Memang saya memandang yg dimaksud Ariel Heryanto "lapisan kelas bawah yang 
menjadi korban kebijakan tata-kotanya" adalah para tergusur itu. Seandainya 
anda berpendapat lain sampaikan saja.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Ariel: Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan 
sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan 
tata-kotanya. Jonathan: ariel Heryanto kelihatannya juga melihat masalah 
penggusuran yg tidak ditangani dengan baik ituNesare: apakah ente ambil 
kesimpulan karena tulisan ariel diatas ini? kalau iya, sembarangan saja 
mengambil kesimpulan begitu!Koq bisa2nya menulis “kelihatannya”. Jangan pake’ 
ariel utk bikin kesimpulan sembarangan! Belajar baca! Jangan hanya asbun saja! 
Nesare  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 12:29 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Ahok, Penista Kemasan Politik  Ariel Heryanto kelihatannya 
juga melihat masalah penggusuran yg tidak ditangani dengan baik itu. Heran juga 
kenapa kok Ahok bersikukuh tidak memberi ganti rugi atau uang kerohiman yang 
layak, selain para tergusur itu memang layak menerima (dan memang sudah 
seharusnya begitu) juga hal itu tidak begitu sukar dilakukan. Ahok seakan 
menciptakan lubang kelemahan dirinya sendiri. --- Secara politik, titik 
terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan sebagian tidak kecil lapisan 
kelas bawah yang menjadi korban kebijakan tata-kotanya. ...
PROFILE

Ariel Heryanto
    
   - 
Profesor di Australian National University
Kolom

Ahok, Penista Kemasan Politik

 

 

| 
|  | 
Ahok, Penista Kemasan Politik - Kursi Panas DKI 1 CNN Indonesia
Sikap politik Ahok tanpa basa-basi membuat muak lawan politiknya, yang 
menggunakan kemasan politik semu. Agama d... |  |

 |


 

 
Ariel HeryantoKamis, 17/11/2016 09:11 WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Sikap politik Ahok tanpa basa-basi membuat muak lawan politiknya, yang 
menggunakan kemasan politik semu. Agama dan suku menjadi titik serang paling 
ampuh. (CNN Indonesia/Safir Makki)Jakarta, CNN Indonesia -- Penetapan Ahok 
sebagai tersangka tidak sepenuhnya mengejutkan banyak pihak. Juga pihak-pihak 
yang saling bertentangan dalam menilai tuduhan penistaan agama olehnya. 
Sebagian pihak yakin Ahok memang bersalah. Maka status tersangka dianggap 
wajar. Sebagian lain yakin Ahok tidak bersalah. Tapi menetapkan Ahok sebagai 
tersangka dipahami sebagai sebuah siasat politik yang cerdik dari pemerintah 
Jokowi. 

Penetapan status itu mengembosi sebagian, jika tidak sepenuhnya, daya tarik dan 
kewibawaan demonstrasi lanjutan (jika ada) terhadap Ahok dan istana. Keputusan 
yang sama membebaskan polisi dan Presiden dari tanggung-jawab atas kasus itu. 
Kini dialihkan ke kejaksaan. 

Proses hukum selanjutnya atas kasus ini bisa makan waktu tahunan, tanpa sedikit 
pun mengurangi hak Ahok bertanding dalam Pilkada DKI. Juga tidak ada jaminan 
tersangka pada akhirnya akan dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Tapi berbagai 
penilaian itu bersifat sangat sementara. 

Ada dua persoalan besar yang belum jelas. 

Pertama, sulit dipastikan bagaimana proses hukum ini akan berlanjut dan sulit 
dipastikan apakah Ahok akan dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh 
pengadilan. Kedua, bagaimana berbagai faktor non-legal ikut berpengaruh pada 
yang pertama, baik secara terbuka atau tertutup. Dalam bentuk tekanan eksternal 
berjarak, atau langsung menerobos proses hukum itu sendiri. 

Sulit membayangkan semua ini sudah ada jawabnya tapi dirahasiakan, seakan-akan 
ada yang mengatur di balik layar. Peluang seperti itu hanya mungkin dalam 
situasi tertentu. Misalnya di puncak kejayaan rezim otoriterisme Orde Baru, 
dengan bangunan politik yang terpusat nyaris mutlak. Tidak sekarang, karena 
terpecah-pecahnya kekuatan politik serba oportunis yang siap berubah tingkah, 
sekutu dan siasat bila dianggap perlu. Kasus Ahok tidak bisa disamakan dengan 
sejumlah kasus lain penistaan agama. Buktinya tidak semua penistaan agama telah 
beramai-ramai digugat seperti halnya pada Ahok, petahana dan calon Gubernur 
DKI, dan mitra politik Presiden yang sedang berkuasa. 

