. Di 
tasnya dia bawa obat-obatan. Itu di tasnya masih ada sampai sekarang, baunya 
obat-obatan,” kata Sumarsih kepada tirto.id, pada Jumat (29/9/2016).

Menjelang pukul 17.00 WIB, telepon rumah Sumiarsih berdering. Inisiator 
pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) Kerusuhan Mei 1998, Ignatius 
Sandyawan Sumardi menelepon.

Belum selesai Sandyawan menyampaikan informasi, Sumarsih menyela, “Bagaimana 
Wawan, bagaimana Wawan, bagaimana Wawan?” Hingga suaminya mengambil alih 
telepon rumah itu, Sumarsih hanya bisa menangis dan terus berdoa saat mendapat 
kabar bahwa Wawan berada di Rumah Sakit Jakarta.

Untuk sampai ke rumah sakit tersebut, dia harus melewati Universitas Atma Jaya. 
Sumarsih menggambarkan situasinya seperti perang. Suara senapan masih 
terdengar. Banyak kilatan percikan api di udara. Tak jauh dari kampus, banyak 
orang berlarian dan terjadi kemacetan karena mobil yang ingin putar balik.

Di basement Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih bergegas masuk kamar jenazah. Di 
situ, dia melihat anak sulungnya terbaring dengan jempol kaki kanan dan kiri 
diikat kain putih. Sumarsih lantas memeriksa sekujur tubuh Wawan. Sejenak dia 
letakkan kepalanya di perut Wawan yang terlihat tipis.  “Wan perutmu tipis, 
kamu lapar ya Wan? Oh Wan kamu ditembak,” tangis Sumarsih pecah untuk kesekian 
kalinya.

Di bagian dada Wawan ada lubang yang menembus baju warna putihnya. Bercak darah 
tak banyak, tetapi lubang peluru itu menganga sebesar tutup bolpoin. Di 
sekeliling lubang, kulit Wawan gosong. Warnanya merah kecoklatan, seperti luka 
bakar akibat disundut rokok. Ketika memandikan anaknya, Sumarsih mengetahui 
peluru tak tembus ke belakang tubuh, melainkan bersarang di dalam.

Sumarsih dengan berat hati akhirnya mengikuti saran orang-orang dekatnya untuk 
melakukan autopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat kembali 
melintasi Kampus Atma Jaya, mobil ambulans yang dia naiki diberondong senjata.

“Tundukkan kepala, tundukkan kepala, mobil kita ditembaki,” kata Sumarsih 
menirukan instruksi Nur, sopir ambulans. Setelah berondongan mereda, ambulans 
kembali melaju.

Peluru Tajam Standar ABRI

Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna menjelaskan pada Sumarsih bahwa anaknya 
ditembak dengan peluru tajam standar ABRI. “Iya, kalau tidak percaya coba 
tanyakan ke Dokter Budi, dia orangnya baik kok,” katanya berupaya meyakinkan.

Hari-hari Sumarsih mendadak gelap. Dia tak siap bertemu siapapun. Di pojokan 
ruang tamu, tepat di samping tempat yang pernah dipakai untuk menyemayamkan 
jenazah Wawan, Sumarsih menghabiskan waktu duduk di sana. Kala itu dia terus 
merapal doa, menangis dan melamun.

Sumarsih mendapat cuti selama tiga bulan. Tiga minggu pertama, dia tak 
mengonsumsi apapun. Hingga di akhir minggu ketiga, dia hanya meminum setengah 
gelas air hangat dan sudah merasa kenyang. Ketika mencoba memakan nasi, 
tenggorokannya serasa seperti tercekik. Hingga kini, Sumarsih tak pernah lagi 
mengonsumsi nasi.

Tiap hari dia rutin mengunjungi makam Wawan sebelum berangkat kerja. Setiap 
Kamis, Jumat dan Sabtu dia berpuasa. Rutinitas itu mulai jarang dilakukan 
semenjak 2011, setelah pensiun dan divonis dokter menderita glukoma.

Hingga kini, pada saat jam makan malam wajib bersama, Sumarsih selalu 
menyediakan satu piring yang diletakkan secara telungkup. Sendok dan garpu di 
letakkan di atasnya. Sedangkan di sampingnya, tersedia satu gelas yang sudah 
diisi air putih.

Obrolan di meja makan tersebut beragam, mulai dari aktivitas keseharian, 
politik, hingga menu makan besok. “Tiap makan bersama selalu begini. Itu kursi 
tempat Wawan biasa makan bersama kami dulu. Dia pernah cerita, di meja ini 
kalau namanya tercantum di list BAIS. Dia sempat ingin berhenti kuliah 
gara-gara itu,” ujarnya.

