Mangingat tulisan Pak Djie ini banyak mengandung hal-hal yg perlu diketahui, 
maka saya teruskan ke berbagai milis.

     Pada Selasa, 29 November 2016 10:29, kh djie <[email protected]> menulis:
 

 Bung Chalik dan bung Martin.Di kisah ini disebut ttg. seorang sudah warga 
negara Belanda, pulang ke Indonesia tidak ada persoalan, tetapi waktu 
berkunjung ke orang tuanya, ditahan.Kalau saya baca alur ceritanya, ini adalah 
tentang Hans Dimyati, yang sama-sama dengan saya kerja di Unilever Maarssen. 
Suatu waktu teman saya tunjuki saya guntingan koran dari Indonesia bahwa Ir. HD 
ditangkap. Teman saya tanya tahu siapa. Saya bilang dugaan saya Hans Dimyati, 
yang memang sedang pulang ke Indonesia, dan dia memang insinyur lulusan 
Moskow.Kemudian dia masuk kerja lagi, saya tidak tanya apa2, tunggu sampai dia 
cerita sendiri. Kelihatan mukanya tidak segembira dulu. Suatu siang saya 
dilapori operator, kok aneh katanya, temperatuur untuk mencairkan asam adipat 
kok temperatuurnya tidak naik. Saya lihat di checklist, dikerjakan oleh 
Dimyati, dan 250 kg asam adipat sudah distort, dan ketel sejak jam 10 pagi 
sudah dipanaskan. Saya lihat, memang sudah distel betul sampai temperatuur 220 
derajat Celcius. Tetapi kok temperatuur di paneel hanya 0 derajat. Lalu saya 
lihat lewat kaca di atas ketel, lho kok kosong, tidak kelihatan ada asam adipat 
poedernya.Bersama operator, ambil kunci untuk check ruangan di bawah ketel.Wah, 
ternyata asam adipat poedernya semuanya ada di bawah, di luar ketel.Jadi waktu 
memulai kerja, dia lupa tutup dulu afsluiter bawah ketel. Jadi asam adipat 
poeder langsung keluar dari ketel. Operator ploeg siang hari mesti nyekopi 250 
kg asam adipat, dan menuangkannya di tempat mencurahkan asam adipat di satu 
verdieping di atas ketel.Saya langsung ngerti. Dimyati pasti masih stress sejak 
ditahan di Magelang. Padahal Dimyati biasanya tenang kalau kerja, dan belum 
pernah melakukan kesalahan selama bekerja.Kalau asam adipat mulai mencair, 
cairannya membasahi pengukur suhu, dan di paneel orang dapat mengikutinya. 
Tetapi kalau tak ada asam adipatnya, meskipun ketel dipanasi, pengukur suhunya 
tidak menyentuk sesuatu yang cair, ya temperaturnya tidak berubah.Ada kira2 2 
minggu kemudian, operator lapor pada saya, dia harus memisahkan lapisan air 
dari lapisan minyak pada pembuatan oter aroma konsentrat, tetapi dia bilang 
autoclaafnya kosong, tidak ada isinya. Saya lihat dicheckist kerja, dikerjakan 
oleh Dimyati, dan dari urut2annya saya lihat lho kok salah. Lha kok pada 
temperatuur 190 derajat Celcius, kok ontluchtingnya dibuka. Lha air yang ada 
akan keluar sebagai stoom 190 derajat Celcius bertekanan tinggi, membawa asam 
menteganya keluar semua. Tidak heran kalau autoclaaf jadi kosong.Semestinya 
autoclaafnya harus didinginkan dulu sampai temperatuur 65 derajat Celcius, dan 
ontluchtingnya baru dibuka sehingga autoclaafnya bertekanan atmosfeer biasa, 
dan setelah itu pengaduk dihentikan, agar lapisan minya memisah dari lapian 
air.Kami keluar ruangan pabrik, lihat mentega membeku di terrein pabrik ( waktu 
itu musim dingin). Saya minta 3 operator nyekopi mentega ini masukkan ke drum2 
besar.Besoknya Dimyati datang masuk kerja, kaget dengan apa yang terjadi. Saya 
beritahu salahnya. Saya bilang, supaya kerja tenang seperti dulu, tiap langkah 
dikerjakan menurut petunjuk kerja, jangan kerja apal di luar kepala.Seminggu 
kemudian dia ceritai saya, bahwa waktu di Jakarta, istrinya ajak dia untuk 
datang beri hormat pada mertua. Ketahuan tetangga waktu datang, lalu ditahan 
Koramil dll.. Ditunjuki gambar video orang2 Indonesia sedang demonstrasi di 
Amsterdam, di antaranya ada pak Dio. Lalu masih diancam, meskipun dia sudah 
warganegara Belanda, mereka mudah bertindak, misalnya sedang naik mobil, 
digulingkan saja di gunung, dilaporkan karena kecelakaan. Akhirnya di persona 
non grata, harus terbang balik.Begitulah orang kalau dalam keadaan stress. 
