Tampilkan pesan asli Pada Minggu, 9 Oktober 2016 4:21, "'Chan CT'
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Nah, akhirnya S Tiong Djin berhasil meluangkan waktu menanggapi sendiri
tulisan Tatiana sehubungan dengan buku tulisannya. Lihat tulisan dibawah ini.
Sangat baik untuk diikuti lebih seksama bagaimana seharusnya melihat masalah,
melihat secara TEPAT sikap seorang PEJUANG yang telah menyabung nyawa dan
mengorbankan segalanya demi RAKYAT BANYAK, ... hanya karena BEDA PENDAPAT,
menentang kebijaksanaan Lenin, Stalin, Mao, ... PKI, lalu seenak udelnya mencap
remo, penghianat, penempuh jalan kapitalisme, anti PKI, anti Sosialisme dan
bahkan anti komunisme. Seolah-olah hanya dirinya sendirilah yang paling BENAR,
paling MURNI dan paling SUCI didunia ini. Salam,ChanCT From: Djin Siauw Sent:
Sunday, October 9, 2016 12:14 AM Tatiana yang baik Apa kabar? Pertama saya
ucapkan banyak terima kasih atas perhatian besar Anda atas tulisan-tulisan saya
tentang SGT dan upaya Anda melakukan penelitian tentang sosok SGT dan jalan
pikirannya. Saya terperanjat melihat diskusi Anda meluncur ke sebuah
kesimpulan bahwa saya menyalah gunakan nama SGT untuk mengukuhkan sikap saya
yang anti PKI dan pendukung kapitalisme. Entah dari mana kesimpulan ini lahir.
Saya tidak akan berpanjang lebar dan secara terperinci menanggapi semua butir
argumentasi yang Anda tuangkan di dalam tulisan-tulisan Anda di dunia maya.
Secara singkat dan global saya yang akan mengemukakan beberapa hal sbb: 1.
Saya dan saya yakin kakak saya, tidak pernah bersikap anti PKI, anti sosialisme
maupun anti komunisme. Bahwa kami melihat perkembangan dunia dan bagaimana
pemerintah seharusnya menjamin kesejahtraan rakyat dengan kaca mata berbeda
dengan Anda, itu bisa saja. Dan kalau Anda mendukung paham demokrasi,
sebenarnya perbedaan ini tidak perlu mengundang permusuhan atau perdebatan
sengit yang tidak membangun. 2. Saya tidak pernah menyatakan di dalam
tulisan-tulisan saya bahwa SGT anti PKI dan getol mendukung kapitalisme dalam
arti yang Anda singgung. Itu tidak pernah tertuang di dalam tulisan-tulisan
saya. Kutipan-kutipan yang Anda ambil dari tulisan-tulisan tersebut, menurut
saya out of context. Entah apakah sebenarnya Anda sudah membaca buku saya
tentang biografi politik SGT secara keseluruhan? Mungkin kalau Anda membaca
buku tersebut dengan teliti dan dengan kepala dingin, Anda akan mencapai sebuah
kesimpulan yang berbeda. Yang saya tegaskan dalam tulisan-tulisan itu adalah:
SGT bukan anggota PKI. Akan tetapi dalam perjuangan mencapai sosialisme ala
Indonesia, ia sepenuhnya sejalan dengan Soekarno, PKI dan partai-partai kiri
lainnya. 3. Secara ringkas saya ulangi berbegai hasil penelitian saya
ttg SGT: a. Ia adalah seorang Marxist yang mengangumi keberhasilan Mao Tse
Tung dalam membangun masyarakat sosialisme di Tiongkok. Dalam konteks ini, ia
tentu saja sangat dekat dengan banyak tokoh PKI dan tidak mungkin memiliki
sikap anti PKI. b. Dekat dengan banyak tokoh PKI dan tidak anti PKI bukan
berarti ia tidak pernah menentang beberapa kebijakan PKI dan sikap politik para
tokohnya. Justru karena ia bukan anggota PKI, ia bisa bebas bersikap di luar
disiplin partai. c. Hubungan dengan banyak tokoh PKI sudah terjalin sejak
tahun 30-an dan sejak kegiatan politik di awal kemerdekaan pada waktu SGT turut
memimpin Partai Sosialis. d. Akan tetapi SGT yang sejak FDR bubar pada
tahun 1948, tidak lagi tergabung dalam partai apapun. Dan ini nampak dari
sepak terjangnya di parlemen. Ia jelas tidak mengikuti disiplin partai apapun.
Di zaman demokrasi parlementer (1949-1959), ia mendirikan dan memimpin Fraksi
Nasional Progresif yang terdiri dari beberapa partai nasionalis dan beberapa
tokoh tidak berpartai. Partai yang paling berpengaruh di fraksi ini adalah
Murba, yang bisa dikategorikan “musuh politik” PKI sejak awal kemerdekaan.
