SGT, PKI dan Sosialisme (2)
Sekarang akansaya perluas dan perdalam soal SGT, PKI dan Sosialisme. Dari beberapabuku yang saya baca, yang berkaitan dengan SGT, saya temukan berbagai faktasejarah dan komentar beberapa penulis ( misalnya, Daniel S.Lev, Zhou Nanjing,Yusuf Isak, Go Gien Tjwan, Xu ren, Daniel Sparinga,dll) sebagai berikut: -SGT adalah seorang Marxis. -Tjoa Sik Ien dan Tan Ling Djie yang baru kembali dariBelanda pada tahun 1930-an memperkenalkan Marxisme kepada Siauw. -Tahun 1946, Siauw masuk ke dalam Partai Sosialis yangdipimpin oleh Sutan Sjahrir, Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Djie. -Beberapa bulan setelah ProklamasiKemerdekaan, Tan mengajaknya masuk Partai Sosialis. Dalam waktu singkat iadekat dengan Amir Sjarifuddin. Ketika Amir Sjarifuddin menjadi PM tahun 1947,ia mengangkat Siauw sebagai Menteri Urusan Minoritas. - Setelah menjadi menteri di kabinet Amir Sjarifudin,Siauw tetap menekuni dunia jurnalistik. Partai Sosialis memintanya menerbitkanHarian Suara Ibu Kota. Di sini ia dibantuoleh dua tokoh muda PKI, Aidit dan Njoto. - Ketika terjadi PeristiwaMadiun 1948, Siauw yang pernah menjadi tokoh Front Demokrasi rakyat (FDR)ikut ditangkap. Ia dan Tan Ling Djie dipenjara di Wirogunan. -Setelah peristiwa Madiun, September 1948, PKIditindas oleh pemerintah Hatta. Siauw ditangkap dan dipenjarakan di Wirogunandi Yogyakarta. - Agustus 1951 akibat “razia”Kabinet Sukiman, Siauw kembalidijebloskan ke bui. - PKI mengecam diskriminasi rasial, dan menentangsikap anti-Tionghoa. PKI menerima peranakanTionghoa bahkan ada diantaranya, seperti Tan Ling Djie, menduduki posisipimpinan. - Dalam DPR, PKI yang sering mendukung posisi anti-diskriminasi BAPERKI.Partai-partai lain sering tidakmendukung bahkan , membenarkan diskriminasi terhadap orang Tionghoa. -Siauw Giok Tjhan berpendapat bahwa struktur masyarakat Indonesia memiliki elemen-elemenfeodalisme, kolonialisme dan kapitalisme. Baginya Inilahpenyakit kronis masyarakat Indonesia, yang membawa-kan penyakit-penyakitlainnya. Oleh karena itu menurutnya, masyarakat yang sehat hanya bisa dicapaibilamana penyakit kronis ini dibasmi secara tuntas. -Akan tetapi, menurut Siauw, proses integrasi sajatidak mungkin menyembuhkan penyakit yang diendap oleh masyarakat Indonesia. Iahanya mampu mencegah penyebarluasan dan pemarahan yang disebabkan olehpenyakit-penyakit tersebut. Baginya, pengobatan yang paling tepat adalahmelangsungkan operasi yang menghilangkan penyakit-penyakit yang diendap inisecara tuntas. Yaitu mengubah struktur masyarakat Indonesia yang masih mengandung feodalisme,kolonialisme dan kapitalisme itu menjadi masyarakat Pancasila-is ataumasyarakat Sosialis ala Indonesia. Siauw yakinbahwa di dalam masyarakat yang demikian tidak ada lagi system penghisapanmanusia oleh manusia, dan timbullah sebuahmasyarakat di mana semua suku hidup secara harmonis yang memungkinkan adanyakegairahan berusaha tanpa kekhawatiran akan diskriminasi rasial. (SGT:”BhinekaTunggal Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V,Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74) - Pidato-pidato, tulisan-tulisan SGT, juga dokumen-dokumen Baperki tidakpernah mencanangkan komunisme sebagai objektif perjuangan politik mereka. Yang didambakan oleh Siauw adalah perwujudan masyarakat sosialisme a laIndonesia yang