PLN = Perusahaan Lilin negara Kelap kelip sinarnya pelita Remang remang bercahaya..... Gelap, gelap, tidak boleh mata gelap........
2016-10-05 13:39 GMT+02:00 Marco 45665 <[email protected]>: > Tanyakan pada PLN (Penguasa LANSA Negara ) kapan bisa berakhir itu > GILIRAN GELAP .... > > 2016-10-05 10:51 GMT+02:00 Sunny <[email protected]>: > >> *Sekali gelap tetap gelap. hehehehehe* >> >> *From:* mailto:[email protected] <[email protected]> >> *Sent:* Wednesday, October 5, 2016 2:18 AM >> *To:* GELORA_In <[email protected]> ; Jonathan Goeij >> <[email protected]> >> *Subject:* Re: [GELORA45] Habis Gelap Tak Kunjung Terang >> >> >> >> *IN MEMORIAM* >> >> SHOULD IT ALL HAPPENED* ...?* >> [ *MENGAPA ITU SEMUA HARUS TERJADI ...*?* ]* >> >> >> 2016-10-05 1:40 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] >> [GELORA45] <[email protected]>: >> >>> >>> >>> Habis Gelap Tak Kunjung Terang >>> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo> >>> >>> Habis Gelap Tak Kunjung Terang >>> By Tirto.id >>> Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang >>> berhasil dituntaskan pemerintah. Para keluarg... >>> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo> >>> >>> [image: Habis Gelap Tak Kunjung Terang] >>> Habis Gelap Tak Kunjung Terang >>> <https://tirto.id/habis-gelap-tak-kunjung-terang-bQQo#> >>> Berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu tak satupun yang >>> berhasil dituntaskan pemerintah. Para keluarga korban pelanggaran HAM masih >>> konsisten menolak lupa atas tindakan pelecehan HAM yang dilakukan oleh >>> negara. Masing-masing dari mereka merupakan pasien yang saling mengobati >>> pasien lainnya untuk saling menguatkan. >>> >>> *tirto.id <http://tirto.id> - *“Jaga diri ya Wan, situasinya kan >>> seperti ini. Di kantor ibu dijaga ketat. Banyak sniper yang bertugas per >>> lantai dan nanti akan ada tembakan bebas. Wawan menurut, tidak keluar >>> kampus,” kata Maria Catarina Sumarsih kepada anaknya, Benardinus Realino >>> Norma Irawan atau Wawan melalui sambungan telepon. >>> >>> Sumarsih, PNS di Gedung DPR RI, pada 13 November 1998 sempat menelepon >>> Wawan. Sumarsih melihat Gedung DPR dikelilingi pasukan sipil Pasukan >>> Pengamanan Swakarsa atau Pam Swakarsa. Pada siang harinya, Sumarsih >>> bergegas pulang lantaran ada imbauan dari Menkopolhukam Wiranto yang kala >>> itu menjadi Panglima ABRI. >>> >>> Sementara itu di Atma Jaya, kampus Wawan, aparat keamanan sudah >>> merangsek masuk ke dalam kampus. Desingan peluru sesekali terdengar. Wawan >>> menghampiri salah satu aparat, meminta izin untuk membopong seorang korban >>> tembakan yang terkapar di halaman kampus. Setelah mendapat izin, Wawan >>> mengeluarkan kain berwarna putih sebagai tanda tim medis. >>> >>> Namun, saat akan membawa korban, peluru tajam justru menghantam dadanya. >>> Wawan pun tersungkur. “Dari pagi dia memakai id card tim relawan >>> kemanusiaan. Di tasnya dia bawa obat-obatan. Itu di tasnya masih ada sampai >>> sekarang, baunya obat-obatan,” kata Sumarsih kepada *tirto.id >>> <http://tirto.id>*, pada Jumat (29/9/2016). >>> >>> Menjelang pukul 17.00 WIB, telepon rumah Sumiarsih berdering. Inisiator >>> pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) Kerusuhan Mei 1998, Ignatius >>> Sandyawan Sumardi menelepon. >>> >>> Belum selesai Sandyawan menyampaikan informasi, Sumarsih menyela, >>> “Bagaimana Wawan, bagaimana Wawan, bagaimana Wawan?” Hingga suaminya >>> mengambil alih telepon rumah itu, Sumarsih hanya bisa menangis dan terus >>> berdoa saat mendapat kabar bahwa Wawan berada di Rumah Sakit Jakarta. >>> >>> Untuk sampai ke rumah sakit tersebut, dia harus melewati Universitas >>> Atma Jaya. Sumarsih menggambarkan situasinya seperti perang. Suara senapan >>> masih terdengar. Banyak kilatan percikan api di udara. Tak jauh dari >>> kampus, banyak orang berlarian dan terjadi kemacetan