Apa Yang Bisa Kusumbangkan, Itulah Soalnya Oleh: Martin Aleida
Chalik Hamid adalah seorag penyair yang lahir di Bunut, sebuah kota kecil di wilayah perkebunan karet Sumatera Utara. Dia menempuh pendidikan dan dibesarkan oleh zamannya di Medan. Selain di media yang terbit di ibukota provinsi itu, puisi-puisinya juga disiarkan di Jakarta, antara lain oleh Harian Rakyat pada awal 1960-an. Sebagai mahasiswa Akademi Ilmu Sosial “Ali Archam” (AISA), akademi yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia di Jakarta, dia bersama tujuh mahasiswa lain terpilih untuk dikirim belajar ke Tirana, Albania, negara yang bertahun-tahun punya ikatan baja dengan Stalin. Dari bandar udara Kemayoran, mereka berangkat pada suatu hari di bulan Desember 1964 dan tiba di Tirana 4 Februari 1965, setelah pesawat Cekoslowakia yang mereka tumpangi ketika itu singgah dulu di beberapa kota, seperti Phnom Pehn, Rangoon (ibukota Myanmar sekarang), dan Kairo. Merayakan sikap pemerintah, yang berada di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno pada waktu itu, yang akan membuka mimbar perguruan tinggi dengan memasukkan Marxisme-Leninisme sebagai ilmu ke dalam kurikulum, Chalik dan empat kawannya dikirim untuk mendalami ajaran ideologi-politik tersebut di Tirana. Sementara tiga lainnya akan menempuh pendidikan ilmu kedokteran di kota tersebut. “Semula kami akan dikirim ke Kuba, tetapi karena di Albania pendidikan ideologi-politik tersebut sudah ada, maka yang memimpin kami ketika itu, anggota Polit Biro Komite Sentral Partai Komuis Indonesia, Oloan Hutapea, memutuskan, ‘Sudah, kalian ke Albania sajalah. Ke Kuba kita lihat nanti,’” kata Chalik Hamid mengenang di rumahnya, di Koekoeksstraat, kawasan Amsterdam Noord. Bersama istrinya, Nur Aisah, dia menempati rumah di lantai dasar dari flat bertingkat dua. Tempat-tinggal mereka bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang dari setengah jam setelah menyeberangi kanal dengan ferry dari stasiun Amsterdam Centraal. Begitu pintu dikuakkan sang penyair, saya dihadang sebuah sepeda motor yang nangkring, mempersempit langkah menuju ruangan tamu di mana menghampar sofa, pesawat televisi, perangkat komputer, lemari hias, sebuah akuarium, dan taman kecil yang menghadap ke jalan. Di taman yang ditata di bendul-bendul jendela tumbuh beberapa pohon pisang, juga lidah buaya, sejenis bambu, dan pohon sambung nyawa. “Kalau rindu tanah air, kami memetik daun pisang dan memasak pepes ikan,” ucap sang istri menyemarakkan awal percakapan di ruang tamu itu. Di dinding, dekat taman yang alit itu, tergantung foto seorang bocah yang sedang duduk bermain. Di sebelahnya, seorang dara Melayu, mengenakan kacamata bening, rambut legam menjuntai di bahu, sedang menebarkan senyum entah kepada siapa. “Ha.., itu Siti Nurhalizah biduan Malaysia, penyanyi lagu-lagu Melayu favoritku,” Chalik Hamid menimpali. Memandang ke luar, menembus daun pepohonan di taman itu, di balik kaca, terparkir sebuah mobil kecil berbahan bakar diesel yang hanya digunkan Chalik dan Aisyah kalau mereka bepergian dengan beban yang cukup banyak. Kalau belanja ke pasar mereka terkadang meluncur dengan sepeda masing-masing. Dan sepeda motor yang bersandar di jalan masuk tadi hanya digunakan kalau mereka menempuh perjalanan agak jauh, berduaan. Di Amsterdam sini sepeda motor juga sama mudahnya membawa bencana. Beberapa tahun lalu, pasangan ini mengalami kecelakaan, bertabrakan dengan sepeda motor lain, menyebabkan sebelah kaki Chalik Hamid patah. Sampai sekarang kecelakaan itu masih menyisakan rasa nyeri di bokongnya. Mereka kelihatan sehat. Banyak tawa. Bertandang di rumah mereka, terasa Medan betul. Siaran televisi Belanda cuma sesekali mereka lirik. Ruang tamu itu terasa benar-benar seperti ruang tamu di Indonesia. Dua stasiun televisi di Jakarta menjadi tontonan pokok. Aisyah melaksanakan ibadah haji tahun lalu. Tapi, barangkali mungkin bukan karena itu saja maka suara azan tak pernah absen berkumandang dari gawai sang suami, mengingatkan waktu solat yang lima waktu. Suasana sungguh