Apanya yang setuju?

Ente ambil kesimpulan salah dan berani2nya mengatakan ariel berpandangan ahok 
menelantarkan para tergusur.

 

Ini yg perlu ente tidak setujui dan terima salah!

Jangan lari! Jangan lari kalau salah dan bener2in ariel.

 

Ini sifat pengecut!

 

Baca saja ndak becus, suka goblok2in orang lain!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 2:42 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Ahok, Penista Kemasan Politik

 

  

 

Saya setuju dan tidak melihat adanya masalah atau perlu diberi penekanan pada 
point2 lain yg diangkat Ariel Heryanto.  

Ada banyak hal2 yg bagus dan berhasil dalam kepemimpinan Ahok, walaupun saya 
memahami pentingnya revitalisasi sungai dalam pencegahan banjir tetapi 
penggusuran2 dengan pendekatan kekuasaan tanpa ganti rugi atau kerohiman itu 
adalah se-mena2. 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :



Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan 
sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan 
tata-kotanya. 

 

Ariel hanya bilang titik terlemah ahok tidak bisa memuaskan sebagian kecil 
orang miskin. Ente berani2nya ambil kesimpulan bilang ariel kelihatannya 
masalah penggusuran yg tidak ditangani dengan baik itu. Gimana hubungan antara 
2 kalimat ini?

Seluruh artikelnya sangat objektif dan ariel melihat masalah ahok adalah 
masalah rakyat sudah muak dengan kemasan politikus indonesia.

Kalau mau bilang kelihatan: kelihatannya ariel simpati sama ahok makanya 
membeberkan sebetulnya apa yg terjadi masalah ahok sbg tersangka itu.

 

Baca yg bener! Jangan menggunakan tulisan orang utk mendukung pendapat ente yg 
subjektif!

 

Ini tulisan ariel diakhir artikelnya:

Bagaimana menjelaskan popularitas Ahok di kalangan pendukungnya? Menurut saya 
mereka tidak semata-mata menyukai cara berpolitik-telanjang Ahok. Mereka hanya 
jenuh dan muak dengan berbagai kemasan berlapir-lapis yang dipakai berbagai 
politikus sebelumnya, tanpa isi. Seperti pepes kosong. 

Pemerintahan Jokowi selama ini diuntungkan dan menguntungkan Ahok. Pemerintah 
ini menghadapi berbagai serangan terakhir terhadap Ahok dan istana dengan 
kemasan hukum. Tidak bertelanjang. Merestui ketetapan Ahok sebagai tersangka 
merupakan sebentuk kemasan hukum yang mereka pilih dengan penuh perhitungan 
politik. 

Tapi ini baru kemasan. Tidak lebih. Jadi jangan terburu cemas atau lega. Ada 
apa persisnya di balik kemasan itu, akan menjadi jelas dalam beberapa bulan ke 
depan.

 

Ente jangan menuduh ariel sembarangan!

Ariel bukan seperti ente jalan pikirannya!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 1:34 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] Ahok, Penista Kemasan Politik

 

 

 

Memang saya memandang yg dimaksud Ariel Heryanto "lapisan kelas bawah yang 
menjadi korban kebijakan tata-kotanya" adalah para tergusur itu. Seandainya 
anda berpendapat lain sampaikan saja.

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :




Ariel: Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan 
sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan 
tata-kotanya. 

Jonathan: ariel Heryanto kelihatannya juga melihat masalah penggusuran yg tidak 
ditangani dengan baik itu

Nesare: apakah ente ambil kesimpulan karena tulisan ariel diatas ini? kalau 
iya, sembarangan saja mengambil kesimpulan begitu!

Koq bisa2nya menulis “kelihatannya”. Jangan pake’ ariel utk bikin kesimpulan 
sembarangan!

 

Belajar baca! Jangan hanya asbun saja!

 

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 12:29 PM
To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>
Subject: [GELORA45] Ahok, Penista Kemasan Politik

 

 

Ariel Heryanto kelihatannya juga melihat masalah penggusuran yg tidak ditangani 
dengan baik itu. Heran juga kenapa kok Ahok bersikukuh tidak memberi ganti rugi 
atau uang kerohiman yang layak, selain para tergusur itu memang layak menerima 
(dan memang sudah seharusnya begitu) juga hal itu tidak begitu sukar dilakukan. 
Ahok seakan menciptakan lubang kelemahan dirinya sendiri. 

