Kenapa masalah middle income trap ini dibebankan ke PDIP?

Ini masalah nasional. Ini masalah RI bukan PDIP saja!

 

Kalau economic growth RI tidak bisa melebihi 5%-6% untuk mengakomodasikan 
generasi muda yang akan masuk ke pasar kerja, Indonesia tidak akan bisa keluar 
dari middle income trap ini.

 

Dulu economic growth tinggi didukung oleh commodity boom 2003-2011. Sekarang 
tidak. Harga komoditi babak belur dari lada s/d kelapa sawit dan dari batubara 
s/d minyak.

 

Ada beberapa hal yang menghambat economic growth ini di indonesia:

1.     Pendidikan. Akses ke pendidikan sudah bagus. Masalah yg ada lebih ke 
masalah kwalitas. System pendidikan Indonesia belum menghasilkan skilled 
workers. Dan ini yg diperlukan di tahun2 mendatang bukan hanya cheap labor saja.

2.     Infrastruktur yg kurang memadai. Investasi dalam infrastruktur ini dulu 
dibawah 4% dari GDP. Biasanya 8%. Ini yg dilakukan oleh Jokowi setengah mati 
krn tahu masalah ini adalah structural problem buat RI. Kajiannya ada di 
worldbank maupun IMF. Bisa dibaca bagaimana korelasi investasi infrastruktur 
dengan perlambahan pertumbuhan ekonomi.

3.     Subsidi BBM yg parah dulu sudah dilaksanakan oleh Jokowi. Ini menghemat 
anggaran utk pengembangan di sector lain.

 

Ketiga hal ini sangat dipengaruhi oleh banyak variable yg mengganggu seperti 
masalah disintegrasi, SARA, kepastian hukum, korupsi, political structure yg 
kacau, hubungan antar lembaga, masih hijau dalam menerapkan demokrasi dll.

 

Jokowi sudah mulai mengadakan perombakan. Belum ada presiden sebelum Jokowi yg 
bisa melihat masalah2 ini dan masalah kedepan yg dihadapi oleh RI. Tahupun 
presiden2 sebelum Jokowi hanya bermain safe, ikut arus krn tidak mau mengganggu 
jalannya perekonomian RI. Ini terutama dilakukan oleh SBY. Sayangnya masalah2 
structural itu seperti bom waktu yg siap saat bisa meledak.

 

Kalau semua masalah2 ini bisa ditanggulangi niscaya RI bisa berkembang 
sekurang2nya keluar dari middle income gap ini. ini yg sedang diperhatikan oleh 
banyak negara didunia. Dengan cari inilah RI bisa memperbaiki competitiveness 
nya. Kalau sudah bisa berproduksi, dan dengan skilled workers yang mengerti 
arena pasar dunia, serta kepercayaan internasional, RI bisa menuju era baru. 
Didunia ini kebanyakan negara masuk dalam kategori middle income trap terutama 
negara2 di amerika latin.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, November 8, 2016 9:07 PM
To: [email protected]; Chan CT <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Re: Fw: Pergeseran Kepemimpinan Jokowi

 

  

Sejak ditinggalkan banyak tokoh pemikirnya, belum pernah lagi 



PDIP mengeluarkan pendapat lebih-lebih pernyataan berkadar 



akademik. Sebagai contoh kecil, belum pernah tokoh PDIP bicara

soal keresahan yang merebak di masyarakat tentang 'jebakan 



kelas menengah' seperti disebut di bawah. Kalaupun disinggung 



tentang masalah ini sebagian pendukung Megawati dengan enteng 



menjawab, kita belum sampai di situ (belum terjebak maksudnya) 



dan sebagian lagi morang-maring bertanya jebakan apa!?? lantas 



beretorikalah dia soal definisi 'jebakan'.





Padahal, dari yang berlangsung di sekitar, jebakan kelas menengah ini 

bukan hanya membuat masyarakat Indonesia berjalan di tempat, tapi 

ya semakin terkubur dalam timbunan utang.





"Lagi pula, masih banyak hal yang bisa dilakukan agar Indonesia 



keluar dari perangkap negara berpenghasilan menengah,middle income trap, 



yang bisa membuat kita hanya berjalan di tempat."





--- SADAR@... wrote:

 

 

From: B.DORPI P. 