Dulunya kerjanya selalu betul dan tenang, iba2 pikirannya bisa melayang.Dimyati 
baru meninggal kira2 dua bulan yang lalu. Saya dapat surat dari Wati, anaknya 
yang ikut pulang Indonesia bahwa dia terima tulisan saya mengenang Dimyati.Anak 
saya jadi muridnya Jaya, putera Dimyati, belajar pencak silat waktu di VWO ( 
SMP + SMA).Teman saya dari Jerman Liem Kong Hwa, telpon saya, dia ada pesan 
dari Ny. Salawati Daud untuk Dimyati dan istrinya. Istri Dimyati anak orang 
Tionghoa, yang sejak bayi dipungut anak oleh ibu Salawati. Kong Hwa ketemu ibu 
Salawati, waktu dia pergi ke rumah tahanan wanita, kunjungi Annie Phoa, istri 
Ir. nandang Syafei (Yeo TiangLam, teman sekuliah saya), Nandang ditangkap 
menyembunyikan jendral Suparjo di rumahnya, dan dia yang ngetikkan tulisan 
Suparjo tentang Kritik terhadap otokritik. Di situ ibu Salawati pesan, bahwa 
dia tidak kekurangan apa2 soal makan, karena jendral Jusuf sering datang bawai 
makanan. Jendral Jusuf dulu teman seperjoangan ibu Salawati.Kalau Omar Dhani 
satu cel juga tidak kekurangan makanan, karena dr. Tjhie Khik kien yang masih 
aktief di AURI selalu datang bawa makanan yang lezat2 buatan perusahaan 
catering istrinya.Salam,KH

2016-11-29 7:53 GMT+01:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

     Dari Bali Tidak Menari Tapi Perang
oleh Martin Aleida
Ketut Rahendra. Seharusnya saya bertemu dengannya di kampung halamannya di 
Singaraja. Apa mau dikata, nasib yang tidak pernah datang dengan netral, telah 
mendamparkannya ke Negeri Belanda. Tidak sebagai penari janger tari tenun, 
tetapi sebagai seorang veteran perang.
​Dia menjemput saya di stasiun kereta-api Woerden, setelah saya menempuh 
perjalanan sekitar setengah jam dari Bijlmer Arena, Amsterdam. Keluar dari 
stasiun, di tengah penumpang yang baru turun, tak sulit mengenali sosok yang 
berusia 74 tahun itu. Tingginya tipikal Indonesia, apalagi warna kulitnya yang 
tidak pernah luntur walau diguyur seribu musim dingin: sawo Bali yang matang. 
Dari situ saya dibawanya dengan mengemudikan sendiri mobil buatan Jepang; kalau 
tak salah Suzuki yang katanya dia beli bekas. Tak sampai 15 menit kami sudah 
sampai di rumahnya. Dia mendiami rumah kopel dengan dua lantai, yang diapit 
rumah tetangga di kiri-kanan, bukan flat sebagaimana di kota-koota besar. Di 
kebun kecil di belakang rumah, dia menanam pohon peer yang sudah mulai 
berputik. Di ruang tamu menggantung foto keluarga, istri dan anak-anak putrinya 
dalam pakaian Bali.
​“Tak terhitung sudah berapa kali saya pulang ke Indonesia. Pertama kali tahun 
1992, ketika Suharto masih gagah-gahanya,” katanya memulai. “Perasaan waktu 
itu? Wah.. takut. Saya datang dengan sembunyi-sembunyi, tidak langsung ke 
Singaraja, kampung saya. Ketika itu ada orang yang berpengaruh di Jakarta, 
anaknya di sini, dan dia bilang, kalau takut, mampir dulu ke rumahnya di 
Jakarta. Dari Amsterdam saya naik pesawat Cathay Pacific. Dari Jakarta, 
beberapa hari kemudian saya baru ke Denpasar. Dari Denpasar saya ke Tabanan 
lebih dulu.
