Tidak semudah itu. Kalau semudah itu ya semua negara bisa narik uang dan atau cetak uang.
Cetak uang tidak sembarangan. Bisa bikin inflasi krn jumlah uang beredar naik. Begitu juga narik uang tidak gampang krn suatu negara butuh uang utk narik uang beredar dipasar kan? Uang itu adalah hutang. Yang cetak uang itu adalah bank sentral bukan pemerintah. bank sentral itu satu2nya otoritas disuatu negara yg independent ngurusin moneter. Beda dgn keuangan yg diurus oleh dept. keuangan. Sebagai lembaga independen, bank sentral tidak mudah atau begitu saja disuruh2 oleh pemerintah utk cetak uang. Ada prosedur/hukum/uu yg berlaku disetiap negara. Ini sedikit ttg uang: Uang ada 2: giral dan kartal. Giral itu oleh bank dan kartal yg dipegang tangan dalam bentuk kas itu yg bisa dicetak. Giral dikeluarkan semua bank dalam bentuk hutang. Duit kartal dicetak oleh bank sentral. Bank sentral mencetak uang utk mengganti uang usang. Kalau bank sentral mencetak uang giral gila2an akan mengakibatkan inflasi. Ini berbahaya. Uang beredar itu kebanyakan dalam bentuk giral bukan kartal. Kecil sekali persentase uang kartal itu. Pada umumnya disuatu negara uang kartal paling2 dibawah 5%. 95% uang giral. Semakin tinggi economic growth nya suatu negara semakin tinggi uang giral yg beredar. Jadi patokannya uang itu adalah hutang. jadi tidak sembarangan dicetak2 atau ditarik2. Dan yang narik dan cetak itu bank sentral bukan pemerintah. tentunya ada pengecualiannya: dinegara otoriter semua bisa dilakukan pemimpin otoriternya. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Monday, November 21, 2016 7:07 PM To: '[email protected]' <[email protected]>; '[email protected]' <[email protected]> Subject: [GELORA45] The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Maaf saya tidak mengerti soal keuangan, tapi saya sering mendengar BI sering menarik uang yang sudah usang, robek, atau jika mau mengeluarkan uang baru. Selanjutnya uang ini di bakar, seperti teman saya didenpasar mendapatkan beberapa lembar uang 50.000 an separo bekas terbakar karena uangnya diterbangkan oleh angin dari arah tungku pembakaran uang di BI. Saya beberapa kali saya baca di medsos, hukum pasar untuk barang yaitu jika barangnya banyak maka harganya akan murah begitu sebaliknya jika barangnya sedikit maka harganya akan mahal. Makanya saya sarankan BI untuk menarik pelan pelan uang pecahan 100.000 dan 50.000 serta 20.000, 10.000, 5.000 mumpung inflasi stabil. Jika inflasi tinggi saya tidak berani kasi saran untuk menarik peredaran uang. Hal ini juga berlaku untuk uang logam dan kertas Rp. 100 yang harganya selangit karena barang langka. Kalau kasus dulu tahun 1970 an perubahan harga uang dari 1000 menjadi rp. 1 memang beda, karena jumlah dolar kalau tidak salah baca jumlahnya banyak. From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Monday, November 21, 2016 7:51 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [**EXTERNAL**] RE: [GELORA45] The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Gimana caranya menarik uang beredar itu? Itu namanya contraction monetary policy. Lawannya expansion monetary policy. Ini ilmu ekonomi. Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, November 20, 2016 6:56 PM To: '[email protected]' <[email protected] <mailto:[email protected]> >; '[email protected]' <[email protected] <mailto:[email protected]> >; '[email protected]' <[email protected] <mailto:[email protected]> >; '[email protected]' <[email protected] <mailto:[email protected]> > Subject: [GELORA45] The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Sudah saya bilang, supaya harga rupiah bisa bernilai tinggi pemerintah harus bekerja sama dengan BI. Caranya ikuti hukum pasar, semakin banyak uang beredar maka harga rupiah akan menjadi rendah kalau sedikit rupiah beredar maka harganya jadi tinggi. Oleh sebab itu tarik saja separo atau ¾ peredaran rupiah sehingga harga rupiah akan menguat menjadi 5000-7000 per USD. Atau kalau mau gunakan uang sen yang pernah berlaku tahu 1970 an, Caranya menarik jangan