Mohammad Monib, Seorang Intelektual Muslim: 

Saya Butuh Manajer Birokrasi Bukan Imam Sholat

http://www.nkritoday.com/berita/wajib-baca-mohammad-monib-seorang-intelektual-muslim-saya-butuh-manajer-birokrasi-bukan-imam-sholat.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook



Hampir setiap menjelang pemilihan pemimpin (pemilu dan pilkada), kerap kali 
beredar isu-isu miring yang melekat pada para calon pemimpin, mulai dari 
isu-isu sensitif seperti neoliberal dari segi ekonomi, antek partai terlarang, 
rasis, atau latar belakang keyakinan agama.

Dalam konteks Pilkada DKI 2017, isu yang sangat santer berkecamuk adalah SARA 
(suku, agama, ras dan antargolongan).







Hal ini karena salah satu calon, yakni petahana Basuki Tjahaja Purnama (ahok) 
dari latar belakang etnis dan agama minoritas.

Berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, Ahok banyak diserang karena latar 
belakang agamanya.

Namun, hal ini tak berlaku bagi intelektual Muslim Mohammad Monib.

Murid almarhum Nurcholis Madjid ini mempunyai alasan tersendiri mengenai 
pemimpin non-Muslim yang memerintah umat Islam.

Baginya, non-Muslim boleh menjadi pemimpin selama dia tidak memushi Islam, 
apalagi dia sebagai warga negara yang sah dan berhak untuk mencalonkan dirinya 
sebagai pemimpin.



Mendukung Ahok



Direktur Indonesian Conference on Religions and Peace (ICRP) Mohammad Monib 
menjelaskan jika ayat yang mengharamkan pemimpin non-Muslim itu memiliki 
asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) yang lekat dengan konteks 
sosio-politik saat itu.

“Ahok bekerja dengan baik dan terlihat hasilnya. Banyak programnya yang tidak 
dilakukan oleh gubernur Muslim sebelumnya,” kata Monib kepada Rimanews ditemui 
di kediamannya, Rabu (06/10/2016) malam.

Terkait kesantunan Ahok yang dikritik banyak pihak, alumni Gontor yang tengah 
merintis sebuah pondok pesantren untuk kaum dhuafa ini mengatakan jika bekas 
bupati Belitung Timur itu tidak bicara kasar kepada orang-orang baik.

“Ada konteksnya,” jelasnya.

Monib mendukung Ahok juga karena keyakinannya bahwa Ahok tak akan mengusir 
pribumi dari Jakarta, termasuk tidak berlaku diskriminatif.

“Biar program-program yang sudah baik bisa dilanjutkan; biar preman-preman 
politik dan birokrasi ada lawan tandingnya,’ ujarnya.

Ahok, menurut pria asal Madura ini, sudah mengajari publik tentang transparansi 
dalam birokrasi.

“Bekerja untuk publik dan cukup bersih dari korupsi. Saya butuh manajer 
birokrasi dan pelayan publik, bukan imam shalat,” katanya.

Dalam memilih pemimpin, dia mengimbau masyarakat untuk berpijak kepada 
konstitusi UUD 45, yang memberikan hak kepada semua warga negara yang bisa 
melewati prosedur birokrasi untuk berkompetisi dalam kepemimpinan.

Menurutnya, bangsa ini bukan hanya milik orang Islam, tapi milik

bersama.

“Saya lelah melihat politisi dan birokrasi seiman nyolong dan garong uang 
rakyat. Saya otonom dalam pemikiran agama, etika dan jalan hidup. Kelak saya 
mandiri di hadapan Allah. Karenanya, saya wajib mandiri dalam menentukan jalan 
hidup,” katanya.



Polemik al-Maidah ayat 51



Baru-baru ini, publik dibuat geger oleh pernyataan Ahok terkait surat al-Maidah 
ayat 51 yang sering dijadikan argumen untuk melarang non-Muslim menjadi 
pemimpin.

Menurut Monib, masyarakat harus cerdas dalam memahami makna dengan melihat 
historisitas ayat tersebut diturunkan.

“Bagi saya, konteks ayat yang digunakan kan clear. Saat itu habis perang Uhud 
(22 Maret 625 M); penduduk Madinah mengalami kegoncangan, Islam kalah, sebagian 
orang Islam sangat terancam, kemudian mereka menyelamatkan diri, bagaimana 
caranya? Ada yang berfikir mencari penyelamatan, berkoalisi dengan kaum 
Quraisy, ada yang berpikir dengan Yahudi, sementara yahudi itu melakukan banyak 
pelanggaran. Jadi, al-Quran mengkritik (pemimpin non-Muslim, red) itu adalah ga 
ada. Sehingga, bagi saya, kritik terhadap Ahok tidak serta-merta (dapat dipakai 
untuk konteks Ahok, red), karena bagi saya Ahok tidak memusuhi Islam,” jelasnya.

Monib menilai tidak sepatutnya kepemimpinan dilihat dari identitas agama.

“Saya lebih butuh kepada orang yang menjalankan prinsip-prinsip kebenaran 
universal dibandingkan dari sekadar apa yang disebut saya ‘islam minimalis’ 
itu, sekedar baca syahadat. Jadi bagi saya gak ada masalah (dengan pemimpin 
non-Muslim, red),” katanya.

Monib pun mengutarakan kekecewaan kepada sejumlah politisi yang dari luar 
tampak saleh, tetapi tak mampu menanggalkan perilaku koruptif.

“Secara khusus, saya kecewa; temen-temen saya, Anas Urbaningrum (mantan Ketum 
Demokrat) saya kenal baik, Fuad Amin (Kyai dan Mantan Bupati Bangkalan). Di 
departemen agama itu korupsinya luar biasa. Jadi, bagi saya kalau ada orang 
yang bisa saya percaya sampai detik ini antikorupsi, bersih, ya Ahok ini,” 
ujarnya.



Mengapa bukan yang lain?



Monib mempunyai penilaian khusus tentang petarung lain di Pilkada DKI 2017.

Sebagaimana diketahui, pasangan lain yang bakal menantang Ahok-Djarot adalah 
Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.

Terkait Anies, Monib mengaku mengenalnya secara pribadi sebagai civitas 
Universitas Paramadina, jauh sebelum namanya moncer di media.

“Anies gak ada prestasinya, di paramadina, di kementrian juga tidak ada 
prestasinya, orang dia batu loncat dan orang yang sangat pragmatis. Ahok saya 
lihat bekerja dan saya tidak peduli degan iman dia, yang penting dia bekerja 
dengan prinsip-prinsip sebagai profesional sebagai gubernur, masjid-masjid dia 
bangun dan sebagainya,” terangnya.

Menurut Monib, nama Anies tiba-tiba melambung bukan karena hasil kerja keras 
sendiri.

“Anies itu hanya penjual kalimat yang indah, tertata bagus dan wajah yang 
menawan, orang terpukau; sudah itu saja,” jelasnya.

Tentang Agus, Monib mengaku masih belum percaya. “Saya tahu Sandiaga Uno, dan 
juga Agus misalnya, belum percaya. Ya kalau mau dipercaya, buktikan kalau 
begitu. Kenapa saya musti membuktikan kalau saya masih melihat Ahok bekerja?” 
pungkasnya.(rimanews.com)


Kirim email ke