http://www.suara-islam.com/read/index/20047/Ahok-Hina-Alquran--KH-Abdul-Rasyid-AS--Sekaranglah-Kita-Penuhi-Panggilan-Jihad
Ahok Hina Alquran, KH Abdul Rasyid AS: Sekaranglah Kita Penuhi Panggilan Jihad Sabtu, 08/10/2016 09:11:22 | Dibaca : 159670 Facebook Twitter Gplus KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'ie (kiri) didampingi oleh Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Ustaz Asep Syarifudin usai melaporkan Ahok di Bareskrim Jakarta. (foto: suara islam) Jakarta (SI Online) - Meski sudah sepuh, ulama kharismatik KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'ie tetap semangat dalam membela Islam. Pada Jumat (8/10/2016), ia datangi Bareskrim Mabes Polri di Jakarta untuk melaporkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dinilai telah melakukan penistaan agama. Kiai Rasyid hadir bersama puluhan perwakilan organisasi lainnya yang juga melakukan pelaporan. "Saya melihat rekaman yang ditayangkan di media sosial, memang sangat luar biasa. Ini menghina Alquran, menghina Allah dan menghina umat Islam. Dia mengatakan firman Allah di surat Al Maidah membodohi umat Islam," ujar Kiai Rasyid kepada Suara Islam Online usai pelaporan di Bereskrim. Pimpinan perguruan As Syafiiyah itu mengatakan, tidak hanya umat Islam di DKI saja, tetapi umat Islam Indonesia bahkan seluruh dunia terhina dengan ucapan Ahok. "Oleh karena itu, umat Islam harus menuntut agar masalah ini diperiksa dan diproses sebagaimana mestinya terkait penghinaan Ahok terhadap Alquran, terhadap Allah, terhadap Islam," jelasnya. "Dan kita tidak akan berhenti, sekaranglah kita memenuhi panggilan jihad, Allahuakbar!" tegas Kiai Rasyid. Namun, jika sekiranya tidak diproses oleh kepolisian, Kiai Rasyid menilai ada pilih kasih dalam tindakan hukum. Hingga saat ini, puluhan organisasi sudah melakukan pelaporan. Kata Kiai Rasyid, para ahli hukum juga sudah siap, dari Muhammadiyah, MUI dan kelompok lainnya. "Jadi ini sudah termasuk sara, dan pokoknya kita tidak berhenti dalam menegakkan keadilan bagi umat Islam," tandasnya. +++++ http://www.suara-islam.com/read/index/19742/-Ahok-Memicu-Kebencian-Pribumi-kepada-Cina- Ahok Memicu Kebencian Pribumi kepada Cina Senin, 12/09/2016 19:19:24 | Dibaca : 13930 Facebook Twitter Gplus Ilustrasi HM Aru Syeiff Assadullah Pemred Tabloid Suara Islam Sepak terjang gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sejak akhir 2014 ia menggantikan kedudukan gubernur DKI Joko Widodo—yang naik menjadi presiden RI 2014-2019- sungguh luar biasa negatif dan ekstrem dalam hal memperhinakan aspirasi orang Islam sebagai penduduk mayoritas di Jakarta yang justru dipimpinnya. Ia bertindak ‘gila-gilaan’ sehingga Habib Rizieq menuduh Ahok mengidap penyakit jiwa psikhopat. Tuduhan ini tidak berlebih-lebihan karena perilaku Ahok memang luar biasa sangat ekstrem negatif. Jika dirinci sikap-sikap ekstrem itu dalam berbagai kasus niscaya akan menghabiskan ratusan halaman menjadi sebuah buku. Perilaku yang luar biasa ‘gila-gilaan dari Ahok ini bukan hanya membuat umat Islam Jakarta bahkan di seluruh Indonesia, tidak nyaman dan tersinggung, bahkan kalangan Cina dan minoritas sendiri menjadi ‘gerah’ dan geram oleh perilaku Ahok itu. Sebut saja tokoh Cina Lius Sungkarisma acapkali tampil meledak-ledak mengkritik sikap Ahok itu. Dengan gaya kritik yang lebih santun juga diberikan oleh Jaya Suprana atau Kwiek Kian Gie, dua tokoh Cina yang dihormati bangsa Indonesia secara