http://nasional.kompas.com/read/2016/11/25/11464651/agama.dan.pancasila
 Agama dan Pancasila 
http://nasional.kompas.com/read/2016/11/25/11464651/agama.dan.pancasila 
 Jumat, 25 November 2016 | 11:46 WIB
       
http://nasional.kompas.com/read/2016/11/25/11464651/agama.dan.pancasila#komentar
  http://nasional.kompas.com/read/2016/11/25/11464651/agama.dan.pancasila# 154
Shares


 
 KOMPASIlustrasi
 Oleh: Saifur Rohman
 
 
  
 Pada bulan November ini, ada dua peristiwa penting yang melibatkan ratusan 
ribu orang di Jakarta. Pertama pada Jumat (4/11) dan kedua pada Sabtu (19/11). 
Peristiwa pertama mengangkat isu tentang pentingnya pemurnian agama dan 
peristiwa kedua mengenai pentingnya keberagaman.
 Di balik peristiwa itu, isu-isu tentang politik uang, auktor intelektualis, 
desain pengerahan massa, hingga konteks pemilihan kepala daerah merupakan 
faktor-faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam perbincangan publik. Namun, 
adalah fakta bahwa dua hal itu memberikan sketsa tentang praktik berbangsa kita 
hari ini.
 Artinya secara sederhana bisa dipertanyakan, apa untungnya bagi kita? Lebih 
tepatnya, apa efek dari partisipasi masyarakat bagi pemahaman publik ke depan?
 Manusia ketiga
 Jika pemahaman adalah realitas yang tersusun dari proses penafsiran atas 
fakta-fakta, pemahaman publik sebetulnya menuntut keruntutan realitas sosial 
yang bisa diterima secara luas. Maksudnya, apa yang bisa saya terima bukanlah 
apa saja yang menurut saya logis, melainkan juga apakah saya percaya atau 
tidak. Sebab, jika penjelasan luaran didasarkan pada hubungan-hubungan 
logis-rasional, penjelasan dalaman membutuhkan pemahaman tentang makna 
simbolik-intuitif. Itulah kenapa fakta-fakta yang sama bisa saja menghasilkan 
nalar dan keyakinan yang berbeda.
 Jika dihadapkan pada pemahaman logis-formal, peristiwa tersebut persis dengan 
teori yang pernah dijelaskan oleh Ernest Gellner dalam Postmodernism, Reason 
and Religion (1992). Dia menyebut dengan istilah fundamentalisme religius dan 
fundamentalisme rasional.
 Ketika masyarakat mengalami masalah tersebut, dia kemudian mengusulkan agar 
melahirkan ”manusia ketiga”. Inimanusia yang mampu mengembangkan komunikasi 
secara baik untuk setiap pihak sehingga menemukan ruang dialog untuk 
berkompromi (1992:96). Katanya, hasil kompromi haruslah berupa kesepakatan 
untuk meningkatkan pelayanan publik.
 Solusi tersebut ternyata menemui kesulitan karena tidak ada jaminan bahwa 
ruang dialog tersebut bersih dari kekuasaan dan kepentingan. Di sisi lain, 
penyerahan masalah kepada institusi publik yang berwenang hanya akan 
menghasilkan ”permainan baru” dalam upaya penyelesaian masalah.
 Sebagai bukti, hasil dari demonstrasi yang melibatkan ratusan ribu orang pada 
4 November http://nasional.kompas.com/tag/4%20November adalah penetapan status 
tersangka atas Basuki Tjahaja Purnama 
http://nasional.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama, Rabu (16/11/2016). 
Kendati demikian, penetapan itu dikatakan oleh pemerintah bukan sebagai 
”keputusan yang mudah” karena terjadi perdebatan antara penyelidik, saksi ahli, 
dan sejumlah ahli bahasa.
 Pemberi harapan
 Berdasarkan kenyataan tersebut, pemahaman logis-formal hanya akan sampai pada 
permainan logika bahasa. Jika direfleksikan pada realitas yang 
simbolik-tepercaya, kita membutuhkan pemahaman ideologis yang diyakini sebagai 
jalan mewujudkan cita- cita bersama. Ada empat fakta sosial ketika pemahaman 
logis-formal menjadi kesalahpahaman ideologis.
 Pertama, keputusan pemerintah mengandung sejumlah kesalahpahaman memaknai 
