Tatiana: Saya bilang Liu-Deng revisionis, pengkhianat usaha sosialisme, pengkhianat FMTT berdasarkan pada sepak terjang dan teorinya sendiri yang sudah saya ajukan dengan panjang lebar. Tapi semuanya itu sama sekali tidak anda sentuh!!! Apakah pembongkaran Komune rakyat dan penghapusan semua hak-hak kaum buruh itu (sudah bolak balik saya ajukan) bukan fakta? Jelaskan alasan anda untuk menolak bahwa Liu-deng dan anda sendiri bukan penempuh jalan kapitalisme? Berikan bantahan bahwa Liu-Deng tidak merevisi esensi Sosialisme?
ChanCT: Saya juga sudah berulang kali mengajukan argumentasi dengan menyangkal data yang kalian gunakan itu TIDAK AKURAT, bahkan dari Falungong! Apanya yang tidak disentuh, ...??? Bukan kalian yang tidak membacanya dengan baik-baik apa yang saya ajukan?! Masih di sekitar tgl 22-23 Sept. saat memperbincangkan “Kapitalisme Negara” nya Lenin, dibawah ini apa yang pernah saya menyatakan dan tidak anda tanggapi, ...: Lenin dengan berani menyebutkan “kapitalisme negara” masih dibawah diktatur proletariat, karena tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang oleh NEGARA, dengan menggunakan BUMN-BUMN nya. Sedang Deng, menyatakan ekonomi sosialis mempunyai ekonomi pasar nya sendiri, dengan tetap mempertahankan keunggulan ekonomi sosialis dengan mengambil keunggulan ekonomi pasar! Membuang bagian-bagian ekonomi sosialis berencana yang terlalu tersentralisasi, artinya berikan kebebasan daerah juga ikut menentukan sendiri pengembangan ekonomi daerah sesuai kebutuhan dan kondisi konkritnya. Sedang ekonomi pasar juga dijalankan secara terbatas saja, tidak dibiarkan berkeembang liar apalagi menjadi neolibralisme! Dan kenyataan yang dijalan RRT, tali kendali ekonomi nasional TETAP dipegak erat-erat oleh NEGARA! Tidak bedanya dengan pemikiran Lenin. Jadi, nampak jelas, yang SALAH adalah Stalin, yang kata Fuwa Tetsiro, setelah 5 tahun Lenin meninggal, keputusan Lenin NEP nya itu dicabut, membatalkan meneruskan “kepitalisme negara” dibawah diktatur propletariat! Dan itulah yang kemudian juga diikuti oleh Mao setelah tahun 1956 di Tiongkok. Jadi ikutan SALAH! TENTU, menyatakan Stalin dan Mao salah dalam hal membabat kapitalis, jangan kebablasan menjadi menghujat bahkan menegasi jasa-jasanya yang luar biasa besarnya bagi RAKYAT Rusia dan RAKYAT Tiongkok! Begitu sikap Deng terhadap kesalahan Mao dan dengan TEGAS menyalahkan sikap Krushchove yang menghujat Stalin dan anti-Stalin! Begitu juga dengan Deng membubarkan komune rakyat ditahun 1980 itu, dia tidak anti-komune rakyat secara prinsip. Tidak! Yang disalahkan, dilaksanakan terlalu cepat, karena KESADARAN petani di TIongkok belum sampai kekesadaran sepenuhnya kerja kolektif, usaha meningkatkan KESADARAN rakyat itu TIDAK bisa dipaksakan apalagi gunakan KEKERASAN! Harus dilakukan dengan SABAR melalui proses kehidupan dan kerja yang cukup panjang, agar mereka sendiri mencapai kekesadaran KERJA KOLEKTIF sebagai KEHARUSAN! Itulah yang saya perhatikan mengapa desa Xiao Gang yang dipilih dan diangkat menjadi model desa reformasi yang BERHASIL, merubah desa miskin terbelakang menjadi desa yang maju sekarang ini. Karena desa Xiao Gang itulah yang menempuh jalan wajar sebagaimana proses kesadaran PETANI yang terjadi. Setelah hak-guna tanah diserahkan kembali pada setiap keluarga petani, kembali terjadi kerja petani secara individual, sendiri-sendiri yang ternyata sulit untuk berkembang. Muncullah 18 petani bertekad mensukseskan produksi pertaniannya, menyatukan diri bekerjasama, dan kemudian membentuk koperasi kerja dan kemudian ditingkatkan menjadi koperasi tingkat tinggi, yang mengolah kebutuhan dan kepentingan warga desa Xiao Gang. Kalau diperhatikan lebih lanjut, sekalipun belum menyebutkan diri komune rakyat, hakekat koperasi-tingkat tinggi di Xiao Gang itu ya sudah komune rakyat! Mengapa? Karena hak-guna tanah yang semula dibagikan pada petani itu, semua sudah tergabung kembali dalam SAHAM koperasi yang mereka bentuk, dan pembagian pekerjaan juga dilakukan oleh barisan produksi yang mereka tentukan sendiri. https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/194113 Tentu saja anda tidak pernah bisa berhasil memahami yang diperjuangkan SGT adalah SOSIALISME, sekalipun dimasa hidupnya di Indonesia, selama itu Siauw berjuang keras tetap mempertahankan sistem kapitalis yang menjamin tumbuh/berkembangnya modal domestic. Sama halnya anda tidak pernah bisa memahami pejuang-pejuang kawakan macam Liu-Deng yang menyabung nyawa bersama Ketua Mao dalam perjalanan Long March, hanya karena hendak tetap memperkenankan kapitalis di TIongkok tumbuh berkembang, ... tetap memperkenankan kapitalis ikut berperan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena anda TIDAK BERANI melihat kenyataan konkrit tingkat perjuangan sekarang didunia ini, dimana masyarakat masih miskin, kapitalisme baru tumbuh, klas BURUH masih minoritas dan lemah, ... tenaga produksi masih terbelakang, mayoritas mutlak adalah PETANI, TIDAK bisa membasmi KAPITALISME! Lenin yang BENAR ditahun 21, dengan berani mengoreksi kesalahan semula membabati kapitalis yang baru tumbuh di Rusia, menetapkan NEP, kembali memperkenankan kapitalis tumbuh berkembang bahkan juga kapitalis-asing. Yang SALAH itu Stalin, setelah 5 tahun Lenin