diformulasikan Presiden Soekarno dan yang sesuai dengan UUD-45. - Inimenunjukkan bahwa Siauw Giok Tjhan menggantungkan harapannya kepada PKI danRevolusi Sosialis. Ia berpendirian bahwa hanya dengan melalui Revolusi SosialisPKI masalah golongan Tionghoa dapatkan diselesaikan secara tuntas melaluiproses integrasi wajar. - Yap Thiam Hien yang anti Komunis menentang anjuranSiauw Giok Tjhan. Ia menyatakan bahwa 94% penduduk Indonesia beragama Islam,Kristen, Hindu dan Buddha. Mereka bukan komunis dan menentang Komunisme. Iajuga berpendapat seandainya apa yang diidam-idamkan Siauw itu adalah sebuahmasyarakat sosialis ala komunisme yang bisa direalisasi, itu akan memakanjangka waktu panjang, mungkin 100 tahun bahkan 1000 - Ketika membicarakan keadaan ekonomi dan masyarakatIndonesia dari apa yang dinamakan “orde baru” dalam karya yang ditinggal-kannya,ia mengajukan berbagai masalah baru yang menyangkut modal asing, bantuan luarnegeri, pengerukan harta Negara dan korupsi para birokrat baru, perbedaan kayadan miskin serta perbedaan kota dan desa. - Setelah tahun 1959, terutama di dalam JamanDemokrasi Terpimpin, mengikuti irama dan slogan politik yang dicanangkan olehPresiden Soekarno, formulasi Siauwmenjadi tegas. Perkataan “masyarakat” diubah menjadi “masyarakatsosialis”. Perkataan “integrasi” diubah menjadi “integrasi revolusioner”. -Kita menekankan sekali lagi di sini pentingnya analisis kelas yang mendasar danmenyeluruh mengenai warga keturunan Tionghoa ini, bagian integral NasionIndonesia kita. -Siauw jugamemiliki solidaritas kelas yang sangattinggi. Itu barangkali yang membuat dia percaya bahwa sosialisme ala Indonesia itu menjadi jawaban sebenarnya, paling tidak di atas kertas, daripersoalan etnis. -Menurut saya, Siauw mencoba menyederhanakankelompok etnis ketika itu, sebagai persoalan kelas. -Alasannyaadalah Siauw pernah dianggap komunis, yang sejak tahun 1965 dianggap sebagaipaham ideologi yang merusak Indonesia, sehingga tidak patut disinggung dalamsejarah. Padahal ke-absahan tuduhan itu tidak pernah dipermasalahkan. Dari semua tulisan/komentar di atas,terdapat hal-hal yang sangat menarikperhatian yang mendorong saya membuat kesimpulan sbb. Sudah tentu masing-masingorang bisa membuat kesimpulannys sendiri. Pertama, SGT adalah seorang Marxis, dan BUKAN Marxis gadungan. SGT menggunakanMarxisme (analisa kelas) untuk menganalisa masyarakat Indonesia. Oleh karenaitu, SGT berpendapat bahwa strukturmasyarakat Indonesia memiliki elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dankapitalisme. Dan rumusan ini PADA HAKEKATNYA, INTINYA, adalah sama dengan rumusan PKI setengahjajahan setengah feudal (elemen-elemen feudal, artinya tidak sepenuhnyafeudal --- artinya setengah feudal; elemen-elemen kolonialisme—artinya terjajah,tapi karena sudah punya pemerintahan sendiri, bukan jajahan langsung, makanyajadi setengah jajahan, dan elemen kapitalisme yang melahirkan borjuasinasional.) Oleh karena itu baik SGT maupun PKI dalam tahap revolusi nasionaldemokratis sama-sama memperjuangkan ruang bagi kapitalis nasional untukmendorong perkembangan ekonomi nasional. Siauw percaya pada perlunya perubahanSTRUKTUR di Indonesia menjadi masyarakat sosialisme a la Indonesia. Sepertijuga Sukarno yang anti Exploitation de l’homme par l’homme, SGT yakinbahwa di dalam masyarakat yang demikian tidak ada