Ketika mendarat di Jakarta tak ada apa-apa. Mungkin karena saya membawa anak 
dua. Yang paling kecil dua tahun, yang besar menjelang tiga tahun. Istri juga 
ikut, kami berempat. Begitu antre untuk pemeriksaan di imigrasi Jakarta, istri 
saya yang di depan, kemudian anak-anak, saya menyusul di belakang. Begitu 
keluar dari imigrasi kami sudah diawe-awe oleh Ibu yang menunggu saya. Ibu itu 
orang yang disegani di Jakarta. Begitu keluar dari imigrasi, ‘Uhhh.. selamat 
saya,’ kata saya memekik di dalam hati.
Sebelum pulang, banyak teman yang mengatakan saya masuk les hitam. Orang yang 
pulang sebelum saya ditahan dan dipulangkan. Dia tidak ditahan begitu turun 
dari pesawat dan lewat pemeriksaan imigrasi. Tetapi, begitu dia pulang ke 
kampungnya, ditahan oleh komando rayon militer di bawah Kopkamtib, di Jawa 
Tengah, bersama seorang anaknya. Kemudian dia dibawa ke Jakarta dan dinaikkan 
ke pesawat di Cengkareng, dipulangkan ke Belanda. Dia lebih dulu pulang sekitar 
setahun dari saya. Seperti saya, dia juga memegang paspor Belanda. Belakangan, 
kawan itu kembali lagi ke Indonesia dan tinggal dekat Borobudur. Dia mengurus 
pensiunnya di sini, sekitar tiga tahun lalu dia dapat izin menetap di Indonesia.
​Waktu sampai di Tababan untuk pertama sekali, saya takut sekali. Rumah saya di 
Singaraja. Tapi, saya hanya sampai ke rumah keponakan di Tabanan. Saya nggak 
berani ke Singaraja. Tabanan-Singaraja tak sampai 100 kilo. Saya berhubungan 
dengan abang saya lewat kurir. Mbakyu saya dari Singaraja kemudian datang ke 
Tabanan naik bus. Dia memberitahukan supaya saya tidak ke Singaraja karena 
dicari Koramil. Ayah saya sudah meninggal. Ibu saya dan semua keluarga saya 
datang dari Singaraja ke Tabanan. Kepala desa di Tabanan itu kebetulan baik 
dengan keponakan saya yang tingga di wilayah itu. Jadi, aman, tidak ada 
apa-apa. Keponakan saya itu apoteker, jadi punya nama dan disegani. Dia 
melaporkan bahwa Omnya, maksudnya saya, menginap di rumahnya. Tanpa memberi 
tahu saya datang dari mana. Saya hanya di Tabanan tidak pergi ke mana-mana. 
Segala kebutuhan, termasuk belanja, diurus oleh keponakan.
Bung sampai dan belajar di Kuba. Bagaimana ceritnya?Saya dikirim ke Kuba oleh 
Akademi Ilmu Politik “Ali Archam” di Jakarta untuk mempelajari 
Marxisme-Leninisme. Kan Partai Komunis Kuba adalah partai yang menang, jadi 
kami ingin mendalami ideologi-politik itu di sana. Kami berlima dan berangkat 
akhir 1963, lewat Sri Lanka, Pakistan, Uni Soviet (mampir Tashkent dan Moskow), 
Irlandia, Kanada, barulah sampai di Havana. Perjalanan sehari-semalam. Tiga 
bulan kami belajar bahasa Spanyol dulu bersama-sama dengan mahasiswa dari 
Tiongkok, Vietnam, Kongo, Korea Utara, Mongolia, Mozambik. Kami sekelas sekitar 
30 orang. Setelah belajar bahasa Spanyol, barulah kami dimasukkan sekolah 
partai, tetapi tidak bergabung dengan sekolah partai komunis Kuba. 
​Mata pelajarannya meliputi filsafat Marxisme-Leninisme secara umum dan 
pengalaman revolusi bersenjata Kuba. Juga sejarah Kuba dan tentu saja sejarah 
partai komunisnya. Ketika di Ali Archam saya juga memberikan pendikan teori 
kepada mereka yang mau berangkat ke luar negeri. Di Bali saya termasuk anggoa 
dewan pengajar di Comite Seksi PKI di Singaraja. Saya mengajar di sekolah 
partai, dan saya mengajar sampai ke gunung-gunung. Kursus itu berlangsung tiga 
minggu atau satu bulan. Setahun bisa empat atau lima kali.
