Imam2 perlu sekolah management dan punya pengalaman kerja ?

2016-10-09 6:44 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
>
> Pada Sabtu, 8 Oktober 2016 16:49, "Marco 45665 [email protected]
> [sastra-pembebasan]" <[email protected]> menulis:
>
>
>
> *Saya Butuh Manajer Birokrasi Bukan Imam Sholat*
>
> Naaah.... lain kan dan sangat Nyata berbeda dan jauh dan lebih membumi
> SIKAP dan PANDANGAN SEORANG INTELEKTUIL  MUSLIM yang Terbuka Mata dan
> Pikirannya  dan lebih banyak menggunakan Akal /Ratio-nya ketimbang OCEHAN
> SEORANG "HABIB "  MUSLIM BERRORBAN HIJAU  yang KERJANYA  tidak lebih
> MEMEBAKAR Massa dan Umatnya  dan MENABUR KEBENCIAN terhadap NON MUSLIM  dan
> sesama Bangsanya.
>
> Bangsa ini butuh HIDUP dan BERKEMBANG , BUTUH BEKERJA, MAKAN , HIDUP
> NORMAL DAN LAYAK  butuh BERPIKIR dan  BERKERASI dan MEMPRODUKSI agar BISA
> HIDUP dan agar Bangsa ini  menjadi BANGSA YANG KUAT , MAJU DAN DISEGANI
> ATAU DIHORMATI DUNIA ... dan TIDAK untuk dicengkam selam Hidupnya untuk TAK
> HENTI2NYA BERDOA UNTUK HIDUP  dan untuk mendengarkan CHOTBAH yang Memecu
> Kebencian dan Kebohongan Abadi sepanjang Hidupnya .....
>
> Sebagai seorang MUSLIM  dan juga bagi Yang NON MUSLIM , maka Setiap dari
> kita bisa Mutlak dan Bebas Berkemonuikasi dengan Allahnya , dengan Tuhannya
> masing2 , memanjatkan Puji dan Doanya , memohon berkahnya.  melakukan
> kewajiban Keagamaannya, Menghoirmati satu sama lainnya ....... Tetapi satu
> Hal , JANGAN BIARKAN MEREKA DISALAH GUNAKAN dan DIJADIKAN KORBAN oleh
> PIHAK2 TERTENTU  demi untuk KEPENTINGAN PRIBADINYA MASING2 dan berselimut
> dibelakang NAMA ALLAH  melaui CHOTBAH2 NYA yang tidak lebih hanya untuk
> menanamkan KEBENCIAN dan menyebarkan Agitasi  dan Kampanye yang Menyesatkan
> serta Ketegangan dan Kerusuhan diantara Masyarakat Bangsa ini serta sengaja
> menanam BENIH2 RASA dan memprovokasi Kekerasan dan atau Ketegangan didalam
> Masyarakat
>
> >> Dan sangat benar seperti kata seorang intelektual Muslim Mohammad
> Monib ,yang saya perlu ulangi dan saya Perkaya dan Perluas ARTI dari Sikap
> Pikiranya sbg suatu Hal yang kongkret -bahwa Bangsa dan Negara Indonesia
> dan Kita semua jauh lebih banyak membutuhkan *" Manager Birokrasi
> (Administrasi) dan Manager technis Pelaksana  ( Karyawan PROFESSIONIL) *
> *serta PIMPINAN AHLI MEYAKINKAN **(Profesional dan bukan Amatir ) serta
> Jutaan CERDIK CENDEKIAWAN , Ratusan Ribu Dokter Umum dan Ahli  dan PARA
> AHLI dan ILMUWAN  yang bisa memimpin dan membawa Bangsa ini kearah Kemajuan
> yang Essensial dalam segala bentuknya ( Ekonomis, Politis, Pendidikan ,
> Know-how , Budaya , Socialwelfare, Mental dan Rochani mauapun Spiritual
>  ......* (dan bukan Jutaan Haji dan "*Iwam yang memimpin Solta dan Doa "
> .*.....Mungkin konstalsi demikian  Serasa Pahit untuk ditelan dan Sakit
> untuk dirasakan bagi yang bersangkutan...) *namun Itu semua Tak perlu
> dirasakan dan yang paling penting,*justru adalah sebaliknya Apa yg
> dikemukakan
> oleh Intektuil Muslim > Mohammad Monib ,kiranya  PERLU DIPIKIRKAN dan
> DILAKSANAKAN dengan SERIOUS .
