Dari ulasan bung, saya merasakan adanya kepentingan melihat variable diluar 
ekonomi. Ini sangat benar. Ekonomi itu walaupun penting tetapi masalah yg 
dihadapi oleh Indonesia itu bukan hanya ekonomi saja.

 

Bung telah menyebutkan politik, hokum, ekonomi, pemilu, pilkada dll. Management 
dan terutama fungsi control nya juga sudah bung tekankan sangat penting.

Ini kalau kita kupas akan kelihatannya bahwa Indonesia itu perlu system. System 
nya yg ambaradul. System sekarang walaupun sudah ada either kalau tidak jalan, 
or biasanya dibikin utk kepentingan suatu golongan. 

 

Banyak orang mempersoalkan antara system dan orang seperti telur dan ayam. Mana 
yg duluan?

Utk Indonesia saya pikir harus dibentuk system nya dulu. Orangnya sudah parah. 
Hampir semuanya kacau. Bikin system yg ketat shg kalau ada orang2 jujur seperti 
Jokowi, ahok dll bisa tenang bekerja. Kalau system tidak ada, bisa2 orang2 
sejujur Jokowi dan ahok pun bisa ikut2an. Saya sudah lihat orang2 baik pulang 
dari luar negeri dengan idealism tinggi, sesampainya diindonesia jadi gak kuat. 
Gak kuatnya karena 2 faktor: ikut2an kelompok dan ikut2an keluarga yg perlu 
duit utk ngepulin dapur. Tidak mudah jadi orang baik di Indonesia itu.

 

Yang namanya mental itu memang bobrok. Sederhana sekali kalau kita mau lihat. 
Orang melihat orang telanjang dinegara maju, persepsi nya adalah masalah sopan 
dan santun. Berbeda diindonesia, kalau orang melihat orang telanjang, persepsi 
yg terjadi adalah lust/nafsu. Paling2 yg teriak2 kelompok agamais yg mencerca 
orang2 telanjang tetapi didalamnya mereka yang mengaku agamais ini juga nonton 
BF seperti Amin Rais yg suka nonton BF waktu sekolah di Univ. Of Chicago. 
Benar2 munafik!

 

Salam

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, October 22, 2016 11:01 AM
To: GELORA_In <[email protected]>; NESARE <[email protected]>; Sunny 
<[email protected]>; RKB <[email protected]>; kh djie 
<[email protected]>; Hsin Hui Lin <[email protected]>; Temu Eropa 
<[email protected]>; Roeslan <[email protected]>; Jun Artemas 
<[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] 2050, Indonesia terbesar keempat dunia setelah China, 
India dan AS

 

  

NESARE  wrote :

Betul masalahnya jangan terkonsentrasi di jawa saja. otonomi daerah sudah 
digalakkan tetapi problem selanjutnya yg terbentuk adalah raja2 didaerah yg 
luar biasa kacaunya sekarang ini. Dulu sentralisasi bikin repot. Sekarang 
otonomi juga repot malahan lebih repot. Memang repot ngurus Indonesia itu.

Ini memang masalah mental. Hokum harus diperketat utk ngurusin mental ini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Sedikit OPINI dari saya.

 

APA yang saya perhatikan dan simak secara umum sekian lama ialah bahwa :

> KELEMAHAN  yang paling menyolok dan Pokok  dari SYSTEM PEREKONOMIAN INDONESIA 
> dipandang dari segi Macro  maupun Micro EKONOMI  - justru terletak pada  
> System Pengendalian atau >> Management Systemnya. ( > Khusus untuk Pers dan 
> Media  - jadi Bukan  seperti yang biasa diartikulasikan oleh para EXPERT ORBA 
> secara "ILMIAH" .....sbg "System Penglolaaan " )

 