umum. Heboh Ahok dengan seluruh kontroversinya yang luar biasa ini menyita perhatian mantan Kepala Staf Umum TNI Letjen (Purn) Suryo Prabowo dan menulis peringatan yang sangat keras di sejumlah media sosial, kita kutip selengkapnya: Refleksi Letjen (Purn) Suryo Prabowo Rusaknya Harmoni dan Keberagaman. Ada rumus sederhana yang efektif untuk membangun toleransi dalam masyarakat yang sangat beragam seperti #Indonesia, Yaitu : “YangnKECIL TAU DIRI pasti yang BESAR MAU MENGERTI. Dari ‘rumus’ ini terlihat bahwa mau atau tidak perilaku kelompok minoritas sangat dominan dalam membangun keharmonisan dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Dihadapkan pada ‘rumus toleransi’ ini, maka perilaku Ahok sebagai gubernur yang berlaindung di balik presiden, TNI dan Polri, serta bersikap sok suci dan sok jago, serta arogan pada rakyat kecil, berpotensi MERUSAK KEHARMONISAN kehidupan masyarakat. Disadari atau tidak, perilaku Ahok itu PASTI dipersepsikan MEWAKILI kelompok etnis Cina dan Non-Muslim yang dua-duanya adalah MINORITAS di Indonesia. Oleh sebab itu dikhawatirkan bila Ahok tetap BERKUASA dan bertindak sebagai DIKTATOR MINORITAS, SEJARAH KELAM yang dialami oleh saudara kita etnis Cina AKAN TERULANG. Geger Pecinan (1743-1749) yang mengakibatkan 10.000 etnis Cina dibantai, Kerusuhan dan Penjarahan Etnis Cina di tahun 1947-1949 (Poa An Tui) yang melahirkan PP No. 10/1959 yang mengakibatkan terjadinya eksodus (pengusiran Red) besar-besaran warga Cina ke RRC. Tindakan diskriminatif dan pengusiran etnis Cina pasca Pemberontakan G30S PKI (1965-1966) dan Kerusuhan Mei 1998 yang mengakibatkan terjadinya banyak korban jiwa dan harta warga Cina, SANGAT MUNGKIN TERULANG , bila perilaku Ahok TIDAK BERUBAH. Bukannya tidak mungkin kerusuhan rasial yang dialami etnis Cina di Vietnam Mei 2014 dapat terjadi di Indonesia. http://voa-islam.com/news/wrld-news/2014/05/24/30548/vietnam-mengusir-keturunan-cina karena sudah mengancam kepentingan nasionalnya/; Silakan berkompetisi memperebutkan posisi#Gubernur DKI#Jakarta di tahun 2017, tetapi JANGAN MERUSAK HARMONI DALAM KEBERAGAMAN yang selama ini sedang diupayakan dan dibangun oleh segenap Bangsa Indonesia. #temanahok dan#MudaMudiAhok,#Ahok boleh saja siap mati demi prinsipnya, tetapi warga Cina lainnya dan warga non-Muslim yang BAIK-BAIK dan TAU DIRI selama ini, apa dibiarkan ‘Menanggung dosa’ yang diperbuat Ahok ??? Maaf dari dulu sebagai warga minoritas, saya memang bisanya Cuma mengingatkan (Suryo Prabowo, Maret 2016). Membaca uneg-uneg jendral mantan Kepala Staf Umum TNI ini harus diakui sangat mewakili kondisi obyektif di Indonesia, tapi rupanya peringatannya yang sudah dilansir sejak Maret 2016 dan beredar sangat luas di media sosial ini sedikit pun tidak digubris oleh Ahok. Dan Ahok tetap tampil seperti biasanya : tetap arogan, tetap sok jagoan—dengan selalu pamer tiap kali keluar masuk istana menemui Presiden Joko—dan tetap selalu melecehkan aspirasi Islam, terakhir dengan sombong hendak melarang anak-anak perempuan mengenakan jilbab ke sekolah. Entah apa yang ‘menempel’ di benak seorang Ahok saat ini. Prediksi banyak pihak, Ahok saat ini tengah mabok-kepayang di tengah perilakunya yang ‘gila-gilaan’ itu justru dipuji-puji pers mainstream sebagai seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa, dan oleh lembaga survei pun diumumkan sebagai pemenang Pilkada DKI 2017 dengan anngka fantastis sampai di atas 60%, dan survei yang