SGT, PKI dan Sosialisme 
(2)

Sekarang akansaya perluas dan perdalam soal SGT, PKI dan Sosialisme.


Dari beberapabuku yang saya baca, yang berkaitan dengan SGT, saya temukan 
berbagai faktasejarah dan komentar beberapa penulis ( misalnya, Daniel S.Lev, 
Zhou Nanjing,Yusuf Isak, Go Gien Tjwan, Xu ren, Daniel Sparinga,dll) sebagai 
berikut:

-SGT adalah seorang Marxis. 

-Tjoa Sik Ien dan Tan Ling Djie yang baru kembali dariBelanda pada tahun 
1930-an memperkenalkan Marxisme kepada Siauw.

-Tahun 1946, Siauw masuk ke dalam Partai Sosialis yangdipimpin oleh Sutan 
Sjahrir, Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Djie.

-Beberapa bulan setelah ProklamasiKemerdekaan, Tan mengajaknya masuk Partai 
Sosialis. Dalam waktu singkat iadekat dengan Amir Sjarifuddin. Ketika Amir 
Sjarifuddin menjadi PM tahun 1947,ia mengangkat Siauw sebagai Menteri Urusan 
Minoritas.

- Setelah menjadi menteri di kabinet Amir Sjarifudin,Siauw tetap menekuni dunia 
jurnalistik. Partai Sosialis memintanya menerbitkanHarian Suara Ibu Kota. Di 
sini ia dibantuoleh dua tokoh muda PKI, Aidit dan Njoto.

- Ketika terjadi PeristiwaMadiun 1948, Siauw yang pernah menjadi tokoh Front 
Demokrasi rakyat (FDR)ikut ditangkap. Ia dan Tan Ling Djie dipenjara di 
Wirogunan.

-Setelah peristiwa Madiun, September 1948, PKIditindas oleh pemerintah Hatta. 
Siauw ditangkap dan dipenjarakan di Wirogunandi Yogyakarta.

- Agustus 1951 akibat “razia”Kabinet Sukiman, Siauw kembalidijebloskan ke bui.

- PKI mengecam diskriminasi rasial, dan menentangsikap anti-Tionghoa. PKI 
menerima peranakanTionghoa bahkan ada diantaranya, seperti Tan Ling Djie, 
menduduki posisipimpinan.

- Dalam DPR, PKI yang sering mendukung posisi anti-diskriminasi 
BAPERKI.Partai-partai lain sering tidakmendukung bahkan , membenarkan 
diskriminasi terhadap orang Tionghoa.

-Siauw Giok Tjhan berpendapat bahwa struktur masyarakat Indonesia memiliki 
elemen-elemenfeodalisme, kolonialisme dan kapitalisme. Baginya Inilahpenyakit 
kronis masyarakat Indonesia, yang membawa-kan penyakit-penyakitlainnya. Oleh 
karena itu menurutnya, masyarakat yang sehat hanya bisa dicapaibilamana 
penyakit kronis ini dibasmi secara tuntas.

-Akan tetapi, menurut Siauw, proses integrasi sajatidak mungkin menyembuhkan 
penyakit yang diendap oleh masyarakat Indonesia. Iahanya mampu mencegah 
penyebarluasan dan pemarahan yang disebabkan olehpenyakit-penyakit tersebut. 
Baginya, pengobatan yang paling tepat adalahmelangsungkan operasi yang 
menghilangkan penyakit-penyakit yang diendap inisecara tuntas. Yaitu mengubah 
struktur masyarakat Indonesia yang masih mengandung feodalisme,kolonialisme dan 
kapitalisme itu menjadi masyarakat Pancasila-is ataumasyarakat Sosialis ala 
Indonesia. Siauw yakinbahwa di dalam masyarakat yang demikian tidak ada lagi 
system penghisapanmanusia oleh manusia, dan timbullah sebuahmasyarakat di mana 
semua suku hidup secara harmonis yang memungkinkan adanyakegairahan berusaha 
tanpa kekhawatiran akan diskriminasi rasial. (SGT:”BhinekaTunggal Ika”, Hal 
188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V,Diterbitkan oleh Yayasan 
Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74)

- Pidato-pidato, tulisan-tulisan SGT, juga dokumen-dokumen Baperki tidakpernah 
mencanangkan komunisme sebagai objektif perjuangan politik mereka. Yang 
didambakan oleh Siauw adalah perwujudan masyarakat sosialisme a laIndonesia 
yang diformulasikan Presiden Soekarno dan yang sesuai dengan UUD-45.