Hal ini pun  dengan sendirinya nampak Tidak saja hanya pada  MANAGEMENT SYSTEM 
DIBIDANG EKONOMI, tetapi justru jelas pulan Terpancar dan nampak dibidang HUKUM 
 dan KEHIDUPAN POLITIK  ( SYSTEM KEPARTIAN , SYSTEM PEMILU  ... sampai pada 
SYSTEM KEUANGAN dan SPONSORING,dll  .... yang kesemuanya perlu DIKONTROL dengan 
seksama  sert merata dan terorganisir dngan baik diseluruh wilayah kedaulatan 
R.I....  dengan  kata lain Must be always Under CONTROL ..... atau semuanya 
akan menjadi OUT OF CONTROL dan berjalan secara Buas dan Anarchis.....

 

>> Hal tsb diatas  ( dimana  kerap kali terjadi Krimininalisasi Politik 
>> tremasuk dalam Proces  PEMILU ataupun PIKLADA  ... contoh; Kampanye Hitam , 
>> Sogokan dan Main Ancam dalam segal Bentuknya ,   Beahviour yang Anarchis dan 
>> Tak urung pula  POLITIK KUTU LONCAT > yang tak jemu2nya Loncat Kesan 
>> -Kemari.... terkadang tak jarang - dan kerap kali TURUT CAMPUR atas Wewenang 
>> Resort Lain  yang Tidak masuk dalam Kompetesnsi dan Pertanggung Jawabannya 
>> ..... Tapi perlu memaksakan Hadir dimana saja , dan disetiap saat .... dan 
>> senang Berkomentar {KOSONG)  dimuka MEDIA ...... untuk memeberi Kesan  

dmuka Publik dan Media  bhw " IA adalah Sosok Pejabat yg perlu didengar dan 
Yang paling yakin serta paling Tegas dan Paling Berani serta Yang Paling Benar  
"...........? , MEMEBELI SUARA  dng Memeberikan Pesangon , Timbel , dll .

PARTAI2 POLITIK 

 

> Para Pejabat Tinggi Pemerintah segala level  (Pusat dan Daerah / dampai 
> Tingkat terendah  ) dan hampir disegala Jajaran Horizontalnya  (Tingat 
> Kementrian) sangat Tidak memperhatikan Masalah Pokok tsb diatas , kemungkinan 
> justru Mereka kurang Memperhatikan dan bahkan mungkin Kurang  Memahami (atau 
> kurang mendalami) Pemahaman tentang FUNGSI dan  PERANAN "MANAGEMENT "  (dalam 
> hal ini Khususunya -KEPEMIMPINAN ) dalam arti yang Luas dan Keseluruhannya . 

 

MANAGEMENT SYSTEM as an ESSENTIAL TOOL of Economic& Political  System (sebagai 
ALAT MEKANIK dari System Ekonomi dan Politik )  , baik dari segi  Ekonomi 
Umumnya (Macro Econ.Strategy )  dan Kehidupan Ekonomi Praktis ( Micro & 
Business Administration ) , maupun dalam segi KEHIDUPAN POLITIK dan SOCIAL 
khususnya - adalah merupakan ALAT  MECHANIK dari Suatu MODEL atau System 
Pemerintahan , tanpa ALAT tersebut  ( Management System YANG BAIK DAN MEMBUMI ) 
 tak mungkin suatu System /Model Ekonomi dan Politik akan bisa berhasil dengan 
baik dan menghasilkan Hasil yang benar2 diharapkan  Bangsanya,

 

>> Dan salah satu INSTRUMENT MANAGEMENT YANG PALING POKOK  adalah CONTROL 
>> SYSTEM ( atau System KONTROL) yang sangat erat hubungannya dng SYSYTEM dan 
>> SUPERMASI HUKUM   .... Begitu erat hubungannya bagiakan bagian yang Tak 
>> mungkin dipisahkan satu dari yang lainnya - bagaikan " DUA sisi dari SATU  
>> Mata Uang"

Dan system Kontrol yang sangat baik harus mempnyai 2 Aspekt/ Sifat ( Seperti 
HUKUM itu sendiri)  yaitu : ** Yang Pertama : PREVENSI  sifatnya  

                             ** sedangkan yg Kedua: SANKSI HUKUM  ( Tindak 
Represive Hukum )   

 

Kesimpulannya yang kIta dapat ialah , bhw BAGAIMANA SYSTEM HUKUM begitu pula 
akan langsugng - tak langsung akan terpancar dalam Level dan Mutu dari System 
KONTROLnya Pemerintah (baik Pusat maupun Daerah) demikian juga akan terbawa2 
didalam Sysytm Organisasi dan System Kerja dan Behaviour  Perusahaan2 ( Sfera 
Micro ekonomi )  Mulai dari Top  Manager /Pimpinan Tertinggi  Perusahaan yg 
bersangkutan sampai pada mata rantai UNIT2 yang langsung berkecimpung didalam 
Bidang Usaha, Produksi dan Jasa  dan berakhir pada yang paling detail > Pada  
Behaviour  Para Pegawai bawahannya ,dll ,dll.... 

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Contoh yang paling Praktis dan Jelas nyata  untuk bisa dipahami Publik awam dan 
oleh seluruh Lapisan Masyarakat umumnya  , ialah jika Kita meminjam Contoh 
Hidup sebagai Proto Typ  dari Prakteik Kehidupan Manusia se-hari2... misalnya:

 

> Kehidupan setiap Keluarga adalah suatu Contoh dari Jasad Hidup sebagai NANO 
> system dari KEHIDUPAN EKONOMI yang kongkret  dari Kehidupan Masyarakat bangsa 
> yang  bisa kita pinjam sebagai Contoh yang terkecil ( Nano sample)  sbb :   

> Bagaimana Kepala Keluarga mengatur Keuangan dan Ekonomi Rumah tangganya , dan 
> bagaimana Seoarng Kepala Keluarga merencanakan Kehidupan Keluarganya (- 
> Pendidikan dan Masa Depan Anak2nya - Memperhatikan Kebutuhan Anak2 dan 
> keluarganya ( termasuk Kebutuhan , kegiatan Mental  yang creative  dan 
> Aktivitas Prakrtis sehari2...,dll,dll  ).... akan demikian pula KEDUDUKAN 
> KUKUH  atau LEMAHNYA , BERHASIL atau GAAGALNYA SUATU KELUARGA dan MASA 
> DEPANNYA sehubungan dengan KEHIDUPAN DI KELILINGNYA.......

 

Sekian dulu secara singkat dan umum. Dan maafkan sperntara ini saya  masih 
banyak urusan yang saya perlu selesaikan dan saya terpaksa memotong Ulsan sya 
tsb diatas, mengingat bahw a Maslahnya sangat luas untuk dikupas dan waktu saya 
ssangat trebatas untuk bisa menulis lebih detail .

Salam hangat sampai y.ad <http://y.ad> ,

Marc.

 

=============================================================================

 

2016-10-22 14:46 GMT+02:00 [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> >:

  

Bukan mimpi!

Dari PDB atau GDP itu bisa terjadi. Memang arahnya kesitu.

 

Dulu saya pernah lihat sawah coklat. Saking luasnya harus naik helicopter utk 
monitor. Pemiliknya hanya pemilik “kecil”. Artinya ada yg lebih gede2 lagi dan 
export ke luar negeri terutama perusahaan coklat seperti van houten itu.

 

Betul masalahnya jangan terkonsentrasi di jawa saja. otonomi daerah sudah 
digalakkan tetapi problem selanjutnya yg terbentuk adalah raja2 didaerah yg 
luar biasa kacaunya sekarang ini. Dulu sentralisasi bikin repot. Sekarang 
otonomi juga repot malahan lebih repot. Memang repot ngurus Indonesia itu.

Ini memang masalah mental. Hokum harus diperketat utk ngurusin mental ini.

 

Maju terus. Sedikit demi sedikit beresin yg kacau2 itu. Sudah bagus dimulai dgn 
sarana dan prasarana serta revolusi mental.

Ditindaklanjuti terus…..

 

 

Salam

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ] 
Sent: Saturday, October 22, 2016 8:04 AM
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: [GELORA45] 2050, Indonesia terbesar keempat dunia setelah China, India 
dan AS

 

  

res : Mimpi bagus, cuma saja yang dikatakan Indonesia adalah pulau Jawa, karena 
semuanya terkonsentrsi di pulau Jawa, maka oleh sebab itu ada istilah 
“Jawasentris”. Wilayah di luar pulau Jawa hanya menjadi sumber bahan mentah dan 
pasar konsumsi.  Bagi yang masih ingat coklat. Biji coklat dari Hindia Belanda 
dibawa ke Belanda. disana diolah dan dikirim kembali ke Hindia Belanda untuk 
dijual sebagai “chocolade” merk  Van Houten.

 

http://www.antaranews.com/berita/591648/2050-indonesia-terbesar-keempat-dunia-setelah-china-india-dan-as

 


2050, Indonesia terbesar keempat dunia setelah China, India dan AS


Sabtu, 22 Oktober 2016 10:31 WIB | 4.649 Views

Pewarta: R.H. Napitupulu

  <http://img.antaranews.com/new/2016/08/ori/20160815027.jpg> 

(ANTARA/Puspa Perwitasari) 

Yogyakarta (ANTARA News) - Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat dunia 
pada 2050, berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) dengan perhitungan 
keseimbangan kemampuan berbelanja per kapita, kata seorang pakar dari Australia.

"Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan sangat signifikan, yakni dari 
urutan kesembilan menjadi keempat dunia. Sementara Brasil naik dua peringkat, 
dari urutan ketujuh menjadi urutan kelima pada 2050," kata Hal Hill, ekonom 
Crawford School of Public Policy (Fakultas Kebijakan Publik), Universitas 
Nasional Australia di kampus Universitas Gadjah Mada, Sabtu.

Menurut dia, negara-negara besar yang sekarang tergolong maju belum tentu akan 
sama maju pada masa yang akan datang karena pusat daya tarik dunia mulai 
bergerak dari Atlantik ke Asia Pasifik.

Berdasarkan proyeksinyam ada lima negara yang akan menjadi negara terbesar, 
yakni China, India, Amerika Serikat, Indonesia, dan Brasil yang tiga di 
antaranya ada di Asia.

Ia menuturkan, berdasarkan PDB dengan perhitungan keseimbangan kemampuan 
berbelanja (PPP) per kapita, China pada 2014, kemudian pada 2030 sampai 2050 
akan tetap pada urutan pertama. India dari urutan ketiga akan naik dan bertukar 
posisi dengan AS pada urutan kedua. 

Hill juga memaparkan daya tarik ekonomi dunia berubah sejalan juga dengan 
kemajuan ekonomi yang dialami negara-negara di Asia Tenggara.

Salah satu laporan World Bank mencatat, sedikitnya ada 13 negara dari 150 
negara yang pertumbuhan ekonominya di bawah 10 persen selama 100 tahun dan yang 
menarik hampir semua negara dalam kelompok ini berasal dari Asia.

Dari Asia Timur ada China, Hong Kong, Jepang, Korea, dan Taiwan, sedangkan dari 
Asia Tenggara ada Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand,  kata Hill.

"Indonesia mulai mengejar. Kita tahu, pada tahun 1960-an, Indonesia sangat 
miskin namun mampu bangkit maju. Yang tidak maju menurut ukuran ini adalah 
Filipina karena selama lebih dari 60 tahun mengalami kemiskinan, jika 
dibandingkan dengan Amerika. Bangladesh dan Kamboja juga demikian," demikian 
Hill. 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2016

 



Kirim email ke