meninggal mencabut keputusan NEP nya Lenin, ... Hari ini (29 Sept 2016) sayapun mendapatkan kabar gembira, rupanya Xi-Li setelah memimpin 1000 hari, menetapkan perbaikan nasib bagi 9 kelompok warganya. Langkah konkrit dari program Kongres ke-18 PKT dengan plan 5 Tahun ke-13 yang menargetkan menyelesaikan 70 juta rakyat miskin yang tersisa dalam waktu 5 tahun kedepan, atau konkritnya selesai di tahun 2020, Tiongkok bebas dari rakyat miskin! Apakah ini bukan satu keberhasilan luar biasa dari PKT yang menempuh jalan Sosialisme bercirikhas Tiongkok! Bukankah ini SATU PRESTASI yang luar biasa dalam usaha mengentaskan KEMISKINAN yang selama ini diderita 1,4 milyar RAKYAT Tiongkok! Itulah jalan sosialisme yang ditempuh Tiongkok sekarang ini, ... sudah ratusan juta lapisan klas menengah! Coba saja perhatikan bagaimana rakyat TIongkok menggunakan hari liburnya untuk bertamasya, tidak hanya didalam negeri ke kota-kota besar dan daerah-daerah berpemandangan indah, laut dan gunung, juga keluar negeri. Dan menjadi harapan banyak negara didunia untuk mengundang masuk touris-tourist dari RRT, sekalipun dipihak lain banyak penduduk setempat jadi jengkel dengan kejorokan dan kekasaran sikap touris RRT itu, karena banyak diantara mereka memang asal PETANI yg belum berkebudayaan! Jadi, disatu pihak kurang senang, tapi dipihak lain tergiur dengan daya belanja yang kuat! Hehehee, ... Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman Sent: Sunday, October 9, 2016 6:43 PM To: Lusi D. ; Chan CT Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Roeslan ; Daeng ; Gol ; Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Ronggo A. ; Lingkar Sitompul ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Hsin Hui Lin ; Kristian Ginting ; GELORA_In ; Billy Gunadi ; Bilven-Ultimus ; Boni Triyana ; Wuting301 ; [email protected] Subject: Re: Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialisme Chan : Sangat baik untuk diikuti lebih seksama bagaimana seharusnya melihat > masalah, melihat secara TEPAT sikap seorang PEJUANG yang telah > menyabung nyawa dan mengorbankan segalanya demi RAKYAT BANYAK, ... > hanya karena BEDA PENDAPAT, menentang kebijaksanaan Lenin, Stalin, > Mao, ... PKI, lalu seenak udelnya mencap remo, penghianat, penempuh > jalan kapitalisme, anti PKI, anti Sosialisme dan bahkan anti > komunisme. Seolah-olah hanya dirinya sendirilah yang paling BENAR, > paling MURNI dan paling SUCI didunia ini. Tatiana: Nah, beginilah selalu reaksi orang yang mengklaim dirinya“selalu pakai otak sendiri”. Sama sekali tidak memperdulikan, apa lagi menjawab argumentasi dan alasan yang saya ajukan . Saya bilang Liu-Deng revisionis, pengkhianat usaha sosialisme, pengkhianat FMTT berdasarkan pada sepak terjang dan teorinya sendiri yang sudah saya ajukan dengan panjang lebar. Tapi semuanya itu sama sekali tidak anda sentuh!!! Apakah pembongkaran Komune rakyat dan penghapusan semua hak-hak kaum buruh itu (sudah bolak balik saya ajukan) bukan fakta? Jelaskan alasan anda untuk menolak bahwa Liu-deng dan anda sendiri bukan penempuh jalan kapitalisme? Berikan bantahan bahwa Liu-Deng tidak merevisi esensi Sosialisme? Ajukan argumentasi anda bahwa “Sosialisme dengan ciri Tkk” bukan penipuan dan tunjukkan unsur-unsur sosialisnya! Jelaskan teori anda bahwa periode revolusi Tkk sekarang adalah RDB!! Sampai sekarang anda tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi kok masih punya muka untuk menuduh seolah-olah saya menuduh asal menuduh. Kalau anda masih mau pakai akar sehat, sebenarnya anda tidak bisa menuduh saya “mencap seenak udelnya sendiri”, karena saya mengajukan bukti-buktinya. Bukan tuduhan namanya, kalau orang bisa menampilkan bukti-buktinya. Memang tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang yang sudah tidak berpikir sehat lagi!!! Saya masih harus menunda jawaban terhadap STDjin, karena kekurangan waktu. Soal SGT, PKI dan Sosialisme pun belum selesai. On Sunday, October 9, 2016 10:33 AM, Lusi D. <[email protected]> wrote: Lha selama ini bung Chan menulis bukan pikirannya sendiri tokh? Am Sun, 9 Oct 2016 10:21:13 +0800 schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > Nah, akhirnya S Tiong Djin berhasil meluangkan waktu menanggapi > sendiri tulisan Tatiana sehubungan dengan buku tulisannya. Lihat > tulisan dibawah ini. > > Sangat baik untuk diikuti lebih seksama bagaimana seharusnya melihat > masalah, melihat secara TEPAT sikap seorang PEJUANG yang telah > menyabung nyawa dan mengorbankan segalanya demi RAKYAT BANYAK, ... > hanya karena BEDA PENDAPAT, menentang kebijaksanaan Lenin, Stalin, > Mao, ... PKI, lalu seenak udelnya mencap remo, penghianat, penempuh > jalan kapitalisme, anti PKI, anti Sosialisme dan bahkan anti > komunisme. Seolah-olah hanya dirinya sendirilah yang paling BENAR, > paling MURNI dan paling SUCI didunia ini. > > Salam, > ChanCT > > > From: Djin Siauw > Sent: Sunday, October 9, 2016 12:14 AM > > > > > Tatiana yang baik > > > > Apa kabar? > > > > Pertama saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian besar Anda > atas tulisan-tulisan saya tentang SGT dan upaya Anda melakukan > penelitian tentang sosok SGT dan jalan pikirannya. > > > > Saya terperanjat melihat diskusi Anda meluncur ke sebuah kesimpulan > bahwa