Bila seseorang menyalahkan orang lain mesti introspeksi diri dulu.
Maaf tidak ada hubungannya antara kemenangan Trump dengan hancurnya ekonomi 
dunia,
Kita tahu semau perusahaan besar didunia milik warga negara AS seperti exxon, 
Freeport, Chevron dll.
Di Amerika ada traider keuangan raksasa yang namanya George Soros, dimana 
beliau siap mencaplok dan merobek robek siapa saja yang berani macam-macam sama 
amerika

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, November 10, 2016 10:17 AM
To: [email protected]
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Khawatir, terkejut, dan Fadli Zon: inilah 
respons netizen Indonesia atas kemenangan Trump di pilpres AS







Khawatir, terkejut, dan Fadli Zon: inilah respons netizen Indonesia atas 
kemenangan Trump di pilpres AS<http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37919062>

  *   9 November 2016
Kirim<http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37919062#share-tools>
[trump]Image copyrightAPImage captionDonald Trump mengungguli Hillary Clinton 
dalam pilpres Amerika Serikat.

Ini adalah jam-jam yang menegangkan bagi seluruh dunia: menanti siapa pemimpin 
baru Amerika Serikat.

Walau berada jauh di sana, kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS menjadi 
perhatian banyak pengguna media sosial di Indonesia.

"Kok serem sendiri ya liat pemilu AS," kata @avinugr di Twitter. Lainnya 
mengatakan, "bikin deg-degan!"
[twitter]Image copyrightTWITTER

Menjelang menit-menit kemenangan Donald Trump, keresahan mulai terasa di 
linimasa. "Bayangkan andai di RI ada tokoh rasis, intoleran, suka 
ngafir-ngafirin nyalonin jadi presiden. Terus menang. Alangkah suramnya. AS 
kayak begitu sekarang," kata Akhmad Sahal cendikiawan Muslim yang kini tinggal 
di Amerika Serikat.

Kekhawatiran ini cukup beralasan karena berbagai komentar-komentar Trump yang 
dianggap cenderung memojokkan Muslim. Akhir tahun lalu misalnya Donald Trump 
meminta langkah penghentian yang 'total dan komplet' agar kaum muslim tidak 
memasuki Amerika Serikat.

Pernyataan ini merujuk jajak pendapat Center for Security Policy yang 
menunjukkan 'kebencian' kaum Muslim terhadap warga Amerika bisa membahayakan 
negara, walau dalam beberapa bulan kemudian Trump tampak melunak dengan 
mengatakan bahwa gagasan mencekal orang Islam yang mau berkunjung ke AS hanya 
sekedar saran 
saja.<http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160512_dunia_trump_islam_sadiq>

Namun sebagian orang merasa kekhawatiran itu berlebihan. "Masa sih separah itu" 
tanya satu pengguna. Lainnya mengungkap sisi positif Trump dengan mengatakan, 
"Lagi pula Trump janji menurunkan pajak 50%, itu meringankan pengusaha dan 
kelas menengah. Hillary malah mau nambah pajak," kata @zevanya.
[twitter]Image copyrightTWITTERImage caption"Petaka bagi Muslim Amerika," kata 
Sahal. Sependapat?[twitter]Image copyrightTWITTERImage captionBagaimana bisa 
Trump menang? Beberapa orang berkelakar.[twitter]Image copyrightTWITTERImage 
captionTrump menang karena muncul sebagai pahlawan, kata yang lain.
'Emosi, bukan logika'

Bagi yang lain, kemenangan Trump berarti sesuatu yang lebih besar. Ini 
mencerminkan perilaku pemilih yang emosional, kata Yenny Wahid, Direktur Wahid 
Institute.

Dalam akun Twitternya mengatakan "Trump menang salah satunya karena gencar 
serang Islam. Muslim dijadikan momok bersama untuk takuti pemilih US. Pemilih 
tidak rasional percaya dia."

"Brexit, Trump dan dalam konteks Indonesia, 411, menunjukan bahwa orang memilih 
berdasarkan emosi bukan secara rasional. Lalu mereka menyesal kemudian," 
katanya.

Melihat tren ini, akun @ayaelectro berkomentar, "Habib Rizieq habis ini mungkin 
terinspirasi nyalon pilpres karena se-gak suka apapun orang sama dia, 
kesempatan menang tetap ada."
[twitter]Image copyrightTWITTER

Lainnya berandai-andai...
[facebook]Image copyrightFACEBOOKImage caption"Bayangin pilpres 2019, isinya 
Ani Yudhoyono vs Ahmad Dhani, terus yang menang Ahmad Dhani. Kayak gitu 
perasaan warga Amrik sekarang."

Selain kekhawatiran soal Muslim, pengguna media sosial juga menyoroti nasib 
pelajar atau calon pelajar Indonesia yang ingin menempuh pendidikan di AS. 
"Bahkan Pemilu US mempengaruhi rencana masa depan anak-anak Indonesia. Wuih," 
kata @ainunchomsun.
[twitter]Image copyrightTWITTERImage captionApakah akan berpengaruh terhadap 
pelajar Indonesia yang akan ke sana?

Fadli Zon dan Setya Novanto

Dan, pengguna Twitter tampaknya tak pernah lupa atas kegaduhan ketika politikus 
Indonesia Fadli Zon dan Setya Novanto muncul dalam kampanye Trump. Beberapa 
mulai membuat lelucon.

"Bro @fadlizon dan mas @setnov_dpr_ri, Selamat atas kemenangan sahabatnya," 
kata Akbar Faisal.

"Pengaruh Fadli Zon dan Setya Novanto pada elektabilitas Trump ternyata sangat 
besar. Pastikkk!!! Pastikkk!!! ((Kaleeuuummm))," kata @maman1965.

"#Trump menang dan @fadlizon will make America great again... Huehehehehe," 
kata @YohanesEko.
[twitter]Image copyrightTWITTER

Tapi apakah kemenangan Trump betul-betul begitu mengkhawatirkan? Beberapa 
pengguna berpendapat beda. Dari Facebook BBC Indonesia, Jermia Manu menulis, 
"itu pilihan AS dengan semua risikonya. Muslim moderat harus rapatkan barisan 
untuk miliki sikap jelas dan tegas terhadap segelintir radikal ekstrim."

Lainnya berpendapat, "Trump akan memperkuat perdamaian dunia karena dia lebih 
bijak, dalam pidatonya berkata pahit supaya hasilnya manis. Jarang-jarang ada 
yang begitu rata rata berkata manis tapi apa?" kata Zenifer Liem.

Terlepas dari itu, satu sisi positif yang mungkin dirasa Indonesia adalah ini: 
"kalau Trump terpilih jadi Presiden AS, ada berkah, karena dolar melemah. 
Semoga Rupiah menguat atas dolar," kata Ulin Yusron di Twitter.





Kirim email ke