​Di Kuba mata pelajaran Marxisme-Leninisme dan yang lain diberikan oleh orang 
Kuba sendiri. Mereka tidak mengenakan pakaian tentara, pakaian sipil. Pengajar 
sebagian besar lelaki. Di antara mahasiswa juga ada perempuan, terutama yang 
dari Tiongkok. Juga yang dari Korea Utara dan Mongolia. Setelah dua tahun 
pendidikan, G30S pecah di Indonesia.
Kapan Bung dengar peristiwa itu?Tanggal 1 Oktober malam sudah saya dengar. 
Karena kita pernah diberi tahu Jenderal Suharto itu perwira maju, jadi harapan 
kita bukan Jenderal Nasution yang naik, tetapi Suharto. Tetapi, ternyata 
keadaannya lebih gelap lagi.
Sikap para pengajar?Mereka mengutuk peristiwa itu. Dan pemerintah Kuba 
menghubungi kedutaannya di Jakarta untuk membantu kawan-kawan Indoneia yang 
dikejaar-kejar, dan supaya diselamatkan. Sikap tersebut terlihat dengan nyata 
ketika Ibrahim Isa dan rombongannya diterima oleh Castro dan ditawari paspor 
semua.
Mengapa tidak memutuskan untuk tinggal di Kuba?Saya dipanggil oleh delegasi PKI 
di Peking. Saya dapat panggilan lewat telegram dari delegasi yang dipimpin oleh 
Yusuf Ajitorop, yang meminta supaya saya berangkat ke Tiongkok. Ketika itu 
November 1966.
Selama di Havana pernah bertemu Castro?Pernah.
Apa kesan Bung mengenai dia?Dia sederhana sekali. Ketika itu dia datang ke 
hotel di mana kami sedang menginap. Dan Castro sendiri yang datang ke hotel 
untuk menemui delegasi yang dipimpin Ibrahim Isa dan Umar Said.
Waktu mengikuti pendidikan Bung ditempatkan di mana?Di rumah khusus untuk orang 
asing. Di apartmenen, juga dengan siswa perempuan dari berbagai negara. Makan 
di kantin. Dapat uang saku, cukup untuk membeli sesuatu, juga bisa nonton film. 
Untuk makan sudah ditanggung. Dari apartemen ke sekolah tidak jauh, jalan kaki 
saja. Kami memegang teguh pesan Oloan Hutapea, anggota CC PKI, tokoh yang 
mengirim kami ke Kuba, untuk tetap menjaga disiplin. Jangan sampai ada hubungan 
yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan perempuan, terutama. Kalau terjadi 
akan dipanggil pulang. Sebelum berangkat ke Kuba, selain oleh Oloan Hutapea, 
kami juga diceramahi oleh anggota politbiro CC PKI Sudisman.
Apa yang terjadi ketika dipanggil ke Peking?Ada pertentangan batin. Saya tidak 
mau mengikuti perintah delegasi, karena pihak Kuba sendiri mengatakan, kalau 
kalian percaya kepada kami, selesaikanlah dulu studi kalian di sini. Pendidikan 
itu sendiri akan selesai dalam tiga tahun, dan sudah dijalani dua tahun. Pihak 
Kuba bilang teruskan, tetapi delegasi pada waktu itu kekiri-kirian. Delegasi 
mengatakan partai yang Marxis-Leninis itu adalah Tiongkok. Keempat teman saya 
sudah mengurus visa lebih dulu. Saya tidak ikut. Tetapi, saya kemudian 
diyakinkan oleh ketua tim kami, namanya Edi, yang kemudian meninggal di 
Hongkong. Ini ‘kan perintah delegasi, katanya, kita harus mengikutinya. Bung 
harus ikut. Saya berangkat belakangan. Sebenarnya saya sudah tak mau ikut. 
Lebih baik tingal di Kuba saja.
Setelah tiba di Peking saya disuruh berangkat ke Vietnam. Di lapangan terbang 
saya dijemput oleh seorang kawan. Menginap dua malam di Peking menunggu kawan 
yang akan datang dari Moskow. Begitu kami bergabung, langsung berangkat ke 
Vietnam. Tanpa ditanya mau atau tidak. Namun, kebarangkatan ke Vietnam itu saya 
setuju sekali.
