*THE FORMER INDONESIAN PRTESIDENTS  AND ITS GOVERNMENT* *after BUNG KARNO
and  before JOKOWI  were NOT properly  the Presidents of the Nation* ( The
former Pres.Abdurrachman Wahid is an exceptional) * , but rather only
CORRUPTED  ADMINISTRATORS , instead >  Their DESIRE of POWER soon took
PRECEDENCE * - *Their DESIRE of POWER soon took PRECEDENCE - OVER ANY OTHER
ESSENTIAL CONSIDERATION that could serve and deserve for the **BENEFIT OF
THE PEOPLE and NATION > THE INDONESIAN PEOPLE and THE NATION  as a whole
.......*


*>> And they just drain Natural Resources of West Papua (Irian Barat) for
the sake of THEIR OWN  PRIVATE BUSINESS NEEDS  and as well as THE  MILITARY
BUSINESS and for The  interests of those High rankng  GOVERNMENT OFFICIALS
and some certain  High ranking corrupted Memebers of The House ...*

*____________________________________________________________________________*

(Terjemahaan Bebas)

*PRESIDEN2 INDONESIA YANG TERDAHULU DAN KABNET2 PEMERINTAHANNYA setelah *
*BUNG KARNO dan sebelum JOKOWI  ( Kecukai Mantan Pres.Abdurrachman Wahid )
 - Bukan Presiden Bangsa Indonesia , tetapi cenderung Para  PEDAGANG dan
PEJABAT ADMINISTRASI yang KORUPT. *
MEREKA lebih mendahulukan   Nafsu KEKUASAANNYA  demi untuk Kepentingan
 Mereka - *diatas segala  PERTIMBANGAN PENTING LAINNYA , yang layak
diperoleh dan bisa dimanfaatkan bagi Kepentingan dan Kesejahteraan  I
BANGSA RAKYATNYA  > BANGSA dan RAKYAT  INDONESIA *secara keseluruhannya ...

*>> Dan Mereka hanya menguras Kekayaan Alam  Papua Barat (Irian Barat )
demi untuk KEBUTUHAN BUSINESS PRIBADI2NYA MASING2 dan BUSINESS MILITER **serta
Bagi Kepentingan PEJABAT2 PEMERINTAH DAN PEJABAT2 TINGGI DPR RI YANG
KORUUPT *

*============================================================================*
​
***** Anak2 Bangsa  yang prihatin atas Nasib Tanah Airnya ..........

*​*

2016-10-20 4:58 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected] [temu_eropa] <
[email protected]>:

