Khawatir, terkejut, dan Fadli Zon: inilah respons netizen Indonesia atas 
kemenangan Trump di pilpres AS http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37919062 
9 November 2016
Kirim http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37919062#share-tools
 
 Image copyrightAPImage captionDonald Trump mengungguli Hillary Clinton dalam 
pilpres Amerika Serikat. Ini adalah jam-jam yang menegangkan bagi seluruh 
dunia: menanti siapa pemimpin baru Amerika Serikat.
 Walau berada jauh di sana, kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS menjadi 
perhatian banyak pengguna media sosial di Indonesia.
 "Kok serem sendiri ya liat pemilu AS," kata @avinugr di Twitter. Lainnya 
mengatakan, "bikin deg-degan!"
Image copyrightTWITTER Menjelang menit-menit kemenangan Donald Trump, keresahan 
mulai terasa di linimasa. "Bayangkan andai di RI ada tokoh rasis, intoleran, 
suka ngafir-ngafirin nyalonin jadi presiden. Terus menang. Alangkah suramnya. 
AS kayak begitu sekarang," kata Akhmad Sahal cendikiawan Muslim yang kini 
tinggal di Amerika Serikat.
 Kekhawatiran ini cukup beralasan karena berbagai komentar-komentar Trump yang 
dianggap cenderung memojokkan Muslim. Akhir tahun lalu misalnya Donald Trump 
meminta langkah penghentian yang 'total dan komplet' agar kaum muslim tidak 
memasuki Amerika Serikat.
 Pernyataan ini merujuk jajak pendapat Center for Security Policy yang 
menunjukkan 'kebencian' kaum Muslim terhadap warga Amerika bisa membahayakan 
negara, walau dalam beberapa bulan kemudian Trump tampak melunak dengan 
mengatakan bahwa gagasan mencekal orang Islam yang mau berkunjung ke AS hanya 
sekedar saran saja. 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160512_dunia_trump_islam_sadiq
 Namun sebagian orang merasa kekhawatiran itu berlebihan. "Masa sih separah 
itu" tanya satu pengguna. Lainnya mengungkap sisi positif Trump dengan 
mengatakan, "Lagi pula Trump janji menurunkan pajak 50%, itu meringankan 
pengusaha dan kelas menengah. Hillary malah mau nambah pajak," kata @zevanya.
Image copyrightTWITTERImage caption"Petaka bagi Muslim Amerika," kata Sahal. 
Sependapat?Image copyrightTWITTERImage captionBagaimana bisa Trump menang? 
Beberapa orang berkelakar.Image copyrightTWITTERImage captionTrump menang 
karena muncul sebagai pahlawan, kata yang lain. 'Emosi, bukan logika' Bagi yang 
lain, kemenangan Trump berarti sesuatu yang lebih besar. Ini mencerminkan 
perilaku pemilih yang emosional, kata Yenny Wahid, Direktur Wahid Institute.
 Dalam akun Twitternya mengatakan "Trump menang salah satunya karena gencar 
serang Islam. Muslim dijadikan momok bersama untuk takuti pemilih US. Pemilih 
tidak rasional percaya dia."
 "Brexit, Trump dan dalam konteks Indonesia, 411, menunjukan bahwa orang 
memilih berdasarkan emosi bukan secara rasional. Lalu mereka menyesal 
kemudian," katanya.
 Melihat tren ini, akun @ayaelectro berkomentar, "Habib Rizieq habis ini 
mungkin terinspirasi nyalon pilpres karena se-gak suka apapun orang sama dia, 
kesempatan menang tetap ada."
Image copyrightTWITTER Lainnya berandai-andai...
Image copyrightFACEBOOKImage caption"Bayangin pilpres 2019, isinya Ani 
Yudhoyono vs Ahmad Dhani, terus yang menang Ahmad Dhani. Kayak gitu perasaan 
warga Amrik sekarang." Selain kekhawatiran soal Muslim, pengguna media sosial 
juga menyoroti nasib pelajar atau calon pelajar Indonesia yang ingin menempuh 
pendidikan di AS. "Bahkan Pemilu US mempengaruhi rencana masa depan anak-anak 
Indonesia. Wuih," kata @ainunchomsun.
Image copyrightTWITTERImage captionApakah akan berpengaruh terhadap pelajar 
Indonesia yang akan ke sana? Fadli Zon dan Setya Novanto
 Dan, pengguna Twitter tampaknya tak pernah lupa atas kegaduhan ketika 
politikus Indonesia Fadli Zon dan Setya Novanto muncul dalam kampanye Trump. 
Beberapa mulai membuat lelucon.
 "Bro @fadlizon dan mas @setnov_dpr_ri, Selamat atas kemenangan sahabatnya," 
kata Akbar Faisal.
 "Pengaruh Fadli Zon dan Setya Novanto pada elektabilitas Trump ternyata sangat 
besar. Pastikkk!!! Pastikkk!!! ((Kaleeuuummm))," kata @maman1965.
 "#Trump menang dan @fadlizon will make America great again... Huehehehehe," 
kata @YohanesEko.
Image copyrightTWITTER Tapi apakah kemenangan Trump betul-betul begitu 
mengkhawatirkan? Beberapa pengguna berpendapat beda. Dari Facebook BBC 
Indonesia, Jermia Manu menulis, "itu pilihan AS dengan semua risikonya. Muslim 
moderat harus rapatkan barisan untuk miliki sikap jelas dan tegas terhadap 
segelintir radikal ekstrim."
 Lainnya berpendapat, "Trump akan memperkuat perdamaian dunia karena dia lebih 
bijak, dalam pidatonya berkata pahit supaya hasilnya manis. Jarang-jarang ada 
yang begitu rata rata berkata manis tapi apa?" kata Zenifer Liem.
 Terlepas dari itu, satu sisi positif yang mungkin dirasa Indonesia adalah ini: 
"kalau Trump terpilih jadi Presiden AS, ada berkah, karena dolar melemah. 
Semoga Rupiah menguat atas dolar," kata Ulin Yusron di Twitter.

 

 

Kirim email ke