Waktu itu tahun 1966. Dari Peking kami berlima langsung naik kereta-api selama 
tiga jam ke Hanoi. Ditambah empat orang yang sekolah partai di Moskow. Di Hanoi 
kami ditempatkan di kamp militer di luar kota, di hutan. Tujuh tahun saya di 
situ. Kalau ke Hanoi cuma dua-tiga hari. Bersama kami ada tiga mahasiswa dari 
Hanoi. Kamp itu jauh sekali dari Hanloi. Kami dibawa ke sana dengan mengendarai 
truk. Kami berangkat dari Hanoi malam, sampai di kamp besok paginya. Truk 
bergerak sambil menghindari pemboman-pemboman.
Perasaan Bung?Tidak takut. Saya bertemu dengan seorang perempuan dari 
Indonesia. Ketika saya tanya mengapa tak ikut rombongan kami. Dia jawab, tidak, 
dia dipersiapkan untuk menjadi penterjemah bagi rombongan berikutnya. Sementara 
tiga lelaki temannya di Hanoi ikut kami.
Di mana Bung dapat latihan untuk menghadapi perang?Langsung di kamp itu.
Bentuk latihannya?Kita mendapat senjata masing-masing. Tidak ada teori seperti 
di akademi militer. Langsung praktek. Nggak ada belajar teori. Belajar perang 
di dalam peperangan. Tak ada kelas khusus. Tak ada. Saya dapat senapan mesin 
ringan. Saya bersama seorang kawan. Dia masih hidup sampai sekarang dan tinggal 
di Jawa Barat. Dia pulang ke Indonesia dan selamat. Kami tidur di dalam kamp. 
Satu kamar dua orang. Kamp itu dibuat dari bambu dan atapnya rumbia. Makan juga 
di markas itu. Ada tukang masak. Malam, penerangan pakai lampu minyak tanah. 
Listrik tak ada, karena akan menarik perhatian pesawat tempur Amerika Serikat. 
Kamp itu tak pernah diserang.
Saya dan kawan itu pernah mengendalikan senjata penangkis serangan udara. Waktu 
itu kami berada di dekat stasiun kereta-api. Pesawat AS tak berani menyerang 
karena khawatir kalau diserang balik oleh pesawat terbang Vietnam. 
Pesawat-pesawat tempur AS cuma melemparkan bom, lantas lari dengan cepat. Siang 
hari. Pesawat tempur AS tidak berani mendekat, tapi terkadang tiba-tiba 
melepaskan roket. Persis jatuh di tempat saya dan kawan saya itu berada. Saya 
cepat-cepat masuk ke dalam lobang yang digali untuk satu orang. Roket itu 
meledak kira-kira lima puluh meter dari lobang pelindungan saya. Lobang 
persembunyian ada di sepanjang jalan. Di mana-mana ada. Perlindungan perorangan 
namanya. Hanya untuk satu orang. Waktu itu, karena terburu-buru kami berdua 
berlindung di satu lobang. Pecahan roket mendesing di atas kepala.
Senjata apa saja yang pernah Bung pegang?Penangkis serangan udara sering saya 
pegang. Bazooka yang belum pernah. Kalau pesawat AS kena tembak, penerbangnya 
‘kan terjun, dan dia kami cari. Mereka bersenjata. Dan sering tertangkap.
Bagaimana melucuti penerbang Amerika itu, pakai bahasa apa?Biasanya mereka 
menulis di kertas dan ditunjukkan kepada kami. “Saya tidak akan melawan,” 
begitu dalam bahasa Inggris. Banyak juga mereka yang diselamatkan oleh pasukan 
induknya. Begitu ditembak jatuh, mereka menembakkan peluru hijau. Tak sempat 
kita tangkap, helikopter AS sudah datang untuk menyelamatkan mereka.
Kami berada di wilayah Vietnam Utara tetapi sudah dekat dengan perbatasan 
Vietnam Selatan. Terkadang jatuhnya pesawat malam hari, dan helikopter AS yang 
mau menyelamatkan temannya kita tembaki. Hutannya tak begitu berbeda jauh 
dengan Indonesia, hutam tropis juga. Pohon kelapa, semak-semak, pisang juga 
ada. Belukar dan pohon-pohon kecil di mana-man. Ke sebelah Utara hutannya sudah 
gundul, dibom napalm oleh pesawat tempur AS. Maunya mereka supaya Vietcong 
kelihatan. Hutan mereka habiskan lebih dulu.