sekaligus mungkin tiap minggu 5 % Atau berlakukan uang ratusan sampai seribu, dan uang 5000 sampai 100000 di tarik semua BI gak usah terlau tegas, kita harus punya stok cadangan emas segala, kita mestinya mengarah pada permintan pasar saja. From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, November 20, 2016 7:12 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [**EXTERNAL**] RE: [GELORA45] The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Nah bener kan gak tahan siajeg ini kalau rupiah sudah lemah, pasti dia nongol lagi dan mulai bashing lagi. Hehehehehe. Tempo hari rupiah 14000, dia bashing Jokowi. Tapi lucunya rupiah menguat dari 14000 ke 13000, dia hilang. Sekarang naik lagi dari 13000, dia mulai nongol lagi. Hehehehehe industrialisasi dihubungkan dengan rupiah. Sederhana sekali jalan pikiran siajeg ini ya. Gampang sekali bikin industrialisasi suatu negara yg variablenya hanya 1: rupiah. Ini pendapat siajeg loh bukan ane. Hehehehehe lucu ya Tapi lebih lucu temennya sijonathan diem aja. Gak komentar kalau rupiah lemah itu ada bagusnya. Akan lebih lucu lagi kalau siajeg ini nulis begini nantinya: “kapan saya bilang rupiah lemah bagus? Buktikan mana tulisan saya yang bilang begitu!”. Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, November 19, 2016 2:52 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [GELORA45] The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Kabar baik bagi pecinta rupiah lemah. Konon, peluang gede untuk mengekspor peniti & cangkul... 18/11/16 USD = 13.475,- --- The Fed Beri Sinyal Kenaikan Bunga, Wall Street Terkoreksi Agust Supriadi, CNN Indonesia | Sabtu, 19/11/2016 11:21 WIB Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa saham Amerika Serikat menutup pekan ini dengan pelemahan menyusul pernyataan pejabat bank sentral (The Federal Reserve) yang mendorong kenaikan suku bunga acuan pada bulan depan. Pada Jumat (18/11) waktu setempat, indeks Dow Jones industrial average terkoreksi 35,89 poin atau 0,19 persen menuju level 18.867,93. Pelemahan juga terjadi pada indeks S&P 500, yang turun 5,22 poin atau 0,24 persen menjadi 2.181,9. Nasib serupa juga dialami indeks Nasdaq Composite, yang melemah 12,46 poin atau 0,23 persen ke level 5.321,51 setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi 5.346,8. Sekitar 6,69 miliar saham berpindah tangan pada perdagangan kemarin. Namun, volume transaksinya masih lebih rendah dari rata-rata perdagangan 20 sesi terakhir, yang berkisar 8,02 miliar. Pelemahan Wall Street terjadi seiring dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed . Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters, 83 persen responden optimistis The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya pada Desmber 2016. Hal ini selaras dengan pernyataan Presiden Fed St Louis, James Bullard, yang dikutip Reuters pada Jumat (18/11). Ia mengaku lebih condong atau mendukung kenaikan suku bunga pada bulan depan. Demikian pula dengan Presiden Fed Kansas City, Esther George yang mengatakan mendukung kenaikan suku bunga acuan tetapi Bank Sentral AS harus melakukannya secara bertahap. Komentar keduanya merupakan penjelasan tambahan atas pernyataan Ketua Dewan Gubernur The Fed Janet Yellen, yang pada hari sebelumnya, Kamis (17/11) menegaskan kenaikan suku bunga acuan akan dilakukan segera. Analis dan pelaku pasar menyimpulkan pernyataan para pejabat Teh Fed itu sebagai indikasi jelas bahwa bank sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga pada bulan depan. Di luar Amerika, pasar ekuitas Eropa ditutup sedikit lebih rendah di tengah menguatnya dolar AS. Indeks DAX 30 Jerman di Bursa Efek Frankfurt turun 0,2 persen, sedangkan indeks FTSE 100 Inggris turun 0,28 persen. Sebelumnya di Asia, saham-saham di China melemah pada Jumat, salah satunya tercermin dari pelemahan indeks komposit Shanghai, yang minus 0,49 persen menjadi 3.192,86. Kendati demikian, bursa saham China masih melanjutkan kenaikan mingguan keenam berturut-turut berkat indikator stabilitas ekonomi yang menguat. (ags)
