http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/18/12405661/bisnis.ahok.di.kepulauan.seribu


Kolom
Saidiman Ahmad
Peneliti Politik dan Kebijakan Publik Saiful Mujani Research and Consulting; 
Alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University.

.
Bisnis Ahok di Kepulauan Seribu

Jessi Carina Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memanen ikan kerapu di 
perairan Kepulauan Seribu, Selasa (26/9/2016). 
Oleh: Saidiman Ahmad


Ribuan orang memadati jalan Merdeka Selatan Jakarta Jumat lalu. Mereka 
memprotes pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu. Apa 
yang sebetulnya dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu? Mari kita cuplik.

Selasa siang yang terik itu, 27 September 2016, Ahok asyik mengayunkan jaring 
ke dalam keramba. Ada beberapa ikan yang terjerat. Seekor kerapu berwarna gelap 
ia angkat. "Ini satu ekor bisa Rp 300.000 loh. Kalau dijual restoran yang sudah 
matang bisa jutaan ini," ujar Ahok (Kompas.com, 27/09).

Investasi

Pada kunjungan dinas itu, Ahok menyampaikan komitmen pemerintah provinsi untuk 
membantu peningkatan ekonomi warga melalui program budidaya ikan. Melalui skema 
investasi, pemerintah provinsi akan menyediakan bantuan berupa keramba, bibit 
ikan dan pakan kepada para nelayan.

Pada tahap pertama, ada 10 unit yang dikembangkan berisi 40 keramba seluas 3 
kali 3 meter. Dengan jumlah benih rata-rata 250 per kotak, dibutuhkan sekitar 
10 ribu benih ikan.

Pada 27 September lalu, Ahok telah menyebar 4 ribu benih ikan. Pemberian benih 
lanjutan sebanyak 4 ribu akan dilakukan pada bulan November dan 2 ribu pada 
bulan Desember.

Sementara itu, pemerintah provinsi juga akan menggelontorkan biaya pakan dan 
biaya hidup selama lima bulan ke depan. Biaya yang akan dikeluarkan sekitar 90 
juta rupiah.

Keuntungannya akan dibagi 80:20, di mana warga pengelola budidaya akan 
memperoleh 80 persen dari keuntungan, sementara pemodal, yakni Pemprov, 
memeroleh 20 persen.

Sebetulnya ini kurang lazim dalam dunia bisnis. Dalam dunia tauke, pola 
kerjasama semacam ini akan membagi keuntungan 10:90, di mana pengelola 
mendapatkan 10 persen dari keuntungan, sementara pemilik modal mendapatkan 90 
persen. Tapi ini bukan bisnis murni, melainkan kebijakan sosial yang dibungkus 
dengan paradigma bisnis.

Mengapa dilakukan dalam bentuk bisnis? Pertanyaan ini sangat relevan mengingat 
pola kebijakan publik pada masyarakat demokratis yang sekarang mengalami 
kecenderungan redistribusi langsung.

Negara mengambil pajak dari warga kaya untuk kemudian didistribusikan secara 
tunai pada masyarakat yang kurang beruntung. Pola kebijakan publik semacam ini 
terlihat bagus di awal pelaksanaannya, namun memiliki cacat yang bisa 
melumpuhkan.

Kebijakan ini bisa berjalan ketika negara memiliki dana, namun akan mati bila 
negara sudah mulai kehabisan sumber daya.

Selain itu, pola kebijakan transfer tunai itu juga akan menyebabkan budaya 
ketergantungan warga kurang beruntung pada pemerintah.

Tren kebijakan sosial yang diterapkan di pelbagai negara selalu menyertakan 
prasyarat perubahan kultur dan perilaku masyarakat miskin.

Contohnya adalah bantuan pendidikan kepada masyarakat miskin dengan syarat 
seluruh bayi yang ada dalam keluarga si miskin melakukan kunjungan rutin ke 
rumah sakit untuk imunisasi. Contoh lain adalah bantuan dengan syarat kehadiran 
anak di sekolah mencapai target tertentu.

Yang dibutuhkan oleh warga miskin lebih dari bantuan langsung kebutuhan pokok. 
Yang jauh lebih dibutuhkan oleh masyarakat untuk keluar dari lingkaran 
kemiskinan adalah akses pada modal dan budaya kerja keras.

Karena itu, kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip bisnis bisa menjadi 
solusi bagi keberlangsungan siklus ekonomi.

Dalam sebuah acara talkshow di Berita Satu, Nadiem Makarim (pendiri dan CEO 
Go-Jek) menyatakan bahwa salah satu motivasi dia menciptakan Go-Jek adalah 
kepedulian sosial.

Dia melihat bahwa Go-Jek yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip bisnis itu 
sesungguhnya adalah upaya untuk menyelesaikan persoalan kemacetan di ibu kota.

Dia melihat bahwa kemacetan membuat kegiatan ekonomi warga tidak efektif dan 
efisien. Karena itu, mengatasi kemacetan adalah upaya untuk meningkatkan 
ekonomi. Nadiem berpendapat bahwa program sosial yang bisa berkelanjutan adalah 
bisnis.

Di dalam bisnis, semua pihak bekerja berdasarkan kepentingan pribadi. 
Besar-kecilnya pemenuhan kepentingan pribadi ditentukan oleh seberapa besar 
usaha dan upaya para pihak yang menjalankan bisnis itu.

Selama kepentingan pribadi ada di situ, maka selama itu pula kegiatan bisnis 
akan berjalan dan dipertahankan. Situasi di mana semua orang mengejar 
kepentingan pribadinya akan menciptakan kemaslahan umum yang berkelanjutan.