lagi system penghisapanmanusia oleh manusia, dan timbullah sebuah masyarakat di mana semua sukuhidup secara harmonis yang memungkinkan adanya kegairahan berusaha tanpakekhawatiran akan diskriminasi rasial. ( Dan ini diambil oleh salah seorang penulis daribukunya SGT sendiri:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya KonsepsiAsimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977,Hal 73-74). Jelas SGT bukanseorang sosdem, yang menginginkan “sosialisme“ tapi menerima penghisapanmanusia oleh manusia. SGT sangat tinggi rasasolidaritas kelasnya. Justru karena SGT menggunakan analisa kelas, maka iadituduh “menyederhanakan kelompok etnis sebagai persoalan kelas”. Di sini sayamembenarkan SGT, karena analisa kelas harus diterapkan dalam menyelesaikanmasalah rasisme. Seperti sukubangsa lainnya, komunitas tionghoa juga terbagidalam kelas-kelas yang berbeda kepentingannya. Pentingnya melakukan analisakelas ditekankan juga oleh Yusuf Isak. Jadi apa yangdiperjuangan SGT adalah sosialisme a la Indonesia tanpa penghisapan manusiaatas manusia. Ketika SGT bicara tentang modal domestik dan kapitalisnasional, sama sekali tidak dalam artian ia memperjuangkan kapitalisme sebagai perspektifrevolusi Indonesia. Karena jelas bagi SGT, perspektif atau hari depanrevolusi Indonesia adalah Sosialisme. Dan Sosialisme TIDAK dapat dicapai TANPA menyelesaikanterlebih dulu tahap revolusi nasional demokratis. Sebenarnya tidakada pertentangan antara pernyataan SGT yang di satu pihak menginginkandikembangkannya modal domestik untuk mengembangkan ekonomi nasional dan di lainpihak pernyataannya yang menginginkan sosialisme a la Indonesia dengan menolakpenghisapan manusia atas manusia. Celakanya, pernyataan Siauw Tiong Djin di bawah ini: “Dalamhal inil Siauw secara gamblang memperjuangkan dipertahan-kannya systemkapitalisme yang menjamin tumbuhnya modal domestik, yang pada umumnya beradadikelola oleh para pengusaha Tionghoa.” ; dan diulangilagi pada bagian lain:”Program ekonomi Siauwmenganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme yang memungkinkan pengembanganmodal domestik untuk pembangunan ekonomi nasional. Paham ini jelas bertentangandengan paham komunisme”, dapatmenimbulkan kesan seolah-olah SGT pro kapitalisme dan menentang sosialisme,padahal di bagian lain SGT mendambakan sosialisme a la Indonesia. “Kesan”adanya pertentangan ini saya tanyakan juga kepada Chan, tapi ia tidak menjawabatau menjelaskan. Penjelasan saya adalah, ketika STDjin bicara soalkapitalisme, sama sekali ia tidak memikirkan atau menghubungkannya dengan SIFATmasyarakat dan TAHAP revolusi Indonesia. Yang ia pikirkan adalah pendapatdirinya sendiri tentang kapitalisme dan hasrat besar untuk mempertentangkan SGTdengan PKI guna membersihkan SGT dari tuduhan Komunis. Di sinilah lainnyaSTDjin dengan SGT. Di mana letak kelainannya? SGT seorang Marxis yang membuatAnalisa Kelas untuk menentukan siapa Kawan dan Lawan dalam tahap Revolusi yangsesuai dengan sifat masyarakat Indonesia. Sedangkan STDjin? Saya serahkankepada masing-masing orang untuk mengkualifikasi-nya. Jadi, saya menginterpretasi kapitalisme yang dimaksudSGT adalah kapitalisme Negara sebagai transisi menuju sosialisme, bukan sebagaihari depan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, di samping bicara tentang modaldomestik, SGT juga