WhhaaHA... ....Barang siapa merasa dirinya atau sampai dianggap sbg NABI ( seperti juga HABIB RIZKIE ,.....pada saat itu pula Ia akan Jatuh kedalam NERAKA BUMI .... SEBELUM SAMPAI KENERKA DIBALIK LANGIT .... Jangan kan sampai ke SURGA ....
2016-10-21 0:35 GMT+02:00 'Sunny' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > *Bagus kalau judul artikel : “Jokowi melakukan mukajizat di Papua”, supaya > pengikutnya tambah banyak karena jokowi dianggap nabi. hehehe* > > *From:* Marco 45665 <[email protected]> > *Sent:* Thursday, October 20, 2016 11:57 PM > *To:* mailto:[email protected] <[email protected]> ; > Sunny <[email protected]> ; RKB <[email protected]> ; Chalik > Hammid <[email protected]> ; Jakarta Globe > <[email protected]> ; mailto:[email protected] > <[email protected]> ; NESARE <[email protected]> ; Yahoo! > Inc. <[email protected]> ; Hubert Tanzil > <[email protected]> ; Dharma Hutauruk <[email protected]> ; S. > Manap <[email protected]> ; Group <[email protected]> > *Cc:* GELORA_In <[email protected]> ; kh djie <[email protected]> ; > mailto:[email protected] <[email protected]> > *Subject:* Re: [temu_eropa] Fw: Di Papua, Presiden Jokowi Melakukan Hal > yang Tak Mungkin > > *THE FORMER INDONESIAN PRTESIDENTS AND ITS GOVERNMENT* *after BUNG KARNO > and before JOKOWI were NOT properly the Presidents of the Nation* ( The > former Pres.Abdurrachman Wahid is an exceptional) *, but rather only > CORRUPTED ADMINISTRATORS , instead > Their DESIRE of POWER soon took > PRECEDENCE *- *Their DESIRE of POWER soon took PRECEDENCE - OVER ANY > OTHER ESSENTIAL CONSIDERATION that could serve and deserve for the **BENEFIT > OF THE PEOPLE and NATION > THE INDONESIAN PEOPLE and THE NATION as a whole > .......* > > > *>> And they just drain Natural Resources of West Papua (Irian Barat) for > the sake of THEIR OWN PRIVATE BUSINESS NEEDS and as well as THE MILITARY > BUSINESS and for The interests of those High rankng GOVERNMENT OFFICIALS > and some certain High ranking corrupted Memebers of The House ...* > > > *____________________________________________________________________________* > > (Terjemahaan Bebas) > > *PRESIDEN2 INDONESIA YANG TERDAHULU DAN KABNET2 PEMERINTAHANNYA setelah * > *BUNG KARNO dan sebelum JOKOWI ( Kecukai Mantan Pres.Abdurrachman Wahid > ) - Bukan Presiden Bangsa Indonesia , tetapi cenderung Para PEDAGANG dan > PEJABAT ADMINISTRASI yang KORUPT. * > MEREKA lebih mendahulukan Nafsu KEKUASAANNYA demi untuk Kepentingan > Mereka - *diatas segala PERTIMBANGAN PENTING LAINNYA , yang layak > diperoleh dan bisa dimanfaatkan bagi Kepentingan dan Kesejahteraan I > BANGSA RAKYATNYA > BANGSA dan RAKYAT INDONESIA *secara keseluruhannya .. > . > > *>> Dan Mereka hanya menguras Kekayaan Alam Papua Barat (Irian Barat ) > demi untuk KEBUTUHAN BUSINESS PRIBADI2NYA MASING2 dan BUSINESS MILITER **serta > Bagi Kepentingan PEJABAT2 PEMERINTAH DAN PEJABAT2 TINGGI DPR RI YANG > KORUUPT * > > > *============================================================================* > > ***** Anak2 Bangsa yang prihatin atas Nasib Tanah Airnya .......... > > ** > > 2016-10-20 4:58 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected] [temu_eropa] < > [email protected]>: > >> >> >> >> >> From: B.DORPI P. >> Sent: Thursday, October 20, 2016 7:23 AM >> >> http://www.kompasiana.com/danielht/di-papua-presiden-jokowi- >> melakukan-hal-yang-tak-mungkin_5807b51e989373bc33d759dc >> >> 20 Oktober 2016 01:02:06 >> >> Diperbarui: 20 Oktober 2016 01:10:07 >> >> Di Papua, Presiden Jokowi Melakukan Hal yang Tak Mungkin >> >> >> *Foto Presiden Jokowi memayungi Gubernur Papua Barat Lukas Enembe yang >> menjadi viral (Merdeka.com) * >> >> Selasa, 18 Oktober 2016, di Kabupaten Yahukimo, Papua, Presiden Jokowi >> telah melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh presiden-presiden >> sebelumnya, -- seandainya