Berapa lama di kamp itu?Tujuh tahun.
Tujuh tahun...?Ya, tujuh tahun dalam Perang Vietnam! Sejak datang ke Vietnam 
langsung dibawa ke medan perang.
Pengalaman apa yang melekat terus dalam ingatan?Paling senang, dan tidak 
terlupakan ketika menangkap pilot AS yang pesawatnya tertembak jatuh. Ada 
tiga-empat orang yang tertangkap oleh regu yang saya ikuti. Mereka kami tangkap 
dalam keadaan bersembunyi.
Tidak melawan?Tidak. Begitu kepergok dalam persembunyian, pilot AS itu terus 
menunjukkan kertas yang bertuliskan penyerahan diri tidak akan melawan.
Apa seragam Bung?Hijau loreng. Tak ada yang berpakaian hitam di antara kami. 
Seragam kami seragam pasukan Vietnam Utara, bukan Vietcong yang hitam di 
Selatan.
Logistiknya bagaimana?Pakai sepeda. Untuk logistik ke Selatan ‘kan ada jalur 
jalan-tikus yang namanya “Jalan Ho Chi Minh”. Pakai sepeda, alas kaki dibuat 
dari ban mobil. Pasokan makanan selalu ada. Ada yang membawakan ke front. 
Tetapi, pada umumnya kalau sudah waktunya makan, kami kembali ke kamp. Tak ada 
perempuan dalam regu kami. Di kamp, yang memasak juga lelaki. Ada interpreter, 
seorang perempuan yang sudah agak lanjut usianya. Dia menguasai bahasa Melayu.
Ketika menangkap pilot AS, apa ada tentara Vietnam bersama Bung?Ada! Kita dalam 
satu grup ikut bersama pasukan Vietnam Utara. Kita ‘kan tak tahu seluk-beluk 
hutan di sana. Dulu, ini tak boleh disampaikan, tetapi sekarang sudah 
diperbolehkan untuk diceritakan.
Selama di Vietnam saya juga pernah ditempatkan di industri persenjataan. 
Belajar industri senjata, belajar reparasi senjata. Pokoknya dipesiapkan untuk 
perang gerilya. Pokoknya belajar kemiliteran.
Tahun berapa kembali ke Tiongkok?Kembali ke Tiongkok baru pada tahun 1974.
Ada acara khusus di Hanoi?Tak ada perpisahan, biasa saja. Tak ada ucapan terima 
kasih khusus. Waktu itu tahun 1974, setahun sebelum Saigon bebas. Kembali ke 
Peking naik pesawat. Pulang karena ditarik oleh Yufuf Ajitorop. Tak ada yang 
luka, teman-teman tak ada yang luka selama di Vietnam. Kita tidak ditempatkan 
di pasukan yang langsung menghadang bahaya secara langsung. Kita juga tak 
pernah mendengar ada pasukan Vietnam Utara yang tewas tertembak. Apakah 
dirahasiakan, kita tak ada yang tahu. Mungkin itu rahasia militer mereka, kita 
tak tahu. Perang di sana ketika itu tidak hanya berupa serangan udara AS, 
tetapi juga perang frontal. Yang namanya Vietcong itu ‘kan tentara Vietnam 
Utara yang pakaiannya diganti dengan pakaian hitam saja, seragam Vietcong.
Dari Peking langsung ke Amsterdam?Ketika berada di Tiongkok saya sempat 
ditempatkan di industri persenjataan, pembuatan pistol, senapan otomatis, 
seperti itulah. Kemudian saya pindah ke suatu tempat di wilayah Chang-shi. 
Disuruh kerja di pabrik mesin. Membikin onderdil, mesin bubut, segala macam. 
Saya juga bekerja di bagian perakitan mesin-mesin, seperti mesin pertanian, 
sampai mesin-mesin itu siap dikirimkan ke daerah-daerah.
​Dari Peking saya tidak langsung ke Amsterdam. Ke Zurich dulu. Kan tak ada 
pesawat dari Peking langsung ke Amsterdam. Kebetulan ada delegasi Tiongkok pada 
waktun itu, dan delegasi itu yang membawa kami ke hotel. Kemudian kami 
dibelikan tiket pesawat tidak langsung ke Amsterdam, tapi dialihkan ke Koln. 