- Inimenunjukkan bahwa Siauw Giok Tjhan menggantungkan harapannya kepada PKI 
danRevolusi Sosialis. Ia berpendirian bahwa hanya dengan melalui Revolusi 
SosialisPKI masalah golongan Tionghoa dapatkan diselesaikan secara tuntas 
melaluiproses integrasi wajar.

- Yap Thiam Hien yang anti Komunis menentang anjuranSiauw Giok Tjhan. Ia 
menyatakan bahwa 94% penduduk Indonesia beragama Islam,Kristen, Hindu dan 
Buddha. Mereka bukan komunis dan menentang Komunisme. Iajuga berpendapat 
seandainya apa yang diidam-idamkan Siauw itu adalah sebuahmasyarakat sosialis 
ala komunisme yang bisa direalisasi, itu akan memakanjangka waktu panjang, 
mungkin 100 tahun bahkan 1000

- Ketika membicarakan keadaan ekonomi dan masyarakatIndonesia dari apa yang 
dinamakan “orde baru” dalam karya yang ditinggal-kannya,ia mengajukan berbagai 
masalah baru yang menyangkut modal asing, bantuan luarnegeri, pengerukan harta 
Negara dan korupsi para birokrat baru, perbedaan kayadan miskin serta perbedaan 
kota dan desa.

- Setelah tahun 1959, terutama di dalam JamanDemokrasi Terpimpin, mengikuti 
irama dan slogan politik yang dicanangkan olehPresiden Soekarno, formulasi 
Siauwmenjadi tegas. Perkataan “masyarakat” diubah menjadi “masyarakatsosialis”. 
Perkataan “integrasi” diubah menjadi “integrasi revolusioner”.


 
-Kita menekankan sekali lagi di sini pentingnya analisis kelas yang mendasar 
danmenyeluruh mengenai warga keturunan Tionghoa ini, bagian integral 
NasionIndonesia kita.

-Siauw jugamemiliki solidaritas kelas yang sangattinggi. Itu barangkali yang 
membuat dia percaya bahwa sosialisme ala Indonesia itu menjadi jawaban 
sebenarnya, paling tidak di atas kertas, daripersoalan etnis.

-Menurut saya, Siauw mencoba menyederhanakankelompok etnis ketika itu, sebagai 
persoalan kelas.

-Alasannyaadalah Siauw pernah dianggap komunis, yang sejak tahun 1965 dianggap 
sebagaipaham ideologi yang merusak Indonesia, sehingga tidak patut disinggung 
dalamsejarah. Padahal ke-absahan tuduhan itu tidak pernah dipermasalahkan.


Dari semua tulisan/komentar di atas,terdapat hal-hal yang sangat  
menarikperhatian yang mendorong saya membuat kesimpulan sbb. Sudah tentu 
masing-masingorang bisa membuat kesimpulannys sendiri.


Pertama, SGT adalah seorang Marxis, dan BUKAN Marxis gadungan. SGT 
menggunakanMarxisme (analisa kelas) untuk menganalisa masyarakat Indonesia. 
Oleh karenaitu, SGT berpendapat bahwa strukturmasyarakat Indonesia memiliki 
elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dankapitalisme. Dan rumusan ini  PADA 
HAKEKATNYA, INTINYA,  adalah sama dengan rumusan PKI setengahjajahan setengah 
feudal (elemen-elemen feudal, artinya tidak sepenuhnyafeudal --- artinya 
setengah feudal; elemen-elemen kolonialisme—artinya terjajah,tapi karena sudah 
punya pemerintahan sendiri, bukan jajahan langsung, makanyajadi setengah 
jajahan, dan elemen kapitalisme yang melahirkan borjuasinasional.) Oleh karena 
itu baik SGT maupun PKI dalam tahap revolusi nasionaldemokratis sama-sama 
memperjuangkan ruang bagi kapitalis nasional untukmendorong perkembangan 
ekonomi nasional. 
Siauw percaya pada perlunya perubahanSTRUKTUR di Indonesia menjadi masyarakat 
sosialisme a la Indonesia. Sepertijuga Sukarno yang anti Exploitation de 
l’homme par l’homme, SGT yakinbahwa di dalam masyarakat yang demikian tidak ada 
lagi system penghisapanmanusia oleh manusia, dan timbullah sebuah masyarakat di 
mana semua sukuhidup secara harmonis yang memungkinkan adanya kegairahan 
berusaha tanpakekhawatiran akan diskriminasi rasial. ( Dan ini diambil oleh 
salah seorang penulis daribukunya SGT sendiri:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 
193; Lahirnya KonsepsiAsimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas 
Bangs, Jakarta, 1977,Hal 73-74).  


