*IN  MEMORIAM*

 SHOULD IT ALL HAPPENED* ...?*
            [ *MENGAPA ITU SEMUA HARUS TERJADI ...*?* ]*


2016-10-05 1:40 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:

>
>
>
> Habis Gelap Tak Kunjung Terang
> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo>
>
> Habis Gelap Tak Kunjung Terang
> By Tirto.id
> Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang
> berhasil dituntaskan pemerintah. Para keluarg...
> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo>
>
> [image: Habis Gelap Tak Kunjung Terang]
> Habis Gelap Tak Kunjung Terang
> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo#>
> Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang
> berhasil dituntaskan pemerintah. Para keluarga korban pelanggaran HAM masih
> konsisten menolak lupa atas tindakan pelecehan HAM yang dilakukan oleh
> negara. Masing-masing dari mereka merupakan pasien yang saling mengobati
> pasien lainnya untuk saling menguatkan.
>
> *tirto.id <http://tirto.id> - *“Jaga diri ya Wan, situasinya kan seperti
> ini. Di kantor ibu dijaga ketat. Banyak sniper yang bertugas per lantai dan
> nanti akan ada tembakan bebas. Wawan menurut, tidak keluar kampus,” kata
> Maria Catarina Sumarsih kepada anaknya, Benardinus Realino Norma Irawan
> atau Wawan melalui sambungan telepon.
>
> Sumarsih, PNS di Gedung DPR RI, pada 13 November 1998 sempat menelepon
> Wawan. Sumarsih melihat Gedung DPR dikelilingi pasukan sipil Pasukan
> Pengamanan Swakarsa  atau Pam Swakarsa. Pada siang harinya, Sumarsih
> bergegas pulang lantaran ada imbauan dari Menkopolhukam Wiranto yang kala
> itu menjadi Panglima ABRI.
>
> Sementara itu di Atma Jaya, kampus Wawan, aparat keamanan sudah merangsek
> masuk ke dalam kampus. Desingan peluru sesekali terdengar. Wawan
> menghampiri salah satu aparat, meminta izin untuk membopong seorang korban
> tembakan yang terkapar di halaman kampus. Setelah mendapat izin, Wawan
> mengeluarkan kain berwarna putih sebagai tanda tim medis.
>
> Namun, saat akan membawa korban, peluru tajam justru menghantam dadanya.
> Wawan pun tersungkur. “Dari pagi dia memakai id card tim relawan
> kemanusiaan. Di tasnya dia bawa obat-obatan. Itu di tasnya masih ada sampai
> sekarang, baunya obat-obatan,” kata Sumarsih kepada *tirto.id
> <http://tirto.id>*, pada Jumat (29/9/2016).
>
> Menjelang pukul 17.00 WIB, telepon rumah Sumiarsih berdering. Inisiator
> pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) Kerusuhan Mei 1998, Ignatius
> Sandyawan Sumardi menelepon.
>
> Belum selesai Sandyawan menyampaikan informasi, Sumarsih menyela,
> “Bagaimana Wawan, bagaimana Wawan, bagaimana Wawan?” Hingga suaminya
> mengambil alih telepon rumah itu, Sumarsih hanya bisa menangis dan terus
> berdoa saat mendapat kabar bahwa Wawan berada di Rumah Sakit Jakarta.
>
> Untuk sampai ke rumah sakit tersebut, dia harus melewati Universitas Atma
> Jaya. Sumarsih menggambarkan situasinya seperti perang. Suara senapan masih
> terdengar. Banyak kilatan percikan api di udara. Tak jauh dari kampus,
> banyak orang berlarian dan terjadi kemacetan karena mobil yang ingin putar
> balik.
>
> Di basement Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih bergegas masuk kamar jenazah. Di
> situ, dia melihat anak sulungnya terbaring dengan jempol kaki kanan dan
> kiri diikat kain putih. Sumarsih lantas memeriksa sekujur tubuh Wawan.
> Sejenak dia letakkan kepalanya di perut Wawan yang terlihat tipis.  “Wan
> perutmu tipis, kamu lapar ya Wan? Oh Wan kamu ditembak,” tangis Sumarsih
> pecah untuk kesekian kalinya.
