Saya pernah baca mail dari OYT di milis lain bahwa dia pernah bertemu
dengan Anie Baswedan, waktu itu masih menteri pendidikan di kabinet Jokowi,
di suatu ceramah tentang pendidikan ethika murid2 sekolah lewat Di Zi Gui.
Pendidikn moral ethika Di Zi Gui kalau tak salah berdasarkan bab 6 dari
tulisan Confucius, The Analects. Sistem ini dipakai di Malaysia, Singapore,
Taiwan, dan di introduced kembali di Tiongkok. Di Indonesia, sekolah Pa Hoa
Jakarta yang melaksanakan, tadinya dengan ambil dari buku pemberian Yayasan
Buddhis di Malaysia, kemudian ambil dari buku pelajaran Di Zi Guin
Singapore, dan sekarang dengan ditambah dengan penjelasan lewat cerita
anak2 Indonesia sendiri.
Waktu bertemu OYT menyampaikan pada menteri Baswedan usul2nya secara
tertulis untuk menterapkan sistim pendidikan Dual Vocational Training dari
Jerman. Berminggu minggu ditunggu tidak ada responsnya. Tiba2 saya baca
pidato Jokowi akan melaksanakan Dual Vocational Training ini di Indonesia.
Setelah itu belum terdengar kelanjutannya. Lha, apa Jokowi dapat informasi
tentang Dual Vocational Training ini dari Baswedan, atau dari orang lain ?
Dan juga, kok sekarang Baswedan ngomong tentang banyaknya lulusan SMA yang
tidak dapat kerjaan, apa nanti dalam PILKADA dia mau ajukan Dual Vocational
Training cara Jerman untuk dapat simpati para lulusan SMA yang tidak dapat
kerja dan orang2 tuanya ? Bisa jadi jurus yang hebat.
Sudah ada beberapa tahun, saya simpan mail OYT yang menjelaskan tentang
Dual Vocational Training Jerman ini yang ditujukan pada saya dan bung Iwa
kala itu :

Bung Iwa, K.Djie



Saya lama mengikuti perkembangan "Vocational Education and  Training in the
Dual System"(VETDS)  Suatu sistem yg  paling unik dan spesifik Jerman,
sudah banyak diadaptasikan ke masing masing negeri, termasuk Indonesia yg
salah diaplikasikannya karena yg mengaplikasikan adalah Prof Dr. Wardiman,
diadaptasikannya dengan sistem Link and Match,  yg menelorkan sistem SMK
sebagai solusi untuk* mendidik keterampilan melalui sekolahan*......serupa
tak sama dengan sistem VETDS Jerman.



Hasil penelitian sejak tahun 1982  pengertianku adalah "Skill dan Teori"
merupakan dua sisi pisau; tajam untuk memotong dan tumpul untuk kekuatan,
atau dua sisi coin, atau yg sekarang sedang dalam menuju kepopulerannya
adalah "Yin Yang Opposite Union" yg sering kuutarakan sebagai dasar segala
filsafah yg mencakup  universiel segala sesuatu dan hal di alam semesta
ini, yg mendasari falsafah orang Tionghoa (I Ching), selama seratus tahun
lebih dilupakan karena tertekan oleh keberhasilan Barat dalam
industrialisasi.



Di Jerman wujud dari falsafah ini diaplikasikan oleh Otto Von Bismarck,
untuk mengangkat Prusia/Jerman menjadi satu dan membangun keunggulan
ekonomi industrialisasi barat, setelah sekian lama ketinggalan dari sistem
dagang dan industrialisasi negara Eropa lainnya - Belanda, Portugal,
Spanyol dan Inggeris....--  Meski tak tertulis dalam sejarah, tersirat
dalam sejarah VETDS, Bismarck yg membuat standard sistem itu, dari tradisi
Prusia "Meister und Lehrling" suatu sistem pemagangan antar keterampilan
sejenis yg terpecah pecah spesialisasinya, menjadi suatu kesatuan yg
menjurus pada standard pendidikan dan pelatihan vokesional VETDS lih.
http://website.informer.com/visit?domain=bibb.de&url=http://bibb.de yg
saling terkait dalam spesialisasi (dua sisi yg berselisihan, namun bersatu,
merupakan suatu kesatuan)