Terlepas dari bagaimana nantinya nasib Ahok di ujung proses hukum, ada yang 
lebih menarik perhatian saya. Yakni sosok Ahok sebagai politikus tanpa kemasan 
atau basa-basi politik. 

Di mana pun di dunia, urusan politik pada dasarnya merupakan tarik-ulur atau 
tawar-menawar, gerak dan gertak-balik, serta kerjasama antara berbagai pihak 
dalam pembagian kuasa kenegaraan dan kepentingan material. Di mana pun di 
dunia, proses politik tidak tampil dan berlangsung telanjang bulat. Tetapi 
dibungkus dan dikemas dalam berbagai wacana dan format pemanis. 

Ilmuwan sosial Pierre Bourdieu menyebutnya eufemisme. 

Dengan kemasan orang berpolitik seakan-akan tidak sedang berpolitik. Caranya 
dengan membungkus gerak-gerik politiknya dalam kemasan yang dianggap sedang sah 
dan terhormat dalam masyarakat. Entah itu kemasan moral (baik/buruk), keagamaan 
(suci/nista), hukum (salah/benar) dan kultural (tinggi/rendah) seterusnya. 
Berbagai pihak menggunakan kemasan non-politik yang berbeda-beda. 

Ini bergantung pada modal yang paling dimilikinya: modal-ekonomi, atau 
modal-moral, atau modal-keagamaan. Kemasan tidak sama dengan tipuan. Tidak ada 
yang menipu atau ditipu. Karena semua dianggap sudah tahu-sama-tahu, mana yang 
politik dan mana yang kemasan. 

Sarat Muatan Politik

Sejak awal, tuduhan terhadap Ahok sebagai penista agama sarat dengan muatan 
politik. Tapi tidak semata-mata dinyatakan dalam kemasan politik. Lebih sering 
dikemas dalam wacana keagamaan. Serangan ini sebagian datang dari mereka yang 
sejujur-jujurnya perduli pada soal agama. Namun, para musuh politik Ahok 
ikut-ikutan menumpang, dan membesar-besarkan kasus itu seakan-akan mereka juga 
peduli pada masalah agama. 

Seorang ulama senior pernah membela Ahok dengan mengatakan hanya orang bodoh 
yang menganggap Ahok telah melakukan penistaan agama. Mungkin ada benarnya. 
Tapi ada yang luput dari pernyataan itu.
| Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama oleh Mabes 
Polri. (CNN Indonesia/Safir Makki) |

Menurut saya, hanya mereka yang buta-politik akan berbantah melulu soal agama 
dan adu-kutipan ayat suci dalam menanggapi kasus Ahok. Apakah Ahok bersalah 
atau tidak secara keagamaan, kurang menarik perhatian saya. Juga apakah dia 
bersalah atau tidak secara hukum. 

Sejauh pengamatan saya, kesalahan pertama dan utama Ahok selama ini adalah 
berpolitik tanpa basa-basi atau kemasan apa pun. Entah karena tidak mau, tidak 
mampu, atau dua-duanya. Dia berpolitik secara telanjang. Politik telanjang itu 
dianggap nista oleh banyak pihak yang terbiasa dengan basa-basi moral, budaya, 
atau keagamaan.  Bahkan ketika ingin menyerang Ahok, mereka tidak bisa 
menyerang Ahok tanpa kemasan-kemasan yang sudah lazim, termasuk bahasa rasis 
atau kutukan keagamaan. Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada 
kegagalannya memuaskan sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi 
korban kebijakan tata-kotanya. 

Titik Terlemah

Tapi para musuh politik Ahok yang terlembaga paling besar tidak memiliki 
kemampuan atau kewibawaan untuk berbicara dengan kemasan kelas sosial. Maka, 
titik terlemah politik Ahok tidak pernah diserang secara massif seperti dalam 
demonstrasi massal di Jakarta dua bulan terakhir. 

Bagaimana menjelaskan popularitas Ahok di kalangan pendukungnya? Menurut saya 
mereka tidak semata-mata menyukai cara berpolitik-telanjang Ahok. Mereka hanya 
jenuh dan muak dengan berbagai kemasan berlapir-lapis yang dipakai berbagai 
politikus sebelumnya, tanpa isi. Seperti pepes kosong. 

Pemerintahan Jokowi selama ini diuntungkan dan menguntungkan Ahok. Pemerintah 
ini menghadapi berbagai serangan terakhir terhadap Ahok dan istana dengan 
kemasan hukum. Tidak bertelanjang. Merestui ketetapan Ahok sebagai tersangka 
merupakan sebentuk kemasan hukum yang mereka pilih dengan penuh perhitungan 
politik. 

Tapi ini baru kemasan. Tidak lebih. Jadi jangan terburu cemas atau lega. Ada 
apa persisnya di balik kemasan itu, akan menjadi jelas dalam beberapa bulan ke 
depan.


(asa) 

Kirim email ke