>
> Di bagian dada Wawan ada lubang yang menembus baju warna putihnya. Bercak
> darah tak banyak, tetapi lubang peluru itu menganga sebesar tutup bolpoin.
> Di sekeliling lubang, kulit Wawan gosong. Warnanya merah kecoklatan,
> seperti luka bakar akibat disundut rokok. Ketika memandikan anaknya,
> Sumarsih mengetahui peluru tak tembus ke belakang tubuh, melainkan
> bersarang di dalam.
>
> Sumarsih dengan berat hati akhirnya mengikuti saran orang-orang dekatnya
> untuk melakukan autopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat
> kembali melintasi Kampus Atma Jaya, mobil ambulans yang dia naiki
> diberondong senjata.
>
> “Tundukkan kepala, tundukkan kepala, mobil kita ditembaki,” kata Sumarsih
> menirukan instruksi Nur, sopir ambulans. Setelah berondongan mereda,
> ambulans kembali melaju.
>
> *Peluru Tajam Standar ABRI*
>
> Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna menjelaskan pada Sumarsih bahwa anaknya
> ditembak dengan peluru tajam standar ABRI. “Iya, kalau tidak percaya coba
> tanyakan ke Dokter Budi, dia orangnya baik kok,” katanya berupaya
> meyakinkan.
>
> Hari-hari Sumarsih mendadak gelap. Dia tak siap bertemu siapapun. Di
> pojokan ruang tamu, tepat di samping tempat yang pernah dipakai untuk
> menyemayamkan jenazah Wawan, Sumarsih menghabiskan waktu duduk di sana.
> Kala itu dia terus merapal doa, menangis dan melamun.
>
> Sumarsih mendapat cuti selama tiga bulan. Tiga minggu pertama, dia tak
> mengonsumsi apapun. Hingga di akhir minggu ketiga, dia hanya meminum
> setengah gelas air hangat dan sudah merasa kenyang. Ketika mencoba memakan
> nasi, tenggorokannya serasa seperti tercekik. Hingga kini, Sumarsih tak
> pernah lagi mengonsumsi nasi.
>
> Tiap hari dia rutin mengunjungi makam Wawan sebelum berangkat kerja.
> Setiap Kamis, Jumat dan Sabtu dia berpuasa. Rutinitas itu mulai jarang
> dilakukan semenjak 2011, setelah pensiun dan divonis dokter menderita
> glukoma.
>
> Hingga kini, pada saat jam makan malam wajib bersama, Sumarsih selalu
> menyediakan satu piring yang diletakkan secara telungkup. Sendok dan garpu
> di letakkan di atasnya. Sedangkan di sampingnya, tersedia satu gelas yang
> sudah diisi air putih.
>
> Obrolan di meja makan tersebut beragam, mulai dari aktivitas keseharian,
> politik, hingga menu makan besok. “Tiap makan bersama selalu begini. Itu
> kursi tempat Wawan biasa makan bersama kami dulu. Dia pernah cerita, di
> meja ini kalau namanya tercantum di list BAIS. Dia sempat ingin berhenti
> kuliah gara-gara itu,” ujarnya.
>
> Wawan adalah salah satu dari 17 korban peristiwa Semanggi I. Beberapa
> korban lainnya ialah Tedy Mardani (Mahasiswa ITI ditembak dengan peluru
> tajam), Sigit Prasetyo (Mahasiswa YAI ditembak dengan peluru tajam) dan
> Engkus Kusnaedi (Mahasiswa Unija Pulau Mas ditembak dengan peluru tajam),
>
> Masih ada Heru Sudibyo (Mahasiswa STIE Rawamangun), Muzammil Joko Purwanto
> (Mahasiswa UI), Uga Usmana (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah), Lukman
> Firdaus (pelajar), Agus Setiana (pelajar), Doni Efendi (Karyawan Toko di
> Pasar Bendungan Hilir), Rinanto (Satpam Hero Supermarket), Budiono, Sidik,
> Sulwan Lestaluhu, Sulaeman Lestaluhu, Wahidin Nurlete dan Budi Marasabesy.
>
> [image: Habis Gelap Tak Kunjung Terang]
> share infografik
>
>
>
> *Pasien Obati Pasien Lainnya*
>
> Butuh waktu panjang bagi Sumarsih agar tak selalu menyalahkan diri karena
> kehilangan anak. Dia yakin tak sendiri merasakannya. Di luar sana, banyak
> keluarga korban kejahatan HAM yang dilakukan oleh negara. Maka dari itu,
> seiring semakin tebalnya pengetahuannya atas HAM, Sumarsih justru menjadi
> pasien yang mengobati pasien lainnya.