Jelas SGT bukanseorang sosdem, yang menginginkan “sosialisme“ tapi menerima 
penghisapanmanusia oleh manusia. SGT sangat tinggi rasasolidaritas kelasnya. 
Justru karena SGT menggunakan analisa kelas, maka iadituduh “menyederhanakan 
kelompok etnis sebagai persoalan kelas”. Di sini sayamembenarkan SGT, karena 
analisa kelas harus diterapkan dalam menyelesaikanmasalah rasisme. Seperti 
sukubangsa lainnya, komunitas tionghoa juga terbagidalam kelas-kelas yang 
berbeda kepentingannya. Pentingnya melakukan analisakelas ditekankan juga oleh 
Yusuf Isak.


Jadi apa yangdiperjuangan SGT adalah sosialisme a la Indonesia tanpa 
penghisapan manusiaatas manusia. Ketika SGT bicara tentang modal domestik dan 
kapitalisnasional, sama sekali tidak dalam artian ia memperjuangkan kapitalisme 
sebagai perspektifrevolusi Indonesia. Karena jelas bagi SGT, perspektif atau 
hari depanrevolusi Indonesia adalah Sosialisme. Dan Sosialisme TIDAK dapat 
dicapai TANPA menyelesaikanterlebih dulu tahap revolusi nasional demokratis.


Sebenarnya tidakada pertentangan antara pernyataan SGT yang di satu pihak 
menginginkandikembangkannya modal domestik untuk mengembangkan ekonomi nasional 
dan di lainpihak pernyataannya yang menginginkan sosialisme a la Indonesia 
dengan menolakpenghisapan manusia atas manusia.


Celakanya, pernyataan Siauw Tiong Djin di bawah ini:

“Dalamhal inil Siauw secara gamblang memperjuangkan dipertahan-kannya 
systemkapitalisme yang menjamin tumbuhnya modal domestik, yang pada umumnya 
beradadikelola oleh para pengusaha Tionghoa.” ; dan diulangilagi pada bagian 
lain:”Program ekonomi Siauwmenganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme 
yang memungkinkan pengembanganmodal domestik untuk pembangunan ekonomi 
nasional. Paham ini jelas bertentangandengan paham komunisme”, dapatmenimbulkan 
kesan seolah-olah SGT pro kapitalisme dan menentang sosialisme,padahal di 
bagian lain SGT mendambakan sosialisme a la Indonesia. “Kesan”adanya 
pertentangan ini saya tanyakan juga kepada Chan, tapi ia tidak menjawabatau 
menjelaskan.


 
Penjelasan saya adalah, ketika STDjin bicara soalkapitalisme, sama sekali ia 
tidak memikirkan atau menghubungkannya dengan SIFATmasyarakat dan TAHAP 
revolusi Indonesia. Yang ia pikirkan adalah pendapatdirinya sendiri tentang 
kapitalisme dan hasrat besar untuk mempertentangkan SGTdengan PKI guna 
membersihkan SGT dari tuduhan Komunis. Di sinilah lainnyaSTDjin dengan SGT. Di 
mana letak kelainannya? SGT seorang Marxis yang membuatAnalisa Kelas untuk 
menentukan siapa Kawan dan Lawan dalam tahap Revolusi yangsesuai dengan sifat 
masyarakat Indonesia. Sedangkan STDjin? Saya serahkankepada masing-masing orang 
untuk mengkualifikasi-nya.