terasa seperti di Medan. Pagi sarapan lontong medan, dengan santan, serundeng, rajangan kacang panjang, taburan ikan teri, dan bawang goreng. Siang dan malam tak lupa nasi dan gulai bersantan kelapa yang pekat. Selama sebulan, Mei 2016, mereka berdua berkunjung ke Medan, Bukittinggi, Pekanbaru, dan beberapa kota kecil di Sumatera Utara. Mereka menumpahkan rindu pada sanak-famili. Juga tak lupa menyantap makanan dengan rempah dan bahan asli negeri asal yang dimasak dengan gaya Medan pula. Di kota Binjai, dekat Medan, Chalik Hamid tak tahan oleh godaan seleranya begitu melihat es-buah, dengan warna buah yang hijau dan sirup yang merah. Dia reguk dengan semangat yang aduhai… Lupa segala. Tertumpahkanlah sudah rasa rindu pada kelezatan makanan di negeri sediri. Tapi, apa mau dikata, seperti kata orang Medan, keesokan harinya Chalik tumbang. Dia menderita muntah-muntah dan diare, yang membujuk dirinya supaya menahan selera selama perjalanan “pulang kampung” itu. Di antara kaum eksil Indonesia yang bermukim di Amsterdam, Chalik Hamid menunjukkan sikap lebih terbuka dan bermurah hati membantu orang-orang Indonesia yang bekunjung ke rumahnya. Termasuk para tenaga kerja wanita yang kebetulan menemukan nasib buruk. Ruang kerjanya dia tawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan tempat berteduh. Ketika selama sebulan dia bersama istri melawat ke Indonesia, ada tamu dari Indonesia yang dia persilakan menginap di rumahnya itu selam sebulan penuh, tanpa imbalan, kecuali satu tugas: memberi makanan ikan di akuarium dan menyiram tanaman di ruang tamu. Berikut kutipan percakapan dengannya: Ketika Bung tiba di Albania, negeri itu seperti apa? Albania itu negeri kecil. Waktu kami datang penduduknya cuma dua juta. Penduduk Tirani 100.000. Bagaimana ya saya ingin mengatakannya… Albania negeri sosialis. Melarat sekali. Waktu Indonesia baru merdeka, masih lebih bagus keadaannya. Secara ekonomis Indonesia lebih baik. Kalau dari segi standar kebutuhan hidup, seperti makan, pakaian, papan, Albania punya keistimewaan. Rumah sakit gratis. Obat gratis. Sekolah gratis. Orang yang tamat sekolah pasti diberi pekerjaan. Tapi, tingkat perekonomiannya masih mengenal antre. Memang, barang konsumsi ada, namun terbatas. Misalnya, satu keluarga dapat jatah satu kilo daging untuk seminggu. Satu keluarga yang terdiri dari hanya suami-istri dapat satu kilo. Kalau ada keluarga yang punya anak tiga atau empat dapat sekilo juga. Patokannya keluarga. Dan itu salah. Telur seminggu 10 butir. Sepandai-pandai kaulah menggunakan telur itu. Kan begitu… Mentega dua pak, masing-masing 200 gram. Ada yang kelaparan? Kelaparan tak ada. Tetapi, setelah kami pelajari, sistem sosialis di Albania itu keliru. Rakyat, petani, tidak boleh memiliki tanah. Petani hanya menggarap tanah milik koperasi atau ferma milik negara. Koperasi milik kampung di mana koperasi itu berdiri. Jadi, seluruh penduduk yang menjadi anggota harus mengabdi kepada koperasi mereka. Mestinya petani, yang juga punya halaman di rumahnya, diizinkan menanam sayur untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Atau punya ternak, seperti lembu, untuk memperoleh susu. Tetapi, petani tak boleh punya lembu. Hanya koperasi yang diperbolehkan memiliki lembu. Kalau penduduk memerlukan susu harus membeli dari koperasi. Kepemilikan pribadi adalah sesuatu yang terlarang. Sistem sosialis Albania melarang kepemilikan, karena dianggap menjadi bibit kapitalisme. Rakyat mengeluh? Rakyat mengeluh, karena mereka harus membeli sayur, yang sebenarnya bisa mereka tanam sendiri di pekarangan. Mereka harus membeli dari koperasi. Memang, keuntungan dari transaksi itu untuk koperasi. Dan keuntungan itu dibagikan kepada rakyat yang jadi anggota. Teoretis bagus, tapi rakyat harus membeli sayur, susu dan lain-lain yang mereka bisa upayakan sendiri. Untuk kebutuhan tambahan dari mana rakyat mendapatkannya? Tak ada! Kalau di kota Tirana tambahan bisa diperoleh penduduk dari hasil kerja mereka di pabrik, dengan memperpanjang jam kerja. Sedangkan di desa penduduk hanya