bicara danmendambakan Sosialisme a la Indonesia sebagai perspektif Revolusi Indonesia.SGT memang tidak bilang hitam di atas putih bahwa perspektif Revolusi Indonesiaadalah Sosialisme. Tapi mengingat SGT seorang Marxis dan pernyataan sertapandangannya yang dikutip para penulis tentang struktur masyarakat Indonesia,perlunya perubahan struktur, kapital domestik dan Sosialisme a la Indonesia, makatidak sulit bagi siapapun yang mau pakai akal sehat dan logika untuk sampaipada kesimpulan itu. Kalau kita bicara tentang kapitalisme Negara sebagaitahap pertama Revolusi Indonesia (yaitu tahap nasional dan demokratis), dankemudian diteruskan ke Sosialisme, secarakeseluruhan ide ini sama sekali tidak bertentangan dengan paham komunisme.Karena ini dijalankan juga oleh Lenin dan Mao. Yang bertentangan dengan pahamkomunisme adalah kapitalisme yang mengabadikan dan mensucikan kepemilikanpribadi atas alat produksi dan penghisapan manusia oleh manusia lain. Mengingat sikap SGT yang sangat memperhatikan revolusiTkk yang dipimpin Mao dan terjemahan “Red Star Over China”, karya Edgar Snowyang dikerjakannya pada tahun 1938, semakin besar keyakinan saya bahwa SGTmemang seorang Marxis, oleh karena itu ia mengerti tahap-tahap dan perspektif revolusi diTiongkok dan juga di Indonesia. Seandainya SGT memang benar-benar bertentangan denganPKI dalam soal borjuasi nasional dan sosialisme, maka tidak akan ada alasanbagi Yap Thiam Hien, yang anti komunis, untuk menentang mati-matian SGT denganmengatakan “bahwa 94% penduduk Indonesia beragama Islam, Kristen, Hindu danBuddha. Mereka bukan komunis dan menentang Komunisme. ……seandainya apa yangdiidam-idamkan Siauw itu adalah sebuah masyarakat sosialis ala komunisme yangbisa direalisasi, itu akan memakan jangka waktu panjang, mungkin 100 tahunbahkan 1000..” Kalau memang betul itu argumentasi Yap Thiam Hien, jelas ia tidak tahu dan tidak mengertibahwa orang komunis dan PKI tidak pernahmenentang agama. Inilah yang sampai sekarang dituduhkan terus menerus kepadaPKI. PKI tidak mempersoalkan kepercayaan pribadi anggotanya. Saya tidak pernahmenemukan dokumen PKI yang mensyaratkan atheisme untuk menjadi anggota PKI. Soal masyarakat sosialis a la komunisme (sebuahrumusan yang aneh!) akan makan jangka waktu panjang, itu tidak jadi masalah.Orang komunis berjuang bukan hanya untuk generasinya saja. Kalau bisa cepatdicapai, sudah tentu bagus sekali. Karena dengan demikian memperpendek penderitaanmassa rakyat pekerja. Tapi mengingat secara kongkrit musuh massa rakyat pekerjadipersenjatai sampai giginya dan kekuatan ekonominya menguasai dunia, makaperjuangan memang bersifat jangka panjang. Penilaian dan interpretasisaya terhadap sikap dan pandangan politik SGT JELAS bertentangan denganinterpretasi yang diberikan STDjin. STDjin menulis dalam subjudul: ” Pengembangan modaldomestik – perkawinan sosialisme dan kapitalisme” “Oleh musuh politiknya Siauw selaludinyatakan sebagai seorang tokoh Komunis. Penelitian yang objektif menunjukkanbahwa tuduhan ini tidak tepat. Siauw mendukung sosialisme ala Indonesia yang dianjurkan Sukarno. Dalamkonteks ini ia sering bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertianmodal domestik. Siauwsudah sejak tahun 50-an mencanangkan konsep perkawinan sosialisme dankapitalisme. Yang dimaksud di sini adalah pembangunanekonomi sosialis