The Tragedy of the Common

Yang juga menarik dari program Basuki Tjahaja Purnama ini adalah mengapa ia 
memilih budidaya dan bukan memperbaiki teknologi dan alat tangkap ikan?

Mayoritas warga Kepulauan Seribu mengandalkan penghasilan dari laut. Dari tahun 
ke tahun, hasil tangkapan ikan mengalami penurunan. Dalam kacamata sederhana, 
mestinya solusi yang ditawarkan oleh pemerintah adalah membantu peningkatan 
kemampuan nelayan untuk menangkap ikan. Dengan begitu, secara cepat penghasilan 
warga bisa bertambah.

Yang dilakukan oleh Ahok justru sebaliknya. Ia tawarkan pada warga untuk 
memelihara dan membesarkan ikan.

Pada 20 September 2016 dan di banyak kesempatan lain, Ahok menyatakan bahwa ke 
depan kegiatan tangkap ikan di laut lepas akan semakin ditinggalkan. Dunia 
perikanan akan masuk ke dalam budidaya.

Pandangan Ahok ini memiliki konsekuensi yang cukup jauh. Ini akan menimbulkan 
semacam revolusi dunia nelayan. Selama ini paradigma konvensional melihat laut 
sebagai ladang tempat menuai hasil yang takkan pernah habis. Karena itu, 
nelayan bekerja untuk memetik hasil laut tanpa harus berkontribusi menumbuhkan 
dan merawat hasil laut itu sendiri.

Sedangkan melalui budidaya, nelayan bergerak dari sekedar penangkap hasil laut 
menjadi pencipta dan perawat hasil laut. Di sini, nelayan diberi beban 
tanggung-jawab. Besar-kecilnya hasil tergantung dari kerja-keras merawat 
keramba dan ikan-ikan di dalamnya.

Dengan adanya tanggung-jawab semacam ini, masing-masing individu akan menjaga 
laut, minimal laut tempat keramba mereka berada, karena itu terkait erat dengan 
penghasilan mereka.

Mari kita pakai analogi bunga agar lebih jelas. Biasanya bunga liar yang tumbuh 
pinggir jalan atau tempat umum tidak tumbuh secara maksimal. Bunganya 
kecil-kecil. Gampang kering. Kerdil. Padahal semua orang senang memandang dan 
mencium harum baunya.

Bandingkan dengan bunga yang ada di tanam pribadi. Biasanya bunga di taman 
pribadi lebih berseri dan lebih harum.

Itu terjadi karena pada lapangan umum atau pinggir jalan umum, tidak ada yang 
merasa memiliki. Akibatnya, tidak ada yang benar-benar peduli dan 
pertanggungjawab atas pertumbuhan bunga tersebut.

Sementara di taman pribadi, minimal ada satu individu yang bertanggung-jawab 
penuh untuk menyiram dan memberi pupuk.

Demikian halnya dengan ikan di laut. Kian hari ikan di laut lepas kian 
berkurang. Di pinggiran pantai, hanya ikan-ikan kecil yang kekurangan gizi yang 
bertahan hidup. Tidak ada yang peduli karena hasil dari kepedulian individu itu 
tidak akan dimonopoli oleh si individu itu sendiri.

Akibatnya, semua ingin memetik hasil tapi tak mau berkontribusi merawat dan 
membesarkan ikan-ikan. Beda halnya jika ada kepastian bahwa mereka yang merawat 
dan membesarkan, mereka pula yang akan memetik hasil.

Melalui pola budidaya, laut di pinggiran pantai bisa kembali produktif 
menghasilkan ikan-ikan berkualitas tinggi. Ikan-ikan yang dirawat dengan 
sepenuh usaha.

Ahok tidak ingin menjalankan bisnis ini perkelompok, melainkan per-orang. Dalam 
praktiknya, budidaya ikan ini bisa dilakukan per-kelompok, tapi tetap yang 
bertanggung-jawab adalah perorangan.

Prinsip ini kelihatan sepele, tapi sangat penting. Pertanggung-jawaban pada 
perorangan akan membuat kerja lebih efektif karena ada mekanisme kontrol yang 
jelas.

Kerja kelompok biasanya tidak akan berjalan efektif karena masing-masing 
anggota bisa saling mengandalkan. Akibatnya, kegiatan budidaya ikan bisa 
terbengkalai.

Bertempat di perairan Karang Lebar, Kelurahan Pulau Panggang, 8 orang alumnus 
sekolah perikanan asal Kepulauan Seribu dipersiapkan menjadi pembudidaya 
professional.

Mereka diberi modal keramba, bibit ikan, dan pakan. Ke depan, mereka diharapkan 
menjadi pengusaha di bidang perikanan.

Pada bulan Februari 2017, diperkirakan panen pertama sebanyak 4 ribu ekor ikan 
dengan perkiraan hasil sebanyak 87,5 juta rupiah. Artinya, pengelola akan 
memperoleh hasil pertama sekitar 70 juta rupiah (80%) dan pemodal (Pemprov) 
sebesar 17,5 juta rupiah (20%).

Melalui program budidaya tahap awal ini, warga Kepulauan Seribu akan 
mendapatkan pelatihan langsung dari para alumnus sekolah perikanan. Mereka juga 
akan melihat bagaimana budidaya itu dijalankan.

Ke depan, warga yang telah siap akan menjadi pemain-pemain utama dalam budidaya 
ini. Sangat mungkin mereka juga akan menjadi pemasok utama kebutuhan ikan di 
ibu kota, bahkan ekspor.

Walaupun membahas kunjungan Ahok ke Kepulauan Seribu, inisiatif pengembangan 
ekonomi warga ini luput dari materi orasi pada demonstrasi besar di depan 
Balaikota hari Jumat yang lalu. Sayang sekali.

      Editor : Wisnubrata 

Kirim email ke