mengandalkan uang dari koperasi. Ada perbedaan tingkat hidup? Tingkat hidup boleh dikatakan merata, begitulah. Gaji dokter dengan buruh hampir sama. Perbedaan buruh dengan dokter adalah bahwa mereka bekerja di pabrik. Dokter ya bekerja sebagaimana dokter. Perbedaannya adalah bahwa pekerjaan dokter lebih enteng secara fisik dibandingkan dengan buruh atau mereka yang bekerja di lapangan pekerjaan yang lain. Kalau dia dokter, pakaiannya lebih bersih, putih. Gaji hampir sama. Gaji dokter sedikit sajalah lebih tinggi. Itu yang kami amati selama di Albania. Kami menemukan banyak yang pincang. Saya pikir Albania serupa saja dengan Bulgaria, Hongaria, Rumania, Cekoslowakia. Dengan tambahan catatan tingkat hidup di Ceko memang lebih tinggi. Bisa diceritakan bagaima sistem pendidikan yang Bung tempuh? Selama setahun kami belajar bahasa Albania lebih dulu. Mula-mula gurunya perempuan. Tapi, dia kelewat cantik. Kami yang muda-muda jadi tak begitu memperhatikan apa yang dia katakan. Kami cuma menikmati kecantikannya … hehehe. Dia masih muda, sudah bersuami. Belum punya anak pada waktu itu. Beberapa bulan kami dia ajar. Tak maju-maju. Kemudian dia digantikan seorang guru laki-laki. Guru ini ngomong terus pakai bahasa Albania. Sementara kami meraba-raba terus apa yang sedang dia katakan. Dengan bantuan buku teks, dengan susah-payah, kira-kira empat bulan kemudian, kami bisa memahami apa yang dia katakan. Setelah pelajaran bahasa Albania berlangsung genap setahun, barulah kemudian disusul dengan pelajaran utama tentang ilmu sosial-politik Marxis. Di kelas Marxisme-Leninisme itu dipelajari ekonomi-politik, juga sejarah. Belajar dari pagi sampai pukul dua siang. Di gedung khusus. Kami digabungkan dengan sekolah Partai Buruh Albania sendiri yang pesertanya datang dari berbagai daerah di negeri itu. Siswanya banyak, tetapi tidak sampai seratus orang. Tiap hari masuk. Sabtu-Minggu libur. Di sana, upaya pembangunan, seperti pembangunan jalan kereta api, rakyatlah yang dikerahkan. Kami juga kena, mencangkul, melinggis, macam-macam. Ketika PKI terpukul di Indonnesia, kami tak tahu apa-apa. Kami tanyakan bagaimana nasib D.N. Aidit, tak ada yang tahu. Kami belum punya informasi kemana Aidit, kata pimpinan sekolah. Setelah beberapa lama, barulah diberi tahu Aidit sudah tak ada. Diceritakanlah semua. Ketua Partai Buruh Albania, Enver Hoxha, sedangkan Perdana Menterinya Mehmet Shehu. Istri Mehmet Shehu yang bernama Fiqrete Shehu, direktur sekolah itulah yang memberikan informasi kepada kami melapetaka apa yang sedang terjadi di Indonesia. Sebelumnya, dalam upaya mencari-cari berita mengenai perkembangan di Indonesia, kami terpaksa menonton siaran televisi Italia yang berbahasa Italia. Kami menguasai bahasa Italia sedikit-sedikit, jadi bisalah kami tangkap isi beritanya. Ibukota Italia dengan Tirana ‘kan tidak jauh, dipisahkan Laut Adriatik yang sempit. Tak lama setelah peristiwa G30S, pendidikan itu distop. Karena Partai Komunis Indonesia dilarang, maka pendidikan itu dihentikan. Apa gunanya lagi, karena kami tidak bisa pulang ke Indonesia. Kemudian, kami dipersilakan memilih. Mau menjadi insiyur atau bidang keahlian yang lain. Ada yang memilih menjadi insinyur. Saya tak mau, karena tak ada bakat untuk jadi insinyur. Saya ditanya, mau apa? Kujawab: perfilman. Setahun sudah bisa bahasa Albania? Ya, bisalah, meraba-raba. Dibilang bisa, tidak juga. Ada guru yang sengaja didatangkan untuk mengajari kami berbahasa Albania. Dia merangkap sebagai petugas partai. Kalau kami pakansi, keliling ke kota sini ke kota sana, dia yang menemani kami. Sekaligus mengawasi kami. Setelah sekolah dihentikan tahun 1969, kami membentuk grup, tetapi bentrok di kemudian hari antara pengikut ajaran Mao dan Teng Sio-ping. Apa yang Bung kerjakan setelah sekolah itu ditutup? Saya bekerja di Radio Tirana berbahasa Indonesia. Setelah bentrok antara Uni Soviet dan Tiongkok, sekitar tahun 1970, Anwar Dharma, koresponden Harian Rakyat di Moskow, diusir dari Uni Soviet, karena tulisannya yang mengkritik negera itu. Dia pindah