yang bersandar atas pengembangan modal domestik tanpamemperdulikan latar belakang ras pemilik modal. Ia harapkan modal-modal dagang domestiktermasuk yang dimiliki pedagang-pedagang Tionghoa dibantu dan didukungpemerintah untuk berkembang demi mempercepat pembangunan negara.” STDjinmengidentikkan “pengembangan modal domestik” dengan “perkawinan sosialisme dankapitalisme”. STDjinberasumsi bahwa ide perkawinan sosialisme dan kapitalisme adalah ide SGT.Asumsi STDjin ini harus ia buktikan. Di mana dapat ditemukan tulisan SGT yangmenguraikan ide tentang “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”? Apa yang SGT maksuddengan perkawinan sosialisme dan kapitalisme, kalau memang betul ia ingin“mengawinkan sosialisme dan kapitalisme”? Tanpamenjelaskan “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, STDjin kemudian mengatakan“Siauw mendukungsosialisme a la Indonesia yang dianjurkan Sukarno”. Yang STDjin “lupakan” adalah pertama, Sukarnoanti exploitation de l’homme par l’homme. Artinya Sosialisme yang diinginkan Sukarno SAMA SEKALI bukanSosialisme yang menghalalkan dan menerima Exploitation de l’homme par l”homme. Kedua, yang STDjin “lupakan”juga adalah bahwa Sosialisme yang diinginkan SGT juga sebuah masyarakat dimanatidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia. Zhou Nanjing menemukanpendapat SGT ini dalam SGT:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakanke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74. Masalah “penghisapanmanusia oleh manusia ” dianggap oleh Sukarno dan SGT sebagai soal pokokdalam hubungannya dengan Sosialisme. Maka itu mereka menyebutnya dalampidatonya (Sukarno) dan tulisannya (SGT). Ini 100% BERTENTANGAN dengan“Sosialisme dengan ciri Tkk” yang didukung S. Suroso, Chan dan tampaknya jugaoleh STDjin (kelihatan melalui “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”nya). Pernah saya tulisbahwa “penghisapan manusia oleh manusia”, analisa kelas, kontradiksi kelas,perjuangan kelas, imperialisme, nilai lebih, internasionalisme proletar, modeof production adalah masalah yang menjadi tabu bagi kaum revisionis dan merekaselalu menghindari dan menolak untuk mendiskusikannya. Karena mereka tidakmenemukan dasar teori revolusioner untuk membenarkan penghisapan, makasatu-satunya jalan adalah mengakui bahwa memang di Tkk ada penghisapan, karenapenghisapan DIPERLUKAN untuk membangun “sosialisme”. Bahkan S. Suroso bertanya,apa salahnya penghisapan? Ini sesuai dengan ajaran gurunya, Liu Shaoqi yangmelihat “manfaat dari penghisapan”. Versi lainnya adalah “jangan takut dengan merajalelanyakapitalisme”. Dan Deng Xiaoping mengexpresikannya dengan metaphora: ”kucinghitam atau kucing putih, asal tangkap tikus”. Argumentasi lain yangdigunakan adalah JAMAN SUDAH BERUBAH makaTEORI JUGA HARUS BERUBAH!! Teori pembangunan sosialis yang dipraktekkan Maosalah! Semua perubahan/revisi ini mereka anggap sebagai kontribusi danpengembangan Deng kepada Marxisme dan FMTT! Karena merekaMENGUBAH salah satu dasar dari Marxisme (Bukankah salah satu hal pokok yangditemukan dan dianalisa Marx adalah soal nilai lebih dan dari situ Marx sampaipada apa yang dinamakan penghisapan?) maka saya bilang mereka revisionis. Tapimereka marah dan menolak dibilang revisionis!! Padahal sudah MEREVISIMarxisme!! Lantas di mana logikanya ini? Saya lah yang