Ente ini sudah gila ya. Ente yg pakai kata “berlindung” itu bukan ane!
Yang mempermasalahkannya adalah ente! Masalahnya adalah ente pake’ utk bashing pejabat Indonesia! Masalah itu gak penting bagi ane. Sudah ane tulis. Debt to GDP itu data. Begitu juga DSR dan semua indicator itu ada asumsinya. Yang menggunakannya itu yang harus mempertanggungjawabkan. Ini persepsi. Bagi ente Debt to GDP ratio itu ente bilang dipakai pejabat utk “berlindung”. Ane gak pikir begitu. Itu hanya data dan data itu adalah fakta. Koq aneh2 saja ente ini….pake nanya ane apa artinya “berlindung”. Ente mau lari ya dari artinya DSR yang ente gak ngerti? Sekarang mungkin sudah tahu ya setelah google2 sedikit….hehehehehe dan sekarang lari ke “berlindung”. YANG MAU BERLINDUNG ITU ENTE!!!!!! Sudah tahu jawabannya ane? Kalau belum nih ane ulangi lagi: rasio2 itu adalah data dan data itu adalah fakta. Bukan pejabat yang berlindung dengan menggunakan Debt to GDP ratio, melainkan ente yang menggunakan DSR utk bashing Jokowi. Mau bukti ente bashing Jokowi pake’ issue DSR ini? dan ini sudah ente utak atik dari dulu!!!! Bukan sekarang saja!!!! Ini buktinya: ane tanya apa artinya apa DSR tier 2 = 67.7%? Kenapa prihatin? Gimana ceritanya 67.7% itu menjelaskan gali lubang tutup lubang? Ente gak jawab!!!!! Gimana bisa ente mau bashing Jokowi pake’ DSR sedangkan artinya saja ente gak ngerti???!!! Ini ane kasih jawabannya lebih banyak lagi: coba cari negara2 yang DSR nya gede. Ada yang lebih dari 100% loh!!!! Ini ane kasih clue: bekas negara2 USSR, bekas negara2 eropa timur, di afrika Liberia dll. Dah baca belum? Lebih dari 100% artinya apa? negaranya roboh?!!! Oh ya DSR yg dipakai adalah menurut ilmu ekonomi yaitu: total debt payment : income from total export. Ente itu gak ngerti ekonomi. Sibuknya hanya bashing saja!!! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Friday, October 21, 2016 12:59 PM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Anda mempermasalahkan pemakaian kata "berlindung", tentu saya pingin tahu bagaimana anda mengartikan kata itu dalam konteks ini. Bagi saya itu sudah jelas dan tepat, dan karena anda yg mempermasalahkan kata2 itu tentu jelaskan saja dimana yg anda rasa kurang tepat dan kata apa yg anda pandang tepat. ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : ente ini kalau bukan gila, apalagi ya? Yg nulis “berlindung” siapa? Ente ‘kan? Koq nanya ane? Bener2 pura2 tidak gila ya? Hehehehehe Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Friday, October 21, 2016 10:54 AM To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> > Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Bagaimana anda mengartikan kata "berlindung" dalam konteks ini? ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Jonathan: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US Nesare: ente ini aneh aneh saja. koq berlindung. Itu data. Lah kalau ente pake’ DSR itu apa tidak berlindung utk bashing Indonesia? Jonathan: tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! Jonathan: Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi? Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! Jonathan: Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi? Jonathan: Bagian mana yg nggak ngerti? Nesare: bener2 aneh orang satu ini. sudah ane komentari. Eh malahan bertanya setelah kebingungan atas tulisannya sendiri. ini tulisan ente yg membingungkan itu: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. Nih ane tambahkan extra komentar ane tempo hari: kalimat pertama ente menghubungkan Debt to GDP ratio dengan interest rate Jepang dan USA yang rendah. Ente gak kasih penjelasan sama sekali apalagi supporting idea apa hubungan kedua binatang ini. Kedua ente lalu menulis “dus…” artinya ente langsung bikin kesimpulan bahwa: “tingkat bunga yg tinggi” dst…..ente lagi ngomong apa dengan “tingkat suku bunga tinggi” ini? tadinya bilang suku bunga jepang dan USA rendah, terus bilang suku bunga tinggi. Lucunya yg terakhir langsung ente bikin ultimatum bahwa ada “suku bunga, ada pinjaman, eksport lesu mengakibatkan DSR tinggi” mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah? Gimana “suku bunga, ada pinjaman, eksport lesu mengakibatkan DSR tinggi” adalah cermin kemampuan utang yg rendah? Emangnya Indonesia default? Emangnya kreditor tidak percaya dan tidak kasih pinjaman lagi ke Indonesia? Makanya ane tanyakan berulang2 kali apa artinya DSR 5%, 9%, 15%,19%, 30%, 41%, 87% dst? Taruh misalnya DSR 100% artinya apa? Indonesia kolaps? Kreditur gak akan kasih pinjaman atau apa? Udahan akh….panjang2 juga gak dibaca. Gimana mau baca? Tulisan sendiri saja ente bingung sendiri….hehehehehehe Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Thursday, October 20, 2016 3:01 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Bagian mana yg nggak ngerti? ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Oh jelas yg kuning itu bukan komentar ane. Itu tulisan ente yg membingungkan! Ane minta ente jelaskan tulisan ente yg kuning2 itu! Gak keruan2 baca saja gak ngerti??!!!! Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 3:41 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang rasanya yg dikuningin itu bukan komentar ente ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Ya perlu sekali dijelaskan. Ene gak ngerti ! ane sudah kasih komentar ane. tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 2:22 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi? --- Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Jonathan: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US Nesare: ente ini aneh aneh saja. koq berlindung. Itu data. Lah kalau ente pake’ DSR itu apa tidak berlindung utk bashing Indonesia? Jonathan: tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 1:35 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. --- "Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu. ... Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman. ... <http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang> http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Oleh : Ahluwalia | Rabu, 19 Oktober 2016 | 10:42 WIB <http://static.inilah.com/data/berita/foto/2332600.jpg> Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Foto: inilahcom) INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2016 sebesar 323 miliar dollar AS.Beban utang itu harus ditanggung generasi mendatang. Utang Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, hingga Juli 2016 lalu, utang Indonesia telah mencapai Rp3.359,82 triliun. Dalam kaitan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi utang di Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Jepang. Sebab, rasio utang di Jepang mencapai dua kali dari gross domestic product (GDP) negara tersebut. "Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu. Melambatnya ekspor tersebut menyebabkan rasio pinjaman terhadap penerimaan ekspor atau debt to service ratio (DSR) Indonesia juga kian meningkat. Pada kuartal kedua 2016, DSR Indonesia (tier-1) mencapai 35,07%, naik dari kuartal sebelumnya yang sebesar 33,11%. DSR merupakan indikator kemampuan sebuah negara dalam melunasi utang. Semakin besar angka DSR maka kemampuan negara tersebut dalam melunasi utang semakin melemah. Adapun batas aman DSR menurut International Monetary Fund (IMF) yaitu sebesar 45%. Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, peningkatan DSR perlu diwaspadai karena kondisinya memburuk seiring dengan terus menurunnya penerimaan ekspor. "Beberapa kebijakan yang semestinya dilakukan pemerintah adalah melunasi ULN saat jatuh tempo dan tidak memperpanjangnya. Kemudian, memperketat ULN swasta, kecuali yang berorientasi ekspor," ujarnya Selain itu, utang perlu ditujukan pada sektor produksi yang berdampak luas bagi pembangunan. "Misalnya, pembangunan insfrastruktur dan atau pemberian insentif bagi UKM," katanya. Dalam kaitan ini, pembangunan kawasan ekonomi yang berorientasi ekspor mesti digenjot. Tujuannya, memperkuat sistem logistik sehingga ekspor lebih efisien. Laporan Bank Indonesia (BI) menyebut, posisi ULN Indonesia akhir Juni 2016 sebesar US$ 323,8 miliar, atau naik 6,2% year on year (YoY). Sementara itu, pada kuartal kedua tahun ini, total ekspor (barang, jasa, pendapatan, dan transfer) sebesar US$ 176,13 miliar, turun dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 179,26 miliar. Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada Agustus 2016 tumbuh sebesar 6,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Juli 2016 yang sebesar 6,6 persen (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka pendek terus mengalami penurunan, sementara ULN jangka panjang tumbuh melambat. Berdasarkan kelompok peminjam, ULN sektor swasta mengalami penurunan, sementara ULN sektor publik mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang. Posisi ULN jangka panjang pada akhir Agustus 2016 mencapai 282,5 miliar dollar AS atau 87,5 persen dari total ULN. Posisi ULN jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat sebesar 40,5 miliar dollar AS atau 12,5 persen dari total ULN. Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. Pada akhir Agustus 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai 163,3 miliar dollar AS atau 50,6 persen dari total ULN, sementara ULN sektor publik sebesar 159,7 miliar dollar AS atau 49,4 persen dari total ULN. (Message over 64 KB, truncated)
