Oh jelas yg kuning itu bukan komentar ane. Itu tulisan ente yg membingungkan!
Ane minta ente jelaskan tulisan ente yg kuning2 itu! Gak keruan2 baca saja gak ngerti??!!!! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 3:41 PM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang rasanya yg dikuningin itu bukan komentar ente ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : Ya perlu sekali dijelaskan. Ene gak ngerti ! ane sudah kasih komentar ane. tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 2:22 PM To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> > Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi? --- Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Jonathan: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US Nesare: ente ini aneh aneh saja. koq berlindung. Itu data. Lah kalau ente pake’ DSR itu apa tidak berlindung utk bashing Indonesia? Jonathan: tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini? Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, October 19, 2016 1:35 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. --- "Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu. ... Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman. ... <http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang> http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang Beban Utang Jerat Generasi Mendatang Oleh : Ahluwalia | Rabu, 19 Oktober 2016 | 10:42 WIB <http://static.inilah.com/data/berita/foto/2332600.jpg> Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Foto: inilahcom) INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2016 sebesar 323 miliar dollar AS.Beban utang itu harus ditanggung generasi mendatang. Utang Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, hingga Juli 2016 lalu, utang Indonesia telah mencapai Rp3.359,82 triliun. Dalam kaitan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi utang di Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Jepang. Sebab, rasio utang di Jepang mencapai dua kali dari gross domestic product (GDP) negara tersebut. "Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu. Melambatnya ekspor tersebut menyebabkan rasio pinjaman terhadap penerimaan ekspor atau debt to service ratio (DSR) Indonesia juga kian meningkat. Pada kuartal kedua 2016, DSR Indonesia (tier-1) mencapai 35,07%, naik dari kuartal sebelumnya yang sebesar 33,11%. DSR merupakan indikator kemampuan sebuah negara dalam melunasi utang. Semakin besar angka DSR maka kemampuan negara tersebut dalam melunasi utang semakin melemah. Adapun batas aman DSR menurut International Monetary Fund (IMF) yaitu sebesar 45%. Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, peningkatan DSR perlu diwaspadai karena kondisinya memburuk seiring dengan terus menurunnya penerimaan ekspor. "Beberapa kebijakan yang semestinya dilakukan pemerintah adalah melunasi ULN saat jatuh tempo dan tidak memperpanjangnya. Kemudian, memperketat ULN swasta, kecuali yang berorientasi ekspor," ujarnya Selain itu, utang perlu ditujukan pada sektor produksi yang berdampak luas bagi pembangunan. "Misalnya, pembangunan insfrastruktur dan atau pemberian insentif bagi UKM," katanya. Dalam kaitan ini, pembangunan kawasan ekonomi yang berorientasi ekspor mesti digenjot. Tujuannya, memperkuat sistem logistik sehingga ekspor lebih efisien. Laporan Bank Indonesia (BI) menyebut, posisi ULN Indonesia akhir Juni 2016 sebesar US$ 323,8 miliar, atau naik 6,2% year on year (YoY). Sementara itu, pada kuartal kedua tahun ini, total ekspor (barang, jasa, pendapatan, dan transfer) sebesar US$ 176,13 miliar, turun dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 179,26 miliar. Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada Agustus 2016 tumbuh sebesar 6,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Juli 2016 yang sebesar 6,6 persen (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka pendek terus mengalami penurunan, sementara ULN jangka panjang tumbuh melambat. Berdasarkan kelompok peminjam, ULN sektor swasta mengalami penurunan, sementara ULN sektor publik mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang. Posisi ULN jangka panjang pada akhir Agustus 2016 mencapai 282,5 miliar dollar AS atau 87,5 persen dari total ULN. Posisi ULN jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat sebesar 40,5 miliar dollar AS atau 12,5 persen dari total ULN. Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. Pada akhir Agustus 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai 163,3 miliar dollar AS atau 50,6 persen dari total ULN, sementara ULN sektor publik sebesar 159,7 miliar dollar AS atau 49,4 persen dari total ULN. ULN sektor swasta masih mengalami penurunan 3,9 persen (yoy) pada Agustus 2016, sementara ULN sektor publik tumbuh 19,2 persen (yoy). Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir Agustus 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,5 persen. Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada Agustus 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi. Beban utang luar negeri (ULN) sektor negara dan swasta makin tinggi, sehingga pemerintah harus bisa menggunakan utang untuk hal-hal produktif, terutama sector ekonomi yang berorientasi ekspor. ULN swasta harus diperketat, sebab sudah jadi beban rakyat. Banyaknya kebocoran dan inefisiensi telah membuat beban utang negara dan swasta itu menjerat ekonomi rakyat, dan akibatnya, menjadi persoalan struktural yang membelenggu perekonomian bangsa kita dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Sampai kapan kita menanggung beban utang? Hampir pasti sampai sekian generasi ke depan. (berbagai sumber) [rok]
