Bravo Ptresiden Jokowi !

On Oct 20, 2016 8:28 AM, "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <
[email protected]> wrote:

>
>
>
>
> *From:* B.DORPI P.
> *Sent:* Thursday, October 20, 2016 7:23 AM
>
>
> *http://www.kompasiana.com/danielht/di-papua-presiden-jokowi-melakukan-hal-yang-tak-mungkin_5807b51e989373bc33d759dc*
> <http://www.kompasiana.com/danielht/di-papua-presiden-jokowi-melakukan-hal-yang-tak-mungkin_5807b51e989373bc33d759dc>
>
>
> 20 Oktober 2016 01:02:06
>
> Diperbarui: 20 Oktober 2016 01:10:07
>
>
> Di Papua, Presiden Jokowi Melakukan Hal yang Tak Mungkin
>
>
>
>
>
>
>
> [image: Di Papua, Presiden Jokowi Melakukan Hal yang Tak Mungkin]
>
> Foto Presiden Jokowi memayungi Gubernur Papua Barat Lukas Enembe yang
> menjadi viral (Merdeka.com)
>
> Selasa, 18 Oktober 2016, di Kabupaten Yahukimo, Papua, Presiden Jokowi
> telah melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh presiden-presiden
> sebelumnya, -- seandainya mereka masih menjabat, yaitu memutuskan pada hari
> itu juga harga BBM di Papua disamakan dengan harga BBM di seluruh
> Indonesia, yaitu bensin Rp. 6.450 per liter, dan solar Rp. 5.450 per liter.
>
> Sebelumnya, selama puluhan tahun, di Papua, terutama di kota-kota di
> daerah pegunungan/pedalaman harga BBM bisa sampai 20 kali lipat dari harga
> normal yang berlaku di seluruh Indonesia.
>
> Ketika harga nasional premium Rp. 6.450 per liter, di Papua, terutama di
> daerah pegunungan/pedalaman, mencapai Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 100.000
> per liter.
>
> Presiden-presiden sebelumnya, termasuk SBY, yang 10 tahun menjadi
> Presiden, tetapi sangat jarang ke Papua itu, tak mungkin melakukannya,
> karena mereka tidak punya perhatian yang sungguh-sungguh serius kepada
> nasib orang Papua yang selama puluhan tahun hidup menanggung sengsara
> dengan infra struktur yang serba minim dan dengan ekonomi biaya tinggi di
> atas tanah mereka yang sangat kaya.
>
> Terhadap masalah-masalah infrastruktur, transportasi, dan ekonomi di Papua
> ini  pun Presiden Jokowi telah menaruh perhatian yang sangat besar dan
> serius, dengan tak memerlukan waktu lama untuk melaksanakannya, seperti
> program tol laut, pembangunan infrastruktur jalan (trans-Papua), pelabuhan
> laut dan udara, dan pembangunan pusat tenaga listrik.
>
> Presiden-presiden sebelumnya lebih fokus perhatiannya tentang bagaimana
> caranya pemerintah pusat bisa mengeksplorasi kekayaan alam Papua
> sebesar-besarnya untuk pembangunan di Pulau Jawa yang minim kekayaan
> alamnya, sedangkan untuk Papua cukup remah-remah dari hasil eksplorasi
> kekayaan alamnya itu yang dikembalikan kepada meraka.
>
> Presiden-presiden sebelumnya tak mungkin melakukan seperti Jokowi lakukan,
> karena mereka berpikir untung-rugi pemerintah pusat ketika harus membangun
> Papua, termasuk di dalamnya untuk mensejahterakan orang-orang Papua. Mereka
> lupa betapa besarnya kekayaan alam Papua yang sudah dan sedang dieksplorasi
> selama ini.
>
> Maka itulah, selama ini biaya angkut BBM yang sangat mahal di daerah
> pedalaman Papua karena harus diangkut lewat udara itu pun dibebankan kepada
> rakyat Papua, pemerintah pusat dengan Pertamina-nya tidak mau rugi.
>
> Biaya angkut BBM termahal di Papua adalah di Kabupaten Pegunungan Bintang
> dan Puncak Jaya yang mencapai Rp. 29.000 per liter;  jadi biaya angkutnya 6
> kali lebih mahal dari harga BBM itu sendiri.
>
> Karena itulah, ketika Presiden Jokowi pertama kali menggagaskan untuk
> menyamakan harga BBM di Papua dengan harga BBM di seluruh Indonesia, Dirut
> Pertamina buru-buru mengingatkannya, Pertamina akan menderita kerugian Rp.
> 800 miliar pertahun  kalau harus menanggung ongkos angkut BBM itu.
>
> Atas pernyataan Dirut Pertamina itu, Jokowi pun menjawab – sebagaimana
> disebut di dalam pidato singkatnya saat meresmikan Bandara Nop Goliat
> Dekai, Yahukimo itu: *“Ini bukan masalah untung dan rugi, ini adalah
> masalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!”*
>
> Ya, Jokowi secara dengan sangat tepat menjawab, inilah saatnya pemerintah
> pusat mengamalkan *sila ke-lima dari Pancasila* kepada rakyat Papua.