---

 

Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan 
sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan 
tata-kotanya. 

 

 

...

 <http://www.cnnindonesia.com/kolom/ariel.heryanto> 


PROFILE


 <http://www.cnnindonesia.com/kolom/ariel.heryanto> Ariel Heryanto


 

*        <mailto:ariel.heryanto@...> 

Profesor di Australian National University


Kolom


 
<http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/>
 Ahok, Penista Kemasan Politik


 


 


        

Ahok, Penista Kemasan Politik - Kursi Panas DKI 1 CNN Indonesia


Sikap politik Ahok tanpa basa-basi membuat muak lawan politiknya, yang 
menggunakan kemasan politik semu. Agama d...

        

 


 


Ariel Heryanto

Kamis, 17/11/2016 09:11 WIB

*       Sebarkan:

 

*        
<http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/>
 

 

*        
<http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/>
 

 

*        
<http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/>
 

  
<http://images.cnnindonesia.com/visual/2016/11/04/3697aedd-0bfb-44a1-8648-1fbb01326731_169.jpg?w=750&q=80>
 Sikap politik Ahok tanpa basa-basi membuat muak lawan politiknya, yang 
menggunakan kemasan politik semu. Agama dan suku menjadi titik serang paling 
ampuh. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia -- Penetapan Ahok sebagai tersangka tidak sepenuhnya 
mengejutkan banyak pihak. Juga pihak-pihak yang saling bertentangan dalam 
menilai tuduhan penistaan agama olehnya. Sebagian pihak yakin Ahok memang 
bersalah. Maka status tersangka dianggap wajar. Sebagian lain yakin Ahok tidak 
bersalah. Tapi menetapkan Ahok sebagai tersangka dipahami sebagai sebuah siasat 
politik yang cerdik dari pemerintah Jokowi. 

Penetapan status itu mengembosi sebagian, jika tidak sepenuhnya, daya tarik dan 
kewibawaan demonstrasi lanjutan (jika ada) terhadap Ahok dan istana. Keputusan 
yang sama membebaskan polisi dan Presiden dari tanggung-jawab atas kasus itu. 
Kini dialihkan ke kejaksaan. 

Proses hukum selanjutnya atas kasus ini bisa makan waktu tahunan, tanpa sedikit 
pun mengurangi hak Ahok bertanding dalam Pilkada DKI. Juga tidak ada jaminan 
tersangka pada akhirnya akan dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Tapi berbagai 
penilaian itu bersifat sangat sementara. 

Ada dua persoalan besar yang belum jelas. 

Pertama, sulit dipastikan bagaimana proses hukum ini akan berlanjut dan sulit 
dipastikan apakah Ahok akan dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh 
pengadilan. Kedua, bagaimana berbagai faktor non-legal ikut berpengaruh pada 
yang pertama, baik secara terbuka atau tertutup. Dalam bentuk tekanan eksternal 
berjarak, atau langsung menerobos proses hukum itu sendiri. 

Sulit membayangkan semua ini sudah ada jawabnya tapi dirahasiakan, seakan-akan 
ada yang mengatur di balik layar. Peluang seperti itu hanya mungkin dalam 
situasi tertentu. Misalnya di puncak kejayaan rezim otoriterisme Orde Baru, 
dengan bangunan politik yang terpusat nyaris mutlak. Tidak sekarang, karena 
terpecah-pecahnya kekuatan politik serba oportunis yang siap berubah tingkah, 
sekutu dan siasat bila dianggap perlu. 

Kasus Ahok tidak bisa disamakan dengan sejumlah kasus lain penistaan agama. 
Buktinya tidak semua penistaan agama telah beramai-ramai digugat seperti halnya 
pada Ahok, petahana dan calon Gubernur DKI, dan mitra politik Presiden yang 
sedang berkuasa. 

Terlepas dari bagaimana nantinya nasib Ahok di ujung proses hukum, ada yang 
lebih menarik perhatian saya. Yakni sosok Ahok sebagai politikus tanpa kemasan 
atau basa-basi politik. 

Di mana pun di dunia, urusan politik pada dasarnya merupakan tarik-ulur atau 
tawar-menawar, gerak dan gertak-balik, serta kerjasama antara berbagai pihak 
dalam pembagian kuasa kenegaraan dan kepentingan material. Di mana pun di 
dunia, proses politik tidak tampil dan berlangsung telanjang bulat. Tetapi 
dibungkus dan dikemas dalam berbagai wacana dan format pemanis. 