ke Tiongkok. Dari Peking dia dapat tugas dari Delegasi Partai Komunis Indonesia di sana untuk berangkat ke Albania menerbitkan majalah berbahasa Indonesia dan Inggris serta membuka Radio Tirana berbahasa Indonesia. Anwar Dharma belajar bahasa Albania pada saya. Dia ditempatkan di satu villa khusus. Saya yang datang menemuinya, mengajarinya. Dia gigih. Dalam dua tahun dia sudah bisa menguasai bahasa Albania. Istrinya, Bu Rima, orang Jalan Antara, Medan, ikut bersamanya. Sang istri pandai memasak. Kalau kami pesta dialah yang memasak. Sebagai sebuah negeri, Albania benar-benar negeri yang terbelakang. Saya pernah hidup di desa selama sebulan. Tinggal di rumah yang dibawahnya ada kandang kuda. Kuda itu saban malam berlari-lari, gludak-gluduk membuatku tak bisa tidur. Di rumah itu banyak pula kepinding. Kalau kita sedang tidur, habis kita dikerubutinya. Benar-benar tak bisa tidur. Akhirnya saya mengadu kepada sekretaris partai di situ. Lantas dianjurkan mengambil semacam obat di apotek, ditaburkan di sekeliling, barulah saya bisa tidur. Saya mengikuti seorang ahli agronomi. Bangun pagi kami keliling di suatu daerah yang luas sekali. Kalau tiba waktu makan, kami makan bersama-sama kaum tani di bawah pohon. Makanan kami terdiri dari roti, dan bawang muda yang baru dicabut. Kemudian mentega putih. Mentega itu cair, ditempatkan di ember, dan di situlah kami mencelupkan roti tadi. Masing-masing pakai sendok mengambil mentega cair tadi dari ember yang sama. Bukannya menggunakan piring. Tidak. Masing-masing menyendok dari tempat yang sama. Begitulah kebiasaan di sana. Makan ramai-ramai, begitulah kehidupan desa di Albania. Kehidupan rakyat seperti itulah, makan sama-sama. Pada waktu itu saya bekerja di satu koperasi desa selama satu bulan. Agronom yang saya ikuti menunjukkan bagaimana bercocok tanam. Penyakit di desa-desa juga ada. Penyakit kulit dan lain-lain, namun pengobatan tersedia dan gratis. Satu desa satu dokter. Agronom selalu ada. Begitu juga dokter. Kalau ada yang melahirkan, dia harus menolong, jalan kaki ke mana-mana. Tak ada mobil. Ketika saya sakit, dibawa ke rumah sakit dengan naik keledai. Benar-benar di desa. Pengalaman hidup selama sebulan di desa Albania itu sudah mulai kutulis tetapi belum selesai juga. Saya juga pernah bekerja di pabrik beberapa tahun. Untuk menaikkan semangat rakyat, maka traktor dan produknya yang lain disebutkan sebagai produksi sosialis. Padahal mutunya rendah. Memalukan. Saya mendatangi sekretaris partai di pabrik itu, dan mengatakan bahwa cara itu salah. Dia katakan, “Kamu itu tamu, jadi tak usah ngomong.” Menyakitkan. Kritik tak boleh. Banyak hal yang kami pelajari selama di Albania itu. Mana kelebihannya, mana kekurangannya. Dari segi pendidikan kuanggap baik. Mereka yang otaknya mampu, silakan belajar sampai ke universtas. Gratis! Yang sakit, yang keadaan kesehatannya tidak baik, silakan berobat, tinggal di rumah sakit semaunya. Berapa lama menginap di rumah sakit, tidak ada bayaran. Dalam hal itu Albania memang luar biasa. Ketika terjadi reformasi di Albania tahun 1989 apakah ada yang dikejar, dibunuh? Tak ada. Di Rumania ya, presidennya mereka bunuh. Di Albania tembak-menembak terjadi, tapi korban tak ada. Sebelum reformasi, kalau boleh saya menilai, Enver Hoxha itu jahat. Banyak orang yang dia bunuh. Dan pembunuhan-pembunuhan itu hanya beradasarkan kecurigaan, dengan tuduhun seseorang memihak ke sana memihak ke mari, tanpa bukti. Perdana Menteri Mehmet Shehu sendri mereka tembak mati. Enver Hoxha takut disaingi oleh generasi baru Albania. Dia pengikut Stalin. Menurut dia lawan harus dimusnahkan. Musuh-musuh Anwar dibunuh, tetapi kepada rakyat dikatakan mereka bunuh diri. Dibunuh karena dianggap agen Soviet. Hoxha mula-mula memihak Yugoslavia, tetapi kemudian bentrok dengan negara pimpinan Marsekal Tito yang dituduh revisionis itu. Kemudian memihak Soviet di bawah Stalin. Albania dapat bantuan dari Soviet. Ketika Chruschov naik dan berkuasa, dia meninggalkan Soviet dan berpaling ke Tiongkok di bawah Mao Tse-tung. Kemudian muncul