dibilang MANDEK, karenasaya tidak mau merevisi. Saya lah yang dibilang BUTA, tidak mau melihat“kenyataan”. Padahal kenyataan di duniamenunjukkan semakin hebatnya PENGHISAPAN yang melahirkan segelintir kaumbilyuner yang berkubang dalam “uang dan kemewahan” dan kesenjangan yang semakin besar antara yang miskin dan yang kaya. Mereka menganggap sangatsulit menghapus penghisapan (siapa pernah bilang mudah menghapuskanpenghisapan?) maka logika mereka adalah, ikuti saja dulu dan terima sajapenghisapan. Biarkan segelintir orang jadi kaya dulu. Padahal dari dulu tidakpernah ada orang yang dapat dengan begitu saja menghalang-halangi kaumkonglomerat dan pemodal serta bankir untuk jadi kaya. HANYA perjuangan militantdan ulet dari rakyat sendiri seperti sudah dibuktikan di Soviet Uni dan Tiongkokyang dapat menghentikan dan menghalangi segelintir orang memperkaya dirinyamelalui penghisapan dan penindasan. Saya tetap memegangSosialisme a la Indonesia yang menolak penghisapan yang diajukan Bung Karno. Tapisaya dicap macam-macam. Bukankah ini berarti cap yang mereka tempelkan kepadasaya juga berlaku bagi bung Karno dan SGT??? Jadi apa yang diafirmasikan olehSTDjin bahwa “ Dalam konteksini ia sering bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal domestik”SAMA SEKALI tidak sesuai dengan kenyataan dan fakta sejarah. Di atas sudah sayatunjukkan bukti-buktinya melalui dokumen PKI. Di tambah lagi, afirmasi STDjinini sama sekali tidak disertai dokumen atau kesaksian yang mendu-kungnya. STDjin menegaskan lebih jauh lagi “Siauw sudah sejak tahun 50-anmencanangkan konsep perkawinan sosialisme dan kapitalis-me”. Lagi-lagi HANYAASUMSI tanpa bukti bahwa SGT ingin “mengawinkansosialisme dan kapitalisme”. Lagi pula, apakah pada tahun 50-an, orang sudah bicaratentang “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”? Bukankah istilah “mengawinkansosialisme dan kapitalisme” timbul setelah klik revisionis Deng Xiaopingmerebut kekuasaan dan mengubah haluan pembangunan Tkk? Di Tiongkok pun, kalaumemang betul tercipta “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, sudah berpuluhkali saya tanya dan minta kepada S. Suroso dan Chan sebagai penganutrevisionism Deng, untuk menunjukkan elemen atau unsur sosialisme yang masihdipertahankan. Sampai detik ini tidak pernah mereka tunjukkan. Kalau memangbenar sosialisme dapat dikawinkan dengan kapitalisme, mengapa di Tkk harusdibongkar dulu komune rakyat, harus dihapus dulu hak mogok buruh, hak pekerjatetap seumur hidup, sistim kerja 8 jam, pendidikan dan pelayanan gratis, jaminansocial ekonomi lainnya bagi buruh dan hak-hak demokratis kaum buruh lainnya??Baru setelah semua itu lenyap Deng Xiaoping membangun dengan lebih mudah kapitalisme. Kalau mau diskusi dengan jujur untuk mencerahkan danmengklarifikasi masalahnya, maka semua pertanyaan harusnya dijawab. Bukannyadihindari, dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Kemudian muncul lagi denganide, asumsi atau kesimpulan yang SAMA yang sebenarnya sudah terbantah denganargumentasi dan fakta yang tak pernah dijawab. Berdasarkan pada uraian di atas, saya khawatir STDjin,dengan sadar atau tidak, telah memelesetkan dan memelintirkan sikap dan ide SGTuntuk mengajukan dan membela ideology, pandagan dan sikap politik pribadinyasendiri yang pro-kapitalisme, anti-PKI dan anti-sosialis.