SGT-pun sangat dekat dengan tokoh-tokoh Murba. SGT berperan dalam mendorong
Sukarni, ketua Murba, untuk menjadi dubes RI di RRT pada 1961. Ketika PKI
memimpin gerakan mengganyang Murba di zaman Demokrasi Terpimpin, SGT menolak
membawa Baperki turut melakukan pengganyangan tersebut. Sikap ini sangat
dihargai oleh banyak tokoh Murba, terutama Adam Malik, sehingga selama SGT
menjadi tapol, Adam Malik secara diam-diam berupaya membantunya – dengan kerap
mengatur pemeriksaan kesehatan SGT di RSPAD. Dan Adam Malik-lah sebagai
Wapres yang memungkinkan SGT memperoleh “exit-permit” untuk berobat di Belanda
pada September 1978. e. Di zaman Demokrasi Parlementer, Berbagai RUU
(Rancangan Undang-Undang) diperdebatkan di parlemen. Kerap terjadi perdebatan
antara anggota-anggota Fraksi Nasional Progresif dengan anggota-anggota Fraksi
PKI. Anda bisa mengikuti berbagai perdebatan ini di risalah-risalah dan
ikhtisar-ikhtisar parlemen. f. Menurut saya kebijakan ekonomi PKI di
zaman Demokrasi Parlementer berdeda dengan kebijakan ekonomi di zaman Demokrasi
Terpimpin, terutama setelah 1963. SGT kerap memberi masukan ke para tokoh PKI,
termasuk Njoto dan ayah Anda, dalam perumusan kebijakan ekonomi PKI, karena
ia memang dianggap ahli ekonomi di kalangan politikus kiri (Utrech, yang juga
berada di DPA bersama SGT, menyatakan kepada saya, bahwa berbagai rumusan
ekonomi yang kemudian masuk dalam pidato2 Soekarno kerap diutarakan SGT dalam
DPA). Jadi tidak mengherankan bahwa kebijakan-kebijakan PKI di zaman demokrasi
terpimpoin seirama dengan apa yang SGT utarakan sejak zaman Demokrasi
Parlementer, terutama yang berkaitan dengan pengembangan modal domestic.
Apalagi setelah konsepsi ini masuk dalam Manipol, GBHN 1963 dan masuk pula
dalam pidato kenegaraan Bung Karno. Kesemuanya ini didukung baik secara
sungguh-sungguh maupun secara lip service oleh semua partai dan ormas politik
di zaman itu. Dan kebijakan-kebijakan PKI yang Anda uraikan keluar di zaman itu
pula. Mungkin Anda perlu memperhatikan kebijakan ekonomi PKI pada tahun 50-an.
g. Salah satu contoh perbedaan konsep tentang “kapitalisme” antara SGT dan
yang dianut oleh PKI bisa dilihat dalam perdebatan antara SGT dan Sakirman di
parlemen pada 1951 tentang RUU Pedoman Baru – yang menghendaki semua kepemilkan
perusahaan bis dan transportasi dialihkan ke tangan “golongan ekonomi lemah” –
artinya non Tionghoa dan pengharusan semua perusahaan baru dimiliki oleh 75%
WNI. SGT menentang kebijakan ini berdasarkan argumentasi bahwa
perusahaan-perusahaan yang dimiliki para pedagang Tionghoa yang sudah
berpengalaman sejak zaman penjajahan Belanda - apapun status
kewarganegaraan-nya, seharusnya dilindungi dan dibantu perkembangannya, karena
ini akan membantu pembangunan ekonomi nasional. Sakirman menentang SGT yang
dianggapnya menginginkan dipertahankannya sistim kapitalisme yang merugikan
pembangunan ekonomi. Saya ketengahkan pula dalam tulisan2 saya bahwa massa
Baperki sebagian besar adalah pedagang-pedagang Tionghoa. Konsepsi
“kapitalisme” yang didukung oleh SGT seirama dengan jati diri mereka. Komunisme
yang dikenal pada tahun 50-an tidak begitu “cocok” dengan sikap massa Baperki.
Menyatakan demikina bukan berarti saya menyatakan bahwa SGT dan Baperki anti
Komunisme atau anti PKI. Banyak data yang mendukung pengertian bahwa PKI sering
membela Baperki (Hanya saja agak aneh, justru ketika Harian Republik, Terompet
Baperki, pada tahun 1960,dilarang terbit oleh pemerintah karena membela PKI
dalam poeristiwa Madiun. PKI ternyata memilih jalan DIAM, tidak membela!). h.