karena mobil yang >>> ingin putar balik. >>> >>> Di basement Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih bergegas masuk kamar jenazah. >>> Di situ, dia melihat anak sulungnya terbaring dengan jempol kaki kanan dan >>> kiri diikat kain putih. Sumarsih lantas memeriksa sekujur tubuh Wawan. >>> Sejenak dia letakkan kepalanya di perut Wawan yang terlihat tipis. “Wan >>> perutmu tipis, kamu lapar ya Wan? Oh Wan kamu ditembak,” tangis Sumarsih >>> pecah untuk kesekian kalinya. >>> >>> Di bagian dada Wawan ada lubang yang menembus baju warna putihnya. >>> Bercak darah tak banyak, tetapi lubang peluru itu menganga sebesar tutup >>> bolpoin. Di sekeliling lubang, kulit Wawan gosong. Warnanya merah >>> kecoklatan, seperti luka bakar akibat disundut rokok. Ketika memandikan >>> anaknya, Sumarsih mengetahui peluru tak tembus ke belakang tubuh, melainkan >>> bersarang di dalam. >>> >>> Sumarsih dengan berat hati akhirnya mengikuti saran orang-orang dekatnya >>> untuk melakukan autopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat >>> kembali melintasi Kampus Atma Jaya, mobil ambulans yang dia naiki >>> diberondong senjata. >>> >>> “Tundukkan kepala, tundukkan kepala, mobil kita ditembaki,” kata >>> Sumarsih menirukan instruksi Nur, sopir ambulans. Setelah berondongan >>> mereda, ambulans kembali melaju. >>> >>> *Peluru Tajam Standar ABRI* >>> >>> Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna menjelaskan pada Sumarsih bahwa >>> anaknya ditembak dengan peluru tajam standar ABRI. “Iya, kalau tidak >>> percaya coba tanyakan ke Dokter Budi, dia orangnya baik kok,” katanya >>> berupaya meyakinkan. >>> >>> Hari-hari Sumarsih mendadak gelap. Dia tak siap bertemu siapapun. Di >>> pojokan ruang tamu, tepat di samping tempat yang pernah dipakai untuk >>> menyemayamkan jenazah Wawan, Sumarsih menghabiskan waktu duduk di sana. >>> Kala itu dia terus merapal doa, menangis dan melamun. >>> >>> Sumarsih mendapat cuti selama tiga bulan. Tiga minggu pertama, dia tak >>> mengonsumsi apapun. Hingga di akhir minggu ketiga, dia hanya meminum >>> setengah gelas air hangat dan sudah merasa kenyang. Ketika mencoba memakan >>> nasi, tenggorokannya serasa seperti tercekik. Hingga kini, Sumarsih tak >>> pernah lagi mengonsumsi nasi. >>> >>> Tiap hari dia rutin mengunjungi makam Wawan sebelum berangkat kerja. >>> Setiap Kamis, Jumat dan Sabtu dia berpuasa. Rutinitas itu mulai jarang >>> dilakukan semenjak 2011, setelah pensiun dan divonis dokter menderita >>> glukoma. >>> >>> Hingga kini, pada saat jam makan malam wajib bersama, Sumarsih selalu >>> menyediakan satu piring yang diletakkan secara telungkup. Sendok dan garpu >>> di letakkan di atasnya. Sedangkan di sampingnya, tersedia satu gelas yang >>> sudah diisi air putih. >>> >>> Obrolan di meja makan tersebut beragam, mulai dari aktivitas keseharian, >>> politik, hingga menu makan besok. “Tiap makan bersama selalu begini. Itu >>> kursi tempat Wawan biasa makan bersama kami dulu. Dia pernah cerita, di >>> meja ini kalau namanya tercantum di list BAIS. Dia sempat ingin berhenti >>> kuliah gara-gara itu,” ujarnya. >>> >>> Wawan adalah salah satu dari 17 korban peristiwa Semanggi I. Beberapa >>> korban lainnya ialah Tedy Mardani (Mahasiswa ITI ditembak dengan peluru >>> tajam), Sigit Prasetyo (Mahasiswa YAI ditembak dengan peluru tajam) dan >>> Engkus Kusnaedi (Mahasiswa Unija Pulau Mas ditembak dengan peluru tajam), >>> >>> Masih ada Heru Sudibyo (Mahasiswa STIE Rawamangun), Muzammil Joko >>> Purwanto (Mahasiswa UI), Uga Usmana (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah), >>> Lukman Firdaus (pelajar), Agus Setiana (pelajar), Doni Efendi (Karyawan >>> Toko di Pasar Bendungan Hilir), Rinanto (Satpam Hero Supermarket), Budiono, >>> Sidik, Sulwan Lestaluhu, Sulaeman Lestaluhu, Wahidin Nurlete dan Budi >>> Marasabesy. >>> >>> [image: Habis Gelap Tak Kunjung