1. "kualitas pendidikan Indonesia paling rendah". Mengapa mesti heran
kalau masuk sekolah saja mesti "main sogok" lalu ijazah gampang didapat
kalau berani bayar. Bukankah demikian prakteknya? Semenjak 1965 disegala
sudut dan bidang sudah berjalan tidak pada tempatnya.......babenya saja
(Soeharto) koruptor besar. Bagaimana yang bawahan nggak niru?
2. Dan khusus untuk bung "Sunny" tentang "di taman firdaus itu
menurutnya terdapat malaekat-malaekat cantik lagi sexy yang memberi
pelayanan rochniah" itu hanyalah impian disiang bolong orang-orang
padang pasir, karena dinegerinya susah melihat perempuan cantik, maka
diberilah harapan bakal mendapat malaekat
cantik.......ha......ha........maka berbondong-bondonglah orang
mengharap dan mengharap........ha........ha.......! Lelaki mana yang
nggak suka diberi malaekat cantik.......???
------ Original Message ------
From: "'Sunny' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To:
Sent: Thursday, 3 Nov, 2016 At 7:18 PM
Subject: [GELORA45] Kualitas Pendidikan Indonesia Paling Rendah di Dunia
res : Berita agak lama tetapi apakah masih aktual?
Sebenarnya tak perlu dihiraukan dengan pendidikan duniawi, kata seorang
ahli ilmu langitan. Menurutnya buat apa pendidikan ilmu duniawi
berkualitas tinggi, bukankah hidup di dunia ini hanya
sebentar,dibandingkan kehidupan kekal di dunia seberang, di sana di
taman firdaus terdapat kehidupan kekal penuh kelimpahan jasmaniah dan
rochaniah, di taman firdaus itu menurutnya terdapat malaekat-malaekat
cantik lagi sexy yang memberi pelayanan rochniah
Dan dari itu Kemenang akan mendidik 5000 PhD dalam waktu singkat
mendatang agar ramai-ramai kehidupan kekal nan abadi di taman firdaus
penuh dengan segala macam kebutuhan.
http://www.jawapos.com/read/2016/04/27/25747/kualitas-pendidikan-indonesia-paling-rendah-di-dunia
<http://www.jawapos.com/read/2016/04/27/25747/kualitas-pendidikan-indonesia-paling-rendah-di-dunia>
Rabu, 27 April 2016 10:02
Kualitas Pendidikan Indonesia Paling Rendah di Dunia
Kualitas Pendidikan Indonesia Paling Rendah di Dunia
dok. Jawa Pos
-Mendikbud Anies Baswedan
JawaPos.com - Ada perkembangan terbaru di dunia pendidikan Indonesia.
Di tengah perkembangan zaman dan arus global, serta persaingan antar
negara, ternyata kualitas pendidikan Indonesia paling rendah.
Pengamat Pendidikan Indra Charisniadji mengungkapkan, menghadai
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sejumlah negaranya tengah melakukan
upaya persiapan yang optimal.
Di antaranya meningkatkan kualitas pendidikan. Hal itu dilakukan oleh
negara Thailand, Vietnam dan Filipina. Sementara di Indonesia upaya itu
baru berjalan, tapi hasilnya belum kelihatan.
Indra menyebutkan, kompetensi SDM Indonesia masih sangat rendah. Dari
sisi kualitas pendidikan, Indonesia masih di urutan terendah dunia.
Faktor penyebabnya, salah satunya masih rendahnya kualitas guru atau
tenaga pengajar di Indonesia. Padahal, menurutnya kualitas guru sangat
menentukan kualitas hasil pendidikan.
”Dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) ada 192 dari 1,6 juta guru saja
yang memperoleh nilai di atas 90. Sementara nilai rata-rata UKG hanya
56. Kalau di Pendidikan Tinggi (Dikti) nilai ini sangat rendah bukan
nilai D lagi bisa saja nilainya F,” ujar Indra Charisniadji dilansir
Indopos (Jawa Pos Group), Rabu (26/4).
ndra menjelaskan fakta ini usai mengikuti seminar nasional pendidikan
di Gedung DPR bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Anies Baswedan dan komisi X DPR, Selasa (26/4).
Indra menyebutkan, jumlah guru di Indonesia sebanyak 3 juta orang. Dari
jumlah tersebut ada peningkatan guru sebanyak 823 persen dari tahun
1999/2000. Sementara, peningkatan jumlah peserta didik hanya 17 persen.
”Angka kenaikan guru rasionya sangat tinggi. Apakah kenaikan siswa yang
hanya 17 persen memerlukan guru sebanyak itu. Apalagi rasio tertinggi
guru honorer yang hanya terima gaji Rp90 ribu per bulan pada 2005 lalu
misalnya,” ungkapnya.
Dikatakan Indra, tingginya rasio peningkatan guru harus diikuti
kebijakan pendidikan kompetensi guru dari pemerintah.
Khusus pendidikan vokasi, menurutnya harus memenuhi kebutuhan dunia
industri. Pasalnya, kualitas pendidikan kejuruan saat ini belum tentu
memenuhi kebutuhan industri.
”Secara kuantitas lulusan SMK banyak, tapi secara kualitas belum
memenuhi standar kebutuhan industri. Keberadaan Lembaga Sertifikasi
Profesi(LSP) atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi(BNSP) belum
menjawab kualitas kompetensi SMK,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan industri, menurut Indra tenaga pengajar
profesional dapat diambil dari lapangan. Apalagi minat guru vokasi
dewasa ini sangat minim. Selain itu, tak kalah penting pemenuhan alat
bantu ajar harus dipenuhi.
”Tidak hanya belanja aja, pemerintah harus ada road map. Apalagi alat
bantu ajar pendidikan vokasi sangat mahal,” tandasnya.
Mendikbud Anies Baswedan mengakui tentang masalah itu. Dikatakannya,
berbagai masalah yang muncul di dunia pendidikan akan segera
diselesaikan.
Menurut mantan Rektor Universitas Paramadina itu, setiap masalah yang
muncul di dunia pendidikan harus diselesaikan. Sehingga, tidak muncul
masalah yang sama.
”Masalah pendidikan banyak sekali. Setiap ke daerah kami sebut belanja
masalah. Dan masalah yang kami temukan akan selesaikan,” ujar Anies
Baswedan.
Terkait peningkatan rasio guru yang cukup signifikan, menurut Anies
perlu dilakukan solusi yang strategis. (nas/iil/JPG