Teng Shiao-ping. Dia tingggalkan Tiongkok, dan Albania di bawah Hoxha, hidup sendirian. Albania pada dasarnya hidup dari sumbangan, bantuan dari sana dari sini. Albania, punya pusat pembangkit listrik tenaga air yang sangat besar, sehingga negara itu bisa menjual listrik ke Italia, ke Yunani. Besar sekali. Yang membangun pembangkit listrik itu adalah Tiongkok sehingga namanya pun pusat pembangkit tenaga listrik Mao Tse-tung. Dulu, ada pabrik tekstil Stalin. Kemudian pabrik tekstil Mao Tse-tung. Pusat pembangkit tenaga listrik Karl Marx-Engels. Ketika Hoxha tidak cocok dengan luar, dengan Soviet, ya dia tiggalkan. Semua bantuan tersebut tidak dibayar Albania. Dari Tiongkok dapat gratis. Karena waktu dibantu, Albania dianggap mercu-suar sosialisme di Eropa. Enver Hoxha terang-terangan mengatakan dia adalah pengikut Stalin. Di Tirana patung Stalin tinggi besar. Apakah mereka yang pernah hidup di zaman Hoxha menyesali keadaan sekarang? Mereka sangat menyesal melihat keadaan sekarang. Dulu, mereka mengeluh, hidup di bawah tekanan, macam-macam keluhannnya. Begitu merasakan keadaan sekarang ini, mereka menyesal setengah mati. Mereka ingin pulang kembali ke masa lalu, tetapi sudah tak mungkin. Mereka bilang begini: “Dulu, biarpun gaji kita kecil tetapi pekerjaan tetap ada.” Memang, pengangguran di zaman Albania sosialis tidak ada. Kalau sudah selesai sekolah, sudah tidak mau melanjutkan, disediakan pekerjaan di perusahaan teksil, di pembangkit listrik tenaga air, macama-macam. Lowongan pekerjaan banyak. Bagaimana keadaan sekarang? Tingkat korupsi sangat tinggi. Apa yang mereka korup? Pinjaman luar negeri. Anggaran pembangunan ini-itu. Investasi dari luar ditanam di bidang apa? Ketika saya berkunjung ke sana, saya temukan jalan-jalan yang sudah bagus. Di zaman sosialis, jalan yang ada sederhana, mendaki menurun. Sekarang sudah dibangun jalan tol yang panjang, lurus. Saya sudah menikmatinya. Segala macam bank sekarang ada di Albania. Alat-alat elektronik tersedia secara meluas. Mall di mana-mana. Cuma tenaga beli tak ada. Sementara pembangunan berkembang terus di mana-mana. Inilah yang dikorupsi “bapak-bapak baru” ini. Partai yang berkuasa Partai Demokrasi. Tak ada orang komunis di partai itu. Tokoh-tokoh komunis sendiri sudah punya perusahaan. Direktur pabrik Enver Hoxha di mana saya bekerja dulu, sekarang jadi penimbun pasir. Dia jadi penyalur pasir. Macam-macam yang terjadi di sana. Sebagai partai kaum komunis Partai Buruh Albania masih ada. Partai yang berkuasa di Albania berganti-ganti, lima tahun Partai Demokrasi, lima tahun berikut Partai Buruh. Investasi asing berjalan terus. Dulu, tanah disita untuk negara, sekarang dikembalikan kepada yang punya, pemiliknya yang dulu, dengan syarat mereka bisa menunjukkan dokumen kepemilikan. Yang paling celaka, dulu, di sana ada pabrik tekstil yang bernama Stalin di Tirana. Ada pula pabrik yang namanya Mao Tse-tung di tempat lain. Ketika reformasi, International Monetary Fund (IMF) yang memberikan pinjaman, menetapkan syarat pabrik tekstil Stalin itu harus dimusnahkan. Ya, dimusnahkan! Sekarang pabrik itu tinggal dinding-dindingnya saja. Padahal, dulu pabrik itu besar sekali. Semua pabrik di zaman sosialis harus dimusnahkan, kalau tidak tak dapat pinjaman. IMF gila benar. Di Albania, IMF benar-benar merusak. Pinjaman yang diperoleh kelihatannya digunakan terutama untuk membangun jalan-jalan tol. Albania, mulai dari Utara sampai Selatan, dihubungkan dengan jalan tol yang rapi, bagus. Lalu-lintas berjalan dengan lancar sekali. Luas Albania cuma 28.000 km2. Sementara itu, segala macam bank ada di sana, padahal peredaran uang sedikit. Itu perubahan yang saya lihat. Perubahan lainnya, Tiongkok masuk ke sana. Banyak sekali toko-toko Tionghoa. Pemiliknya orang Tionghoa, dan yang menjalankan orang-orang Tionghoa. Mungkin mereka masuk dari Tiongkok langsung, tetapi mungkin juga orang Tionghoa itu masuk dari negara lain. Orang Turki juga ada. Italia juga. Turki banyak bergerak di bidang restoran. Pemotongan hewan di sana dikuasai oleh orang Turki. Waktu zaman sosialis, rakyat tak boleh menyetel stasiun televisi lain kecuali milik negara satu-satunya. Itulah salahnya. Hanya Tirana yang boleh distel. Sementara para pemimpin mereka punya hak istimewa. Mereka punya televisi kabel. Banyak yang salah. Susu, misalnya, ada susu produksi ferma yang khusus untuk pimpinan. Itu ‘kan tidak betul. Begitu juga anggur, anggur untuk anggota politbiro partai ada secara khusus. Banyak yang kami pelajari dan temukan yang tidak benar. Mobil anggota politbiro Mercedez-Benz, sementara mobil untuk anggota komite pusat partai Fiat. Rakyat biasa tak boleh punya kendaraan. Ini cara yang salah. Ketika terjadi reformasi, sepeda motor masuk, rakyat berebut untuk memiliknya. Kedua orang anak saya sudah pernah berkunjung ke Albania. Teman-teman mereka dulu, yang mereka jumpai di sana, tak ada yang jadi. Ada yang kecanduan narkoba. Kasihan mereka… Dulu penyakit masyarakat seperti kecanduan narkoba itu tak ada. Dulu, ketika zaman sosialis, pulang malam jam berapa pun tak ada yang mengganggu. Perampokan, kejahatan yang lain tak ada. Sekarang, uuihhh macam-macam. Pencuri mobil terbesar di Eropa ini berasal dari Albania. Mobil-mobil yang hilang di berbagai tempat ditemukannya di Albania. Orang Tukri, Yunani, bilang orang Albania itu orang BMW. Karena orang-orang Albania terkenal sebagai pencuri mobil-mobil bagus di Eropa. Orang-orang Albania terkenal sebagai orang yang banyak terlibat dalam berbagai kejahatan. Kapan kejahatan itu muncul? Sesudah reformasi. Bagaimana penjelasannya? Aku nggak tahu. Ingin cepat kaya, mungkin. Saya tak tahu penyebabnya. Tetapi, pada zaman Enver Hoxha, aman. Kita pulang malam tak ada gangguan. Bagus. Maafkan pertanyaan yang bersifat pribadi ini. Bagaimana kehidupan rumahtangga Bung? Saya sudah menikah ketika masih berada di Indonesia. Ketika saya mengikuti kuliah di Jakarta, di Ali Archam, istriku itu saya bawa. Pada waktu saya akan berangkat ke Albania, dia pulang ke Medan. Dia sedang hamil waktu itu. Maret 1965 dia melahirkan. Rezim militeristis Orde Baru di bawah Jenderal Suharto benar-benar menghancurkan keluarga saya. Baru setelah reformasi, setelah jatuhnya Suharto, 30 puluh tahun kemudian anak kami itu bisa kutemui. Ketika terjadi G30S, istri saya itu dipenjarakan militer. Anaknya yang masih kecil pada waktu itu ikut bersamanya ke dalam penjara, ke kamp tahanan yang terkenal kejam di Jalan Gandhi, Medan. Lama dia ditahan. Setelah pembebasan para tahanan politik di seluruh Indonesia, istriku itu juga keluar bersama anaknya. Sri Sutiati nama istriku itu. Ketika G30S meletus, dia sempat lari ke Bunut, ke rumah ayah-ibuku. Di sana dia dilempari oleh orang-orang kampung. Rumah ayahku pang pung pang pung … dilempari orang. Mereka tuduh istriku itu punya anak haram, segala macam! Lantas, Emak dan Ayahku memutuskan untuk mengongkosi dia ke mana dia bisa pergi. Ke mana saja dia bisa menyingkir. Dia pulang ke Medan. Tapi, di situ juga rumah yang dia tempati dilempari. Diteriaki anak jadah! Anak haram! Kemudian, dia berangkat ke Timor bagian wilayah Indonesia, menumpang pada adik ayahnya, seorang anggota AURI, di sana. Tetapi, entah bagaimana situasi di sana, dia pulang ke Medan dan ditangkap bersama anakku yang masih kecil. Mertuaku juga ditangkap. Tak bisa mengelak, di depan rumahnya ada papan nama komite resort PKI. Dan dia dibuang ke Pulau Buru. Ibu mertuaku juga ditahan di Jalan Gandhi. Dia orang kedua Gerwani di Medan, sementara orang pertama hilang begitu saja. Aku menikah lagi di Tirana tahun 1975. Tidak dengan gadis satu sekolah. Dengan gadis yang saya kenal di tengah masyarakat Albania. Gadis-gadis Indonesia sendiri, yang ada di Albania, yang sedang mengikuti pendidikan, yang jumlahnya tak seberapa, sudah menikah semua. Jadi, cinta-kasih lelaki Indonesia yang belum berumahtangga menyasar orang-orang Albania. Tirana itu kota kecil. Di situ ada satu boulevaard, panjangnya sekitar satu kilometer. Manusia hilir-mudik berjalan kaki di situ. Manusia mengalir di jalan utama itu mulai pukul 5 sore samapai 10 malam. Jalan itu jugalah yang menjadi saksi pertemuan saya dengan gadis yang kemudian menjadi istriku. Pesta pernikahan di Albania luar biasa meriah. Semalam suntuk. Rakyat menari-nari. Makan daging, minum bir sepanjang malam. Pernikahan kami tidak. Istri saya berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya ketika itu sudah meninggal. Punya abang satu. Ibunya baik. Sederhana. Buta huruf. Kami menikah tahun 1975 setelah berpacaran selama dua tahun. Dikaruniai sepasang anak lelaki. Tahun 1989 kami berempat berangkat dari Tirana menuju Amsterdam. Jadi, 25 tahun saya di Albania. Bayangkan! Seperempat abad! Anak tertua sudah beristri. Bulan Juli 2016 cucu pertamaku lahir. Anak sulungku itu menikah dengan orang Belanda. Setelah tamat sekolah komputer, dia melamar dan diterima sebagai polisi. Belakangan dia jadi komandan polisi di satu wilayah di Amsterdam ini. Hervis namanya. Begitu kami masuk di Amsterdamm, dia langsung masuk sekolah kelas enam. Setahun kemudian dia sudah bisa masuk ke perguruan tinggi. Putraku yang satu lagi namanya Rahadi. Dia tak tamat sekolah tinggi. Tidak. Tapi, dia lulus sekolah bongkar-pasang mobil. Sekolah teknik. Cuma, dia tak mau meneruskan kepandaiannya itu. Dia sering putus kerja, kemudian melapor ke dinas penempatan tenaga kerja. Kalau dapat penempatan dia harus menerimanya. Dia pernah jadi pelayan restoran, jadi tukang bikin kopi di cafe. Saya dan istri berpisah tahun 1997. Di rumah sering terjadi padu-suara, pertengkaran, jadi kasihan anak-anakku yang dua itu. Kami begaduh, begitulah istilah kita. Kupikirkan dalam-dalam. Tak ada jalan lain. “Bagaimana kalau kita pisah saja. Anak-anak kita harus kita perhatikan.” Kutanya, dia setuju. Kutanya anak-anak. “Itu urusan kalian,” tukas mereka. Baiklah, aku yang keluar dari rumah. Begitulah ceritanya, sehingga kudapat rumah ini. Rumah kami berempat, yang kutinggalkan, itu bagus. Tiga kamar. Bagus. Kamarnya besar, gangnya besar. Aku bilang, “Kalian di sinilah.” Di Belanda ini kalau pisah, si suami yang harus pergi, kecuali si istri melakukan pelanggaran moral. Kalau itu yang terjadi, maka si istri yang harus pergi. Itu ketentuan hukum Belanda. Jadi kami berpisah. Kawan-kawan lain juga banyak yang begitu. Rumah dengan segera diberikan oleh gemente (pemerintah), dengan membawa surat cerai, yang diputuskan oleh pengadilan. Surat cerai itu dibawa ke bagian jawatan pembangunan perumahan. Lantas dengan segera ditanggapi. Jawatan itu bilang, di sana ada rumah, nomor sekian, lihat dulu, cocok atau tidak, kalau tidak, tunggu penawaran kedua. Ada penawaan ketiga. Kalau belum cocok, ada penawaran keempat. Pada penawaran keempat harus terima, begitu ketentuan di sini. Waktu itu saya menumpang di tempat kawan. Aku ditawarkan rumah ini. Kulihat. Cukuplah. Kalau tak kuterima sekarang akan masuk orang yang menunggu di belakangku, orang nomor dua. Istriku tak bisa Bahasa Indonesia. Anak-anakku juga tidak, tapi mereka mengerti. Kami berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Albania. Istri pertama Bung, wanita Albania itu, pernah berkunjung bersama ke Indonesia? Tidak. Istri saya itu kurang mau bergaul dengan orang Indonesia, terus terang saja. Dia nggak mau, tak tahu karena apa? Memang orang Albania seperti itu. Mereka menganggap dirinya lebih tinggi. Jadi, orang Indonesia dianggap rendah, begitulah. Meskipun dia menikah dengan orang Indonesia. Banyak juga yang seperti istri saya itu. Banyak diantara kami yang menikah dengan orang Abania, tetapi sesampai di Belanda ini bepisah. Faktonya, yang kulihat, mereka belagak besar, hidup boros, tiap tahun harus pulang kampung. Sampai di kampung membagi-bagi duit, seolah-olah kaya di Belanda. Begitulah sifat orang Albania. Kalau beli pakaian harus yang hebat, mengkilap, ya tak cocoklah … Maafkan, pertanyaan nyinyir ini. Dengan Aisah, apakah pernikahan pertama untuknya? Pernikahan pertama. Kami sebenarnya masih ada hubungan persaudaraan. Adikku ada di Bunut. Perempuan. Dia menikah dengan saudara si Aisah. Jadi, kubilang kepada adikku carikanlah aku pasangan