Ttg Perkawinan Kapitalisme dan Sosialisme: Betul, SGT tidak secara
eksplisit menggunakan istilah “perkawinan”. Akan tetapi berbagai tulisan dan
pidatonya tidak bisa tidak memiliki konotasi dan mendukung istilah “perkawinan”
tersebut. Saya kutip berbagai pidatro SGT sejak zaman Demokrasi Parlementer:
(1) Sambutan SGT pada Simposium Ekonomi Baperki, 26 September 1954:
“…Hendaknya pemerintah tidak memasalahkan siapa yang mengadakan industrialisasi
tetapi lebih mementingkan sumbangan modal warga negara keturunan asing dalam
pembangunan ekonomi nasional. Semua modal domestic yang tidak merupakan
eksploitasi dan drainage yang bisa menimbulkan kolonialisme di bidang ekonomi,
harus dikembangkan...” (2) Pidato SGT di Pacet, 9 Januari 1955: “…
ketentuan-ketentuian yg patut diperhatikan adalah pasal2 37 dan 38 UUD, yang
dapat dikatakan menjadi dasar ekonomi nasional yang sesungguhnya. ….Pasal 37
dapat disimpulkan berarti modal perseorangan (Kapitalisme) tidak dihapuskan,
melainkan dibatasi , supaya tidak mencapai tingkat kekuasaan monopoli yang
membahayakan kepentingan rakyat…” (3) Uraian SGT pada kongres baperki di
Malang 21 Marert 1955 tentang Konstituante: “… Harus ada pasal dalam UUD yang
menjamin adanya kesempatan untuk setiap warga negara untuk berkembang , tetapi
terbatas sehingga tidak menjadi kekuatan monopoli yang merugikan rakyat
terbanyak. UUD itu harus menentukan bahwa pembangunan ekonomi nasional
berdasarkan pada kekuatan perusahaan pokok milik negara dibantu oleh
perusahaan2 milik koperasi rakyat dan perusahaan2 milik modal perseorangan…”
(4) SGT pada 21 Mei 1959, sebagai wakil ketua seksi ekonomi DPR (jadi sebelum
Dekrit 5 Juli 1959) “….Tulang punggung Sosialis ala Indonesia adalah kekuatan
produksi perusahaan2 modal negara dibantu oleh kekuatan produksi perusahaan2
modal perseorangan …”. (5) Pidato SGT 13 Maret 1961: “…Bahwa dalam tahap
sekarang ini kapitalisme masih diakui adanya, malahan dianjurkan untuk tumbuh
sehat untuk pembangunan Indonesia…” (6) Pidato SGT, 12 Juni 1961: “…dalam
tingkat nasional-demokratis sekarang ini kaptitalisme belum menjjadi sasaran
revolusi, karena dalam batas-batas tertentu, sampai-pun modal domestic, yaitu
modal milik perseorangan, termasuk orang asing yang menetap di Indonesia,
diberi kesempatan berkembang secara sehat untuk menguntungkan kelajuan revolusi
untuk memasuki tingkat selanjutnya…”. Jelas kapitalisme yang dimaksud adalah
kapitalisme yang berkaitan dengan modal domestik bukan modal-modal
Multi-National Corporations. SGT selalu beragumentasi bahwa pengembangan modal
domestik ini sangat penting untuik pembangunan ekonomi nasional karena para
pemilik modal ini menetap di Indonesia dan keuntungan yang merekla peroleh akan
dipergunakan untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Sedangkan Multi
National Corporations bukan saja tidak mementingkan pembangunan nasional
Indonesia, ia bahkan siap merugikannya demi menciptakan keuntungan yang akan
dikirim keluar Indonesia. Diharap tanggapan di atas
menghilangkan salah penafsiran yang terkandung dalam tulisan-tulisan Anda.
Bilamana tidak, juga tidak apa. Anda sepenuhnya berhak menginterpretasikan
apa-pun yang sudah tertuang dalam berbagai buku dan tulisan saya. Salam
Hangat Tiong Djin From: Tatiana Lukman Sent: Saturday, October 8, 2016 2:06
AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD Cc: Roeslan ; Lusi.D ; Daeng ; Gol ;
Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Ronggo A. ;
Lingkar Sitompul ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Hsin Hui Lin ;
Chan CT ; Kristian Ginting ; GELORA_In ; Billy Gunadi ; Bilven-Ultimus ; Boni
Triyana ; Wuting301 Subject: Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialisme
SGT, PKI dan Sosialisme (2) Sekarang
akan saya perluas dan perdalam soal SGT, PKI dan Sosialisme.
Dari beberapa buku yang saya baca, yang berkaitan dengan SGT, saya temukan
berbagai fakta sejarah dan komentar beberapa penulis ( misalnya, Daniel S.Lev,
Zhou Nanjing, Yusuf Isak, Go Gien Tjwan, Xu ren, Daniel Sparinga, dll) sebagai
berikut: -SGT adalah seorang Marxis. -Tjoa Sik Ien dan Tan Ling Djie yang baru
kembali dari Belanda pada tahun 1930-an memperkenalkan Marxisme kepada Siauw.