lain juga mengumumkan bahwa Ahok adalah gubernur DKI yang paling dikehendaki rakyat mayoritas di ibukota untuk terus memimpin Jakarta dan melanjutkan program-programnya yang sudah terbukti berhasil-sukses dan dirasakan manfaatnya. Karena puja-puji ini muncul pula dugaan Ahok pun telah merancang hendak mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo pada 2019 dan pada 2024 dia yakin akan tampil menjadi presiden RI penuh. Dipastikan apa yang diopinikan pers mainstream dan lembaga survei itu jauh dari obyektif alias rekayasa dipaksakan jauh dari fakta. Benarkah Ahok diharapkan rakyat ibukota ? Faktanya tiap kali Ahok mencoba menghadiri acara di tengah masyarakat apalagi di tengah acara keIslaman, pasti dicegah mati-matian bahkan satu kejadian ditimpuki batu oleh masyarakat sehingga lari terbirit-birit melintas kebon untuk menghindari amukan massa. Cerita faktual seperti ini tidak secuil pun diberitakan pers mainstream pendukung Ahok. Pertengahan Agustus 2016 yang lalu terbetik kabar menggemparkan Letjen (Purn) Suryo Prabowo yang akan masuk ke Singapura telah di cekal pihak Imigrasi Bandara Changi. Dalam perdebatan yang panjang di mana petugas imigrasi itu selalu keluar masuk ruangan melapor ke atasnya, akhirnya dinyatakan alasan pencekalan itu karena Jendral Suryo masuk dalam daftar black list. Tentu saja jawaban itu membuat Suryo Prabowo sangat marah dan menyatakan black-list itu dalam kaitan apa ? Apakah saya seorang kriminal, seorang teroris atau justru saya orang yang ditandai sebagai orang yang tidak memiliki dana/tabungan sepeserpun di Singapura ? Petugas imigrasi itu makin gelagapan ketika Suryo Prabowo mencecar sambil menunjuk ponsel di tangan petugas ituseraya berkata, kenapa kamu tidak gunakan Ponsel di tanganmu itu untuk membuka Google, cari data diri saya kata Suryo lengkap dan gamblang ada di sana. Kabarnya Suryo Prabowo pun dilepas dan segera meluncur ke Kedubes RI di Singapura menemui sang Dubes RI. Tapi kejadian aneh itu justru direspons sang dubes I Gede Ngurah Swajaya lebih aneh lagi, dimana dinyatakan kejadian seperti itu biasa terjadi di Singapura dan peraturannya di sini memang seperti itu, jadi harap dimaklumi saja. Tentu saja pernyataan itu membuat Suryo Prabowo semakin marah. Seorang Dubes RI kok berperangai seperti itu. Tidak melindungi kepentingan WNI di wilayah tugasnya, sungguh aneh, lalu apa yang dikerjakan di tempat tugasnya? Dan belakangan terbongkar ratusan orang WNI banyak dicekal di Bandara Changi dengan alasan yang dicari-cari. Timbul pertanyaan apakah WNI keturunan Cina yang memiliki dana sampai Rp4000 Trilyun juga dicekal saat masuk ke Singapura ? Dipastikan justru sebaliknya mereka akan disambut dengan menggelar karpet merah sebagai tamu kehormatan. Dalam diskusi di Jak-TV, 19 Agustus 2016 Suryo Prabowo bertekad akan membalas perilaku Singapura itu jika Singapura tidak membuat pernyataan maaf secara resmi. Dan jika sikap pemerintah Presiden Joko juga tidak merespons positif sebagaimana Dubes orang Bali itu, maka Suryo Prabowo sebagai orang yang bebas tak terkait dalam jajaran rejim, berjanji akan membalas dengan caranya sendiri. Dia sudah mencatat orang Singapura di Jakarta lebih 3000 orang akan menjadi sasarannya. Suryo juga mengecam sejumlah pejabat RI yang serta-merta membebek kepada Singapura karena diberi gelar dan bintang kehormatan oleh Negeri Kota itu. Indonesia kata Suryo negeri yang besar sekali dengan penduduk lebih 