saya menyalah gunakan nama SGT untuk mengukuhkan sikap saya > yang anti PKI dan pendukung kapitalisme. Entah dari mana kesimpulan > ini lahir. > > > > Saya tidak akan berpanjang lebar dan secara terperinci menanggapi > semua butir argumentasi yang Anda tuangkan di dalam tulisan-tulisan > Anda di dunia maya. Secara singkat dan global saya yang akan > mengemukakan beberapa hal sbb: > > > > 1. Saya dan saya yakin kakak saya, tidak pernah bersikap anti > PKI, anti sosialisme maupun anti komunisme. Bahwa kami melihat > perkembangan dunia dan bagaimana pemerintah seharusnya menjamin > kesejahtraan rakyat dengan kaca mata berbeda dengan Anda, itu bisa > saja. Dan kalau Anda mendukung paham demokrasi, sebenarnya perbedaan > ini tidak perlu mengundang permusuhan atau perdebatan sengit yang > tidak membangun. > > > > 2. Saya tidak pernah menyatakan di dalam tulisan-tulisan saya > bahwa SGT anti PKI dan getol mendukung kapitalisme dalam arti yang > Anda singgung. Itu tidak pernah tertuang di dalam tulisan-tulisan > saya. Kutipan-kutipan yang Anda ambil dari tulisan-tulisan tersebut, > menurut saya out of context. Entah apakah sebenarnya Anda sudah > membaca buku saya tentang biografi politik SGT secara keseluruhan? > Mungkin kalau Anda membaca buku tersebut dengan teliti dan dengan > kepala dingin, Anda akan mencapai sebuah kesimpulan yang berbeda. > > > > Yang saya tegaskan dalam tulisan-tulisan itu adalah: SGT bukan > anggota PKI. Akan tetapi dalam perjuangan mencapai sosialisme ala > Indonesia, ia sepenuhnya sejalan dengan Soekarno, PKI dan > partai-partai kiri lainnya. > > > > 3. Secara ringkas saya ulangi berbegai hasil penelitian saya ttg > SGT: > > > > a. Ia adalah seorang Marxist yang mengangumi keberhasilan Mao Tse > Tung dalam membangun masyarakat sosialisme di Tiongkok. Dalam konteks > ini, ia tentu saja sangat dekat dengan banyak tokoh PKI dan tidak > mungkin memiliki sikap anti PKI. > > > > b. Dekat dengan banyak tokoh PKI dan tidak anti PKI bukan berarti > ia tidak pernah menentang beberapa kebijakan PKI dan sikap politik > para tokohnya. Justru karena ia bukan anggota PKI, ia bisa bebas > bersikap di luar disiplin partai. > > > > c. Hubungan dengan banyak tokoh PKI sudah terjalin sejak tahun > 30-an dan sejak kegiatan politik di awal kemerdekaan pada waktu SGT > turut memimpin Partai Sosialis. > > > > d. Akan tetapi SGT yang sejak FDR bubar pada tahun 1948, tidak > lagi tergabung dalam partai apapun. Dan ini nampak dari sepak > terjangnya di parlemen. Ia jelas tidak mengikuti disiplin partai > apapun. Di zaman demokrasi parlementer (1949-1959), ia mendirikan dan > memimpin Fraksi Nasional Progresif yang terdiri dari beberapa partai > nasionalis dan beberapa tokoh tidak berpartai. Partai yang paling > berpengaruh di fraksi ini adalah Murba, yang bisa dikategorikan > “musuh politik” PKI sejak awal kemerdekaan. > > > > SGT-pun sangat dekat dengan tokoh-tokoh Murba. SGT berperan dalam > mendorong Sukarni, ketua Murba, untuk menjadi dubes RI di RRT pada > 1961. Ketika PKI memimpin gerakan mengganyang Murba di zaman > Demokrasi Terpimpin, SGT menolak membawa Baperki turut melakukan > pengganyangan tersebut. Sikap ini sangat dihargai oleh banyak tokoh > Murba, terutama Adam Malik, sehingga selama SGT menjadi tapol, Adam > Malik secara diam-diam berupaya membantunya – dengan kerap mengatur > pemeriksaan kesehatan SGT di RSPAD. Dan Adam Malik-lah sebagai > Wapres yang memungkinkan SGT memperoleh “exit-permit” untuk berobat > di Belanda pada September 1978. > > > > e. Di zaman Demokrasi Parlementer, Berbagai RUU (Rancangan > Undang-Undang) diperdebatkan di parlemen. Kerap terjadi perdebatan > antara anggota-anggota Fraksi Nasional Progresif dengan > anggota-anggota Fraksi PKI. Anda bisa mengikuti berbagai perdebatan > ini di risalah-risalah dan ikhtisar-ikhtisar parlemen. > > > > f. Menurut saya kebijakan ekonomi PKI di zaman Demokrasi > Parlementer berdeda dengan kebijakan ekonomi di zaman Demokrasi > Terpimpin, terutama setelah 1963. SGT kerap memberi masukan ke para > tokoh PKI, termasuk Njoto dan ayah Anda, dalam perumusan kebijakan > ekonomi PKI, karena ia memang dianggap ahli ekonomi di kalangan > politikus kiri (Utrech, yang juga berada di DPA bersama SGT, > menyatakan kepada saya, bahwa berbagai rumusan ekonomi yang kemudian > masuk dalam pidato2 Soekarno kerap diutarakan SGT dalam DPA). > > > > Jadi tidak mengherankan bahwa kebijakan-kebijakan PKI di zaman > demokrasi terpimpoin seirama dengan apa yang SGT utarakan sejak zaman > Demokrasi Parlementer, terutama yang berkaitan dengan pengembangan > modal domestic. Apalagi setelah konsepsi ini masuk dalam Manipol, > GBHN 1963 dan masuk pula dalam pidato kenegaraan Bung Karno. > Kesemuanya ini didukung baik secara sungguh-sungguh maupun secara lip > service oleh semua partai dan ormas politik di zaman itu. Dan > kebijakan-kebijakan PKI yang Anda uraikan keluar di zaman itu pula. > Mungkin Anda perlu memperhatikan kebijakan ekonomi PKI pada tahun > 50-an. > > > > g. Salah satu contoh perbedaan konsep tentang “kapitalisme” antara > SGT dan yang dianut oleh PKI bisa dilihat dalam perdebatan antara SGT > dan Sakirman di parlemen pada 1951 tentang RUU Pedoman Baru – yang > menghendaki semua