-Tahun 1946, Siauw masuk ke dalam Partai Sosialis yang dipimpin oleh Sutan
Sjahrir, Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Djie. -Beberapa bulan setelah Proklamasi
Kemerdekaan, Tan mengajaknya masuk Partai Sosialis. Dalam waktu singkat ia
dekat dengan Amir Sjarifuddin. Ketika Amir Sjarifuddin menjadi PM tahun 1947,
ia mengangkat Siauw sebagai Menteri Urusan Minoritas. - Setelah menjadi menteri
di kabinet Amir Sjarifudin, Siauw tetap menekuni dunia jurnalistik. Partai
Sosialis memintanya menerbitkan Harian Suara Ibu Kota. Di sini ia dibantu oleh
dua tokoh muda PKI, Aidit dan Njoto. - Ketika terjadi Peristiwa Madiun 1948,
Siauw yang pernah menjadi tokoh Front Demokrasi rakyat (FDR) ikut ditangkap. Ia
dan Tan Ling Djie dipenjara di Wirogunan. -Setelah peristiwa Madiun, September
1948, PKI ditindas oleh pemerintah Hatta. Siauw ditangkap dan dipenjarakan di
Wirogunan di Yogyakarta. - Agustus 1951 akibat “razia” Kabinet Sukiman, Siauw
kembali dijebloskan ke bui. - PKI mengecam diskriminasi rasial, dan menentang
sikap anti-Tionghoa. PKI menerima peranakan Tionghoa bahkan ada diantaranya,
seperti Tan Ling Djie, menduduki posisi pimpinan. - Dalam DPR, PKI yang sering
mendukung posisi anti-diskriminasi BAPERKI. Partai-partai lain sering tidak
mendukung bahkan , membenarkan diskriminasi terhadap orang Tionghoa. -Siauw
Giok Tjhan berpendapat bahwa struktur masyarakat Indonesia memiliki
elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dan kapitalisme. Baginya Inilah penyakit
kronis masyarakat Indonesia, yang membawa-kan penyakit-penyakit lainnya. Oleh
karena itu menurutnya, masyarakat yang sehat hanya bisa dicapai bilamana
penyakit kronis ini dibasmi secara tuntas. -Akan tetapi, menurut Siauw, proses
integrasi saja tidak mungkin menyembuhkan penyakit yang diendap oleh masyarakat
Indonesia. Ia hanya mampu mencegah penyebarluasan dan pemarahan yang disebabkan
oleh penyakit-penyakit tersebut. Baginya, pengobatan yang paling tepat adalah
melangsungkan operasi yang menghilangkan penyakit-penyakit yang diendap ini
secara tuntas. Yaitu mengubah struktur masyarakat Indonesia yang masih
mengandung feodalisme, kolonialisme dan kapitalisme itu menjadi masyarakat
Pancasila-is atau masyarakat Sosialis ala Indonesia. Siauw yakin bahwa di dalam
masyarakat yang demikian tidak ada lagi system penghisapan manusia oleh
manusia, dan timbullah sebuah masyarakat di mana semua suku hidup secara
harmonis yang memungkinkan adanya kegairahan berusaha tanpa kekhawatiran akan
diskriminasi rasial. (SGT:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya
Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bangs,
Jakarta, 1977, Hal 73-74) - Pidato-pidato, tulisan-tulisan SGT, juga
dokumen-dokumen Baperki tidak pernah mencanangkan komunisme sebagai objektif
perjuangan politik mereka. Yang didambakan oleh Siauw adalah perwujudan
masyarakat sosialisme a la Indonesia yang diformulasikan Presiden Soekarno dan
yang sesuai dengan UUD-45. - Ini menunjukkan bahwa Siauw Giok Tjhan
menggantungkan harapannya kepada PKI dan Revolusi Sosialis. Ia berpendirian
bahwa hanya dengan melalui Revolusi Sosialis PKI masalah golongan Tionghoa
dapatkan diselesaikan secara tuntas melalui proses integrasi wajar. - Yap Thiam
Hien yang anti Komunis menentang anjuran Siauw Giok Tjhan. Ia menyatakan bahwa
94% penduduk Indonesia beragama Islam, Kristen, Hindu dan Buddha. Mereka bukan
komunis dan menentang Komunisme. Ia juga berpendapat seandainya apa yang
diidam-idamkan Siauw itu adalah sebuah masyarakat sosialis ala komunisme yang
bisa direalisasi, itu akan memakan jangka waktu panjang, mungkin 100 tahun
bahkan 1000 - Ketika membicarakan keadaan ekonomi dan masyarakat Indonesia dari
apa yang dinamakan “orde baru” dalam karya yang ditinggal-kannya, ia mengajukan
berbagai masalah baru yang menyangkut modal asing, bantuan luar negeri,
pengerukan harta Negara dan korupsi para birokrat baru, perbedaan kaya dan
miskin serta perbedaan kota dan desa. - Setelah tahun 1959, terutama di dalam
Jaman Demokrasi Terpimpin, mengikuti irama dan slogan politik yang dicanangkan
oleh Presiden Soekarno, formulasi Siauw menjadi tegas. Perkataan “masyarakat”
diubah menjadi “masyarakat sosialis”. Perkataan “integrasi” diubah menjadi
“integrasi revolusioner”. -Kita menekankan sekali lagi di sini pentingnya
analisis kelas yang mendasar dan menyeluruh mengenai warga keturunan Tionghoa
ini, bagian integral Nasion Indonesia kita. -Siauw juga memiliki solidaritas
kelas yang sangat tinggi. Itu barangkali yang membuat dia percaya bahwa
sosialisme a la Indonesia itu menjadi jawaban sebenarnya, paling tidak di atas
kertas, dari persoalan etnis. -Menurut saya, Siauw mencoba menyederhanakan
kelompok etnis ketika itu, sebagai persoalan kelas. -Alasannya adalah Siauw
pernah dianggap komunis, yang sejak tahun 1965 dianggap sebagai paham ideologi
yang merusak Indonesia, sehingga tidak patut disinggung dalam sejarah. Padahal
ke-absahan tuduhan itu tidak pernah dipermasalahkan.
Dari semua tulisan/komentar di atas, terdapat hal-hal yang sangat menarik
perhatian yang mendorong saya membuat kesimpulan sbb. Sudah tentu masing-masing
orang bisa membuat kesimpulannys sendiri.