250 juta jiwa dibandingkan Singapura yang hanya sebesar wilayah DKI Jakarta dengan penduduk tak lebih 5 juta jiwa. Dilupakan dalam diskusi di Jak-TV kemungkinan pihak Singapura telah membaca tulisan Suryo Prabowo sebagaimana di kutip di atas melalui Refleksinya berjudul Rusaknya Harmoni dan Keberagaman yang isinya mengkritik tajam perilaku Ahok yang ekstrem menentang siapa saja khususnya penduduk mayoritas Islam di Jakarta. Pihak Singapura dengan membaca ini pihak Suryo Prabowo pun dianggap sebagai tokoh anti Cina dan minoritas. Jika betul demikian alasan itu, niscaya sangat serampangan, karena tulisan Suryo Prabowo bermuatan peringatan yang obyektik dan bijak. Hanya saja perlu diingat Negeri Kota Singapura itu juga biasa disebut sebagai Negeri Kota Cina yang dipimpin dan dihuni oleh etnis Cina dan wajar jika mereka sangat sensitif terhadap ungkapan anti Cina. Apa yang diperingatkan Suryo Prabowo akan perangai ekstrem Ahok itu pun mulai ‘memanen’ dampaknya di sisi lain. Selain warga keturunan Cina yang melihat perangai Ahok yang over-dosis itu bisa memicu kebencian pribumi, dan mereka menjadi ketakutan karenanya, sebaliknya ada warga keturunan Cina yang bagai ikut ‘kesetanan melawan’ pribumi dan berani menentanng aspirasi penduduk mayoritas khususnya umat Islam. Inilah yang terjadi di Tanjungbalai Sumatera Utara, di mana seorang wanita keturunan Cina dengan sangat kasar dan berani menentang suara azan dari masjid di dekat rumahnya yang sudah puluhan tahun selalu dikumandangkan melalui pengeras suara. Terjadilah kerusuhan hebat belasan klenteng tempat pemujaan orang-orang Cina pun dibakar massa ludes. Peringatan Suryo Prabowo mulai terbukti, sungguh mengerikan jika berlanjut. Sejak peristiwa kerusuhan Mei 1998, saat rakyat menumbangkan rejim Soeharto, eksesnya pun melebar menjadi amuk anti Cina, dimana asset Cina pun dibakar di seluruh ibukota. Sejak peristiwa Mei 1998 itu sebenarnya relatif lebih 18 tahun terakhir tidak terdengar gesekan anti Cina di Indonesia, tapi dengan sikap dan gaya penampilan Ahok yang ekstrem menentang mayoritas dikhawatirkan memicu kerusuhan sosial anti Cina. Dan ekses peristiwa penjarahan asset Cina pada 1998 pun menjulur kemana-mana sampai ke Amerika Serikat, dimanfaatkan warga Cina—termasuk dari Cina Daratan—untuk mencari suaka di AS dengan memfitnah umat Islam Indonesia. Hari-hari terakhir ini isu penyerbuan tenaga kerja dari Cina ke Indonesia yang semula hanya bagai suara rumors belakangan terbukti benar adanya. Diketahui tenaga kerja Cina benar-benar telah menyerbu Indonesia. Konon mereka akan datanng ke Indonesia sampai 15 juta jiwa targetnya. Sangat menyakitkan di mana bangsa Indonesia sendiri kini kesulitan mencari lapangan kerja kini, dan PHK berlaku di mana-mana, kini malah diserbu buruh-buruh rendahan kuli asal Cina. Gajinya pun sang kuli Cina konon dibayar Rp15 juta perbulan dan buruh Indonesia yang hanya dipekerjakan lebih sedikit, digajinyapun cuma Rp2 juta/bulan. Kenyataan ini makin menjadi alat picu kerusuhan anti Cina seperti terjadi di Vietnam seperti ditulis Suryo Prabowo. Semua orang khususnya pemerintah rejim Presiden Joko harus waspada dengan kemungkinan konsekuensi peristiwa mengerikan seperti itu. Tapi sungguh ironis kondisi yang sangat membahayakan itu justru sengaja diciptakan oleh rejim Presiden Joko dalam kerangka kerja sama ekonomi dengan pemerintah Cina dan menyetujui pengiriman tenaga kerja Cina itu. Memang ironis!
