res : MUI lemah bukan berarti umat lemah, MUI dan Kementrian Agama (Kemenag) 
dilenyapkan dari muka bumi bukan berarti umat turut lenyap.hehehehe

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/religi-nusantara/16/10/19/ofary6385-mui-politik-identitas-dan-siasat-melemahkan-umat-islam

Kamis, 20 Oktober 2016, 05:01 WIB
MUI, Politik Identitas, dan Siasat Melemahkan Umat Islam
Red: Muhammad Subarkah
Republika/Wihdan Hidayat 
 
KH Maruf Amin. Ketua Umum MUI Pusat KH Maruf Amin memberikan sambutan saat 
Dzikir Nasional 2015 di Masjid At-Tin, Jakarta, Kamis (31/1).

MUI, Politik Identitas, dan Siasat Melemahkan Umat Islam 


oleh: DR Iswandi Syahputra, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




 Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa mendapat fitnah, tak lama setelah 
mengeluarkan rekomendasi terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur 
DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.  

Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Komestika (LPPOM) MUI dijadikan 
sasaran tuduhan korupsi senilai Rp. 480 triliun. Demikian sejumlah media 
memberitakan. 

Serentak dengan itu, di sejumlah saluran media sosial beredar ajakan untuk 
menandatangani petisi mengaudit keuangan MUI. 


Tuduhan sepihak dan ajakan untuk menandatangani petisi mengaudit keuangan MUI 
tersebut muncul tidak lama berselang setelah MUI mengeluarkan pendapat dan 
sikap keagamaan terkait pernyataan  Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja 
Purnama tentang surat Al-Maidah ayat 51. 

Pendapat dan sikap keagamaan MUI itu sendiri keluar tidak lama setelah pihak 
kepolisian menolak laporan sejumlah Ormas Islam yang menutut agar Ahok 
diperiksa oleh polisi karena telah menghina  Al-Qur’an sebagai kitab suci umat 
Islam. Saat itu, polisi menolak laporan Ormas Islam tersebut dengan alasan 
belum ada fatwa atau pendapat keagamaan dari MUI soal Ahok. 

Dari alur peristiwa tersebut, tampaknya ada upaya yang sistematis dan 
terkoordinasi untuk melemahkan Ulama.
 


Pewaris para Nabi

Ulama itu pewaris para Nabi (Warosatul Anbiya’), demikian diungkap dalam sebuah 
hadis Nabi Muhammad Saw. 

Apa yang diwarisi ulama dari Nabi? Sungguh Nabi tidak mewariskan dinar atau 
dirham, tetapi ilmu pengetahuan. Hadist tersebut menegaskan bahwa Ulama adalah 
orang yang berilmu. 

Pada bagian lain Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu 
wa ta’ala tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi 
Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak 
menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan 
orang-orang bodoh”. 

Dan, akar kata ulama adalah 'alima artinya mengetahui, alim adalah orang yang 
berpengetahuan (tunggal) sedangkan Ulama adalah jamak untuk menunjukkan 
orang-orang yang berpengetahuan. 

Nah, hal yang membedakan satu peradaban pada suatu masa dengan masa yang lain 
adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para alim ulama pada masa tersebut. 
Sehingga, tidak berlebihan jika dikatakan beradab tidaknya suatu masa akan 
tergantung dari ulama yang hidup pada setiap masa. 

Maka dalam tradisi Islam sesudah wafatanya Rasulullah Saw, para  Ulama dapat 
disebut sebagai benteng peradaban. Dalam konteks ini tentu  yang dimaksud 
adalah Ulama tentu orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama, terutama ilmu 
yang terkait dengan urusan amal, ibadah dan berbagai pengaturan privat dan 
publik. Konteks tersebut menjadi lebih relevan dan urgen mengingat mayoritas 
penduduk Indonesia beragama Islam.

 
Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirodj (tengah) bersama Habaib dan Ulama 
Sejabodetabek melakukan shalawatan bersama.

