Indonesia, TPP dan “Perang” di Asia Pasifik
24 November 2016Aksi penolakan terhadap TPP di berbagai negara [Foto: 
istimewa]Koran Sulindo – Kendati presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald 
Trump berniat menghentikan Kemitraan Trans Pasifik (TPP), Indonesia masih tetap 
mengkaji tentang kemungkinan bergabung dalam blok perdagangan bebas regional 
itu. Kajian tersebut tidak lagi berpangkal pada soal untung rugi jika ikut 
TPP.Menurut Menteri Perindustrian Enggartiasto Lukito, pihaknya fokus pada dua 
hal yaitu bergabung dengan TPP dan juga berkaitan dengan British Exit atau 
Brexit. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa disebut Enggar menjadi persoalan 
tersendiri bagi Indonesia.Apalagi Inggris perlu waktu untuk membangun kembali 
kemitraan dengan Uni Eropa maupun Indonesia. Itu sebabnya, Indonesia pun sedang 
mengkaji kemitraan dengan Uni Eropa tanpa Inggris yang disebut sebagai 
Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).Tak hanya TPP, Brexit dan 
CEPA, pemerintah, kata Enggar, juga menjajaki kemitraan dengan berbagai negara 
dan kelompok negara lainnya. Antara lain Regional Comprehensive Economic 
Partnership (RCEP). Bahkan putaran ke-16, pertemuan dan pembahasan RCEP akan 
diadakan di Indonesia, 6 hingga 10 Desember mendatang.Blok perdagangan ini 
menyertakan seluruh anggota negara-negara Asean ditambah dengan Jepang, Korea 
Selatan, Tiongkok, India, Australia, dan Selandia Baru. “Kami memang sedang 
menggarap pasar-pasar baru terutama dengan negara-negara yang belum ada 
prefential trade agreement,” kata Enggar di Jakarta pada Kamis 
(24/11).Pasca-terpilihnya Trump, dunia secara ekonomi dan politik mengalami 
ketidakpastian. Pasalnya, Trump membawa gagasan berbeda dari Presiden Barrack 
Obama. Ia akan menghapuskan TPP dan kembali memperkuat perekonomian AS melalui 
proteksionisme.Kebijakan ini tentu berdampak bagi sekutu dan rival mereka di 
Asia Pasifik. Bagi Jepang kebijakan menghentikan TPP tentu akan memperburuk 
perekonomiannya yang kini berada di  tubir depresi. Sementara bagi Tiongkok 
kebijakan Trump tersebut justru memuluskan langkah negeri tirai bambu itu 
memperluas pengaruhnya di kawasan Asia PasifikObama sebelumnya berulangkali 
menyatakan TPP merupakan strategi ekonomi AS untuk menguasai Asia dan mencegah 
pengaruh Tiongkok yang semakin meningkat. Melalui TPP, AS akan mendapatkan 
manfaat yang besar di Asia.Akan tetapi, Trump dalam kampanyenya menyatakan akan 
membuat AS besar lagi dengan melindungi kelas pekerja dalam negeri walau 
mengorbankan sekutunya. Beberapa media Barat lantas menyebarkan ilusi bahwa 
Trump mungkin akan membatalkan niatnya menghentikan TPP ketika resmi menjabat 
sebagai presiden kelak.Persaingan pengaruh dan “perang” ekonomi ini 
mengingatkan banyak orang pada era 1930-an. Perang dagang ini kelak akan 
berujung pada perang militer. Kemenangan Trump oleh karena itu boleh jadi 
merupakan titik awal atau pemicu perang akan pecah di kawasan Asia Pasifik. 
Pemenangnya kelak menjadi penguasa di wilayah tersebut. [KRG]

Kirim email ke