istri. Dia tunjukkan Aisah, dan Aisah mau dibawa ke Eropa. Aisah berasal dari Medan, masih keturunan tengku, tapi keluarga mereka tak mau mencantumkan “Tengku” pada nama mereka. Kami menikah awal 2001, tetapi baru lima tahun kemudian Aisah bisa datang, terhambat oleh ketentuan-ketentuan administratif Belanda. Ada yang menarik ketika Aisah datang ke Amsterdam. Dalam perjalanan menuju kota, dari jendela mobil, dia melihat pohon-pohon yang mengering di sepanjang kanan-kiri jalan. Dia bertanya, “Mengapa pohon-pohon itu dibiarkan kering, tidak langung ditebang …?” Belakangan dia menertawakan dirinya sendiri setelah sadar perjalanan pernikahan itu berlangsung pada musim di mana daun-daun sedang gugur, merah kekuningan menghiasi daratan. Rumah ini saya sewa, 400 Euro sebulan. Bisa dibeli, tapi ini pemberian jawatan sosial, jadi tak masuk akal, saya yang menerima tunjangan sosial membeli dan memilikinya. Memang, secara umum orang bisa punya rumah melalui pinjaman hipotik asal punya penghasilan yang memadai dan dicicil dengan potongan dari gaji. Kedua anak-anakku itu sopan, saya juga baik terhadap mereka. Kalau komputerku rusak, dia datang memperbaikinya. Ada catatan perjalanan Aisyah ketika menunaikan ibadah haji, yang terpisah-pisah file-nya. Kuminta dia menempatkannya di satu USB. Dia ajari saya mengerjakannya, tapi saya malas mempelajarinya. Dialah yang mengerjakannya. Kami, saya dan Aisah, sering berkunjung menemui istri pertamaku orang Albania itu. Dia tidak menikah lagi, hidup bersama anakku yang nomor dua. Aku tak pernah bertanya mengenai pilihan hidupnya yang sangat pribadi, apakah dia berniat akan nikah lagi. Tapi, kulihat gelagatnya tidak. Umurnya serupa Aisah, 59 tahun. Sebenarnya, di Belanda ini, pemerintah lebih senang kalau orang yang sudah lanjut usia nikah lagi, sehingga ada yang mengurus mereka. Tak perlu masuk rumah jompo, di mana pemerintah harus ikut memberikan bantuan langsung. Jadi, lebih baik mereka kawin lagi, sementara tunjangan sosial tetap jalan. Yang tua-tua mau kawin silahkan, jadi, tidak membebani negara. Dalam hal ini Belanda sangat baik kebijakannya. Sebab, kalau di panti jompo orang lanjut usia harus diawasi dokter, perawat, dan staf yang bertugas membersihkan kamar. Besar biayanya. Sedangkan kalau mereka berumahtangga, mereka sendiri yang akan mengatasinya. Bung sudah 78 tahun. Bagaimana Bung ingin menyudahi perjalanan hidup yang begitu panjang dan keras? Mati, di mana pun tak persoalan buat saya. Mati di Indonesia tidak apa-apa, mati di sini pun tidak apa-apa. Obsesi Bung sendiri, ingin berangkat dari mana? Ada keinginan saya, tapi itu tak mungkin. Seorang Muslim tak boleh berniat kalau meninggal jasadnya supaya diperabukan. Kawan-kawan kita yang Muslim di Belanda sini, ketika meninggal banyak yang dibakar dan abunya dibawa ke Indonesia. Bung sendiri? Istriku, Aisah, bilang kalau dibakar maka tidak sah sebagai Islam. Aku maunya dibakar, abunya dibawa ke Indonesia. Tapi, Aisah bilang Muslim itu tak boleh dibakar. Kupikir, ya terserah sajalah. Kalau sudah mati kalian lakukanlah apa yang kalian anggap harus dilakukan. Bagiku begitu sajalah … Kalau Bung menoleh ke belakang, apakah ada yang disesalkan? Penyesalan? Saya sama sekali tidak punya penyesalan. Yang aku sayangkan adalah usiaku hilang begitu saja di Albania selama 25 tahun. Dua puluh lima tahun! Bisa kulakukan penerjemahan buku Albania ke dalam bahasa Indonesia, tapi Indonesia itu terlalu besar untuk Albania. Memang ada pengarang Albania yang masyhur, Ismail Kadare. Buku karangannya banyak, tidak tanggung-tanggung. Dia itu hebat. Tapi, saya tak ada niat untuk menerjemahkan karya sastranya, walau saya pengagum Kadare. Banyak bukunya yang kubaca. Tapi kupikir, bagi Indonesia Albania itu dianggap kecil, itu masalahnya. Lalu kalau diterjemahkan harus menghubungi penerbit, minta izin, dan berapa royalti yang harus dibayar, dan macam-macam. Dan Kadare seorang komunis. Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang bisa kusumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya.