>
> “Kami para orang tua korban, saling menguatkan,” ungkapnya.
>
> Pernah suatu kali pada, pada Rabu (15/9/1999), melalui aksi damai, dia
> beserta para aktivis dan keluarga korban berniat audiensi ke Dephankam.
> Namun, di dekat Mc Donald Pasar Sarinah, mereka dihadang aparat keamanan
> bersenjata lengkap. Suasana mendadak chaos. Peserta aksi damai dipukuli,
> ditendang, dan dikejar-kejar. Banyak yang patah tulang dan keseleo.
> Sedangkan koordinator lapangan Azas Tigor Nainggolan ditembak dengan peluru
> karet.
>
> Sumarsih tak patah arang. Semangatnya justru kian menyala begitu merasakan
> penanganan demonstrasi yang dilakukan secara represif.
>
> Pada 18 Januari 2007, Sumarsih bergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban
> untuk Keadilan (JSKK). Ia dan Suciwati, istri Pejuang HAM Munir Said
> Thalib, didampingi para aktivis, berhasil mengumpulkan para penyintas dan
> keluarga korban pelanggaran HAM. Mereka menolak lupa atas berbagai
> pelanggaran HAM yang dilakukan negara pada warganya melalui aksi 'Kamisan'.
> Aksi damai di seberang Istana Negara tersebut, terinspirasi aksi ibu-ibu
> Plaza de Mayo Argentina yang menolak lupa pada kebengisan rezim junta
> militer.
>
> Upaya JSKK sedikit mendapat angin pasca keluarnya rekomendasi DPR RI agar
> presiden membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, pada 28 September. DPR juga
> merekomendasikan agar presiden, segenap institusi pemerintah, serta
> pihak-pihak terkait, segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh
> Komnas HAM dinyatakan menjadi korban penghilangan paksa.
>
> Rekomendasi itu merupakan putusan dari sidang paripurna yang kedua
> kalinya, setelah sebelumnya sempat*deadlock*. Sumarsih pernah bertindak
> nekat saat menyaksikan sidang tersebut.
>
> “Saya masukkan telur ke kotak kue. Di atasnya kue pisang, di bawahnya
> telur. Dalam sidang paripurna saat*deadlock*, saya lemparkan telur. Telur
> pertama saya lempar ke Fraksi ABRI, terus ke pimpinan sidang, terus saya
> asal ngelempar, terus satunya ke Fraksi Golkar,” tutur Sumarsih.
>
> Namun hingga kini, Pengadilan HAM ad hoc ternyata tak kunjung digelar.
> Meski begitu, aksi Kamisan tak pernah libur untuk menyuarakan pengungkapan
> berbagai kasus pelanggaran HAM.
>
> Suciwati sendiri menegaskan bahwa langkah Presiden Jokowi mengangkat
> beberapa terduga pelanggar HAM, salah satunya Menkopolhukam Wiranto,
> merupakan langkah mundur. Jokowi justru menuntup pintu bagi penuntasan
> kasus pelanggaran HAM masa lalu. “Jokowi naik karena Hak Asasi Manusia,
> tapi kemudian ‎lupa. Kita bisa lihat. Yang jelas Wiranto itu dipecat karena
> kasus pelanggaran HAM, dia enggak belajar apa?” kata Suciwati kepada *tirto.id
> <http://tirto.id>*.
>
> Sementara Puri Kencana Putri, Wakil Koordinator KontraS, berharap Jokowi
> segera membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan berbagai kasus
> pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dia juga menyarankan Jokowi mendengar
> langsung keluhan dan pendapat korban beserta keluarga korban pelanggaran
> HAM.
>
> “Orang-orang seperti Ibu Sumarsih dan para ibu yang anaknya diculik
> lainnya, masih ingin tahu di mana anaknya berada, siapa pelakunya, siapa
> yang harus bertanggung jawab,” tegasnya. Agar gelap segera mendapat titik
> terang. *(dqy/nqm)*
>
> 
>

Kirim email ke