Pertama, SGT adalah seorang Marxis, dan BUKAN Marxis gadungan. SGT menggunakan
Marxisme (analisa kelas) untuk menganalisa masyarakat Indonesia. Oleh karena
itu, SGT berpendapat bahwa struktur masyarakat Indonesia memiliki elemen-elemen
feodalisme, kolonialisme dan kapitalisme. Dan rumusan ini PADA HAKEKATNYA,
INTINYA, adalah sama dengan rumusan PKI setengah jajahan setengah feudal
(elemen-elemen feudal, artinya tidak sepenuhnya feudal --- artinya setengah
feudal; elemen-elemen kolonialisme—artinya terjajah, tapi karena sudah punya
pemerintahan sendiri, bukan jajahan langsung, makanya jadi setengah jajahan,
dan elemen kapitalisme yang melahirkan borjuasi nasional.) Oleh karena itu baik
SGT maupun PKI dalam tahap revolusi nasional demokratis sama-sama
memperjuangkan ruang bagi kapitalis nasional untuk mendorong perkembangan
ekonomi nasional.
Siauw percaya pada perlunya perubahan STRUKTUR di Indonesia menjadi masyarakat
sosialisme a la Indonesia. Seperti juga Sukarno yang anti Exploitation de
l’homme par l’homme, SGT yakin bahwa di dalam masyarakat yang demikian tidak
ada lagi system penghisapan manusia oleh manusia, dan timbullah sebuah
masyarakat di mana semua suku hidup secara harmonis yang memungkinkan adanya
kegairahan berusaha tanpa kekhawatiran akan diskriminasi rasial. ( Dan ini
diambil oleh salah seorang penulis dari bukunya SGT sendiri:”Bhineka Tunggal
Ika”, Hal 188, 193; Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh
Yayasan Tunas Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74).
Jelas SGT bukan seorang sosdem, yang menginginkan “sosialisme“ tapi menerima
penghisapan manusia oleh manusia. SGT sangat tinggi rasa solidaritas kelasnya.
Justru karena SGT menggunakan analisa kelas, maka ia dituduh “menyederhanakan
kelompok etnis sebagai persoalan kelas”. Di sini saya membenarkan SGT, karena
analisa kelas harus diterapkan dalam menyelesaikan masalah rasisme. Seperti
sukubangsa lainnya, komunitas tionghoa juga terbagi dalam kelas-kelas yang
berbeda kepentingannya. Pentingnya melakukan analisa kelas ditekankan juga oleh
Yusuf Isak.
Jadi apa yang diperjuangan SGT adalah sosialisme a la Indonesia tanpa
penghisapan manusia atas manusia. Ketika SGT bicara tentang modal domestik dan
kapitalis nasional, sama sekali tidak dalam artian ia memperjuangkan
kapitalisme sebagai perspektif revolusi Indonesia. Karena jelas bagi SGT,
perspektif atau hari depan revolusi Indonesia adalah Sosialisme. Dan Sosialisme
TIDAK dapat dicapai TANPA menyelesaikan terlebih dulu tahap revolusi nasional
demokratis.
Sebenarnya tidak ada pertentangan antara pernyataan SGT yang di satu pihak
menginginkan dikembangkannya modal domestik untuk mengembangkan ekonomi
nasional dan di lain pihak pernyataannya yang menginginkan sosialisme a la
Indonesia dengan menolak penghisapan manusia atas manusia.
Celakanya, pernyataan Siauw Tiong Djin di bawah ini: “Dalam hal inil Siauw
secara gamblang memperjuangkan dipertahan-kannya system kapitalisme yang
menjamin tumbuhnya modal domestik, yang pada umumnya berada dikelola oleh para
pengusaha Tionghoa.” ; dan diulangi lagi pada bagian lain:”Program ekonomi
Siauw menganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme yang memungkinkan
pengembangan modal domestik untuk pembangunan ekonomi nasional. Paham ini jelas
bertentangan dengan paham komunisme”, dapat menimbulkan kesan seolah-olah SGT
pro kapitalisme dan menentang sosialisme, padahal di bagian lain SGT
mendambakan sosialisme a la Indonesia. “Kesan” adanya pertentangan ini saya
tanyakan juga kepada Chan, tapi ia tidak menjawab atau menjelaskan.
Penjelasan saya adalah, ketika STDjin bicara soal kapitalisme, sama sekali ia
tidak memikirkan atau menghubungkannya dengan SIFAT masyarakat dan TAHAP
revolusi Indonesia. Yang ia pikirkan adalah pendapat dirinya sendiri tentang
kapitalisme dan hasrat besar untuk mempertentangkan SGT dengan PKI guna
membersihkan SGT dari tuduhan Komunis. Di sinilah lainnya STDjin dengan SGT. Di
mana letak kelainannya? SGT seorang Marxis yang membuat Analisa Kelas untuk
menentukan siapa Kawan dan Lawan dalam tahap Revolusi yang sesuai dengan sifat
masyarakat Indonesia. Sedangkan STDjin? Saya serahkan kepada masing-masing
orang untuk mengkualifikasi-nya. Jadi, saya menginterpretasi kapitalisme yang
dimaksud SGT adalah kapitalisme Negara sebagai transisi menuju sosialisme,
bukan sebagai hari depan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, di samping bicara
tentang modal domestik, SGT juga bicara dan mendambakan Sosialisme a la
Indonesia sebagai perspektif Revolusi Indonesia. SGT memang tidak bilang hitam
di atas putih bahwa perspektif Revolusi Indonesia adalah Sosialisme. Tapi
mengingat SGT seorang Marxis dan pernyataan serta pandangannya yang dikutip
para penulis tentang struktur masyarakat Indonesia, perlunya perubahan
struktur, kapital domestik dan Sosialisme a la Indonesia, maka tidak sulit bagi
siapapun yang mau pakai akal sehat dan logika untuk sampai pada kesimpulan itu.