> *Ini adalah suatu Kenyataan real yang objektive sangat penting dan
> dibutuhkan.   *..*. Suatu Kenyataan dan Kebutuhan Objektive yang
> merupakan suatu Persyaratn yang HARUS terpenuhi dan dipenuhi bagi dan demi
> Kemajuan Bangsa dan Negara  *( Jika kita benar2 ingin melihat Negara dan
> bangsa Kita Maju , Makmur dan Bahagia ....dan Tidak cukup hanya symbolistis
> menggantungkan pada Symbol2 yang jika Sila2 tsb Tidak dipenuhi atau
> terpenuhi dalam bentuk yang Real atau Nyata , maka SYMBOL  tsb akan tetat
> SEBAGAI SYMBOL ..yang Mati tanpa Jiwa  dan Tanpa Pengisian   yang Kongkret
> dalam segala bentuknya......
>
> 2016-10-08 14:36 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected]
> [sastra-pembebasan] <[email protected]>:
>
>
> *Mohammad Monib, Seorang Intelektual Muslim: *
> *Saya Butuh Manajer Birokrasi Bukan Imam Sholat*
> http://www.nkritoday.com/ berita/wajib-baca-mohammad-
> monib-seorang-intelektual- muslim-saya-butuh-manajer-
> birokrasi-bukan-imam-sholat. html?utm_source=dlvr.it&utm_ medium=facebook
> <http://www.nkritoday.com/berita/wajib-baca-mohammad-monib-seorang-intelektual-muslim-saya-butuh-manajer-birokrasi-bukan-imam-sholat.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook>
>
> Hampir setiap menjelang pemilihan pemimpin (pemilu dan pilkada), kerap
> kali beredar isu-isu miring yang melekat pada para calon pemimpin, mulai
> dari isu-isu sensitif seperti neoliberal dari segi ekonomi, antek partai
> terlarang, rasis, atau latar belakang keyakinan agama.
> Dalam konteks Pilkada DKI 2017, isu yang sangat santer berkecamuk adalah
> SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).
> [image: clip_image002]
>
>
> Hal ini karena salah satu calon, yakni petahana Basuki Tjahaja Purnama
> (ahok) dari latar belakang etnis dan agama minoritas.
> Berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, Ahok banyak diserang karena
> latar belakang agamanya.
> Namun, hal ini tak berlaku bagi intelektual Muslim Mohammad Monib.
> Murid almarhum Nurcholis Madjid ini mempunyai alasan tersendiri mengenai
> pemimpin non-Muslim yang memerintah umat Islam.
> Baginya, non-Muslim boleh menjadi pemimpin selama dia tidak memushi Islam,
> apalagi dia sebagai warga negara yang sah dan berhak untuk mencalonkan
> dirinya sebagai pemimpin.
>
> *Mendukung Ahok*
>
> Direktur Indonesian Conference on Religions and Peace (ICRP) Mohammad
> Monib menjelaskan jika ayat yang mengharamkan pemimpin non-Muslim itu
> memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) yang lekat dengan
> konteks sosio-politik saat itu.
> “Ahok bekerja dengan baik dan terlihat hasilnya. Banyak programnya yang
> tidak dilakukan oleh gubernur Muslim sebelumnya,” kata Monib kepada
> Rimanews ditemui di kediamannya, Rabu (06/10/2016) malam.
> Terkait kesantunan Ahok yang dikritik banyak pihak, alumni Gontor yang
> tengah merintis sebuah pondok pesantren untuk kaum dhuafa ini mengatakan
> jika bekas bupati Belitung Timur itu tidak bicara kasar kepada orang-orang
> baik.
> “Ada konteksnya,” jelasnya.
> Monib mendukung Ahok juga karena keyakinannya bahwa Ahok tak akan mengusir
> pribumi dari Jakarta, termasuk tidak berlaku diskriminatif.
> “Biar program-program yang sudah baik bisa dilanjutkan; biar preman-preman
> politik dan birokrasi ada lawan tandingnya,’ ujarnya.
> Ahok, menurut pria asal Madura ini, sudah mengajari publik tentang
> transparansi dalam birokrasi.
> “Bekerja untuk publik dan cukup bersih dari korupsi. Saya butuh manajer
> birokrasi dan pelayan publik, bukan imam shalat,” katanya.
