Betul, pak nelayan, Belanda juga harus didemo, seperti yang terjadi di 
Honduras. Di Honduras para pejuang lingkungan dan rakyat berhasil menekan 
Belanda untuk menarik dukungan finansialnya kepada mega proyek air yang 
dibiayainya, setelah pembunuhan terhadap Berta Caceres, pemimpin dan aktivis 
Lingkungan.  Tapi perusahaan Tkk yang belum/tidak mau mundur! Ha..ha.. Belanda 
lebih "bermoral" dan "beretika" dari pada kaum kapitalis "komunis" Tkk!!!!



Nelayan dan pegiat desak Belanda hentikan keterlibatan di proyek reklamasi 
Jakarta
Jerome WirawanBBC Indonesia   
   - 6 jam lalu
KirimImage copyrightBBC INDONESIAImage captionPuluhan nelayan berdemonstrasi di 
depan Kedutaan Belanda, mendesak Belanda untuk menghentikan keterlibatan dalam 
proyek reklamasi di Teluk Jakarta.Puluhan demonstran yang tergabung dalam 
Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar 
Belanda, pada Rabu (23/11) siang, mendesak agar Belanda menghentikan 
keterlibatan dalam proyek reklamasi Jakarta.Kepada wartawan, Marthin Hadiwinata 
dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), mengatakan pembangunan 17 
pulau buatan di Teluk Jakarta merugikan kaum nelayan serta memperburuk 
ekosistem perairan pesisir Jakarta.Namun, menurutnya, sejumlah perusahaan 
Belanda justru memanfaatkan situasi ini dengan menjadi konsultan serta 
kontraktor.   
   - Proses reklamasi Teluk Jakarta 'dihentikan sementara'
   - WALHI cemaskan 'tren' reklamasi di pesisir
   - Menteri Susi 'tidak terlibat' reklamasi Teluk Jakarta
"Perusahaan-perusahaan Belanda banyak yang melakukan perencanaan dalam 
reklamasi 17 pulau, dan terbukti di pengadilan perencanaan itu tidak 
partisipatif, tidak melibatkan masyarakat. Perencanaan dan pengerjaan reklamasi 
itu menyembunyikan dampak buruk yang timbul," kata Marthin, yang tidak menampik 
bahwa demonstrasi itu sengaja diselenggarakan bertepatan dengan kunjungan 
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, ke Indonesia.Dua perusahaan Belanda yang 
terlibat dalam perencanaan proyek reklamasi di Teluk Jakarta, adalah Royal 
Haskoning DHV dalam desain Pulau G, Pulau F, dan Pulau N, serta Witeven+Bos 
dalam desain Pulau C, D, dan E.Ada pula Boskalis International, kontraktor 
reklamasi yang jasanya digunakan oleh PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melalui 
PT Muara Wisesa Samudera sebagai pemegang izin pelaksanaan reklamasi Pulau 
G.Boskalis International menggandeng perusahaan asal Belanda, Van Oord, untuk 
menggarap Pulau G. Keduanya meraup nilai kontrak sebesar Rp 4,9 triliun untuk 
tugas merancang dan membangun pulau buatan dengan target penyelesaian reklamasi 
pada 2018.Image copyrightBBC INDONESIAImage captionPembangunan 17 pulau buatan 
di Teluk Jakarta dikalim telah merugikan kaum nelayan serta memperburuk 
ekosistem perairan pesisir Jakarta.
Reklamasi jalan terus
Dampak proyek tersebut diklaim amat merugikan para nelayan di pesisir Jakarta. 
Affandi, salah seorang nelayan di Muara Angke, Jakarta, mengaku tak lagi bisa 
menangkap ikan sebanyak dulu."Sebelum proyek reklamasi, saya masih bisa 
mendapat 3-4 kuintal di perairan Teluk Jakarta. Sekarang susah banget cari ikan 
di sana. Saya harus ke perairan Karawang atau Banten untuk dapat ikan. Ke sana 
kan jauh banget dan butuh banyak bahan bakar," kata Affandi, yang turut 
membentangkan spanduk bertuliskan 'Dampak Reklamasi, Anak-Anak Nelayan Menjerit 
Kelaparan'.   
   - Ditolak nelayan, reklamasi Teluk Jakarta 'jalan terus'
   - Somasi untuk Menko Kemaritiman atas keputusan reklamasi
   - Proyek reklamasi Teluk Jakarta 'membuat cemas' nelayan
Proyek reklamasi, menurut Affandi, masih berlangsung hingga kini. Bahkan, 
khusus untuk Pulau G, proyeknya dapat dimulai kembali setelah Gubernur DKI 
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memenangkan upaya banding di tingkat Pengadilan 
Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN), pada 13 Oktober 2016.Putusan PTTUN itu, 
membatalkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada 31 Mei 2016 yang 
mencabut izin reklamasi Pulau G oleh PT Muara Wisesa sebagai pihak 
pengembang.Image copyrightBBC INDONESIAImage captionFerdinand Lahnstein selaku 
Wakil Dubes Belanda untuk Indonesia berjanji menggelar dialog dengan para 
nelayan yang keberatan dengan proyek reklamasi.
Jalur dialog
Setelah para pengunjuk rasa beraksi dan berorasi selama setengah jam, Wakil 
Dubes Belanda, Ferdinand Lahnstein datang menemui para demonstran di halaman 
Kedubes.Dengan menggunakan mikrofon, dia mengatakan paham dengan kerisauan yang 
timbul dengan proyek reklamasi."Tapi, kami bukanlah pemilik proyek itu. Kami 
hanya membantu pemerintah Indonesia untuk melangkah lebih jauh, ini komitmen 
kami dengan Indonesia. Kami ingin membantu agar Jakarta lebih aman," kata 
Lahnstein.Kepada BBC Indonesia, ia menegaskan pihaknya akan menggelar dialog 
dengan para nelayan yang keberatan dengan proyek reklamasi."Kami sebagai 
perwakilan pemerintah Belanda ingin memfasilitasi dialog. Kami akan membantu 
perwakilan kelompok ini untuk memulai dialog. Karena, seperti juga terjadi di 
Belanda, jika kami ingin membangun proyek infrastruktur, akan selalu ada 
berbagai kepentingan yang terlibat. Karena itu kami ingin berdiskusi untuk 
menemukan solusi. Itu yang saya tawarkan," kata Lahnstein.Ketika Lahnstein 
masuk ke dalam gedung kedutaan, perwakilan demonstran kembali berorasi. 
"Katanya mau dialog, tapi memberi kartu nama saja nggak. Gimana mau dialog?" 
serunya, ditingkahi sorakan para demonstran.

Kirim email ke