Kalau kita bicara tentang kapitalisme Negara sebagai tahap pertama Revolusi
Indonesia (yaitu tahap nasional dan demokratis), dan kemudian diteruskan ke
Sosialisme, secara keseluruhan ide ini sama sekali tidak bertentangan dengan
paham komunisme. Karena ini dijalankan juga oleh Lenin dan Mao. Yang
bertentangan dengan paham komunisme adalah kapitalisme yang mengabadikan dan
mensucikan kepemilikan pribadi atas alat produksi dan penghisapan manusia oleh
manusia lain. Mengingat sikap SGT yang sangat memperhatikan revolusi Tkk yang
dipimpin Mao dan terjemahan “Red Star Over China”, karya Edgar Snow yang
dikerjakannya pada tahun 1938, semakin besar keyakinan saya bahwa SGT memang
seorang Marxis, oleh karena itu ia mengerti tahap-tahap dan perspektif
revolusi di Tiongkok dan juga di Indonesia. Seandainya SGT memang benar-benar
bertentangan dengan PKI dalam soal borjuasi nasional dan sosialisme, maka tidak
akan ada alasan bagi Yap Thiam Hien, yang anti komunis, untuk menentang
mati-matian SGT dengan mengatakan “bahwa 94% penduduk Indonesia beragama Islam,
Kristen, Hindu dan Buddha. Mereka bukan komunis dan menentang Komunisme.
……seandainya apa yang diidam-idamkan Siauw itu adalah sebuah masyarakat
sosialis ala komunisme yang bisa direalisasi, itu akan memakan jangka waktu
panjang, mungkin 100 tahun bahkan 1000..” Kalau memang betul itu argumentasi
Yap Thiam Hien, jelas ia tidak tahu dan tidak mengerti bahwa orang komunis dan
PKI tidak pernah menentang agama. Inilah yang sampai sekarang dituduhkan terus
menerus kepada PKI. PKI tidak mempersoalkan kepercayaan pribadi anggotanya.
Saya tidak pernah menemukan dokumen PKI yang mensyaratkan atheisme untuk
menjadi anggota PKI. Soal masyarakat sosialis a la komunisme (sebuah rumusan
yang aneh!) akan makan jangka waktu panjang, itu tidak jadi masalah. Orang
komunis berjuang bukan hanya untuk generasinya saja. Kalau bisa cepat dicapai,
sudah tentu bagus sekali. Karena dengan demikian memperpendek penderitaan massa
rakyat pekerja. Tapi mengingat secara kongkrit musuh massa rakyat pekerja
dipersenjatai sampai giginya dan kekuatan ekonominya menguasai dunia, maka
perjuangan memang bersifat jangka panjang. Penilaian dan interpretasi saya
terhadap sikap dan pandangan politik SGT JELAS bertentangan dengan interpretasi
yang diberikan STDjin. STDjin menulis dalam subjudul: ” Pengembangan modal
domestik – perkawinan sosialisme dan kapitalisme” “Oleh musuh politiknya Siauw
selalu dinyatakan sebagai seorang tokoh Komunis. Penelitian yang objektif
menunjukkan bahwa tuduhan ini tidak tepat. Siauw mendukung sosialisme ala
Indonesia yang dianjurkan Sukarno. Dalam konteks ini ia sering bertentangan
dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal domestik. Siauw sudah sejak
tahun 50-an mencanangkan konsep perkawinan sosialisme dan kapitalisme. Yang
dimaksud di sini adalah pembangunan ekonomi sosialis yang bersandar atas
pengembangan modal domestik tanpa memperdulikan latar belakang ras pemilik
modal. Ia harapkan modal-modal dagang domestik termasuk yang dimiliki
pedagang-pedagang Tionghoa dibantu dan didukung pemerintah untuk berkembang
demi mempercepat pembangunan negara.” STDjin mengidentikkan “pengembangan
modal domestik” dengan “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”. STDjin
berasumsi bahwa ide perkawinan sosialisme dan kapitalisme adalah ide SGT.
