Sejak ditinggalkan banyak tokoh pemikirnya, belum pernah lagi 
PDIP mengeluarkan pendapat lebih-lebih pernyataan berkadar 
akademik. Sebagai contoh kecil, belum pernah tokoh PDIP bicara soal keresahan 
yang merebak di masyarakat tentang 'jebakan 
kelas menengah' seperti disebut di bawah. Kalaupun disinggung 
tentang masalah ini sebagian pendukung Megawati dengan enteng 
menjawab, kita belum sampai di situ (belum terjebak maksudnya) 
dan sebagian lagi morang-maring bertanya jebakan apa!?? lantas 
beretorikalah dia soal definisi 'jebakan'.
Padahal, dari yang berlangsung di sekitar, jebakan kelas menengah ini 
bukan hanya membuat masyarakat Indonesia berjalan di tempat, tapi 
ya semakin terkubur dalam timbunan utang.

"Lagi pula, masih banyak hal yang bisa dilakukan agar Indonesia 
keluar dari perangkap negara berpenghasilan menengah,middle income trap, 
yang bisa membuat kita hanya berjalan di tempat."
 --- SADAR@... wrote:


From: B.DORPI P. Sent: Wednesday, November 9, 2016 8:19 AM 
http://doa-bagirajatega.blogspot.co.id/2016/11/pergeseran-kepemimpinan-jokowi-rizal.html
Selasa, 08 November 2016  Pergeseran Kepemimpinan Jokowi RIZAL MALLARANGENG " 
Indonesia 's Widodo, maverick no longer". Itulah judul kolom Hamish McDonald di 
Nikkei Asian Review baru-baru ini. Wartawan senior Australia ini rupanya mulai 
khawatir: Presiden Jokowi, setelah dua tahun memerintah, berubah menjadi 
politisi normal, bukan lagi pendobrak yang militan, maverick.  Pesimisme 
McDonald seperti ini berasal dari hasil penelitian Eve Warburton, ilmuwan 
politik di Australian National University . Penelitian Warburton menarik karena 
setidaknya dia memberi kerangka yang sistematis untuk mendiskusikan ciri khas 
pemerintahan Jokowi yang saat ini sudah memasuki tahun ketiga.  Konsepnya yang 
mencuri perhatian adalah neo-developmentalisme. Ia mengingatkan kita pada 
perdebatan lama tentang karakteristik pemerintahan Jenderal Soeharto. Dengan 
konsep ini, Warburton berargumen bahwa Jokowi—setelah menang pilpres dengan 
citra kerakyatan yang berada di luar sistem—kini mengembangkan praktik 
patronase yang sama dengan sebelumnya.  Bedanya, kalau Pak Harto otoriter, 
Jokowi harus bermain dalam panggung demokrasi. Namun, esensi keduanya sama: the 
exercise of power digunakan untuk mencapai tujuan non-kerakyatan, seperti 
deregulasi, disiplin fiskal, pengembangan infrastruktur, dengan menafikan 
tujuan lainnya.  Dalam hal Jokowi, Eve Warburton menjelaskan bahwa kini 
semangatnya untuk memimpin gebrakan pemberantasan korupsi sudah menipis, 
sementara kemampuannya untuk melakukan manuver politik justru semakin canggih 
dan licin.  Jadi, singkatnya, seperti dikatakan Hamish McDonald di atas, 
Presiden Jokowi sekarang sudah menjadi normal: seorang pemimpin yang 
beradaptasi dan memanfaatkan lingkungan sekitarnya, bukan mengubah, apalagi 
mentranformasikan lingkungan tersebut.  Sang penguasa telah menghirup opium 
kekuasaan yang membius. Benarkah? Terhadap argumen yang lumayan berat seperti 
itu, apa yang bisa kita katakan?  Saya cenderung melihat konsep Eve Warburton 
sebagai sebuah konstruksi intelektual yang agak berlebihan. Namun harus diakui, 
pengamatan ilmuwan muda dari "Negeri Kanguru" ini terhadap evolusi kekuasaan 
Jokowi cukup jeli dan cenderung akurat. Kita setuju pada fakta yang dia 
ungkapkan: setelah tersudut dan terombang-ambing di tahun pertama, mantan Wali 
Kota Solo itu kini telah menguasai medan sepenuhnya tanpa oposisi yang berarti. 
 The prince is now reigning supreme. Pertanyaan kita adalah apakah fakta 
tersebut berhubungan langsung dengan praktik patronase politik, sebagaimana 
yang disimpulkan Eve Warburton?  Patronase seperti apa persisnya yang 
dipersoalkan di sini? Katakanlah Partai Golkar: setelah berubah dari oposisi 
menjadi pendukung pemerintah, salah seorang kadernya mendapat kursi di kabinet, 
yaitu Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian.  Bagi saya, hal ini bukanlah 
praktik patronase, tetapi lebih sebagai seni membangun koalisi yang memang 