praktik berbangsa yang partisipatif. Aparat terkesan ”meredam permasalahan” 
agar peristiwa satu hari tidak menimbulkan anomi di tengah masyarakat selama 
berhari-hari. Hal itu sekurang-kurangnya dapat dilihat dari lama waktu antara 
penetapan tersangka (16/11/2016), demonstrasi (4/11/2016), dan peristiwa di 
tempat kejadian perkara (29/9/2016).
 Kedua, pemerintah melupakan konsep dasar berbangsa sebagaimana termaktub dalam 
tujuan pembentukan negara ini, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Negeri ini 
tidak terombang-ambing antara Pancasila 
http://nasional.kompas.com/tag/Pancasiladan agama jika pemahaman kebangsaan 
kita didasari kemampuan memperbaiki diri secara terbuka. Ketika sikap cerdas 
adalah kemampuan untuk belajar, kehidupan bangsa yang cerdas adalah kehidupan 
yang bersedia memperbaiki diri secara berkesinambungan, memaafkan, dan mengakui 
kesalahan.
 Ketiga, fakta kedua terjadi karena pemerintah tidak pernah memiliki desain 
kurikulum ”mencerdaskan kehidupan bangsa” yang dapat diandalkan. Persoalannya, 
pembelajaran kehidupan bangsa dengan begitu bukanlah semata-mata mata pelajaran 
ideologis. Pendidikan kewarganegaraan memerlukan sinergi yang efisien dengan 
mata pelajaran lain, seperti agama dan ilmu-ilmu sosial.
 Pembiasaan
 Jika merujuk pada rencana pembelajaran, salah satu keluaran dari pendidikan 
kewarganegaraan di sekolah adalah pembiasaan kehidupan yang sesuai dengan 
asas-asas ideologi bangsa. Pembiasaan memerlukan situasi, motivasi, dan 
keyakinan peserta didik. Karena itu, pendidikan tersebut jelas membutuhkan daya 
dukung dari disiplin ilmu lain sehingga memperoleh legitimasi yang cukup.
 Keempat, pemerintah tidak memiliki media yang efektif dalam pembelajaran 
menuju kehidupan bangsa yang cerdas. Sebagaimana dimaktub dalam tujuan 
pendidikan nasional, keluaran dari pembelajaran terhadap anak bangsa adalah 
sebuah perikehidupan yang dilandasi oleh rasio dan religi demi mewujudkan cita- 
cita bersama. Hasil itu diejawantahkan dalam desain pembelajaran yang dikenal 
dengan istilah standar isi, standar proses, dan standar keluaran. Karena itu, 
tidak sulit menyatakan bahwa menghasilkan kehidupan bangsa yang cerdas 
berbanding lurus dengan desain pembelajaranyang tepat.
 Berdasarkan perspektif itu, fenomena sosial di tengah-tengah masyarakat 
jelaslah merupakan satu media pembelajaran yang dapat digunakan pemerintah 
sebagai model praktik berbangsa ke depan. Segala daya upaya dapat diarahkan 
untuk mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendeknya, kehidupan 
bangsa adalah sebuah iklim, situasi sosial, pola pikir, atau sikap bersama.
 Dengan kata lain, sikap bersama yang terbuka, toleran sekaligus religius 
adalah hasil final dari praktik nyata pembelajaran kehidupan bangsa yang cerdas 
Ketika mekanisme dialog macet dan penegakan hukum berakhir pada permainan, 
sebetulnya pemerintah tidak cerdas dan publik tidak pernah diuntungkan.
 SAIFUR ROHMAN, PENGAJAR PROGRAM DOKTOR ILMU PENDIDIKAN DI UNIVERSITAS NEGERI 
JAKARTA
  
 Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas 
http://nasional.kompas.com/tag/Harian%20Kompas edisi 24 November 2016, di 
halaman 7 dengan judul "Agama dan Pancasila 
http://nasional.kompas.com/tag/Pancasila";.

 Editor : Krisiandi Sumber : http://kiosk.kompas.com/ http://kiosk.kompas.com/ 
 
 http://kiosk.kompas.com/ http://kiosk.kompas.com/ 
 
 
 View on kiosk.kompas.com http://kiosk.kompas.com/ 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
,
 
 
 
 

Kirim email ke