Percaya atau tidak, Indonesia sekarang ini masih (kembali?)berkutat dalam dikotomi purba: orang vs sistem. Padahal, dari berbagai kejadian bisa dilihat bahwa masih atau kembalinya Indonesia berkutat di sana-sini ya akibat pengrusakan moral secara sistematis. Termasuk melalui pendidikan.
Betul, di Surabaya sana Agustin (sebagai "orang pajak") yang menang. Dan, di republik ini, Sri Mulyani yang merintih... ehe.. --- SADAR@... wrote: Hehehee, ... menarik juga kisah hubungan intim dikaitkan dengan Amnesti Pajak, ... yang terjadi di Indonesia ini! Jadi menurut bung Ajeg, ... masalah utama ada pada Dept. Perpajakan dinegeri ini!? Bukan disebabkan sistem pajak dinegeri ini belum belum berjalan baik, atau SISTEM yang berlaku itu bermasalah! Sehingga masih buuaaanyaak terjadi lolos bahkan bocor! Yang wajib bayar pajak bisa menunggak tanpa batas waktu, bahkan kalau ketemu pejabat macam Gayus boleh bayar pajak hanya 1/2 bahkan 1/3 dari keharusan! Dan, ... kemarin ini dengar kasus macam Gayus itu masih terjadi! Tapi dari kisah Danarto sampai nuntut cerai, ... tentu berada dipihak yang KALAH, Ya! Agustin pemenangnya.Hehehee, ... Salam,ChanCT From: ajeg Kisah karikatural tentang kerja institusi pajak yang membuat obrolan di warung-warung kopi jadi pecah berderai ini (dimuat harian Poskota, 29/10/16) ternyata tidak sampai sebulan langsung menjadi kisah nyata dengan ditangkap-tangannya petinggi pajak oleh KPK, Senin lalu (21/11/16). Kesimpulan, masyarakat tidak pernah takut membayar pajak. Terbukti, dengan digelarnya program pengampunan pajak, orang berduyun-duyun menyetor uang demi kemaslahatan bersama. Pertanyaan usangnya, masihkah institusi pajak boleh dipercaya? Sekurangnya, seriuskah pemerintah memikirkan kepentingan bersama melalui program andalannya: pengampunan pajak? rintihan kekecewaan Sri Mulyani | | Surat Sri Mulyani Pasca-OTT Pejabat Paj... | | - Hubungan IntimBerbayar, Suami Pilih Cerai Saja Sabtu, 29 Oktober2016 - 7:10 WIB MANA Ada kencani istri harus bayar? Oo, ada di Surabaya!Pelakunya Ny. Agustin, 40, istri Danarto, 47, pengusaha keramik. Alasannya,suami terlalu pelit memberi uang belanja. Karena Agustin punya bakat petugaspajak, maka sekali kencan minta bayaran Rp 200.000,- Suami “kecapekan” danasehingga pilih talak. Tahu kerja petugas pajak? Dia haruspintar menggali pos-pos pajak baru, yang bisa meningkatkan pemasukan negara danpemasukan kantong bagi oknum-oknumnya. Maka kadang penetapan WP (Wajib Pajak)itu tak masuk akal. Masak di Indonesia ini orang bergaji Rp 5 juta kena pajak,padahal untuk belanja sebulan pas-pasan. Paling konyol, penulis buku danartikel juga dipajaki 15 %, padahal di Indonesia ini belum ada sejarahnya orangbisa kaya hanya jadi pengarang/penulis. Ibu rumahtangga bermental pegawaipajak itu di antaranya Ny. Agustin, warga Kupang, Surabaya. Memberikan nafkahbatin bagi suami itu kan merupakan kuwajiban, tapi manakala dia tidak mood(baca: tak puas), langsung dicash Rp 200.000,- Tapi kata Agustin, hal ituterpaksa dilakukan karena Danarto sebagai suami terlalu pelit memberi uangbelanja. Jaman sekarang diberi belanja Rp 1 juta sebulan, mana cukup? Menikah 15 tahun lalu denganDanarto, Agustin hanya mengandalkan kecintaan Danarto pada dirinya. Dia anakkeluarga mapan, sedangkan suaminya itu hanya petugas pemasaran pabrik keramik.Soal tampang sih, Danarto memang jenis KW-1. Siku dan tak ada yang gumpil(cacat), sehingga bila dipasang oleh tukang yang ahli, natnya akan nampak bagusdan rata. Ketika penghasilan Danarto masihminim, Agustin mau saja diberi uang belanja pas-pasan. Toh masih ada subisididari orangtuanya. Lagi pula soal tempat tinggal juga tidak bayar, karena Danartoselama ini memang tinggal di Mertua Permai tipe 200/300 yang bebas cicilan keBTN. Tapi ketika orangtuanya sudahmeninggal, subsidi mertua itu dengan sendirinya terhenti. Bersamaan dengan itu, rejeki Danartojuga membaik. Bila dulu hanya tenaga pemasaran, kini sudah punya toko keramiksendiri. Tapi anehnya, dana APBN keluarga tak pernah ada perubahan, tetap sajaRp 1 juta dalam sebulan. Agustin berulang kali mengajukan APBN-P, tapi selaluditolak. Lagaknya Danarto ini sudah seperti DPR saja. Untungnya Agustin ini punya bakatterpendam sebagai petugas pajak. Untuk menggali uang untuk mendanairumahtangganya, dia menciptakan terobosan baru. Bila suami mengajak hubunganintim, harus ada “tax amnesty”-nya. Bila Agustin merasa puas, tak ada pungutan.Tapi bilamana Danarto “selesai” duluan, dia harus bayar tunai Rp 200.000,-Prinsip Agustin, silakan singkap, tembus, lega; tapi bayar Rp 200.000,- Karena sering kecapekan, pengusahakeramik ini sering KO duluan, sehingga dalam sebulan dia bisa kena cash sampaiRp 1,6 jutaan. Awalnya sih dia rela-rela saja dijadikan WP urusan ranjang, tapikarena semakin keseringan, “legrek” (bosan) juga sebagai suami. Maka Danartopun menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya, sekalian minta pembagianharta gono-gini. Ternyata Agustin santai-santai sajamenghadapi manufer Danarto, yang “manuk”-nya tak lagi menjanjikan itu. Silakansaja harta dibagi, wong mayoritas sudah atas nama anak-anaknya. “Lelaki pelitmodel Danarto memang harus diberi pelajaran,” ujarnya. Habisnya, benggol dan bonggol takberbanding lurus. (JPNN/Gunarso TS)