Pengertianku, titik pisah pendidikan wajib di Jerman adalah sejak lulus
Hauptschule, maka siswa mulai dibagi ke dua arah; arah pendidikan *science*....
dilanjutkan ke Gymasium (SMA umum), selebihnya dipersiapkan untuk memasuki
jenjang karier bekerja (*Vocational*) dilanjutkan ke VETDS, yg dikelola
secara Nasional oleh perusahaan industri, untuk mendidik dan melatih
keterampilan/skill yg kompeten..... selama kurang lebih 3,5 tahun,
tergantung dari spesialisasi professi dalam segala bidang kegiatan
Vekesioanal (*Vocation: an occupation a person is specifically** drawn or
for which he or she  is suited, trained or qualified.* dari wikipedia)
Ternyata peminat bidang ini adalah 80% dari lulusan Hauptschule, yg 20%
baru mampu dan suka memasuki bidang science, dan mejurus kebidang science
R&D.

Sistem yg dikelola oleh KADIN (kamar dagang dan Industri) Jerman yg unik
ini, Kadin Jerman dipisah adanya KADIN usaha kecil (ZDH) yg mengkelola
sistem VETDS ini dan Kadin usaha besar normal. Sistem ini berjalan dengan
baik di Jerman, karena *semua izin usaha perusahaan/industri di Jerman
dapat dikeluarkan kalau dalam perusahaan ada "Meister" pengelola*.

Jadi jelas disini adanya Meister pengelola perusahaan, dijamin mutu hasil
perusahaan, dan juga jiwa Meister yg  sarat/menghormati menjunjung tinggi
semangat kerja keterampilan (Craftmanship) pasti "jijik" melihat "korupsi"
berjalan. Itulah maka bila negara juga dikelola oleh lulusan Meister maka
dapat dijamin kemampuan produksi barang dengan merobah kekayaan alam
menjadi barang jadi yg berguna untuk kepentingan manusia banyak, juga
gampang terlaksana. Bandingkan dengan pejabat pemerintah Indonesia yg
dikelola oleh lulusan akademis, atau melalu KKN, pasti jauh berbeda
hasilnya atau boleh dibilang terbalik, penuh dengan kolusi dan korupsi
Nepotism, sedangkan kebanyakan rakyat terbanyak kehilangan hak pendidikan
dan pelatihan yg selayaknya dapat diterima oleh segenap rakyat tanpa pilih
pilih (termasuk yg menyandang cacad, juga dicarikan vokesional yg cocok
dengan dirinya).

Sistem VETDS ini *self supporting*, tak memerlukan "subsidi" atau masuk
program APBN, cukup buatkan dekrit undang2, yg secara tak langsung
mengharuskan semua perusahaan/industri, ikut serta bertanggung jawab dan
memanfaatkan hasil VETDS. Hal ini khusus perlu digaris bawahi.....
perusahaan industri dalam negeri yg mampu mengadakan VETDS ini banyak yg
sangat tergantung dengan perusahaan FDA..... yg merasa tak ada kepentingan
untuk mendidik bangsa lain bagi usahanya..... Hanya dekrit pemerintah yg
membuat mereka secara tak langsung harus mengikuti sistem VETDS yg mampu,
membuat usaha ini berhasil.



Sistem yg *self supporting* itu :  Pemagang adalah lulusan wajib sekolah
SMP Plus ( seperti Hauptschule di Jerman, atau sistem O level di Inggeris)

*Tahun kesatu*  belajar teori 75% pada suatu pusat pendidikan (teori) yg
dikelola oleh perusahaan2 kecil yg bergabung, pemagang akan dikaitkan
dengan perusahaan terkait, jadi pemagang memperoleh sponsor dana
perusahaan..... Pada tahun kesatu karena hasil sekolah pendidikan teori
lebih banyak dari pada hasil kerja magang diperusahaan (semuanya dibawah
bimbingan Meister). Pemagang tidak dipungut bayaran selama pendidikan,
bahkan memperoleh uang saku untuk keperluan pendidikan, dan pemagangan (25%
kerja dalam perusahaan).