>
> Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyinggung mengenai sikap rakyat Papua
> yang selama ini pasrah menerima saja harga BBM yang luar biasa mahalnya
> itu, berbeda jauh dengan masyarakat di daerah lain (terutaam di Jawa,
> lebih-lebih lagi di Jakarta),  yang jauh lebih maju dan sejahtera
> hidupnya; harga BBM dinaikkan Rp. 1.000 per liter saja, langsung menolak
> dengan melakukan unjuk rasa besar-besaran.
>
> Jauh sebelum Jokowi menyinggung tentang ini, masyarakat Papua sudah lama
> sering merasa heran dengan sikap manja dan cengengnya masyarakat di Jawa,
> terutama di Jakarta, yang setiap kali harga BBM dinaikkan pemerintah,
> langsung mengamuk, diprotes dengan unjuk rasa besar-besaran, sampai
> menuntut Presiden Jokowi mundur segala, bahkan tak jarang berujung pada
> unjuk rasa yang anarkis. Lebih ironis lagi itu lebih sering dilakukan oleh
> massa mahasiswa yang *nota bene* lebih terpelajar daripada rata-rata
> rakyat Papua.
>
> Seolah-olah dengan kenaikan harga BBM Rp. 1.000 per liter itu segera
> membuat mereka semua menderita jatuh miskin, hidup sengsara, padahal kalau
> beli rokok dan pulsa ponsel yang jauh lebih tinggi harganya, bukan masalah.
>
> Namun demikian, bukan berarti pula Jokowi tidak mau tahu dengan kerugian
> yang harus ditanggung BUMN itu.
>
> Jokowi tahu bahwa dibandingkan dengan hak istimewa yang diperoleh
> Pertamina dari pemerintah, dan keuntungan yang diperolehnya dari berbagai
> sektor lainnya, selama ini, kerugian Rp. 800 miliar itu relatif menjadi
> tidak berarti, karena bisa ditutupi dengan cara subsidi silang, keuntungan
> pun masih tetap besar bagi Pertamina.
>
> *“Rp, 800 miliar itu terserah dicarikan subsidi silang dari mana. Itu
> urusan Pertamina,: yang penting masyarakat Papua kini bisa menikmati harga
> premium yang sama dengan saudara-saudaranya di Jawa, merupakan bentuk
> pelayanan pemerintah Pusat kepada meraka yang tanahnya selama pulihan tahun
> diekplotasi untuk membangun Jawa.”*, kata Jokowi dalam sambutannya di
> Yahukimo itu.
>
> Jokowi sangat benar, apalagi jika dibandingkan dengan ribuan triliun
> kekayaan alam Papua yang selama puluhan tahun dan masih berlangsung terus
> sampai sekarang, dieksplorasi oleh pemerintah pusat demi membangun Jawa,
> kerugian Rp. 800 miliar per tahun itu hanyalah berupa uang receh saja.
>
> Apalagi konsumsi premium di Papua terbilang relatif kecil jika
> dibandingkan dengan daerah lainnya.
>
> Berdasarkan data dari harian *Kompas*, konsumsi premium di Papua Barat
> rata-rata 9.640 kiloliter, dan solar 3.718 kiloliter per bulan, sedangkan
> di Papua rata-rata 20.339 kiloliter premium dan 8.269 kiloliter solar per
> bulan.
>
> Bandingkan dengan konsumsi premium di DKI Jakarta saja, yang sekitar 4.000
> kiloliter per hari!
>
> Jokowi juga tak membiarkan Pertamina bekerja sendiri, dengan sokongan dari
> pemerintah pusat berupa pesawat khusus angkutan BBM, Air Tractor AT-802,
> yang dioperasikan oleh Pelita Air, anak usaha Pertamina.
>
> Satu pesawat Air Tractor AT-802 itu mampu mengangkut 4 ribu liter BBM.
> Saat ini baru ada dua unit pesawat itu, tetapi Jokowi sudah berjanji bahwa
> Pemerintah akan segera menambahnya menjadi lima unit, khusus dioperasikan
> di Papua dan Kalimantan Utara.
>
> Uang dari mana diperoleh pemerintah Pusat untuk membeli pesawat-pesawat
> itu, kalau bukan dari hasil dari penghilangan subsidi BBM yang diberlakukan
> sejak pemerintahan Presiden Jokowi berjalan itu?
>
> Sekali lagi, Jokowi membutkikan bahwa dia adalah sosok Presiden yang
> sungguh-sungguh mengabdi kepada rakyatnya, pada konteks ini, kepada rakyat
> di Papua. Hanya dalam dua tahun sejak menjadi Presiden, Jokowi sudah empat
> kali datang ke Papua dengan berbagai program dan mega proyeknya untuk
> memajukan dan mensejahterakan Papua.
>
> Cara berpikirnya dalam mengatasi berbagai masalah rakyat pun kerap “*out
> of the box*”, yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, dengan hasil
> yang luar biasa yang mulai terasa sekarang.
>
> Hanya Presiden yang punya karakter merakyat dan rendah hatinya seperti
> Jokowi-lah yang membuat dia bisa secara spontan, tanpa memandang
> kedudukannya sebagai Presiden, orang Nomor Satu di Republik ini, justru
> yang memayungi Gubernur Papua Lukas Enembe, sebagaimana fotonya saya
> gunakan sebagai ilustrasi artikel ini.
>
>
>
> *****
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke