Bung Hamid kok gak ada sumbernya, padahal artikel sangat bagus.
Kalau dihubungkan dengan kejadian saat ini kayak masuk akal, dimana uang di 
hambur-hamburkan hanya unutk beli nasi bungkus dan sewa kendaraan
Info di FB masak sponsor dari Tuhan, memangnya tuhan bisa bikin uang

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, November 03, 2016 2:19 PM
To: Yahoo! Inc.; Jaringan Kerja Indonesia; Gelora 45; Sastra Pembebasan; Yahoo! 
Inc.; Yahoo! Inc.; DISKUSI FORUM HLD
Subject: [**EXTERNAL**] Trs: [GELORA45] SUBIANTO: MENGAPA JOKOWI HARUS 
DIJATUHKAN MELALUI AHOK??



Pada Kamis, 3 November 2016 6:56, "kh djie 
[email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45]" 
<[email protected]<mailto:[email protected]>> menulis:



02/11/16 17.29.30: SUBIANTO: MENGAPA JOKOWI HARUS DIJATUHKAN MELALUI AHOK??

Demo yg konon akan besar2-an di Istana Negara dll pd 4 November 16 ditujukan 
menekan Jokowi supaya tidak melindungi Ahok. Supaya Jokowi nyuruh Kapolri 
penjarakan Ahok.

Apakah Jokowi akan nuruti tekanan itu? Hanya orang bodoh yg percaya. Jika 
Tuntutan mereka itu dipenuhi maka akan berlanjut dgn tekanan berikutnya. Jokowi 
tahu skenario itu.

Mereka para penggerak demo dan para bandarnya berusaha sekuat tenaga supaya 
Jokowi jatuh sebelum MARET 2017. Mengapa??

Saat itu lah masa berlaku Tax Amnesty berakhir. Berarti para pengemplang pajak 
yg tidak ikut TA akan menjadi sasaran buruan petugas pajak.

Untuk memburu para pengemplang pajak itu, Jokowi telah menyiapkan Ditjen Pajak 
sekuat lembaga sejenis di Amerika Serikat, IRS. Lembaga pajak ini akan bergerak 
seperti KPK.

Mengapa Ditjen Pajak diperkuat? Ya, karena pajak akan dijadikan sumber utama 
pembiayaan pembangunan, sesuai potensi yg ada. Selama ini potensi pajak luar 
biasa, tapi tidak jadi riil karena banyak pengusaha dan politisi tidak bayar 
pajak karena bisa kongkalikong dgn penguasa.

Jokowi mau praktek kotor masa lalu itu diakhiri. Dia mau bersih. Pajak menjadi 
titik tolak karena ketidakpatuhan terhadap kewajiban bayar pajak menjadi sumber 
dari praktek2 kotor dlm bisnis, birokrasi, dan politik.

Praktek kotor yg selama ini terjadi adalah sebagai berikut: Kolusi 
pebisnis-birokrat-politisi memungkinkan semua pihak itu ngemplang pajak. Dari 
pajak yg seharusnya masuk kas negara, mereka punya dana berlebih untuk gaya 
hidup mereka, juga untuk menggerakkan mesin politik, demi memperkuat posisi 
diri pribadi atau kelompoknya.

Mereka dgn leluasa mampu membayari ormas-ormas bayaran untuk tujuan mereka. 
Para petinggi Ormas-ormas itu pun senang krn hidup mereka dicukupi, termasuk 
bisa punya Hammer.

Apa jadinya jika aksi BERSIH Jokowi dijalankan? Mereka akan kehilangan dana 
ekstra yg besar, dan yg lebih penting aliran uang mereka akan terbuka jelas 
karena ada kewajiban membuat laporan SPT. Jadi, mereka akan jauh lebih sulit 
untuk mengendalikan partai, dan membayari Ormas-ormas bayaran.

Siapa mereka itu? Ditjen Pajak sudah mengantongi nama-nama mereka, juga dana 
mereka. Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan setelah periode TA pertama berakhir 
September lalu, masih sekitar 3.000 komisaris dan direksi perusahaan tambang yg 
belum melaporkan pajaknya. Itu baru sektor pertambangan, belum sektor politik, 
birokrat, penguasa daerah, dll.

Pada contoh pertambangan, kalangan ini sudah sama2 tahu bahwa ada satu 
perusahaan tambang batubara kelas berat yg ngemplang pajak 10 tahun sebanyak Rp 
18 Triliyun!! Si bos perusahaan bisa ngemplang sedemikian lama krn dulu bagian 
dr kekuasaan! Partai dg gampang dia kendalikan.

Si bos itu kini sudah pasti resah. Begitu pun para politisi yang hidup dari 
uang kemplangan pajak itu. Gerak politik mereka jelas makin sempit krn tak lagi 
gampang mendapatkan mesiu jika sampai Jokowi terus berkuasa.

Maka jelas sudah aksi "tangkap Ahok" tak lebih dari bentuk ketakutan 
orang-orang kotor yg takut disapu BERSIH Jokowi.

Sapu bersih melalui jalur pajak ini hanyalah salah satu dr beberapa strategi 
Jokowi un mereformasi sistem politik-ekonomi Indonesia yg sudah sakit parah 
oleh ulah para pengusaha-birokrat-politisi hitam.

Jokowi belajar dari pengalaman AS. Untuk menumpas Mafia, pemerintah AS dulu 
menggunakan dinas pajak IRS, bukan FBI.

Untuk persiapan membuat Dirjen Pajak sehebat IRS Kemenkeu kini sudah 
"menyekolahkan" sekitar 2.000 orang pajak muda untuk belajar cara kerja IRS di 
AS, dan di beberapa negara lainnya.

Maka sebelum itu terjadi, Jokowi harus dilengserkan dengan berbagai cara. Jika 
sampai Maret 2017 upaya mereka itu gagal, maka hidup dan gerak mereka akan 
makin sulit. Bahkan sebagian dr mereka sudah pasti bakal masuk bui, atau kabur 
ke luar negeri dan masuk DPO Interpol. (**)

.


Sent from my iPhone
[https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif]


Kirim email ke