*Tahun kedua*, 50% teori maupun kerja nyata....  Disini sang pemagang sudah
di pilihkan atau diarahkan kejurusan vocation yg disukai/cocok dengan
keinginannya.... hasil kerja yg hanya memperoleh uang saku, kelebihannya
cukup untuk menutupi ongkos pendidikan dipusat pendidikan. Sang pemagang
tetap hanya memperoleh uang saku bukan gaji hasil kerja.

*Tahun ketiga*. 25% Teori, 75% kerja Nyata di Pabrik.... Hasil kerja yg
tidak dibayar gaji, hanya sekedar uang saku, akan memberikan hasil yg
"lebih" bagi perusahaan, kelebihan ini untuk kompensasi perusahaan pada
tahun kesatu yg memberikan subsidi pada pemagang untuk belajar teori yg 75%
itu.



Lulusan VETDS sambil bekerja masih dapat dilanjutkan dengan pendidikan
Meister pengelola pabrik, bagi yg berminat dan mampu, atau lebih lanjut
lagi memperdalam pendidikan teori akademis, dapat memasuki pendidikan
akademnis Fach Hoghschule... sebagai jembatan bersama dengan sektor
pendidikan akadenmis science yg berkiprah ke R&D science and enjiniering.
Melengkapi kebutuhan industrialisasi yg terampil berkompeten dan bermoral.
bekerjasama menjadi unit ekonomi/politik yg bersaing dialam globalisasi
ini. (terbukti dalam suasana krisis yg melanda dunia kapitalism barat, maka
Jerman yg mampu bertahan tetap berkembang menghadapi persaingan dengan
negara negara baru berkembang yg menyusul bersaing dengan dunia barat).



Maka kesimpulan sitem VETDS Jerman ini, semua pihak diuntungkan:

**Pemagang* tak perlu membayar uang sekolah VETDS, bahkan masih menerima
uang saku sekedarnya, orang tua tak dibebani beaya sekolah pemagang, setiap
insan negeri berkesempatan sama rata.  Jenjang kariernya sudah jelas
jurusannya sesuai dengan pilihan kesukaannya (Passionate) setelah lulus,
tentunya employmentnya jauh lebih terjamin, karena lulusan VETDS memiliki
sertifikat yg standard Nasional (maupun Internasional), jadi dapat dipakai
langsung oleh perusahaan sponsor, atau perusahaan lainnya(yg menengah
besar) yg membutuhkan spesialisasi keahliannya.

**Perusahaan* diuntungkan karena memperoleh pekerja terampil (dibidang
teori yg terstandard, dan pelatihan yg dilakukan sendiri oleh perusahaan on
the (real) job  working) dengan memanfaatkan fasilitas yg ada dalam
perusahaan, selama tiga tahun, tersedianya pekerja yg dilatihnya sendiri
cocok dengan keadaan perusahaan.

Seleksi pekerja yg lebih leluasa karena memperoleh pilihan yg jelas dari
pemagang yg disponsori, Pemagang yg memang ingin memasuki pekerjaan oleh
perusahaan sponsor pasti berusaha sebaik mungkin mengikuti VETDS ini,
karena perusahaan tak berkewajiban merekrut pemagang yg disponsori, hanya
yg terbaik yg akan dipilih perusahaan, pemagang yg terpilih harus bersedia
memenuhi kebutuhan perusahaan, paling tidak jangka waktu kontrak yg
disetujui bersama (misalnya 3 tahun setelah lulus), bagi yg pemagang yg
malas atau tak niat, kesempatan untuk direkrut juga akan menjadi minim,
jadi bagi pemagang akan selalu mengikuti VETDS secara seksama untuk
menjamin employment setelah selesai VETDS.  Perusahaan dapat merencanakan
dengan seksama "Human resource planing" kebutuhan perusahaan, melalui
pendidikan teori yg dikelola bersama oleh perusahaan sejenis lainnya dalam
pusat pendidikan (teori) VETDS, sedangkan kerja nyata sudah siap bagi
pemagang yg akan dibimbing oleh Meister dalam perusahaan, jadi perusahaan
kecil ini dapat memusatkan perhatian untuk produksi, bukan pendidikan yg
bukan menjadi bidangnya.