kepemilkan perusahaan bis dan transportasi > dialihkan ke tangan “golongan ekonomi lemah” – artinya non Tionghoa > dan pengharusan semua perusahaan baru dimiliki oleh 75% WNI. SGT > menentang kebijakan ini berdasarkan argumentasi bahwa > perusahaan-perusahaan yang dimiliki para pedagang Tionghoa yang > sudah berpengalaman sejak zaman penjajahan Belanda - apapun status > kewarganegaraan-nya, seharusnya dilindungi dan dibantu > perkembangannya, karena ini akan membantu pembangunan ekonomi > nasional. Sakirman menentang SGT yang dianggapnya menginginkan > dipertahankannya sistim kapitalisme yang merugikan pembangunan > ekonomi. > > > > Saya ketengahkan pula dalam tulisan2 saya bahwa massa Baperki > sebagian besar adalah pedagang-pedagang Tionghoa. Konsepsi > “kapitalisme” yang didukung oleh SGT seirama dengan jati diri mereka. > Komunisme yang dikenal pada tahun 50-an tidak begitu “cocok” dengan > sikap massa Baperki. > > > > Menyatakan demikina bukan berarti saya menyatakan bahwa SGT dan > Baperki anti Komunisme atau anti PKI. Banyak data yang mendukung > pengertian bahwa PKI sering membela Baperki (Hanya saja agak aneh, > justru ketika Harian Republik, Terompet Baperki, pada tahun > 1960,dilarang terbit oleh pemerintah karena membela PKI dalam > poeristiwa Madiun. PKI ternyata memilih jalan DIAM, tidak membela!). > > > > h. Ttg Perkawinan Kapitalisme dan Sosialisme: Betul, SGT tidak > secara eksplisit menggunakan istilah “perkawinan”. Akan tetapi > berbagai tulisan dan pidatonya tidak bisa tidak memiliki konotasi dan > mendukung istilah “perkawinan” tersebut. > > > > Saya kutip berbagai pidatro SGT sejak zaman Demokrasi Parlementer: > > > > (1) Sambutan SGT pada Simposium Ekonomi Baperki, 26 September 1954: > “…Hendaknya pemerintah tidak memasalahkan siapa yang mengadakan > industrialisasi tetapi lebih mementingkan sumbangan modal warga > negara keturunan asing dalam pembangunan ekonomi nasional. Semua > modal domestic yang tidak merupakan eksploitasi dan drainage yang > bisa menimbulkan kolonialisme di bidang ekonomi, harus > dikembangkan...” > > > > (2) Pidato SGT di Pacet, 9 Januari 1955: “… ketentuan-ketentuian yg > patut diperhatikan adalah pasal2 37 dan 38 UUD, yang dapat dikatakan > menjadi dasar ekonomi nasional yang sesungguhnya. ….Pasal 37 dapat > disimpulkan berarti modal perseorangan (Kapitalisme) tidak > dihapuskan, melainkan dibatasi , supaya tidak mencapai tingkat > kekuasaan monopoli yang membahayakan kepentingan rakyat…” > > > > (3) Uraian SGT pada kongres baperki di Malang 21 Marert 1955 tentang > Konstituante: “… Harus ada pasal dalam UUD yang menjamin adanya > kesempatan untuk setiap warga negara untuk berkembang , tetapi > terbatas sehingga tidak menjadi kekuatan monopoli yang merugikan > rakyat terbanyak. UUD itu harus menentukan bahwa pembangunan ekonomi > nasional berdasarkan pada kekuatan perusahaan pokok milik negara > dibantu oleh perusahaan2 milik koperasi rakyat dan perusahaan2 milik > modal perseorangan…” > > > > (4) SGT pada 21 Mei 1959, sebagai wakil ketua seksi ekonomi DPR > (jadi sebelum Dekrit 5 Juli 1959) “….Tulang punggung Sosialis ala > Indonesia adalah kekuatan produksi perusahaan2 modal negara dibantu > oleh kekuatan produksi perusahaan2 modal perseorangan …”. > > > > (5) Pidato SGT 13 Maret 1961: “…Bahwa dalam tahap sekarang ini > kapitalisme masih diakui adanya, malahan dianjurkan untuk tumbuh > sehat untuk pembangunan Indonesia…” > > > > > > (6) Pidato SGT, 12 Juni 1961: “…dalam tingkat nasional-demokratis > sekarang ini kaptitalisme belum menjjadi sasaran revolusi, karena > dalam batas-batas tertentu, sampai-pun modal domestic, yaitu modal > milik perseorangan, termasuk orang asing yang menetap di Indonesia, > diberi kesempatan berkembang secara sehat untuk menguntungkan > kelajuan revolusi untuk memasuki tingkat selanjutnya…”. > > > > Jelas kapitalisme yang dimaksud adalah kapitalisme yang berkaitan > dengan modal domestik bukan modal-modal Multi-National Corporations. > SGT selalu beragumentasi bahwa pengembangan modal domestik ini sangat > penting untuik pembangunan ekonomi nasional karena para pemilik modal > ini menetap di Indonesia dan keuntungan yang merekla peroleh akan > dipergunakan untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Sedangkan > Multi National Corporations bukan saja tidak mementingkan pembangunan > nasional Indonesia, ia bahkan siap merugikannya demi menciptakan > keuntungan yang akan dikirim keluar Indonesia. > > > > Diharap tanggapan di atas menghilangkan salah penafsiran yang > terkandung dalam tulisan-tulisan Anda. Bilamana tidak, juga tidak > apa. Anda sepenuhnya berhak menginterpretasikan apa-pun yang sudah > tertuang dalam berbagai buku dan tulisan saya. > > > > Salam Hangat > > > Tiong Djin > > > > > > > From: Tatiana Lukman > Sent: Saturday, October 8, 2016 2:06 AM > To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD > Cc: Roeslan ; Lusi.D ; Daeng ; Gol ; Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; > Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Ronggo A. ; Lingkar Sitompul ; > Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Hsin Hui Lin ; Chan CT ; > Kristian Ginting ; GELORA_In ; Billy Gunadi ; Bilven-Ultimus ; Boni > Triyana ; Wuting301 