oh begitu, dari perkumpulan istri.tapi itu suatu hal yg logis ngomong begitu karena hanya mengenal 1 warga negara sedang negara yg lain mungkin tidak masalah. pada prakteknya mungkin banyak yg punya 2 pasport. UU kewarganegaraan itu khan bisa diperbaiki. ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
Data lengkap mestinya ada di kemenkumham. Dari yang sempat saya ikuti di kumpulan istri ekspat di Jkt itu umumnya sang anak memilih ikut kewarganegaraan ibu. Alasan sambil lalu, lidahnya terlanjur cocok dengan masakan Indonesia. Kenapa harus memilih salahsatu ya karena Indonesia tidak menganut kewarganegaraan ganda. --- jonathangoeij@... wrote: apakah ada data berapa persen yg pilih Indonesia? katakanlah orang tua tidak akur, kenapa kok si anak harus memilih salah satu? --- ajegilelu@... wrote : Pada dasarnya Indonesia tidak menganut kewarganegaraan ganda. Jadi, status terbatas itu untuk memberi kesempatan kepada anak menggunakan haknya untuk memilih kewarganegaraan sang ayah atau ibu. Umumnya anak memilih ibu. Lebih tidak berperikemanusiaan kalau hak anak itu diabaikan. Sepertinya keluarga-keluarga itu menyadari dan siap dengan konsekuensi ini. Hanya suami-istri yang kurang akur yang menyusahkan anak. --- jonathangoeij@... wrote: sebenarnya dwi-warganegara terbatas apa ada manfaatnya, waktu anak memasuki usia dewasa justru dipaksa menghadapi dilema pilih bapak atau ibu, uu yg paling tidak berperikemanusiaan.--- ajegilelu@... wrote : Di Jkt ada perkumpulan istri ekspat. Cukup gigih memperjuangkan kewarganegaraan anak serta hak atas harta perkawinan. --- jonathangoeij@... wrote: ekspor tkw pulang bawa anak --- inengahk@... wrote : Gak apa apa yang penting istri tidak impor. kd From: jonathangoeij@... cangkul import singkong import daging import beras import dll, dll, dll... --- nesare1@... wrote : Jawabannya: coba jawab sepanjang sejarah sudah banyak kali rupiah menguat atawa terapresiasi bahkan sangat banyak sekali, kenapa kok import masih kembang kempis? Hehehehehe Nesare