 
Jadi, saya menginterpretasi kapitalisme yang dimaksudSGT adalah kapitalisme 
Negara sebagai transisi menuju sosialisme, bukan sebagaihari depan rakyat 
Indonesia. Oleh karena itu, di samping bicara tentang modaldomestik, SGT juga 
bicara  danmendambakan Sosialisme a la Indonesia sebagai perspektif Revolusi 
Indonesia.SGT memang tidak bilang hitam di atas putih bahwa perspektif Revolusi 
Indonesiaadalah Sosialisme. Tapi mengingat SGT seorang Marxis dan pernyataan 
sertapandangannya yang dikutip para penulis tentang struktur masyarakat 
Indonesia,perlunya perubahan struktur, kapital domestik dan Sosialisme a la 
Indonesia, makatidak sulit bagi siapapun yang mau pakai akal sehat dan logika 
untuk sampaipada kesimpulan itu.


 
Kalau kita bicara tentang kapitalisme Negara sebagaitahap pertama Revolusi 
Indonesia (yaitu tahap nasional dan demokratis), dankemudian diteruskan ke 
Sosialisme,  secarakeseluruhan ide ini sama sekali tidak bertentangan dengan 
paham komunisme.Karena ini dijalankan juga oleh Lenin dan Mao. Yang 
bertentangan dengan pahamkomunisme adalah kapitalisme yang mengabadikan dan 
mensucikan kepemilikanpribadi atas alat produksi dan penghisapan manusia oleh 
manusia lain.


 
Mengingat sikap SGT yang sangat memperhatikan revolusiTkk yang dipimpin Mao dan 
terjemahan “Red Star Over China”, karya Edgar Snowyang dikerjakannya pada tahun 
1938, semakin besar keyakinan saya bahwa SGTmemang seorang Marxis, oleh karena 
itu ia mengerti  tahap-tahap dan perspektif revolusi diTiongkok dan juga di 
Indonesia.


 
Seandainya SGT memang benar-benar bertentangan denganPKI dalam soal borjuasi 
nasional dan sosialisme, maka tidak akan ada alasanbagi Yap Thiam Hien, yang 
anti komunis, untuk menentang mati-matian SGT denganmengatakan “bahwa 94% 
penduduk Indonesia beragama Islam, Kristen, Hindu danBuddha. Mereka bukan 
komunis dan menentang Komunisme. ……seandainya apa yangdiidam-idamkan Siauw itu 
adalah sebuah masyarakat sosialis ala komunisme yangbisa direalisasi, itu akan 
memakan jangka waktu panjang, mungkin 100 tahunbahkan 1000..”


 
Kalau memang betul itu argumentasi Yap Thiam Hien, jelas ia tidak tahu dan 
tidak mengertibahwa orang komunis dan PKI  tidak pernahmenentang agama. Inilah 
yang sampai sekarang dituduhkan terus menerus kepadaPKI. PKI tidak 
mempersoalkan kepercayaan pribadi anggotanya. Saya tidak pernahmenemukan 
dokumen PKI yang mensyaratkan atheisme untuk menjadi anggota PKI. 


 
Soal masyarakat sosialis a la komunisme (sebuahrumusan yang aneh!) akan makan 
jangka waktu panjang, itu tidak jadi masalah.Orang komunis berjuang bukan hanya 
untuk generasinya saja. Kalau bisa cepatdicapai, sudah tentu bagus sekali. 
Karena dengan demikian memperpendek penderitaanmassa rakyat pekerja. Tapi 
mengingat secara kongkrit musuh massa rakyat pekerjadipersenjatai sampai 
giginya dan kekuatan ekonominya menguasai dunia, makaperjuangan memang bersifat 
jangka panjang. 


 
Penilaian dan interpretasisaya terhadap sikap dan pandangan politik SGT JELAS 
bertentangan denganinterpretasi yang diberikan STDjin. STDjin menulis dalam 
subjudul: ” Pengembangan modaldomestik – perkawinan sosialisme dan kapitalisme” 

“Oleh musuh politiknya Siauw selaludinyatakan sebagai seorang tokoh Komunis. 
Penelitian yang objektif menunjukkanbahwa tuduhan ini tidak tepat. Siauw 
mendukung sosialisme ala Indonesia yang dianjurkan Sukarno. Dalamkonteks ini ia 
sering bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertianmodal domestik. 
Siauwsudah sejak tahun 50-an mencanangkan konsep perkawinan sosialisme 
dankapitalisme. Yang dimaksud di sini adalah pembangunanekonomi sosialis yang 
bersandar atas pengembangan modal domestik tanpamemperdulikan latar belakang 
ras pemilik modal. Ia harapkan modal-modal dagang domestiktermasuk yang 
dimiliki pedagang-pedagang Tionghoa dibantu dan didukungpemerintah untuk 
berkembang demi mempercepat pembangunan negara.”


