res : Industri pertahanan NKRI membuat perlengkapan militer atas dasar lisensi, 
karena kalau diproduksi di negeri asal akan lebih mahal disebabkan upah buruh 
yang tinggi di bandingkan di Indonesia. Contoh lisensi ialah senapan (Belgia), 
Panser, APC (Turki), Kapal perang (Belanda) etc. Jadi harganya lebih murah 
dibandingkan kalau diproduksi di negeri asal.

http://www.antaranews.com/berita/593942/menteri-bumn-dorong-kemandirian-industri-pertahanan

Menteri BUMN dorong kemandirian industri pertahanan
Kamis, 3 November 2016 15:37 WIB | 708 Views
Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
 
Menteri BUMN Rini Soemarno (ANTARA /Audy Alwi)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno 
mendorong kemandirian industri pertahanan menjadi modal upaya untuk memperkuat 
pertahanan maritim.

"Indonesia sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudra memiliki 
kewajiban untuk membangun kekuatan pertahanan maritim yang aman dan andal baik 
dari sisi sumber daya manusia maupun dalam perlengkapan peralatan pertahanan 
keamanan yang memadai dan didukung oleh kemampuan industri pertahana yang 
mandiri," kata Rini Soemarno dalam acara seminar industri pertahanan di Jakarta 
International Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka 
perlu mengelola dan membangun kembali budaya maritim Indonesia, menjaga dan 
mengelola sumber daya laut dengan memberikan memberikan prioritas pengembangan 
infrastruktur dan konektivitas maritim seperti tol laut dan industri perkapalan 
termasuk peralatan pertahanan dan keamanan. 

Dalam seminar internasional yang bertema "Achieving Comprehensive Maritime 
Surveillance and Security through Technology Innovation and Partnerships" itu, 
Rini mengatakan kekuatan sumber daya manusia Indonesia harus didukung dengan 
kemampuan teknologi dan ketersediaan alat pertahanan dan keamanan untuk menjaga 
wilayah mulai dari permukaan laut hingga samudra.

Untuk itu, Rini yang juga Wakil Ketua Harian Komite Kebijakan Industri 
Pertahanan (KKIP) menuturkan tidak mungkin hanya bergantung dan menyerahkan 
diri pada pengadaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri 
saja.

"Kita harus mampu mengembangkan industri pertahanan yang terpadu dan bermutu," 
tuturnya.

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, 
Dia mengatakan Komite Kebijakan Industri Pertahanan mempunyai tugas yang sangat 
strategis untuk menjamin dan mengatur alat peralatan pertahanan dan keamanan 
dari industri dalam negeri dan juga mengharuskan untuk ikut dalam negeri 
mendapatkan mandat sebesar-besarnya saat di mana pengadaan harus dilakukan di 
luar negeri.

"Tugas KKIP bukan hanya mensukseskan dalam hal pengadaan namun juga 
memperhitungkan faktor strategis lainnya dalam mengikuti ketepatan kebutuhan 
ketepatan jumlah ketepatan jumlah ketepatan anggaran," ujar Wakil Ketua Harian 
KKIP Rini.

Dia menekankan tugas KKIP yang tidak kalah penting adalah pengembangan industri 
pertahanan nasional yang menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan global.

"Dalam kesempatan ini saya mohon kepada para pengguna dan tim pelaksana dalam 
perencanaan selalu mengutamakan preferensi untuk mengembangkan dan memperdalam 
kemampuan industri pertahanan kita," ujarnya.

Dalam mendorong kemandirian industri pertahanan, Rini menuturkan kerja sama 
antar semua pemangku kepentingan dan semua negara harus terus dilanjutkan. 

Selain itu, dia mengatakan Indonesia dapat bernegosiasi dengan produsen besar 
dunia dan pemilik teknologi mutakhir untuk menjadi mitra dalam mengembangkan 
kemampuan berproduksi dalam negeri dan menjadi bagian dalam pemenuhan kebutuhan 
dunia. 

"Hal ini tentunya dapat tercapai kalau kita pengguna, tim pelaksana KKIP dan 
BUMN maupun pelaku usaha lainnya yang ditetapkan sebagai pemandu utama baik 
utuk udara, laut maupun darat dapat bahu membahu bernegosiasi dengan 
produsen-produsen besar dan pemilik teknologi mutakhir untuk mendapatkan yang 
terbaik bagi rakyat indonesia dan tentunya diharapkan memberikan kontribusi 
yang sebesar-besarnya bagi perekonomian kita," ujarnya.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Kirim email ke