Lalu di mana relevansi dan urgensinya posisi ulama dalam pengaturan kehidupan 
sosial kita sehari-hari? Salah satu yang paling nyata dan terasa dari manfaat 
ulama adalah dalam  hal pemberian sertifikat halal untuk produk yang dikonsumsi 
publik, terutama makanan dan obat-obatan. 

Sertifikasi Halal

Bagi yang pernah ke luar negeri atau menetap di luar negeri, terutama negara 
yang penduduknya mayoritas non muslim, pasti merasakan sulitnya mencari makanan 
halal. Suatu ketika di Roma, Italia, di sana saya hampir memakan roti berisi 
daging babi. Padahal saya sengaja memilih roti yang relatif aman dari unsur 
yang mengandung zat haram. Demikian juga saat di Munich, Jerman hampir memakan 
mie dengan kuah lemak babi. 

Saat seperti itulah saya merasa betapa bermanfaatnya ulama yang berhimpun dalam 
MUI sebagai pihak yang memberi legalitas halal bagi produk makanan. Perlu 
diketahui, tidak semua produk makanan yang beredar baik dalam bentuk kemasan 
atau siap saji di Indonesia yang memiliki sertifikat halal. Beberapa produk 
makanan hingga saat ini masih belum memiliki sertifikat halal. Mengapa 
sertifikat halal ini penting? 

Pertama, secara tekstual ini merupakan perintah Allah Swt seperti yang 
termaktub dalam QS   Surat Al Maidah : 88 dan QS Surat Al Baqarah : 168. Karena 
ini perintah agama dan bersumber pada teks yang sakral, dia akan diterima 
sebagai keyakinan. Suatu keyakinan seperti jalan rahasia dalam setiap diri 
manusia tentang suatu 'yang Maha'. Karena itu suatu keyakinan tidak bisa 
diintervensi oleh apapun dan oleh siapapun.

Kedua, secara kontekstual, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Karena 
ini menyangkut keyakinan umat dari umat mayoritas yang berhubungan dengan 
dimensi sosial, maka perlu dilindungi dalam sebuah sistem aturan. 

Ketiga, sudah menjadi rahasia umum jika sejumlah perusahaan makanan memang 
tidak selalu menggunakan bahan atau peralatan yang halal untuk dikonsumsi umat 
muslim. Suatu saat saya santap malam di Barcelona, Spanyol. Saya sengaja 
memilih menu ikan untuk menghindari menu lain yang meragukan kehalalannya. Dari 
pramusaji restoran yang beragama Islam saya memperoleh informasi jika tidak 
semua ikan di restoran dijamin kehalalannya karena banyak yang diawetkan 
menggunakan bahan pengawet yang diharamkan oleh syariat Islam.    

 
Para ulama saling membungkuk dan bertakzim dalam sebuah pertemuan ulama di 
Pekalongan beberapa waktu lalu. (ilustrasi)

Mengapa ulama harus dilemahkan?

Cara paling mudah melemahkan umat Islam sebagai mayoritas adalah dengan 
melemahkan para Ulamanya. Mengapa umat Islam perlu dilemahkan? Karena umat 
Islam adalah mayoritas dan saat ini politik domestik kembali pada politik 
aliran. Politik aliran yang dijalankan dalam suatu sistem demokrasi melalui 
Pilkada misalnya, jelas akan menjanjikan kemenangan bagi pihak mayoritas. 
Pilkada DKI Jakarta menjadi penting sebagai medan perebutan politik identitas 
karena merupakan Ibu Kota negara dan barometer politik dalam negeri. Peristiwa 
politik seperti Pilkada di Jakarta tentu dapat menstimulasi daerah lainnya. 

Pilkada DKI Jakarta dijadikan arena taste the water bagi pertarungan politik 
identitas atau politik aliran. Kendati demikian, dengan melemahkan Ulama itu 
berarti melemahkan mayoritas. Melemahkan mayoritas itu dapat memicu konflik 
sosial yang jauh lebih serius. Jika tidak ditangani dengan baik sejak dini, 
tidak musathil konflik ini akan meluas dan mengorbankan satu masa generasi 
Indonesia. [] 

Kirim email ke