>
>
>
>
> From: B.DORPI P.
> Sent: Thursday, October 20, 2016 7:23 AM
>
> http://www.kompasiana.com/danielht/di-papua-presiden-jokowi-
> melakukan-hal-yang-tak-mungkin_5807b51e989373bc33d759dc
>
> 20 Oktober 2016 01:02:06
>
> Diperbarui: 20 Oktober 2016 01:10:07
>
> Di Papua, Presiden Jokowi Melakukan Hal yang Tak Mungkin
>
>
> * Foto Presiden Jokowi memayungi Gubernur Papua Barat Lukas Enembe yang
> menjadi viral (Merdeka.com) *
>
> Selasa, 18 Oktober 2016, di Kabupaten Yahukimo, Papua, Presiden Jokowi
> telah melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh presiden-presiden
> sebelumnya, -- seandainya mereka masih menjabat, yaitu memutuskan pada hari
> itu juga harga BBM di Papua disamakan dengan harga BBM di seluruh
> Indonesia, yaitu bensin Rp. 6.450 per liter, dan solar Rp. 5.450 per liter.
>
> Sebelumnya, selama puluhan tahun, di Papua, terutama di kota-kota di
> daerah pegunungan/pedalaman harga BBM bisa sampai 20 kali lipat dari harga
> normal yang berlaku di seluruh Indonesia.
>
> Ketika harga nasional premium Rp. 6.450 per liter, di Papua, terutama di
> daerah pegunungan/pedalaman, mencapai Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 100.000
> per liter.
>
>
> * Presiden-presiden sebelumnya, termasuk SBY, yang 10 tahun menjadi
> Presiden, tetapi sangat jarang ke Papua itu, tak mungkin melakukannya,
> karena mereka tidak punya perhatian yang sungguh-sungguh serius kepada
> nasib orang Papua yang selama puluhan tahun hidup menanggung sengsara
> dengan infra struktur yang serba minim dan dengan ekonomi biaya tinggi di
> atas tanah mereka yang sangat kaya.*
> Terhadap masalah-masalah infrastruktur, transportasi, dan ekonomi di Papua
> ini pun Presiden Jokowi telah menaruh perhatian yang sangat besar dan
> serius, dengan tak memerlukan waktu lama untuk melaksanakannya, seperti
> program tol laut, pembangunan infrastruktur jalan (trans-Papua), pelabuhan
> laut dan udara, dan pembangunan pusat tenaga listrik.
>
> Presiden-presiden sebelumnya lebih fokus perhatiannya tentang bagaimana
> caranya pemerintah pusat bisa mengeksplorasi kekayaan alam Papua
> sebesar-besarnya untuk pembangunan di Pulau Jawa yang minim kekayaan
> alamnya, sedangkan untuk Papua cukup remah-remah dari hasil eksplorasi
> kekayaan alamnya itu yang dikembalikan kepada meraka.
>
> Presiden-presiden sebelumnya tak mungkin melakukan seperti Jokowi lakukan,
> karena mereka berpikir untung-rugi pemerintah pusat ketika harus membangun
> Papua, termasuk di dalamnya untuk mensejahterakan orang-orang Papua. Mereka
> lupa betapa besarnya kekayaan alam Papua yang sudah dan sedang dieksplorasi
> selama ini.
>
> Maka itulah, selama ini biaya angkut BBM yang sangat mahal di daerah
> pedalaman Papua karena harus diangkut lewat udara itu pun dibebankan kepada
> rakyat Papua, pemerintah pusat dengan Pertamina-nya tidak mau rugi.
>
> Biaya angkut BBM termahal di Papua adalah di Kabupaten Pegunungan Bintang
> dan Puncak Jaya yang mencapai Rp. 29.000 per liter; jadi biaya angkutnya 6
> kali lebih mahal dari harga BBM itu sendiri.
>
> Karena itulah, ketika Presiden Jokowi pertama kali menggagaskan untuk
> menyamakan harga BBM di Papua dengan harga BBM di seluruh Indonesia, Dirut
> Pertamina buru-buru mengingatkannya, Pertamina akan menderita kerugian Rp.
> 800 miliar pertahun kalau harus menanggung ongkos angkut BBM itu.
>
> Atas pernyataan Dirut Pertamina itu, Jokowi pun menjawab – sebagaimana
> disebut di dalam pidato singkatnya saat meresmikan Bandara Nop Goliat
> Dekai, Yahukimo itu: “Ini bukan masalah untung dan rugi, ini adalah masalah
> keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!”
>
> Ya, Jokowi secara dengan sangat tepat menjawab, inilah saatnya pemerintah
> pusat mengamalkan sila ke-lima dari Pancasila kepada rakyat Papua.
>
> Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyinggung mengenai sikap rakyat Papua
> yang selama ini pasrah menerima saja harga BBM yang luar biasa mahalnya
> itu, berbeda jauh dengan masyarakat di daerah lain (terutaam di Jawa,
> lebih-lebih lagi di Jakarta), yang jauh lebih maju dan sejahtera hidupnya;