niscaya dalam demokrasi. Lagi pula, pilihan terhadap Airlangga cukup 
meritokratis, sebab dia mampu dan memiliki pengalaman panjang dalam perumusan 
kebijakan industri.  Kita tentu boleh mengkritik pilihan pada Airlangga, 
sebagaimana kita bisa saja menolak pengangkatan Wiranto sebagai Menkopolhukam 
karena perannya dalam prahara Timor-Leste dulu.  Namun, semua itu harus 
didasarkan pada argumen spesifik yang bersifat individual, tidak bisa 
disamaratakan begitu saja dengan mengatakan bahwa kedua tokoh tersebut adalah 
bagian dari patronase politik. Contoh kecil ini mengharuskan kita berhati-hati 
dalam membuat sebuah kesimpulan umum.  Konsep besar, seperti sistem patronase 
politik, memang enak didengar dan menarik sebagai bahan diskusi akademik. Tapi 
kalau sembarangan, konsep tersebut malah akan mengacaukan pengertian kita pada 
kenyataan yang sesungguhnya.  Prioritas Masalah berikutnya dalam penjelasan Eve 
Warburton adalah pada pilihan prioritas kebijakan Jokowi. Dalam kondisi 
Indonesia saat ini, apakah pendobrakan yang transformatif hanya dapat dilakukan 
lewat kebijakan anti korupsi yang bergelora?  Membangun jalan raya, 
mengefisienkan badan usaha milik negara (BUMN), membuka lapangan kerja; kalau 
semua ini berhasil dilakukan, apakah akibatnya tidak transformatif? Apa 
persisnya yang kita maksud dengan transformasi masyarakat? Seorang ilmuwan 
tidak bisa berlindung di balik konsep besar seperti neo-developmentalisme untuk 
menghindari pertanyaan seperti itu.  There must be a conceptual justification, 
suatu hal yang sayangnya tidak dilakukan Eve Warburton. Hal ini membuat 
analisisnya terkesan sepihak, lebih mirip sebagai pamflet politik, bukan uraian 
akademis yang dingin dan berimbang.  Selain itu, dalam soal prioritas 
kebijakan, saya melihat bahwa sejauh ini Jokowi tidak terpenjara, tetapi tumbuh 
dalam kekuasaan. Ia telah meninggalkan retorika era kampanye, dengan memilih 
kebijakan yang memang perlu dan mungkin dilakukan.  Kalau dia berkeras untuk 
setia pada citranya semula sebagai kandidat di luar sistem—seperti yang 
diharapkan Eve Warburton, Hamish McDonald, dan banyak tokoh lainnya di dalam 
dan luar negeri—maka sekarang Jokowi mungkin sudah kebingungan sendiri, 
terkucil dari pemerintahan yang harus dipimpinnya.  Pergeseran posisi demikian 
boleh saja disebut sebagai normalisasi Jokowi. Sebutan ini hanya masalah 
semantik. Yang jelas, kita justru patut bersyukur bahwa dia telah berubah. 
Pertanyaan penting sekarang adalah apakah dengan kekuasaan eksekutif yang kini 
sepenuhnya telah ia kendalikan, plus dukungan mayoritas kursi di DPR, Presiden 
ke-7 RI ini memang mampu mengukir sukses besar?  Mampukah dia membuka lapangan 
kerja seluas-luasnya, meningkatkan taraf pendidikan secara berarti, membangun 
jalan tol 1.000 kilometer?  Semoga Jawaban semua itu tentu tidak bisa diberikan 
sekarang. Kita masih perlu bersabar satu atau dua tahun lagi. Pada saat itulah 
kita bisa menilai apakah Jokowi akan menjadi tokoh transformatif atau 
sebaliknya, seorang pemimpin yang hanya sibuk dengan akumulasi kekuasaan demi 
kekuasaan itu semata. Buat saya, dari segi kebijakan, arah perjalanan Jokowi 
sekarang sudah di jalur yang benar. Kondisi perekonomian dunia memang sedang 
tidak bersahabat, tetapi hal ini pasti tidak permanen.  Lagi pula, masih banyak 
hal yang bisa dilakukan agar Indonesia keluar dari perangkap negara 
berpenghasilan menengah,middle income trap, yang bisa membuat kita hanya 
berjalan di tempat.  Jokowi memiliki sejumlah menteri yang andal. Kombinasi Sri 
Mulyani dan Rini Soemarno, dua perempuan cerdas yang tangguh dengan posisi 
kabinet paling strategis, serta beberapa tokoh lainnya, yaitu Luhut Pandjaitan, 
Susi Pudjiastuti, Basuki Hadimuljono, dan Ignasius Jonan, mestinya sudah lebih 
dari cukup untuk melakukan banyak terobosan.  Dengan pembantu sekaliber mereka, 
plus sedikit keberuntungan, Jokowi seharusnya bisa menggerakkan gunung. Kita 
berdoa semoga semua itu memang terjadi.  RIZAL MALARANGENG, PENDIRI FREEDOM 
INSTITUTE JAKARTA


   

Kirim email ke