Turun di Koln dan dijemput seorang kawan di situ, Aminoto namanya, sudah 
meninggal. Dia mengajak jalan kaki ke mana-mana. Dia pintar. Barang-barang 
dititipkan keretapi-api ke Utrecht. Dari Koln kami ke Aachen. Dari situ kami 
jalan kaki memasuki Belanda. Kami berempat: Tongki, istrinya, saya, dan Aminoto.
Mengapa harus jalan kaki?Kami ‘kan tak punya izin masuk Belanda. Jalan kaki 
paling aman. Dari Koln naik kereta-api. Sesampainya di Aachen langsung jalan 
kaki menuju perbatasan tiga negara tak jauh dari kota itu. Dari Aachen jalan 
kaki mulai sekitar pukul 11 pagi, sampai di perbatasan Jerman, Belgia, Belanda 
malam. Kalau ditanya mengapa jalan kaki, karena begitulah menurut petunjuk 
kawan yang bawa. Penyeberangan kami lakukan malam.
Bagaimana rencana penyebarangan?Satu, mencari rute jangan sampai kesasar. 
Mengetahui di mana saja ada pos polisi kehutanan. Itu saja. Dan Aminoto sudah 
tahu itu. Satu kali, di perbatasan segi tiga itu kita disuruh ke kanan. Bablas 
ke perbatasan Belgia, hampir masuk Belgia … hahaha. Di situ ada benteng Jerman 
pada waktu Perang Dunia II. Di situlah kami tersasar. Perjalanan sudah lama, 
sudah capek. Meninggalkan perbatasan sekitar pukul 6 sore. Sampai di benteng 
itu yang kelihatan cuma hutan. Hutan saja. Dari perbatasan ke benteng itu 
sekitar satu jam jalan. Salah, kata Aminoto, kita gak boleh belok kanan harus 
terus saja.
Akhirnya sampai ke Herleen, wilayah Belanda. Sampai di situ pukul 10 malam. 
Kita sempat minum kopi di situ. Mampir di kafe. ‘Ini sudah daerah Belanda. 
Sudah. Aman…,’ kata Aminoto.
Di tangan saya surat pengganti surat jalan, tetapi palsu. Terus naik trem ke 
Woerden sini. Esoknya baru kami datang ke kantor polisi. Kami bertiga menginap 
di rumah Bung Aminoto. Yang dibawa ke kantor polisi saya lebih dulu, 
dioblok-oblok di kantor polisi. Kawan yang dua tinggal di rumah, besoknya 
mereka baru dibawa ke kantor polisi.
Apa yang ditanya?Macam-macam. Kok ke sini? Dari Jerman naik apa? Saya bilang 
dari Jerman saya naik kereta-api. Nggak percaya dia. Di atas kereta-api 
diperiksa polisi nggak? Nggak, jawab saya. Ah, gak mungkin, katanya.
Baik juga polisinya. Dia bertanya sambil bergurau. Polisi itu memanggil 
penterjemah bahasa Spanyol. Saya diperiksa dengan menggunakan bahasa Spanyol. 
Ditanya dokumen. Saya tunjukkan yang saya bawa itu saja. Surat palsu itu. Saya 
tidak bilang menyeberang lewat gunung di perbatasan. Dia tanya kok kamu bisa 
masuk Belanda hanya dengan surat ini. Saya bilang saya naik kereta-api. Apa tak 
diperiksa? Ndak, jawab saya. Ah, gak mungkin, katanya. Masuk perbatasan pasti 
dipersiksa paspor segala macam, katanya.
Bung cemas?Nggak. Polisinya juga ketawa-ketawa saja. Di kantor polisi itu saya 
sendiri. Aminoto cuma ngantar, lalu pulang. Aminoto cuma bilang kepada polisi 
itu, ini ada yang mau minta suaka. Lantas dia pulang. Lama saya dioblok-oblok 
oleh polisi itu. Semantara yang dua lagi, esoknya santai saja… Ditanya beberapa 
menit terus disuruh pulang. Sudah, selesai, kata polisi kepada mereka. Saya 
tidak ditanya tentang sekolah di Kuba, ikut perang di Vietnam. Cuma Tiongkok 
ditanya, mengapa di sana. Saya bilang saya mendengar dan belajar tentang Negeri 
Belanda ini melalui radio Hilversum.