mereka masih menjabat, yaitu memutuskan pada hari >> itu juga harga BBM di Papua disamakan dengan harga BBM di seluruh >> Indonesia, yaitu bensin Rp. 6.450 per liter, dan solar Rp. 5.450 per liter. >> >> Sebelumnya, selama puluhan tahun, di Papua, terutama di kota-kota di >> daerah pegunungan/pedalaman harga BBM bisa sampai 20 kali lipat dari harga >> normal yang berlaku di seluruh Indonesia. >> >> Ketika harga nasional premium Rp. 6.450 per liter, di Papua, terutama di >> daerah pegunungan/pedalaman, mencapai Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 100.000 >> per liter. >> >> >> *Presiden-presiden sebelumnya, termasuk SBY, yang 10 tahun menjadi >> Presiden, tetapi sangat jarang ke Papua itu, tak mungkin melakukannya, >> karena mereka tidak punya perhatian yang sungguh-sungguh serius kepada >> nasib orang Papua yang selama puluhan tahun hidup menanggung sengsara >> dengan infra struktur yang serba minim dan dengan ekonomi biaya tinggi di >> atas tanah mereka yang sangat kaya.* >> Terhadap masalah-masalah infrastruktur, transportasi, dan ekonomi di >> Papua ini pun Presiden Jokowi telah menaruh perhatian yang sangat besar dan >> serius, dengan tak memerlukan waktu lama untuk melaksanakannya, seperti >> program tol laut, pembangunan infrastruktur jalan (trans-Papua), pelabuhan >> laut dan udara, dan pembangunan pusat tenaga listrik. >> >> Presiden-presiden sebelumnya lebih fokus perhatiannya tentang bagaimana >> caranya pemerintah pusat bisa mengeksplorasi kekayaan alam Papua >> sebesar-besarnya untuk pembangunan di Pulau Jawa yang minim kekayaan >> alamnya, sedangkan untuk Papua cukup remah-remah dari hasil eksplorasi >> kekayaan alamnya itu yang dikembalikan kepada meraka. >> >> Presiden-presiden sebelumnya tak mungkin melakukan seperti Jokowi >> lakukan, karena mereka berpikir untung-rugi pemerintah pusat ketika harus >> membangun Papua, termasuk di dalamnya untuk mensejahterakan orang-orang >> Papua. Mereka lupa betapa besarnya kekayaan alam Papua yang sudah dan >> sedang dieksplorasi selama ini. >> >> Maka itulah, selama ini biaya angkut BBM yang sangat mahal di daerah >> pedalaman Papua karena harus diangkut lewat udara itu pun dibebankan kepada >> rakyat Papua, pemerintah pusat dengan Pertamina-nya tidak mau rugi. >> >> Biaya angkut BBM termahal di Papua adalah di Kabupaten Pegunungan Bintang >> dan Puncak Jaya yang mencapai Rp. 29.000 per liter; jadi biaya angkutnya 6 >> kali lebih mahal dari harga BBM itu sendiri. >> >> Karena itulah, ketika Presiden Jokowi pertama kali menggagaskan untuk >> menyamakan harga BBM di Papua dengan harga BBM di seluruh Indonesia, Dirut >> Pertamina buru-buru mengingatkannya, Pertamina akan menderita kerugian Rp. >> 800 miliar pertahun kalau harus menanggung ongkos angkut BBM itu. >> >> Atas pernyataan Dirut Pertamina itu, Jokowi pun menjawab – sebagaimana >> disebut di dalam pidato singkatnya saat meresmikan Bandara Nop Goliat >> Dekai, Yahukimo itu: “Ini bukan masalah untung dan rugi, ini adalah masalah >> keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!” >> >> Ya, Jokowi secara dengan sangat tepat menjawab, inilah saatnya pemerintah >> pusat mengamalkan sila ke-lima dari Pancasila kepada rakyat Papua. >> >> Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyinggung mengenai sikap rakyat Papua >> yang selama ini pasrah menerima saja harga BBM yang luar biasa mahalnya >> itu, berbeda jauh dengan masyarakat di daerah lain (terutaam di Jawa, >> lebih-lebih lagi di Jakarta), yang jauh lebih maju dan sejahtera hidupnya; >> harga BBM dinaikkan Rp. 1.000 per liter saja, langsung menolak dengan >> melakukan unjuk rasa besar-besaran. >> >> Jauh sebelum Jokowi menyinggung tentang ini, masyarakat Papua sudah lama >> sering merasa heran dengan sikap manja dan cengengnya masyarakat di Jawa, >> terutama di Jakarta, yang setiap