Asumsi STDjin ini harus ia buktikan. Di mana dapat ditemukan tulisan SGT yang
menguraikan ide tentang “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”? Apa yang SGT
maksud dengan perkawinan sosialisme dan kapitalisme, kalau memang betul ia
ingin “mengawinkan sosialisme dan kapitalisme”? Tanpa menjelaskan “perkawinan
sosialisme dan kapitalisme”, STDjin kemudian mengatakan “Siauw mendukung
sosialisme a la Indonesia yang dianjurkan Sukarno”. Yang STDjin “lupakan”
adalah pertama, Sukarno anti exploitation de l’homme par l’homme. Artinya
Sosialisme yang diinginkan Sukarno SAMA SEKALI bukan Sosialisme yang
menghalalkan dan menerima Exploitation de l’homme par l”homme. Kedua, yang
STDjin “lupakan” juga adalah bahwa Sosialisme yang diinginkan SGT juga sebuah
masyarakat dimana tidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia. Zhou Nanjing
menemukan pendapat SGT ini dalam SGT:”Bhineka Tunggal Ika”, Hal 188, 193;
Lahirnya Konsepsi Asimilasi, Cetakan ke V, Diterbitkan oleh Yayasan Tunas
Bangs, Jakarta, 1977, Hal 73-74.
Masalah “penghisapan manusia oleh manusia ” dianggap oleh Sukarno dan SGT
sebagai soal pokok dalam hubungannya dengan Sosialisme. Maka itu mereka
menyebutnya dalam pidatonya (Sukarno) dan tulisannya (SGT). Ini 100%
BERTENTANGAN dengan “Sosialisme dengan ciri Tkk” yang didukung S. Suroso, Chan
dan tampaknya juga oleh STDjin (kelihatan melalui “perkawinan sosialisme dan
kapitalisme”nya). Pernah saya tulis bahwa “penghisapan manusia oleh manusia”,
analisa kelas, kontradiksi kelas, perjuangan kelas, imperialisme, nilai lebih,
internasionalisme proletar, mode of production adalah masalah yang menjadi tabu
bagi kaum revisionis dan mereka selalu menghindari dan menolak untuk
mendiskusikannya. Karena mereka tidak menemukan dasar teori revolusioner
untuk membenarkan penghisapan, maka satu-satunya jalan adalah mengakui bahwa
memang di Tkk ada penghisapan, karena penghisapan DIPERLUKAN untuk membangun
“sosialisme”. Bahkan S. Suroso bertanya, apa salahnya penghisapan? Ini sesuai
dengan ajaran gurunya, Liu Shaoqi yang melihat “manfaat dari penghisapan”.
Versi lainnya adalah “jangan takut dengan merajalelanya kapitalisme”. Dan Deng
Xiaoping mengexpresikannya dengan metaphora: ”kucing hitam atau kucing putih,
asal tangkap tikus”. Argumentasi lain yang digunakan adalah JAMAN SUDAH
BERUBAH maka TEORI JUGA HARUS BERUBAH!! Teori pembangunan sosialis yang
dipraktekkan Mao salah! Semua perubahan/revisi ini mereka anggap sebagai
kontribusi dan pengembangan Deng kepada Marxisme dan FMTT! Karena mereka
MENGUBAH salah satu dasar dari Marxisme (Bukankah salah satu hal pokok yang
ditemukan dan dianalisa Marx adalah soal nilai lebih dan dari situ Marx sampai
pada apa yang dinamakan penghisapan?) maka saya bilang mereka revisionis. Tapi
mereka marah dan menolak dibilang revisionis!! Padahal sudah MEREVISI
Marxisme!! Lantas di mana logikanya ini? Saya lah yang dibilang MANDEK, karena
saya tidak mau merevisi. Saya lah yang dibilang BUTA, tidak mau melihat
“kenyataan”. Padahal kenyataan di dunia menunjukkan semakin hebatnya
PENGHISAPAN yang melahirkan segelintir kaum bilyuner yang berkubang dalam “uang
dan kemewahan” dan kesenjangan yang semakin besar antara yang miskin dan yang
kaya.
Mereka menganggap sangat sulit menghapus penghisapan (siapa pernah bilang mudah
menghapuskan penghisapan?) maka logika mereka adalah, ikuti saja dulu dan
terima saja penghisapan. Biarkan segelintir orang jadi kaya dulu. Padahal dari
dulu tidak pernah ada orang yang dapat dengan begitu saja menghalang-halangi
kaum konglomerat dan pemodal serta bankir untuk jadi kaya. HANYA perjuangan
militant dan ulet dari rakyat sendiri seperti sudah dibuktikan di Soviet Uni
dan Tiongkok yang dapat menghentikan dan menghalangi segelintir orang
memperkaya dirinya melalui penghisapan dan penindasan. Saya tetap memegang
Sosialisme a la Indonesia yang menolak penghisapan yang diajukan Bung Karno.
Tapi saya dicap macam-macam. Bukankah ini berarti cap yang mereka tempelkan
kepada saya juga berlaku bagi bung Karno dan SGT??? Jadi apa yang
diafirmasikan oleh STDjin bahwa “ Dalam konteks ini ia sering bertentangan
dengan para tokoh PKI tentang pengertian modal domestik” SAMA SEKALI tidak
sesuai dengan kenyataan dan fakta sejarah. Di atas sudah saya tunjukkan
bukti-buktinya melalui dokumen PKI. Di tambah lagi, afirmasi STDjin ini sama
sekali tidak disertai dokumen atau kesaksian yang mendu-kungnya. STDjin
menegaskan lebih jauh lagi “Siauw sudah sejak tahun 50-an mencanangkan konsep
perkawinan sosialisme dan kapitalis-me”. Lagi-lagi HANYA ASUMSI tanpa bukti
bahwa SGT ingin “mengawinkan sosialisme dan kapitalisme”.