> Dalam memilih pemimpin, dia mengimbau masyarakat untuk berpijak kepada
> konstitusi UUD 45, yang memberikan hak kepada semua warga negara yang bisa
> melewati prosedur birokrasi untuk berkompetisi dalam kepemimpinan.
> Menurutnya, bangsa ini bukan hanya milik orang Islam, tapi milik
> bersama.
> “Saya lelah melihat politisi dan birokrasi seiman nyolong dan garong uang
> rakyat. Saya otonom dalam pemikiran agama, etika dan jalan hidup. Kelak
> saya mandiri di hadapan Allah. Karenanya, saya wajib mandiri dalam
> menentukan jalan hidup,” katanya.
>
> *Polemik al-Maidah ayat 51*
>
> Baru-baru ini, publik dibuat geger oleh pernyataan Ahok terkait surat
> al-Maidah ayat 51 yang sering dijadikan argumen untuk melarang non-Muslim
> menjadi pemimpin.
> Menurut Monib, masyarakat harus cerdas dalam memahami makna dengan melihat
> historisitas ayat tersebut diturunkan.
> “Bagi saya, konteks ayat yang digunakan kan clear. Saat itu habis perang
> Uhud (22 Maret 625 M); penduduk Madinah mengalami kegoncangan, Islam kalah,
> sebagian orang Islam sangat terancam, kemudian mereka menyelamatkan diri,
> bagaimana caranya? Ada yang berfikir mencari penyelamatan, berkoalisi
> dengan kaum Quraisy, ada yang berpikir dengan Yahudi, sementara yahudi itu
> melakukan banyak pelanggaran. Jadi, al-Quran mengkritik (pemimpin
> non-Muslim, red) itu adalah ga ada. Sehingga, bagi saya, kritik terhadap
> Ahok tidak serta-merta (dapat dipakai untuk konteks Ahok, red), karena bagi
> saya Ahok tidak memusuhi Islam,” jelasnya.
> Monib menilai tidak sepatutnya kepemimpinan dilihat dari identitas agama.
> “Saya lebih butuh kepada orang yang menjalankan prinsip-prinsip kebenaran
> universal dibandingkan dari sekadar apa yang disebut saya ‘islam minimalis’
> itu, sekedar baca syahadat. Jadi bagi saya gak ada masalah (dengan pemimpin
> non-Muslim, red),” katanya.
> Monib pun mengutarakan kekecewaan kepada sejumlah politisi yang dari luar
> tampak saleh, tetapi tak mampu menanggalkan perilaku koruptif.
> “Secara khusus, saya kecewa; temen-temen saya, Anas Urbaningrum (mantan
> Ketum Demokrat) saya kenal baik, Fuad Amin (Kyai dan Mantan Bupati
> Bangkalan). Di departemen agama itu korupsinya luar biasa. Jadi, bagi saya
> kalau ada orang yang bisa saya percaya sampai detik ini antikorupsi,
> bersih, ya Ahok ini,” ujarnya.
>
> *Mengapa bukan yang lain?*
>
> Monib mempunyai penilaian khusus tentang petarung lain di Pilkada DKI 2017.
> Sebagaimana diketahui, pasangan lain yang bakal menantang Ahok-Djarot
> adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono dan
> Sylviana Murni.
> Terkait Anies, Monib mengaku mengenalnya secara pribadi sebagai civitas
> Universitas Paramadina, jauh sebelum namanya moncer di media.
> “Anies gak ada prestasinya, di paramadina, di kementrian juga tidak ada
> prestasinya, orang dia batu loncat dan orang yang sangat pragmatis. Ahok
> saya lihat bekerja dan saya tidak peduli degan iman dia, yang penting dia
> bekerja dengan prinsip-prinsip sebagai profesional sebagai gubernur,
> masjid-masjid dia bangun dan sebagainya,” terangnya.
> Menurut Monib, nama Anies tiba-tiba melambung bukan karena hasil kerja
> keras sendiri.
> “Anies itu hanya penjual kalimat yang indah, tertata bagus dan wajah yang
> menawan, orang terpukau; sudah itu saja,” jelasnya.
> Tentang Agus, Monib mengaku masih belum percaya. “Saya tahu Sandiaga Uno,
> dan juga Agus misalnya, belum percaya. Ya kalau mau dipercaya, buktikan
> kalau begitu. Kenapa saya musti membuktikan kalau saya masih melihat Ahok
> bekerja?” pungkasnya.(rimanews.com)
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke