Ketika Duterte Bilang “Go To Hell, Obama”


http://www.berdikarionline.com/ketika-duterte-bilang-go-to-hell-obama/



Puncak dari kemarahan Sukarno terhadap imperialisme Amerika Serikat (AS) 
menggeledek melalui kata-kata: go to hell with your aid. Kata-kata yang 
diucapkan oleh Sukarno di tahun 1964 sekaligus pernyataan talak-tiga terhadap 
AS.

43 tahun kemudian, di Amerika Latin, tepatnya di negara bernama Venezuela, 
seorang Presiden juga melontarkan kata-kata yang hampir sama: go to hell, 
gringos! Hugo Chavez, nama Presiden itu, sangat geram dengan intervensi AS atas 
politik negerinya.

Dan tiga hari yang lalu, Presiden Filipina yang baru tiga bulan menjabat, 
Rodrigo Duterte, juga melontarkan kata-kata yang hampir sama: go to hell, 
Obama. Duterte meradang setelah kebijakannya memerangi narkoba di negerinya 
dihujani kritik oleh Washington.

“Alih-alih membantu kami, yang pertama kali menyerang adalah Departemen Luar 
Negeri. Jadi Anda bisa pergi ke neraka, Obama. Anda bisa pergi ke neraka,” kata 
Duterte, seperti dilansirReuters, Selasa (4/10/2016).

Ini bukan kali pertama Duterte menyerang Obama dan Amerika. Pada awal September 
lalu, jelang pertemuan negara-negara ASEAN di Laos, Duterte mengeluarkan kata 
makian: Putang ina (anak pelacur). Makian khas Filipina itu ditujukan kepada 
Obama.

Duterte memang anomali dalam politik Filipina yang dikenal manut terhadap Paman 
Sam. Bukan hanya karena cara bicaranya yang ceplas-ceplos dan gaya mementahnya 
yang informal, tetapi juga sikapnya yang berani bertabrakan dengan kepentingan 
negara-negara adikuasa. Dia seperti kuda liar yang sulit ditunggangi oleh 
negara adikuasa manapun.

Pertengahan September lalu, dia mengancam akan mengusir tentara AS dari wilayah 
Filipina Selatan. Belakangan, karena AS mengancam akan berhenti jualan senjata 
ke negerinya, Duterte mengaku akan berpaling ke pangkuan Rusia dan Tiongkok. 
Dia juga pernah mengancam keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dengan keberanian itu, apakah Duterte bisa disandingkan dengan Sukarno dan 
Chavez?

Harapan baru Filipina

Duterte adalah politisi yang muncul di tengah momentum yang tepat dengan 
pendekatan yang tepat. Pertama, persoalan ekonomi yang tidak terselesaikan, 
khususnya kemiskinan dan ketimpangan, yang melahirkan ketidakpuasaan massal 
rakyat Filipina.

Kedua, rakyat Filipina sudah muak dengan gaya kepemimpinan politik lama, 
terutama “kekuatan kuning”–Aquino dan keturunannya–yang dianggap korup, tidak 
kompeten, dan tidak tegas.

Pada titik itu,  mayoritas rakyat Filipina tidak puas dengan gaya politik yang  
normal atau moderat/tengah. Sebaliknya, mereka merindukan gaya politik yang 
tidak biasa alias radikal.

Duterte muncul dengan gaya baru: cara bicara ceplas-ceplos, tampilan merakyat, 
dan terkesan apa-adanya. Dia juga mewakili gaya kepemimpinan yang tegas, 
terutama pengalamannya memerangi pengedar narkoba dan kriminalitas di Davao.

Yang lebih penting lagi, dia membawa retorika anti-oligarki di masa kampanye. 
Retorika itu sangat mengena di telinga rakyat Filipina yang sudah muak dengan 
tatanan ekonomi yang hanya membolehkan 0,1 persen elit menguasai kue ekonomi.

Dengan slogannya, perubahan segera tiba (change is coming), Duterte menjadi 
harapan baru bagi rakyat Filipina. Itulah yang membuatnya begitu gampang 
menapaki jalan menuju Istana Malacañang–Istana Kepresidenan Filipina.

“Perang melawan si miskin”

Sejauh ini, kerja besar Duterte difokuskan pada perang suci melawan narkoba dan 
kriminalitas. Jumlah korbannya tidak sedikit: sudah lebih 3600 orang. Sekitar 
2.275 diantaranya tewas di tanganvigilante.

Perang inilah yang menuai kritik banyak pihak, baik aktivis HAM maupun pihak 
internasional (AS, Eropa dan PBB). Banyak orang yang dituduh pengedar narkoba 
mati di jalanan, tanpa proses pengadilan.

Mungkin narkoba memang persoalan besar di Filipina. Apalagi jika berkelindan 
dengan kriminalitas. Namun, memerangi narkoba hanya dengan membunuhi 
pengedarnya saja, tanpa menyentuh ke akar persoalannya, yakni kemiskinan, hanya 
akan menjadi ajang pembantaian manusia.

Tak salah, Walden Bello, seorang bekas anggota parlemen dari partai progressif 
Akbayan, menyebut perang suci Duterte itu sebagai “perang melawan si miskin”.

“Menyelesaikan persoalan narkoba dengan pembunuhan hanya menyentuh gejalanya 
saja, tetapi tidak pada penyebabnya,” ujar Bello.

Bello, yang dikenal sebagai profesor sosiologi dan aktivis kiri, mengatakan 
penggunaan narkoba di kalangan kaum miskin sangat lazim lantaran bisa menjadi 
jalan keluar pintas atas realitas kemiskinan.

“Kemiskinan bukan hanya kekurangan materi, tetapi keputusasaan, 
ketidakberdayaan dan hidup tanpa martabat,” jelasnya.

Baginya, perang melawan narkoba harus diarahkan pada akar masalahnya, yakni 
kemiskinan. Caranya: ciptakan kebijakan yang mendorong penciptaan lapangan 
kerja, upah layak, redistribusi kekayaan, dan lain-lain.

Namun, kendati Duterte dihujani kritik soal pelanggaran HAM, popularitasnya 
masih sangat tinggi. Survei terbaru dari institut penelitian Social Weather 
Stations (SWS) menyebutkan, sebanyak 73 persen warga Filipina puas dengan 
kepemimpinan Durerte. Dan hanya 11 persen yang menyatakan tidak puas.

Duterte anti-imperialis?

Memang terlalu dini untuk menilai Duterte itu progressif atau tidak. Namun, 
setidaknya ada satu ukuran yang bisa dipakai: seperti apa haluan ekonomi dan 
politiknya?

Di sinilah letak kekurangannya. Dari 10 poin agenda ekonomi Duterte, tidak 
satupun yang eksplisit anti-neoliberal. Hanya dua poin yang agak melegakan bagi 
si miskin, yakni investasi untuk pembangunan manusia (pendidikan dan kesehatan) 
dan perlindungan sosial melalui transfer tunai kepada si miskin (mirip BLT di 
Indonesia). Sisanya masih bicara agenda investasi dan bisnis.

Duterte juga belum mau keluar dari jerat IMF. Duterte tidak seberani Sukarno 
dan Chavez yang berani menolak membayar utang najis dan utang illegal yang 
dijeratkan oleh rentenir (IMF dan Bank Dunia) ke negerinya.

Duterte juga masih mengadopsi pendekatan privatisasi terselubung ala Bank 
Dunia, yaitu public-private partnership (PPP), untuk mempercepat proyek 
infrastruktur publik.

Tetapi retorika Duterte memang progressif. Duterte selalu bicara “tao muna ha” 
(rakyat yang utama/prioritas), kendati belum ada kebijakannya yang eksplisit 
menyentuh rakyat banyak. Saat kampanye, dia berjanji akan melakukan land-reform 
dan memperbaiki irigasi bagi pertanian.  Sayang, hingga sekarang land-reform 
itu belum jalan-jalan juga.

Saat kampanye, Duterte berjanji akan menghapus sistim kerja kontrak yang sangat 
menghisap  buruh. Sayang, hingga kini janji itu juga belum ditunaikan. Namun, 
komentar Duterte tentang serikat buruh beberapa kali mengecewakan. Dia pernah 
bilang akan menghajar serikat buruh yang mengganggu iklim investasi.

Ya, dalam urusan ekonomi, Duterte belumlah seradikal Chavez atau Sukarno. Belum 
satupun perusahaan asing yang sudah dinasionalisasi oleh pemerintahan Duterte. 
Dia juga belum mengusir IMF dan Bank Dunia dari negerinya.

Raymond Samuel


Kirim email ke