Subject: Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialisme > > > SGT, PKI dan > Sosialisme (2) Sekarang akan saya perluas dan perdalam soal SGT, PKI > dan Sosialisme. > > > Dari beberapa buku yang saya baca, yang berkaitan dengan SGT, saya > temukan berbagai fakta sejarah dan komentar beberapa penulis > ( misalnya, Daniel S.Lev, Zhou Nanjing, Yusuf Isak, Go Gien Tjwan, Xu > ren, Daniel Sparinga, dll) sebagai berikut: -SGT adalah seorang > Marxis. -Tjoa Sik Ien dan Tan Ling Djie yang baru kembali dari > Belanda pada tahun 1930-an memperkenalkan Marxisme kepada Siauw. > -Tahun 1946, Siauw masuk ke dalam Partai Sosialis yang dipimpin oleh > Sutan Sjahrir, Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Djie. -Beberapa bulan > setelah Proklamasi Kemerdekaan, Tan mengajaknya masuk Partai > Sosialis. Dalam waktu singkat ia dekat dengan Amir Sjarifuddin. > Ketika Amir Sjarifuddin menjadi PM tahun 1947, ia mengangkat Siauw > sebagai Menteri Urusan Minoritas. > - Setelah menjadi menteri di kabinet Amir Sjarifudin, Siauw tetap > menekuni dunia jurnalistik. Partai Sosialis memintanya menerbitkan > Harian Suara Ibu Kota. Di sini ia dibantu oleh dua tokoh muda PKI, > Aidit dan Njoto. > - Ketika terjadi Peristiwa Madiun 1948, Siauw yang pernah menjadi > tokoh Front Demokrasi rakyat (FDR) ikut ditangkap. Ia dan Tan Ling > Djie dipenjara di Wirogunan. -Setelah peristiwa Madiun, September > 1948, PKI ditindas oleh pemerintah Hatta. Siauw ditangkap dan > dipenjarakan di Wirogunan di Yogyakarta. > - Agustus 1951 akibat “razia” Kabinet Sukiman, Siauw kembali > dijebloskan ke bui. > - PKI mengecam diskriminasi rasial, dan menentang sikap > anti-Tionghoa. PKI menerima peranakan Tionghoa bahkan ada > diantaranya, seperti Tan Ling Djie, menduduki posisi pimpinan. > - Dalam DPR, PKI yang sering mendukung posisi anti-diskriminasi > BAPERKI. Partai-partai lain sering tidak mendukung bahkan , > membenarkan diskriminasi terhadap orang Tionghoa. -Siauw Giok Tjhan > berpendapat bahwa struktur masyarakat Indonesia memiliki > elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dan kapitalisme. Baginya > Inilah penyakit kronis masyarakat Indonesia, yang membawa-kan > penyakit-penyakit lainnya. Oleh karena itu menurutnya, masyarakat > yang sehat hanya bisa dicapai bilamana penyakit kronis ini dibasmi > secara tuntas. -Akan tetapi, menurut Siauw, proses integrasi saja > tidak mungkin menyembuhkan penyakit yang diendap oleh masyarakat > Indonesia. Ia hanya mampu mencegah penyebarluasan dan pemarahan yang > disebabkan oleh penyakit-penyakit tersebut. Baginya, pengobatan yang > paling tepat adalah melangsungkan operasi yang menghilangkan > penyakit-penyakit yang diendap ini secara tuntas. Yaitu mengubah > struktur masyarakat Indonesia yang masih mengandung feodalisme, > kolonialisme dan kapitalisme itu menjadi masyarakat Pancasila-is atau > masyarakat Sosialis ala Indonesia. Siauw yakin bahwa di dalam > masyarakat yang demikian tidak ada lagi system penghisapan manusia > oleh manusia, dan timbullah sebuah masyarakat di mana semua suku > hidup secara harmonis yang memungkinkan adanya kegairahan berusaha > tanpa kekhawatiran akan diskriminasi rasial. (SGT:”Bhineka Tunggal > Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V, > Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74) > - Pidato-pidato, tulisan-tulisan SGT, juga dokumen-dokumen Baperki > tidak pernah mencanangkan komunisme sebagai objektif perjuangan > politik mereka. Yang didambakan oleh Siauw adalah perwujudan > masyarakat sosialisme a la Indonesia yang diformulasikan Presiden > Soekarno dan yang sesuai dengan UUD-45. > - Ini menunjukkan bahwa Siauw Giok Tjhan menggantungkan harapannya > kepada PKI dan Revolusi Sosialis. Ia berpendirian bahwa hanya dengan > melalui Revolusi Sosialis PKI masalah golongan Tionghoa dapatkan > diselesaikan secara tuntas melalui proses integrasi wajar. > - Yap Thiam Hien yang anti Komunis menentang anjuran Siauw Giok > Tjhan. Ia menyatakan bahwa 94% penduduk Indonesia beragama Islam, > Kristen, Hindu dan Buddha. Mereka bukan komunis dan menentang > Komunisme. Ia juga berpendapat seandainya apa yang diidam-idamkan > Siauw itu adalah sebuah masyarakat sosialis ala komunisme yang bisa > direalisasi, itu akan memakan jangka waktu panjang, mungkin 100 tahun > bahkan 1000 > - Ketika membicarakan keadaan ekonomi dan masyarakat Indonesia dari > apa yang dinamakan “orde baru” dalam karya yang ditinggal-kannya, ia > mengajukan berbagai masalah baru yang menyangkut modal asing, bantuan > luar negeri, pengerukan harta Negara dan korupsi para birokrat baru, > perbedaan kaya dan miskin serta perbedaan kota dan desa. > - Setelah tahun 1959, terutama di dalam Jaman Demokrasi Terpimpin, > mengikuti irama dan slogan politik yang dicanangkan oleh Presiden > Soekarno, formulasi Siauw menjadi tegas. Perkataan “masyarakat” > diubah menjadi “masyarakat sosialis”. Perkataan “integrasi” diubah > menjadi “integrasi revolusioner”. -Kita menekankan sekali lagi di > sini pentingnya analisis kelas yang mendasar dan menyeluruh mengenai > warga keturunan Tionghoa ini, bagian integral Nasion Indonesia kita. > -Siauw juga memiliki solidaritas kelas yang sangat tinggi. Itu > barangkali yang membuat dia percaya bahwa sosialisme a la Indonesia > itu menjadi jawaban sebenarnya, paling tidak di atas kertas, dari > persoalan etnis. -Menurut saya, Siauw mencoba menyederhanakan > kelompok etnis ketika itu, sebagai persoalan kelas. -Alasannya adalah > Siauw pernah dianggap komunis, yang sejak tahun 1965 dianggap sebagai > paham ideologi yang merusak Indonesia, sehingga tidak patut > disinggung dalam sejarah. Padahal ke-absahan tuduhan itu tidak pernah > dipermasalahkan. > > > Dari semua tulisan/komentar di atas, terdapat hal-hal yang sangat > menarik perhatian yang mendorong saya membuat kesimpulan sbb. Sudah > tentu masing-masing orang bisa membuat kesimpulannys sendiri. > > > Pertama, SGT adalah seorang Marxis, dan BUKAN Marxis gadungan. SGT > menggunakan Marxisme (analisa kelas) untuk menganalisa masyarakat > Indonesia. Oleh karena itu, SGT berpendapat bahwa struktur masyarakat > Indonesia memiliki elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dan > kapitalisme. Dan rumusan ini PADA HAKEKATNYA, INTINYA, adalah sama > dengan rumusan PKI setengah jajahan setengah feudal (elemen-elemen > feudal, artinya tidak sepenuhnya feudal --- artinya setengah feudal; > elemen-elemen kolonialisme—artinya terjajah, tapi karena sudah punya > pemerintahan sendiri, bukan jajahan langsung, makanya jadi setengah > jajahan, dan elemen kapitalisme yang melahirkan borjuasi nasional.) > Oleh karena itu baik SGT maupun PKI dalam tahap revolusi nasional > demokratis sama-sama memperjuangkan ruang bagi kapitalis nasional > untuk mendorong perkembangan ekonomi nasional. > > > Siauw percaya pada perlunya perubahan STRUKTUR di Indonesia menjadi > masyarakat sosialisme a la Indonesia. Seperti juga Sukarno yang anti > Exploitation de l’homme par l’homme, SGT yakin bahwa di dalam > masyarakat yang demikian tidak ada lagi system penghisapan manusia > oleh manusia, dan timbullah sebuah masyarakat di mana semua suku > hidup secara harmonis yang memungkinkan adanya kegairahan berusaha > tanpa kekhawatiran akan diskriminasi rasial. ( Dan ini diambil oleh > salah seorang penulis dari bukunya SGT sendiri:”Bhineka Tunggal Ika”, > Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan > oleh Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74). > > > Jelas SGT bukan seorang sosdem, yang menginginkan “sosialisme“ tapi > menerima penghisapan manusia oleh manusia. SGT sangat tinggi rasa > solidaritas kelasnya. Justru karena SGT menggunakan analisa kelas, > maka ia dituduh “menyederhanakan kelompok etnis sebagai persoalan > kelas”. Di sini saya membenarkan SGT, karena analisa kelas harus > diterapkan dalam menyelesaikan masalah rasisme. Seperti sukubangsa > lainnya, komunitas tionghoa juga terbagi dalam kelas-kelas yang > berbeda kepentingannya. Pentingnya melakukan analisa kelas ditekankan > juga oleh Yusuf Isak. > > > Jadi apa yang diperjuangan SGT adalah sosialisme a la Indonesia tanpa > penghisapan manusia atas manusia. Ketika SGT bicara tentang modal > domestik dan kapitalis nasional, sama sekali tidak dalam artian ia > memperjuangkan kapitalisme sebagai perspektif revolusi Indonesia. > Karena jelas bagi SGT, perspektif atau hari depan revolusi Indonesia > adalah Sosialisme. Dan Sosialisme TIDAK dapat dicapai TANPA > menyelesaikan terlebih dulu tahap revolusi nasional demokratis. > > > Sebenarnya tidak ada pertentangan antara pernyataan SGT yang di satu > pihak menginginkan dikembangkannya modal domestik untuk mengembangkan > ekonomi nasional dan di lain pihak pernyataannya yang menginginkan > sosialisme a la Indonesia dengan menolak penghisapan manusia atas > manusia. > > > Celakanya, pernyataan Siauw Tiong Djin di bawah ini: > “Dalam hal inil Siauw secara gamblang memperjuangkan > dipertahan-kannya system kapitalisme yang menjamin tumbuhnya modal > domestik, yang pada umumnya berada dikelola oleh para pengusaha > Tionghoa.” ; dan diulangi lagi pada bagian lain:”Program ekonomi > Siauw menganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme yang > memungkinkan pengembangan modal domestik untuk pembangunan ekonomi > nasional. Paham ini jelas bertentangan dengan paham komunisme”, dapat > menimbulkan kesan seolah-olah SGT pro kapitalisme dan menentang > sosialisme, padahal di bagian lain SGT mendambakan sosialisme a la > Indonesia. “Kesan” adanya pertentangan ini saya tanyakan juga kepada > Chan, tapi ia tidak menjawab atau menjelaskan. Penjelasan saya > adalah, ketika STDjin bicara soal kapitalisme, sama sekali ia tidak > memikirkan atau menghubungkannya dengan SIFAT masyarakat dan TAHAP > revolusi Indonesia. Yang ia pikirkan adalah pendapat dirinya sendiri > tentang kapitalisme dan hasrat besar untuk mempertentangkan SGT > dengan PKI guna membersihkan SGT dari tuduhan Komunis. Di sinilah > lainnya STDjin dengan SGT. Di mana letak kelainannya? SGT seorang > Marxis yang membuat Analisa Kelas untuk menentukan siapa Kawan dan > Lawan dalam tahap Revolusi yang sesuai dengan sifat masyarakat > Indonesia. Sedangkan STDjin? Saya serahkan kepada masing-masing orang > untuk mengkualifikasi-nya. Jadi, saya menginterpretasi kapitalisme > yang dimaksud SGT adalah kapitalisme Negara sebagai transisi menuju > sosialisme, bukan sebagai hari depan rakyat Indonesia. Oleh karena > itu, di