 
STDjinmengidentikkan “pengembangan modal domestik” dengan “perkawinan 
sosialisme dankapitalisme”. STDjinberasumsi bahwa ide perkawinan sosialisme dan 
kapitalisme adalah ide SGT.Asumsi STDjin ini harus ia buktikan. Di mana dapat 
ditemukan tulisan SGT yangmenguraikan ide tentang “perkawinan sosialisme dan 
kapitalisme”? Apa yang SGT maksuddengan perkawinan sosialisme dan kapitalisme, 
kalau memang betul ia ingin“mengawinkan sosialisme dan kapitalisme”?


 
Tanpamenjelaskan “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, STDjin kemudian 
mengatakan“Siauw mendukungsosialisme a la Indonesia yang dianjurkan Sukarno”. 
Yang STDjin “lupakan” adalah pertama, Sukarnoanti exploitation de l’homme par 
l’homme. Artinya Sosialisme yang diinginkan Sukarno SAMA SEKALI bukanSosialisme 
yang menghalalkan dan menerima Exploitation de l’homme par l”homme. Kedua, yang 
STDjin “lupakan”juga adalah bahwa Sosialisme yang diinginkan SGT juga sebuah 
masyarakat dimanatidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia. Zhou Nanjing 
menemukanpendapat SGT ini dalam SGT:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193; 
Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakanke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, 
Jakarta, 1977, Hal 73-74.


Masalah “penghisapanmanusia oleh manusia ” dianggap oleh Sukarno dan SGT 
sebagai soal pokokdalam hubungannya dengan Sosialisme. Maka itu mereka 
menyebutnya dalampidatonya (Sukarno) dan tulisannya (SGT). Ini 100% 
BERTENTANGAN dengan“Sosialisme dengan ciri Tkk” yang didukung S. Suroso, Chan 
dan tampaknya jugaoleh STDjin (kelihatan melalui “perkawinan sosialisme dan 
kapitalisme”nya).


 
Pernah saya tulisbahwa “penghisapan manusia oleh manusia”, analisa kelas, 
kontradiksi kelas,perjuangan kelas, imperialisme, nilai lebih, 
internasionalisme proletar, modeof production adalah masalah yang menjadi tabu 
bagi kaum revisionis dan merekaselalu menghindari dan menolak untuk 
mendiskusikannya.


 
Karena mereka tidakmenemukan dasar teori revolusioner untuk membenarkan 
penghisapan, makasatu-satunya jalan adalah mengakui bahwa memang di Tkk ada 
penghisapan, karenapenghisapan DIPERLUKAN untuk membangun “sosialisme”. Bahkan 
S. Suroso bertanya,apa salahnya penghisapan? Ini sesuai dengan ajaran gurunya, 
Liu Shaoqi yangmelihat “manfaat dari penghisapan”. Versi lainnya adalah “jangan 
takut dengan merajalelanyakapitalisme”. Dan Deng Xiaoping mengexpresikannya 
dengan metaphora: ”kucinghitam atau kucing putih, asal tangkap tikus”. 


 
Argumentasi lain yangdigunakan  adalah JAMAN SUDAH BERUBAH makaTEORI JUGA HARUS 
BERUBAH!! Teori pembangunan sosialis yang dipraktekkan Maosalah! Semua 
perubahan/revisi ini mereka anggap sebagai kontribusi danpengembangan Deng 
kepada Marxisme dan FMTT!