Wawan adalah salah satu dari 17 korban peristiwa Semanggi I. Beberapa korban 
lainnya ialah Tedy Mardani (Mahasiswa ITI ditembak dengan peluru tajam), Sigit 
Prasetyo (Mahasiswa YAI ditembak dengan peluru tajam) dan Engkus Kusnaedi 
(Mahasiswa Unija Pulau Mas ditembak dengan peluru tajam),

Masih ada Heru Sudibyo (Mahasiswa STIE Rawamangun), Muzammil Joko Purwanto 
(Mahasiswa UI), Uga Usmana (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah), Lukman Firdaus 
(pelajar), Agus Setiana (pelajar), Doni Efendi (Karyawan Toko di Pasar 
Bendungan Hilir), Rinanto (Satpam Hero Supermarket), Budiono, Sidik, Sulwan 
Lestaluhu, Sulaeman Lestaluhu, Wahidin Nurlete dan Budi Marasabesy.

share infografik


Pasien Obati Pasien Lainnya

Butuh waktu panjang bagi Sumarsih agar tak selalu menyalahkan diri karena 
kehilangan anak. Dia yakin tak sendiri merasakannya. Di luar sana, banyak 
keluarga korban kejahatan HAM yang dilakukan oleh negara. Maka dari itu, 
seiring semakin tebalnya pengetahuannya atas HAM, Sumarsih justru menjadi 
pasien yang mengobati pasien lainnya.

“Kami para orang tua korban, saling menguatkan,” ungkapnya.

Pernah suatu kali pada, pada Rabu (15/9/1999), melalui aksi damai, dia beserta 
para aktivis dan keluarga korban berniat audiensi ke Dephankam. Namun, di dekat 
Mc Donald Pasar Sarinah, mereka dihadang aparat keamanan bersenjata lengkap. 
Suasana mendadak chaos. Peserta aksi damai dipukuli, ditendang, dan 
dikejar-kejar. Banyak yang patah tulang dan keseleo. Sedangkan koordinator 
lapangan Azas Tigor Nainggolan ditembak dengan peluru karet.

Sumarsih tak patah arang. Semangatnya justru kian menyala begitu merasakan 
penanganan demonstrasi yang dilakukan secara represif.

Pada 18 Januari 2007, Sumarsih bergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban 
untuk Keadilan (JSKK). Ia dan Suciwati, istri Pejuang HAM Munir Said Thalib, 
didampingi para aktivis, berhasil mengumpulkan para penyintas dan keluarga 
korban pelanggaran HAM. Mereka menolak lupa atas berbagai pelanggaran HAM yang 
dilakukan negara pada warganya melalui aksi 'Kamisan'. Aksi damai di seberang 
Istana Negara tersebut, terinspirasi aksi ibu-ibu Plaza de Mayo Argentina yang 
menolak lupa pada kebengisan rezim junta militer.

Upaya JSKK sedikit mendapat angin pasca keluarnya rekomendasi DPR RI agar 
presiden membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, pada 28 September. DPR juga 
merekomendasikan agar presiden, segenap institusi pemerintah, serta pihak-pihak 
terkait, segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh Komnas HAM 
dinyatakan menjadi korban penghilangan paksa.

Rekomendasi itu merupakan putusan dari sidang paripurna yang kedua kalinya, 
setelah sebelumnya sempatdeadlock. Sumarsih pernah bertindak nekat saat 
menyaksikan sidang tersebut.

“Saya masukkan telur ke kotak kue. Di atasnya kue pisang, di bawahnya telur. 
Dalam sidang paripurna saatdeadlock, saya lemparkan telur. Telur pertama saya 
lempar ke Fraksi ABRI, terus ke pimpinan sidang, terus saya asal ngelempar, 
terus satunya ke Fraksi Golkar,” tutur Sumarsih.

Namun hingga kini, Pengadilan HAM ad hoc ternyata tak kunjung digelar. Meski 
begitu, aksi Kamisan tak pernah libur untuk menyuarakan pengungkapan berbagai 
kasus pelanggaran HAM.

Suciwati sendiri menegaskan bahwa langkah Presiden Jokowi mengangkat beberapa 
terduga pelanggar HAM, salah satunya Menkopolhukam Wiranto, merupakan langkah 
mundur. Jokowi justru menuntup pintu bagi penuntasan kasus pelanggaran HAM masa 
lalu. “Jokowi naik karena Hak Asasi Manusia, tapi kemudian ‎lupa. Kita bisa 
lihat. Yang jelas Wiranto itu dipecat karena kasus pelanggaran HAM, dia enggak 
belajar apa?” kata Suciwati kepada tirto.id.

Sementara Puri Kencana Putri, Wakil Koordinator KontraS, berharap Jokowi segera 
membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran 
HAM berat di masa lalu. Dia juga menyarankan Jokowi mendengar langsung keluhan 
dan pendapat korban beserta keluarga korban pelanggaran HAM.

“Orang-orang seperti Ibu Sumarsih dan para ibu yang anaknya diculik lainnya, 
masih ingin tahu di mana anaknya berada, siapa pelakunya, siapa yang harus 
bertanggung jawab,” tegasnya. Agar gelap segera mendapat titik terang. 
(dqy/nqm) 

Kirim email ke