> harga BBM dinaikkan Rp. 1.000 per liter saja, langsung menolak dengan
> melakukan unjuk rasa besar-besaran.
>
> Jauh sebelum Jokowi menyinggung tentang ini, masyarakat Papua sudah lama
> sering merasa heran dengan sikap manja dan cengengnya masyarakat di Jawa,
> terutama di Jakarta, yang setiap kali harga BBM dinaikkan pemerintah,
> langsung mengamuk, diprotes dengan unjuk rasa besar-besaran, sampai
> menuntut Presiden Jokowi mundur segala, bahkan tak jarang berujung pada
> unjuk rasa yang anarkis. Lebih ironis lagi itu lebih sering dilakukan oleh
> massa mahasiswa yang nota bene lebih terpelajar daripada rata-rata rakyat
> Papua.
>
> Seolah-olah dengan kenaikan harga BBM Rp. 1.000 per liter itu segera
> membuat mereka semua menderita jatuh miskin, hidup sengsara, padahal kalau
> beli rokok dan pulsa ponsel yang jauh lebih tinggi harganya, bukan masalah.
>
> Namun demikian, bukan berarti pula Jokowi tidak mau tahu dengan kerugian
> yang harus ditanggung BUMN itu.
>
> Jokowi tahu bahwa dibandingkan dengan hak istimewa yang diperoleh
> Pertamina dari pemerintah, dan keuntungan yang diperolehnya dari berbagai
> sektor lainnya, selama ini, kerugian Rp. 800 miliar itu relatif menjadi
> tidak berarti, karena bisa ditutupi dengan cara subsidi silang, keuntungan
> pun masih tetap besar bagi Pertamina.
>
> “Rp, 800 miliar itu terserah dicarikan subsidi silang dari mana. Itu
> urusan Pertamina,: yang penting masyarakat Papua kini bisa menikmati harga
> premium yang sama dengan saudara-saudaranya di Jawa, merupakan bentuk
> pelayanan pemerintah Pusat kepada meraka yang tanahnya selama pulihan tahun
> diekplotasi untuk membangun Jawa.”, kata Jokowi dalam sambutannya di
> Yahukimo itu.
>
> Jokowi sangat benar, apalagi jika dibandingkan dengan ribuan triliun
> kekayaan alam Papua yang selama puluhan tahun dan masih berlangsung terus
> sampai sekarang, dieksplorasi oleh pemerintah pusat demi membangun Jawa,
> kerugian Rp. 800 miliar per tahun itu hanyalah berupa uang receh saja.
>
> Apalagi konsumsi premium di Papua terbilang relatif kecil jika
> dibandingkan dengan daerah lainnya.
>
> Berdasarkan data dari harian Kompas, konsumsi premium di Papua Barat
> rata-rata 9.640 kiloliter, dan solar 3.718 kiloliter per bulan, sedangkan
> di Papua rata-rata 20.339 kiloliter premium dan 8.269 kiloliter solar per
> bulan.
>
> Bandingkan dengan konsumsi premium di DKI Jakarta saja, yang sekitar 4.000
> kiloliter per hari!
>
> Jokowi juga tak membiarkan Pertamina bekerja sendiri, dengan sokongan dari
> pemerintah pusat berupa pesawat khusus angkutan BBM, Air Tractor AT-802,
> yang dioperasikan oleh Pelita Air, anak usaha Pertamina.
>
> Satu pesawat Air Tractor AT-802 itu mampu mengangkut 4 ribu liter BBM.
> Saat ini baru ada dua unit pesawat itu, tetapi Jokowi sudah berjanji bahwa
> Pemerintah akan segera menambahnya menjadi lima unit, khusus dioperasikan
> di Papua dan Kalimantan Utara.
>
> Uang dari mana diperoleh pemerintah Pusat untuk membeli pesawat-pesawat
> itu, kalau bukan dari hasil dari penghilangan subsidi BBM yang diberlakukan
> sejak pemerintahan Presiden Jokowi berjalan itu?
>
> Sekali lagi, Jokowi membutkikan bahwa dia adalah sosok Presiden yang
> sungguh-sungguh mengabdi kepada rakyatnya, pada konteks ini, kepada rakyat
> di Papua. Hanya dalam dua tahun sejak menjadi Presiden, Jokowi sudah empat
> kali datang ke Papua dengan berbagai program dan mega proyeknya untuk
> memajukan dan mensejahterakan Papua.
>
> Cara berpikirnya dalam mengatasi berbagai masalah rakyat pun kerap “out of
> the box”, yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, dengan hasil yang
> luar biasa yang mulai terasa sekarang.
>
> Hanya Presiden yang punya karakter merakyat dan rendah hatinya seperti
> Jokowi-lah yang membuat dia bisa secara spontan, tanpa memandang
> kedudukannya sebagai Presiden, orang Nomor Satu di Republik ini, justru
> yang memayungi Gubernur Papua Lukas Enembe, sebagaimana fotonya saya
> gunakan sebagai ilustrasi artikel ini.
>
> *****
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

Kirim email ke