Sent: Wednesday, November 9, 2016 8:19 AM

 

 
<http://doa-bagirajatega.blogspot.co.id/2016/11/pergeseran-kepemimpinan-jokowi-rizal.html>
 
http://doa-bagirajatega.blogspot.co.id/2016/11/pergeseran-kepemimpinan-jokowi-rizal.html

Selasa, 08 November 2016 

 

Pergeseran Kepemimpinan Jokowi 

RIZAL MALLARANGENG

 

" Indonesia 's Widodo, maverick no longer". Itulah judul kolom Hamish McDonald 
di Nikkei Asian Review baru-baru ini. Wartawan senior Australia ini rupanya 
mulai khawatir: Presiden Jokowi, setelah dua tahun memerintah, berubah menjadi 
politisi normal, bukan lagi pendobrak yang militan, maverick. 

 

Pesimisme McDonald seperti ini berasal dari hasil penelitian Eve Warburton, 
ilmuwan politik di Australian National University . Penelitian Warburton 
menarik karena setidaknya dia memberi kerangka yang sistematis untuk 
mendiskusikan ciri khas pemerintahan Jokowi yang saat ini sudah memasuki tahun 
ketiga. 

 

Konsepnya yang mencuri perhatian adalah neo-developmentalisme. Ia mengingatkan 
kita pada perdebatan lama tentang karakteristik pemerintahan Jenderal Soeharto. 
Dengan konsep ini, Warburton berargumen bahwa Jokowi—setelah menang pilpres 
dengan citra kerakyatan yang berada di luar sistem—kini mengembangkan praktik 
patronase yang sama dengan sebelumnya. 

 

Bedanya, kalau Pak Harto otoriter, Jokowi harus bermain dalam panggung 
demokrasi. Namun, esensi keduanya sama: the exercise of power digunakan untuk 
mencapai tujuan non-kerakyatan, seperti deregulasi, disiplin fiskal, 
pengembangan infrastruktur, dengan menafikan tujuan lainnya. 

 

Dalam hal Jokowi, Eve Warburton menjelaskan bahwa kini semangatnya untuk 
memimpin gebrakan pemberantasan korupsi sudah menipis, sementara kemampuannya 
untuk melakukan manuver politik justru semakin canggih dan licin. 

 

Jadi, singkatnya, seperti dikatakan Hamish McDonald di atas, Presiden Jokowi 
sekarang sudah menjadi normal: seorang pemimpin yang beradaptasi dan 
memanfaatkan lingkungan sekitarnya, bukan mengubah, apalagi mentranformasikan 
lingkungan tersebut. 

 

Sang penguasa telah menghirup opium kekuasaan yang membius. Benarkah? Terhadap 
argumen yang lumayan berat seperti itu, apa yang bisa kita katakan? 

 

Saya cenderung melihat konsep Eve Warburton sebagai sebuah konstruksi 
intelektual yang agak berlebihan. Namun harus diakui, pengamatan ilmuwan muda 
dari "Negeri Kanguru" ini terhadap evolusi kekuasaan Jokowi cukup jeli dan 
cenderung akurat. Kita setuju pada fakta yang dia ungkapkan: setelah tersudut 
dan terombang-ambing di tahun pertama, mantan Wali Kota Solo itu kini telah 
menguasai medan sepenuhnya tanpa oposisi yang berarti. 

 

The prince is now reigning supreme. Pertanyaan kita adalah apakah fakta 
tersebut berhubungan langsung dengan praktik patronase politik, sebagaimana 
yang disimpulkan Eve Warburton? 

 

Patronase seperti apa persisnya yang dipersoalkan di sini? Katakanlah Partai 
Golkar: setelah berubah dari oposisi menjadi pendukung pemerintah, salah 
seorang kadernya mendapat kursi di kabinet, yaitu Airlangga Hartarto, Menteri 
Perindustrian. 

 

Bagi saya, hal ini bukanlah praktik patronase, tetapi lebih sebagai seni 
membangun koalisi yang memang niscaya dalam demokrasi. Lagi pula, pilihan 
terhadap Airlangga cukup meritokratis, sebab dia mampu dan memiliki pengalaman 
panjang dalam perumusan kebijakan industri. 

 

Kita tentu boleh mengkritik pilihan pada Airlangga, sebagaimana kita bisa saja 
menolak pengangkatan Wiranto sebagai Menkopolhukam karena perannya dalam 
prahara Timor-Leste dulu. 

 

Namun, semua itu harus didasarkan pada argumen spesifik yang bersifat 
individual, tidak bisa disamaratakan begitu saja dengan mengatakan bahwa kedua 
tokoh tersebut adalah bagian dari patronase politik. Contoh kecil ini 
mengharuskan kita berhati-hati dalam membuat sebuah kesimpulan umum. 