Lagi pula, apakah pada tahun 50-an, orang sudah bicara tentang “perkawinan
sosialisme dan kapitalisme”? Bukankah istilah “mengawinkan sosialisme dan
kapitalisme” timbul setelah klik revisionis Deng Xiaoping merebut kekuasaan dan
mengubah haluan pembangunan Tkk? Di Tiongkok pun, kalau memang betul tercipta
“perkawinan sosialisme dan kapitalisme”, sudah berpuluh kali saya tanya dan
minta kepada S. Suroso dan Chan sebagai penganut revisionism Deng, untuk
menunjukkan elemen atau unsur sosialisme yang masih dipertahankan. Sampai detik
ini tidak pernah mereka tunjukkan. Kalau memang benar sosialisme dapat
dikawinkan dengan kapitalisme, mengapa di Tkk harus dibongkar dulu komune
rakyat, harus dihapus dulu hak mogok buruh, hak pekerja tetap seumur hidup,
sistim kerja 8 jam, pendidikan dan pelayanan gratis, jaminan social ekonomi
lainnya bagi buruh dan hak-hak demokratis kaum buruh lainnya?? Baru setelah
semua itu lenyap Deng Xiaoping membangun dengan lebih mudah kapitalisme.
Kalau mau diskusi dengan jujur untuk mencerahkan dan mengklarifikasi
masalahnya, maka semua pertanyaan harusnya dijawab. Bukannya dihindari,
dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Kemudian muncul lagi dengan ide, asumsi
atau kesimpulan yang SAMA yang sebenarnya sudah terbantah dengan argumentasi
dan fakta yang tak pernah dijawab.
Berdasarkan pada uraian di atas, saya khawatir STDjin, dengan sadar atau tidak,
telah memelesetkan dan memelintirkan sikap dan ide SGT untuk mengajukan dan
membela ideology, pandagan dan sikap politik pribadinya sendiri yang
pro-kapitalisme, anti-PKI dan anti-sosialis. #yiv7005564285 #yiv7005564285 --
#yiv7005564285ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp #yiv7005564285hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp #yiv7005564285ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp .yiv7005564285ad
{padding:0 0;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp .yiv7005564285ad p
{margin:0;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mkp .yiv7005564285ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-sponsor
#yiv7005564285ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-sponsor #yiv7005564285ygrp-lc #yiv7005564285hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-sponsor #yiv7005564285ygrp-lc .yiv7005564285ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7005564285 #yiv7005564285actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7005564285
#yiv7005564285activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7005564285
#yiv7005564285activity span {font-weight:700;}#yiv7005564285
#yiv7005564285activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7005564285 #yiv7005564285activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7005564285 #yiv7005564285activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7005564285 #yiv7005564285activity span
.yiv7005564285underline {text-decoration:underline;}#yiv7005564285
.yiv7005564285attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7005564285 .yiv7005564285attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7005564285 .yiv7005564285attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7005564285 .yiv7005564285attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7005564285 .yiv7005564285attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7005564285 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7005564285 .yiv7005564285bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7005564285
.yiv7005564285bold a {text-decoration:none;}#yiv7005564285 dd.yiv7005564285last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7005564285 dd.yiv7005564285last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7005564285
dd.yiv7005564285last p span.yiv7005564285yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7005564285 div.yiv7005564285attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7005564285 div.yiv7005564285attach-table
{width:400px;}#yiv7005564285 div.yiv7005564285file-title a, #yiv7005564285
div.yiv7005564285file-title a:active, #yiv7005564285
div.yiv7005564285file-title a:hover, #yiv7005564285 div.yiv7005564285file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7005564285 div.yiv7005564285photo-title a,
#yiv7005564285 div.yiv7005564285photo-title a:active, #yiv7005564285
div.yiv7005564285photo-title a:hover, #yiv7005564285
div.yiv7005564285photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7005564285
div#yiv7005564285ygrp-mlmsg #yiv7005564285ygrp-msg p a
span.yiv7005564285yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7005564285
.yiv7005564285green {color:#628c2a;}#yiv7005564285 .yiv7005564285MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7005564285 o {font-size:0;}#yiv7005564285
#yiv7005564285photos div {float:left;width:72px;}#yiv7005564285
#yiv7005564285photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7005564285
#yiv7005564285photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7005564285
#yiv7005564285reco-category {font-size:77%;}#yiv7005564285
#yiv7005564285reco-desc {font-size:77%;}#yiv7005564285 .yiv7005564285replbq
{margin:4px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-mlmsg select, #yiv7005564285 input, #yiv7005564285 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-mlmsg pre, #yiv7005564285 code {font:115%
monospace;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-mlmsg #yiv7005564285logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-msg
p#yiv7005564285attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-reco #yiv7005564285reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-sponsor
#yiv7005564285ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-sponsor #yiv7005564285ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-sponsor #yiv7005564285ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7005564285 #yiv7005564285ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7005564285
#yiv7005564285ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7005564285