kali harga BBM dinaikkan pemerintah, >> langsung mengamuk, diprotes dengan unjuk rasa besar-besaran, sampai >> menuntut Presiden Jokowi mundur segala, bahkan tak jarang berujung pada >> unjuk rasa yang anarkis. Lebih ironis lagi itu lebih sering dilakukan oleh >> massa mahasiswa yang nota bene lebih terpelajar daripada rata-rata rakyat >> Papua. >> >> Seolah-olah dengan kenaikan harga BBM Rp. 1.000 per liter itu segera >> membuat mereka semua menderita jatuh miskin, hidup sengsara, padahal kalau >> beli rokok dan pulsa ponsel yang jauh lebih tinggi harganya, bukan masalah. >> >> Namun demikian, bukan berarti pula Jokowi tidak mau tahu dengan kerugian >> yang harus ditanggung BUMN itu. >> >> Jokowi tahu bahwa dibandingkan dengan hak istimewa yang diperoleh >> Pertamina dari pemerintah, dan keuntungan yang diperolehnya dari berbagai >> sektor lainnya, selama ini, kerugian Rp. 800 miliar itu relatif menjadi >> tidak berarti, karena bisa ditutupi dengan cara subsidi silang, keuntungan >> pun masih tetap besar bagi Pertamina. >> >> “Rp, 800 miliar itu terserah dicarikan subsidi silang dari mana. Itu >> urusan Pertamina,: yang penting masyarakat Papua kini bisa menikmati harga >> premium yang sama dengan saudara-saudaranya di Jawa, merupakan bentuk >> pelayanan pemerintah Pusat kepada meraka yang tanahnya selama pulihan tahun >> diekplotasi untuk membangun Jawa.”, kata Jokowi dalam sambutannya di >> Yahukimo itu. >> >> Jokowi sangat benar, apalagi jika dibandingkan dengan ribuan triliun >> kekayaan alam Papua yang selama puluhan tahun dan masih berlangsung terus >> sampai sekarang, dieksplorasi oleh pemerintah pusat demi membangun Jawa, >> kerugian Rp. 800 miliar per tahun itu hanyalah berupa uang receh saja. >> >> Apalagi konsumsi premium di Papua terbilang relatif kecil jika >> dibandingkan dengan daerah lainnya. >> >> Berdasarkan data dari harian Kompas, konsumsi premium di Papua Barat >> rata-rata 9.640 kiloliter, dan solar 3.718 kiloliter per bulan, sedangkan >> di Papua rata-rata 20.339 kiloliter premium dan 8.269 kiloliter solar per >> bulan. >> >> Bandingkan dengan konsumsi premium di DKI Jakarta saja, yang sekitar >> 4.000 kiloliter per hari! >> >> Jokowi juga tak membiarkan Pertamina bekerja sendiri, dengan sokongan >> dari pemerintah pusat berupa pesawat khusus angkutan BBM, Air Tractor >> AT-802, yang dioperasikan oleh Pelita Air, anak usaha Pertamina. >> >> Satu pesawat Air Tractor AT-802 itu mampu mengangkut 4 ribu liter BBM. >> Saat ini baru ada dua unit pesawat itu, tetapi Jokowi sudah berjanji bahwa >> Pemerintah akan segera menambahnya menjadi lima unit, khusus dioperasikan >> di Papua dan Kalimantan Utara. >> >> Uang dari mana diperoleh pemerintah Pusat untuk membeli pesawat-pesawat >> itu, kalau bukan dari hasil dari penghilangan subsidi BBM yang diberlakukan >> sejak pemerintahan Presiden Jokowi berjalan itu? >> >> Sekali lagi, Jokowi membutkikan bahwa dia adalah sosok Presiden yang >> sungguh-sungguh mengabdi kepada rakyatnya, pada konteks ini, kepada rakyat >> di Papua. Hanya dalam dua tahun sejak menjadi Presiden, Jokowi sudah empat >> kali datang ke Papua dengan berbagai program dan mega proyeknya untuk >> memajukan dan mensejahterakan Papua. >> >> Cara berpikirnya dalam mengatasi berbagai masalah rakyat pun kerap “out >> of the box”, yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, dengan hasil yang >> luar biasa yang mulai terasa sekarang. >> >> Hanya Presiden yang punya karakter merakyat dan rendah hatinya seperti >> Jokowi-lah yang membuat dia bisa secara spontan, tanpa memandang >> kedudukannya sebagai Presiden, orang Nomor Satu di Republik ini, justru >> yang memayungi Gubernur Papua Lukas Enembe, sebagaimana fotonya saya >> gunakan sebagai ilustrasi artikel ini. >> >> ***** >> >> [Non-text portions of this message have been removed] >> >> > > >