Saya ditanya, kamu sudah menikah? Saya jawab belum. Sudah punya anak? Bagaimana 
mungkin punya anak, nikah saja belum, jawab saya. Disini, tidak ada apa-apa 
punya anak tapi tidak menikah. Tidak apa-apa. [Ketika itu budaya kumpul kebo 
sudah ada di Belanda.] Nggak nikah bisa punya anak tak apa-apa di sini, kata 
polisi itu, dan kata-kata itu yang selalu saya ingat …hmhmhm
Saya hanya menunggu dua minggu untuk mendapat izin tinggal. Begitu dapat izin 
tinggal berarti sudah dapat suaka. Tetapi golongan A, yaitu sebagai tanggapan 
kemanusiaan. Demi kemanusiaan, karena mereka, saya kira, mempertimbangkan 
hubungan dengan Indonesia. Jadi, bantuan kemanusiaan sifatnya. Golongan A itu 
untuk mereka yang tak bisa pulang ke tanah airnya. ​
Tiga bulan kemudian dapat surat identitas sebagai penduduk Belanda, tapi belum 
berupa paspor. Cuma sudah berlaku untuk Eropa. “Paspor jambon” istilahnya. Saya 
bawa dua kali ke Paris. Ditolak. Paspor apa ini, kata petugas di sana. Paspor 
jambon itu paspor stateless. Tiga bulan setelah paspor jambon itu saya dapat 
paspor Belanda. Undang-undang Belanda menyebutkan orang Indonesia yang lahir 
sebelum 1949, sebelum pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia, bisa 
mendapatkan kewarganegaraannya kembali. Karena pada waktu itu penduduk 
Indonesia berada di bawah Belanda. Makanya dalam tiga bulan sudah dapat paspor 
tanpa syarat apa-apa.
Bagaimana perasaan Bung?Saya tidak gembira. Tidak punya perasaan apa-apa. 
Karena terpaksa. Menyesal. Kok saya terpaksa menjadi warganegara Belanda. Dan 
di Indonesia posisi kewarganegaraan saya itu jadi perkara di dalam keluarga. 
Menjadi masalah ketika menyangkut warisan. Karena di Bali ‘kan saya masih punya 
warisan dari orangtua; ada tanah, sawah dan lain-lain. Itu masalahnya! Ponakan 
saya bilang, ‘Om ‘kan sudah warga negara Belanda, jadi sudah tidak berhak lagi 
atas warisan.’
Ketika pulang ke Indonesia untuk kesekian kali barulah masalah itu dipersoalkan 
oleh keluarga. Saya bilang kalian tahu nggak, Om ini mengambil paspor Belanda 
karena terpaksa. Tahu nggak..? Sedangkan hati Om masih 100% orang Bali. Dan 
tanah itu pun, warisan itu, tidak pernah Om minta. Bapak memasukkan tanah itu 
ke bagian Om, dan dimasukkan dalam surat wasiat, tapi Om ‘kan tidak minta.
Sekalipun begitu, setiap pulang oleh ipar saya ditawari. Ipar saya bilang, itu 
padi, itu bagian Ketut, ambillah, katanya. Masak beras sebanyak itu mau dibawa 
ke Belanda, kata saya. Ambil beras itu, jual, uangnya bawa ke Belanda. Tidak, 
kata saya. Saya bilang, di Belanda saya sudah cukup, gunakanlah untuk cucu-cucu 
di sini, kata saya. Dipersoalkan terus, saya jadi marah. Posisi tanah tersebut 
masih atas nama saya sampai sekarang.
Ada niat hendak menghibahkannya?Keluarga saya keluarga besar, kalau dihibahkan 
bisa perang saudara. Saya bersaudara 12. Saya nomor tiga dari bawah. Kalau 
diserahkan kepada si A, yang lain pasti menuntut. Abang saya yang tertua, punya 
dua anak perempuan, menikah. Dalam adat Bali, perempuan itu tak dapat warisan. 
Jadi, bagian dari bapak mereka itu menjadi hak bersama seluruh anggota 
kekuarga. Di Balai banyak sekali upacara, jadi biayanya diambilkan dari milik 
bersama itu. Mungkin juga kalau saya sudah tak ada, warisan itu akan dijadikan 
hak keluarga.
Sampai ke balik dunia, ke Kuba, ikut Vietnam Utara dalam Perang Vietnam, 
menyerahkan diri pada Belanda, perang lagi di dalam keluarga. Kalau tak teguh 
tentu menyesali hidup.
Tidak. Ini sudah resiko pilihan hidup saya.   



   

Kirim email ke