Ilmuwan sosial Pierre Bourdieu menyebutnya eufemisme. 

Dengan kemasan orang berpolitik seakan-akan tidak sedang berpolitik. Caranya 
dengan membungkus gerak-gerik politiknya dalam kemasan yang dianggap sedang sah 
dan terhormat dalam masyarakat. Entah itu kemasan moral (baik/buruk), keagamaan 
(suci/nista), hukum (salah/benar) dan kultural (tinggi/rendah) seterusnya. 
Berbagai pihak menggunakan kemasan non-politik yang berbeda-beda. 

Ini bergantung pada modal yang paling dimilikinya: modal-ekonomi, atau 
modal-moral, atau modal-keagamaan. Kemasan tidak sama dengan tipuan. Tidak ada 
yang menipu atau ditipu. Karena semua dianggap sudah tahu-sama-tahu, mana yang 
politik dan mana yang kemasan. 

Sarat Muatan Politik

Sejak awal, tuduhan terhadap Ahok sebagai penista agama sarat dengan muatan 
politik. Tapi tidak semata-mata dinyatakan dalam kemasan politik. Lebih sering 
dikemas dalam wacana keagamaan. Serangan ini sebagian datang dari mereka yang 
sejujur-jujurnya perduli pada soal agama. Namun, para musuh politik Ahok 
ikut-ikutan menumpang, dan membesar-besarkan kasus itu seakan-akan mereka juga 
peduli pada masalah agama. 

Seorang ulama senior pernah membela Ahok dengan mengatakan hanya orang bodoh 
yang menganggap Ahok telah melakukan penistaan agama. Mungkin ada benarnya. 
Tapi ada yang luput dari pernyataan itu.


  
<https://images.detik.com/community/media/visual/2016/11/16/c073995f-40ce-412c-902c-cf598121c253_169.jpg?w=620>
 Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama oleh Mabes 
Polri. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Menurut saya, hanya mereka yang buta-politik akan berbantah melulu soal agama 
dan adu-kutipan ayat suci dalam menanggapi kasus Ahok. Apakah Ahok bersalah 
atau tidak secara keagamaan, kurang menarik perhatian saya. Juga apakah dia 
bersalah atau tidak secara hukum. 

Sejauh pengamatan saya, kesalahan pertama dan utama Ahok selama ini adalah 
berpolitik tanpa basa-basi atau kemasan apa pun. Entah karena tidak mau, tidak 
mampu, atau dua-duanya. Dia berpolitik secara telanjang. Politik telanjang itu 
dianggap nista oleh banyak pihak yang terbiasa dengan basa-basi moral, budaya, 
atau keagamaan. 

 

Bahkan ketika ingin menyerang Ahok, mereka tidak bisa menyerang Ahok tanpa 
kemasan-kemasan yang sudah lazim, termasuk bahasa rasis atau kutukan keagamaan. 
Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan 
sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan 
tata-kotanya. 

Titik Terlemah

Tapi para musuh politik Ahok yang terlembaga paling besar tidak memiliki 
kemampuan atau kewibawaan untuk berbicara dengan kemasan kelas sosial. Maka, 
titik terlemah politik Ahok tidak pernah diserang secara massif seperti dalam 
demonstrasi massal di Jakarta dua bulan terakhir. 

Bagaimana menjelaskan popularitas Ahok di kalangan pendukungnya? Menurut saya 
mereka tidak semata-mata menyukai cara berpolitik-telanjang Ahok. Mereka hanya 
jenuh dan muak dengan berbagai kemasan berlapir-lapis yang dipakai berbagai 
politikus sebelumnya, tanpa isi. Seperti pepes kosong. 

Pemerintahan Jokowi selama ini diuntungkan dan menguntungkan Ahok. Pemerintah 
ini menghadapi berbagai serangan terakhir terhadap Ahok dan istana dengan 
kemasan hukum. Tidak bertelanjang. Merestui ketetapan Ahok sebagai tersangka 
merupakan sebentuk kemasan hukum yang mereka pilih dengan penuh perhitungan 
politik. 

Tapi ini baru kemasan. Tidak lebih. Jadi jangan terburu cemas atau lega. Ada 
apa persisnya di balik kemasan itu, akan menjadi jelas dalam beberapa bulan ke 
depan.






(asa)

 



Kirim email ke