Bagaimana anda mengartikan kata "berlindung" dalam konteks ini?
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Jonathan: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik 
Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun 
USNesare: ente ini aneh aneh saja. koq berlindung. Itu data. Lah kalau ente 
pake’ DSR itu apa tidak berlindung utk bashing Indonesia?Jonathan: tetapi 
sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah 
sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. 
Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus 
dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan 
kemampuan bayar utang yg rendah.Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak 
tulisan ente diatas ini?Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih 
enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar 
Indonesia!Jonathan: Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks 
pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan 
disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi?Nesare: gak keruan2 
lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente diatas ini?Kalau interest rate rendah di 
jepang dan USA kan lebih enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus 
dibayar Indonesia!Jonathan: Anda belagak pilon lagi atau nggak ngerti konteks 
pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah jelas tingkat bunga yg dibicarakan 
disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu diperjelas lagi?Jonathan: Bagian 
mana yg nggak ngerti?Nesare: bener2 aneh orang satu ini. sudah ane komentari. 
Eh malahan bertanya setelah kebingungan atas tulisannya sendiri. ini tulisan 
ente yg membingungkan itu: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali 
berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah 
dibandingkan Jepang ataupun US tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat 
bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan 
Jepang menerapkan negative interest rate. Dus tingkat bunga yang tinggi 
ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan eksport yang lesu 
mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan kemampuan bayar utang yg 
rendah. Nih ane tambahkan extra komentar ane tempo hari: kalimat pertama ente 
menghubungkan Debt to GDP ratio dengan interest rate Jepang dan USA yang 
rendah. Ente gak kasih penjelasan sama sekali apalagi supporting idea apa 
hubungan kedua binatang ini. Kedua ente lalu menulis “dus…” artinya ente 
langsung bikin kesimpulan bahwa: “tingkat bunga yg tinggi” dst…..ente lagi 
ngomong apa dengan “tingkat suku bunga tinggi” ini? tadinya bilang suku bunga 
jepang dan USA rendah, terus bilang suku bunga tinggi. Lucunya yg terakhir 
langsung ente bikin ultimatum bahwa ada “suku bunga, ada pinjaman, eksport lesu 
mengakibatkan DSR tinggi” mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah? Gimana 
“suku bunga, ada pinjaman, eksport lesu mengakibatkan DSR tinggi” adalah cermin 
kemampuan utang yg rendah? Emangnya Indonesia default? Emangnya kreditor tidak 
percaya dan tidak kasih pinjaman lagi ke Indonesia? Makanya ane tanyakan 
berulang2 kali apa artinya DSR 5%, 9%, 15%,19%, 30%, 41%, 87% dst? Taruh 
misalnya DSR 100% artinya apa? Indonesia kolaps? Kreditur gak akan kasih 
pinjaman atau apa? Udahan akh….panjang2 juga gak dibaca. Gimana mau baca? 
Tulisan sendiri saja ente bingung sendiri….heheheheheheNesare    From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, October 20, 2016 3:01 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang  Bagian mana yg 
nggak ngerti? ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Oh jelas yg kuning itu bukan komentar ane. Itu tulisan ente yg 
membingungkan!Ane minta ente jelaskan tulisan ente yg kuning2 itu!Gak keruan2 
baca saja gak ngerti??!!!! Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, October 19, 2016 3:41 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang   rasanya yg 
dikuningin itu bukan komentar ente ---In [email protected], 
<nesare1@...> wrote :


Ya perlu sekali dijelaskan. Ene gak ngerti ! ane sudah kasih komentar ane. 
tetapi sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat 
rendah sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest 
rate. Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik 
terus dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang 
mencerminkan kemampuan bayar utang yg rendah. From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, October 19, 2016 2:22 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang   Anda belagak 
pilon lagi atau nggak ngerti konteks pembicaraan, yg dibicarakan DSR ya sudah 
jelas tingkat bunga yg dibicarakan disini utk Japan dan US debt. Apakah perlu 
diperjelas lagi?---Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak tulisan ente 
diatas ini?Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih enak buat 
Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :



Jonathan: Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik 
Debt to GDP Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun 
USNesare: ente ini aneh aneh saja. koq berlindung. Itu data. Lah kalau ente 
pake’ DSR itu apa tidak berlindung utk bashing Indonesia? Jonathan: tetapi 
sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah 
sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. 
Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus 
dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan 
kemampuan bayar utang yg rendah.Nesare: gak keruan2 lagi. Ente ngerti enggak 
tulisan ente diatas ini?Kalau interest rate rendah di jepang dan USA kan lebih 
enak buat Indonesia donk? Bunganya kan rendah yg harus dibayar Indonesia! 
Nesare   From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, October 19, 2016 1:35 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Beban Utang Jerat Generasi Mendatang   Para pejabat 
Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP Ratio yang 
konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US tetapi sayangnya 
tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah sekali 
dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. Dus 
tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus dengan 
eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan 
kemampuan bayar utang yg rendah. ---"Kalau di Jepang utangnya telah mencapai 
dua kali GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih 
tinggi lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus 
lalu....Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar 
Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan 
penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio 
utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan 
pembayaran 
pinjaman....http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatangBeban
 Utang Jerat Generasi Mendatang
Oleh : Ahluwalia | Rabu, 19 Oktober 2016 | 10:42 WIB
  Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Foto: inilahcom) INILAHCOM, Jakarta - Bank 
Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2016 
sebesar 323 miliar dollar AS.Beban utang itu harus ditanggung generasi 
mendatang.Utang Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, 
hingga Juli 2016 lalu, utang Indonesia telah mencapai Rp3.359,82 triliun.Dalam 
kaitan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi utang di 
Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Jepang. Sebab, rasio utang 
di Jepang mencapai dua kali dari gross domestic product (GDP) negara 
tersebut."Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita 
bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding 
utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu.Melambatnya ekspor tersebut 
menyebabkan rasio pinjaman terhadap penerimaan ekspor atau debt to service 
ratio (DSR) Indonesia juga kian meningkat. Pada kuartal kedua 2016, DSR 
Indonesia (tier-1) mencapai 35,07%, naik dari kuartal sebelumnya yang sebesar 
33,11%.DSR merupakan indikator kemampuan sebuah negara dalam melunasi utang. 
Semakin besar angka DSR maka kemampuan negara tersebut dalam melunasi utang 
semakin melemah. Adapun batas aman DSR menurut International Monetary Fund 
(IMF) yaitu sebesar 45%.Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat 
kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika 
dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio 
(DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan 
kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman.Ekonom Bank Permata Josua Pardede 
menyatakan, peningkatan DSR perlu diwaspadai karena kondisinya memburuk seiring 
dengan terus menurunnya penerimaan ekspor. "Beberapa kebijakan yang semestinya 
dilakukan pemerintah adalah melunasi ULN saat jatuh tempo dan tidak 
memperpanjangnya. Kemudian, memperketat ULN swasta, kecuali yang berorientasi 
ekspor," ujarnyaSelain itu, utang perlu ditujukan pada sektor produksi yang 
berdampak luas bagi pembangunan. "Misalnya, pembangunan insfrastruktur dan atau 
pemberian insentif bagi UKM," katanya.
Dalam kaitan ini, pembangunan kawasan ekonomi yang berorientasi ekspor mesti 
digenjot. Tujuannya, memperkuat sistem logistik sehingga ekspor lebih 
efisien.Laporan Bank Indonesia (BI) menyebut, posisi ULN Indonesia akhir Juni 
2016 sebesar US$ 323,8 miliar, atau naik 6,2% year on year (YoY). Sementara 
itu, pada kuartal kedua tahun ini, total ekspor (barang, jasa, pendapatan, dan 
transfer) sebesar US$ 176,13 miliar, turun dari kuartal sebelumnya yang sebesar 
US$ 179,26 miliar.Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada Agustus 2016 tumbuh 
sebesar 6,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 
Juli 2016 yang sebesar 6,6 persen (yoy).
Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka pendek terus mengalami penurunan, 
sementara ULN jangka panjang tumbuh melambat.Berdasarkan kelompok peminjam, ULN 
sektor swasta mengalami penurunan, sementara ULN sektor publik mengalami 
peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.Berdasarkan jangka waktu asal, 
posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang.Posisi ULN jangka 
panjang pada akhir Agustus 2016 mencapai 282,5 miliar dollar AS atau 87,5 
persen dari total ULN.Posisi ULN jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat 
sebesar 40,5 miliar dollar AS atau 12,5 persen dari total ULN.Berdasarkan 
kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor 
swasta.Pada akhir Agustus 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai 163,3 miliar 
dollar AS atau 50,6 persen dari total ULN, sementara ULN sektor publik sebesar 
159,7 miliar dollar AS atau 49,4 persen dari total ULN.ULN sektor swasta masih 
mengalami penurunan 3,9 persen (yoy) pada Agustus 2016, sementara ULN sektor 
publik tumbuh 19,2 persen (yoy).Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir 
Agustus 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, 
pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor 
tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,5 persen.Bank Indonesia 
memandang perkembangan ULN pada Agustus 2016 masih cukup sehat, namun terus 
mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Ke depan, Bank Indonesia 
akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta.Hal itu 
dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal 
dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat 
memengaruhi stabilitas makroekonomi.Beban utang luar negeri (ULN) sektor negara 
dan swasta makin tinggi, sehingga pemerintah harus bisa menggunakan utang untuk 
hal-hal produktif, terutama sector ekonomi yang berorientasi ekspor. ULN swasta 
harus diperketat, sebab sudah jadi beban rakyat.Banyaknya kebocoran dan 
inefisiensi telah membuat beban utang negara dan swasta itu menjerat ekonomi 
rakyat, dan akibatnya, menjadi persoalan struktural yang membelenggu 
perekonomian bangsa kita dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Sampai 
kapan kita menanggung beban utang? Hampir pasti sampai sekian generasi ke 
depan. (berbagai sumber)[rok]   

Kirim email ke