 

Konsep besar, seperti sistem patronase politik, memang enak didengar dan 
menarik sebagai bahan diskusi akademik. Tapi kalau sembarangan, konsep tersebut 
malah akan mengacaukan pengertian kita pada kenyataan yang sesungguhnya. 

 

Prioritas Masalah berikutnya dalam penjelasan Eve Warburton adalah pada pilihan 
prioritas kebijakan Jokowi. Dalam kondisi Indonesia saat ini, apakah 
pendobrakan yang transformatif hanya dapat dilakukan lewat kebijakan anti 
korupsi yang bergelora? 

 

Membangun jalan raya, mengefisienkan badan usaha milik negara (BUMN), membuka 
lapangan kerja; kalau semua ini berhasil dilakukan, apakah akibatnya tidak 
transformatif? Apa persisnya yang kita maksud dengan transformasi masyarakat? 
Seorang ilmuwan tidak bisa berlindung di balik konsep besar seperti 
neo-developmentalisme untuk menghindari pertanyaan seperti itu. 

 

There must be a conceptual justification, suatu hal yang sayangnya tidak 
dilakukan Eve Warburton. Hal ini membuat analisisnya terkesan sepihak, lebih 
mirip sebagai pamflet politik, bukan uraian akademis yang dingin dan berimbang. 

 

Selain itu, dalam soal prioritas kebijakan, saya melihat bahwa sejauh ini 
Jokowi tidak terpenjara, tetapi tumbuh dalam kekuasaan. Ia telah meninggalkan 
retorika era kampanye, dengan memilih kebijakan yang memang perlu dan mungkin 
dilakukan. 

 

Kalau dia berkeras untuk setia pada citranya semula sebagai kandidat di luar 
sistem—seperti yang diharapkan Eve Warburton, Hamish McDonald, dan banyak tokoh 
lainnya di dalam dan luar negeri—maka sekarang Jokowi mungkin sudah kebingungan 
sendiri, terkucil dari pemerintahan yang harus dipimpinnya. 

 

Pergeseran posisi demikian boleh saja disebut sebagai normalisasi Jokowi. 
Sebutan ini hanya masalah semantik. Yang jelas, kita justru patut bersyukur 
bahwa dia telah berubah. Pertanyaan penting sekarang adalah apakah dengan 
kekuasaan eksekutif yang kini sepenuhnya telah ia kendalikan, plus dukungan 
mayoritas kursi di DPR, Presiden ke-7 RI ini memang mampu mengukir sukses 
besar? 

 

Mampukah dia membuka lapangan kerja seluas-luasnya, meningkatkan taraf 
pendidikan secara berarti, membangun jalan tol 1.000 kilometer? 

 

Semoga Jawaban semua itu tentu tidak bisa diberikan sekarang. Kita masih perlu 
bersabar satu atau dua tahun lagi. Pada saat itulah kita bisa menilai apakah 
Jokowi akan menjadi tokoh transformatif atau sebaliknya, seorang pemimpin yang 
hanya sibuk dengan akumulasi kekuasaan demi kekuasaan itu semata. Buat saya, 
dari segi kebijakan, arah perjalanan Jokowi sekarang sudah di jalur yang benar. 
Kondisi perekonomian dunia memang sedang tidak bersahabat, tetapi hal ini pasti 
tidak permanen. 

 

Lagi pula, masih banyak hal yang bisa dilakukan agar Indonesia keluar dari 
perangkap negara berpenghasilan menengah,middle income trap, yang bisa membuat 
kita hanya berjalan di tempat. 

 

Jokowi memiliki sejumlah menteri yang andal. Kombinasi Sri Mulyani dan Rini 
Soemarno, dua perempuan cerdas yang tangguh dengan posisi kabinet paling 
strategis, serta beberapa tokoh lainnya, yaitu Luhut Pandjaitan, Susi 
Pudjiastuti, Basuki Hadimuljono, dan Ignasius Jonan, mestinya sudah lebih dari 
cukup untuk melakukan banyak terobosan. 

 

Dengan pembantu sekaliber mereka, plus sedikit keberuntungan, Jokowi seharusnya 
bisa menggerakkan gunung. Kita berdoa semoga semua itu memang terjadi. 

 

RIZAL MALARANGENG, 

PENDIRI FREEDOM INSTITUTE JAKARTA

 



Kirim email ke