 
Karena merekaMENGUBAH salah satu dasar dari Marxisme (Bukankah salah satu hal 
pokok yangditemukan dan dianalisa Marx adalah soal nilai lebih dan dari situ 
Marx sampaipada apa yang dinamakan penghisapan?) maka saya bilang mereka 
revisionis. Tapimereka marah dan menolak dibilang revisionis!! Padahal sudah 
MEREVISIMarxisme!! Lantas di mana logikanya ini? Saya lah yang dibilang MANDEK, 
karenasaya tidak mau merevisi. Saya lah yang dibilang BUTA, tidak mau 
melihat“kenyataan”. Padahal  kenyataan di duniamenunjukkan semakin hebatnya 
PENGHISAPAN yang melahirkan segelintir kaumbilyuner yang berkubang dalam “uang 
dan kemewahan” dan kesenjangan yang semakin besar antara yang miskin dan yang 
kaya.
 Mereka menganggap sangatsulit menghapus penghisapan (siapa pernah bilang mudah 
menghapuskanpenghisapan?) maka logika mereka adalah, ikuti saja dulu dan terima 
sajapenghisapan. Biarkan segelintir orang jadi kaya dulu. Padahal dari dulu 
tidakpernah ada orang yang dapat dengan begitu saja menghalang-halangi 
kaumkonglomerat dan pemodal serta bankir untuk jadi kaya. HANYA perjuangan 
militantdan ulet dari rakyat sendiri seperti sudah dibuktikan di Soviet Uni dan 
Tiongkokyang dapat menghentikan dan menghalangi segelintir orang memperkaya 
dirinyamelalui penghisapan dan penindasan. 


 
Saya tetap memegangSosialisme a la Indonesia yang menolak penghisapan yang 
diajukan Bung Karno. Tapisaya dicap macam-macam. Bukankah ini berarti cap yang 
mereka tempelkan kepadasaya juga berlaku bagi bung Karno dan SGT???


 
Jadi apa yang diafirmasikan olehSTDjin bahwa “ Dalam konteksini ia sering 
bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal domestik”SAMA 
SEKALI tidak sesuai dengan kenyataan dan fakta sejarah. Di atas sudah 
sayatunjukkan bukti-buktinya melalui dokumen PKI. Di tambah lagi, afirmasi 
STDjinini sama sekali tidak disertai dokumen atau kesaksian yang mendu-kungnya. 

STDjin menegaskan lebih jauh lagi “Siauw sudah sejak tahun 50-anmencanangkan 
konsep perkawinan sosialisme dan kapitalis-me”. Lagi-lagi HANYAASUMSI tanpa 
bukti bahwa  SGT ingin “mengawinkansosialisme dan kapitalisme”.


Lagi pula, apakah pada tahun 50-an, orang sudah bicaratentang “perkawinan 
sosialisme dan kapitalisme”? Bukankah istilah “mengawinkansosialisme dan 
kapitalisme” timbul setelah klik revisionis Deng Xiaopingmerebut kekuasaan dan 
mengubah haluan pembangunan Tkk? Di Tiongkok pun, kalaumemang betul tercipta 
“perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, sudah berpuluhkali saya tanya dan 
minta kepada S. Suroso dan Chan sebagai penganutrevisionism Deng, untuk 
menunjukkan elemen atau unsur sosialisme yang masihdipertahankan. Sampai detik 
ini tidak pernah mereka tunjukkan. Kalau memangbenar sosialisme dapat 
dikawinkan dengan kapitalisme, mengapa di Tkk harusdibongkar dulu komune 
rakyat, harus dihapus dulu hak mogok buruh, hak pekerjatetap seumur hidup, 
sistim kerja 8 jam, pendidikan dan pelayanan gratis, jaminansocial ekonomi 
lainnya bagi buruh dan hak-hak demokratis kaum buruh lainnya??Baru setelah 
semua itu lenyap Deng Xiaoping membangun dengan lebih mudah kapitalisme.


Kalau mau diskusi dengan jujur untuk mencerahkan danmengklarifikasi masalahnya, 
maka semua pertanyaan harusnya dijawab. Bukannyadihindari, dilewatkan dan 
dilupakan begitu saja. Kemudian muncul lagi denganide, asumsi atau kesimpulan 
yang SAMA yang sebenarnya sudah terbantah denganargumentasi dan fakta yang tak 
pernah dijawab. 


Berdasarkan pada uraian di atas, saya khawatir STDjin,dengan sadar atau tidak, 
telah memelesetkan dan memelintirkan sikap dan ide SGTuntuk mengajukan dan 
membela ideology, pandagan dan sikap politik pribadinyasendiri yang 
pro-kapitalisme, anti-PKI dan anti-sosialis.

Kirim email ke