samping bicara tentang modal domestik, SGT juga bicara dan > mendambakan Sosialisme a la Indonesia sebagai perspektif Revolusi > Indonesia. SGT memang tidak bilang hitam di atas putih bahwa > perspektif Revolusi Indonesia adalah Sosialisme. Tapi mengingat SGT > seorang Marxis dan pernyataan serta pandangannya yang dikutip para > penulis tentang struktur masyarakat Indonesia, perlunya perubahan > struktur, kapital domestik dan Sosialisme a la Indonesia, maka tidak > sulit bagi siapapun yang mau pakai akal sehat dan logika untuk sampai > pada kesimpulan itu. Kalau kita bicara tentang kapitalisme Negara > sebagai tahap pertama Revolusi Indonesia (yaitu tahap nasional dan > demokratis), dan kemudian diteruskan ke Sosialisme, secara > keseluruhan ide ini sama sekali tidak bertentangan dengan paham > komunisme. Karena ini dijalankan juga oleh Lenin dan Mao. Yang > bertentangan dengan paham komunisme adalah kapitalisme yang > mengabadikan dan mensucikan kepemilikan pribadi atas alat produksi > dan penghisapan manusia oleh manusia lain. Mengingat sikap SGT yang > sangat memperhatikan revolusi Tkk yang dipimpin Mao dan terjemahan > “Red Star Over China”, karya Edgar Snow yang dikerjakannya pada tahun > 1938, semakin besar keyakinan saya bahwa SGT memang seorang Marxis, > oleh karena itu ia mengerti tahap-tahap dan perspektif revolusi di > Tiongkok dan juga di Indonesia. Seandainya SGT memang benar-benar > bertentangan dengan PKI dalam soal borjuasi nasional dan sosialisme, > maka tidak akan ada alasan bagi Yap Thiam Hien, yang anti komunis, > untuk menentang mati-matian SGT dengan mengatakan “bahwa 94% penduduk > Indonesia beragama Islam, Kristen, Hindu dan Buddha. Mereka bukan > komunis dan menentang Komunisme. ……seandainya apa yang diidam-idamkan > Siauw itu adalah sebuah masyarakat sosialis ala komunisme yang bisa > direalisasi, itu akan memakan jangka waktu panjang, mungkin 100 tahun > bahkan 1000..” Kalau memang betul itu argumentasi Yap Thiam Hien, > jelas ia tidak tahu dan tidak mengerti bahwa orang komunis dan PKI > tidak pernah menentang agama. Inilah yang sampai sekarang dituduhkan > terus menerus kepada PKI. PKI tidak mempersoalkan kepercayaan pribadi > anggotanya. Saya tidak pernah menemukan dokumen PKI yang mensyaratkan > atheisme untuk menjadi anggota PKI. Soal masyarakat sosialis a la > komunisme (sebuah rumusan yang aneh!) akan makan jangka waktu > panjang, itu tidak jadi masalah. Orang komunis berjuang bukan hanya > untuk generasinya saja. Kalau bisa cepat dicapai, sudah tentu bagus > sekali. Karena dengan demikian memperpendek penderitaan massa rakyat > pekerja. Tapi mengingat secara kongkrit musuh massa rakyat pekerja > dipersenjatai sampai giginya dan kekuatan ekonominya menguasai dunia, > maka perjuangan memang bersifat jangka panjang. Penilaian dan > interpretasi saya terhadap sikap dan pandangan politik SGT JELAS > bertentangan dengan interpretasi yang diberikan STDjin. STDjin > menulis dalam subjudul: ” Pengembangan modal domestik – perkawinan > sosialisme dan kapitalisme” “Oleh musuh politiknya Siauw selalu > dinyatakan sebagai seorang tokoh Komunis. Penelitian yang objektif > menunjukkan bahwa tuduhan ini tidak tepat. Siauw mendukung sosialisme > ala Indonesia yang dianjurkan Sukarno. Dalam konteks ini ia sering > bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal domestik. > Siauw sudah sejak tahun 50-an mencanangkan konsep perkawinan > sosialisme dan kapitalisme. Yang dimaksud di sini adalah pembangunan > ekonomi sosialis yang bersandar atas pengembangan modal domestik > tanpa memperdulikan latar belakang ras pemilik modal. Ia harapkan > modal-modal dagang domestik termasuk yang dimiliki pedagang-pedagang > Tionghoa dibantu dan didukung pemerintah untuk berkembang demi > mempercepat pembangunan negara.” STDjin mengidentikkan “pengembangan > modal domestik” dengan “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”. > STDjin berasumsi bahwa ide perkawinan sosialisme dan kapitalisme > adalah ide SGT. Asumsi STDjin ini harus ia buktikan. Di mana dapat > ditemukan tulisan SGT yang menguraikan ide tentang “perkawinan > sosialisme dan kapitalisme”? Apa yang SGT maksud dengan perkawinan > sosialisme dan kapitalisme, kalau memang betul ia ingin “mengawinkan > sosialisme dan kapitalisme”? Tanpa menjelaskan “perkawinan sosialisme > dan kapitalisme”, STDjin kemudian mengatakan “Siauw mendukung > sosialisme a la Indonesia yang dianjurkan Sukarno”. Yang STDjin > “lupakan” adalah pertama, Sukarno anti exploitation de l’homme par > l’homme. Artinya Sosialisme yang diinginkan Sukarno SAMA SEKALI bukan > Sosialisme yang menghalalkan dan menerima Exploitation de l’homme par > l”homme. Kedua, yang STDjin “lupakan” juga adalah bahwa Sosialisme > yang diinginkan SGT juga sebuah masyarakat dimana tidak ada lagi > penghisapan manusia oleh manusia. Zhou Nanjing menemukan pendapat SGT > ini dalam SGT:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi > Asimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs, > Jakarta, 1977, Hal 73-74. > > > Masalah “penghisapan manusia oleh manusia ” dianggap oleh Sukarno dan > SGT sebagai soal pokok dalam hubungannya dengan Sosialisme. Maka itu > mereka menyebutnya dalam pidatonya (Sukarno) dan