Terang] >>> share infografik >>> >>> >>> >>> *Pasien Obati Pasien Lainnya* >>> >>> Butuh waktu panjang bagi Sumarsih agar tak selalu menyalahkan diri >>> karena kehilangan anak. Dia yakin tak sendiri merasakannya. Di luar sana, >>> banyak keluarga korban kejahatan HAM yang dilakukan oleh negara. Maka dari >>> itu, seiring semakin tebalnya pengetahuannya atas HAM, Sumarsih justru >>> menjadi pasien yang mengobati pasien lainnya. >>> >>> “Kami para orang tua korban, saling menguatkan,” ungkapnya. >>> >>> Pernah suatu kali pada, pada Rabu (15/9/1999), melalui aksi damai, dia >>> beserta para aktivis dan keluarga korban berniat audiensi ke Dephankam. >>> Namun, di dekat Mc Donald Pasar Sarinah, mereka dihadang aparat keamanan >>> bersenjata lengkap. Suasana mendadak chaos. Peserta aksi damai dipukuli, >>> ditendang, dan dikejar-kejar. Banyak yang patah tulang dan keseleo. >>> Sedangkan koordinator lapangan Azas Tigor Nainggolan ditembak dengan peluru >>> karet. >>> >>> Sumarsih tak patah arang. Semangatnya justru kian menyala begitu >>> merasakan penanganan demonstrasi yang dilakukan secara represif. >>> >>> Pada 18 Januari 2007, Sumarsih bergabung dalam Jaringan Solidaritas >>> Korban untuk Keadilan (JSKK). Ia dan Suciwati, istri Pejuang HAM Munir Said >>> Thalib, didampingi para aktivis, berhasil mengumpulkan para penyintas dan >>> keluarga korban pelanggaran HAM. Mereka menolak lupa atas berbagai >>> pelanggaran HAM yang dilakukan negara pada warganya melalui aksi 'Kamisan'. >>> Aksi damai di seberang Istana Negara tersebut, terinspirasi aksi ibu-ibu >>> Plaza de Mayo Argentina yang menolak lupa pada kebengisan rezim junta >>> militer. >>> >>> Upaya JSKK sedikit mendapat angin pasca keluarnya rekomendasi DPR RI >>> agar presiden membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, pada 28 September. DPR juga >>> merekomendasikan agar presiden, segenap institusi pemerintah, serta >>> pihak-pihak terkait, segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh >>> Komnas HAM dinyatakan menjadi korban penghilangan paksa. >>> >>> Rekomendasi itu merupakan putusan dari sidang paripurna yang kedua >>> kalinya, setelah sebelumnya sempat*deadlock*. Sumarsih pernah bertindak >>> nekat saat menyaksikan sidang tersebut. >>> >>> “Saya masukkan telur ke kotak kue. Di atasnya kue pisang, di bawahnya >>> telur. Dalam sidang paripurna saat*deadlock*, saya lemparkan telur. >>> Telur pertama saya lempar ke Fraksi ABRI, terus ke pimpinan sidang, terus >>> saya asal ngelempar, terus satunya ke Fraksi Golkar,” tutur Sumarsih. >>> >>> Namun hingga kini, Pengadilan HAM ad hoc ternyata tak kunjung digelar. >>> Meski begitu, aksi Kamisan tak pernah libur untuk menyuarakan pengungkapan >>> berbagai kasus pelanggaran HAM. >>> >>> Suciwati sendiri menegaskan bahwa langkah Presiden Jokowi mengangkat >>> beberapa terduga pelanggar HAM, salah satunya Menkopolhukam Wiranto, >>> merupakan langkah mundur. Jokowi justru menuntup pintu bagi penuntasan >>> kasus pelanggaran HAM masa lalu. “Jokowi naik karena Hak Asasi Manusia, >>> tapi kemudian lupa. Kita bisa lihat. Yang jelas Wiranto itu dipecat karena >>> kasus pelanggaran HAM, dia enggak belajar apa?” kata Suciwati kepada >>> *tirto.id >>> <http://tirto.id>*. >>> >>> Sementara Puri Kencana Putri, Wakil Koordinator KontraS, berharap Jokowi >>> segera membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan berbagai kasus >>> pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dia juga menyarankan Jokowi mendengar >>> langsung keluhan dan pendapat korban beserta keluarga korban pelanggaran >>> HAM. >>> >>> “Orang-orang seperti Ibu Sumarsih dan para ibu yang anaknya diculik >>> lainnya, masih ingin tahu di mana anaknya berada, siapa pelakunya, siapa >>> yang harus bertanggung jawab,” tegasnya. Agar gelap segera mendapat titik >>> terang. *(dqy/nqm)* >>> >> >> >> >> > >