**Depnaker*, tak perlu memusingi  pengadaan pusat latihan, mengenai jenis
skill yg perlu dilatih, yg bukan menjadi kompetensinya. Yg dibutuhkan hanya
kompetensinya untuk menengahi aturan hukum yg membuat VETDS berjalan lancar
dan layak, persetujuan antara pemagang dan perusahaan, seringkali
membutuhkan ketentuan hukum hubungan kerja, karena menyangkut tenaga kerja
yg kemungkinan besar adalah pemagang dibawah umur pekerja, karena sifat
pelatihan VETDS adalah murni bekerja langsung dalam perusahaan tanpa terima
gaji, hanya uang saku saja.

*APBN Pemerintah*, dengan perhatian dana hanya dipusatkan pada wajib
sekolah 10 tahun, beban APBN akan menjadi ringan bagi pemerintah, hasil
lulusan wajib belajar terjamin bagi seluruh masyarakat tanpa beban beaya,
juga mutu pendidikan wajib dapat benar benar terjamin, terutama bagi VETDS,
lulusan wajib belajar benar benar siap latih, artinya pendidikan dasar
membutuhkan pengetahuan literate (bahasa) Numerate (berhitung/aritmatik
atau matematik) berpengetahuan (ilmu alam, kimia, biologi dll) dan yg
terpenting adalah pendidikan Moral Ethika Kerja (yg selama ini telah hilang
jejaknya di NKRI, digantikan oleh moral agama). VETDS, maupun kelanjutan ke
bidang Sains dapat dikelola oleh swasta, tanpa membebani APBN negara yg
kini begitu banyak Perguruan tinggi akademis yg menjadi usaha BUMN, yg
menjadi prima dona mahasisa akademis elite(yg mampu ekonomis orangtuanya),
sebagai batu loncatan untuk menjadi pegawai negeri tanpa dibekali bekal
keterampilan yg berkompeten....dan bermoral Craftmanship.



Itulah cita cita kita supaya pendidikan dan latihan ini berlaku untuk
seluruh lapisan masyarakat negeri, bukan hanya untuk sekelompok elite yg
tak bermoral kerja (craftmanship) sejati, yg cenderung korupsi kerjanya.



Bagi yg mengenal baik pribadi DI (pak Chan mungkin?), mohon sedikit
tulisanku ini bisa disampaikan kepadanya yg mengkelola antara lain BUMN
perguruan negeri yg banyak ada dibawah pemerintahannya sebagai
Ketua/Menteri BUMN.

Bila ada kesalahan mohon koreksi.... karena selama ini tak mampu saya
ajukan gagasan ini kedalam kementerian pendidikan, industri, dan tenaga
kerja.



Oyt.


2016-12-01 16:35 GMT+01:00 Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com
[GELORA45] <GELORA45@yahoogroups.com>:

>
>
> Si Anies ngomong begitu karena beliau mantan Menteri Pendidikan, jadi
> kayaknya jangan nyalahin Ahok tetapi dibalik itu juga jangan dibalik
> nyalahin beliau.
>
> ---In GELORA45@yahoogroups.com, <comoprima45@...> wrote :
>
> Anies Baswedan:
> *35 Persen Siswa Tak Lulus SMA, Itu Bukan Salah Ahok*
>
> *-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------*
>
> HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIRAN DEMIKIAN yang segala Emosi dan
> Kebencianya dipusatkan pada Pribadi AHOK sebagai warga DKI dan sebagai
> Waganegara Indonesia dan cukup Buta untuk bisa melihat suatu Hal yang juah
> lebih Pokok.
>
> Jika sudah bicara soal PENDIDKAN  maka tidak lain ialah *MASALAH SYSTEM* -* 
> jadi
>  bukan masalah Perorangan (dlm Hal ini AHOK..)....*
>
> *Tidakkah Seharusnya ,  agar 35 % para Siswa YANG TIDAK BERHASIL LULUS tsb
> dan Pihak2 yang merasa !DIRUGIKAN AHOK !  sehingga mereka (Pra Siswa tsb)
>  Tidak LULUS agar Merka semua  se- kali2 MENGORESKI DIRINYA MASING2 ..  ?
>  [ *Mungkin ..... Mereka TERLALU PANDAI dan terlalu banyak berdoa dan Ber
> -DEMO mematuhi  perintah HABIB RIZIEK dan FPI da para KYAYI ... sedangkan
> AHOK  TERALALU  BODOH  barankali yah..... ?  > sehingga  *35 % PARA SISWA
> tsb TIDAK LULUS karena AHOK..... ]*
>
> *...  yah MEMANG - mungkin NASIB KALIAN ITU ADA DITANGAN HABIB RIZIEK
> ...... *
>
> 2016-12-01 3:22 GMT+01:00 'Chan CT' SADAR@... [temu_eropa] <te
> mu_er...@yahoogroups.com>:
>
> Rabu 30 Nov 2016, 23:45 WIB
>
> Anies Baswedan:
> 35 Persen Siswa Tak Lulus SMA, Itu Bukan Salah Ahok
> Noval Dhwinuari Antony - detikNews
>
> Anies Baswedan/Foto: Noval Dhwinuari Antony/detikcom
>
> FOKUS BERITA:Jakarta Memilih
>
> Jakarta - Calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut angka
> ketimpangan pendidikan di Jakarta sangat tinggi. Permasalahan ini
> disebutnya warisan kepemimpinan Jakarta sejak lama.
>
> "Dan hari ini angka yang 35 persen itu tidak lulus SMA, itu bukan salah
> satu atau dua gubernur, tidak usah menyalahkan gubernur. Ini warisan
> masalah lama, bukan salahnya Pak Ahok sama sekali. Ini warisan dari lama.
> Kita akan bereskan dan kita tidak akan biarkan ini terjadi lagi," jelas
> Anies di GOR Cempaka Putih, Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat, Rabu
> (30/11/2016).
>
> Berjanji membenahi pendidikan di Ibu Kota jika terpilih, Anies-Sandiaga
> Uno akan membenahi sarana dan prasarana pendidikan. Pihaknya juga akan
> meningkatkan kualitas guru.
>
> "Kita akan perbaiki sarana dan prasarana, dan guru semuanya ditingkatkan
> mutunya, dan uangnya ada. Jakarta punya dananya, tempat lain belum tentu
> ada," katanya.
>
> Target dari peningkatan mutu pendidikan yang disasar Anies-Sandi kalangan
> bawah dari masyarakat Jakarta. Anies menilai mutu pendidikan yang tinggi di
> Jakarta hari ini hanya di rasakan kelas menengah atas.
>
> "Mereka sekarang yang ada di bawah kami akan menjamin akses pendidikan
> tuntas dan kami akan membangun sekolah-sekolah vokasi dengan sistem, dual
> sistem. Di Jakarta bisa dual sistem," jelas Anies.
>
> "Itu artinya, tiga hari belajar di perusahaan dan dua hari di sekolah.
> Sehingga mereka dilatih untuk bisa langsung bekerja. Dan perusahaanpun
> sudah menampung," jelasnya lagi.
>
> Sistem tersebut dikatakan Anies bisa berjalan di Jakarta dengan aktivitas
> ekonomi yang sudah baik. "Itu tidak bisa dilakukan di tempat lain, kalau di
> Jakarta bisa dengan ekonomi ada 60 persen ada di Jakarta, itu bisa kita
> lakukan. Kita akan bereskan, SD, SMP, SMA. Dan kita akan bangun sekolah
> vokasi," katanya lagi.
>
> (dnu/dnu)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

Kirim email ke