tulisannya (SGT). > Ini 100% BERTENTANGAN dengan “Sosialisme dengan ciri Tkk” yang > didukung S. Suroso, Chan dan tampaknya juga oleh STDjin (kelihatan > melalui “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”nya). Pernah saya > tulis bahwa “penghisapan manusia oleh manusia”, analisa kelas, > kontradiksi kelas, perjuangan kelas, imperialisme, nilai lebih, > internasionalisme proletar, mode of production adalah masalah yang > menjadi tabu bagi kaum revisionis dan mereka selalu menghindari dan > menolak untuk mendiskusikannya. Karena mereka tidak menemukan dasar > teori revolusioner untuk membenarkan penghisapan, maka satu-satunya > jalan adalah mengakui bahwa memang di Tkk ada penghisapan, karena > penghisapan DIPERLUKAN untuk membangun “sosialisme”. Bahkan S. Suroso > bertanya, apa salahnya penghisapan? Ini sesuai dengan ajaran gurunya, > Liu Shaoqi yang melihat “manfaat dari penghisapan”. Versi lainnya > adalah “jangan takut dengan merajalelanya kapitalisme”. Dan Deng > Xiaoping mengexpresikannya dengan metaphora: ”kucing hitam atau > kucing putih, asal tangkap tikus”. Argumentasi lain yang digunakan > adalah JAMAN SUDAH BERUBAH maka TEORI JUGA HARUS BERUBAH!! Teori > pembangunan sosialis yang dipraktekkan Mao salah! Semua > perubahan/revisi ini mereka anggap sebagai kontribusi dan > pengembangan Deng kepada Marxisme dan FMTT! Karena mereka MENGUBAH > salah satu dasar dari Marxisme (Bukankah salah satu hal pokok yang > ditemukan dan dianalisa Marx adalah soal nilai lebih dan dari situ > Marx sampai pada apa yang dinamakan penghisapan?) maka saya bilang > mereka revisionis. Tapi mereka marah dan menolak dibilang > revisionis!! Padahal sudah MEREVISI Marxisme!! Lantas di mana > logikanya ini? Saya lah yang dibilang MANDEK, karena saya tidak mau > merevisi. Saya lah yang dibilang BUTA, tidak mau melihat “kenyataan”. > Padahal kenyataan di dunia menunjukkan semakin hebatnya PENGHISAPAN > yang melahirkan segelintir kaum bilyuner yang berkubang dalam “uang > dan kemewahan” dan kesenjangan yang semakin besar antara yang miskin > dan yang kaya. > > > Mereka menganggap sangat sulit menghapus penghisapan (siapa pernah > bilang mudah menghapuskan penghisapan?) maka logika mereka adalah, > ikuti saja dulu dan terima saja penghisapan. Biarkan segelintir orang > jadi kaya dulu. Padahal dari dulu tidak pernah ada orang yang dapat > dengan begitu saja menghalang-halangi kaum konglomerat dan pemodal > serta bankir untuk jadi kaya. HANYA perjuangan militant dan ulet dari > rakyat sendiri seperti sudah dibuktikan di Soviet Uni dan Tiongkok > yang dapat menghentikan dan menghalangi segelintir orang memperkaya > dirinya melalui penghisapan dan penindasan. Saya tetap memegang > Sosialisme a la Indonesia yang menolak penghisapan yang diajukan Bung > Karno. Tapi saya dicap macam-macam. Bukankah ini berarti cap yang > mereka tempelkan kepada saya juga berlaku bagi bung Karno dan SGT??? > Jadi apa yang diafirmasikan oleh STDjin bahwa “ Dalam konteks ini ia > sering bertentangan dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal > domestik” SAMA SEKALI tidak sesuai dengan kenyataan dan fakta > sejarah. Di atas sudah saya tunjukkan bukti-buktinya melalui dokumen > PKI. Di tambah lagi, afirmasi STDjin ini sama sekali tidak disertai > dokumen atau kesaksian yang mendu-kungnya. STDjin menegaskan lebih > jauh lagi “Siauw sudah sejak tahun 50-an mencanangkan konsep > perkawinan sosialisme dan kapitalis-me”. Lagi-lagi HANYA ASUMSI tanpa > bukti bahwa SGT ingin “mengawinkan sosialisme dan kapitalisme”. > > > Lagi pula, apakah pada tahun 50-an, orang sudah bicara tentang > “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”? Bukankah istilah > “mengawinkan sosialisme dan kapitalisme” timbul setelah klik > revisionis Deng Xiaoping merebut kekuasaan dan mengubah haluan > pembangunan Tkk? Di Tiongkok pun, kalau memang betul tercipta > “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, sudah berpuluh kali saya > tanya dan minta kepada S. Suroso dan Chan sebagai penganut > revisionism Deng, untuk menunjukkan elemen atau unsur sosialisme yang > masih dipertahankan. Sampai detik ini tidak pernah mereka tunjukkan. > Kalau memang benar sosialisme dapat dikawinkan dengan kapitalisme, > mengapa di Tkk harus dibongkar dulu komune rakyat, harus dihapus dulu > hak mogok buruh, hak pekerja tetap seumur hidup, sistim kerja 8 jam, > pendidikan dan pelayanan gratis, jaminan social ekonomi lainnya bagi > buruh dan hak-hak demokratis kaum buruh lainnya?? Baru setelah semua > itu lenyap Deng Xiaoping membangun dengan lebih mudah kapitalisme. > > > Kalau mau diskusi dengan jujur untuk mencerahkan dan mengklarifikasi > masalahnya, maka semua pertanyaan harusnya dijawab. Bukannya > dihindari, dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Kemudian muncul lagi > dengan ide, asumsi atau kesimpulan yang SAMA yang sebenarnya sudah > terbantah dengan argumentasi dan fakta yang tak pernah dijawab. > > > Berdasarkan pada uraian di atas, saya khawatir STDjin, dengan sadar > atau tidak, telah memelesetkan dan memelintirkan sikap dan ide SGT > untuk mengajukan dan membela ideology, pandagan dan sikap politik > pribadinya sendiri yang pro-kapitalisme, anti-PKI dan anti-sosialis.
